Showing posts with label Pengalaman Hidup. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Hidup. Show all posts

Saturday, February 12, 2022

Dibalik Manisnya Perjalanan

Setiap perjalanan menyimpan kisah. Baik yang manis maupun yang pahit. Tapi kadang yang dipamerkan hanya bagian asyiknya saja. Bagian susahnya disimpan buat diri sendiri saja. Lha ya ngapa mesti menambah derita dunia? Haha. Tapi sekarang saya cerita pahit - pahitnya juga deh, biar nggak manis - manis terus. Sekali - sekali biar beda.

Gara - Gara Subway

Sebelum back for good ke Indonesia di akhir tahun 2016, mertua datang mengunjungi kami ke Jerman. Kami mengajak mereka berkeliling ke beberapa tempat di Eropa. Hal saya ingat dalam perjalanan ini bukanlah tempat - tempat menarik bersejarah yang kami datangi. Tapi malah bagaimana saya mengalami dua kali meltdown besar.

Pertama saat tidak bisa menemukan tempat tunggu bis untuk ke Napoli di Terminal Bis Roma. Kemudian mendapati, saat sedang terburu - buru berlarian kesana kemari, tempat minum saya yang disimpan di ransel terbuka tutupnya sehingga isinya tumpah kemana - mana. Saya ngamuk meminta suami membuang saja sweater saya yang basah kuyup kena tumpahan air agar tidak perlu bawa - bawa sweater basah kemana - mana. Sambil berlinang air mata sambil terus berusaha mencari tempat tunggu bis yang benar. Padahal bisnya cuma telat saja. Bukan tempat tunggunya yang salah.

Kedua meltdown di pusat kota Vienna sampai beradegan mirip film India, gara - gara Subway. Gerai penjual sandwich bukan kereta.

Jadi ceritanya entah kenapa saat jalan - jalan waktu itu saya malas sekali dengan segala macam masakan Turki. Kebab dan sebagainya. Malas is understatement. Muak lebih tepat. Masalahnya kami pergi dengan mertua dan mereka sangat jaga makanan. Maunya makan yang ada tulisan halal, sementara kami sendiri masih bisa kompromi asal bahan - bahannya halal. Tak pakai babi dan alkohol.

Selain masakan Turki, Pakistan, India, dan sebagainya, Subway, KFC, Nordsee, adalah beberapa makanan on the go kami saat traveling di Eropa.Tapi tentu gerai - gerai makanan tersebut tidak berlabel halal. Saat perjalanan dengan mertua kami mengalah. Cari restoran berlabel halal, karena kebetulan di beberapa kota yang kami kunjungi masih mudah dicari dan ada berbagai macam pilihan.Tak melulu masakan Turki.
Berbagai makanan yang biasanya dibeli selama perjalanan (sumber : dokumentasi pribadi)

Setelah 11 hari sampailah kami di Vienna. Suatu siang, setelah ikut tur di Opera House, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Saya sudah kelaparan sekali, karena pagi cuma makan roti dari backerai dan rasanya tidak kuat kalau harus pergi ke pinggiran kota mencari restoran Turki untuk makan siang. Di depan Opera House kebetulan ada gerai Subway. Saya bilang ke mertua bagaimana kalau siang itu makan Subway saja biar cepat. Subway memang jual ham, tapi biasanya dipisah dan yang jual selalu ganti sarung tangan setiap kali membuat sandwich.

Mertua tampak ragu - ragu, tapi mengiyakan. Sampai ketika akan masuk gerai, melihat tulisan promo sandwich ham terpampang, Ibu mertua langsung bisik - bisik ke Ayah mertua. "Gimana nih? Jual Babi". Saya yang mendengar hal itu langsung meradang. Tanpa bicara apa - apa balik badan kemudian jalan cepat menuju tempat tram. Muka merah padam menahan tangis. Suami berusaha mengejar tapi karena tidak mungkin meninggalkan orang tuanya, langkahnya jadi agak lambat.

Sampai di halte kebetulan ada tram datang. Suami sudah hampir sampai juga, tapi alih - alih menunggu saya malah masuk ke tram. Meninggalkan dia di ujung halte.

Akhirnya setelah menenangkan diri, saya kirim pesan ke suami, bilang kalau saya mau balik ke penginapan saja. Mereka saja makan sendiri. Di tram tersebut saya berkali - kali mengusap mata. Karena tak tahan akhirnya nangis juga.

Ternyata drama belum selesai, sampai tujuan saya memutuskan untuk jalan - jalan dulu saja menenangkan diri. Lapar sudah saya lupakan, tapi tidak berminat kembali ke kamar. Suami mengirim pesan kalau dia dan mertua menyusul. Mungkin panik. Ya iyalah orang saya tingkahnya sudah kayak tokoh di Penthouse begitu gimana nggak watir ya.

Dramatisnya mirip lah (sumber : www.tumgir.com)

Ketika suami mengirim pesan lagi menanyakan keberadaan saya, saya bilang sedang beli sikat gigi di supermarket. Walaupun sedang meradang tetap ingat groceries. Sungguh wanita. Dia bilang tunggu disana. Sayapun menunggu. Suami menemukan saya duduk di bangku di tengah jalan dengan muka sembab bekas menangis, kerudung acak - acakan, lengan sweater basah karena dipakai untuk mengelap air mata, sambil menggenggam sikat gigi dan deodorant karena nggak bawa tas belanja sementara ransel juga dipegang suami. Mengenaskan sekali.

Dia diam saja, sampai akhirnya saya yang duluan bicara. Saya minta maaf karena kelakuan saya sebelumnya. Kata suami lain kali kalau mau makan yang lain bilang saja, kan bisa saja kami beli duluan, baru setelahnya mengantarkan mertua makan yang lain atau sebaliknya. Mendengar hal tersebut saya menangis lagi sampai sesenggukan. Di tengah jalan. Di Vienna. Pusat musik dunia. Dari kejauhan terdengar suara musisi jalanan bersahutan memainkan saxophone dan biola. Menambah dramatis suasana. 

Orang - orang yang lewat mau tak mau melirik. Ada yang berbisik - bisik. Sesungguhnya kalau saya sendiri melihat pemandangan seperti itu pasti mengira kejadiannya lebih dramatis. Seperti putus cinta atau kehilangan keluarga karena perang saudara. Pastinya bukan karena Subway jual ham.

Anyway, beberapa hari setelah kembali ke Jerman saya testpack dan hasilnya positif. Jadi meltdown saya di seluruh penjuru Eropa itu bukan karena saya sedang masuk fase tantrum di awal umur 30an. Apalagi ketempelan jin saudara - saudara. Melainkan disponsori hormon hamil muda sahaja.

Jalan 14 hari ke 5 kota ternyata melelahkan. Di balik senyum manis ada wanita yang tak sadar sedang hamil 2 bulan dan tantrum di setiap belokan.

Mogok Di Happiest Place on Earth

Akhir tahun 2018 saya ikut suami ke Hong Kong. Dia ada konferensi sementara saya ada konspirasi. Konspirasi nebeng suami jalan - jalan.

Sebelumnya saya sudah pernah ke Hong Kong juga buat bulan madu. Jadi sudah sedikit familiar dengan jalan - jalan disana. Walaupun tetap pengalaman baru karena pertama kalinya keluar negeri bawa anak. Anak baru satu waktu itu. Sebut saja dia Mbarep.

Waktu itu Mbarep masih umur 20 bulan. Sudah banyak maunya tapi belum bisa ngomong jelas :')

Mbarep punya masalah makan. Dia nggak mau ngunyah dan cuma mau makan bubur. Bubur yang dijual mang Bubur di Cisitu Bandung tepatnya. Saat kami di Hong Kong dia nggak mau makan sedikitpun. Padahal saya sampai bela - belain bawa slowcooker dan beras dari Indonesia buat bikin Bubur. Setiap hari saya bikin bubur. Tapi dilirik juga tidak. Selama di Hong Kong, kebanyakan dia cuma makan Pocky sebatang dua batang dan minum susu Bingrae Strawberry. Untung bisa habis 3 - 4 kotak sehari.

Di Hong Kong kami tak melewatkan kesempatan mengunjungi Disneyland. Walaupun belum ngerti, tapi Mbarep happy sekali, karena tempatnya luas dan dia bisa lari - lari sambil lihat segala macam.

Sampai waktunya pulang ke penginapan sekitar jam 8 malam. Di jalan antara gerbang dan halte MRT, Mbarep tetiba mogok. Tidak mau bergerak selangkahpun. Saya tawarkan gendong tidak mau. Mau paksa diangkat dia memberontak.

Saya tanya sakit perut dia menggeleng. Lapar juga katanya "No". Selanjutnya dia ubah posisi jadi tiduran di jalan. Terlentang sambil pegang perut. Kalau nggak lihat dia senyum - senyum pasti saya sudah panik.

Lalu setelah 10 menit yang rasanya bagai seharian si Mbarep tetiba bangun dan menarik - narik tangan saya sambil mengusap - usap perutnya. Saya tanya lagi, lapar? Bukan. Mau susu? Nggak. Mau Pocky? Nggak. Di sebelah ada tukang jual kentang, saya tanya mau kentang, dia juga bilang "No". Lalu tak berapa lama dia bilang "Gojek" sambil meringis. Otak saya berputar, sampai ada lampu menyala di kepala.

Mau bubur? kata saya. Matanya langsung berbinar. Saya keluarkan sekotak bubur dari ransel, dia langsung lonjak - lonjak gembira. Akhirnya setelah 3 hari bawa - bawa bubur berakhir dibuang, bubur bikinan saya laku juga. Ternyata dia bukan lapar saudara - saudara, tapi mau Bubur yang biasa dibeli pake Gojek. Untung waktu itu sudah malam dan mungkin karena lapar dia nggak masalah dengan bubur dingin ala kadarnya yang dibuat maknya. 


Ditulis dalam rangka Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari dengan tema Pengalaman Travel yang berkesan.




Read more ...

Thursday, January 27, 2022

Surat untuk Ibu

Hallo Bu,


Apa kabarnya?

Bu, nggak kerasa 31 Januari 2017 ini genap lima tahun terakhir aku ketemu ibu. Ya kerasa sih sebetulnya. Tapi it gets better. Eits, jangan manyun dulu Bu, bukan berarti aku lupa sama Ibu. Cuma sudah lebih bisa nerimo saja kok. Hihi. 

Eh, aku sudah pernah cerita tentang hari itu belum sih Bu? 31 Januari 2017. Hari  ibu pergi. Kayaknya belum pernah ya. Aku belum pernah cerita kesiapa - siapa sih memang. Sekarang aku cerita ke Ibu deh. Aku udah bisa kok nulisnya nggak pakai nangis lagi.

Ibu masih ingat nggak? Tanggal 30 Januari malam, setelah Isya, Ibu nyuruh aku sama Bapak pulang ke rumah. Ada Bude yang bisa gantiin jagain Ibu, jadi Bapak bisa istirahat. Bapak sudah kecapekan banget karena hampir dua minggu non stop nungguin Ibu sendirian. Aku sama adek nggak bisa gantian ke Semarang jagain Ibu dua minggu itu karena ada kewajiban lain. Andai kami tau ya Bu. Kewajiban apa coba yang lebih penting dari Ibu? 

Aku juga sudah pengen banget rebahan setelah naik kereta api delapan jam dari Bandung. Pegal sekali badan. Jadi menyesali, kenapa di kamar Ibu waktu itu nggak ada sofanya ya. Kalau ada kan aku bisa bobo disana. Waktu kami pamit mau pergi, Ibu ceria sekali. Makan habis banyak. Seharian penuh canda tawa. Mungkinkah sebenarnya pertanda? 

Malam itu di rumah, aku sama Bapak makan enak pakai sop buntut. Kesukaan Ibu ya sebetulnya. Sayang Ibu nggak ikut makan. Bapak makan lahap banget deh Bu. Alhamdulillah nggak salah pilih menu. Setelahnya kami tidur nyenyak sekali. Saking nyenyaknya, mimpi pun enggak. Sudah lama aku nggak tidur nyenyak begitu. Dua bulan lebih tidurku gelisah. Kepikiran tentang Ibu. 

Tapi ternyata mimpi buruk itu datang keesokan harinya setelah Subuh. Bude telepon. Histeris menyuruh aku dan Bapak cepat datang.

Aku masih ingat, aku dan bapak hanya terdiam sepanjang perjalanan, yang rasanya lama sekali. Radio mobil Bapak yang tidak bisa dimatikan karena rusak memainkan lagu yang aneh. Sungguh aku nggak pernah tau lagu apa itu Bu. Aku belum pernah dengar sebelumnya. Tapi liriknya seperti dikirim Ibu untuk Bapak.

Aku pergi dulu, jangan kau tangisi terlalu lama.
Adegan setelahnya malah seperti di sinetron Bu. Sinetron yang sering Ibu tonton malam - malam itu, yang aku bilang konyol ceritanya. Sayangnya ini nyata. Jadi aku nggak bisa ketawa - ketawa seperti biasa. Aku turun duluan dari mobil sementara Bapak parkir. Saat aku lewat, suster - suster yang biasanya ramah menyapa, kali ini hanya diam saja. Malah ada yang pura - pura tak lihat. Sampai depan kamar Ibu, aku disambut oleh Ustad yang mengucapkan belasungkawa. Di samping kamar sudah ada keranda.

Di dalam kamar, bude sedang membereskan barang - barang. Sikapnya tenang. Terlalu tenang malah. Aku tau beliau terguncang. Menyaksikan Ibu pergi pasti bukan pengalaman yang mudah dilupakan.

Ibu terlihat damai sekali saat itu Bu. Wajah Ibu cerah. Seperti tidur saja. Seutas senyum di bibir Ibu. Cantik sekali.

Aku heran waktu itu aku malah nggak nangis Bu. Nggak bisa nangis tepatnya. Rasanya seperti mati rasa. Seperti ada yang menyabut kabel emosiku. Cuma hampa yang terasa.

Bapak datang tak berapa lama. Tegar sekali. Malah masih sempat mengurus administrasi dan menelepon kesana kemari. Entah dapat kekuatan darimana. Sepertinya waktu itu Bapak juga sama denganku deh Bu. Mati rasa.

Aku nggak tau harus ngapain. Jadi aku cuma telepon Abem, minta dia segera datang. Hari itu sebetulnya jadwal dia ngajar di Jatinangor. Untung dia belum berangkat, jadi bisa ngejar pesawat siang untuk ke Semarang. Lalu aku telepon Adek. Dia sudah punya firasat, jadi sudah pesan tiket pesawat untuk ke Semarang siang itu. Baba hari itu juga ndilalah nggak ke pabrik, jadi bisa pergi bareng. Setelah telepon dan mengabari beberapa teman, aku duduk saja diam di pojokan. Menunggu Bapak selesai.

Di mobil saat perjalanan pulang, kembali aku dan Bapak terdiam. Sampai akhirnya di suatu lampu merah, sepertinya tsunami kenyataan menghantam Bapak dan beliau langsung menangis kencang - kencang.

Sampai rumah di pagi hari itu adalah yang terburuk Bu. 

Rasanya hari sudah berjalan lama sekali tapi ketika kami sampai di rumah baru jam setengah delapan pagi. Di rumah sudah ada keramaian menunggu. Tetangga, kerabat, dan handai taulan. Cepat sekali ya kabar menyebar. 

Semua orang sibuk mempersiapkan ini itu untuk mengantarmu pulang ke peristirahatan terakhirmu. Semua orang juga ribut mengerumuniku. Menanyakan kronologis kepulanganmu pagi itu.  Suasana muram. Semua wajah menunjukkan kesedihan, kegetiran, atau penyesalan. Cerita - cerita tentang Ibu bercampur baur di udara. Betapa baiknya. Betapa cepatnya pergi. 

Ibu tau kan aku tak suka keramaian. Semakin ramai, semakin aku ingin sendirian. Kepalaku mulai pusing dan dada rasanya sesak. Jadi aku kabur. Kukunci diriku di kamar. Sampai Abem dan Adek datang. Tak kupedulikan mereka yang ada. Aku nggak sanggup menghadapi orang - orang itu dengan segala pertanyaan, komentar, dan teorinya.

Biasanya Ibu pasti akan menyereweti aku, kalau tau aku kabur seperti itu. Tapi biarlah pikirku. Toh Ibu tak ada lagi disitu. Ku tak peduli kalau orang lain yang ribut.

Kenapa orang yang datang ke rumah yang sedang berduka malah sering bawel ya Bu? Tanya ini itu. Komentar begini begitu. Malah sampai ada tamu yang pengen aku tonjok beneran deh. Tamparlah minimal. Kalau tonjok terlalu brutal. Kesal sekali aku karena komentarnya tentang sakitnya Ibu. Katanya Bapak, Aku, dan Adek nggak peduli sama Ibu, sampai nggak tau Ibu sakit parah.

Wow. Sok tau sekali pikirku. 

Untung saat itu Abem sudah datang. Tau kalau aku emosi dia langsung menggeretku menjauh. Ingat - ingat bayi di perutmu, katanya. Kasihan dia kalau kamu emosi.

Gara - gara itu, sampai sekarang kalau harus pergi mengunjungi orang yang tengah kehilangan orang tersayang, aku cuma mengucapkan kata - kata simpati, lalu aku diam saja. Kecuali orang yang kutemui mau cerita lebih dulu. Tapi itupun tak akan aku tanya - tanya, atau komentari, apalagi berteori. Aku cuma bakal mendengarkan saja. Betul nggak sih sikapku, Bu?

Wah sudahlah

Pokoknya hari saat Ibu pergi dan setelahnya adalah hari - hari terlama dan terberat dalam hidupku Bu. Waktu rasanya lambat sekali berlalu. Rumah masih sama dan rasanya Ibu seperti tidak pergi selamanya. Hanya pergi ke sekolah untuk mengajar saja seperti biasa atau arisan dan pengajian ke rumah tetangga. Berkali - kali kulirik pintu depan, berharap Ibu akan datang dan membuktikan kalau hari - hari itu bukan kenyataan.

Tapi tentu yang terjadi bukan impian. Ibu memang sudah pulang. Bukan ke rumah yang biasa, tapi pergi ke Pemilik Ibu.

Ngomong - ngomong soal bayi. 

Si bayi yang waktu Ibu pergi masih berumur 6 bulan di perutku, sekarang alhamdulillah sudah jadi anak umur 5 tahun lho. Kata orang - orang dia mirip sekali denganku. Dari muka sampai kelakuan.

Sudah tak bisa terelakkan kalau aku memang anak Ibu. Haha. 

Kalau sedang kesal menghadapi dia dan adeknya, aku sering ingat denganmu Bu. Aku tau dulu Ibu juga sering jengkel dengan aku dan adek, karena kami kompak ngeselinnya. Cuma Ibu baik hati saja, jadi kami cuma sesekali kena murka. Haha. Sayang Ibu sudah nggak ada disini buat ngetawain kami. Nyukurin kami karena kena batunya. Punya anak - anak yang kelakuannya persis sama dengan kami dulu.

Ibu, Ibu datang dong ke mimpiku. 

Aku kangen sama Ibu.

In loving memoriam 31 January 2017 - 31 January 2022. Our beloved Mami and Yangmi. 
Sayang cuma cucu pertama yang pernah ketemu Ibu ya. Sekarang cucunya sudah 4 lho.

Semoga nanti kita bisa ketemu lagi

Ya Bu? 

Cerita - cerita sampai cekikikan seperti dulu. Kruntelan bertiga sama adek. Untuk sementara baik - baik disana ya. Semoga tempat Ibu selalu lapang, terang, dan penuh ketenangan.

Salam untuk Bapak ya.


- Restu -



Ditulis untuk ikutan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari dengan Tema Menulis Surat.
Read more ...

Thursday, September 9, 2021

Episode Berbahasa Dalam Kehidupan Saya

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan September dengan tema Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup.

Episode Semarang : Bahasa Jawa

Saya katakan 80% ketidakfasihan saya berbahasa Jawa adalah karena orang tua saya. Sementara sisa yang 20% nya karena saya kurang berbakat bahasa. Padahal 18 tahun saya hidup di ibukota Jawa Tengah, Semarang.

Bapak saya orang Boyolali. Dekat sekali dengan Surokarto. Alias Solo. Halus bahasanya. Fasih kromo inggil-nya. Saking halusnya Bapak selalu jengah mendengar saya dan adik saya berbicara bahasa ngoko. Alias kasar. Bahasa yang sering kami gunakan dalam pergaulan. Alih - alih mengajari bahasa halus, beliau melarang kami bicara bahasa Jawa di rumah, dengan tetangga, atau siapa pun yang kami temui. Walaupun hanya untuk pergaulan. Mungkin menurutnya percuma kami bisa bahasa halus kalau ada di lingkungan yang tidak berbahasa halus juga. Nanti malah terpengaruh. Lebih baik kami pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ada kejadian dimana saya pernah kena marah besar oleh Bapak karena mengucapkan kalimat "Mbahku lungo neng Bandung numpak Bis". Nenek saya pergi ke Bandung naik Bis. Ada dua masalah utama dengan kalimat tersebut. Pertama saya menyebut eyang dengan sebutan mbah, sebutan yang paling tidak disukai eyang. Kedua karena saya pakai kata kerja ngoko (kasar). 

Semenjak dimarahi saya tidak berani bicara pakai bahasa Jawa di lingkungan rumah. Takut keceplosan lagi. Di sekolah juga jadi lebih sering pakai bahasa Indonesia. Hanya istilah - istilah tertentu pakai bahasa Jawa. Seperti Cinta Laura tapi Indonesia - Jawa πŸ˜†

Masalahnya, karena kedekatan biasanya terbangun dari bahasa yang sama, tak jarang saya merasa out of place. Tidak pernah bisa sepenuhnya akrab dengan teman - teman atau orang - orang sekitar. Kadang orang kurang familiar dengan cara bicara saya. Sering juga saya dibilang sombong karena bahasanya "tinggi" πŸ˜…. Mungkin kalau di jaman now, saya seperti anak yang cuma mau bicara bahasa Inggris tapi pergi ke sekolah negeri πŸ˜…

Episode Kuliah 1 : Bahasa Gaul

Saat kuliah di Bandung, untuk pertama kalinya saya merasa belong to something. Mungkin karena pengaruh bahasa juga ya. Di kampus, dengan mahasiswa yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia, kebanyakan orang menggunakan bahasa Indonesia untuk bicara satu dengan lainnya. 

Waktu pertama masuk kuliah, orang tidak pernah bisa menebak asal daerah saya. Tidak seperti orang Jawa pada umumnya, apalagi orang Jawa yang digambarkan di FTV, saya tidak punya logat. Tidak medok sama sekali. Sayapun selalu bicara bahasa Indonesia, sesuai PUEBI πŸ˜†, walaupun ke teman - teman sesama orang Jawa. Kebanyakan orang kaget saat saya bilang saya orang Jawa dan sampai lulus SMA tinggal di Semarang. 

Mungkin karena euforia menemukan teman - teman dengan cara bicara yang sama, dari awal masuk kuliah saya langsung terpengaruh cara bicara teman - teman dari Jakarta dan Bandung. Sempat saya dimarahi seorang teman SMA yang masuk ke jurusan yang sama karena menggunakan kata gue untuk menyebut diri saat acara perkenalan angkatan."SOMBONG KAMU!", katanya. Untung hanya via SMS. Tidak diteriakkan di terowongan Sanken Court. Kalau iya pasti bergema.

SOMBONG.SOMBONG.SOMBONG.SOMBONG.

Dia bilang saya seperti kacang lupa pada kulitnya. Tapi tentu saja tiga bulan kemudian, malah dia yang lebih getol pakai istilah lo gue saat bicara 🀣

Walaupun sudah terbiasa bicara dengan bahasa Indonesia, bukan berarti saya terbebas dari kebingungan bahasa. Berasal dari luar daerah, beberapa kali saya mengalami gegar bahasa. Karena ada kata - kata yang seumur hidup saya percayai sebagai istilah umum ternyata hanya digunakan di Jawa. Contohnya hem (kemeja), rukuh (mukena), gembes (botol minum), njeglek (listrik turun daya), solasi (selotip), mudeng (paham), atau hecter (staples). Sepertinya masih ada beberapa kata lain yang saya sudah lupa. 

Samar - samar saya masih ingat kebingungan petugas peminjaman mukena di Masjid Salman saat saya bilang mau pinjam rukuh. Juga muka prihatin teman yang saya ajak beli hem ke factory outlet. Atau muka asisten yang ruwet saat saya menyampaikan kalau saya kurang mudeng dengan pertanyaan yang diberikan πŸ₯²

Episode Kuliah 2 : Bahasa Inggris

Selama SMA saya belajar bahasa inggris di Lembaga Inggris Amerika alias LIA alias tempat kursus orang yang tidak sanggup kursus di EF πŸ€ͺ Saya jalani dengan tekun level demi level. Mulai Basic 3 sampai lulus Advance 4 dan dapat sertifikat. Setelah lulus apakah saya bisa bahasa Inggris dengan lancar? Tentu tidak. Sudah saya bilang, saya ini tidak berbakat bahasa. Paling tidak, tidak seberbakat seperti beberapa orang yang saya kenal

Semenjak Kuliah Mulai Pede Baca Buku Bahasa Inggris (Sumber Dokumentasi Pribadi)

Tapi waktu tes bahasa Inggris untuk menentukan level kelas bahasa inggris di Tahap Persiapan Bersama, hasilnya cukup mengejutkan. Nilai saya tinggi sehingga ditetapkan masuk kelas writing. Ada tiga level kelas bahasa Inggris waktu itu. Reading, Presentation, Writing. Writing yang paling advance. Ada gunanya juga les Inggris di LIA ini 🀣

Saya sekelas dengan beberapa teman - teman yang waktu kecil tinggal atau bahkan lahir di luar negeri. Mereka bisa berbahasa Inggris selancar air mengalir. Kebanyakan teman sekelas saya dari SMA elite Bandung, Jakarta, atau sekolah milik perusahaan minyak. Sudahlah elite, tambah elite lagi karena mereka mungkin lulusan EF πŸ˜… Sungguh ku merasa bangga sekaligus jadi jiper sendiri masuk kelas tersebut. 

Setiap kali menuju kuliah Bahasa Inggris, yang diadakan jam 07.00 pagi di Gedung Kuliah Umum Timur lantai 4 , saya selalu bertanya - tanya. Apakah hasil tes saya tertukar dengan orang lain? Bertanya tanya sambil ngos - ngosan tentu saja karena GKU tidak ada lift-nya dan saya selalu lari karena telat. Akibat angkot dalam komplek yang baru mulai beroperasi jam 06.30 πŸ˜‚

Saat kuliahlah kemampuan membaca bahasa Inggris saya berkembang pesat. Bukan bicara ya. Membaca saja 😁 Dosen - dosen tanpa babibu langsung menggunakan textbook Inggris. Slide kuliahpun bahasa Inggris. Tidak ada tuh istilahnya tidak mengerti. Ya terpaksa harus mengerti. Waktu kuliah S2 malah ada dosen yang mengisi kelasnya dengan mahasiswa bergantian membaca textbook dalam bahasa Inggris. Kalau salah pengucapan dikoreksi. Seperti tadarus tapi dengan topik manajemen proyek πŸ˜…

Episode Jerman 1 : Deutsch

Saya harus belajar bahasa Jerman sebagai syarat ikut suami ke Jerman. Ya iyalah masa saya belajar bahasa Jerman untuk ikut suami ke El Savador.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Sebelum berangkat saya kursus di Goethe Bandung. Bareng anak - anak kuliah dan anak SMA yang ingin kuliah di Jerman. Selanjutnya saya sempat privat dengan dosen jurusan bahasa Jerman di UPI. Sampai dapat sertifikat A1 sebagai syarat visa.

Di Jerman saya kursus di Volkhochschule Stuttgart. Sampai lulus level B1. Di kelas VHS tersebut saya bintang kelas πŸ˜… Mungkin karena teman - teman saya yang lain pengungsi dari Suriah dan Afghanistan. Selain tidak terbiasa dengan huruf latin, pikiran mereka pasti penuh dengan hal lain.

Karena saya tidak terlalu berbakat bahasa, kemampuan bahasa Jerman saya dalam hal tata bahasa, sampai pulang segitu - segitu saja. Untuk kemampuan bicara sedikit terbantu karena orang Jerman tipe yang tetap bersikeras bicara dalam bahasanya walaupun lawan bicaranya kebingungan. 

Saya ngomong tiga kata, dibalas tiga kalimat. Saya nanya berharap dijawab hanya dengan ja atau nein saja, dijawabnya satu paragraf. Untungnya, karena saya sempat kerja di lingkungan berbahasa full Jerman, lama - lama saya jadi terbiasa juga. Di akhir, saya malah lebih percaya diri bicara bahasa Jerman daripada suami yang kebanyakan berinteraksi dengan orang lain dalam bahasa Inggris.

Permasalahan utama saya dengan bahasa Jerman adalah dengan bentuk formal vs familiar. Akrab vs asing. Sie vs du.  Di Jerman orang menggunakan bentuk familiar atau akrab (du) ke semua orang yang dianggap dekat. Keluarga, kenalan akrab, sahabat, teman satu geng, teman kerja, atau anak kecil sekalian. Mau lebih muda atau lebih tua. Semua dipanggil du. Sementara bentuk formal atau asing (Sie) digunakan kepada orang yang tidak dikenal, sejawat, atau dalam situasi resmi.

Saat di tempat kerja, terkadang orang merasa sudah akrab dengan saya sehingga bicara menggunakan du. Masalahnya jiwa asia saya tidak bisa menerima hal tersebut. Jiwa ketimuran saya tuh memberontak. Rasanya aneh saja. Seperti bilang ke orang tua dengan menggunakan kata "kamu". Akhirnya walaupun sudah akrab, jika orangnya lebih tua, biasanya saya tetap menggunakan Sie πŸ˜… Karena hampir semua yang ada di tempat kerja lebih tua dari saya, sampai akhir saya tetap pakai Sie ke semua orang. Akibatnya banyak yang sudah menggunakan du, kembali menggunakan Sie ke saya.  Mungkin dikiranya saya tidak mau akrab ya. 

Ada juga sih yang sempat kepo dan bertanya, apakah ada larangan dalam agama saya untuk kenal akrab dengan orang yang tidak seagama, sehingga saya tetap pakai bentuk formal ke semua orang. Karena kemampuan bahasa saya tidak memadai untuk menjelaskan bahwa jiwa asia saya yang membuat saya begitu, bukan jiwa Islam saya, akhirnya saya cuma geleng - geleng kepala sambil bilang entschuldigen Sie. Tambah bingunglah orang - orang itu 😁

Episode Jerman 2 : Indonesisch

Ngomong - ngomong gara - gara tinggal di Jerman, saya jadi menyadari sesuatu. Menguasai bahasa lain yang sama sekali tidak atau jarang diketahui penduduk lokal itu ada keuntungannya juga. Salah satunya adalah bisa ngomongin orang lain tepat di depan mukanya πŸ€ͺ Jangan ditiru ya teman teman. Selain itu bisa juga ngobrolin topik - topik sensitif di tempat umum tanpa membuat orang lain tersinggung. Atau berdebat hal - hal konyol tanpa perlu khawatir judgement orang - orang sekitar. Coba pikir, orang Inggris dan Amerika pasti tidak akan bisa melakukan hal - hal tersebut karena semua orang tau bahasanya πŸ˜†

Suatu hari saya dan suami pulang dari kota naik U-Bahn (Trem). Saat itu jam pulang kantor jadi U-Bahn tersebut penuh sesak. Sambil berdesak desakan suami cerita kalau teman seruangan dia yang baru kakinya bau 🀣 Sambil bercanda saya bilang ke suami tidak apa teman dia kakinya bau. Semua impas karena celana jeans suami juga bau. Jeans itu sudah dia pakai ke kantor selama dua minggu 😨

Suami berargumen karena saat itu sedang musim dingin, ia tidak keringatan sehingga celananya masih bersih. Tidak perlu sering - sering ganti. Saya bilang ya nggak dong. Kan daki - daki debu - debu tetap menempel di celana. Daki? Daki apa coba? tanya suami. Ya daki apa kek. Daki pantat gitu kata saya asal sambil kesal karena suami ngeyel. Suami langsung tertawa mendengar kata-kata daki pantat. Di sela - sela tertawanya ia beberapa kali mengulang words of that day tersebut. Daki. Pantat. Saya juga jadi ketularan ketawa. 

Harap diperhatikan, seluruh percakapan penuh kasih sayang bergenre "lucu" ini kami lakukan dengan volume suara normal. Sesuatu yang tentu tidak akan kami lakukan di Indonesia. Tapi di Stuttgart ya santai saja. Wong nggak ada yang mudeng omongan kami 😁
 
Jalur U-Bahn. Saksi bisu kejadian.
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Sedang asyik ketawa ketiwi, dari kepadatan sekitar menyeruak seorang ibu - ibu. Kebetulan kami berdiri dekat pintu. Awalnya kami hanya berusaha minggir tanpa menghiraukan si ibu. Sampai dia berucap "Permisi. Saya turun duluan ya", dalam bahasa Indonesia sambil tersenyum. Kaget tetiba disapa, kami hanya balik nyengir ke si ibu. Nyengir kuda. Kuda lumping. Setelah si ibu turun baru deh kami sibuk toyor - toyoran karena malu tertangkap basah ngomongin daki pantat di depan umum.

Setelah itu kalau mau ngomongin apapun yang aneh - aneh di tempat umum kami celingak celinguk dulu memeriksa ada yang kira - kira bisa bahasa Indonesia dalam radius 3 meter tidak. Kalau sudah aman, baru deh kami beraksi 🀣

Episode Punya Anak : Bahasa Indonesia

Suami saya termasuk orang yang berbakat bahasa. Dia mengajari dirinya sendiri bahasa Inggris saat kecil dan sudah fasih saat masuk SMP. Karena pengalamannya itu suami berprinsip anak - anak kami diajari bahasa Indonesia saja yang baik dan benar. Bahasa lain, apalagi bahasa Inggris pasti nanti akan bisa dengan sendirinya.

Saya mendukung prinsip tersebut dengan tambahan harapan ingin anak - anak saya nantinya bisa nyambung dengan orang di sekitarnya dan bisa menempatkan diri dimanapun mereka berada. Berbeda dengan jaman saya kecil, sekarang hampir semua orang bicara bahasa Indonesia. Jadi menurut saya kalau ingin anak - anak bisa berkomunikasi dengan semua kalangan di Indonesia raya ini, mereka harus bisa bahasa Indonesia dengan lancar. 

Sampai sekarang saya dan suami tidak pernah mencampur bahasa saat bicara dengan anak - anak. Semua kata kami sebutkan dalam bahasa Indonesia. Termasuk kata benda yang jaman now sering dicampur dengan bahasa Inggris. Binatang, benda, warna, angka semua kami sebutkan dalam bahasa Indonesia. Kalaupun anak - anak tetiba menggunakan istilah asing karena dengar di televisi atau youtube. Kami pastikan mereka tau bahasa Indonesianya.

Selain tau kosakata, kami juga ingin agar anak - anak punya kemampuan literasi yang mumpuni. Bisa menggunakan kosakata yang mereka kuasai untuk menyampaikan maksud mereka dengan baik. Karenanya kami selalu mendorong anak - anak kami untuk mengungkapkan pikiran, keinginan, perasaan, dan pendapat mereka secara lisan. Dengan jelas dan gamblang. Merengek, menggunakan bahasa bayi, dan marah - marah tanpa juntrungan saat mereka sudah bisa bicara dengan lancar, adalah hal - hal yang kami larang secara tegas πŸ˜…

Tapi karena prinsip kami ini, sekarang kami jadi sering kelabakan sendiri menghadapi anak - anak 🀣 Walaupun, tentu saja, karena masih umur 4 dan 2 tahun tantrum masih lebih mendominasi, anak - anak saya sudah tau maunya apa dan bisa dengan tegas menyampaikan keinginannya. Termasuk si anak bungsu, yang sejak umur 16 bulan sudah bisa bilang kalau dia maunya makan pakai kentang McD dan ayam KFC πŸ₯² 

Episode Kerja : Bahasa Sunda

Lingkungan kerja saya sekarang ini kental sekali nuansa sundanya. Mayoritas karyawan administrasi di ITB memang orang sunda. Sayangnya, saya tidak bisa bahasa sunda. Walaupun saya lahir di Bandung dan 15 tahun hidup saya dihabiskan di bumi parahyangan, tetap saya tidak menguasai bahasanya. Lebih parah dari bahasa Jawa, untuk bahasa Sunda saya tidak punya sense sama sekaliπŸ˜‚ 

Sebagian yang bekerja dengan saya sudah tau bahwa kemampuan bahasa sunda saya minimal. Mereka sudah tidak pernah coba - coba mengajak saya bicara Sunda. Langsung saja menggunakan bahasa Indonesia. Tapi ada juga beberapa orang yang masih kekeuh mengajak saya nyarios Sunda, walaupun selalu saya respon dengan bahasa Indonesia. Paling saat bicara saya tambahi kata - kata "nuhun", "mangga", "sami - sami", serta kata - kata standar lainnya agar ada sedikit nuansa sundanya. Sebuah usaha menyedihkan yang hanya menonjolkan ketidakbisaan saya berbahasa sunda πŸ˜‚

Bicara tentang bahasa Sunda, saya jadi ingat anak - anak saya kemungkinan besar harus belajar bahasa Sunda secara formal di sekolah. Walaupun anak - anak saya masih belum masuk sekolah, tapi saya sudah merinding duluan membayangkan mendampingi mereka mengerjakan peer, tugas, dan ujiannya 🀣 Biasalah ibu - ibu jaman sekarang. Suka panik duluan. Tapi bayangan penderitaan saya dulu 9 tahun belajar bahasa Jawa, tetap tak bisa hilang. Bayangkan setiap ujian saya selalu hopeless menghadapi lembar soal. Sering saya hanya menulis ulang soal ke lembar jawaban 🀣 

Tapi nasib anak saya belum tentu sama dengan saya. Mungkin mereka akan lebih beruntung dalam belajar bahasa Sunda. Mungkin mereka berbakat bahasa seperti Bapaknya atau pelajaran bahasa daerah sekarang sudah lebih inovatif atau tiba - tiba mereka sekolah di sekolah internasional jadi bahasa daerah yang harus dipelajari adalah bahasa Perancis atau Spanyol πŸ˜† Hal yang pasti, berbeda dengan jaman saya SD dulu, sekarang ada Google dan ITBMh yang bisa jadi tempat bertanya πŸ˜† Jadi harusnya nggak hopeless banget lah. 

Apapun itu, sebagai jaga - jaga mari sekarang kita pelihara hubungan baik dengan orang - orang yang fasih berbahasa Sunda dengan baik dan benar. Jadi di masa mendatang, mereka tidak akan bingung kalau tetiba dapat WA dari saya menanyakan apa maksud peribahasa :
"Ngeduk cikur kedah mitutur, nyokΓ©l jahΓ© kedah micarΓ©k."

Hayo adakah yang tahu artinya? yang jelas tidak ada hubungannya dengan seblak. Jangan buka Google ya 😁 





Read more ...

Friday, August 6, 2021

Pengalaman Jadi Staf Tata Usaha : Orang Tua Menggemaskan

Ini adalah sambungan dari tulisan saya tentang Alasan Memilih Teknik Industri dan Pengalaman Bekerja Setelah Lulus

Tahun Keempat Jadi Petugas Tata Usaha

Tahun ini adalah tahun keempat saya menjadi staf Tata Usaha di almamater sendiri. Sebuah pekerjaan yang tidak saya kira akan saya tekuni dan bahkan nikmati. Bukan berdasarkan feng shui, tapi menurut pengalaman, saya memang tidak berbakat soal administrasi. Mencatat, menyimpan, mengurusi printilan dokumen. Oh sungguh saya tidak rapi. Folder komputer saya berantakan. Meja saya juga. Apalagi saya cukup merasa diri ini socially awkward πŸ˜… Makanya saya tidak menyangka bisa bertahan cukup lama mengerjakan hal - hal yang sangat administratif. Plus orang - orang tahan saja dan nggak keheul sama saya.

Pertama kali menjadi koordinator Tata Usaha, saya cukup kaget karena pekerjaan di TU ini ternyata tidak hanya sekedar mengurus surat dan tetek bengek administrasi perkuliahan. Seringkali saya mesti mengurus hal - hal lain diluar administrasi. Tak jarang sampai bawa - bawa perasaan. Menyangkut nasib orang soalnya πŸ˜… Beberapa kali saya menghadapi situasi nyata yang saya pikir hanya bisa saya lihat di drama. Semuanya memberikan saya perspektif baru untuk memandang dunia. 

Pelajaran Berharga Di Balik Meja Tata Usaha

Percaya atau tidak, hal yang paling banyak saya pelajari dari menjadi petugas tata usaha adalah pelajaran menjadi orang tua. Selain bertemu dengan mahasiswa dengan berbagai kelakuan, latar belakang, dan upbringing-nya, kadang saya juga harus menemui orang tua dengan berbagai gaya dan usaha. Interaksi saya dengan para orang tua ini tak jarang membuat saya berpikir bahwa nasihat - nasihat yang ada di postingan - postingan tentang kesalahan jadi orang tua memang benar adanya. Ini saya bagikan beberapa cerita. Silahkan ditarik hikmahnya sendiri yaa 🀣

Ikan Teri 50 Juta

Hanya ada saya di kantor Tata Usaha yang bisa menemuinya hari itu. Lepas tengah hari begini semua dosen sedang di kelas atau sedang rapat. Bukan kali pertama kali saya bertemu dengannya. Gaya rambut pendeknya masih sama seperti ketika pertama kali kami bertemu. Kali ini ia mengenakan blouse dan rok sederhana dengan motif senada. Ketika saya menghampirinya di ruang tamu tata usaha, ia sedang duduk dengan punggung tegak di sofa. Tangannya meremas - remas pegangan tas kecil di pangkuannya dengan gelisah. Hanya melihat sekilas saya tahu ibu ini sedang dilanda rasa gundah gulana yang luar biasa. 

Saya persilahkan ia masuk ruang tertutup, agar leluasa bercerita. Ternyata permintaan yang disampaikan masih sama. Minta agar anaknya dibantu menyelesaikan kuliah. Anak satu - satunya ini sudah dua tahun mogok kuliah. Hanya mau mendekam di kamar saja. Padahal dulunya ia juara sekolah di suatu kota kecil di Sumatera. Pintar dan sepertinya cukup populer. Keluarganya pun cukup terpandang dan hidup sangat berkecukupan. Sungguh tidak ada yang mengira bahwa mahasiswa ini akan tiba di posisi saat ini. Hampir dropout.

Cerita yang mirip sudah beberapa kali saya dengar. Saat masih SMA paling pintar. Paling terkenal. Masuk kampus baru tersadar, diatas langit masih ada langit atau bahkan luar angkasa. Tidak bisa menerima kenyataan jadi anak biasa saja. Akhirnya memilih untuk kabur dari masalahnya.

Saya sampaikan lagi kepada ibu tersebut, hal yang sudah pernah saya sampaikan di perjumpaan kami sebelumnya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh pihak Perguruan Tinggi jika anaknya sendiri tidak mau berusaha. Urusan kuliah ya hanya mahasiswa sendiri yang bisa mengerjakan. Kan tidak mungkin petugas TU yang menggantikan ikut kelas Matematika III atau Statistika. Saat ini si ibu ini sudah berurai air mata.

Saya sampaikan juga hal yang selalu saya tanyakan ke orang tua mahasiswa - mahasiswa seperti ini. Apa ibu itu sudah tanya keinginan anaknya? Jangan - jangan dia sudah tidak mau kuliah di sini. Atau bahkan tidak mau kuliah sama sekali. "Mungkin ingin jadi filsuf Bu", kata saya berkelakar mencoba mencairkan suasana. Anaknya memang pernah cerita kalau ia sangat menyukai buku - buku filsafat. Siapa tau kan dia ingin mencari jurusan yang lebih punya makna mendalam daripada engineering yang eksakta. Alih - alih terhibur, tangis si ibu malah makin keras.

Saya membiarkan si ibu menenangkan diri. Setelah tenang saya ulangi lagi omongan saya bahwa saat ini tidak ada yang bisa berjuang selain anaknya sendiri. Pihak universitas dan orang tuanya hanya bisa memberikan dukungan. Si ibu menyeka kedua matanya dengan sapu tangan yang saya yakin sudah basah kuyup. Setelah kembali tenang, si ibu bertanya, "Suka Teri nggak Bu?". Saya yang bingung dengan perubahan topik yang tiba - tiba, hanya bisa memandang si ibu dengan bingung. "Maksudnya bagaimana Bu?", tanya saya. "Ini saya punya teri buat ibu", tangan si ibu merogoh ke dalam tasnya, mengambil sesuatu. "Teri?", tanya saya lagi sambil masih terheran-heran. "Ini", si ibu menyorongkan bungkusan berwarna putih ke saya. "Whoa!", kata saya refleks setelah melihat bentuk bungkusan berisi segepok 'teri' berlabel Bank Indonesia tersebut. Tanpa babibu saya berdiri dan kabur keluar ruangan. Kaget. Dengan jantung yang masih berdebar, saya mendengar suara tangisan si ibu. Kali ini sambil meraung - raung.

Beberapa lama setelah insiden 'teri' tersebut, ibu itu kembali beberapa kali  mengirimkan pesan Whatsapp. Masih menawarkan untuk mentransfer uang puluhan juta ke rekening saya πŸ˜… Sepertinya Ibu ini betul - betul clueless dengan cara kerja perguruan tinggi. Kalaupun ibu itu transfer ratusan juta ke rekening saya, saya juga tidak akan bisa apa - apa jika si mahasiswa tetap tidak mau berusaha menyelesaikan kewajibannya. Kecuali menempuh cara - cara ilegal seperti pakai joki dan nyogok dosen yaa. 

Tapi kalau saya sih tidak akan mau terima sogokan. Selain cuma menambah dosa saya yang sudah banyak, merepotkan (saya orangnya malas repot), dan berisiko besar (bisa masuk penjara), saya juga tidak berminat keluarga terutama anak - anak saya terkena akibat dari makan uang haram πŸ™ˆ

Satu setengah tahun kemudian putra si ibu mengundurkan diri. Terakhir saya dengar dia akan kuliah di universitas lain, di jurusan yang diinginkannya. Walaupun terlambat 7 tahun lebih tidak mengapalah. Paling penting dia bahagia. Semoga orang tuanya bisa menerima dan jadi bahagia juga.

Kesalahan Nomor 1 : Menganggap uang bisa menyelesaikan segalanya.

Bahkan Maudy Ayunda Juga Berusaha

Sebuah panggilan masuk ke nomor Whatsapp kantor saya. Nomornya tidak tersimpan. Profile picture-nya memperlihatkan pasangan paruh baya berpose di depan suatu formasi bebatuan yang keren dengan latar belakang malam penuh bintang. Di Amerika nih pikir saya sok tau. Urusan sok tahu memang saya ahlinya. Tapi bentuk batunya memang seperti yang di bawah ini. 

Saya angkat panggilan tersebut. Seorang ibu - ibu langsung menyerocos di ujung seberang. Beliau ingin tahu kabar anaknya. Bagaimana kuliahnya? Apakah nilainya bagus? Kapan dia bisa lulus?. Mendengar rentetan pertanyaan si ibu,  ingin sekali saya langsung menjawab "Lha itu kan anak ibu, kenapa tanya saya?". Tapi kan saya petugas TU yang baik, jadi saya ketikkan namanya ke sistem dan sekilas mempelajari data yang muncul di layar. Ini anak sudah 3 semester tidak kuliah. Nilainya E semua.

Sebelum saya sampaikan kenyataan tersebut, saya tanyakan dimana posisi anaknya sekarang. Saat itu memang sedang libur kuliah empat bulan. "Anak saya baru pulang dari Inggris Bu. Saya suruh ikut short course sebulan di Manchester, soalnya kayanya dia kurang semangat, jadi saya kirim ke luar negeri saja. Sekalian refreshing. Kebetulan ada kakaknya di sana. Ini setelah pulang diminta papanya magang di perusahaan om nya di Singapore. Tapi Om-nya minta bukti nilai (transkrip) buat keperluan HR. Cuma ini anaknya kok nggak ngasih - ngasih, jadi saya inisiatif telepon Ibu saja, siapa tau ibu bisa bantu", kata si ibu panjang lebar.

Karena saya orangnya kurang minat basa basi, tanpa tendeng aling - aling langsung saya sampaikan informasi mengenai situasi sang anak. Si anak sudah tidak kuliah 1.5 tahun lamanya. Nilainya E semua. Absennya juga dibawah 20%. Mungkin itu yang membuat dia tidak semangat. Takut ketahuan orang tuanya. Atau dia ada masalah lain entah apa. Dari reaksi si ibu yang super kaget mendengar informasi tersebut, saya menduga dia dan suaminya tidak punya clue sama sekali mengenai kondisi anaknya. Pertanyaannya. Kok bisa? πŸ˜…

Saya sampaikan ke ibu tersebut agar mengajak ngobrol anaknya terlebih dahulu (kemampuan sok menasehati krusial bagi pegawai TU) πŸ˜†. Lagi - lagi siapa tau anaknya sudah tidak minat kuliah. Mungkin tidak cocok sama jurusan atau lingkungan atau ya dengan universitasnya. Mungkin dia ingin kuliah di Oxford seperti Maudy Ayunda. 

Saya sampaikan dengan jujur pendapat saya tapi si Ibu malah tersinggung. Modenya berubah jadi defensif. Dia lalu menceritakan bahwa ia dan suaminya alumni perguruan tinggi tempat saya bekerja. Jadi pasti anaknya berminat mengikuti jejak ayah ibunya kuliah juga disana. Wong buktinya dia bisa masuk. Saya cuma mengangguk - anggukan kepala saja mendengar ceramah si ibu. Walaupun yang dikatakan ibu tersebut tidak masuk logika saya. Ini jangan - jangan ibunya yang ingin kuliah.

Sebagai mantan anak yang disetir oleh orang tuanya terkait pilihan universitasnya, saya sih tidak menyalahkan si anak kalau berontak. Cuma berontaknya kok ya merugikan diri sendiri πŸ˜… Setelah berceramah panjang lebar selama 10 menit, ibu itu menutup pembicaraan dengan mendeklarasikan bahwa anaknya semester depan akan cuti untuk menenangkan pikiran dan akan dikirim ke Amerika tempat pakdenya menetap. Betul kan saya bilang foto profil nya di Amerika πŸ˜† #SalahFokus

Anyway setelah mengajukan cuti si anak tidak kembali di semester selanjutnya. Kabar terakhir yang saya dengar yang bersangkutan sudah kerja di negara tetangga. Sudah menikah, punya apartemen, dan mobil. Kemungkinan besar dibelikan Bapak Ibunya. Mungkin dari dulu sebenarnya keinginan si anak go international tapi mentok pada titah orangtuanya yang maunya go local jadi stress sendiri. 

Kesalahan Nomor 2 : Menganggap keinginan dan ambisi diri sendiri sama dengan keinginan dan ambisi anak.

Ini Mahasiswa, Bukan Balita

Di suatu siang yang cerah, saya sedang nongkrong dibalik loket tata usaha. Nongkrong bukan nangkring karena saya bukan burung kakak tua hinggap di jendela. Biasanya saya duduk di pojok ruangan nun jauh di ujung sana. Tapi hari itu saya sedang berminat berinteraksi dengan orang. Biasanya saya memilih berinteraksi dengan komputer (introvert detected) πŸ˜†

Seorang ibu datang menanyakan segala hal mengenai administrasi student exchange. Anaknya mau exchange ke salah satu negara Scandinavia. Saya jawab administrasinya A B C. Tapi biar mahasiswanya saja yang urus sendiri, karena toh  mengurusnya juga online pakai akun mahasiswa. Kata ibunya tidak apa - apa dia saja yang urus biar cepat πŸ˜… saya tanya memang anaknya kemana. Sudah berangkatkah? kalau sudah berangkat pakai email kan bisa. Kalau belum berangkat masa mau exchange ke luar negeri mengurus hal begini saja tidak bisa. Si Ibu menunjuk seseorang yang duduk diam di kursi tunggu depan TU. "Itu anak saya"

Langsung saya panggil. Si anak bangkit dan menghampiri kami. "Kenapa mesti Mama kamu yang urus begini - begini? Kamu kan sudah besar. Bukan Mama kamu yang mau exchange kan?", bombardir saya. Si anak melirik ibunya lalu dengan hati - hati menjawab "Kata Mama biar Mama saja, supaya cepat Bu". Sebelum si Ibu membuka mulut untuk protes, mode ceramah saya langsung on lagi sampai akhirnya si ibu dengan sukarela mengundurkan diri membiarkan si anak mengurus urusannya sendiri πŸ˜… 

***

Lain waktu saya mengangkat telepon dari orang tua lain. Menanyakan kenapa nilai anaknya belum keluar. Saya bilang anaknya saja menghubungi dosennya sendiri kenapa ibunya harus ikut repot - repot. Kata ibunya anaknya sibuk sekali, sekarang sedang Kerja Praktik jadi tidak bisa diganggu. Dia menanyakan ini karena khawatir nanti anaknya tidak lulus dan tidak bisa dapat gelar cum laude. Saya langsung puyeng.

***

Keesokan harinya saya terima telepon dari orang tua lain lagi. Kali ini memohon agar anaknya diberikan ujian ulang supaya tidak dapat E. "Kata anak saya dia sebetulnya bisa mengerjakan, tapi memang sebelum ujian, dia sakit perut Bu, jadi tidak bisa belajar. Ini anaknya sekarang mengurung diri di kamar tidak mau bicara sama saya. Kayaknya karena mikirin nilai E nya", kata ibu tersebut menjelaskan. "Nanti saya hubungi anak ibu" jawab saya singkat. "Jangan Bu..jangan..dia nggak tau saya menghubungi ibu. Nanti dia bisa marah kalau tau. Ibu langsung hubungi dosen saja ya Bu, minta anak saya dikasih ujian perbaikan", katanya mengiba. 

"Ibu mau menggantikan anak ibu ikut ujian?", kata saya ."...atau Ibu dosen disini jadi tau semua komponen penilaian dan yakin anak ibu tidak lulus cuma gara gara sakit perut?", omel saya. "Oh bukan Bu, saya cuma mau membantu anak saya. Kan kasihan kalau dia tidak lulus", kata Ibu tersebut sambil setengah kaget mendengar omelan saya. 

"Tidak lulus kan tinggal mengulang Bu", kata saya sambil berusaha mengakhiri pembicaraan. "Tapi Bu, anak saya seumur hidup belum pernah dapat nilai jelek. Ini pertama kalinya. Saya takut dia stress Bu". Saya cuma bisa nyengir kuda mendengar jawabannya.

Sepertinya ibu - ibu ini belum sadar anaknya sudah bukan balita. Mau nikah juga sudah legal πŸ˜…



Kesalahan Nomor 3 : Tidak mau menerima kenyataan bahwa anaknya sudah dewasa.

Bukan Sinetron

Sekali waktu saya pernah menerima telepon dari kakak seorang mahasiswa. Kakak ipar tepatnya. Mulanya sih baik - baik saja. Menanyakan kenapa adik iparnya ini tidak lulus - lulus. Apa saja yang masih harus diselesaikan dan hal - hal administratif lainnya termasuk masalah biaya yang masih perlu dikeluarkan. 

Saat menyinggung soal biaya yang masih harus dikeluarkan, Kakak ipar ini, yang kemudian akan saya sebut sebagai si mbak, langsung berubah ke mode tjurhad. Menurut dia keluarga suaminya sudah mengeluarkan uang banyak sekali agar adik iparnya ini lulus. Tapi kok yang bersangkutan malah terlihat santai - santai saja. Padahal sekarang giliran ponakan si mahasiswa, anak si mbak maksudnya, yang harus masuk sekolah dan membutuhkan biaya banyak.

Murni karena kepo saya tanyakan kepada si mbak perihal siapa yang selama ini membayar uang sekolah adik iparnya. Soalnya si mbak sampai mengungkit - ungkit masalah uang sekolah anaknya segala. Apakah suaminya harus menanggung biaya kuliah adiknya? 

Si mbak menjawab tidak. Biaya kuliah untuk adik iparnya ini masih dibayarkan oleh mertuanya sendiri, atau ayah si mahasiswa. Hanya saja, karena sang mertua sudah pensiun, maka uangnya diambil dari hasil penjualan aset - aset warisan bapak sang mertua. Kakek dari si mahasiswa dan suami si mbak.

Sebetulnya saya masih ingin tau kenapa kalau yang bayar uang kuliah adalah Bapak si mahasiswa sendiri, mbak ini khawatir dengan biaya uang sekolah anaknya. Tapi itu kan bukan urusan saya ya. Kemungkinan masih banyak cerita dibalik sekilas info barusan. 

Tapi kemudian si mbak melanjutkan tjurhad-nya dengan cerita bahwa situasi di rumah mertuanya sangat tidak kondusif karena masalah uang ini. Ayah mertuanya setiap hari marah - marah, Ibu mertuanya nangis - nangis, dan anak - anaknya, yang semua laki - laki, setiap hari berantem satu dengan lainnya. 

Si mahasiswa adalah anak tengah di keluarga tersebut. Adiknya baru mau masuk kuliah tapi terancam tidak jadi karena tidak ada biaya. "Uangnya dihabiskan untuk membiayai kuliah kakaknya yang tidak lulus - lulus".

Keluarga si mbak juga sedang kesulitan keuangan karena suaminya kena tipu. Suaminya yang adalah anak pertama di keluarga tersebut, menyalahkan adiknya karena "menghabiskan uang keluarga yang seharusnya bisa ia gunakan untuk menyelamatkan keluarganya".

Terjawablah sudah kenapa mbak ini begitu khawatir warisan kakek mertuanya habis. Karena itu memang "harapan" satu - satunya keluarga ini. Saya juga jadi berempati pada si mahasiswa yang pasti sangat merasa tertekan dikambing hitamkan oleh seluruh keluarga. Bagaimana bisa menyelesaikan skripsi di tengah situasi seperti ini. Apalagi saat pandemi dan tidak punya uang. Teman - teman si mahasiswa, yang telah lulus lebih dulu,  juga kemungkinan besar sudah sibuk dengan pekerjaan dan hidupnya. Si mahasiswa sepertinya merasa tidak punya supporting system dan akhirnya situasinya jadi seperti lingkaran setan.

Menghadapi tjurhad si mbak, saya hanya bisa mengiya - iyakan saja. Karena bukan ranah saya untuk ikut campur dan si mbak juga nampaknya tidak cari solusi hanya ingin cerita saja πŸ˜… Kalau saya boleh berpendapat, menurut saya inti masalah keluarga tersebut adalah komunikasi. Seandainya boleh memberikan nasihat, saya ingin menyarankan supaya satu keluarga bisa duduk bersama. Kemudian ngobrol dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah. Bukannya malah menghindar dari masalah sebenarnya dan saling menyalahkan. Tapi nasihat memang lebih enteng diucapkan daripada dilaksanakan. Saya juga tidak tahu apa bisa tetap tenang kalau berada di situasi seperti keluarga tersebut πŸ˜…

Setahun kemudian si mahasiswa lulus juga akhirnya. Saya tidak tahu akhir ceritanya. Tidak mau cari tahu juga. Hanya bisa berdoa semoga kelulusan dia berdampak positif pada keluarganya.

Kesalahan Nomor 4 : Kurang komunikasi dan banyak asumsi.

Penutup

Katanya untuk bisa lulus kuliah, atau lulus tantangan apapun, seseorang perlu tiga hal. 1. Keinginan diri sendiri, 2. Sumber daya, 3. Supporting system. Tanpa salah satu dari ketiga hal tersebut bisa dipastikan perjalanan akan terhambat. Kebanyakan orang take them for granted. Tidak banyak yang sadar bahwa memiliki ketiga hal tersebut adalah priviledge yang tidak dimiliki semua orang.

Menurut saya salah satu kewajiban orang tua adalah menyediakan ketiga hal diatas untuk anak - anaknya. Sesederhana apapun sesuai kemampuan. Ingat yang penting adalah niat dan usaha. Serahkan pada Tuhan untuk hasilnya. 

Sebagai orang tua, tentu saya ingin hidup anak saya lancar - lancar saja. Tapi saya sadar diri. Takdir kedepan bisa membawa kami berhadapan dengan situasi apa saja. Oleh karena itu saya sangat bersyukur karena pekerjaan saya sekarang bukan hanya pekerjaan saja. Saya bisa banyak belajar saat menjalaninya. Termasuk saat berhadapan dengan orang tua - orang tua menggemaskan seperti yang saya ceritakan diatas. Karena kan katanya pengalaman adalah guru terbaik. Walaupun pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman orang lain πŸ˜…

Cerita mengenai pertemuan dengan para orang tua tersebut biasanya saya jadikan bahan diskusi dengan suami. Agar kedepan kami tidak melakukan kesalahan yang sama atau sudah siap jika menghadapi situasi serupa. Life long learning istilahnya. Mohon maaf kalau kurang nyambung.

Jadi cerita orang tua mana nih yang paling bikin gemas? πŸ˜†

Oh ya karena nulis bagian 3 ini saja hampir berbulan - bulan, jadi saya tidak janji ada Bagian 4. Siapa tau ada yang nungguin 😝

Kesalahan Nomor 5 (paling fatal) : Gampang Geer. 

Sekian.

Read more ...

Monday, July 12, 2021

Keajaiban Untuk Bu Az

Kabar Duka

Beberapa malam yang lalu, sekitar pukul setengah sepuluh malam, saya mendapat kabar duka. Salah satu mahasiswa program studi doktor di tempat saya bekerja meninggal dunia. Sebulan terakhir beliau agak sering berhubungan dengan saya, karena akan menjalani sidang terbuka. Prosesi terakhir yang perlu dilewati untuk mendapatkan gelar doktor. Gelar yang sudah 7 tahun beliau perjuangkan. 

Ketika mendapatkan kabar tersebut saya kaget luar biasa. Bu Az, nama mahasiswa itu, memang sempat selama dua minggu  dirawat di Rumah Sakit karena covid - 19. Kabar terakhir beliau sudah pulang ke rumah. Sudah dinyatakan membaik dan bisa rawat jalan walaupun masih positif. Tapi ternyata sehari setelah keluar, beliau kembali dilarikan ke rumah sakit karena saturasinya drop ke angka 80. Qadarullah di perjalanan, beliau sudah menghembuskan nafas terakhir terlebih dahulu. Hari ia berpulang adalah hari dimana sidang terbukanya seharusnya dilaksanakan.

Keinginan Terakhir

Kabar duka tersebut pun menyebar. Selanjutnya telepon saya tidak berhenti berdering. Promotor (pembimbing) Bu Az menelepon, mengabarkan bahwa suami Bu Az kebingungan ingin membawa isterinya kembali ke kampung halamannya di Solo, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman kuliah Bu Az juga mengabarkan yang sama, mereka menanyakan apakah bisa menggunakan ambulans ITB untuk mengantarkan jenazah ke Solo. Ketua Program Studi juga menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk membantu.

Saya pun segera konsultasi dengan salah satu anggota tim Satuan Tugas Covid 19 ITB. Hasil konsultasi, ambulans ITB tidak bisa digunakan ke luar kota saat pandemi. Baik kondisi mobil maupun petugas tidak disiapkan untuk protokol covid apalagi berpergian saat dilaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) πŸ™ˆ

Langsung saya beralih ke Google. Tentu tanpa banyak berharap, karena sudah mendengar kabar bahwa Ambulans swasta pun sekarang penuh. Tapi kan ini membawa jenazah pikir saya, tidak perlu peralatan keselamatan, hanya perlu kesediaan untuk mengantar keluar kota saja. Saya ketikkan kata pencarian "ambulans 24 jam Bandung". Dari daftar yang muncul di Google entah kenapa saya pilih yang ada di urutan ketiga. Mungkin karena mencantumkan "siap melayani luar kota" di profilnya. 

Pertolongan Melebihi Harapan

Bapak yang mengangkat telepon langsung menyanggupi permintaan saya. Tanpa ragu - ragu sedikitpun. Beliau hanya menyebutkan jumlah biaya yang diperlukan dan mengatakan langsung akan segera bersiap di dekat Rumah Sakit. Saya yang terkaget kaget karena tidak menyangka akan segampang itu mendapatkan ambulans, langsung mengabari para pimpinan Program Studi dan Fakultas untuk koordinasi pembayaran biaya kepulangan : pemrosesan jenazah dan ambulans. Alhamdulillah langsung direspon walaupun sudah tengah malam. Tidak ada masalah dengan pembayaran, semua biaya pemulangan ditanggung oleh ITB melalui Fakultas.

Selanjutnya muncul masalah baru. Suami Bu Az sendiri saja di lobby IGD bersama jenazah. Saking penuhnya IGD, sehingga untuk masukpun tidak bisa. Sendirian dalam artian tidak ada yang membantu mengurus administrasi ya, karena nampaknya disana kondisinya sangat sibuk. Terbayang pasti paniknya. Saya tidak mungkin meminta orang untuk datang ke Rumah Sakit di tengah kondisi begini. Datang sendiripun juga mustahil. Kalaupun bisa datang juga saya tidak yakin bisa menolong banyak karena tidak tahu prosedur yang harus dilakukan. Apalagi kondisinya pasti chaos disana. Saat saya kebingungan, saya iseng tanya pada Bapak Ambulans, yang saya telepon untuk booking Ambulansnya, apa memungkinkan beliau juga membantu mengurus administrasi? Bapak ambulans menyerahkan telepon ke anaknya. Saat itu keajaiban dimulai.

Atas Izin Allah 

Anak Bapak Ambulans ini namanya Pak D. Beliau dengan sigap langsung menanyakan dimana Suami Bu Az berada. "Nanti saya samperin kesana Bu", katanya. Saat saya tanyakan prosedur pengeluaran jenazah, beliau dengan sabar menjelaskan. Jujur saya hanya setengah mendengarkan, saking deg - degannya begitu mendengar Pak D berkata kemungkinan paling cepat jenazah baru bisa keluar pagi hari karena antri di bagian forensik dan  pemulasaran. 

Saya sampaikan kalau saya minta tolong saja diuruskan semua yang harus diurus. Dengan baik hati Pak D menyanggupi. Saya yakin hanya kehendak Allah yang bisa menggerakkan hati Pak D untuk membantu Bu Az dan keluarganya malam itu. Ingat, saya tidak kenal yang bersangkutan. Beliau juga tidak kenal saya. Kami hanya dihubungkan oleh Google. Mengurus administrasi juga bukan bagian dari jasa Ambulans. Karena Ambulans ya ambulans saja. Tugasnya mengantarkan. Bahkan beliau juga tidak minta biaya tambahan. Padahal kalau beliau mintapun, akan langsung saya sanggupi. Karena ini seperti meminta orang maju ke medan perang. Tengah malam.  

Setelahnya sejam sekali saya diberikan update oleh Pak D. Termasuk saat hasil PCR jenazah keluar negatif. Dimana artinya jenazah tidak perlu melewati protokol covid sehingga bisa memotong waktu yang diperlukan untuk pemulasaranya. Beliau juga memberi tahu aturan terbaru untuk membawa jenazah lintas provinsi saat PPKM, dimana jenazah harus tetap dimasukkan ke dalam peti. Walaupun kalau hasil PCR negatif bisa menggunakan peti murah dan tidak dipaku. Pak D jugalah yang mengurus semua surat dan kelengkapan yang diperlukan agar Bu Az bisa pulang ke Solo. Mulai dari surat kematian hingga pembayaran peti dan pemulasaran. Alhamdulillah atas izin Allah, jenazah Bu Az selesai diproses dan bisa berangkat ke Solo jam 03.00 pagi. Jauh lebih cepat dari perkiraan. Sungguh sangat dimudahkan.

Hikmah Kejadian 

Saat semua urusan selesai, saya baru tahu kalau Pak D adalah pegawai forensik di Rumah Sakit tempat Bu Az meninggal. Pantas sudah paham betul prosedur disana. Kok bisa ya, kebetulan saya pilih ambulans Bapaknya πŸ˜… Lebih kebetulan lagi, malam itu beliau sedang break dari kerja shift. Setelah membantu Bu Az, paginya beliau kembali bekerja selama 24 jam di Rumah Sakit. Coba kalau malam itu beliau bekerja. Belum tentu semua urusan administrasi malam itu bisa diurus dengan lancar dan mudah.

Kata teman - temannya, Bu Az orang yang sangat baik. Taat beragama dan rajin mengerjakan ibadah sunnah. Pantas malam itu saya merasa seperti ada malaikat yang diturunkan sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk mengantarkan Bu Az kembali ke haribaan-Nya. 

Cerita ini saya tuliskan sebagai pengingat. Buat saya sendiri dan mungkin yang membaca. Di kondisi sekarang yang sangat tidak menentu ini, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Kala dihadapkan pada kondisi dimana sumber daya sangat terbatas, memang hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan. Dan jika Allah sudah berkehendak, pertolongan tersebut bisa datang dari mana saja dan apapun bentuknya. Bahkan lewat Google dan petugas forensik yang kebetulan Bapaknya punya ambulans.

Read more ...

Wednesday, July 7, 2021

Perjuangan Mendapatkan Vaksin Dosis Dua

Vaksin Covid - 19  Dosis Pertama

Karena saya dan suami bekerja di Perguruan Tinggi, kami sama - sama yang termasuk dapat kesempatan awal untuk mendapatkan vaksin covid - 19. Vaksinasi dosis pertama berlangsung akhir bulan Maret 2021. Vaksin yang tersedia saat itu baru Sinovac dan distribusinya masih terbatas sehingga menjadi semacam barang langka.

Pelaksanaan vaksin dosis pertama berjalan lancar. Suasana di Sabuga hari itu bernuansa nostalgia. Kolega yang sudah lama tidak bersua saling berbagi cerita. Dalam jarak 1.5 meter yang seringkali menjadi semakin rapat. Membuat petugas geregetan dan tak kadang jadi harus menyela pembicaraan.

Foto - foto bersama berseliweran di Whatsapp Group. Alhamdulillah ikhtiar awal mengatasi pandemi terlaksana. Tidak ada efek samping yang mengganggu. Hanya pegal pegal biasa saja.

Hambatan Vaksin Covid - 19 Dosis Kedua

Masalah muncul dengan jadwal vaksinasi dosis dua yang jatuh tanggal 22 April. Empat hari sebelum jadwal vaksin dosis kedua tersebut, Bapak saya qadarullah meninggal dunia. Bapak meninggal di salah satu Rumah Sakit di Semarang setelah berjuang melawan Covid -19 dan komplikasinya selama 1 bulan. Hari itu tanpa babibu kami langsung pergi ke Semarang. Saat itu kondisi memang tidak semengerikan bulan Juni - Juli sekarang, jadi kami masih berani keluar kota. 

Alhamdulillah proses pemakaman berjalan lancar. Karena memang harus dilaksanakan dengan cepat. Setelahnya juga tidak ada pelayat yang datang, pun tidak ada keluarga berkumpul di rumah. Sehingga kami bisa fokus mengurus hal - hal yang harus diurus. Hari kedua kami di Semarang suasana sudah cukup kondusif untuk kami bisa memikirkan hal lain.

Suami mengajak saya untuk mencari info kemungkinan kami vaksin dosis dua di Semarang. Supaya waktu penyuntikannya masih dalam rentang ideal 28 hari dan tidak perlu mengulang kembali. Kami memang masih harus tinggal di Semarang sekitar satu minggu untuk mengurus ini dan itu. Sehingga pasti akan melewatkan jadwal vaksin dosis dua di Bandung.

Terhambat Birokrasi

Untuk bertanya soal vaksin, tempat pertama yang kami datangi tentu saja puskesmas di kelurahan tempat rumah orang tua saya berada. 

Sayangnya petugas puskesmas di sana sungguh tidak membantu. Ketika kami tanya apa bisa vaksin beda kota dengan menjelaskan kondisi yang kami hadapi saat ini, jawaban yang kami dapatkan cuma "lebih baik Bapak dan Ibu kembali ke kota asal saja".

Sungguh jawaban yang mencerahkan sampai menyilaukan mata. Membuat kami tidak bisa melihat jalan keluar.

Suudzon-nya kami dianggap bak orang yang mengiba iba untuk mendapatkan cairan hidup abadi yang sangat berharga padahal bukan haknya. Husnudzon-nya karena saat itu dosis vaksin yang tersedia sangat terbatas jadi petugas juga sangat hati - hati membagikan vaksin yang saat itu memang baru diprioritaskan untuk lansia.

Keesokan harinya, H-1 sebelum jadwal vaksinasi, kami datang ke Dinas Kesehatan Kota Semarang. Disana kami bertemu dengan unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan vaksinasi di Kota Semarang. Jawabannya cukup menggembirakan. Intinya tidak ada aturan yang melarang untuk vaksin pertama dan kedua dilakukan di tempat berbeda. Masalahnya hanya pada ketersediaan vaksin yang sudah berpasang - pasangan. Dan setiap hari sudah ditentukan penerimanya. Kami diminta untuk menanyakan ke beberapa puskesmas, termasuk puskesmas rumah orang tua saya, sentra vaksinasi BUMN, dan rumah sakit. Kalau kalau ada vaksin sisa yang bisa dimanfaatkan.

Kami langsung mendatangi sentra vaksinasi BUMN di kompleks PRPP Semarang. Di tenda penerimaan ada sederet meja dengan petugas - petugas berpenampilan profesional. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, kami lalu disarankan untuk mengajukan pembuatan surat keterangan dari instansi kerja tentang permohonan vaksin beda tempat. Surat tersebut katanya akan dikonsultasikan dengan penanggung jawab pelaksanaan program. 

Surat dari Dekanat kami dapatkan dalam waktu 1 jam. The perks of being mak mak Tata Usaha. Tapi ternyata ditolak oleh penanggung jawab pelaksanaan program. Lagi - lagi dengan alasan vaksin dilakukan di beda tempat, sementara vaksin yang tersedia sudah ada pemiliknya. Which is cukup aneh mengingat di sentra vaksinasi bersama BUMN sifatnya kan sukarela untuk masyarakat umum. Jadi apakah yang ada disana semuanya cenayang? Sudah tau siapa yang akan datang? 

Akhirnya kami menghabiskan sore dengan berkeliling ke berbagai rumah sakit baik swasta maupun negeri menanyakan ketersediaan vaksin. Ada yang dengan baik hati menjelaskan bahwa pemberian vaksin di rumah sakit sudah terprogram sedemikian rupa sehingga tidak akan ada vaksin sisa. Tapi ada juga yang hanya menatap kami dengan aneh ketika bertanya. Hari itu kami pulang dengan tangan hampa.

Pertolongan yang Tidak Terduga

Hari H jadwal vaksinasi kami, tanpa banyak berharap kami kembali ke puskesmas dekat rumah. Menyampaikan pesan dari Dinas Kesehatan tentang vaksin sisa. Dijawab dengan ogah ogahan oleh petugasnya bahwa mereka akan mengabari kami jika ada vaksin sisa.

Merasa agak jengkel, suami mengajak kembali ke Dinas Kesehatan untuk meminta pernyataan tertulis mengenai vaksin sisa atau paling tidak ijin kami rekam pernyataannya. Supaya ada bukti kalau kami pergi ke Puskesmas lagi. Toh kami juga sudah punya surat resmi dari instansi. Sampai di Dinas Kesehatan pukul 09.00 kurang, ternyata kantornya kosong karena semua orang dinas lapangan meninjau puskesmas - puskesmas. Hanya tertinggal seorang bapak - bapak resepsionis yang jadi korban, kami bombardir dengan berbagai pertanyaan.

Bapak resepsionis yang kebingungan akhirnya memberikan nomor kontak PIC vaksinasi Kota Semarang, yang sebelumnya sudah kami temui juga di hari pertama kami datang ke Dinas Kesehatan. Langsung kami teleponlah ibu PIC. Untung ibunya bageur. Beliau bilang sekarang sedang meninjau puskesmas - puskesmas di Semarang. Nanti dikabari kalau ada vaksin sisa, boleh kami kesana. Penerimaannya agak sedikit berbeda setelah kami tunjukkan surat resmi dari instansi. Mungkin takut jadi berita viral kalau tidak diladeni. Karena sekarang semua cerita gampang sekali beredar. Sembari menunggu kabar, kami juga berikhtiar menghubungi puskesmas di tempat kami tinggal di Bandung. Tapi sayang, tidak ada kepastian juga.

Siangnya sekitar jam 13.40 kami ditelepon oleh ibu PIC. Dikabari bahwa ada vaksin sisa di suatu puskesmas di pinggiran kota Semarang. Jaraknya 22 km dari tempat kami berada saat itu, di pinggir kota Semarang lainnya. Ditunggu sampai 14.00 harus sudah sampai sana. Kalau tidak, vaksin sisa akan dibuang, karena disana tidak ada kulkas. Cek map perlu waktu 30 menit. Untung bisa via toll dalam kota. Bismillah sajalah. Kami pun bergegas mengejar vaksin kedua.

Sampai disana sudah pukul 14.10. Kami pikir sudah terlambat. Tapi ternyata suasana puskesmas tersebut woles. Sepi tidak ada orang. Hanya ada beberapa petugas yang sepertinya juga sudah bersiap akan pulang.  Kami  menyampaikan kalau kami disuruh Ibu PIC datang untuk vaksin kedua.

Menunggu sebentar untuk menyocokkan data - data, kemudian kami langsung disuntik vaksin dosis dua. Setelahnya menunggu 30 menit untuk berjaga jaga. Kemudian selesai begitu saja.

Ibu petugas menyampaikan kalau setiap harinya ada 4-5 dosis vaksin yang dibuang. Karena mereka tidak punya kulkas untuk penyimpanan vaksin yang layak. Program vaksinasi ke lansia di daerah tersebut juga tidak berjalan lancar karena kebanyakan lansia takut divaksin dengan alasan punya penyakit bawaan dan termakan berita - berita liar. 

Saat kami tanya kenapa tidak disuntikkan saja ke sebarang orang yang mau. Kan pasti banyak warga lain non lansia yang berminat. Kata mereka tidak ada arahan dari Dinas Kesehatan, jadi mereka juga tidak berani sembarang menyuntik orang. Lagian resistensinya juga besar di kalangan muda. Sungguh birokrasi dan literasi. Penghambat kemajuan bangsa sekali.

Pendapat Pribadi 

Saat menerima vaksin kedua, kami sudah sangat yakin bahwa akhir pandemi sudah ada di pelupuk mata. Tapi ternyata hanya dalam waktu kurang dari dua bulan setelahnya, situasi malah menjadi sangat tidak terkendali.

Birokasi dan kurangnya literasi menjadi penyebab utama lambatnya program vaksinasi di Indonesia. Padahal negara kita termasuk yang pertama mendapatkan vaksin, walaupun hanya Sinovac. Apapun itu, vaksin yang ada lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Saat kami memaksa mendapatkan vaksin dosis kedua mungkin ada yang menganggap kami orang yang egois yang ingin menyelamatkan diri sendiri. Padahal kalau dilihat dari kacamata lain, kami hanya merasa sayang karena sudah setengah jalan mendukung herd immunity.

Daripada kami mengulang vaksin kembali dari dosis pertama, yang malah menghabis-habiskan jatah vaksin. Atau malah hanya dapat setengah dosis yang jelas tidak membantu sama sekali, kami berpikir, lebih baik kekeuh untuk bisa mendapatkan vaksin dosis dua di waktu yang tepat. Jadi kenapa tidak ada yang berminat membantu?

Alasan birokrasi juga kurang masuk akal. Kalau ini Bantuan Langsung Tunai, atau bentuk bantuan lain, kami masih paham, kalau harus sesuai tempat tinggal. Kalau sudah menyangkut keselamatan bersama seharusnya birokrasi bisa agak longgar. Toh sebetulnya datanya juga sudah terpusat. Melekat pada NIK. Kecil kemungkinan ada orang mau berkali kali vaksin sampai membohongi petugas. 

Apa untungnya? Tidak lantas jadi kebal juga karena makin banyak miligram vaksin yang masuk ke tubuhnya. Jadi sakit malah mungkin iya. Namanya juga obat. Di Indonesia banyak sekali orang berdomisili tidak sesuai dengan KTP-nya. Jadi seharusnya urusan seperti ini dipermudah. Apalagi banyak yang masih resisten atau tidak paham pentingnya vaksin. Jadi seharusnya yang bersedia vaksin dipersilahkan. Apapun yang mempercepat penyebaran vaksin seharusnya dipermudah. 

Eits tapi itu kan kata saya ya yang remahan rengginang di pinggir kaleng Khong Guan.Walaupun enak, tidak akan jadi hidangan utama di tengah meja. Jadi biarkan saya menulis secuplik cerita ini saja. Hanya untuk berbagi pengalaman saja tentang perjuangan memperoleh vaksin dosis dua bagi yang membaca.

Jangan lupa vaksin yaa begitu ada kesempatan πŸ˜‰
Read more ...

Friday, March 12, 2021

Tentang Pengalaman Kerja Setelah Lulus

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan berjudul Mengapa Memilih Teknik Industri.

Dari lulus kuliah saya tidak pernah kerja yang benar menurut standar orang tua saya. Kerja yang benar menurut standar mereka adalah jadi PNS atau pegawai BUMN. Suami saya serta adik saya dan suaminya, yang semuanya juga lulusan ITB, juga tidak ada yang bekerja sebagai PNS atau pegawai BUMN. Sampai sekarang Bapak saya sering gelo (istilah jawa untuk perasaan sedikit kecewa dan masih suka berandai andai jika saja) bahwa saya dan adik saya yang sudah disekolahkan jauh - jauh ke sekolah paling bergengsi di Indonesia, sekarang tidak punya pekerjaan bergengsi juga, yang bisa dengan mudah disebutkan kala ngobrol-ngobrol dengan kerabat atau kolega. Gara-gara hal ini saya dan adik saya sering mengoda Bapak. Makanya kalau berdoa dulu jangan fokus cuma sampai anaknya masuk ITB saja. Setelah ITB masih panjang urusannya. Coba Bapak Ibu dulu berdoanya anaknya jadi Direktur BUMN. Mungkin sekarang saya dan adik saya sedang meniti karir di BUMN untuk suatu saat jadi Direktur πŸ™ˆ Pelajaran yang bisa didapat dari hal ini, kalau doain anak jangan nanggung. Setinggi tingginya. Mana tau makbul.

Alhamdulillah walaupun tidak dalam jalur bergengsi seperti yang dikehendaki orang tua, semenjak lulus kuliah tahun 2008, berbekal prinsip "iyain dulu mikir nanti", sampai saat ini saya belum pernah nganggur. Saya selalu punya pekerjaan.

Kuliah di ITB dan pengalaman bekerja keliling Indonesia membuat wawasan saya menjadi terbuka. Namanya pekerjaan itu, ya tidak melulu harus ada merknya. Kuncinya hanya jangan gengsi. Pekerjaan akan selalu ada. Walaupun random bentuknya. Selama halal dan diridhoi orang tua dan suami, ya dikerjakan saja.

Saya masih ingat, pekerjaan pertama saya datang sehari setelah saya selesai mengikuti sidang Tugas Akhir. Seorang dosen meminta saya membuat slide kuliah karena slide presentasi TA saya katanya bagus. Menghias slide sih tepatnya, karena isinya sudah dibuat. 200 slide dan saya dapat Rp. 500.000.

Sebelum wisuda seorang kakak kelas mengajak saya ikut bekerja di suatu proyek yang dikerjakan oleh tim yang diketuai seorang dosen. Setelahnya selama 2 tahun saya ikut mengerjakan proyek tersebut. Judul proyeknya adalah, penilaian kelayakan pendirian SPBU. Proyek inilah yang membuat saya bisa keliling Indonesia. Dari Aceh sampai Sorong bahkan ke Talaud.

Bersamaan dengan itu saya juga bekerja paruh waktu di sebuah agency sebagai admin social media (dulu Twitter dan Facebook) beberapa brand besar. Pengalaman ini membuat saya bisa nonton sejumlah konser musisi luar ternama secara gratis. Walaupun pernah jadi admin social media, tapi saya tidak begitu tertarik dengan social media πŸ˜… dulu pernah punya Twitter dan Path, tapi ya gitu gitu saja. Sampai sekarang saya tidak punya Instagram. Facebook saja cuma untuk gabung grup ITB Motherhood.

Tahun 2010 saya iseng ambil S2 di Informatika ITB. Sambil kuliah, saya keluar dari proyek SPBU dan bergabung dengan tim dosen lain mengerjakan proyek di beberapa Kementerian sambil tetap menjadi admin akun social media. Saya juga sempat bersama beberapa teman mengerjakan suatu proyek di sebuah perusahaan FMCG besar di Indonesia. Bisa dibilang hidup saya empat tahun setelah lulus memang cukup serabutan dan meminjam istilah penulis Ahmad Tohari saya betul - betul jadi Orang Proyekan. Bolak balik pergi ke Jakarta untuk rapat. Pergi survey, mempersiapkan laporan, presentasi, dan sebagainya. Saat muda sih menarik ya, tapi saat masuk usia 30 tahun saya sudah tidak mau lagi diajak proyekan. Capek.

Tahun 2012 saya menikah. Sempat stop bekerja karena mengurus pernikahan, beberapa bulan kemudian saya kembali melibatkan diri dalam proyek. Kali ini membantu mertua, yang kebetulan lulusan TI ITB juga. Sambil proyekan saya juga dapat pekerjaan pribadi dari sepupu yang kerja di perusahaan packaging multinasional, untuk menerjemahkan manual mesin dari bahasa Inggris ke Indonesia.

Pertengahan tahun 2013 suami saya berangkat ke Jerman untuk meneruskan studi. Sementara saya tinggal dulu di Indonesia, menyelesaikan studi S2 saya yang sudah molor selama setahun. Hampir DO saya tuh πŸ˜‚

Enam bulan setelah suami berangkat, saya menyusul ke Jerman. Di Jerman saya pun tidak sempat menganggur. Banyak orang yang ikut suaminya studi memilih untuk studi juga. Tapi saya tidak. Berdasarkan pengalaman hampir DO saat S2, saya sudah tau bahwa jadi mahasiswa bukan bakat saya. Karenanya saya memilih bekerja untuk mengisi waktu luang. Mumpung waktu itu belum punya anak juga. Masih bebas.

Setelah belajar bahasa Jerman selama 6 bulan di VHS Stuttgart dan cukup paham komunikasi dasar, saya ditawari kerja menggantikan orang yang mau liburan (urlaubsvertretung). Kerjanya di gedung Bosch. Tapi bukan kerja kantoran. Kerjanya jadi putzfrau alias cleaning lady alias tukang bersih bersih. Menyedot debu karpet ruangan kantor, bersihin wc, buang sampah, bersihin dapur dll. Kerja 2 bulan dapat hampir 2000 Euro πŸ˜‚ mayan banget kan. Sebulan setelahnya saya dapat tawaran mini job (part time) dari kenalan orang Indonesia untuk jadi spΓΌlerin. Alias tukang cuci piring di Messe Stuttgart. Selama 2.5 tahun saya jadi tukang cuci piring. Baru berhenti beberapa saat sebelum pulang seterusnya ke Indonesia.

Saat bekerja part time saya sering mendapatkan pujian karena kinerja saya bagus. Saya tidak banyak omong (soalnya kemampuan ngomong terbatas) dan saya kerja dengan rajin tanpa banyak ngeluh (ngeluh dalam bahasa Jerman tidak diajarkan saat kursus). Overall saya tidak neko - neko (ya mau neko - neko apa juga kan ya) πŸ˜…

Itu supervisor di tempat kerja tidak tau saja saya sudah pernah 4 tahun belajar khusus tentang efisiensi dan efektivitas. Optimasi hasil dan minimasi waste. Cuma ngatur work station agar flow kerja lancar dan pilih rute dorong - dorong kereta piring kotor atau urutan WC yang harus dibersihkan mah cincai dong 😝 #Shombong.

Delapan bulan sebelum back for good ke Indonesia, saya dan kakak ipar memulai usaha jualan buku islam anak anak berbahasa Inggris. Usaha tersebut kami namakan Soleh Generation. Alhamdulillah, Soleh Generation bertahan sampai sekarang, walaupun saat ini lebih banyak kakak ipar yang mengerjakan.

Sebelum terbang ke Indonesia saya masih sempat sempat urlaubsvertretung lagi di Bosch selama sebulan. Lumayan bekal pulang. Soalnya hasil kerja yang dulu - dulu sudah habis untuk jalan - jalan 🀣 Saat itu saya belum tau kalau sudah hamil muda.

Pulang ke Indonesia dalam kondisi hamil 3 bulan, selama setahun setelah pulang dari perantauan pekerjaan saya hanya mengurus Soleh Generation dan si sulung yang baru lahir.

Saat si sulung berusia 4 bulan, saya ditawari untuk menjadi dosen di TI ITB. Tawaran yang langsung saya tolak, karena saya tidak mau menjerumuskan mahasiswa ke jurang ketidakpahaman yang saat kuliah saya masuki πŸ˜‚ Gimana mau mengajari anak orang coba, wong mengajari diri sendiri saja saya tidak becus. Belum kewajiban ini itu yang harus dipenuhi dosen, seperti kuliah S3. Orang S2 saja saya hampir di-kick, gimana kuliah S3 πŸ™ˆ Saat itu saya bercanda bilang ke suami kalau saya mau jadi petugas Tata Usaha saja.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Saat itu koordinator tata usaha di TI pensiun dan belum ada gantinya. Suami saya menyampaikan ke Pimpinan Program Studi bahwa, daripada jadi dosen, saya lebih tertarik jadi petugas Tata Usaha. Pimpinan Program Studi, yang dulunya juga dosen saya, akhirnya menawarkan posisi tersebut ke saya. Sebelum menjawab, saya hanya minta waktu untuk menunggu petunjuk Allah. Jika saya dapat daycare untuk menitipkan anak saya, saya kerja, jika tidak maka pekerjaan tersebut bukan jalan saya.

Ternyata jalan saya untuk menjadi petugas tata usaha begitu dimudahkan. Kami langsung dapat daycare yang bagus, dekat dengan kampus, dan masih baru jadi anak saya bisa langsung masuk. Sebulan setelah menerima tawaran tersebut, saya resmi kembali ke almamater saya, sebagai Koordinator Tata Usaha.

Dulu empat tahun kuliah di TI saya pikir adalah salah satu momen paling berkesan dalam hidup saya. Ternyata pengalaman sebagai mahasiswa tersebut tidak ada apa - apanya dibanding pengalaman saya sebagai petugas tata usaha. Banyak sekali pelajaran tentang kehidupan yang saya dapatkan selama bekerja disana sampai sekarang. Apalagi tentang parenting. Kekinian banget kan.

Kok bisa? Hubungannya apa?

Kalau ada yang penasaran...

BERSAMBUNG KE Bagian 3 YAAA!!πŸ˜‚

Read more ...