Saturday, February 12, 2022
Dibalik Manisnya Perjalanan
Thursday, January 27, 2022
Surat untuk Ibu
Hallo Bu,
Aku pergi dulu, jangan kau tangisi terlalu lama.
Sampai rumah di pagi hari itu adalah yang terburuk Bu.
Wah sudahlah
Ngomong - ngomong soal bayi.
Ibu, Ibu datang dong ke mimpiku.
Sayang cuma cucu pertama yang pernah ketemu Ibu ya. Sekarang cucunya sudah 4 lho.
Semoga nanti kita bisa ketemu lagi
Thursday, September 9, 2021
Episode Berbahasa Dalam Kehidupan Saya
Episode Semarang : Bahasa Jawa
Episode Kuliah 1 : Bahasa Gaul
SOMBONG.SOMBONG.SOMBONG.SOMBONG.
Episode Kuliah 2 : Bahasa Inggris
Episode Jerman 1 : Deutsch
Episode Jerman 2 : Indonesisch
Episode Punya Anak : Bahasa Indonesia
Episode Kerja : Bahasa Sunda
"Ngeduk cikur kedah mitutur, nyokΓ©l jahΓ© kedah micarΓ©k."
Hayo adakah yang tahu artinya? yang jelas tidak ada hubungannya dengan seblak. Jangan buka Google ya π
Friday, August 6, 2021
Pengalaman Jadi Staf Tata Usaha : Orang Tua Menggemaskan
Ini adalah sambungan dari tulisan saya tentang Alasan Memilih Teknik Industri dan Pengalaman Bekerja Setelah Lulus.
Tahun Keempat Jadi Petugas Tata Usaha
Tahun ini adalah tahun keempat saya menjadi staf Tata Usaha di almamater sendiri. Sebuah pekerjaan yang tidak saya kira akan saya tekuni dan bahkan nikmati. Bukan berdasarkan feng shui, tapi menurut pengalaman, saya memang tidak berbakat soal administrasi. Mencatat, menyimpan, mengurusi printilan dokumen. Oh sungguh saya tidak rapi. Folder komputer saya berantakan. Meja saya juga. Apalagi saya cukup merasa diri ini socially awkward π Makanya saya tidak menyangka bisa bertahan cukup lama mengerjakan hal - hal yang sangat administratif. Plus orang - orang tahan saja dan nggak keheul sama saya.Pertama kali menjadi koordinator Tata Usaha, saya cukup kaget karena pekerjaan di TU ini ternyata tidak hanya sekedar mengurus surat dan tetek bengek administrasi perkuliahan. Seringkali saya mesti mengurus hal - hal lain diluar administrasi. Tak jarang sampai bawa - bawa perasaan. Menyangkut nasib orang soalnya π Beberapa kali saya menghadapi situasi nyata yang saya pikir hanya bisa saya lihat di drama. Semuanya memberikan saya perspektif baru untuk memandang dunia.
Pelajaran Berharga Di Balik Meja Tata Usaha
Percaya atau tidak, hal yang paling banyak saya pelajari dari menjadi petugas tata usaha adalah pelajaran menjadi orang tua. Selain bertemu dengan mahasiswa dengan berbagai kelakuan, latar belakang, dan upbringing-nya, kadang saya juga harus menemui orang tua dengan berbagai gaya dan usaha. Interaksi saya dengan para orang tua ini tak jarang membuat saya berpikir bahwa nasihat - nasihat yang ada di postingan - postingan tentang kesalahan jadi orang tua memang benar adanya. Ini saya bagikan beberapa cerita. Silahkan ditarik hikmahnya sendiri yaa π€£
Ikan Teri 50 Juta
![]() |
| Ilustrasi Teri (Sumber : Background photo created by topntp26 - www.freepik.com) |
Bahkan Maudy Ayunda Juga Berusaha
![]() |
| Delicate Arch (Sumber : Nature photo created by vwalakte - www.freepik.com) |
Ini Mahasiswa, Bukan Balita
![]() |
| Ilustrasi Balita (Sumber : People photo created by rawpixel.com - www.freepik.com) |
Kesalahan Nomor 3 : Tidak mau menerima kenyataan bahwa anaknya sudah dewasa.
Bukan Sinetron
Penutup
Monday, July 12, 2021
Keajaiban Untuk Bu Az
Kabar Duka
![]() |
| Ilustrasi Pertolongan Sumber : Light photo created by jcomp - www.freepik.com |
Ketika mendapatkan kabar tersebut saya kaget luar biasa. Bu Az, nama mahasiswa itu, memang sempat selama dua minggu dirawat di Rumah Sakit karena covid - 19. Kabar terakhir beliau sudah pulang ke rumah. Sudah dinyatakan membaik dan bisa rawat jalan walaupun masih positif. Tapi ternyata sehari setelah keluar, beliau kembali dilarikan ke rumah sakit karena saturasinya drop ke angka 80. Qadarullah di perjalanan, beliau sudah menghembuskan nafas terakhir terlebih dahulu. Hari ia berpulang adalah hari dimana sidang terbukanya seharusnya dilaksanakan.
Keinginan Terakhir
Kabar duka tersebut pun menyebar. Selanjutnya telepon saya tidak berhenti berdering. Promotor (pembimbing) Bu Az menelepon, mengabarkan bahwa suami Bu Az kebingungan ingin membawa isterinya kembali ke kampung halamannya di Solo, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman kuliah Bu Az juga mengabarkan yang sama, mereka menanyakan apakah bisa menggunakan ambulans ITB untuk mengantarkan jenazah ke Solo. Ketua Program Studi juga menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk membantu.
Saya pun segera konsultasi dengan salah satu anggota tim Satuan Tugas Covid 19 ITB. Hasil konsultasi, ambulans ITB tidak bisa digunakan ke luar kota saat pandemi. Baik kondisi mobil maupun petugas tidak disiapkan untuk protokol covid apalagi berpergian saat dilaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) π
Langsung saya beralih ke Google. Tentu tanpa banyak berharap, karena sudah mendengar kabar bahwa Ambulans swasta pun sekarang penuh. Tapi kan ini membawa jenazah pikir saya, tidak perlu peralatan keselamatan, hanya perlu kesediaan untuk mengantar keluar kota saja. Saya ketikkan kata pencarian "ambulans 24 jam Bandung". Dari daftar yang muncul di Google entah kenapa saya pilih yang ada di urutan ketiga. Mungkin karena mencantumkan "siap melayani luar kota" di profilnya.
Pertolongan Melebihi Harapan
Bapak yang mengangkat telepon langsung menyanggupi permintaan saya. Tanpa ragu - ragu sedikitpun. Beliau hanya menyebutkan jumlah biaya yang diperlukan dan mengatakan langsung akan segera bersiap di dekat Rumah Sakit. Saya yang terkaget kaget karena tidak menyangka akan segampang itu mendapatkan ambulans, langsung mengabari para pimpinan Program Studi dan Fakultas untuk koordinasi pembayaran biaya kepulangan : pemrosesan jenazah dan ambulans. Alhamdulillah langsung direspon walaupun sudah tengah malam. Tidak ada masalah dengan pembayaran, semua biaya pemulangan ditanggung oleh ITB melalui Fakultas.
Selanjutnya muncul masalah baru. Suami Bu Az sendiri saja di lobby IGD bersama jenazah. Saking penuhnya IGD, sehingga untuk masukpun tidak bisa. Sendirian dalam artian tidak ada yang membantu mengurus administrasi ya, karena nampaknya disana kondisinya sangat sibuk. Terbayang pasti paniknya. Saya tidak mungkin meminta orang untuk datang ke Rumah Sakit di tengah kondisi begini. Datang sendiripun juga mustahil. Kalaupun bisa datang juga saya tidak yakin bisa menolong banyak karena tidak tahu prosedur yang harus dilakukan. Apalagi kondisinya pasti chaos disana. Saat saya kebingungan, saya iseng tanya pada Bapak Ambulans, yang saya telepon untuk booking Ambulansnya, apa memungkinkan beliau juga membantu mengurus administrasi? Bapak ambulans menyerahkan telepon ke anaknya. Saat itu keajaiban dimulai.
Atas Izin Allah
Anak Bapak Ambulans ini namanya Pak D. Beliau dengan sigap langsung menanyakan dimana Suami Bu Az berada. "Nanti saya samperin kesana Bu", katanya. Saat saya tanyakan prosedur pengeluaran jenazah, beliau dengan sabar menjelaskan. Jujur saya hanya setengah mendengarkan, saking deg - degannya begitu mendengar Pak D berkata kemungkinan paling cepat jenazah baru bisa keluar pagi hari karena antri di bagian forensik dan pemulasaran.
Saya sampaikan kalau saya minta tolong saja diuruskan semua yang harus diurus. Dengan baik hati Pak D menyanggupi. Saya yakin hanya kehendak Allah yang bisa menggerakkan hati Pak D untuk membantu Bu Az dan keluarganya malam itu. Ingat, saya tidak kenal yang bersangkutan. Beliau juga tidak kenal saya. Kami hanya dihubungkan oleh Google. Mengurus administrasi juga bukan bagian dari jasa Ambulans. Karena Ambulans ya ambulans saja. Tugasnya mengantarkan. Bahkan beliau juga tidak minta biaya tambahan. Padahal kalau beliau mintapun, akan langsung saya sanggupi. Karena ini seperti meminta orang maju ke medan perang. Tengah malam.
Setelahnya sejam sekali saya diberikan update oleh Pak D. Termasuk saat hasil PCR jenazah keluar negatif. Dimana artinya jenazah tidak perlu melewati protokol covid sehingga bisa memotong waktu yang diperlukan untuk pemulasaranya. Beliau juga memberi tahu aturan terbaru untuk membawa jenazah lintas provinsi saat PPKM, dimana jenazah harus tetap dimasukkan ke dalam peti. Walaupun kalau hasil PCR negatif bisa menggunakan peti murah dan tidak dipaku. Pak D jugalah yang mengurus semua surat dan kelengkapan yang diperlukan agar Bu Az bisa pulang ke Solo. Mulai dari surat kematian hingga pembayaran peti dan pemulasaran. Alhamdulillah atas izin Allah, jenazah Bu Az selesai diproses dan bisa berangkat ke Solo jam 03.00 pagi. Jauh lebih cepat dari perkiraan. Sungguh sangat dimudahkan.
Hikmah Kejadian
Saat semua urusan selesai, saya baru tahu kalau Pak D adalah pegawai forensik di Rumah Sakit tempat Bu Az meninggal. Pantas sudah paham betul prosedur disana. Kok bisa ya, kebetulan saya pilih ambulans Bapaknya π Lebih kebetulan lagi, malam itu beliau sedang break dari kerja shift. Setelah membantu Bu Az, paginya beliau kembali bekerja selama 24 jam di Rumah Sakit. Coba kalau malam itu beliau bekerja. Belum tentu semua urusan administrasi malam itu bisa diurus dengan lancar dan mudah.
Kata teman - temannya, Bu Az orang yang sangat baik. Taat beragama dan rajin mengerjakan ibadah sunnah. Pantas malam itu saya merasa seperti ada malaikat yang diturunkan sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk mengantarkan Bu Az kembali ke haribaan-Nya.
Cerita ini saya tuliskan sebagai pengingat. Buat saya sendiri dan mungkin yang membaca. Di kondisi sekarang yang sangat tidak menentu ini, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Kala dihadapkan pada kondisi dimana sumber daya sangat terbatas, memang hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan. Dan jika Allah sudah berkehendak, pertolongan tersebut bisa datang dari mana saja dan apapun bentuknya. Bahkan lewat Google dan petugas forensik yang kebetulan Bapaknya punya ambulans.
Wednesday, July 7, 2021
Perjuangan Mendapatkan Vaksin Dosis Dua
Vaksin Covid - 19 Dosis Pertama
Karena saya dan suami bekerja di Perguruan Tinggi, kami sama - sama yang termasuk dapat kesempatan awal untuk mendapatkan vaksin covid - 19. Vaksinasi dosis pertama berlangsung akhir bulan Maret 2021. Vaksin yang tersedia saat itu baru Sinovac dan distribusinya masih terbatas sehingga menjadi semacam barang langka.Hambatan Vaksin Covid - 19 Dosis Kedua
Masalah muncul dengan jadwal vaksinasi dosis dua yang jatuh tanggal 22 April. Empat hari sebelum jadwal vaksin dosis kedua tersebut, Bapak saya qadarullah meninggal dunia. Bapak meninggal di salah satu Rumah Sakit di Semarang setelah berjuang melawan Covid -19 dan komplikasinya selama 1 bulan. Hari itu tanpa babibu kami langsung pergi ke Semarang. Saat itu kondisi memang tidak semengerikan bulan Juni - Juli sekarang, jadi kami masih berani keluar kota.Terhambat Birokrasi
Kami langsung mendatangi sentra vaksinasi BUMN di kompleks PRPP Semarang. Di tenda penerimaan ada sederet meja dengan petugas - petugas berpenampilan profesional. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, kami lalu disarankan untuk mengajukan pembuatan surat keterangan dari instansi kerja tentang permohonan vaksin beda tempat. Surat tersebut katanya akan dikonsultasikan dengan penanggung jawab pelaksanaan program.
Pertolongan yang Tidak Terduga
Merasa agak jengkel, suami mengajak kembali ke Dinas Kesehatan untuk meminta pernyataan tertulis mengenai vaksin sisa atau paling tidak ijin kami rekam pernyataannya. Supaya ada bukti kalau kami pergi ke Puskesmas lagi. Toh kami juga sudah punya surat resmi dari instansi. Sampai di Dinas Kesehatan pukul 09.00 kurang, ternyata kantornya kosong karena semua orang dinas lapangan meninjau puskesmas - puskesmas. Hanya tertinggal seorang bapak - bapak resepsionis yang jadi korban, kami bombardir dengan berbagai pertanyaan.
Ibu petugas menyampaikan kalau setiap harinya ada 4-5 dosis vaksin yang dibuang. Karena mereka tidak punya kulkas untuk penyimpanan vaksin yang layak. Program vaksinasi ke lansia di daerah tersebut juga tidak berjalan lancar karena kebanyakan lansia takut divaksin dengan alasan punya penyakit bawaan dan termakan berita - berita liar.
Pendapat Pribadi
Alasan birokrasi juga kurang masuk akal. Kalau ini Bantuan Langsung Tunai, atau bentuk bantuan lain, kami masih paham, kalau harus sesuai tempat tinggal. Kalau sudah menyangkut keselamatan bersama seharusnya birokrasi bisa agak longgar. Toh sebetulnya datanya juga sudah terpusat. Melekat pada NIK. Kecil kemungkinan ada orang mau berkali kali vaksin sampai membohongi petugas.
Friday, March 12, 2021
Tentang Pengalaman Kerja Setelah Lulus
Alhamdulillah walaupun tidak dalam jalur bergengsi seperti yang dikehendaki orang tua, semenjak lulus kuliah tahun 2008, berbekal prinsip "iyain dulu mikir nanti", sampai saat ini saya belum pernah nganggur. Saya selalu punya pekerjaan.
Kuliah di ITB dan pengalaman bekerja keliling Indonesia membuat wawasan saya menjadi terbuka. Namanya pekerjaan itu, ya tidak melulu harus ada merknya. Kuncinya hanya jangan gengsi. Pekerjaan akan selalu ada. Walaupun random bentuknya. Selama halal dan diridhoi orang tua dan suami, ya dikerjakan saja.
Saya masih ingat, pekerjaan pertama saya datang sehari setelah saya selesai mengikuti sidang Tugas Akhir. Seorang dosen meminta saya membuat slide kuliah karena slide presentasi TA saya katanya bagus. Menghias slide sih tepatnya, karena isinya sudah dibuat. 200 slide dan saya dapat Rp. 500.000.
Sebelum wisuda seorang kakak kelas mengajak saya ikut bekerja di suatu proyek yang dikerjakan oleh tim yang diketuai seorang dosen. Setelahnya selama 2 tahun saya ikut mengerjakan proyek tersebut. Judul proyeknya adalah, penilaian kelayakan pendirian SPBU. Proyek inilah yang membuat saya bisa keliling Indonesia. Dari Aceh sampai Sorong bahkan ke Talaud.
Bersamaan dengan itu saya juga bekerja paruh waktu di sebuah agency sebagai admin social media (dulu Twitter dan Facebook) beberapa brand besar. Pengalaman ini membuat saya bisa nonton sejumlah konser musisi luar ternama secara gratis. Walaupun pernah jadi admin social media, tapi saya tidak begitu tertarik dengan social media π dulu pernah punya Twitter dan Path, tapi ya gitu gitu saja. Sampai sekarang saya tidak punya Instagram. Facebook saja cuma untuk gabung grup ITB Motherhood.
Tahun 2010 saya iseng ambil S2 di Informatika ITB. Sambil kuliah, saya keluar dari proyek SPBU dan bergabung dengan tim dosen lain mengerjakan proyek di beberapa Kementerian sambil tetap menjadi admin akun social media. Saya juga sempat bersama beberapa teman mengerjakan suatu proyek di sebuah perusahaan FMCG besar di Indonesia. Bisa dibilang hidup saya empat tahun setelah lulus memang cukup serabutan dan meminjam istilah penulis Ahmad Tohari saya betul - betul jadi Orang Proyekan. Bolak balik pergi ke Jakarta untuk rapat. Pergi survey, mempersiapkan laporan, presentasi, dan sebagainya. Saat muda sih menarik ya, tapi saat masuk usia 30 tahun saya sudah tidak mau lagi diajak proyekan. Capek.
Tahun 2012 saya menikah. Sempat stop bekerja karena mengurus pernikahan, beberapa bulan kemudian saya kembali melibatkan diri dalam proyek. Kali ini membantu mertua, yang kebetulan lulusan TI ITB juga. Sambil proyekan saya juga dapat pekerjaan pribadi dari sepupu yang kerja di perusahaan packaging multinasional, untuk menerjemahkan manual mesin dari bahasa Inggris ke Indonesia.
Pertengahan tahun 2013 suami saya berangkat ke Jerman untuk meneruskan studi. Sementara saya tinggal dulu di Indonesia, menyelesaikan studi S2 saya yang sudah molor selama setahun. Hampir DO saya tuh π
Enam bulan setelah suami berangkat, saya menyusul ke Jerman. Di Jerman saya pun tidak sempat menganggur. Banyak orang yang ikut suaminya studi memilih untuk studi juga. Tapi saya tidak. Berdasarkan pengalaman hampir DO saat S2, saya sudah tau bahwa jadi mahasiswa bukan bakat saya. Karenanya saya memilih bekerja untuk mengisi waktu luang. Mumpung waktu itu belum punya anak juga. Masih bebas.
Setelah belajar bahasa Jerman selama 6 bulan di VHS Stuttgart dan cukup paham komunikasi dasar, saya ditawari kerja menggantikan orang yang mau liburan (urlaubsvertretung). Kerjanya di gedung Bosch. Tapi bukan kerja kantoran. Kerjanya jadi putzfrau alias cleaning lady alias tukang bersih bersih. Menyedot debu karpet ruangan kantor, bersihin wc, buang sampah, bersihin dapur dll. Kerja 2 bulan dapat hampir 2000 Euro π mayan banget kan. Sebulan setelahnya saya dapat tawaran mini job (part time) dari kenalan orang Indonesia untuk jadi spΓΌlerin. Alias tukang cuci piring di Messe Stuttgart. Selama 2.5 tahun saya jadi tukang cuci piring. Baru berhenti beberapa saat sebelum pulang seterusnya ke Indonesia.
Saat bekerja part time saya sering mendapatkan pujian karena kinerja saya bagus. Saya tidak banyak omong (soalnya kemampuan ngomong terbatas) dan saya kerja dengan rajin tanpa banyak ngeluh (ngeluh dalam bahasa Jerman tidak diajarkan saat kursus). Overall saya tidak neko - neko (ya mau neko - neko apa juga kan ya) π
Itu supervisor di tempat kerja tidak tau saja saya sudah pernah 4 tahun belajar khusus tentang efisiensi dan efektivitas. Optimasi hasil dan minimasi waste. Cuma ngatur work station agar flow kerja lancar dan pilih rute dorong - dorong kereta piring kotor atau urutan WC yang harus dibersihkan mah cincai dong π #Shombong.
Delapan bulan sebelum back for good ke Indonesia, saya dan kakak ipar memulai usaha jualan buku islam anak anak berbahasa Inggris. Usaha tersebut kami namakan Soleh Generation. Alhamdulillah, Soleh Generation bertahan sampai sekarang, walaupun saat ini lebih banyak kakak ipar yang mengerjakan.
Sebelum terbang ke Indonesia saya masih sempat sempat urlaubsvertretung lagi di Bosch selama sebulan. Lumayan bekal pulang. Soalnya hasil kerja yang dulu - dulu sudah habis untuk jalan - jalan π€£ Saat itu saya belum tau kalau sudah hamil muda.
Saat si sulung berusia 4 bulan, saya ditawari untuk menjadi dosen di TI ITB. Tawaran yang langsung saya tolak, karena saya tidak mau menjerumuskan mahasiswa ke jurang ketidakpahaman yang saat kuliah saya masuki π Gimana mau mengajari anak orang coba, wong mengajari diri sendiri saja saya tidak becus. Belum kewajiban ini itu yang harus dipenuhi dosen, seperti kuliah S3. Orang S2 saja saya hampir di-kick, gimana kuliah S3 π Saat itu saya bercanda bilang ke suami kalau saya mau jadi petugas Tata Usaha saja.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Saat itu koordinator tata usaha di TI pensiun dan belum ada gantinya. Suami saya menyampaikan ke Pimpinan Program Studi bahwa, daripada jadi dosen, saya lebih tertarik jadi petugas Tata Usaha. Pimpinan Program Studi, yang dulunya juga dosen saya, akhirnya menawarkan posisi tersebut ke saya. Sebelum menjawab, saya hanya minta waktu untuk menunggu petunjuk Allah. Jika saya dapat daycare untuk menitipkan anak saya, saya kerja, jika tidak maka pekerjaan tersebut bukan jalan saya.
Ternyata jalan saya untuk menjadi petugas tata usaha begitu dimudahkan. Kami langsung dapat daycare yang bagus, dekat dengan kampus, dan masih baru jadi anak saya bisa langsung masuk. Sebulan setelah menerima tawaran tersebut, saya resmi kembali ke almamater saya, sebagai Koordinator Tata Usaha.
Dulu empat tahun kuliah di TI saya pikir adalah salah satu momen paling berkesan dalam hidup saya. Ternyata pengalaman sebagai mahasiswa tersebut tidak ada apa - apanya dibanding pengalaman saya sebagai petugas tata usaha. Banyak sekali pelajaran tentang kehidupan yang saya dapatkan selama bekerja disana sampai sekarang. Apalagi tentang parenting. Kekinian banget kan.
Kok bisa? Hubungannya apa?
Kalau ada yang penasaran...
BERSAMBUNG KE Bagian 3 YAAA!!π













