Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Thursday, January 27, 2022

Surat untuk Ibu

Hallo Bu,


Apa kabarnya?

Bu, nggak kerasa 31 Januari 2017 ini genap lima tahun terakhir aku ketemu ibu. Ya kerasa sih sebetulnya. Tapi it gets better. Eits, jangan manyun dulu Bu, bukan berarti aku lupa sama Ibu. Cuma sudah lebih bisa nerimo saja kok. Hihi. 

Eh, aku sudah pernah cerita tentang hari itu belum sih Bu? 31 Januari 2017. Hari  ibu pergi. Kayaknya belum pernah ya. Aku belum pernah cerita kesiapa - siapa sih memang. Sekarang aku cerita ke Ibu deh. Aku udah bisa kok nulisnya nggak pakai nangis lagi.

Ibu masih ingat nggak? Tanggal 30 Januari malam, setelah Isya, Ibu nyuruh aku sama Bapak pulang ke rumah. Ada Bude yang bisa gantiin jagain Ibu, jadi Bapak bisa istirahat. Bapak sudah kecapekan banget karena hampir dua minggu non stop nungguin Ibu sendirian. Aku sama adek nggak bisa gantian ke Semarang jagain Ibu dua minggu itu karena ada kewajiban lain. Andai kami tau ya Bu. Kewajiban apa coba yang lebih penting dari Ibu? 

Aku juga sudah pengen banget rebahan setelah naik kereta api delapan jam dari Bandung. Pegal sekali badan. Jadi menyesali, kenapa di kamar Ibu waktu itu nggak ada sofanya ya. Kalau ada kan aku bisa bobo disana. Waktu kami pamit mau pergi, Ibu ceria sekali. Makan habis banyak. Seharian penuh canda tawa. Mungkinkah sebenarnya pertanda? 

Malam itu di rumah, aku sama Bapak makan enak pakai sop buntut. Kesukaan Ibu ya sebetulnya. Sayang Ibu nggak ikut makan. Bapak makan lahap banget deh Bu. Alhamdulillah nggak salah pilih menu. Setelahnya kami tidur nyenyak sekali. Saking nyenyaknya, mimpi pun enggak. Sudah lama aku nggak tidur nyenyak begitu. Dua bulan lebih tidurku gelisah. Kepikiran tentang Ibu. 

Tapi ternyata mimpi buruk itu datang keesokan harinya setelah Subuh. Bude telepon. Histeris menyuruh aku dan Bapak cepat datang.

Aku masih ingat, aku dan bapak hanya terdiam sepanjang perjalanan, yang rasanya lama sekali. Radio mobil Bapak yang tidak bisa dimatikan karena rusak memainkan lagu yang aneh. Sungguh aku nggak pernah tau lagu apa itu Bu. Aku belum pernah dengar sebelumnya. Tapi liriknya seperti dikirim Ibu untuk Bapak.

Aku pergi dulu, jangan kau tangisi terlalu lama.
Adegan setelahnya malah seperti di sinetron Bu. Sinetron yang sering Ibu tonton malam - malam itu, yang aku bilang konyol ceritanya. Sayangnya ini nyata. Jadi aku nggak bisa ketawa - ketawa seperti biasa. Aku turun duluan dari mobil sementara Bapak parkir. Saat aku lewat, suster - suster yang biasanya ramah menyapa, kali ini hanya diam saja. Malah ada yang pura - pura tak lihat. Sampai depan kamar Ibu, aku disambut oleh Ustad yang mengucapkan belasungkawa. Di samping kamar sudah ada keranda.

Di dalam kamar, bude sedang membereskan barang - barang. Sikapnya tenang. Terlalu tenang malah. Aku tau beliau terguncang. Menyaksikan Ibu pergi pasti bukan pengalaman yang mudah dilupakan.

Ibu terlihat damai sekali saat itu Bu. Wajah Ibu cerah. Seperti tidur saja. Seutas senyum di bibir Ibu. Cantik sekali.

Aku heran waktu itu aku malah nggak nangis Bu. Nggak bisa nangis tepatnya. Rasanya seperti mati rasa. Seperti ada yang menyabut kabel emosiku. Cuma hampa yang terasa.

Bapak datang tak berapa lama. Tegar sekali. Malah masih sempat mengurus administrasi dan menelepon kesana kemari. Entah dapat kekuatan darimana. Sepertinya waktu itu Bapak juga sama denganku deh Bu. Mati rasa.

Aku nggak tau harus ngapain. Jadi aku cuma telepon Abem, minta dia segera datang. Hari itu sebetulnya jadwal dia ngajar di Jatinangor. Untung dia belum berangkat, jadi bisa ngejar pesawat siang untuk ke Semarang. Lalu aku telepon Adek. Dia sudah punya firasat, jadi sudah pesan tiket pesawat untuk ke Semarang siang itu. Baba hari itu juga ndilalah nggak ke pabrik, jadi bisa pergi bareng. Setelah telepon dan mengabari beberapa teman, aku duduk saja diam di pojokan. Menunggu Bapak selesai.

Di mobil saat perjalanan pulang, kembali aku dan Bapak terdiam. Sampai akhirnya di suatu lampu merah, sepertinya tsunami kenyataan menghantam Bapak dan beliau langsung menangis kencang - kencang.

Sampai rumah di pagi hari itu adalah yang terburuk Bu. 

Rasanya hari sudah berjalan lama sekali tapi ketika kami sampai di rumah baru jam setengah delapan pagi. Di rumah sudah ada keramaian menunggu. Tetangga, kerabat, dan handai taulan. Cepat sekali ya kabar menyebar. 

Semua orang sibuk mempersiapkan ini itu untuk mengantarmu pulang ke peristirahatan terakhirmu. Semua orang juga ribut mengerumuniku. Menanyakan kronologis kepulanganmu pagi itu.  Suasana muram. Semua wajah menunjukkan kesedihan, kegetiran, atau penyesalan. Cerita - cerita tentang Ibu bercampur baur di udara. Betapa baiknya. Betapa cepatnya pergi. 

Ibu tau kan aku tak suka keramaian. Semakin ramai, semakin aku ingin sendirian. Kepalaku mulai pusing dan dada rasanya sesak. Jadi aku kabur. Kukunci diriku di kamar. Sampai Abem dan Adek datang. Tak kupedulikan mereka yang ada. Aku nggak sanggup menghadapi orang - orang itu dengan segala pertanyaan, komentar, dan teorinya.

Biasanya Ibu pasti akan menyereweti aku, kalau tau aku kabur seperti itu. Tapi biarlah pikirku. Toh Ibu tak ada lagi disitu. Ku tak peduli kalau orang lain yang ribut.

Kenapa orang yang datang ke rumah yang sedang berduka malah sering bawel ya Bu? Tanya ini itu. Komentar begini begitu. Malah sampai ada tamu yang pengen aku tonjok beneran deh. Tamparlah minimal. Kalau tonjok terlalu brutal. Kesal sekali aku karena komentarnya tentang sakitnya Ibu. Katanya Bapak, Aku, dan Adek nggak peduli sama Ibu, sampai nggak tau Ibu sakit parah.

Wow. Sok tau sekali pikirku. 

Untung saat itu Abem sudah datang. Tau kalau aku emosi dia langsung menggeretku menjauh. Ingat - ingat bayi di perutmu, katanya. Kasihan dia kalau kamu emosi.

Gara - gara itu, sampai sekarang kalau harus pergi mengunjungi orang yang tengah kehilangan orang tersayang, aku cuma mengucapkan kata - kata simpati, lalu aku diam saja. Kecuali orang yang kutemui mau cerita lebih dulu. Tapi itupun tak akan aku tanya - tanya, atau komentari, apalagi berteori. Aku cuma bakal mendengarkan saja. Betul nggak sih sikapku, Bu?

Wah sudahlah

Pokoknya hari saat Ibu pergi dan setelahnya adalah hari - hari terlama dan terberat dalam hidupku Bu. Waktu rasanya lambat sekali berlalu. Rumah masih sama dan rasanya Ibu seperti tidak pergi selamanya. Hanya pergi ke sekolah untuk mengajar saja seperti biasa atau arisan dan pengajian ke rumah tetangga. Berkali - kali kulirik pintu depan, berharap Ibu akan datang dan membuktikan kalau hari - hari itu bukan kenyataan.

Tapi tentu yang terjadi bukan impian. Ibu memang sudah pulang. Bukan ke rumah yang biasa, tapi pergi ke Pemilik Ibu.

Ngomong - ngomong soal bayi. 

Si bayi yang waktu Ibu pergi masih berumur 6 bulan di perutku, sekarang alhamdulillah sudah jadi anak umur 5 tahun lho. Kata orang - orang dia mirip sekali denganku. Dari muka sampai kelakuan.

Sudah tak bisa terelakkan kalau aku memang anak Ibu. Haha. 

Kalau sedang kesal menghadapi dia dan adeknya, aku sering ingat denganmu Bu. Aku tau dulu Ibu juga sering jengkel dengan aku dan adek, karena kami kompak ngeselinnya. Cuma Ibu baik hati saja, jadi kami cuma sesekali kena murka. Haha. Sayang Ibu sudah nggak ada disini buat ngetawain kami. Nyukurin kami karena kena batunya. Punya anak - anak yang kelakuannya persis sama dengan kami dulu.

Ibu, Ibu datang dong ke mimpiku. 

Aku kangen sama Ibu.

In loving memoriam 31 January 2017 - 31 January 2022. Our beloved Mami and Yangmi. 
Sayang cuma cucu pertama yang pernah ketemu Ibu ya. Sekarang cucunya sudah 4 lho.

Semoga nanti kita bisa ketemu lagi

Ya Bu? 

Cerita - cerita sampai cekikikan seperti dulu. Kruntelan bertiga sama adek. Untuk sementara baik - baik disana ya. Semoga tempat Ibu selalu lapang, terang, dan penuh ketenangan.

Salam untuk Bapak ya.


- Restu -



Ditulis untuk ikutan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari dengan Tema Menulis Surat.
Read more ...

Tuesday, December 21, 2021

Setitik Liburan di Yogyakarta

Awal pandemi tahun 2020, kami iseng membeli voucher hotel Eastparc Yogyakarta. Saat itu memang banyak hotel mencoba mencari pemasukan dengan menjual voucher staycation berharga murah dengan periode masa berlaku lama. 

Tahun 2021 pun tiba. Berjuta kabar dan kejadian kemudian, walaupun belum terlihat tanda - tanda pandemi akan berakhir, tapi awal bulan Juni 2021 situasi nampak cukup kondusif. Kami memutuskan untuk memanfaatkan voucher hotel yang kami punya untuk plesir ke Yogyakarta. Niatnya sekaligus mengurus beberapa hal yang tertunda di Semarang.

Day 1 - Prambanan

Dan Mall Hartono.

Saya selalu suka candi Prambanan. Mungkin karena kisahnya menarik dan arsitekturnya cantik. Secara ambisius saya ingin mengajak anak - anak saya kesini agar mereka bisa melihat kejayaan Nusantara di masa lampau. Dalam bayangan saya mereka akan melontarkan pertanyaan - pertanyaan jenius mengenai kebudayaan, yang bisa saya jadikan caption untuk status WA (soalnya saya tidak punya Instagram).

Naik kereta mini dan main VR Dinosaurus. Upaya yang dilakukan untuk menghibur bocah yang cranky.

Tentu saja itu hanya harapan semu belaka, karena balita adalah balita. Apalagi balita yang seumur hidup tinggal di Bandung utara dan tetiba menemukan dirinya ada di bawah matahari Yogyakarta yang sengit. Seperti ngajak berantem panas dan silaunya.

Maka 5 menit sampai di pelataran candi, keluhan - keluhan pun mulai muncul. Si sulung, yang punya masalah sensori, ribut dengan pasir yang masuk ke sandalnya dan akhirnya minta digendong saja. Si bungsu, yang tidak pernah nyaman dengan udara panas, menolak sedikitpun beranjak dari sudut pelataran candi yang tertutup bayangan.

Saya yakin Roro Jonggrang pasti senyum - senyum sendiri melihat semua hal ini. Karena kerja keras Badung Bondowoso sangat tidak diapresiasi.

Setelah sejuta rengekan diselingi tangisan, yang tidak mempan dilawan dengan bujukan, rayuan, janji manis, dan nasihat kesabaran, kami menyerah juga untuk menghayati kompleks seribu candi yang konon dibangun dalam semalam ini, dan memutuskan secepatnya pergi ke tempat ber AC saja sambil cari makan. Pilihan jatuh ke mall paling hip di Yogya. Mall Hartono. 

Lupakan gudeg, sate klathak, dan semua sajian khas Yogya. Hari pertama kami makan di  Ta-Wan saja.

Day 2 - Eastparc Swimming Pool, Abhayagiri Restaurant, dan Tempo Gelato

Puas Berenang di Eastparc

Anak - anak saya, seperti ayahnya, hobi berenang. Karena itu, pagi di hari kedua, sengaja kami dedikasikan untuk menikmati kolam renang hotel. Kolam renang Eastparc memang menarik. Si sulung puas main perosotan, sementara si bungsu puas ngapung. Karena dia baru bisa ngapung. Setelahnya bungsu menghabiskan waktu dengan berjemur di pinggir kolam, sementara masnya sibuk belajar menyelam dengan ayahnya.

Ada kolam kecil dengan banyak seluncuran. Ada kolam besar yang cukup  untuk berenang serius. Paling asyik penjaganya super attentive dan helpful

Menikmati Mendung nan Syahdu di Abhayagiri Restaurant

Siangnya kami memutuskan untuk mencoba salah satu tempat yang instagramable. Sebetulnya niat awal kami ingin ke Ulan Sentalu, tapi ternyata masih tutup karena pandemi, jadi kami ubah haluan ke Abhayagiri Restaurant di daerah Sleman. 

Restoran yang terletak di komplek Sumberwatu Heritage Resort ini berkonsep fine family dining. Saat masuk kami disambut oleh petugas resepsionis di ruangan yang lebih mirip lobby boutique hotel ketimbang restoran. Disana kami diminta untuk langsung memilih menu makanan dengan total harga sejumlah minimum pembelian. Mungkin menghindari pengunjung yang beramai datang hanya ingin berswafoto dan cuma beli es teh. 

Area restoran ini cukup luas dan terbagi menjadi beberapa tempat untuk makan. Kami memilih tempat di joglo yang ada di bagian belakang. 


Saat kami kesana, restorannya kosong. Hanya ada kami sekeluarga. Berasa milik sendiri deh. Anak - anak bebas berlarian di halaman yang lapang. Ada perosotan kecil juga, jadi lumayan mereka bisa sejenak anteng main sementara kami menikmati pemandangan.

Restoran ini memang pantas untuk jadi tempat makan populer di Yogyakarta. Terletak di lereng bukit dengan pemandangan lepas ke arah gunung Merapi. Siluet Candi Prambanan terlihat juga di kejauhan. Suasananya hening dan syahdu. Mungkin karena sepi dan saat saya di sana sedang mendung. 

Pilihan makanannya sedikit tapi cukup beragam. Ada menu lokal dan western. Makanannya tidak terlalu aneh - aneh. Mungkin karena yang dicari memang  suasana bukan gourmet. Kami pilih menu tradisional karena ingin tahu seperti apa makanan yang bakal muncul. Surprisingly makanan yang disajikan cukup otentik bukan fusion.

Rasa semua makanannya light. Termasuk empal gentong yang kami pesan untuk anak - anak. Tidak sekental dan seberminyak empal gentong asli yang pernah kami makan di Cirebon. Bumbunya on point, terasa jelas dipikirkan baik - baik agar tetap bercita rasa asli namun tidak overwhelming. Porsinya pas. Tidak sesedikit fine dining tapi tidak sebanyak restoran biasa. Harganya tergolong mahal untuk ukuran Yogya.Tapi tetap masih jauh lebih murah daripada Jakarta dan sekitarnya.

Tempo Gelato Bikin Iri

Pulang dari Abhayagiri hujan deras mengguyur daerah Yogyakarta. Kami memutuskan untuk putar - putar kota saja melewati berbagai landmark seperti Monumen Jogja Kembali, Monumen Tugu Yogya, Keraton, Maliboro, Istana Taman Sari,  Alun - Alun, dan Benteng Vredeburg. Lewat saja tidak mampir. Karena mampir ke banyak tempat wisata sambil bawa anak - anak adalah sebuah kenircayaan buat saya.

Setelah puas putar - putar, kami mampir ke salah satu tempat jajan kekinian : Tempo Gelato. Saya lupa tapi kami mampir yang di cabang mana. Kemampuan geo spasial saya agak kurang memang.  

Tempo Gelato berhasil membuat saya iri dengan orang yang tinggal di Yogyakarta. Karena di Bandung tidak ada gelato yang seenak, sevariatif, dan semurah itu. Rasanya tidak kalah dengan Gelato Giolitti di Roma sana. Oke mungkin berlebihan. Tapi serius enak banget. Tempatnya nyaman. Porsinya juga melimpah untuk harga yang terjangkau. Pantas saat kami kesana tempat ini penuh dan antrian mengular. Kalau penjual gelato ini ada di Bandung, saya juga mungkin bakal mampir setiap saat. 

Kiri Tempo Gelato Yogya, Kanan Giolitti Di Roma. Sama antrinya. Sama enaknya. 

Day 3 - Eastparc Mini Theme Park, Borobudur, dan Stupa Restaurant 

Puas Main di Eastparc Mini Theme Park

Kami mengawali hari ketiga dengan menemani anak - anak bermain di wahana bermain yang ada di Eastparc. Hotel ini memang menawarkan taman bermain dengan berbagai fasilitas yang sangat mengasyikkan untuk anak - anak, seperti ATV, stasiun berkuda, stasiun outbond, waterpark,  kebun binatang mini, serta stasiun sepeda dan scooter. Semua dapat dinikmati oleh tamu yang menginap secara gratis.

Anak sulung saya yang kala itu masih umur 4 tahun, belum cukup umur untuk menaiki beberapa wahana di taman bermain. Tapi dia cukup menikmati wahana yang bisa dia naiki. Terutama water park. Karena dia pecinta air. Sampai hampir 3 jam dia main disana.

Hari terakhir sempat menemani sulung main ATV. Ternyata memang aku sudah tak bisa hidup tanpa power steering.

Sementara itu, anak bungsu saya, belum bisa menikmati taman bermain tersebut, karena belum mengerti. Plus disana ada banyak orang. Hal menakutkan untuk bayi pandemi. Alih - alih gembira dia jadi cranky. Akhirnya kami melipir ke playground yang lebih sepi. Puas dia main perosotan dan ayunan. Overall happy. Apalagi bisa ditemani ibunya, sendiri saja tanpa harus bagi - bagi sama masnya. 

Sekilas Candi Borobudur

Siangnya kami pergi ke Magelang untuk menyambangi candi Borobudur. Saya menyewa mobil dengan supir via Traveloka supaya kami tidak perlu menyetir sendiri. Jompo habis menemani anak main berjam - jam. 

Pengunjung Borobudur ternyata tidak diperkenankan lagi menaiki candi. Ada yang bilang karena pandemi, tapi ada rumor juga yang menyebutkan kalau larangan tersebut untuk menjaga kondisi candi agar tidak semakin rusak. Konon ornamen relief yang ada di candi Budha terbesar di dunia ini banyak yang sudah semakin memudar dan menipis karena sering dipegang pegang oleh pengunjung. 


Tak masalah tidak bisa ke atas candi. Kami sudah cukup puas mengitari pinggirannya saja. Lagian pegel juga kayaknya naik Borobudur sambil gendong anak.

Hal yang membuat saya kagum, kawasan wisata Borobudur sekarang ternyata sudah tertata dengan sangat baik. Taman - tamannya bersih, luas, dengan rumput hijau yang terpotong rapi. Tak kalah dengan taman - taman yang ada di luar negeri. Sungguh mengundang sekali untuk dijadikan lokasi piknik. Sayangnya kami tidak tahu tentang hal ini, jadi sampai sana hari sudah beranjak sore dan mendekati jam tutup kawasan Borobudur. Jam operasional tempat wisata memang masih terbatas saat itu. 

Menikmati Senja di Stupa Restaurant

Dari Borobudur, kami menuju ke Stupa Restaurant yang ada di kawasan Resort Plataran Heritage Borobudur. Letak restoran ini agak terpencil, dikelilingi oleh area persawahan. Kecil saja tempat makannya. Tapi lagi - lagi kami cukup beruntung karena saat kami disana tidak ada pengunjung lainnya.

Stupa Restaurant ini hanya menjual menu masakan Indonesia. Harganya sepadan dengan makanannya. Penyajiannya fancy, rasanya juga. Eskalasi dari masakan tradisional biasa. Berada di tengah - tengah daerah pedesaan, suasana restoran ini mendukung sekali untuk makan santai, sejenak melipir dari kesibukan perkotaan.


Kalau saja tidak sibuk mengejar bocah kesana kemari,  saya pasti betah duduk lama disana. Perlahan menikmati ikan bakar pesanan, menyesap dagingnya sampai ke tulang - tulang, lalu mengakhiri santapan dengan menyeruput teh nasgitel yang disajikan. Semua sambil menikmati pemandangan sawah yang sederhana tapi sekarang terasa sangat mewah.

Penutup

Liburan dengan combo balita sudah tentu sangat berbeda dengan liburan - liburan yang saya jalani berdua saja dengan suami. Dimana kami bisa menghabiskan hari berjalan kaki berkilo kilo meter dan masuk semua tempat serta atraksi yang ada. Dengan balita, ekspektasi harus sangat diturunkan.

Walaupun begitu kami merasa sangat bersyukur karena di tengah segala keterbatasan karena pandemi masih sempat liburan dengan cukup nyaman. Tentu protokol kesehatan sangat kami jaga. Demi diri sendiri dan orang lain.

Semoga tahun depan situasi semakin membaik dan kita bisa geret koper entah kemana lagi. Amin. 

Read more ...

Monday, November 1, 2021

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Survey)



Saya dan suami akhirnya tidak bisa mengelak lagi. Tahun depan anak sulung kami mau tidak mau harus masuk sekolah formal. Karena di usianya yang 4 tahun saat ini, kami merasa dia belum sanggup duduk diam di depan layar mengikuti sekolah online, selama pandemi dia belajar bermain dengan guru secara privat di rumah. Istilah britishnya Governess 😆. Biar nggak kalah dengan George, Charlotte, dan Louis.

Berbekal kisah yang saya baca di buku - buku Enid Blyton tentang anak - anak di Inggris jaman dulu kala. Saya punya ide untuk mempekerjakan lulusan PAUD untuk menjadi guru privat anak saya seharian selama saya kerja. Sebetulnya jobdesk-nya lebih banyak ke menemani main sih daripada belajar. 

Tapi tahun ajaran yang akan datang insyaallah usianya sudah 5 tahun lebih. Kami lihat dia sudah cukup siap untuk masuk sekolah formal. Baik daring maupun luring. Well, tidak ada yang mengharuskan anak kami sekolah secara formal sih, tapi karena kami berdua tidak ada yang merasa sanggup homeschooling anak, jadi kami putuskan anak - anak kami akan masuk sekolah konvensional saja.

Masalahnya adalah, mau masuk sekolah mana?

Ternyata memilih sekolah pelik juga ya saudara - saudara. Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan. Padahal kami cuma baru akan memilih TK. Kata suami yang repot memang milih TK dan SD. Kalau milih universitas justru gampang. Suruh saja anaknya pilih sendiri. Nggak usah pusing.

Suami menyarankan kami buat analisis SWOT ala ala atas sekolah - sekolah yang kami incar. Biar agak ilmiah pemilihannya tidak hanya berdasarkan hati atau impulsif atau ikut trend belaka. 

Sekolah yang kami incar sebetulnya bukan istilah yang tepat sih, sekolah yang feasible lebih masuk akal dalam konteks ini. Karena pilihan kami terbatas biaya dan lokasi. Intinya dari awal kami sudah sepakat tidak akan memaksakan diri menyekolahkan anak di tempat yang tidak terjangkau oleh kami baik dari sisi biaya maupun lokasi. Sekolah yang bayarnya pakai dollar misalnya, walaupun ada yang dekat sekali dengan rumah, jelas tak akan kami lirik. Malu sama slip gaji XD Sekolah yang ada di seberang kota juga tidak akan kami pertimbangkan. Sebagus dan semenarik apapun sekolah tersebut.

Ku gentar dengan drama berangkat pagi 😅

Sebelum memutuskan sekolah yang mana yang akan kami masuki, saya dan suami memutuskan untuk survey langsung. Karena kami sama sekali buta tentang per TK -an jaman now. Saya diingatkan oleh adik saya bahwa cari TK sekarang tidak mudah. Pendaftaran kebanyakan dibuka bulan Oktober. Jadi kalau masih ingin banyak pilihan, cari TK dari sekarang. Suami awalnya tidak percaya masuk TK sekompetitif itu. Tapi setelah datang ke sekolah pertama, baru dia percaya kalau memang se-riweuh itu kalau ingin dapat sekolah yang betul - betul cocok. Akhirnya malah dia yang semangat survey.

Suatu minggu di awal Oktober dengan impulsif saya tanya ke grup ITB Motherhood, TK apa saja yang ada di Bandung bagian barat. Buat bagian timur sudah ada bahasan yang cukup ramai. Grup emak - emak alumni ITB ini memang bisa diandalkan untuk bertanya. Sebetulnya ada pilihan juga sekolah di Bandung kota karena kebetulan kantor kami di kota. Tapi diutamakan yang dekat rumah dulu. Karena belum tentu juga saya masih kerja nanti.

Ada beberapa TK yang disebutkan di grup. Setelah menimbang - nimbang kami putuskan untuk sambangi beberapa. Dari beberapa ini kami merasa pilihan kami sudah cukup. Tinggal nanti dipertimbangkan pro dan kontranya serta kecocokan dengan anaknya untuk memutuskan pilihan yang diambil. Walaupun untuk soal kecocokan, prinsip kami anak TK masih bisa dibentuk dan dilatih untuk menyesuaikan diri, jadi tidak terlalu jadi concern.

Ini saya ceritakan hasil survey yang saya dan suami lakukan. Saya coba buat review sejujurnya. Tapi mohon diingat ini subjektif berdasarkan pengamatan saya dan suami saja ya. Pro dan kontranya tentu disesuaikan dengan kondisi keluarga kami. Jadi kalau ada yang tidak sesuai tidak dimaksudkan untuk berdebat ya atau berantem. Hanya pendapat kami saja 😁

Sekolah Bianglala (PG, TK, dan SD)

Katanya milih sekolah juga soal chemistry dan jodoh - jodohan. Survey yang kami lakukan singkat jadi kesan pertama begitu penting. Kesan pertama agak kurang menyenangkan di sekolah yang kami sambangi pertama kali ini. Mungkin timing yang tidak tepat atau situasi yang kurang mendukung. Sayang sekali padahal lokasinya paling dekat dengan rumah. Bisa jalan kaki.

Saat datang, saya sempat kebingungan di depan pintu kantor administrasi. Bingung mau tanya siapa. Padahal ada ibu - ibu yang sedang mengobrol di ruang tamu, persis di balik pintu. Tapi tidak ada yang berminat menggubris saya. Setelah mengulang mengucapkan salam, akhirnya ada petugas yang menghampiri saya. Sikapnya juga sama kebingungannya ketika saya sampaikan ingin tanya - tanya tentang penerimaan murid baru. Setelah berkonsultasi sejenak dengan salah seorang ibu - ibu yang duduk di ruang tamu, dia masuk lagi ke dalam kantor.

Sementara saya dibiarkan tetap menunggu di depan pintu. Tanpa dipersilahkan masuk. Padahal di depan pintu ada tulisan harus lepas alas kaki untuk masuk. Jadi saya yang berasumsi akan diajak masuk sudah lepas alas kaki dari awal. Sungguh awkward berdiri tanpa alas kaki di depan pintu kantor orang 😂 Memang hanya beberapa menit tapi cukup membuat saya mengerutkan kening. Karena merasa seperti tidak diperkenankan datang. Mungkin seharusnya memang janjian kali ya. Tapi kan bisa bilang 😅

Setelah menunggu beberapa menit, petugas datang lagi dan meminta saya menunggu di salah satu gazebo di depan kantor. "Di dalam sedang ada tamu, jadi mom tunggu disana saja". "Lha gw kan juga tamu", batin saya, sambil kembali menggunakan sepatu dan berjalan menuju gazebo. So much for the first impression. Apalagi untuk calon "customer". Kalau suudzon saya merasa agak diremehkan.

Setelahnya untung biasa saja, petugas yang sama datang kembali membawa buku tamu. Sambil meminta maaf karena saat itu sedang ada pelatihan guru SD. Sedang pada riweuh mungkin maksudnya. Karena riweuh jadi tidak welcome gitu? Entahlah.

Setelahnya ada petugas/guru lain yang menghampiri, mengajak kami berkeliling gedung TK. Penjelasan yang diberikan standar. Baru buat saya mengenai cara belajarnya, tapi selebihnya nothing special. Model pembelajaran yang digunakan adalah metode sentra. Bergilir setiap hari 2 sentra untuk masing-masing kelas. Untuk yang awam seperti saya mengenai metode sentra, dalam metode ini siswa berkeliling setiap hari ke sentra - sentra untuk mendalami satu keahlian tertentu. Halah bahasanya 😂 Jadi murid yang mendatangi guru untuk belajar sesuatu bukan guru yang mendatangi murid untuk mengajari sesuatu.

Anyway, curiculum aside, Fasilitas yang ditawarkan di sekolah ini memang premium. Dalam artian ruang kelas dan bermain bagus, bersih, dan tertata rapi. Mainan banyak. Baik indoor maupun outdoor. Desain dan interior ruangan mengingatkan saya dengan ruang kids club di hotel berbintang. Biaya masuk agak lebih mahal dari sekolah laim yang kami survey. Sekitar 18 juta untuk TK. Sebetulnya biaya tidak jadi masalah kalau sekolahnya mampu menarik hati. Paling tidak uang bisa dicari :D Tapi karena first impression agak kurang buat kami, biaya yang lebih mahal malah jadi satu kekurangan sekolah ini.

Pro
- Dekat rumah. Tidak usah keluar biaya antar jemput.
- Fasilitas premium. Jumlah anak tidak banyak.
- Program PG bisa untuk anak usia mulai dari 2 tahun. Jadi si bungsu bisa ikut sekolah kalau mau.
- Ada SDnya juga jadi relatif gampang kalau mau lanjut.
- Bisa masuk di semester genap. Jadi tidak perlu tunggu tahun ajaran baru.

Kontra
- Lebih Mahal.
- Program standar.
- First impression kurang baik.
- Logonya telor ceplok 😁

Keterangan
Alamat : Jl. Sari Endah No. 19 Sukarasa, Kec. Sukasari, Kota Bandung 40152.
Website : https://bianglala.sch.id/
Instagram : @sekolahbianglalabandung

Darul Hikam Kindergarten


Sebetulnya sekolah ini lokasinya tidak di sekitar rumah, tapi dulu anak saya daycare di Dehakidz milik Darul Hikam, jadi kami putuskan untuk pertimbangkan juga. Ada banyak teman - teman daycare-nya yang sekolah disini. Lokasinya juga relatif dekat dengan kantor kami di ITB.

Saat kami datang untuk survey, sekolahnya sudah kosong. Hanya ada dua orang guru yang sudah bersiap pulang. Tapi dengan ramah mereka menyambut kami dan mempersilahkan kami masuk. Di ruang kepala sekolah kami diberikan penjelasan mengenai program dan kegiatan sekolah. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, penjelasan yang diberikan di Darul Hikam lebih komprehensif. Mungkin pengalaman puluhan tahun memang sangat berpengaruh. Program yang ditawarkan konvensional. Sistem ruang kelas biasa. Jumlah muridnya banyak. Di kondisi normal masing - masing level terdiri atas 3 kelas paralel. Tidak masalah buat kami. Membiasakan anak juga untuk ramai - ramai.

Jalan Cisitu tempat sekolah ini berada relatif sempit lebarnya, tapi surprisingly sekolah ini ternyata besar. Sempit diluar, lebar di dalam. Fasilitasnya cukup lengkap. Halaman luas dengan lapangan olahraga diujungnya. Tempat bermain outdoor dan indoor, kebun, kandang binatang, dsb. Dapur juga ada. Makan siang anak biasanya dimasak sendiri di sini.

Walaupun terletak di wilayah padat penduduk, lokasi sekolah ini tertutup jadi insyaallah aman, karena semua yang masuk pasti ketahuan Satpam. Biaya sekitar 13 juta untuk TK. Ada diskon untuk alumni Dehakidz. Jam pelajaran di situasi normal 5 jam dari jam 8 - 13 setiap hari. Anak dibiasakan makan dan sholat dzuhur dulu di sekolah sebelum pulang. Berangkat bisa bareng kami. Untuk pulang harus arrange lagi.Tapi jam 13.00 tidak terlalu jauh dengan jam pulang kantor. Sesekali masih tidak masalah kalau ikut ke kantor. 

Sekolah ini salah satu yang terkenal dan menjadi favorit, sehingga saat kami datang slot untuk open house dan trial nya sudah penuh. Apalagi tahun depan mereka hanya akan terima lebih sedikit anak. Menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Tapi karena anak kami alumni Dehakidz katanya akan diberikan kesempatan untuk ikut trial dan open house. Let's see.

Pro
- Situasi familiar. Mirip dengan di daycare.Walaupun mungkin anaknya sudah lupa karena sudah 2 tahun terakhir dia di daycare.
- Jam belajar panjang. Anak bisa main dengan teratur lebih lama. Cocok untuk anak yang perlu rutinitas tapi gampang bosan sendirian.
- Sudah ada jenjang TK - SMA. Kalau sudah cocok dengan pendidikannya tidak perlu pusing - pusing mikir sekolah lanjutan.
- Yayasan besar. Pengalaman kami saat pandemi hal ini berpengaruh pada keberlangsungan dan kestabilan kondisi sekolah. Dananya banyak maksudnya :D
- Terintegrasi dengan Dehakidz.

Kontra
- Persaingan masuk sengit karena banyak peminat XD
- Lokasi jauh dari rumah, harus arrange jemputan.
- PG diutamakan untuk anak 3 tahun. Ada umur minimal jadi si adek tidak bisa ikutan sekolah sampai 2 tahun kedepan. Kecuali dia mau masuk Dehakidz. Dimana persaingan pasti lebih sengit lagi :D

Keterangan
Alamat : Jl. Cisitu Indah No. 16 Bandung
Website : https://darulhikam.sch.id
Instagram : @darulhikam_kindergarten

TK & SD Islam Al Azhar 30 Sarijadi

Ternyata dekat rumah ada Al Azhar. Lokasinya agak tersembunyi, jadi kami tidak pernah tau. Mungkin tidak akan pernah ngeh kalau tidak disebut oleh salah seorang teteh di ITBMH. Saat kami datang untuk survey sedang ada persiapan penyambutan siswa Pertemuan Tatap Muka. Tiga orang satpam berdiri berjajar sambil membawa walkie talkie. Pertama saya pikir kami akan diminta putar balik dan disuruh janjian dulu saking ketatnya penjagaan XD Tapi ternyata tidak, kami langsung diarahkan untuk parkir dan menemui petugas resepsionis.

Kesan pertama sekolah ini, armada jemputan sekolahnya banyak banget 😂 halaman depan penuh minibus. Mungkin ada kali 20. Di halaman dalam sekolah juga ada yang terparkir. Kalau tidak diperhatikan baik - baik, bisa dikira pool travel bukan sekolah 😅 Suasana sekolah ini mengingatkan saya pada SD TK saya jaman dulu. Seperti sekolah yang saya bayangkan. Ramai. Banyak anak - anak. Ya iyalah, kalau banyak Bapak Ibu itu kantor Pemda. Baik.

Program belajar di sekolah ini standar saja. Tradisional seperti TK dan SD pada umumnya. Jumlah anak per kelas cukup banyak. Setiap kelas diampu 1 guru. Waktu kami diajak keliling dan sempat mengintip di kelas TK, salah seorang Guru sedang menerangkan ke salah satu murid. Murid yang lain sepertinya menunggu giliran. Hebatnya anak - anaknya bisa duduk diam menunggu.

Wondering apakah anakku bisa seperti itu. Kalau masuk sekolah ini pasti akan jadi perubahan suasana yang sangat drastis buat dia. Dari cuma sendiri, dapat perhatian penuh dari gurunya, hingga harus berbagi dengan banyak anak lain. Tapi tidak terlalu jadi masalah, karena kami juga awalnya ingin dia masuk sekolah negeri saja. Jadi suasananya sudah mendukung. Fasilitas sekolah standar. Ada lapangan olahraga indoor dan kantin yang cukup luas. Biayanya ternyata standar. Tidak terlalu mahal. Sekitar 12 juta untuk TK.

Masalahnya, seperti sekolah negeri, jam masuk sekolahnya 07.15. Pagi banget :')

Appreciate dengan ibu petugas yang menanyakan nomor telepon saya dan langsung WA sejam setelah saya meninggalkan sekolah tersebut.

Pro
- Yayasan besar. Kalau memang 1 yayasan dengan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar.
- Sudah ada sampai jenjang SD. Lokasinya juga sama, jadi anak - anak lebih terbiasa, dengan teman dari berbagai kelompok umur.
- Antar jemput tersedia.

Kontra
- Jam masuk sekolahnya pagi banget.
- Sekolahnya ramai. Kalau anaknya perlu perhatian khusus mungkin bakal pusing di sini.
- Tidak ada PG. Si bungsu tidak bisa ikut sekolah disini.

Keterangan
Alamat : Jl. Tirta Sari III No. 1 Sarijad, Kec. Sukasari, Kota Bandung 40151
Website : https://www.alazhar30bandung.sch.id/
Instagram : @alazhar30bdg

KB & TKIT At-Taqwa


Secara mengejutkan TK ini menjadi top contender dalam ajang pencarian TK yang kami lakukan. Saya tau namanya dari ITBMH. Ada beberapa teteh yang menyatakan sangat puas menyekolahkan anaknya disana. Setelah saya berkunjung kesana saya jadi mengerti kenapa.

Lokasi TK ini ada dalam komplek perumahan Angkatan Darat. Sekolahnya punya halaman yang luas dan desainnya terbuka jadi kesannya lega. Saat di sekolah ini, kami merasa tidak sedang ada di tengah kota Bandung yang hiruk pikuk. Mungkin karena daerahnya sepi ya. Kami bertemu dengan salah seorang guru/petugas administrasi. Pada awalnya jujur kami tidak berharap banyak dengan sekolah ini. Kami pikir sama dengan TK pada umumnya. Tapi ternyata penjelasan yang diberikan mengenai program di sekolah ini sangat menarik.

Ibu yang menjelaskan kepada kami mengenai program sekolah nampak sangat paham mengenai kurikulum dan pedagogi. Kami sangat mengapresiasi saat beliau terlebih dahulu menginfokan mengenai metode belajar, baru setelahnya program tambahan, fasilitas, dan biaya. Dari penjelasan yang diberikan kami berani berkesimpulan bahwa program di sekolah ini seperti yang ditawarkan di sekolah yang lebih mahal tapi memanfaatkan kearifan lokal sehingga biayanya lebih murah. Tidak sampai 10 juta untuk total biaya masuk.

Metode belajar yang dipakai di TK At-Taqwa adalah metode sentra. Masing - masing sentra dipegang oleh 2 orang guru bersamaan. Jadi walaupun ukuran kelasnya cukup besar, perbandingan guru dan muridnya kecil.

Selain pembelajaran sehari - hari, guru - gurunya sepertinya mengeluarkan effort lebih untuk bisa memberikan program pembelajaran inovatif yang menarik untuk anak usia TK. Seperti kemping saat bulan puasa, virtual tour saat pandemi, belajar luring bersama di rumah teman, program persiapan masuk SD, dsb. Sebetulnya mungkin agak berlebihan kalau disebut inovatif ya. Banyak sekolah lain yang melakukan hal yang sama. Tapi karena biaya yang harus dikeluarkan hanya setengah dari sekolah lain, jadi menurut kami worth it sekali. Hehe.

Pro
- Value for money. Paling murah tapi program tidak kalah ciamik. Penting banget ini.

Kontra 
- Tidak ada SD. Mungkin bakal sedikit pusing saat harus cari SD.
- Tidak ada jemputan jadi harus arrange jemputan lagi. 
- PG saklek untuk anak 3.5 tahun. Bungsu tidak bisa ikut sekolah.
- Jam masuk saat normal lumayan pagi. Jam 07.30 :')

Keterangan
Alamat : Jl. Intendans No. 77, Gegerkalong, Kec. Sukasari, Kota Bandung, 40153
Website : - 
Instagram : @tk_attaqwa

Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman


Sekolah yang merupakan bagian dari yayasan Percikan Iman milik ustad Aam Amiruddin ini sangat direkomendasikan oleh beberapa ibu - ibu di ITBMH. Kebetulan anak sepupu saya, yang tinggalnya satu gang dengan kami juga sekolah disini. Jadi kami sudah cukup lama dengar namanya.

Banyak yang bilang suasana sekolah ini enakeun. Memang begitu adanya. Sekolah ini terletak di bukit jadi udaranya cukup adem. Kalau dari arah Gegerkalong sedikit berkelok - kelok jalannya sehingga harus punya kendaraan pribadi untuk bisa sampai ke sekolah ini. Sekolahnya rimbun banyak pepohonan. Bentuk bangunan TK tradisional dengan elemen utama kayu. Di taman depannya ada gazebo - gazebo. Sungguh mengingatkan saya pada restoran sunda 😝 

Pastinya suasana sekolah ini asyik untuk ngariung. Pantas nuansanya kekeluargaan sekali. Saat kami berkunjung ada beberapa ibu - ibu yang sepertinya menunggu anaknya PTM  duduk - duduk di gazebo sambil mengobrol akrab. Ada juga ibu - ibu lainnya yang mengambil foto anak - anak yang sedang main di playground.

Program belajar di sekolah ini konvensional. Hal yang unik mungkin untuk TK belajarnya pindah - pindah tempat, tidak melulu di ruang kelas. Bisa di taman, gazebo, aula serba guna, dan sebagainya. Menarik sepertinya untuk bocah yang gampang bosan. Selain itu sekolah ini juga mengembangkan aplikasi belajar sendiri. Cukup inovatif. Biaya yang diperlukan sekitar 12 juta untuk TK. 

Sekolah ini sepertinya menjunjung prinsip kebersamaan. Paling tidak yang saya lihat ibu - ibunya saling akrab. Banyak kegiatan bersama juga seperti belajar tilawati, diskusi parenting, bakti sosial dan sebagainya. Problem ist, banyak kegiatan untuk orang tua bakal jadi tantangan besar buat saya yang mengaku introvert dan socially awkward. Karena saya tidak pintar kumpul - kumpul :') Tapi suami mengingatkan, namanya juga jadi orang tua. Orang dewasa. Jadi orang dewasa ya harus bisa mengatasi masalah begini. Apalagi kalau anaknya suka sekolahnya. Kan yang sekolah anaknya bukan ibunya. Ya iya juga sih haha.

Trial untuk sekolah ini akan dilakukan secara luring. Pasti lebih menarik buat bocah. Kita tunggu saja tanggal mainnya. 

Pro
- Suasana sekolah nyaman dan kekeluargaannya terasa.
- KB bisa untuk anak usia 2 tahun. Tidak masuk setiap hari. Bungsu bisa ikut sekolah kalau mau. 
- Sudah ada SD jadi tidak perlu pusing kalau mau lanjut. 

Kontra
- Lokasinya agak tersembunyi jadi harus ada kendaraan pribadi. Antar jemput tersedia dengan armada yang masih terbatas.
- Salah satu sekolah favorit dengan banyak peminat jadi persaingan akan cukup sengit nampaknya XD 

Keterangan
Alamat : Kompleks Gegerkalong Permai Jl. Bukit Firdaus No. 9, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat 40559
Website : https://firdauspercikaniman.sch.id/
Instagram : @tamanfirdauspercikaniman


Rumah Belajar Semi Palar



Sekolah ini menyebut diri sebagai sekolah umum. Tidak mengaitkan pembelajaran di dalamnya dengan agama tertentu. Di beberapa blog yang saya baca menyebutnya sekuler, bahkan liberal. Ada juga yang menyebut atheis. Agak kejauhan mikirnya pasti yang nulis :)

Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum holistik yang dikembangkan oleh penggagas sekolah yang sekaligus adalah kepala sekolah tersebut. Kami menyebutnya Kang Andi.

Sekolah ini sudah terasa sangat berbeda dari pertama kali kami mengunjunginya. Ketika kami datang untuk survey, kami langsung ditemui oleh Kang Andi. Beliau tidak memberikan penjelasan apa - apa, hanya menyampaikan kalau kami berminat mendengar tentang sekolahnya silahkan datang ke acara open house yang mereka sebut dengan Gelar Griya. Kami mendaftar untuk ikut acara tersebut dan dalam waktu sekitar 3 minggu kami mendapatkan undangan untuk ikut Gelar Griya secara luring di lokasi sekolah.

Di acara tersebut dipaparkan mengenai konsep holistik yang menjadi inti dari pembelajaran di Semi Palar. Fokus utamanya bukan prestasi akademik, melainkan pendidikan karakter. Memaknai peran diri sendiri sebagai makhluk ciptaan Tuhan, anggota keluarga, masyarakat, hingga bagian dari peradaban.

Tujuan akhir dari pendidikannya adalah mendampingi anak agar tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Menjadi manusia seutuhnya yang paham mengenai dirinya dan dapat menghayati perannya di lingkungan sekitar, atau bahkan dunia.

Dilihat sekilas agak muluk - muluk visinya ya. Tapi Kang Andi tau apa yang dia kerjakan dan dari paparannya nampak sudah cukup berhasil menerjemahkan visi yang intangible tersebut menjadi konsep pendidikan yang tangible. Bisa terukur. Bisa terlihat.

Setelah Gelar Griya, saya sangat tertarik mengenai konsep pendidikan disana. Plus nampaknya sekolahnya cocok buat si Sulung yang cenderung cuek dan punya pemikiran sendiri tentang apa yang menarik untuknya. Tapi saya masih ragu - ragu perihal agama. Pelajaran agama tepatnya. Walaupun saya sendiri dari TK sampai S2 selalu masuk sekolah umum, tapi rasanya mengganjal memasukkan anak ke sekolah umum saat sudah banyak sekolah Islam di sekitar. Seperti biasa. Takut salah langkah mendidik anak. Takut kenapa - kenapa :')

Trial TK ini baru dilakukan Februari, padahal open housenya sudah dari Oktober. Sepertinya ada unsur ingin memastikan bahwa yang mendaftar adalah yang betul - betul berniat memasukkan anak kesini. Proses penerimaan murid disini memang tidak berdasarkan siapa duluan yang daftar, tapi berdasarkan kecocokan.

Agak deg - degan karena pendaftaran TK lain, apalagi yang populer, selesai bulan Desember. Tapi tak apa, kita coba saja. Seperti kata Kang Andi, sekolah itu jodoh - jodohan. Kalau jodoh pasti masuk.

Pro
- Kurikulumnya sejalan dengan visi kami tentang karakter.
- Pengurus sekolahnya nampak terbuka dan mudah diajak bicara.
- Hanya ada 1 kelas di setiap jenjang dengan jumlah murid maksimal 20 orang. Mempermudah untuk memperhatikan kebutuhan masing - masing anak.
- Biayanya terjangkau untuk sekolah yang cenderung eksklusif. Melihat dari sisi jumlah penerimaan yang terbatas.
- Sudah ada jenjang SD, SMP, dan bahkan SMA walaupun tidak formal.

Kontra
- Pelajaran agama minim. Tidak bisa mengandalkan sekolah. Harus cari sumber pengajaran agama lain.
- Jam sekolahnya sebentar. Maksimal hanya halfday. Mungkin akan lebih njelimet buat kami yang bekerja, perkara antar jemputnya.
- Akreditasi nasionalnya masih B. Tapi sepertinya karena kurikulumnya tidak standar.

Keterangan
Alamat : Jl. Sukamulya No. 77 - 79, Sukagalih, Kec. Sukajadi, Kota Bandung 40163
Website : https://semipalar.sch.id/


Read more ...

Friday, October 15, 2021

Tentang Rumah Kenangan

Setelah ibu lalu bapak kami meninggal, saya dan adik saya tidak punya pilihan selain menjual rumah orang tua kami. Karena kami tidak tinggal di Semarang, tidak memungkinkan bagi kami untuk merawat rumah tersebut. Lebih baik dipindahtangankan ke orang lain yang berjodoh dengannya.

Dulu rumah tersebut bagi kami sangatlah istimewa. Tempat kami tumbuh besar. Tempat seluruh kenangan masa kecil kami berada. Tempat seluruh mimpi kami bermula. Saat kami sudah merantau, rumah tersebut adalah tempat untuk sejenak pulang. Menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang.

Tapi rumah hanyalah bangunan biasa saat orang - orang yang kami sayangi sudah tak ada di sana. Karena bukan fisiknya yang menjadikan dia istimewa, melainkan penghuninya.

Maka ketika kehadiran mereka telah sirna, rumah itu, bagi kami, telah kehilangan maknanya. Bukan lagi tempat untuk pulang. Bukan lagi rumah yang dirindukan. Hanya rumah biasa saja. Walaupun jejak kenangan masih terpatri erat didalamnya.

Semua pahit manis memori terkait rumah tersebut akan selalu tersimpan. Dalam ingatan terdalam. Kisah - kisah tentangnya akan selalu diceritakan dan tak akan dilupakan. Tapi waktu tak akan pernah bisa berulang. Penghuni yang pergi tak akan pernah kembali. Kehangatan dan cinta orang tua kami tak bisa terganti.

Karenanya kami memantapkan diri, merelakan rumah tersebut. Melepas diri dari jeratan nostalgia. Berdoa dengan sangat supaya pemilik setelahnya, bisa membangun kenangan indah di dalamnya. Seperti kami sebelumnya.

Bismillah.



Read more ...

Tuesday, May 11, 2021

Perginya Bapak


Di suatu pagi bulan April 2021, jantung Bapak berhenti berdetak.

Tiga puluh menit setelahnya Bapak dinyatakan tiada. Memulai perjalanannya menuju keabadian. 

Slamet Seno Adi (Babeh)
18 Desember 1958 - 18 April 2021


Karena penyakit covid yang dideritanya, Bapak sendirian di saat - saat terakhirnya. 

Tak ada kerabat dan handai taulan yang menyaksikan kepergiannya. Hanya tenaga medis yang berjuang mengembalikan detak jantungnya.

Suatu pagi empat tahun yang lalu. Ibu juga pergi dengan cara yang sama. Sendiri saat Sang Pencipta memanggilnya. Tanpa orang terkasih di sisinya.

Yik Budiati (Mami)
19 September 1960 - 31 Januari 2017

Bapak dan Ibu memang selalu berkata. Sampai akhir hayat tak akan bergantung pada anak - anaknya. Tidak akan merepotkan. Tidak akan menyusahkan.

Keduanya pergi tanpa kami ada di sisi. Anak - anak yang seumur hidup telah disayangi. Setulus dan sepenuh hati. 


Padahal kami sama sekali tidak keberatan direpotkan. Tak masalah disusahkan. Karena kami tahu apa yang kami lakukan tidak akan pernah sepadan.

Seluruh rintangan, hambatan, kesulitan yang telah dijalani. Letih dan lelah yang dialami. Demi membesarkan kami. Tidak akan pernah bisa terbalaskan. Sampai kapanpun jua.


Telah tertulis di langit bahwa jantung Bapak akan berhenti. Di suatu pagi di bulan April.

Empat tahun setelah ibu pergi. Hari dimana kami kehilangan pelita jiwa dan Bapak ditinggalkan separuh nyawanya. 

Kami sadar sepenuhnya. Semenjak ibu pergi, hari - hari kami menjadi tak sama. Bapak pun tak lagi seperti dirinya. Saat masih ada ibu disampingnya.


Maka dari itu kepergian Bapak bagi kami sedikit berbeda. Walaupun tetap sedih tak terhingga. Tapi di hati kami terselip rasa lega. Semoga akhirnya Bapak bisa kembali bersama cintanya.

Hari ketika Bapak pergi. Menandai babak baru hidup kami. Hidup tanpa kedua orang tua. 


Sekarang hanya doa yang bisa kami panjatkan. Harapan yang dilambungkan. Bahwa suatu hari kami akan berkumpul kembali. 

Di surga-Nya yang abadi.


Read more ...

Tuesday, March 9, 2021

Catatan Jadi Orang Tua : Setahun Pandemi

Tak terasa sudah 1 tahun pandemi berlangsung di Indonesia. Tak terasa sebetulnya bukan ungkapan yang tepat sih. Overwhelming sampai hanya bisa pasrah sepertinya lebih tepat. Apa ya padanannya yang enak dalam bahasa Indonesia? 😅

Seperti jutaan atau bahkan milyaran orang lainnya di bumi, hidup saya berubah karena pandemi. Saya masih beruntung, karena punya privilege untuk hidup cukup normal ditengah ketidak normalan ini. Saya dan suami punya pekerjaan yang stabil dan sangat mungkin dikerjakan dari rumah. Kami mendapatkan pengasuh pengasuh terpercaya untuk menjaga anak anak kami selama kami bekerja. Anak anak kami belum ada yang masuk usia sekolah sehingga saya tidak perlu pusing urusan PJJ. Kami masih tinggal di rumah mertua yang luas dan ada di daerah yang tidak padat sehingga cukup aman. Setahun pandemi, kondisi kami bisa dibilang sudah cukup nyaman. Senyaman yang dimungkinkan dengan segala keterbatasan.

Menilik kembali masa masa awal pandemi, saya masih ingat betapa stresnya saya. Anak anak saya biasa di daycare sementara saya dan suami bekerja fullday. Di daycare hidup anak anak teratur. Ada guru yang menyediakan kegiatan setiap pagi. Ada pengasuh yang sanggup menemani sepanjang hari. Ada teman-teman sebaya yang bisa diajak bersosialisasi. Bermain, ngobrol, berantem, rebutan. Sementara saya bisa fokus bekerja. Sekali sekali pergi makan siang berdua dengan suami. Tenang tenang tanpa dirusuhi bocah. Kebetulan tempat kerja kami sama. I was happy. My kids were happy

Saat pandemi, daycare terpaksa tutup. Tutup mendadak. Anak sulung saya yang biasa punya kegiatan dan teman-teman setiap hari, tetiba jadi terjebak 24 jam hanya dengan Bapak Ibunya yang juga rusuh karena harus membagi fokus antara pekerjaan dan anak-anak. Dia jadi sering disuruh menunggu karena kami pikir pekerjaan harus diselesaikan secepatnya, agar tenang menemaninya bermain. Tapi gara gara ini, si sulung jadi sempat punya masalah perilaku. Lebih sering tantrum. Susah tidur siang dan malam. Jadi sangat manja, padahal sebelumnya mandiri. Sangat sering melawan. 

Adiknya, si bungsu, awal pandemi masih berusia 4 bulan. Masih sering tidur lama. Masih bisa digendong-gendong sambil saya nyambi mengerjakan apa-apa. Belum punya keinginan aneh aneh selain kebutuhan dasar. Tapi makin lama si bungsu juga semakin besar. Semakin ada maunya dan makin berkurang jam tidurnya. Semakin susah curi-curi waktu mengerjakan hal lain.

Bulan-bulan pertama pandemi adalah saat yang paling melelahkan untuk fisik dan mental saya. Apalagi saat masuk bulan Ramadan. Setiap malam menghabiskan waktu mendebat dan membujuk si sulung yang tidak mau tidur sampai mendekati tengah malam. Setelahnya mencoba mengerjakan urusan pekerjaan yang tidak terkerjakan saat siang. Tidur dua tiga jam, jam setengah empat harus bangun lagi untuk sahur. Si bungsu selalu ikutan bangun karena cuma bisa tidur dekat ketek emaknya. Setelahnya tentu anaknya on sampai pukul 07.00. Dimana kemudian si sulung bangun dan gantian harus ditemani dan diladeni. Siang hari, si sulung selalu menolak tidur siang padahal sebetulnya sudah kelelahan. Alhasil dia selalu jadi  super duper rewel di penghujung hari, yang tentu saja membuatnya jadi lebih whinny dan demanding. Boro boro memperbanyak ibadah dan amalan, Ramadan tahun lalu amalan saya yang makin banyak hanya istigfar dan menyebut Allah Akbar. Lainnya bubar 🙈

Awal pandemi, pekerjaan kantor saya terpaksa harus agak dikesampingkan. Kerja cuma bisa mulai pukul 10.00 setelah terlebih dahulu memastikan, istilah parenting kekiniannya, anak besar sudah terisi gelas kasih sayangnya. Main sepeda keliling kompleks. Berenang di kolam karet. Main bola. Jalan jalan. Apapun yang bisa menyalurkan energi si bocah kami kerjakan, dengan harapan setelahnya dia bisa sedikit capek tenang dan ibunya bisa bekerja. Strategi ini tentu saja hanya bertahan maksimal satu jam, karena si sulung tetap bolak balik minta ditemani main ayah ibunya. Strategi menghabiskan energi agar tenang ternyata lebih berpengaruh pada saya, yang jam 1 siang biasanya sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa terdiam, sementara si bocah masih terus lompat kesana kesini bagai energizer bunny baru ganti baterai. 

Suami sudah berusaha membantu semaksimal mungkin. Kami gantian menjaga anak-anak, tergantung siapa yang tidak lebih urgent urusan kerjanya. Tapi tetap anak-anak kan pasti lebih pilih ibunya. Plus pekerjaan suami, walaupun cukup flexible, tapi lebih tidak bisa ditinggal atau ditunda-tunda. Akhirnya lebih banyak saya yang mengalah curi-curi waktu kerja. Daripada pekerjaan kami  sama - sama jadi kacau 😅

Sementara situasi anak anak belum kondusif, pekerjaan saya dan suami tetap tidak berkurang. Mana awal pandemi entah kenapa waktu kerja jadi 24 jam. Jam kerja sudah jadi blur. Alasan tidak bisa bekerja karena harus ngurusin anak juga tidak bisa digunakan terus-terusan. Karena semua orang juga kerepotan dan pekerjaan kami, yang berhubungan dengan pendidikan, ya tetap harus jalan. The show must go on

Puncaknya beberapa hari menjelang Lebaran saya jatuh sakit. Padahal cuma di rumah ya 😅 Setelah Lebaran akhirnya memutuskan harus pakai bala bantuan, karena situasinya sudah sangat tidak sehat. Anak - anak, terutama si sulung, jadi kurang perhatian, sampai saya takut berpengaruh pada perkembangan mentalnya (kebanyakan ngeliatin quote Bu Elly Risman), saya super tidak tenang yang berakibat bayi juga tidak tenang, suami juga super bingung melihat kami semua miserable 😂

Alhamdulillah kami bisa menemukan orang-orang yang bersedia bekerja membantu kami menjaga anak-anak. Bentuk rejeki tersendiri di tengah pandemi 😅 setelah ada yang siaga menemani, anak anak saya, terutama si sulung perlahan kembali menjadi diri mereka sendiri. Ceria, baik hati, mandiri. Overall lebih happy. Saya juga jadi lebih bisa fokus dalam bekerja. Walaupun harus membatasi sendiri jam kerja dengan strict. Saya sampaikan ke semua pihak kalau saya hanya bekerja pukul 08.30 - 12.00 lanjut 13.00 - 16.00. Selebihnya saya dengan anak-anak, sementara suami seringkali masih harus rapat sampai malam 😅

Tentu saja setelah permasalahan anak-anak dan pekerjaan terselesaikan dengan bantuan, bukan berarti hidup langsung bisa berjalan mulus tanpa masalah. Drama-drama tetap ada. Namanya juga kehidupan. Tapi setelah pandemi berjalan 6 bulan kami sudah jadi terbiasa dengan kondisi yang berbeda. Memang manusia adalah makhluk yang bisa cepat beradaptasi dan kami termasuk yang beruntung karena punya kemudahan.

Pandemi ini memang berbeda beda hikmahnya bagi masing-masing orang. Bagi saya hikmah pandemi ini membuat saya jadi mensyukuri hal-hal kecil yang dulu tidak berarti tapi sekarang jadi sangat berarti. Seperti menggeletak di kasur setelah berhasil menidurkan anak-anak 😂 menggeletak saja dalam hening sampai bisa mendengar pikiran sendiri. Ibu-ibu pasti bisa relate dengan hal ini 🤣 atau bisa punya me time yang sekarang jadi semakin langka kesempatannya.  Kalaupun bisa bebas sekejap dari anak - anak, juga tidak bisa kemana mana. Paling di rumah -rumah juga 😅 

Hikmah yang lain adalah saya jadi tau kenapa dulu saya punya anaknya lama. Soalnya kalau punya anak langsung setelah menikah, anak saya bakalan sudah usia SD sekarang. Cuma ngurusin anak lari lari saja saya sudah mau berubah jadi mamonster, apalagi ngurus anak PJJ. Bisa jadi mamzilla beneran. Godzilla juga monster ya padahal 😅 #dibahas

Hikmah ketiga adalah belajar lebih pintar memilih prioritas dalam mengasuh anak. Anak susah makan? let it go. Kalau lapar nanti minta sendiri. Anak jadi banyak makan ciki? let it go. Bapaknya juga waktu kecil makannya nasi sama Taro. Alhamdulillah sehat sampai sekarang. Anak makin banyak screen time? let it go. Asal masih dalam batas kewajaran anaknya nggak akan kecanduan. Anak nggak mau mandi? let it go. Ibunya juga males mandi #Lho. Anak sering rewel karena bosan? let it go. Asal bukan pembiaran, belajar bosan itu diperlukan. Sekarang yang penting, terutama untuk ibu - ibu adalah jangan lupa untuk bahagia. Karena ibu adalah matahari dalam keluarga. Jika tertutup mendung maka suasana keluarga juga akan kelabu. Let it go. Tidak ideal dan sempurna tidak apa-apa. Karena hidup ideal hanya milik Andien semata. Dan Shandy Aulia 💪

Anyway untuk semua orang tua diluar sana yang sama sama berjuang dalam cobaan global ini, semoga pandemi cepat berlalu dan kita semua serta orang-orang di sekeliling kita  selalu sehat yaa. Amiinn. 

Read more ...

Wednesday, February 24, 2021

Tentang Si Api Merah

Namanya sudah dipikirkan ayahnya bahkan sebelum saya mengandungnya. Api Merah. Supaya jadi anak yang bersemangat. Memberikan kehangatan. Menjadi Penerang. Mungkin nanti bisa jadi bos perusahaan listrik ya dek. Atau CEO produsen bohlam #lho

Kehamilan kedua kemarin berbeda 180 derajat dengan kehamilan pertama saya. Yang kedua kemarin alhamdulillah stress free worry free. Untung belum pandemi. Masih bisa kesana sini. Saking worry free nya berat janin di usia kehamilan 39 weeks sempat diprediksi sudah mencapai 4.3 Kg 🙈 gara gara ibunya tiap hari minum Cadburry campur susu + makan siang di cafe 2 hari sekali. Ibunya oh jangan ditanya. Naik 26 kg 🙈

Si bocah juga aktif banget di perut. Tendang sini tendang sana. Jadi less stresfull buat ibunya. Cuma pas sudah masuk week 38 sudah nggak kuat banget saya karena kepanasan luar biasa. Tubuh juga beratnya minta ampun. Makanya waktu disuruh pulang lagi saat kontrol seminggu sebelum due date karena sudah mulai ada kontraksi, sesungguhnya pengen nangis, karena harapannya bayinya bisa dilahirkan saat itu saja via c-section 🙈 

Iya iya maap. Saya  bukan pejuang vbac. Bukan cari gampang, tapi ingat lahiran anak yang pertama, pengen yang terprediksi saja. Mohon yang baca jangan bully saya yes. Bayar operasinya kan juga nggak minta siapa siapa ya kecuali pelaku utama kehamilan saya...jadi komentar soal normal vs cesar mohon maaf tidak diterima 🙈 pulang dari dokter waktu itu lanjut makan Sushi-Tei dan nonton Joker. Karena saya pengen ngadem di mall. Si jabang bayi sepertinya tau ibunya setres. Atau dia kaget nonton Joker. Karena disturbing. Apapun itu dia sempet berhenti gerak di perut selama 8 jam. Akhirnya pergi ke UGD jam 10 malam. Dikasih oksigen baru deh mau gerak lagi. Ya Allah serem banget. Akhirnya diputuskan C-Section keesokan harinya jam 12 siang. 

Berbekal pengalaman melahirkan yang lalu, sekarang sudah lebih siap. 

Tas melahirkan sudah siap. Isinya yang penting- penting saja. Sudah dipisah pisah per barang biar yang ngambil nggak kerepotan. Sebelum operasi mandi dulu yang bersih, sempet keramas juga. Penting banget ini mengingat lahiran yang pertama 5 hari baru bisa keramas karena drama induksi. Rambut sudah sampai mirip anak gimbal Dieng atau rasta Jamaica. Karena sudah siap lahir batin, proses operasinya juga santai banget. Waktu didorong ke kamar operasi malah sempet ngobrolin KPR sama petugas anestesi. Sepanjang operasi baik dokter maupun staf lain yang terlibat malah ngomongin hasil lomba paduan suara yang penuh kontroversi. Ya ampun 😅 sejam setelah masuk ruang operasi lahirlah anak perempuan kami. Alhamdulillah 3.98 kg saja beratnya. Bukan 4.3 seperti perkiraan.  

Setelah lahir, sudah bersiap anaknya bakal kuning. Sudah sedia pompa asi dan susu formula 🙈 iya iya maap. Saya bukan pejuang asi eksklusif. Bukan cari gampang. Tapi mengingat kelahiran anak pertama yang penuh drama Asi, saya milih rute stress free deh. Mohon yang baca jangan bully saya yes. Beli susu formulanya kan nggak minta siapa siapa kecuali orang yang harus paling tanggung jawab sama kehidupan bayi ini. Jadi mohon maaf komentar tentang Asi vs Formula tidak diterima ya 🙈 Karena nggak setres, asi saya melimpah dari perahan pertama 😅 akhirnya cuma sekali si bayi dikasih formula. Selanjutnya Asi terus. Alhamdulillah. 

Sekarang si bayi sudah berumur hampir 1.5 tahun. Waktu bayi anteng banget. Nggak repot ngurusnya. Digeletakin juga tidur berjam jam. Sekarang sudah besar cerewetnya minta ampun. Banyak tingkah juga. Alhamdulillah sehat. 

Layaknya kebanyakan anak kedua lainnya nasibnya hampir sama. Minim difoto dan divideoin 🙈 karena selain ngejar ngejar dia ibu dan bapaknya juga harus ngejar ngejar masnya. Mana sempat pegang kamera. Selain minim diabadikan dalam bentuk digital, minim juga dicek pencapaian milestonenya. Dibiarkan saja berkembang sesuai usia. Sudah belajar dari pengalaman kalau bayi memang tidak bisa dipaksa. Hanya berat dan tingginya saja yang masih terus dipantau. Sempat ada masalah. Tapi itu lain cerita. 

Dari sisi kelakuan, si nona cilik sesuai sekali dengan statusnya sebagai adek. Hobinya ngikutin dan gangguin masnya. Padahal anak cewek. Tapi kalau rebutan atau berantem sama masnya berani banget 😅 seperti masnya si adek juga teguh pendirian menjurus keras kepala. Kata ayahnya kayak ibunya. Kalau ada hal yang nggak sesuai keinginannya tangisannya bisa terdengar sampai ujung gang. Sudah kayak diapain aja 😅

Cuma satu masalah si adek. Karena bayi pandemi jadi nggak biasa rame rame. Nggak pernah ketemu orang juga. Sekali diajak ke tempat agak banyak orang, langsung jadi tegang. Badannya kaku. Muka waspada. Salah dikit angin bertiup pecahlah tangisnya. Padahal di tempat itu paling cuma ada 10 orang. Itu juga jauh jauhan. Ya sudahlah nasibnya memang tumbuh besar ketika dunia dalam isolasi. Semoga selalu sehat dan bahagia ya Api Merah kesayangan ayah ibu 😘


Read more ...

Monday, April 2, 2018

Langit Biru : Episode ASI

Untuk kelahiran si bayi saya tidak punya ekspektasi muluk muluk. Waktu lima tahun untuk menunggu kedatangannya membuat saya pasrah. Asal anaknya lahir dengan sehat dan selamat saya sudah sangat bersyukur. Mau normal atau cesar, mau asi atau formula saya serahkan semuanya pada kehendak Tuhan. 

Karena saya tidak punya ekspektasi muluk muluk itulah ketika diputuskan untuk menjalani operasi cesar saya tenang tenang saja. Asal si bayi selamat terserah deh saya mau diapain juga. Begitupun perkara asi. Saya santai santai saja. Hampir dibilang saya rabun perkara asi. Buta sih enggak ya karena saya juga ada baca baca sedikit. Tapi tetap saja sedikit clueless. Alhamdulillah ternyata RS. Advent, tempat saya melahirkan, walaupun bukan rumah sakit khusus ibu dan anak, punya kepedulian tinggi perihal pemberian asi eksklusif. Rejeki si bayi banget itu sih 😅

Berawal dari waktu saya rehat dari induksi pertama yang gagal dimana perawat datang kemudian mengompres dan memijat payudara saya yang katanya masih sangat keras dan belum ideal untuk menyusui, walaupun kolostrum sudah mulai sedikit keluar. Ngomong ngomong pijat payudara ini sakit banget deh 😓

Karena saya tidak merasakan sakit melahirkan, kecuali sakit setelah operasi yang menurut saya juga nggak sakit sakit amat, maka dalam proses kelahiran yang saya jalani kemarin tindakan paling menyakitkan adalah cek bukaan dan pijat payudara 😅

Sesi perawatan payudara ini berkisar selama satu jam dimana saya juga diajari teknik-teknik memijat untuk melancarkan jalur jalur asi yang rentan tersumbat.

Sebelum dioperasi adik saya mewanti wanti agar saya meminta sesi inisiasi menyusu dini dengan bayi saya yang baru lahir. Karena saya kurang wawasan saya tidak menganggap imd ini penting penting amat, jadi saya diam saja. Setelah bayi dikeluarkan dari perut, dari sudut mata, saya melihat dia dipotong tali pusarnya dan dibersihkan. Saya pikir dia akan langsung dibawa ke kamar perawatan bayi dan saya tidak punya masalah juga dengan hal tersebut. Ternyata bayi yang baru dibersihkan sedikit itu dibawa oleh perawat dan diletakkan di dada saya. Secuek cueknya saya, mau tak mau keluar juga tuh air mata, melihat si bayi yang selama 9 bulan ada di perut saya sekarang nyata ada di hadapan. Dengan semangat mencari cari puting susu dengan mata yang masih tertutup. Ketika dapat puting susunya secara insting dia menghisap. Kuat lagi hisapannya. Saya tertawa tawa sendiri melihat hal tersebut. Sudah kayak orang gila deh.

Sesi imd yang mengharu biru itu #halah berlangsung sekitar 45 menit. Baru saya tahu kemudian, saya cukup beruntung sempat mengalami imd yang proper, karena tidak semua ibu mengalami hal tersebut.

Setelahnya perjuangan untuk memberikan asi pada si bayi dimulai. Perjuangan yang rada mendadak sih mengingat ya itu tadi saya tidak punya ekspektasi apa apa perkara asi 😅

Malam hari setelah operasi dan saya sudah boleh bergerak sedikit, bayi diantar ke kamar saya. Oleh suster saya langsung disuruh menyusui. Sekali dua kali mencoba eh kok saya malah jadi penasaran. Lucu aja gitu lihat anak baru mbrojol sambil merem merem berusaha menyusu. Walaupun baru lahir ternyata sedotan bayi lumayan kencang loh. Insting untuk bertahan hidup paling utama memang. Si bayi juga alhamdulillah dari awal pintar pelekatannya (latch on) jadi saya tidak pernah merasa sakit selama menyusui. Yah sakit sedikit sih ada ya tapi tidak sampai banget banget. Mungkin karena waktu di induksi, saya dua hari semalam memandangi poster tentang pelekatan yang ditempel di sebelah tempat tidur kamar bersalin, jadi dia juga ikut belajar 😅

Air susu saya sepertinya cukup untuk memenuhi kebutuhan si bayi. Dari awal, milestone perkara asinya tercapai. Buang air secara teratur baik kecil dan besar, serta bisa melepaskan diri sendiri dari puting dan terlihat kenyang. Plus payudara saya jadi terasa lembut setelah disedot isinya. Enak sekali rasanya apalagi hari hari awal dimana payudara masih mengeras (engorged) untuk menyesuaikan produksi asi 😅

Masalah muncul ketika bilirubin si bayi tinggi dan dia harus menjalani fototerapi. Dimana saya jadi tidak bisa menyusuinya secara langsung. Tidak bisa menyusui langsung saat fototerapi adalah salah satu kekurangan di RS Advent. Padahal bisa saja ibunya ikut disinar sambil menyusui. Pengobatannya bisa lebih efektif dan bayi bisa tetap bisa belajar menyusu. Karena tidak bisa menyusui langsung tapi tetap harus asi eksklusif, pihak rumah sakit meminta saya untuk memberikan asi perah. Di saat itulah kerusuhan terjadi.

Saya tentu saja belum berpengalaman memerah asi. Berbekal pompa manual yang dipinjamkan oleh adik saya dengan percaya dirinya saya memompa. Saya pikir hasilnya akan sama atau paling tidak mendekati saat disusukan langsung. Ternyata asi yang saya hasilkan hanya membasahi pantat botol saja. Panik dong saya 😅

Di saat saat panik, perawat datang menagih asi karena si bayi sudah kehausan. Tapi saya tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kecuali beberapa tetes asi yang menggenang di pojok botol. Makin paniklah saya membayangkan si bayi sudah menjerit jerit kehausan.

Akhirnya perawat menyuruh saya pindah ke ruang laktasi untuk dibantu memerah asi secara manual dengan metode marmet. Sakitnya jangan ditanya. Sakit banget. Padahal tolerasi saya terhadap rasa sakit tinggi tapi saya sampai nyaris menjerit jerit 😅 Pantas banyak yang menyerah memberikan asi. Emang sakit sih 😅

Sudah dipijat sedemikian rupa tetap saja asi yang dihasilkan hanya beberapa tetes saja. Nelangsa banget deh rasanya. Akhirnya karena sudah saking stres dan sakitnya setelah 5 jam berusaha memerah tanpa hasil, saya didampingi suami, yang untungnya masih bisa waras, menanda tangani surat persetujuan pemberian formula karena indikasi medis. 

Apa saya menyesal? Tentu saja tidak. Namanya juga indikasi medis. Daripada anaknya capek jerit jerit, malah pengobatannya jadi tak efektif atau dehidrasi. Apa saya menyerah menyusui? Tentu juga tidak. Setelah tanda tangan surat saya tidur dengan lumayan nyenyak. Esoknya saya meminjam pompa elektrik milik RS. Dengan pikiran yang lebih tenang karena yakin insyaallah si bayi tak akan kehausan, hasil pompa saya bisa sampai 40 ml 😅

Saya tidak stres bayi saya "tercemar" formula. Tapi perawat tetap datang pagi itu untuk membesarkan hati saya. Anggap saja obat bu. Katanya. Iya kata saya sambil cengar cengir. Si perawat akhirnya bercerita, banyak ibu muda yang stres anaknya sementara terpaksa diberi formula. Merasa tercemar 😅 Ada yang menangis histeris ada yang malah langsung menyerah menyusui. Makanya pihak RS berusaha memberikan konseling. Karena kalau ibunya stres asinya semakin tidak keluar.

Memang sih beberapa orang yang mendengar cerita saya saat si bayi kuning tersebut menyesalkan keputusan saya untuk memberikan formula saat itu. As if si bayi sudah tidak pure lagi karena 150 ml formula yang dia minum 😂  Padahal formulanya juga saya yakin sudah keluar bersama mekonium 😒

Sekarang sampai si bayi hampir berusia satu tahun Asi masih terus jalan. Tidak pernah berlebihan tapi Insyaallah juga tidak kekurangan. Secukupnya saja. Alhamdulillah 😀

By the way walaupun saya sendiri memberikan asi ke bayi saya, tapi saya cukup tidak suka dengan hastag hastag mengASIhi yang berseliweran di social media. Kalau seorang ibu tidak bisa memberikan ASI pada bayinya, apa layak ibu tersebut disebut tidak mengASIhi? kan tidak ya. Karena itu marilah ibu ibu. Bijaksanalah dalam menggunakan istilah 😞.
Read more ...

Thursday, May 4, 2017

The Alternate Universe

In the alternate universe you will still be here mom.
Cooing over your second grandson. The one that you had been waiting for so long.
Since day one I'm allowed to be a mom.

In the alternate universe you will still be here mom.
Worrying about your grandson being trusted in the hands of his careless mom.
Giving unstopable advice on how I should handle this tiny baby.
That will be our source of everyday argument. Me being annoyed and you being persistent.

In the alternate universe you will still be here mom.
Sending me Whatsapp every single minute. Wanting to know what's the baby doing. Demanding newest photo of him. Changing your profil picture everytime you get them.

In the alternate universe you will still be here mom.
Bragging about your precious grandsons to everyone. How proud and thankful you are on being their grandma. Showering them with lot of gifts and hugs and kisses.

In the alternate universe you will still be here mom.
Instead of writing about the alternate universe that everyone know does not even exist. I will write about how grateful I am that God finally granted your wish. Of this beautiful baby that sleeping beside of me.

I know no one else pray as hard as you did to be able to meet him mom. No one. Not even me. The mom.

So I really hope you two had met on the way between the heaven and the world and if it's true maybe you already gave him your words on how he should be patient being taken care of his inexperience parents.

And looking at how peaceful he is. I wish that is the truth mom and not only my wistful thinking :)

Read more ...

Monday, May 1, 2017

Tentang Bayi : Selamat Datang Langit Biru

25 April 2017

Hari itu kami dijadwalkan kontrol ke dokter kandungan. Akan tetapi setelah sholat subuh saya pergi ke kamar mandi dan menemukan bercak darah di celana dalam saya. Bergegas kami pergi berangkat ke rumah sakit. Mengingat salah satu wanti wanti dokter kandungan saya adalah jika ada flek segera ke UGD.

Di UGD dokter kandungan saya menghampiri dan menginfokan kalau saya sebaiknya menjalani rawat inap untuk obeservasi. Sekalian mendapatkan suntikan pematang paru kalau kalau bayi ini harus dilahirkan. Kehamilan saya ini memang punya riwayat oligohhydromnios atau air ketuban sedikit serta placental calcification atau pengapuran dini plasenta. Sekarang usia kandungan saya 37 minggu. Masih kurang satu minggu dari target minggu lahir yaitu 38 minggu. 


Saya menghabiskan hari dengan menjalani observasi. Belum mandi. Tapi untung sudah sikat gigi. Detak jantung janin dipantau. Tekanan darah saya dipantau. Tes urin. Tes darah. Semua tes menunjukkan hasil yang bagus, hanya saja leukosit atau sel darah putih saya tinggi. Ditakutkan ada infeksi.

Pada sore hari akhirnya saya menjalani USG. Dari hasilnya terlihat bahwa air ketuban saya sudah hampir habis dan setengah plasenta sudah mengapur. Gagal plasenta yang sangat membahayakan bagi janin dapat terjadi kapan saja. Dari hasil pemeriksaan dokter memutuskan bahwa risiko menunggu janin hingga usia 38 minggu jauh lebih besar daripada risiko bayi belum begitu siap lahir pada 37 minggu. Diputuskan bayi akan dilahirkan sehingga saya akan diinduksi malam itu juga.

Dokter dan perawat menjelaskan bahwa akan ada dua tahap induksi. Pertama induksi untuk melunakkan serviks atau jalan lahir dan yang kedua induksi untuk merangsang kontraksi.

Jam 19.00 tahap induksi yang pertama dimulai. Saya dipindahkan ke ruang bersalin yang untungnya kosong malam itu.

Setiap jam perawat datang untuk mengecek detak jantung bayi dan perkembangan kontraksi. Sampai seperempat botol habis tidak ada perubahan berarti pada kontraksi. Perawat menyarankan saya tidur demi menyiapkan tenaga untuk esok hari.

26 April 2017
Pagi hari cairan induksi masih mengalir. Saya masih tidak juga merasakan kontraksi. Perawat melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui perkembangan bukaan jalan lahir. Masih bukaan satu. Mulut rahim masih tebal dan letaknya masih di atas. Perjalanan masih jauh.

Pukul 11.00 ketika cairan habis, dokter memberikan perintah untuk beristirahat selama 4 jam sebelum melanjutkan tahap induksi yang kedua. Induksi tahap kedua mulai dijalankan pada pukul 16.00.

Selama induksi berlangsung lagi lagi tidak ada penambahan kontraksi. Hingga pukul 23.00 dan cairan habis saya hanya merasa sangat mengantuk. Boro boro mules. Tegang di sekitar perut pun tak ada. Di dalam janin malah semakin aktif bergerak. Mungkin karena ketambahan hormon 😅

Saya minta ijin pada suster untuk tidur. Karena ngantuk sudah tak tertahankan lagi. Kata orang yang namanya induksi itu sangat sakit. Karena kontraksi yang dihasilkan berkali lipat dari kontraksi normal. Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Dengan tubuh penuh cairan induksi saya malah tidur nyenyak sampai pagi.

27 April 2017
Pukul 06.00 saya pindah ke kamar perawatan biasa. Jam 07.00 dokter masuk ke kamar dan menginformasikan bahwa induksi saya gagal dan saya disarankan (well sebenarnya sedikit diputuskan secara sepihak sih 😅) untuk menjalani c-section siang itu juga. Karena dokter tidak mau ambil risiko lebih lanjut.

Selanjutnya saya menghabiskan pagi terakhir sebagai ibu hamil dengan membaca berbagai artikel tentang C-Section yang selama ini selalu saya lewatkan karena sangat yakin bisa melahirkan secara normal 😅

Pukul 11.00 saya didorong dengan kursi roda ke kamar operasi. Empat puluh lima menit kemudian tangisan bayi memecah ruangan.

Segala puji bagi Allah anak pertama kami, telah lahir ke dunia dengan selamat.

Selamat datang langit biru kesayangan ayah ibu 😊
Read more ...