Masa itu kamar kami ada di bagian belakang rumah mertua yang kurang terjangkau sinyal, baik WIFI maupun data seluler. Jadi susah kalau mau sambil surfing di internet.
Di masa itu juga masih ada ayah mertua dan adik ipar laki-laki di rumah. Jadi saya nggak bisa semena-mena pindah menyusui ke ruangan lain. Soalnya saya kalau menyusui sukanya buka bukaan 😆 karena memang tak ada yang perlu ditutup tutupi. Kan bukan korupsi #Lah.
Tapi kalaupun bisa main internet, tetap tidak banyak hal juga yang bisa saya lakukan. Di zaman itu mau nonton drama atau variety show Korea kesukaan saya juga masih harus pakai cara jahiliyah.
Nonton gratisan di situs-situs semacam Dailymotion. Pakai ponsel tentu susah. Enaknya pakai laptop. Tapi nyusuin kan nggak mungkin sambil pegang laptop.
Alhasil kala itu saya akrab dengan bengong. Apalagi kalau Mbarep menolak disusui sambil tiduran. Lengkaplah penderitaan.
Waktu menyusui Ragil, kondisinya agak lebih lumayan. Kami pindah ke kamar di bagian depan rumah yang lebih terjangkau sinyal. Sudah mulai muncul OTT seperti Viu dan Viki yang bikin nonton konten Korea jadi gampang. Walaupun pilihannya masih sangat terbatas.
Instagram dan Youtube juga sudah lebih ramai dengan munculnya berbagai instagramer dan youtuber.
Tapi ternyata saya belum cukup dewasa untuk menyikapi konten-konten yang ada di sosial media. Masih sering ter-trigger dan jadi overthinking. Apalagi saat itu pandemi dimana tingkat stress saya tinggi. Alhasil saya memilih untuk lebih sering uninstall sosial media dan youtube. Tidak permanen, karena kadang-kadang masih perlu.
Tapi ternyata saya belum cukup dewasa untuk menyikapi konten-konten yang ada di sosial media. Masih sering ter-trigger dan jadi overthinking. Apalagi saat itu pandemi dimana tingkat stress saya tinggi. Alhasil saya memilih untuk lebih sering uninstall sosial media dan youtube. Tidak permanen, karena kadang-kadang masih perlu.
Selain itu saya juga nggak punya waktu buat surfing di internet. Ragil termasuk bayi yang cukup rewel karena sering kembung dan punya alergi kulit cukup parah. Sibuk jadi ratu ular kalau istilah mamak sekarang. Sssttt sssttt menenangkan di setiap kesempatan.
Tahun ini saya diamanahi lagi untuk menyusui bayi. Mengingat 2 bocah sebelumnya berhasil sampai 2 tahun lebih, saya pun cukup pede. Alhamdulillah menyusuinya sendiri sampai sekarang nggak ada masalah. Si bayi Bungsu ini juga alhamdulillah nggak rewel.
Berbeda dengan masa menyusui sebelumnya, sesi menyusui sekarang nggak ada bosan-bosannya. Hiburan beraneka macam tersaji di ponsel. Bak lagu Enno Lerian di tahun 90an. Mau apa, bingung sendiri.
Malam-malam panjang bisa dihabiskan dengan nonton serial sampai habis. Kalau bukan karena faktor U yang bikin recovery jadi lama, betah juga saya begadang.
Gara-gara bebas nonton saya jadi semakin menyadari hal yang sudah saya curigai dari lama. Saya ini makin sulit fokus. Bahkan untuk menonton acara yang seharusnya jadi hiburan. Nonton film 2 jam bisa 5 hari baru selesai. Bahkan nonton konten Youtube 20 menit saja nggak bisa. Nggak tahan.
Berbeda dengan masa menyusui sebelumnya, sesi menyusui sekarang nggak ada bosan-bosannya. Hiburan beraneka macam tersaji di ponsel. Bak lagu Enno Lerian di tahun 90an. Mau apa, bingung sendiri.
Malam-malam panjang bisa dihabiskan dengan nonton serial sampai habis. Kalau bukan karena faktor U yang bikin recovery jadi lama, betah juga saya begadang.
Gara-gara bebas nonton saya jadi semakin menyadari hal yang sudah saya curigai dari lama. Saya ini makin sulit fokus. Bahkan untuk menonton acara yang seharusnya jadi hiburan. Nonton film 2 jam bisa 5 hari baru selesai. Bahkan nonton konten Youtube 20 menit saja nggak bisa. Nggak tahan.
Bukan karena saya banyak kerjaan, tapi saat nonton pikiran saya malah melayang kemana-mana memikirkan hal lainnya.
Nonton tayangan renovasi rumah malah jadi kepikiran lemari bocah yang udah nggak cukup (scrolling market place). Nonton film detektif malah kepikiran kasus-kasus kriminal di kehidupan nyata (scrolling google). Nonton stand up comedy malah kepikiran anekdot-anekdot hidup sendiri (scrolling google photo). Nonton podcast malah kepikiran status perkawinan orang lain (scrolling situs gosip) #Lah.
Pantesan pakar pakar parenting itu melarang anak-anak kebanyakan screen. Kan gawat kalau lagi belajar tentang perang Diponegoro terus yang diingat malah pertempuran antara Skibidi Toilet dan Kameramen.
Memahami fenomena yang ada dalam diri saya tersebut, saya merasa memerlukan suatu latihan untuk setidaknya kembali fokus saat menikmati hiburan. Karena hiburan tidak terasa menghibur saat otak kabur-kaburan.
Akhirnya di masa cuti ini saya bikin proyek pribadi untuk menghadapi aplikasi-aplikasi penghambat produktivitas yang saya bagi ke dalam 3 tahapan.
Stage 1: Konsentrasi Nonton Tanpa Jeda
Untuk melatih otak supaya kembali bisa fokus, saya mencoba menghabiskan konten-konten panjang tanpa selingan. Selingan buka aplikasi lain ya. Kalau selingan kehidupan sih banyak.Memaksa diri menghabiskan satu konten panjang tanpa selingan ternyata cukup menantang. Otak seperti melawan. Tapi saya kan bukan bocah. Masa nggak bisa mengalahkan algoritma-algoritma bikinan bangsa barat ini (tetiba berlebihan).
Jadi saya memaksakan diri. Nonton dan harus bisa cerita apa yang saya tonton. Soalnya kadang saya berhasil nonton sampai habis tapi nggak bisa cerita apa yang baru saja saya tonton.
Saya memilih OTT untuk sumber tontonan panjang tanpa jeda. Utamanya Netflix. Dari sekian banyak aplikasi OTT yang saya langgan, saya memang paling suka Netflix. Isi tayangannya beragam dan tampilannya smooth. Navigasinya juga enak. Apalagi sekarang makin banyak serial dan film lama yang ditambahkan kesana. Jadi bisa sekalian nostalgia.
Saya memilih OTT untuk sumber tontonan panjang tanpa jeda. Utamanya Netflix. Dari sekian banyak aplikasi OTT yang saya langgan, saya memang paling suka Netflix. Isi tayangannya beragam dan tampilannya smooth. Navigasinya juga enak. Apalagi sekarang makin banyak serial dan film lama yang ditambahkan kesana. Jadi bisa sekalian nostalgia.
Sebenarnya saya berlangganan Netflix untuk nonton drama Korea. Tapi habis lahiran kemarin kok inginnya nonton yang lain. Bosen sama kekoreaan.
Dengan penuh konsentrasi, di malam-malam panjang bersama bayi yang menolak tidur, saya berhasil menyelesaikan 1 season serial Lidia Poët, 6 special stand up show Trevor Noah, 3 film Enola Holmes, 1 film nominasi Emmy Award: The Remarkable Creatures, 2 reality show renovasi rumah: Hack My Home dan Instant Dream Home. Dalam waktu 2 minggu saja. Sungguh suatu pencapaian bukan?
Dari pengalaman dua minggu itu saya menyadari bisa lebih fokus kalau menyimak dengan lebih serius hal-hal yang disampaikan di tayangan yang saya tonton. Seperti Hack My Home dan Instant Dream Home yang menggelitik jiwa engineer saya yang sudah setipis jembatan sirotol mustaqim. Atau Enola Holmes yang membuat saya bernostalgia zaman remaja ngefans dengan artis barat yang cantik dan ganteng.
Cukup membantu juuga untuk fokus pada isi tontonan dengan mencoba memikirkan tulisan review yang ingin dituliskan (walaupun tidak dituliskan beneran ahaha). Atau membayangkan cerita yang ingin disampaikan kalau punya kesempatan bikin film (yang tentu saja tak akan kejadian).
Setelah bisa menghabiskan tontonan ringan, sekarang saya men-challenge diri untuk nonton yang agak berat. Pilihan jatuh ke Dark yang sudah pernah saya tonton 2 episode dan belum pernah saya teruskan. Sekalian ingat-ingat bahasa Jerman yang sama sekali sudah saya lupakan.
Stage 2: Mengalahkan Doom Scroling
Setelah bisa agak fokus nonton tanpa gangguan, waktunya saya masuk ke challenge sesungguhnya. Dengan berani saya install salah 3 aplikasi penjebak waktu: Instagram, Youtube, dan Thread (saya sampai sekarang menolak masuk dunia TikTok).Lalu secara sengaja saya nyemplung kedalamnya beberapa kali dalam sehari. Scroll-scroll tanpa arah. Membiarkan jempol saya memimpin.
Eh tapi diluar dugaan, lama-lama kok rasanya bosen ya scroling dengan bebas. Saya malah balik-balik lagi ke Netflix buat nonton serial.
Apakah otak saya ujug ujug membaik? Kayaknya nggak sih ya. Buktinya waktu nonton tayangan panjang masih tergoda scroll Google dan Marketplace buat cari ini itu.
Saya pikir-pikir, kayaknya ini gara gara saya punya banyak waktu buat dihabiskan deh. Jadi scrolling juga malah jadi bosan. Biasanya kan scrolling buat menunda nunda pekerjaan. Lha sekarang kan saya memang lagi nggak ada kerjaan. Haha.
Alasan lain lagi saya terjebak doom scrolling adalah untuk winding down setelah segala kepenatan seharian. Merasa rugi kalau langsung tidur. Karena merasa nggak punya waktu me time.
Nah sekarang saya punya banyak waktu sendirian. Ya ada bayi sih, tapi dia masih banyak tidurnya. Mau ikutan bayi tidur, baru bangun jam 10 pagi terus leha leha sampai tengah hari nggak ada yang akan ribut.
Jadi saya nggak merasa rugi tidur jam 9 malam tanpa scrolling.
Sebulan ini saya malah cukup jarang scrolling tanpa tujuan. Lucu juga. Saat punya banyak waktu malah nggak nafsu menghabiskan waktu.
Stage 3: Memahami Kalau Konten Hanyalah Konten.
Salah satu alasan kenapa saya membatasi sosial media adalah saya merasa tidak cukup dewasa untuk tidak terpengaruh dengan konten yang ada disana. Merasa tidak cukup (impostor syndrome) atau, malah lebih parah, merasa sombong atau lebih baik dari orang lain adalah penyakit-penyakit hati yang sering kumat kalau saya sedang tenggelam di sosial media.Tapi kan saya sudah 40 tahun ya. Kurang dewasa apa coba? Di berbagai kesempatan juga sudah didapuk jadi salah satu yang senior. Mau nunggu sampai kapan untuk bisa membedakan konten dan realita?
Lagian saya kerjaannya menasihati duo bocah di rumah yang suka ketakutan sendiri habis nonton Youtube. Sampai berbusa busa saya kasih tau kalau yang ditonton di Youtube nggak selalu benar. Kebanyakan sudah diolah untuk memancing ketertarikan penonton.
Tapi hobi menasehati kan belum tentu jago mengikuti nasihat sendiri ya. Walaupun busa omongan saya sudah lebih banyak dari buih di lautan 😆
Mencoba memahami konten-konten dengan pemahaman dewasa ternyata tidak mudah. Lagian apa itu pemahaman dewasa? Dimana banyak orang-orang lebih tua juga tidak punya kebijaksanaan untuk melihat berbagai hal sesuai porsinya.
Tapi ya kan tidak ada salahnya dicoba dengan pemahaman yang ada. Setelah berpikir panjang saya mencoba menggunakan metode non-attachment (udah kayak Siddhartha Gautama 😅).
Saya menenggelamkan diri ke youtube short, instagram, dan threads membawa pov orang yang sedang membaca/menonton cerita. Tidak berusaha merasa relate. Tidak berusaha memikirkan lebih jauh.
Segera memencet tombol not interested untuk konten-konten yang triggering ternyata cukup membantu. Alhasil feed saya isinya hanya konten-konten ringan yang menyenangkan. Komedi, bayi-bayi lucu, cocokologi, dan guyonan-guyonan lain yang super ringan.
Mungkin itu juga yang bikin saya cepat bosan. Karena tidak lagi penasaran.
Dari 3 aplikasi tersebut, yang menurut saya paling susah ditaklukan adalah Thread. Orang kok pinter-pinter banget nulis di situ. Selalu bikin ingin tau lebih jauh. Haha.
Makanya untuk Thread saya menyerah dan uninstall di hari ketiga. Nggak kuat 🤣
Bukan karena triggering tapi karena seperti membius untuk terus scrolling. Menurut testimoni teman-teman saya, Thread cuma bisa dikalahkan oleh microdrama Korea dan dracin AI (jangan Googling kalau nggak mau terjebak).
Youtube masih bertahan beberapa minggu setelah saya install lagi. Sekarang mulai belajar nonton konten agak panjang (5-10 menit) sekali duduk tanpa skip dan membatasi short. Untuk IG masih terinstall tapi nggak dibuka kecuali sedang cari info dan diarahkan kesana. Walaupun kadang-kadang membiarkan diri terlena juga sih. Haha.
Dah ah banyak amat ngecomnya. Jadi apa kesimpulan tulisan ini? Nggak ada. Cuma membuktikan diri masih bisa nulis 1500 kata buat nggak skip Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan ini.
Mohon maaf nggak nyambung juga sama temanya.
Hau hau.
Dah ah banyak amat ngecomnya. Jadi apa kesimpulan tulisan ini? Nggak ada. Cuma membuktikan diri masih bisa nulis 1500 kata buat nggak skip Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan ini.
Mohon maaf nggak nyambung juga sama temanya.
Hau hau.
.jpg)

No comments:
Post a Comment