Sunday, November 20, 2022

Kok Bisa?

Enam jam sebelum deadline Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog terakhir di tahun ini saya memutuskan untuk ganti topik. Tadinya saya mau review film dokumenter tapi menjelang Magrib tadi sambil main-main dengan bocah saya jadi terpikir menulis tentang hal di luar nalar. Soalnya dipikir-pikir saya lebih cocok nulis yang di luar nalar daripada yang serius-serius. 

Anyway, yang akan saya tuliskan dibawah ini adalah pengalaman masa kecil saya. Beberapa yang saya ingat karena dulu berkali-kali diceritakan oleh orang tua saya. Tenang saja cerita yang saya tuliskan tidak ada seram-seramnya. Lebih tepatnya saya sekarang wondering sendiri kok bisa?

Berkelana "Sendiri" Umur 4 Tahun

Anak sulung saya, Mbarep, usianya sekarang 5.5 tahun. Belum pernah sekalipun dia pergi sendiri apalagi menginap di luar tanpa orang tuanya. Sebagai individu yang termasuk orang tua panikan dan overthinking, saya belum berani melepaskan dia sendiri. Bahkan sampai sekarang saya masih suka deg-degan kalau dia hilang dari pandangan saya saat ada di tempat umum yang relatif aman seperti playground atau supermarket. 

Sampai suami harus berkali-kali mengingatkan kalau Mbarep sekarang sudah besar. Sudah cukup punya nalar untuk tidak pergi jauh-jauh dan punya kemampuan yang cukup untuk bisa mencari jalan untuk menemukan kami kembali. Tapi tetap saja  karena kebanyakan dicekoki berita kriminal, pikiran saya langsung jadi macam-macam kalau anak-anak saya tidak ada dekat saya.

Maka dari itu saya tidak habis pikir apa yang dipikirkan orang tua saya. Sejak umur 4 tahun saya sudah biasa ikut keluarga Bude saya plesir kemana-mana. Road trip blusukan ke desa-desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ke Jakarta yang besarnya tak terbayang oleh saya, bahkan yang ultimate ikut menyeberang ke Lampung dan Bali. Sendirian saja tanpa orang tua. 

Sudah sejak TK saya juga biasa liburan di Bandung sendirian. Orang tua saya ya tetap di Semarang. Wong mereka kerja. Saya berangkat dan pulang biasanya naik bis malam. Dititipkan saudara siapa saja yang pergi ke Bandung dan pulang ke Semarang. Sekarang setelah saya pikir-pikir, bude saya dan keluarganya sabar banget menghadapi bocah kecil. Kalau misalnya kelakuan saya dulu pecicilan seperti Mbarep sekarang, hati mereka pasti seluas samudera. Ngurus anak sendiri saja pasti sudah repot apalagi ketambahan balita satu lagi. Tapi mungkin itu hebatnya orang zaman dulu. Tidak masalah jalan-jalan dengan banyak anak.

Paling hebat waktu kelas 6 SD saya diizinkan pergi ke Jakarta sendirian naik kereta buat ikutan nonton Grand Prix Marching Band. Tim sepupu saya dari SMA Santa Ursula Jakarta saat itu bertanding dan saya diajak jadi suporter. Badan saya memang bongsor, jadi waktu SD saya sudah seperti anak SMA, walaupun kelakuan tentu masih seperti anak SD pada umumnya. Tapi tetap saja sekarang saya tak habis pikir. Kok bisa orang tua saya melepaskan saya begitu saja? Mana dulu kan belum zaman handphone. Kalau saya hilang di Gambir gimana? 

Sepertinya orang tua saya mulai berpikir dua kali untuk anak kedua. Karena seingat saya, adik saya tidak pernah dibiarkan ikut pergi-pergi sama orang lain sampai besar. Bahkan waktu akhirnya dia pergi sendiri ke Bandung buat kuliah ibu saya konon nangis-nangis sampai sebulan. Haha.

Masuk TK Umur 3 Tahun

Anak bungsu saya, Ragil, sekarang usianya 3 tahun. Tahun ini dia kami masukkan Play Group dengan pertimbangan masnya mulai masuk TK. Kami pikir kasihan kalau dia sendirian di rumah, walaupun sekolah Mbarep juga cuma 2 jam.

Karena belum bisa masuk sekolah yang sama dengan Mbarep, Ragil masuk sekolah yang lebih dekat dengan rumah. Tapi walaupun judulnya sekolah, kegiatan Ragil ya hanya main-main saja. Tidak ada target akademik tertentu. Hanya lebih terstruktur main-mainnya daripada di rumah karena ada program pembelajaran. Plus ada teman-temannya. Seringkali Ragil tidak ikut kegiatan yang sudah ditentukan di sekolah, malah sibuk main pasir atau perosotan dari datang sampai pulang. Tapi ya memang di usia dia belum waktunya belajar terstruktur jadi kami tak ambil pusing.

33 tahun yang lalu, di usia tepat 3 tahun, saya juga dimasukkan ke TK oleh orang tua saya. Entah apa pertimbangannya. Saya tidak pernah sempat bertanya. Mungkin saya terlihat bosan di rumah, atau bisa jadi saya memang minta sekolah, atau orang tua saya menganggap saya bisa. Bukannya bagi generasi baby boomers, semakin cepat semakin baik, semakin dini semakin hebat?

Pokoknya, sama seperti Ragil, saya memulai perjalanan pendidikan formal saya di usia 3 tahun. Bedanya TK yang saya masuki adalah TK negeri konvensional di pinggir kota. Duduk di kursi menghadap guru adalah keharusan. Calistung adalah kewajiban. Tidak peduli usia murid. Semua harus belajar baca, tulis, hitung. Kalau kelakuan saya dulu seperti Ragil sekarang, saya heran kenapa dulu tidak dikeluarkan dari sekolah. 

Ragil masih tidak berminat belajar angka dan huruf, lagipula kalau ada yang memaksa dia melakukan sesuatu, orang itu harus siap menghadapi ledakan emosi ala threenager yang luar biasa. Jadi kalau dia masuk TK konvensional saya bisa pastikan setiap hari akan penuh jeritan dan tangisan. Drama ala film-film India minus angin topan dan sari yang berkibaran. Mungkin guru zaman dulu jauh lebih sabar atau saya lebih pintar menyesuaikan diri. Satu hal yang pasti, orang tua saya berani sekali. 

Anekdot yang sering diceritakan oleh orang tua saya mengenai masa TK saya adalah tentang raport pertama dimana saya dapat C untuk semua aspek yang dinilai. Waktu itu, Bapak saya, yang adalah dosen di Fakultas Pendidikan IKIP Semarang, katanya langsung menemui kepala sekolah sekolah saya dan menceramahi beliau tentang pedagogi. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana kepala sekolah tersebut menanggapi Bapak saya.

Tahun berikutnya, di usia 4 tahun, saya dipindahkan ke TK swasta yang ada di tengah kota. Mungkin program pendidikannya lebih ramah atau usia saya sudah mencukupi, yang pasti di TK tersebut nilai saya konon tak pernah kurang dari A. Dulu nilai memang segalanya.

Modal "Ndilalah" Masuk Sekolah Favorit

Pengalaman yang ini mungkin sebetulnya tidak masuk kategori diluar nalar, lebih tepatnya "ndilalah". Keberuntungan. Tapi ya sudahlah, nanggung  kita tuliskan saja.

SMP, SMA, dan tempat kuliah saya masing-masing termasuk kategori sekolah favorit. Persaingan masuknya cukup sengit. Biayanya, walaupun sekolah negeri, juga termasuk tinggi dibanding sekolah lain di daerah yang sama. Tapi alhamdulillah saya bisa masuk ketiganya dengan cukup mudah dan murah.

Saya masuk SMP saat krisis moneter tahun 1998. Saat itu harga-harga melambung tinggi. Perusahaan-perusahaan bangkrut. PHK terjadi dimana-mana. Semua hal jadi mahal sekali. Saya samar-samar ingat baru saja selesai mengikuti EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) ketika Presiden Soeharto lengser. Kerusuhan terjadi di berbagai kota besar. Di Semarang tidak terjadi kerusuhan, padahal etnis tionghoa ada banyak jumlahnya. Orang Semarang memang happy go lucky

Ketika masa pendaftaran sekolah tahun itu, ndilalah muncul peraturan dari pemerintah kota Semarang. Seluruh sekolah negeri hanya boleh menarik uang pembangunan maksimal Rp. 50.000. Padahal biasanya sudah Rp.300 ribuan. Mungkin untuk mencegah banyak anak yang putus sekolah. Lalu anak guru dapat poin tambahan NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebesar 0.5. Saya pun, yang punya ibu seorang guru SMA, melenggang masuk ke SMP 1 Semarang tanpa halangan. Murah lagi.

Tiga tahun kemudian, ketika saya masuk SMA, tidak ada kebijakan mengenai potongan biaya. Tapi di tahun itu juga ndilalah lagi-lagi muncul aturan anak guru dapat poin tambahan NEM sebesar 2.00 poin. Saya yang tadinya mencoba peruntungan untuk masuk ke SMA 3 Semarang dengan nilai yang mepet passing grade, seketika langsung naik ke posisi aman. Kembali saya melenggang masuk sekolah favorit karena jadi anak guru. Di tahun-tahun berikutnya aturan poin tambahan ini ditiadakan karena banyak yang protes fairness-nya. Ya iyalah. Aneh-aneh saja.

Saat masuk kuliah, sebetulnya saya sudah merasa cukup beruntung karena diterima. Bapak saya yang cermat soal keuangan sudah menyiapkan dana yang cukup sehingga saya sebetulnya tidak khawatir soal biaya. Tapi saat mengisi bagian besaran uang pembangunan di formulir kesanggupan membayar biaya pendidikan, ndilalah saya iseng contreng pilihan Rp. 0. Petugas yang memeriksa formulir itu tidak berkomentar apa-apa, padahal ada juga yang ditegur karena dianggap "aji mumpung". Mungkin petugas melihat kalau saya anak dosen dan guru yang penghasilannya pas-pasan. Alhasil saya masuk ke ITB tanpa bayar biaya gedung sama sekali. Lumayan hemat Rp.2.500.000. Hehe. 

Penutup

Begitulah cerita yang saya anggap diluar nalar. Mohon maaf kalau kurang nyambung. 2.5 jam sebelum deadline. Alhamdulillah bisa kesampaian juga.





Read more ...

Thursday, October 20, 2022

Duduk Tenang dan Pilih Kopimu

Kopi saat ini sudah menjadi bagian gaya hidup. Hampir semua orang yang saya kenal menyukainya. Ada yang cukup puas dengan kopi sachet yang diseduh setiap kali perlu, atau kopi kekinian di kedai-kedai kopi populer, ada juga yang menggemari kopi artisan, dari berbagai varietas biji kopi yang diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan rasa yang mungkin dianggap sebagai surga dunia.

Saya sendiri tidak menyukai kopi. Makanya saya cukup kebingungan ketika tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah Mamah dan Kopi. Karena saya tidak tahu menahu soal kopi. Kalaupun terpaksa harus pergi ke kedai kopi, biasanya saya memesan minuman cokelat. Saya pun tidak pernah tahu bedanya antara frappucinno, cappucinno, latte, apalagi perkara robusta, arabica, atau liberica. Tidak tahu dan tidak berminat tahu juga. Hanya saja karena saya sudah melewatkan tantangan bulan lalu, jadi saya tuliskan juga cerita tentang kopi (paling tidak disebutkan secara eksplisit walaupun mungkin nggak nyambung). Karena segala sesuatu yang penting niatnya bukan? haha.

Sekarang duduk manis dulu ya...kita dengarkan cerita saya. Semua cerita yang dituliskan dibawah 90%-nya adah fiksi. Sisa 10%-nya adalah kejadian yang memang pernah saya alami tapi digoreng agar lebih renyah dan dibumbui agar lebih sedap.

Prolog

(sumber: freepik.com)

Bau kopi selalu mengingatkanku pada Eyang. Semerbak kopi hitam pekat yang selalu beliau seduh setiap pagi. Dilengkapi sepotong dua potong pisang goreng atau singkong rebus sebagai sarapan. Perlahan dinikmati sambil memperhatikan tontonan gosip pagi di televisi.

Aku ingat kadang ada pagi dimana Eyang tidak bisa langsung ngopi sesaat setelah jam berdentang pukul 6 pagi. Entah karena ada tamu, ada hal mendadak yang harus dikerjakan, atau Mbok Darmi, pembantunya yang setia, lupa membeli persediaan kopi hitam di warung sehari sebelumnya. Gelisah pasti akan menyelimuti paras Ibu dari ayahku itu hingga akhirnya dia bisa mereguk minuman penuh kafein tersebut.

***

Bau kopi jugalah yang menghantuiku selama berbulan-bulan setelah Eyang berpulang. Saat itu aku masih kelas satu SMP. Eyang tak bisa segera dimakamkan segera setelah menutup mata selamanya. Harus menunggu anak cucunya pulang dari berbagai penjuru Indonesia dan juga dunia. Aku ingat betul berbungkus bungkus bubuk kopi ditaburkan di sekitar kerandanya, untuk mengurangi aroma tak sedap yang mungkin menguar dari jasadnya yang telah kaku.

Bahkan setelah seluruh pelayat dan keluarga pulang, rumah Eyang masih berbau kopi. Sampai seminggu lamanya. Kemudian dengan anehnya hingga beberapa saat aku masih merasa mencium bau kopi yang sama di tempat-tempat random. Ruang tempat latihan paduan suara di sekolahku, pojok halaman rumah, ruang ganti kolam renang dekat rumah, dan bahkan lorong di perpustakaan daerah tempatku meminjam buku cerita.

"Mungkin Eyang mampir mengunjungimu", kata kakakku sok bijak. Perkataan yang sukses membuatku tak tidur semalaman. Merapal doa karena ketakutan setiap habis mencium aroma kopi di suatu tempat. Karena sekangennya-kangennya aku dengan Eyang, sesungguhnya aku tak berminat bertemu dengannya dalam wujud selain yang kukenal.

***

Nampaknya pengalaman tersebut cukup traumatis untukku. Sehingga sekarang, hampir 15 tahun setelah Eyang tiada, aku masih saja merasa sangat pusing jika mencium bau kopi. Bahkan aroma yang pekat bisa membuatku hampir pingsan. Seperti saat aku mengikuti kuliah kerja ke salah satu pabrik produsen kopi bubuk ternama. Tersergap aroma kopi dari berbagai sisi, tubuhku bereaksi cukup brutal. Kepalaku berdetam bagai dipukul godam. Jantungku berdebar kencang. Bulir keringat dingin membanjiri badanku. Kakiku menjadi lemas hingga akhirnya tubuhku oleng menubruk tepian bingkai kaca pembatas antara pengunjung dan conveyor kopi. Sukses membuatku mendapatkan 3 jahitan di kepala.

Semenjak itu aku tidak mau berurusan dengan kopi. Walaupun minuman tersebut sudah menjadi sebuah budaya yang diamini hampir seluruh orang yang kukenal, tapi aku tetap dengan pendirianku. Tak pernah sekalipun aku menginjakkan kaki di cafe kekinian apalagi coffee shop. Takut mencium bau kopi lalu pingsan dan membuat kehebohan. Karena seingin-inginnya aku menjadi terkenal, aku tak berminat menjadi objek berita dengan tajuk "Perempuan Pingsan Mencium Aroma Kopi".

***

Kisah Awalnya

Suatu hari di tengah perjalanan menuju tempat meeting di kota sebelah, lampu indikator panas di mobilku berkedip-kedip menunjukkan kondisi overheat. Mengetahui bahayanya, aku tahu harus segera menghentikan mobil. Masalahnya jalan yang sedang aku lalui ada di tengah-tengah hutan jati. Walaupun hari itu masih siang bolong, tapi tetap saja aku takut berhenti sembarangan. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan menjalankan mobilku pelan-pelan hingga menemukan tempat yang ada orangnya. Sambil berdoa semoga mesin mobilku bertahan dan tidak terbakar di tengah jalan.

Sekitar 10 menit aku melihat sebuah warung di pinggir jalan. Setelah memastikan bahwa warung tersebut buka, segera aku menepikan mobilku di sebelahnya. Kemudian setelah menunggu mesin mobil agak dingin, aku turun dan dengan hati-hati membuka kap mesin mobil untuk memeriksa air radiator. Habis sehabis-habisnya. Sepertinya ada kebocoran. Segera kutelepon bengkel. Karena jarak ke tempatku yang cukup jauh, mereka berjanji akan mengirimkan teknisi dan mobil derek dalam waktu minimal 1 jam.

***

Aku memeriksa jam tanganku. Dalam 25 menit meeting seharusnya dimulai. Meeting yang cukup penting karena menentukan goal proyek baru dan apakah aku akan diamanahi menjadi pemimpinnya. Sesungguhnya atasanku sudah mewanti-wanti agar aku lewat jalan tol saja, walaupun harus memutar agak jauh. Tapi aku bersikeras melewati jalan lama, karena aku paling malas menyetir sendiri di jalan tol. Lagian tadinya kupikir, hal buruk apa yang bisa terjadi sebelum jam 9 pagi?

Untungnya setelah aku kabari, atasanku hanya menghela napas panjang lalu mengatakan aku bisa bergabung secara online saja. Seperti memaklumi aku dan kepala batuku. The perks of living in post pendemic era. Bisa meeting online. Masalahnya aku lupa mengisi baterai telepon genggamku. Nampaknya daya 30% tidak akan kuat kalau digunakan untuk meeting. Aku juga tak ingin teleponku mati, karena masih perlu menghubungi orang bengkel. 

Awan mendung yang sedari tadi membayangi langit diatasku, menggelayut semakin berat. Nampaknya sebentar lagi akan segera menumpahkan air yang dikandungnya. 

Aku menoleh ke warung sebelah. Diatas bangunan tersebut terlihat semacam antena televisi, jadi aku berasumsi di dalam seharusnya ada listrik. Mungkin aku bisa numpang mengisi daya telepon genggamku sebentar. Aku membereskan barang-barangku kemudian bergegas menuju ke warung yang terbuat dari bambu dan kayu tersebut. Tetap waspada karena aku tidak tahu siapa atau apa yang akan aku temui di sana. Suara musik terdengar mengalun pelan. Lagu lawas tahun 80an.

Teruskan cerita ini dengan memilih jenis kopi sesuai seleramu.

Pilih Kopimu

(sumber: freepik.com)


Silahkan pilih kopi sesuai selera. Mau tiga-tiganya juga tidak ada yang melarang. Kalau ketagihan tanggung sendiri. 




Read more ...

Tuesday, October 11, 2022

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Trial Bagian 2)

Proses penerimaan di sekolah Semi Palar yang paling meticulous daripada dua sekolah yang kami coba sebelumnya. Wajar karena dari awal mereka bilang cari peserta didik yang cocok. Bukan yang terbaik berdasarkan standar akademik umum. Karena program sekolahnya yang berbeda, memang harus dipastikan bahwa orang tua memiliki visi yang sama tentang arah pendidikan anak - anaknya. Agar kedepan tidak ada yang kecewa. Proses penerimaannya ada 5 tahap : Gelar Griya yang sudah saya jelaskan di tulisan bagian pertama, trial, penjelasan hasil assessment saat trial oleh guru pendamping, penyelarasan sekolah dan rumah oleh Kepala Sekolah, dan terakhir, jika diterima, pendaftaran ulang.

Awal yang Salah Kaprah

Trial di sekolah ini berlangsung selama 3 hari. 2 hari offline di sekolah, 1 hari online dari rumah. Berlangsung di awal bulan Februari. Ada jeda cukup lama dengan Gelar Griya. Jauh lebih lambat dari kebanyakan sekolah yang proses penerimaannya sudah selesai di akhir tahun. Tapi tidak masalah, kan sudah dibilang bahwa sekolah ini memang berbeda.

Mbarep sebetulnya cukup excited untuk trial di sekolah ini. Sudah kami sounding dari jauh - jauh hari. Kamipun tidak sabar menunjukkan sekolah ini ke dia karena merasa dia pasti akan senang disana. Tapi yang sedikit menjadi masalah adalah jadwal trial offline hari pertama jatuh di hari Senin jam 10.30. Senin adalah hari paling sulit dari semua hari di sepanjang minggu, sementara jam 10.30 adalah jam nanggung waktu bagian bosan anak saya di rumah. Kombinasi keduanya benar - benar menguji kesabaran. Haha.

Karena trialnya berlangsung 2 hari, rencananya hari pertama saya yang mengantar sementara suami mengantar di hari kedua. Di hari pertama, saya membuat beberapa kesalahan yang membuat siang itu sangat melelahkan. Kesalahan yang pertama adalah pergi mengantarkan suami ke kampus, meninggalkan Mbarep di rumah, tanpa memberikan briefing yang cukup tentang rencana hari itu pada orang rumah. Anak saya punya jadwal harian yang rutin dan dia cukup resisten pada perubahan. Artinya kalau ada agenda yang membuat jadwal rutinnya berubah, dia tidak bisa disuruh - suruh untuk langsung menyesuaikan diri. Bisa malah ngadat. Seperti yang terjadi siang itu.

Tiga Perempat Jam yang Panjang

Sementara saya pergi mengantar suami, Mbarep ditinggal di rumah dengan kakek, nenek, dan para pengasuh. Sebetulnya mungkin semua orang bermaksud membantu. Tau kalau dia akan ikut trial, mereka meminta Mbarep untuk bersiap - siap. Agar ketika saya datang sudah siap untuk pergi. Tapi ya itu tadi, anaknya punya sifat semakin disuruh - suruh semakin dia melawan. Apalagi kalau semua orang bicara bersamaan. Makin dia pusing dan makin dia tidak mau dengar.

Sepanjang perjalanan feeling saya sudah tidak enak. Betul saja, sesampainya di rumah, saya mendengar teriakan - teriakan, dan ketika masuk menemukan Mbarep sedang histeris di depan kamar mandi.Teriak - teriak menolak untuk mandi. Masuk ke kesalahan saya yang kedua, yaitu tidak menenangkan dia dulu malah setengah memaksa dia untuk langsung mandi. Harapan saya semakin cepat dia mandi dan bersiap semakin cepat kami bisa pergi dan menenangkan diri. Harapan saya tidak terkabul. Mbarep malah semakin histeris. Setelah mandi dia menolak pakai baju. Nangis teriak - teriak. Melempar semua barang di kamar mengeluarkan semua bajunya dari lemari. All hell break loose kalau istilah dramatisnya.

Kesalahan saya yang ketiga adalah tidak bersikap tenang dan malah mengikuti emosi. Bisa dibilang siang itu saya ikutan tantrum juga. Kesal sekali saya karena sudah menunggu lama untuk ikut trial ini tapi terancam gagal karena Mbarep ngadat. Merutuki diri sendiri karena lupa untuk memberitahu orang - orang rumah agar membiarkan saja Mbarep sampai saya datang. Meminimalkan risiko tantrum. Toh saya sudah spare waktu yang cukup untuk membantu dia bersiap dan melakukan perjalanan.

Emak Ikut Tantrum

Tantrum Mbarep hari itu jauh lebih dahsyat daripada tantrum dia sebelum - sebelumnya. Sampai 45 menit kami habiskan untuk saling teriak, dengan saya mengatakan berbagai macam hal, mulai dari bujukan, rayuan, ancaman, hingga vonis hukuman. Sampai suatu saat setelah saya mulai merasa sangat lelah dan sudah pasrah akan menyerah. Tetiba Mbarep jadi tenang sendiri. Entah kenapa. Mungkin janji saya untuk membawanya makan eskrim dan lihat - lihat toko mainan sepulang dari trial baru merasuk ke dalam jiwanya dan cukup jitu untuk menenangkan hatinya.

Dalam waktu 5 menit langsung saya membawanya ke mobil dan kami sampai tepat ketika trial akan dimulai. Mbarep tidak dalam kondisi terbaiknya. Matanya bengkak, mukanya sembab, dan saya tau dia kelelahan setelah menangis lama. Karena kekeuh hanya mau pakai baju dan celana yang dia ambil, dan kayaknya hanya asal sambar saja dari tumpukan pakaian yang dia buang keluar lemari, baju yang dia pakai hari itu adalah baju tidur yang di bagian tengkuknya ternyata bolong. Celananya untungnya tidak bolong, tapi sudah lusuh dan karetnya sudah kendur sehingga sering melorot 🙈 Dibandingkan anak - anak lain yang datang trial dengan rapi, ceria, dan menggunakan baju bagus. Tampilan Mbarep agak tidak biasa. Nggak papalah pikir saya. Apa adanya haha.

Happy Ending

Selesai trial dia cukup happy. Langsung bilang sendiri "Ibu aku cocok sekolah disini". Saya bilang ya berdoa saja, soalnya belum tentu keterima haha.

Hari keduanya dia jauh lebih semangat untuk pergi. Dari pagi sudah menanyakan kapan berangkat dan dengan happy menuruti semua kata-kata saya untuk bersiap dan pergi. Hari ketiga trial yang dilaksanakan secara online juga berhasil. Dia mau duduk tenang mengikuti instruksi guru. Lumayan. Haha.

Hari pertama diakhiri dengan ngedate berdua di Mall. Makan burger sambil lihat-lihat mainan. Sesungguhnya Ibunya yang lebih perlu hal ini buat menenangkan diri. Hahaha.  Di hari kedua dia diajak menggambar apa saja yang dia mau (dia gambar scene perang Indonesia vs. Jepang), dan di hari ketiga diminta menghias gambarnya. Mungkin karena ini dia mau dengan rela anteng saat sesi online mendengarkan instruksi gurunya.

Paparan Hasil dan Ngobrol dengan Kepala Sekolah

Paparan hasil dilakukan sekitar 3 minggu setelah trial, secara online melalui gmeet privat dengan guru yang bertugas sebagai PJ Trial. Di paparan ini guru-guru tersebut menjelaskan secara detail apa saja yang dilakukan anak saat trial lalu bagaimana sikap dan reaksinya terhadap program trial tersebut. Alhamdulillah diluar ekspektasi kami ternyata si Mbarep bisa menyesuaikan diri. Semua aspek tumbuh kembangnya dinilai sesuai dengan umurnya. Ada yang lebih di bagian imajinasi dan kreativitas. Dari hasil paparan tersebut si Mbarep dinyatakan diterima di Semi Palar.

Setelah dinyatakan diterima, selanjutnya kami langsung diminta ngobrol dengan Kepala Sekolah, yang tidak bersedia dibilang sebagai Kepala Sekolah. Ngobrol disini maksudnya untuk menyelaraskan visi antara apa yang ada di benak orang tua dengan apa yang ditawarkan sekolah. Karena kan memang sekolahnya agak-agak unik. Kurikulumnya tidak standar dan penekanannya bukan pada akademik. Tapi pada perkembangan individu si anak. Utamanya karakter.

Setelah selesai ngobrol dengan kepala sekolah kami berdua merasa paling sreg dengan sekolah ini dan mantap menyekolahkan Mbarep (serta adeknya nanti) disini.

Walaupun setelah itu pusing urusan antar jemput ya. Karena sekolahnya cuma 2 jam. Haha.

Oh iya buat yang mungkin bertanya-tanya, Semi Palar saklek di urusan usia anak yang diterima. Mbarep bulan Juli 2022 usianya baru 5 tahun 3 bulan jadi baru bisa masuk TK A, karena batas masuk TK B 5 tahun 6 bulan.

Sementara Ragil baru bisa masuk tahun depan di jenjang PG karena untuk PG usia anak minimal 3.5 tahun. Nggak apa-apalah biar matang dulu anaknya. Sesuai anjuran Diknas.

Read more ...

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Trial Bagian 1)

Ini adalah lanjutan tulisan bagian pertama tentang survey TK di Bandung Barat yang bisa dilihat di tautan ini. 

Dari 6 sekolah yang kami survey, kami memutuskan untuk mengikutkan anak kami untuk trial di 3 sekolah : Darul Hikam, Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman, dan Semi Palar. Ketiganya memiliki pro dan kontranya masing - masing. Tapi masih dalam range kami terkait feasibility dari sisi lokasi, biaya, dan program pendidikan.

Ketiga sekolah yang kami pilih setara dalam hal value for money, tapi masing - masing punya karakteristik sendiri. Satu sekolah besar yang populer dan sudah familiar bagi kami, satunya sekolah sederhana dengan kekeluargaan yang erat dan terasa hangat, satu lagi sekolah quirky yang tau maunya apa dan berani jadi beda. Lha ini sekolah apa geng SMA :')

Kami percaya ketiganya bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak kami. Apapun pro kontranya. Sekarang masalahnya tinggal kecocokan. Mana yang paling cocok untuk anak sulung kami tersayang. Untuk mengetahui mana yang cocok paling mudah ya dengan ikut trial. Ini ceritanya ya. Semoga bisa bermanfaat untuk yang sedang cari sekolah anak. 

Trial TK Darul Hikam

Rangkaian penerimaan di sekolah ini berlangsung cukup awal. Penerimaan gelombang 1 mulai bulan November, selesai bulan Desember. Padahal masuknya baru Juli tahun depan :') Tapi namanya juga sekolah populer, wajar banyak peminatnya. Sepertinya kebanyakan pendaftar juga sudah sangat yakin memasukkan anaknya kesana.

Ada 4 tahap pendaftaran : open house, trial dan wawancara orang tua, webminar dan pengumuman penerimaan, lalu pendaftaran masuk. Semua dilaksanakan secara online.

Proses pendaftaran di sekolah ini sudah sangat terstruktur dan modern. Website yang mumpuni, sistem yang rapi, petugas yang tanggap. Seperti yang bisa diharapkan dari sekolah besar.

Open House

Open house TK ini dilakukan secara online di suatu hari Sabtu di bulan November. Ada sekitar 60 peserta di acara tersebut. Tema trial hari itu adalah kerajaan binatang. 

Satu kata untuk acara ini : totalitas. Tidak mudah menarik perhatian anak - anak, apalagi secara online. Terlihat konsep acaranya dipikirkan baik - baik agar bisa semenarik mungkin. Guru - guru yang memandu acara ini semua memakai baju dan make up bertema binatang. Ada yang jadi panda, harimau, dan sebagainya. Totalitas kan?

Sebagian besar anak - anak terlihat cukup menikmati acara tersebut. Antusias menanggapi sapaan yang dilontarkan, mengikuti ajakan yang diberikan pembawa acara, hingga mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh pendongeng profesional yang diundang untuk mengisi acara. 

Sayangnya, walaupun acaranya cukup niat, si sulung termasuk sebagian kecil anak yang tidak bisa menikmati suguhan yang diberikan. Dia memang tidak begitu suka kalau diajak gerak badan terstruktur seperti senam, tari, dan sebagainya. Apalagi temanya binatang, tema yang dia tidak begitu tertarik. Semakin dia dibujuk untuk ikut, semakin dia kabur. Akhirnya menghabiskan waktu dengan lompat - lompat dan guling - guling di kasur.

Tapi kami tidak terlalu ambil pusing. Dari testimoni teman - teman yang anaknya sekolah di sana dan pengalaman pribadi saat daycare, sekolahnya cukup nyaman dan menyenangkan. Hanya saja memang pertemuan secara online ini agak menghambat penerimaan anak, terutama anak saya, tentang sekolah yang menyenangkan. Karena buat dia aktivitas online itu kurang menarik dan menyenangkan. Kecuali nonton Youtube dan Netflix 😅
Drama Mbarep ikut Open House Darul Hikam. Kabur-kaburan sama sambil rusuh berantakin kamar. Terakhir Bapaknya harus menasehati sedemikian rupa sampai dia mau coba bikin-bikin.

Trial  dan Wawancara Orang Tua

Tak berapa lama setelah open house, kami diundang untuk mengikuti trial dan wawancara, yang juga dilakukan secara online. Drama terjadi saat trial, dimana pada awalnyaMbarep menolak dengan sekuat tenaga untuk ikutan. Pakai nangis - nangis segala. Untung saat itu weekend jadi orang tuanya masih bisa waras.

Setelah dibujuk -  bujuk dengan berbagai alasan, mulai dari yang rasional sampai setengah ancaman 😆 , akhirnya mau juga dia duduk di meja belajarnya, menghadap layar tablet, dan mengikuti instruksi guru. Termasuk ikutan nyanyi walaupun cuma mau pelan - pelan seperti bisik - bisik. Sesi gerak badan tetap dia bergeming. Tidak mau ikutan. Nggak papa nggak masalah.

Trial sekolah begini, apalagi online, memang bikin orang tua deg - degan, karena tidak tau kelakuan atau celetukan apa yang akan dibuat anak - anak. Momen awkward terkadang tidak bisa dihindari.  Seperti ketika guru bertanya lagu apa yang disukai dan seorang anak menjawab lagu Blackpink 😆 Gurunya terlihat jelas bingung harus menanggapi seperti apa, tapi dengan profesional hanya berkat "oh Bu Guru  belum tau lagu Blackpink itu seperti apa", lalu mengalihkan topik.

Setelah trial, kegiatan langsung dilanjutkan dengan sesi wawancara orang tua dengan panitia penerimaan. Giliran Bapaknya yang ikutan.Tadinya mau berdua, tapi tidak dimungkinkan dengan 2 anak berkeliaran. Akhirnya bagi tugas. Saya angon bocah, Bapaknya ikutan wawancara. Pertanyaan - pertanyaan yang diajukan cukup standar. Kebiasaan anak di rumah, kesukaannya, tumbuh kembangnya, dan sebagainya.

Wawancara berlangsung cukup lancar. Mbarep bahkan bersedia dipanggil dan menjelaskan mengenai hal - hal  kesukaannya. Robot, perang, game. Saat ditanya apa dia mau sekolah disana dia hanya mengangkat bahu. Artinya dia indifferent. Terserah ayah ibu saja.

Webminar, Pengumuman Kelulusan, dan Pendaftaran Ulang

Sekitar 2 minggu setelah trial dan wawancara, sekitar awal Desember, kami diundang untuk ikut webminar penjelasan mengenai sekolah Darul Hikam. Agak kebalik sebetulnya ya. Kenapa setelah ikut proses seleksi baru dijelaskan tentang program. Tapi nggak papalah, nggak masalah haha. Kan belum tau diterima atau tidak dan apa mau lanjut mendaftar atau tidak. 

Saya ikut webminar tersebut tapi sejujurnya tidak begitu mendengarkan, karena pelaksanaannya berbarengan dengan rapat kerja yang berentetan di akhir tahun. Pokoknya setelahnya di website penerimaan siswa baru, Mbarep dinyatakan diterima di TK B dan dipersilahkan melakukan daftar ulang.

Pendaftaran ulang hanya berlangsung 1 minggu. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk mendaftar saja dulu dengan membayar biaya pendaftaran. Tapi untuk biaya lainnya, terutama uang pangkal, kami mohon izin agar bisa melakukan penundaan sampai awal Maret, karena akan mencoba alternatif sekolah lainnya. 

Trial TK Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman

Mbarep cukup excited mengikuti trial sekolah ini karena dilakukan secara offline. Suatu hari kerja, di bulan Desember, dia diantar ayahnya ke sekolah itu untuk trial. Saya tidak ikut mengantar karena kebetulan kerjaan sedang tidak bisa ditinggal. Akhir tahun memang cenderung rusuh. 

Ayahnya juga tidak bisa menunggui di sekolah karena ada sedikit urusan di kota. Jadi Mbarep langsung ditinggal sendirian. Terlihat agak tega ya 😆 Tapi anaknya santai saja kayaknya. Haha. Trial berlangsung selama 2 jam dan dilakukan bercampur dengan peserta kelas biasa. 

Setelah jam trial selesai saya mendapatkan telepon dari sekolah yang bilang kalau Mbarep belum dijemput dan ayahnya belum datang lagi. Saya telepon - telepon suami tidak diangkat. Setelah 15 menit tidak berhasil menelepon, dan pihak sekolah sudah mengirimkan pesan lagi, saya memutuskan untuk menjemput Mbarep pakai ojek online. Tapi entah kenapa siang itu, tidak ada satupun yang mau menerima pesanan saya.

Sejenak panik, sampai akhirnya muncul pesan dari sekolah. Mengabarkan Mbarep sudah dijemput ayahnya. 20 menit setelah trial berakhir. Setelah mereka berdua sampai rumah, suami cerita kalau ternyata perkiraan dia salah, perjalanan yang dia kira memerlukan waktu 20 menit ternyata molor jadi 40 menit karena jalanan macet. 

Mungkin karena sudah suasana akhir tahun. Orang - orang yang akan liburan sudah mulai berdatangan ke Bandung. Saya tanya Mbarep takut nggak tadi belum dijemput ayahnya? kata dia nggak biasa saja. "Aku main - main saja sama teman". Baiklah. The blessing in disguise dari punya anak cuek bebek 😂

Selesai trial langsung diberikan hasil assessment dan dipersilahkan untuk melakukan pendaftaran di TK B. 

Simple kan ya sekolahnya 😆
Dikirim oleh ibu guru di sekolah setelah trial. 

Read more ...

Friday, September 30, 2022

Nasib si Ragil

Perkara Warisan

Saya cukup beruntung mewarisi gen yang kuat soal urusan kulit. Kulit saya, walaupun tidak mulus-mulus amat, tapi tidak pernah bermasalah serius. Mungkin itu sebabnya saya agak cuek mengenai masalah perawatan kulit. 

Ketika saya menikah, suami saya ternyata punya turunan asma berat dari kedua belah pihak orang tuanya. Penyakit yang inti utamanya alergi ini, jika tidak diturunkan dalam bentuk aslinya, akan bermanifestasi menjadi masalah kulit. 

Anak pertama saya, si Mbarep, walaupun tidak pernah didiagnosa dengan asma, tapi waktu usia batita sering sekali sakit yang berkaitan dengan infeksi pernapasan. Sampai kami lelah. Setiap bulan ada saja sakitnya. IGD sudah mirip rumah kedua. Akibat dari kombinasi orang tua panikan dan anak yang kalau sakit mengkhawatirkan. Karena kalau Mbarep sakit, pasti demam. Kalau demam suhu tubuhnya selalu diatas 40 dan entah kenapa tidak mempan parasetamol biasa.  

Tapi semakin dia besar, penyakitnya semakin berkurang. Alhamdulillah sehat sampai sekarang. Mungkin gen saya, yang sama sekali tidak punya turunan asma, cukup kuat di Mbarep, jadi asmanya tidak jadi parah.

Beda nasib dengan anak kedua saya, si Ragil. Sebetulnya anak saya ini termasuk yang jarang sakit. Apalagi dia melalui masa batitanya saat pandemi. Tapi ternyata dia dapat jackpot turunan asma dalam bentuk gangguan kulit yang tidak nanggung-nanggung. Menguras emosi jiwa, raga, dan juga kantong kami, orang tuanya. 

Awal Mula

Bermula di beberapa minggu setelah dia lahir. Muka Ragil penuh bruntus. Tentu saja dia sering rewel. Karena dia asi eksklusif, jadi hal pertama yang saya curigai adalah alergi makanan. Tapi menurut dokter spesialis anak langganan kami, kalau lihat frekuensi dan bentuknya, kemungkinan si Ragil alergi keringatnya sendiri. Baiklah. Ada juga alergi semacam itu. Kita sih percaya dokter saja ya. Kata dokter untuk anak seperti itu pakai baju satu lapis saja. Jangan sampai kepanasan. Jadi semenjak itu kami mengucapkan selamat tinggal pada singlet bayi. 

Lalu masuklah masa pandemi. Mau ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut kurang memungkinkan. Untungnya saat awal pandemi itu juga, bruntusa si Ragil berangsur hilang. Jadi kami tidak terlalu ambil pusing. 

Karena Digigit Bukan Hanya Sakit

Sampai suatu hari, ketika usia Ragil sekitar setahun, kami menyadari kalau, setiap kali Ragil digigit nyamuk atau semut, bekas gigitan tersebut langsung jadi bengkak. Seperti alergi. Awal pertama muncul alergi ini, bengkaknya hanya disekitar bagian yang digigit saja. Tapi lama-lama makin parah, sampai pernah semuka-muka bengkak karena digigit nyamuk. Sudah begitu setelah bengkaknya kempes, kulitnya jadi kehitaman.  Berdasarkan konsultasi dengan dokter anak, kami berkenalan dengan Dextamine dan kawan-kawannya.

Masalah belum selesai. Tak lama setelah muncul alergi gigitan serangga, pada bagian-bagian kulit tertentu di tubuh Ragil muncul lapisan yang kasar dan menebal. Suami tau itu eksim karena dia dan adiknya, yang tidak kena asma, punya eksim sampai dewasa. Dokter meresepkan salep Apolar Desonide untuk dioleskan ke bagian-bagian yang terkena eksim. Tujuannya melembutkan kulit agar tidak gatal. Kalau kami lupa sehari saja mengoleskan salep, Ragil pasti sudah menggaruk bagian tersebut sampai luka. Jangan tanya penampakannya. Ngeri banget lah. Eksim ini masih ada sampai usia Ragil sekitar 15 bulan, lalu tiba-tiba mereda. Sampai sekarang alhamdulillah tidak muncul lagi. 

Persoalan Kaligata 

Waktu usianya sekitar 18 bulan. Ragil mulai sering mengalami kaligata. Awalnya saya pikir karena dia alergi telur atau seafood. Karena Mbarep dulu juga sempat alergi. Makin hari kaligata Ragil semakin parah. Saat periksa ke dokter, kami disarankan untuk mengoleskan lotion bayi, dan memberikan Dextamine kalau alerginya sudah sangat parah. Soalnya kalau sedang kumat, bisa semalaman saya dan Ragil tidak tidur. Karena dia super rewel dan saya harus mengelus-elus seluruh bagian tubuhnya yang bentol-bentol. 

Puncaknya saat kami harus ke Semarang, yang panasnya luar biasa. Selain kaligata, di telapak kaki Ragil juga muncul bintil-bintil berair. Mirip cacar, tapi bukan. Lotion sudah tidak mempan. Telepon dokternya katanya kasih Dextamine saja. Dextamine setiap hari. Tiga kali sehari. Selama 10 hari. Double dengan cetirizine sekali sehari. Sampai kami pulang ke Bandung.

Kami tidak bisa ke IGD atau dokter, karena saat itu sedang puncak covid. 

Kondisi itu bertahan selama sekitar 3 bulan. Ketika covid sedikit mereda dan kami punya kesempatan untuk ke dokter kulit, tiba-tiba suatu hari kaligatanya hilang sendiri. Tidak muncul lagi. Untuk pertama kalinya dalam 3 bulan saya bisa tidur nyenyak. Sungguh berasa kena prank :)) Akhirnya kami memutuskan menunda ke dokter kulit dan berdoa semoga masalah kulitnya memang sudah pergi.

Kolase yang cukup mengerikan. Berbagai masalah kulit yang dialami Ragil. Bahkan sempat ada episode dimana punggung dan pantat Ragil seperti habis dicakar cakar kucing. Banyak goresan, luka berdarah, dan sebagainya. Semoga sudah dapat penanganan paling cocok dan tidak terjadi lagi di masa depan. Amin. 

Akhir yang Cukup Bahagia (Semoga Selamanya)

Ketika usianya 2.5 tahun, Ragil didiagnosis dengan TBC kelenjar. Bersamaan dengan pengobatannya, kaligatanya kembali muncul. Lebih parah dari sebelumnya. Saat itu, Ragil sudah tau kalau gatal dikasih yang panas-panas rasanya enak. Jadi dia selalu minta diolesi kutus-kutus atau minyak kayu putih kalau gatalnya muncul. Mungkin dia juga terpengaruh ayahnya yang kalau gatal digigit nyamuk, hobinya oles-oles minyak kayu putih.

Setelah sekitar 1 bulan gatalnya semakin parah dan frekuensinya semakin sering, akhirnya kami bawa Ragil ke dokter kulit. 

Sekilas melihat ragil, dokter kulit langsung bilang, "Suka dipakein minyak ya? bedak?". Saya mengangguk. Dokter itu kemudian berceramah. "Anak ibu ini kulitnya menak. Tahu Ibu? artinya kulitnya harus bersih terus. Lembab terus. Nggak bisa kena minyak-minyak dan bedak begitu.".

Saya dan si dokter sama-sama menarik napas. Rupanya sambil mendengarkan ceramah dokter, tanpa sadar saya menahan napas. Lalu sambil menuliskan resep, dokter ini meneruskan.

"Sepanjang saya sekolah, tidak pernah ada ilmu yang bilang kalau minyak dan bedak bisa mengatasi masalah kulit. Jadi jangan dikasih lagi ya Bu. Ini bukan alergi makanan atau alergi yang lain. Kunci kulitnya tidak gatal hanya bersih dan lembab. Olesi lotion ini, tiga hari sekali dan pakai sabun ini untuk mandi. Setiap selesai main yang kotor-kotor harus langsung mandi ya"

Dokter menyerahkan resep ke saya. Tertulis di sana Cetaphil Pro Ad Derma. Lotion dan sabun. Juga Cetirizine setiap hari. 

Sambil tersenyum dokter itu berkata "Ibu Bapaknya ngalah dulu ya, nggak usah skin care-an yang mahal-mahal. Sampai anaknya bisa beli sendiri".

Lalu sayapun menebus resep di apotik. Lumayan yaaa...kosmetik bocil ini. Sebulan habis masing-masing 1 botol karena dipakainya harus sering :')

Yah semoga ada rezekinya. 

Penutup

Setelah pakai Cetaphil Pro Ad Derma, masalah kulit Ragil memang secara signifikan membaik. Masih terus ada beberapa masalah baru yang muncul seperti alergi parasetamol (harus pakai Ibuprofen) dan kalau demam keluar ruam setubuh-tubuh. Tapi sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah. Nasibnya anak Ragil :))

Read more ...

Wednesday, September 21, 2022

Kisah Saya dan Para Driver Ojek Online

Masak adalah salah satu urusan rumah tangga yang keluarga kami outsource ke orang lain. Boros memang, tapi ternyata kami, terutama saya, lebih bahagia tidak usah memikirkan mengenai menu makanan dan kegiatan masak setiap hari. Belum lagi urusan belanja dan manajemen bahan masakan. Jadi mari kita anggap trade off saja. 

Karena pilihan kami ini, mau tak mau saya jadi berteman akrab dengan fitur pesan makanan di aplikasi ojek online. Selain jadi sedikit ahli mengetahui diskon-diskon yang bisa dimanfaatkan, saya juga jadi punya beberapa cerita mengenai para driver yang mengantarkan pesanan saya. Di Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September ini saya akan ceritakan beberapa diantaranya yang saya ingat sampai sekarang.

Baju Ragil

Kalau bel rumah berbunyi, anak-anak saya biasanya akan minta ikut ke siapapun yang beranjak membukakan pintu. Paling gembira kalau yang datang kurir pengantar paket. Karena mereka selalu berharap paket yang datang berisi mainan.

Suatu sore saya menggendong Ragil saat menemui driver yang mengantarkan pesanan saya. Setelah menyerahkan makanan, driver itu langsung pamit. Ketika menutup pagar, saya melihat kalau si driver sejenak menghentikan langkah dan menoleh ke arah kami. Seperti berpikir. Tapi karena dia tidak bilang apa-apa, jadi saya juga tidak berpikir apa-apa.

Setelah magrib saya menerima WA dari nomor tidak dikenal:
"Assalamuallaikum Bu. Bu saya driver yang tadi datang.  Boleh saya minta baju untuk anak perempuan yang sudah tidak dipakai? Untuk anak saya usia 2 tahun". "Waallaikum salaam.Boleh" jawab saya singkat. Saya pun memintanya untuk kembali setelah Isya.

Saya ambil beberapa helai pakaian Ragil yang sudah jarang atau malahan tidak pernah dia gunakan. Anak wedhok saya ini memang agak particular selera fashionnya. Macam Mark Zuckerberg. Bajunya cuma satu jenis saja. Sama model, warna, dan gambar. Jadi ada banyak bajunya yang tidak tersentuh. Apalagi yang modelnya menuruti obsesi emaknya. Semoga besarnya jadi billioner juga ya Nak. Amin. Saya serahkan baju-baju itu ke driver yang datang kembali tepat waktu. Setelahnya saya tentu saja lupa dengannya.

Sampai suatu hari, saya mengambil pesanan lagi di depan rumah. Driver yang mengantar pesanan dengan sumringah menyapa saya. "Bu masih ingat? saya yang pernah minta baju anak sama Ibu. Makasih ya Bu. Anak saya senang sekali. Isteri saya juga senang. Akhirnya anak saya punya baju bagus. Soalnya saya nggak punya uang untuk belikan baju yang bagus-bagus. ". Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengarnya. Alhamdulillah.

Salah Pencet yang Tidak Salah-Salah Amat

Beberapa tahun lalu, waktu aplikasi ojek online baru muncul dan fitur layanan pesan makanan masih versi beta, sistemnya masih lebih mirip jasa titip. Sangat tergantung pada kepercayaan antara pengguna dan driver.

Suatu hari si Mbarep, yang memainkan HP saya yang tergeletak sembarangan, tak sengaja membuka aplikasi ojek online dan memberikan rating 1 bintang untuk driver yang baru saja mengantarkan pesanan bakso saya. Karena dapat bintang 1 otomatis driver tersebut diskors. Padahal dia nggak ada salahnya.

Menyadari hal yang terjadi, saya dengan panik mencoba menelepon customer service aplikasi, tapi sampai berapa lama tidak berhasil. Saat masih sibuk dengan telepon, bel rumah saya berbunyi kembali. Ternyata driver yang dapat bintang 1 itu datang lagi. Saya sudah bersiap memberi penjelasan, minta maaf, dan memberi kompensasi ketika tiba-tiba driver tersebut malah minta maaf lebih dahulu.

"Ibu, minta maaf ya Ibu. Saya khilaf. Tadi itu warung yang Ibu pesan tutup. Tapi kalau cancel, nanti bonus saya dipotong. Terus saya juga perlu cash. Jadi saya inisiatif beliin Ibu dari tempat lain. Hampura ya Ibu kalau tidak berkenan sampai kasih bintang 1".

Saya ingat tidak tahu harus bilang apa. Soalnya saya sama sekali nggak sadar bakso yang saya pesan bukan yang seharusnya. Jadi saya cuma bilang kalau saya juga nggak sengaja kasih dia bintang 1 lalu memberi kompensasi yang memang sudah saya niatkan. Bagaimanapun dia sudah kena skors. Utamanya karena saya. Setelahnya saya meninggalkan si driver yang terbengong-bengong, lalu menyantap bakso salah alamat yang rasanya lumayan juga.

Mendadak Jumat Berkah

Suatu hari, seorang kerabat mengabari mendadak kalau dia dan keluarganya akan mampir ke rumah. Karena waktunya sudah mendekati makan malam, saya berinisiatif pesan makanan untuk menjamu mereka. Saya pun memesan Soto Betawi via aplikasi ojek online.

Entah aplikasinya yang error, hp saya yang bapuk, internet yang labil, atau saya yang kurang konsentrasi. Setiap kali saya mencoba pesan dan menyelesaikan pembayaran, aplikasinya ngehang. Tidak bisa saya pencet-pencet. Bodohnya saya ketika itu, tidak cek bagian aktivitas di aplikasi dan malah berasumsi pesanannya gagal dan mengulangi pemesanan dengan serta merta.

Akhirnya malam itu saya menerima 8 ojek online yang semuanya membawa 5 porsi soto betawi. Karena saya dan yang di rumah tentu tidak bisa menghabiskan semuanya jadi kami minta 6 driver untuk membawa pulang pesanan tersebut. Mereka happy, saya tekor. Budget pesan makanan online dalam sebulan langsung kandas :))

Anggap saja Jumat berkah. Walaupun waktu itu Senin.

Anakmu Tanggung Jawabmu

Suatu hari, ada rapat mendadak di kantor. Karena waktunya mepet, saya pesan konsumsi via ojek online. Saya kasih pesan disana untuk menelepon ke teman saya yang bagian pantry, karena saya suka nggak ngeh sama notifikasi. Sekitar setengah jam kemudian saya dapat telepon dari driver. Begitu telepon saya angkat, si driver langsung nyerocos memburu-buru saya untuk langsung menerima pesanan. Saya minta dia untuk telepon ke nomor yang saya kasih. Karena posisi saya saat itu tidak di dekat lokasi dia menunggu.

Semenit kemudian driver tersebut menelepon kembali, bilang kalau teman saya nggak datang-datang. Saya cek aplikasi baru 2 menit dari driver sampai ke lokasi. Saya kontak teman saya, memastikan dia sudah jalan. Tapi memang jalannya agak memutar karena ada konstruksi. Perlu sekitar 2 menit lah. Dari biasanya 1 menit.

Dalam 30 detik setelah menelepon, si driver sudah mengirim WA lagi. "Hallo, tolong diambil pesanannya. Saya dapat double order". Saya balas "Iya tunggu sedang jalan". Si driver kembali menulis kalau dia dapat double order jadi saya seharusnya lebih cepat ambil pesanan. Malah harusnya saya sudah menunggu dia di lokasi. Setelahnya dia telepon-telepon lagi yang tidak saya angkat.

Menurut saya double order bukan justifikasi kenapa saya harus diburu-buru ambil pesanan. Kan salah dia sendiri. Lagian 5 menit juga belum. Buat saya 5 menit menunggu masih waktu yang sangat wajar. Saya jadi kesal dan masuk mode ngomel.
"Pak, kan Bapak sendiri yang terima double order. Kenapa saya jadi yang diburu-buru begini ya?", tulis saya sedikit emosi.

"Takutnya pembeli yang satu lagi kelamaan nunggu Bu. Terus saya dapat rating jelek", balasnya.

"Pak, saya juga customer lho. Saya juga bisa kasih rating jelek. Memang Bapak pikir dengan sikap Bapak seperti ini saya harus kasih rating apa?", balas saya langsung.

"Maksudnya apa Bu? Ibu bisa kasih saya rating jelek? Anak saya ada 2 Bu. Ibu mau tanggung jawab kalau anak saya nggak bisa makan karena saya diskors?? Mikir dulu Bu kalau mau kasih rating"

"Nggak. Saya nggak mau tanggung jawab. Kan bukan salah saya Bapak dapat rating jelek. Salah Bapak sendiri juga kalau anak-anak Bapak nggak bisa makan. Mikir dulu Pak sebelum bersikap"

Lalu saya block contact.

Buat yang berpikir saya punya entitlement mentality karena bersikap seperti itu pada orang "kecil", coba dipikirkan apakah bukan driver itu yang bersikap "entitled" karena merasa "orang kecil"? Karena merasa ada di posisi yang lebih "tidak berdaya" jadi orang lain harus maklum, paham, dan menuruti maunya.

Bukan begitu cara kerja dunia Pak.

Dan saya tidak kasih rating apa-apa. Jadi kalau diskors jelas bukan salah saya.

Kenapa ini nulisnya masih pakai emosi juga ya :))

Penutup

Demikian kisah saya dengan para driver ojek online. Sayangnya tidak jadi diikutkan tantangan karena saya ketiduran. Sekian.




Read more ...