Saturday, June 20, 2026
Orang Tua Zaman Dulu Ngapain Sih?
Wednesday, May 20, 2026
Hari Biasa Cuma Ada Tapinya
Mungkin Tuhan tau kalau kami ketemu isinya cuma "menganalisis orang", jadi tidak dibiarkan sering-sering.
Makanya sampai menghadapi esok haripun saya tidak berani berencana terlalu detail. Que sera-sera kalau kata lagu lama.
Berusaha mengesampingkan perasaan galau, saya mengambil wudhu dan membangunkan suami yang harus pergi pukul 5 pagi.
Di hari itu saya harus mengikuti workshop seharian di kantor. Sementara suami harus pergi mengajar ke Cirebon. Sebetulnya tidak ada hal khusus yang harus saya siapkan untuk menghadapi hari itu.
Selesai sholat subuh saya beranjak menyiapkan bekal anak-anak dan sarapan. Berkutat di dapur kemudian dilanjutkan mandi dan sarapan, saya baru lihat HP lagi sekitar pukul 06.15.
Hari yang biasa pun dalam sekejap berubah jadi tak biasa.
Adalah suatu konsesus di kalangan ibu-ibu, dimana semakin ibu rungsing maka semakin ajaib pula tingkah anak-anak. Hari itu Ragil memutuskan bangun sebagai kucing. Kucing lucu yang perlu dibujuk untuk mandi dan bersiap.
Alhamdulillah keduanya utuh sampai sekolah. Walaupun muka Ragil belepotan bekas air mata karena di mobil berantem sama kakaknya.
Gelut sih lebih tepatnya.
Untung sekolahnya dekat. Cuma 10 menit dari rumah. Kalau di seberang kota kayaknya saya sudah menyerah di jalan. Mending melipir makan seblak dan goyobod sambil bikin thread tentang pertempuran Pandawa dan Kurawa.
Berhasil ikut workshop dari awal saya anggap prestasi istimewa. Apalagi masih bisa absen di nomor 5 teratas. Untung saya tinggal di Indonesia dimana jam dinding di setiap ruangan menunjukkan waktu yang berbeda. Tidak ada yang tau waktu yang sebenarnya.
Keikutsertaan saya di workshop sesi pagi berjalan lancar. Anak-anak juga sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan aman.
Mana sore itu jalan ke arah rumah merah membara, kombinasi hujan yang awet dan lampu lalu lintas yang entah kenapa nampaknya memihak satu jalur saja. Perjalanan 30 menit jadi molor 90 menit.
Sampai di rumah yang gelap gulita, akhirnya secara impulsif memutuskan buat bawa anak-anak ngungsi ke mall saja sampai Bapaknya datang.
Suami menyusul ke mall. Kami langsung pulang begitu dia datang.
***
Dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei degan Topik Hari Biasa yang Tak Biasa.
Monday, April 20, 2026
Kita Semua Kenal Tante Yuli
*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.
Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.
Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan.
Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.
Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.
Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.
Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (ðĢ). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.
Rangking berapa? (ðĢ)
Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga.Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.
Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Kalau kata statistik populasinya beda. Seperti membandingkan ikan air tawar dan ikan air laut. Lagian saingan rangking ini buat apa sih?
Tapi ibu anak ini tentu saja tak sependapat soal populasi. Bahkan sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".
Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah dan jadi super ramah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.
Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa.
Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.
"Rangking berapa?", tanyanya.
"Tiga...", jawab saya.
"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.
"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante...dari 14 kelas. Kalau kelas aku doang sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku menyuruh diam.
Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.
Gembrot (ðĢðĢðĢðĢ)
Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.
Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.
Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.
Saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".
Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.
Suruh Siapa Punya Anak?! (ðĢðĢðĢðĢðĢ)
Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".
Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF.
Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.
Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.
Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak.
Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Sekali towel pada hamil. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.
Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.
Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.
Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.
Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu. Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.
Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:
“Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".
Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.
Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.
Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab:
"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"
Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.
Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.
Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.
Antivaks ya? (ðĢðĢðĢ)
Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.
Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi saya dan suami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini dan suaminya sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.
Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".
Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.
“Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.”, katanya dengan khusyuk.
Setelah mendengar ceramah 5 menit yang bagaikan mendengarkan orang membacakan reels dokter di instagram, saya jadi penasaran sebab dan musabab ceramah ini apa.
“Memang siapa sih yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan. Saudara saya ini menatap saya.
“Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.
“Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.
“Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.
"Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.
“Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.
“Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga...”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.
“Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks? Terus harus posting dimana emang sebagai tanda pro vaksin?!!”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.
Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!
D1 kan? (ðĢðĢ)
Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.
Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.
Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.
Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.
Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.
Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.
Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.
Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.
“Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.
“Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.
“Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.
“Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.
Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.
Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami.
Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B:
“Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Di luar negeri lagi. Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.
Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.
***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri?
Monday, March 16, 2026
Humor yang Berevolusi
Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.
Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya sudah mencapai financial freedom juga.
Menyesal karena tidak serius untuk lucu.
Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.
Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.
Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.
Wednesday, February 25, 2026
Regulo 70
Rumah Biasa Hanya Ada Tapinya
Sungguh aneh ketika suatu tempat yang tidak pernah saya tinggali secara permanen ternyata menyimpan cukup banyak porsi ingatan inti di kepala saya.Wawasan yang Luas
Hubungan Antar Saudara
Membaca berbagai utas di media sosial tentang hubungan antarsaudara, kadang membuat saya bersyukur. Saudara-saudara saya, baik yang inti maupun sepupu, semuanya baik-baik saja. Nggak ada yang neko-neko. Semuanya hidup masing-masing tanpa saling mengganggu.Karena hubungannya juga baik, saya bisa sewaktu-waktu kontak tanpa harus merasa sungkan.
Tidak Putus Silaturahmi
Saya punya kenangan yang kuat (mungkin bahkan terlalu kuat) tentang Lebaran karena keluarga Bapak saya. Bahkan saya ingat pernah ngambek sengambek ngambeknya kepada orang tua karena tahun itu kami Lebaran di Bandung, tempat keluarga Ibu saya, dan bukan di Boyolali.Anyway, melihat keluarga suami, jelas saya jadi punya keinginan untuk kumpul-kumpul keluarga saya juga. Supaya anak-anak saya tahu keluarga ibunya, apalagi kedua eyang mereka, orang tua saya, semua sudah tidak ada.
Penutup
Rumah di Regulo 70 masih berdiri tegak sampai sekarang. Masih sedia menyambut para penghuni lamanya kalau ada yang kangen untuk pulang. Walaupun rasanya sudah tak lagi sama, bahkan aromanya juga sudah berbeda, tapi rumah itu tetap menjadi monumen sejarah yang akan selalu saya ceritakan ke anak cucu saya kelak.Hanya 15 tahun saya menikmati keseruannya, itupun mungkin hanya 5 tahun yang benar-benar saya ingat. Tapi sebagai sebuah tempat, ingatan tentang Regulo 70 tak lekang sepanjang masa.
Sunday, November 30, 2025
Firasat atau Indera Keenam
Anyhow, ketika saya sudah jadi Ibu-Ibu, sepertinya saya juga menuruni bakat Ibu. Entah bakat atau keberuntungan ya. Pokoknya masih di luar nalar. Ini saya ceritakan beberapa diantaranya.
Seringkali saya tau akan berurusan dengan suatu hal, padahal belum terjadi.
Seringkali Seperti Semesta Membantu Saya Memahami Sesuatu
Sebagai sampingan, kadang saya membantu dosen untuk melakukan kajian. Karena dasar bidang keilmuan kami di Teknik Industri, kajian yang dilaksanakan topiknya bisa bermacam-macam. Dari yang nyambung hingga tak nyambung. Dari yang familiar hingga yang awam.Paling ultimate adalah beberapa saat kemudian saya diajak untuk ikut kunjungan lapangan ke perusahaan yang sedang mengembangkan produk baja tahan gempa. Padahal saya tidak pernah diajak kunjungan lapangan. Plus yang mengajak ini tidak punya kaitan dengan kajian yang saya sedang terlibat di dalamnya.
Tau cerita lengkap padahal nggak nyari-nyari.
Entah kenapa orang banyak yang suka tiba-tiba cerita apapun sama saya. Padahal saya nggak nanya. Mungkin tampang saya memang curhatable. Atau saya memang enak diajak ngobrol. Entahlah.Jadi bisa nih saya lagi asyik membuat surat permohonan penebangan pohon, tetiba ada si A yang datang lalu curhat tentang kambing yang dia pelihara susah melahirkan. Hal-hal nggak nyambung gitu lah.
Tapi seperti pepatah ada hikmah di setiap kejadian, biasanya nanti saya akan mendapatkan perspektif lain mengenai cerita yang disampaikan ke saya.
Misal soal kambing melahirkan itu, biasanya nanti ada yang curhat lagi ke saya, kenapa si A keliatan murung sekali, jadi suasananya nggak enak setiap ketemu. Nah saya jadi bisa bilang kalau si A kambingnya lagi susah melahirkan makanya dia jadi nggak mood ngobrol.
Akhirnya orang yang nanya dapat pencerahan. Karena hal-hal ini di kantor saya malah jadi semacam hub gosip. Sampai-sampai tiap saya ketemu orang-orang yang ditanya pertama kali: “ada gosip apa?”. Harus haha atau huhu ini sodara-sodara?.
Cuma karena saya dapat ceritanya langsung dari asalnya, nggak gosip gosip amatlah (pembenaran).
Cukup bisa membaca orang
Seperti Ibu saya, ternyata saya juga cukup mahir membaca “orang”. Saya bisa tau mana orang yang tulus, mana yang manipulatif, mana yang beneran baik, mana yang cuma pura-pura. Apakah pengetahuan itu berguna bagi saya? Nggak juga sih, soalnya ke semua orang (kecuali beberapa orang terdekat), saya biasa saja.Lalu seperti ibu saya, feeling saya ternyata juga kuat soal persoalan hidup. Jadi misalnya saya sedang mengalami kesusahan apapun. Kalau hati saya rasanya nggak enak banget dan suasana di sekitar saya jadi terasa remang-remang, biasanya masalah itu cukup berat dan perlu kesabaran extra. Tapi kalau hati saya plong dan pikiran saya masih tetap jernih, dalam waktu dekat selalu ada jalan keluar untuk masalah yang saya hadapi seberapapun rumitnya.
Dari semua hal diatas adakah yang pernah mengalami hal yang sama? Kalau banyak, berarti sebenarnya memang ada tanda-tanda di sekeliling yang bisa dibaca. Hanya sensitif atau tidaknya tergantung masing-masing orang.
Wallahualam.
Ditulis untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gakah Ngeblog Bulan November 2025 dengan Tema Diluar Logika.

.jpg)






.png)
