Thursday, January 27, 2022

Surat untuk Ibu

Hallo Bu,

Apa kabarnya?

Bu, nggak kerasa 31 Januari 2022 ini genap lima tahun terakhir aku ketemu ibu. Ya kerasa sih sebetulnya. Tapi it gets better. Eits, jangan manyun dulu Bu, bukan berarti aku lupa sama Ibu kok. Cuma sudah lebih bisa nerimo lah. Hihi. 

Eh, aku sudah pernah cerita tentang hari itu belum sih Bu? 31 Januari 2017. Hari saat ibu pergi. Kayaknya belum pernah ya. Aku belum pernah cerita kesiapa - siapa sih memang. Sekarang aku cerita ke Ibu deh. Aku udah bisa kok nulisnya nggak pakai nangis lagi.

Ibu masih ingat nggak? Tanggal 30 Januari malam, setelah Isya, Ibu nyuruh aku sama Bapak pulang ke rumah. Ada Bude yang bisa gantian jagain Ibu, jadi Bapak bisa istirahat. Bapak sudah kecapekan banget karena hampir dua minggu non stop nungguin Ibu sendirian. Aku sama adek nggak bisa gantian ke Semarang jagain Ibu dua minggu itu karena ada kewajiban lain. Andai kami tau ya Bu. Kewajiban apa coba yang lebih penting dari Ibu? 

Aku juga sudah pengen banget rebahan setelah naik kereta api delapan jam dari Bandung. Pegal sekali badan. Jadi menyesali, kenapa di kamar Ibu waktu itu nggak ada sofanya ya. Kalau ada kan aku bisa bobo disana. Waktu kami pamit mau pergi, Ibu ceria sekali. Habis makan banyak dan becanda terus. 

Malam itu di rumah, aku sama Bapak makan enak pakai sop buntut. Kesukaan Ibu ya sebetulnya. Sayang Ibu nggak ikut makan. Bapak makan lahap banget deh Bu. Alhamdulillah nggak salah pilih menu. Setelahnya kami tidur nyenyak sekali. Saking nyenyaknya, mimpi pun enggak. Sudah lama aku nggak tidur nyenyak begitu. Dua bulan lebih tidurku gelisah. Kepikiran tentang Ibu. 

Tapi ternyata mimpi buruk itu datang keesokan harinya setelah Subuh. Bude telepon. Histeris menyuruh aku dan Bapak cepat datang.

Aku masih ingat, aku dan bapak hanya terdiam sepanjang perjalanan, yang rasanya lama sekali. Radio mobil Bapak yang tidak bisa dimatikan karena rusak memainkan lagu yang aneh. Sungguh aku nggak pernah tau lagu apa itu Bu. Aku belum pernah dengar sebelumnya. Tapi liriknya seperti dikirim Ibu untuk Bapak.

Aku pergi dulu, jangan kau tangisi terlalu lama.
Adegan setelahnya seperti dalam sinetron deh Bu. Sinetron yang sering Ibu tonton malam - malam itu. Sayangnya ini nyata. Jadi aku nggak bisa ketawa - ketawa seperti biasa. Aku turun duluan dari mobil sementara Bapak parkir. Saat aku lewat, suster - suster yang biasanya ramah menyapa, kali ini hanya diam saja. Malah ada yang pura - pura tak lihat. Sampai depan kamar Ibu, aku disambut oleh Ustad yang mengucapkan belasungkawa. Di samping kamar sudah ada keranda.

Di dalam kamar, bude sedang membereskan barang - barang. Sikapnya tenang. Terlalu tenang malah. Aku tau beliau terguncang. Menyaksikan Ibu pergi pasti bukan pengalaman yang mudah dilupakan.

Ibu terlihat damai sekali saat itu Bu. Wajah Ibu cerah. Seperti tidur saja. Seutas senyum di bibir Ibu. Cantik sekali.

Aku heran waktu itu aku malah nggak nangis Bu. Nggak bisa nangis tepatnya. Rasanya seperti mati rasa. Seperti ada yang menyabut kabel emosiku. Cuma hampa yang terasa.

Bapak datang tak berapa lama. Tegar sekali. Malah masih sempat mengurus administrasi dan menelepon kesana kemari. Entah dapat kekuatan darimana. Sepertinya waktu itu Bapak juga sama denganku deh Bu. Mati rasa.

Aku nggak tau harus ngapain. Jadi aku cuma telepon Abem, minta dia segera datang. Hari itu jadwal dia ngajar di Jatinangor. Untung dia belum berangkat, jadi bisa ngejar pesawat siang untuk ke Semarang. Lalu aku telepon Adek. Untung dia juga masih bisa ngejar pesawat untuk ke Semarang. Baba hari itu juga nggak ke pabrik, jadi bisa pergi bareng. Setelahnya aku duduk saja diam di pojokan. Menunggu Bapak selesai.

Di mobil saat perjalanan pulang, kembali aku dan Bapak terdiam. Sampai akhirnya di suatu lampu merah, sepertinya tsunami kenyataan menghantam Bapak dan beliau langsung menangis kencang - kencang.

Sampai rumah di pagi hari itu adalah yang terburuk Bu. Rasanya hari sudah berjalan lama sekali tapi ketika kami sampai di rumah baru jam setengah delapan pagi. Di rumah sudah ada keramaian menunggu. Tetangga, kerabat, dan handai taulan. Cepat sekali ya kabar menyebar. 

Semua orang sibuk mempersiapkan ini itu untuk mengantarmu pulang ke peristirahatan terakhirmu. Semua orang juga ribut mengerumuniku. Menanyakan kronologis kepulanganmu pagi itu.  Suasana muram. Semua wajah menunjukkan kesedihan, kegetiran, atau penyesalan. Cerita - cerita tentang Ibu bercampur baur di udara. Betapa baiknya. Betapa cepatnya pergi. 

Ibu tau kan aku tak suka keramaian. Semakin ramai, semakin aku ingin sendirian. Kepalaku mulai pusing dan dada rasanya sesak. Jadi aku kabur. Kukunci diriku di kamar. Sampai Abem dan Adek datang. Tak kupedulikan mereka yang ada. Aku nggak sanggup menghadapi orang - orang itu dengan segala pertanyaan, komentar, dan teorinya.

Biasanya Ibu pasti akan menyereweti aku, kalau tau aku kabur seperti itu. Tapi biarlah pikirku. Toh Ibu tak ada lagi disitu. Ku tak peduli kalau orang lain yang ribut.

Kenapa orang yang datang ke rumah yang sedang berduka malah sering bawel ya Bu? Tanya ini itu. Komentar begini begitu. Malah sampai ada tamu yang pengen aku tonjok beneran Bu. Tampar deh. Tonjok kayaknya terlalu brutal. Kesal sekali aku karena komentarnya tentang sakitnya Ibu. Katanya Bapak, Aku, dan Adek nggak peduli sama Ibu, sampai nggak tau Ibu sakit parah.

Wow. Sok tau sekali pikirku. 

Untung saat itu Abem sudah datang. Tau kalau aku emosi dia langsung menggeretku menjauh. Ingat - ingat bayi di perutmu, katanya. Kasihan dia kalau kamu emosi.

Gara - gara itu, sampai sekarang kalau harus pergi mengunjungi orang yang tengah kehilangan orang tersayang, aku cuma mengucapkan kata - kata simpati, lalu aku diam saja. Kecuali orang yang kutemui mau cerita lebih dulu. Tapi itupun tak akan aku tanya - tanya, atau komentari, apalagi berteori. Aku cuma bakal mendengarkan saja. Betul nggak sih sikapku, Bu?

***

Wah sudahlah, pokoknya hari saat Ibu pergi dan setelahnya adalah hari - hari terlama dan terberat dalam hidupku Bu. Waktu rasanya lambat sekali berlalu. Rumah masih sama dan rasanya Ibu seperti tidak pergi selamanya. Hanya pergi ke sekolah untuk mengajar saja seperti biasa atau arisan dan pengajian ke rumah tetangga. Berkali - kali kulirik pintu depan, berharap Ibu akan datang dan membuktikan kalau hari - hari itu bukan kenyataan.

Tapi tentu yang terjadi bukan impian. Ibu memang sudah pulang. Bukan ke rumah yang biasa, tapi pergi ke Pemilik Ibu.

***

Eh, ngomong - ngomong soal bayi. Si bayi yang waktu Ibu pergi masih berumur 6 bulan di perutku, sekarang alhamdulillah sudah jadi anak umur 5 tahun lho. Kata orang - orang dia mirip sekali denganku. Dari muka sampai kelakuan.

Kalau sedang kesal menghadapi dia dan adeknya, aku sering ingat denganmu Bu. Aku tau dulu Ibu juga sering jengkel dengan aku dan adek, karena kami kompak ngeselinnya. Cuma Ibu baik hati saja, jadi kami cuma sesekali kena murka. Haha. Sayang Ibu sudah nggak ada disini buat ngetawain kami. Nyukurin kami karena kena batunya. Punya anak - anak yang kelakuannya persis sama dengan kami dulu.

***

Ibu, Ibu datang dong ke mimpiku. Aku kangen sama Ibu.

***

Semoga nanti kita bisa ketemu lagi ya Bu. Cerita - cerita sampai cekikikan seperti dulu. Kruntelan di kasur bertiga sama adek. Untuk sementara baik - baik disana ya. Semoga tempat Ibu selalu lapang, terang, dan penuh ketenangan.

Salam untuk Bapak ya.


- Restu -



Ditulis untuk ikutan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari dengan Tema Menulis Surat.
Read more ...

Monday, January 24, 2022

Pengakuan Mamah Gajah : Tak Ada Gading yang Tak Retak

Tentang Titel Mamah Gajah

Seperti pernah saya tuliskan tepat setahun lalu, saya juga tidak tau kenapa bisa diterima di perguruan tinggi teknik paling bergengsi di Indonesia dan bisa lulus dengan selamat tanpa drama. Rasanya semua semata hanya karena doa orang tua saya saja. 

Tapi berkat perjuangan saya belajar 6 tahun di sana saya jadi berhak menyandang titel Mamah Gajah. Peduli amat deh kalau sekarang yang tersisa dari perjuangan selama 4 + 2 tahun tersebut hanyalah lembaran ijazah berdebu dan foto salaman dengan rektor, yang tergantung di rumah orang tua yang sekarangpun kosong. Paling penting dengan bermodal NIM tidak ada yang menyanggah kalau saya mengaku sebagai Mamah Gajah.

Tentang Gading yang Retak


Sebetulnya kebanggaan sebagai Mamah Gajah buat saya ya hanya berhenti di titel saja. Selebihnya saya hanya ibu - ibu biasa yang jauh dari kata sempurna. Karena tentu tidak ada bedanya juga Mamah yang Gajah dan non Gajah. Sama - sama ibu - ibu. Cuma mungkin yang ada label gajahnya sedikit lebih ngeyel yakin pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi berbagai tantangan. Mungkin lho ya. Dalam kasus saya sih jelas, suka sok yakin. Hehe.

Seperti peribahasa Tak Ada Gading yang Tak Retak, begitupun dengan gading Mamah Gajah. Tak ada yang tak retak. Bahkan Ganesha yang dijadikan lambang almamater Mamah Gajah pun patah satu gadingnya. Walaupun menurut kisahnya patah karena bertarung tapi bolehlah kita jadikan pengingat bahwa memang tak ada yang sempurna di dunia. 

Bulan Januari ini Mamah Gajah Ngeblog mengajak menulis tentang diri sendiri lewat Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Tentang Dirimu, Mamah Gajah. Untuk menjawab tantangan ini saya mau menulis tentang retakan di gading milik gajah yang ada di pelupuk mata saja. Alias sifat - sifat diri sendiri yang kurang bisa dibanggakan. Daripada nulis tentang semut di seberang lautan, yang bahkan tak punya gading ya kan.


Oh wow, melihat banyaknya peribahasa yang saya pakai, harusnya saya kuliah literatur saja dulu.

Engineer Palsu 

Suami saya selalu bilang saya ini engineer palsu. Saya punya gelar sarjana dan magister. Dua - duanya di bidang teknik, tapi saya masih gelagapan ketika ditanya anak saya, kenapa kapal bisa tidak tenggelam atau kenapa api bisa padam dengan air atau kenapa lampu bisa menyala. 

Coba bocah nanyanya itu siapa saja member BTS? kalau itu kan saya bisa jawab dengan yakin. Sampai ke sifat - sifatnya juga bisa saya kasih tau. Nggak perlu bawa - bawa ijazah segala dan nggak berisiko diteriakin Archimides dengan "Katanya Sarjana Teknik!!", yang tentu akan saya teriakin balik. "Mohon maaf Pak! Dulu saya lulus Fisika modal ngapalin isi buku Gamais aja!" :') apapun soalnya tulis jawabannya pakai solusi yang ada di buku.


Eh lha dhalah...wong saya perkalian buat ngeset timer Youtube Kids saja masih sering salah :')

Tak Sadar Kalau Introvert

Dulu saya selalu berpikir, orang introvert itu adalah orang yang pendiam, penyendiri, dan tertutup. Sementara saya selalu merasa sebagai orang yang terbuka, cerewet, ceplas - ceplos, kalau ngomong suaranya keras, habladi hablada. Intinya sifat saya tidak ada sisi introvert based on textbook sama sekali. Kalau saya mengaku lebih senang menyendiri, seringnya saya ditertawakan atau dikira berhalusinasi.

Ciri - ciri orang introvert menurut www.verywellmind.com

Tapi setelah saya dewasa saya mulai menyadari betapa introvert-nya saya ini sebetulnya. Berinteraksi dengan orang lain membuat saya cepat lelah dan saya makin perlu sendirian beberapa saat untuk dapat menjernihkan pikiran. Or I'll be a mess

Baru - baru ini juga saya menyadari kenapa saya tidak punya teman atau tidak bergabung dengan banyak komunitas. Ternyata memang karena saya takut bergaul. Saya takut tidak bisa fit in atau terlihat aneh sehingga memilih untuk tidak bergabung. Inilah mengapa motto hidup saya bukan witing tresno jalaran saking kulino atau tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang takut mau kenalan duluan. 

Bahkan ketika akan memilih sekolah anak, salah satu pertanyaan pertama saya, seberapa sering dan intense kegiatan kumpul - kumpul orang tuanya. Heuheu. Saya takut harus ketemu orang baru. Takut nggak bisa kontrol muka. Lah ini introvert apa suudzon ya. Namun ada kekhawatiran juga orang lain justru mukanya jadi tak terkontrol gara - gara saya. Karena saya mengakui kelakuan saya kadang agak ajaib :')

Tapi sebenarnya kalau diantara orang - orang yang sudah kenal, dan tidak terlalu menuntut level keakraban tertentu, saya bisa - bisa saja kok bergaul. Nggak aneh - aneh amat. Masih bisa ditolerir orang kebanyakan lah. Haha. 

Mamah Gajah yang ini jago kandang memang. 

Kerja Berlebihan Bikin Cranky

Masih tentang sifat tersembunyi saya sebagai introvert, dulu saya menemukan solitude saat bekerja. Kerja adalah my absolute me time. Lucunya pekerjaan saya sekarang menuntut saya berinteraksi dengan orang hampir setiap saat, dan meskipun saya cukup menikmatinya, sometimes it drained my energy quickly sampai pada poin saya tidak sanggup menghadapi hal lain sepulang kerja. Termasuk menanggapi suami dan anak - anak.

Tapi lalu saya diingatkan bahwa pekerjaan saya, di akhir hari hanyalah pekerjaan. Sementara mengurus suami dan anak - anak adalah kewajiban. Sebelumnya saya pernah mencoba memaksakan diri, mencoba melakukan semua hal dengan mengabaikan kebutuhan saya untuk menyepi dan recharge. Tapi kemudian lelah sendiri dan jadi cranky

Emak - emak cranky adalah hal paling mengesalkan nomor dua di seluruh dunia. Nomor satunya sepertinya masih disepakati, tetap emak - emak naik motor tanpa pengetahuan yang cukup tentang lampu sein. Jadi sekarang, instead of memaksakan diri melakukan semuanya tanpa jeda, I make amends with my self, terutama soal pekerjaan.

Mendelegasikan sebagian pekerjaan yang mengharuskan interaksi dengan orang ke kolega kerja (kerjaan kami cukup fleksibel untuk bertukar peran), set waktu bekerja yang strict dan mencoba mengabaikan notifikasi di ponsel, serta berusaha mengontrol diri untuk tidak impulsif. Langsung berusaha menyelesaikan masalah yang muncul saat itu juga. Karena merasa tertantang. 

Yah, kalau tidak perform kan paling dimarahi pimpinan. Worst case, kalau sudah kelewatan ya dipecat. Haha. Tapi sudahlah. Kan saya Mamah Gajah, I can always find something else to do.

Dengan membagi dan membatasi kapasitas otak untuk urusan pekerjaan, saya jadi punya energi lebih untuk memikirkan dan mengerjakan hal lain. Menulis misalnya atau memikirkan dan mengerjakan hal - hal spritual. Sehingga kebutuhan mental saya untuk recharge terpenuhi dan overall bisa jadi lebih happy.

Ini kenapa nulisnya jadi kayak anak Jaksel begini ya. Padahal seumur - umur nggak pernah gaul disana :')

Bukan Orang Tua Sempurna

Saya yakin setiap orang tua punya cobaannya masing - masing, sekalipun yang terlihat sempurna di Sosial Media. Dadah dadah ke mamah mamah selebgram. Begitupun dengan saya dan suami, yang baru seumur jagung menjalankan peran ini.

Jadi orang tua itu setiap hari bagi kami adalah perjuangan. An everyday battle. Berbeda dengan semua ujian yang pernah kami hadapi di bangku sekolah, yang bisa dikerjakan, seperti kata saya diatas, paling tidak dengan menulis ulang solusi di buku Gamais, we have absolutely no idea bagaimana cara menjalani ujian sebagai orang tua dengan baik dan benar. Walaupun baik dan benar disini relatif ya, karena ujian orang tua berbeda beda satu dengan lainnya. 

Tak ada guidelines untuk jadi orang tua dan manusia terlahir tanpa manual. Jadi seberapapun jagoannya kami dalam hal eksakta dan seberapa banyak teori parenting yang kami baca dan hapalkan, sungguh tidak akan pernah menjadi jaminan bisa jadi orang tua yang baik. 

Duo balita kesayangan ini beda umurnya cuma 2.5 tahun. Satunya sedang di fase fantastic four, satu lagi di terrific two. Setiap hari rumah super ramai. Jadi kalau Cinta ada di rumah sini dia tak perlu lari ke hutan belok ke pantai dan pecahkan gelas serta goyangkan loncengnya sampai gaduh (lagi lagi referensi 2000-an). Haha. 

Apalagi anak - anak kami mewarisi kombinasi sifat ngeselin yang sempurna dari kami berdua. Mungkin ini yang namanya karma karena dulu saat kami kecil katanya sifat - sifat tersebut yang membuat orang tua kami kerepotan juga.

Magnet dengan kutub yang sama pasti akan tolak menolak sampai salah satunya mengalah dan berputar. Begitupun dengan kami dan anak - anak. Setiap hari benturan dan letupan pasti terjadi. Antara saya dengan anak - anak, suami dengan anak - anak, antara anak besar dan anak kecil, pun antara saya dan suami. Hampir selalu dihiasi dengan rengekan, tangisan, teriakan, muka cemberut, dan adegan - adegan a la sinetron lainnya.

Kalau sudah begini biasanya jiwa introvert saya memberontak. Sekuat hati harus menahan keinginan untuk kabur saja, meninggalkan kerusuhan dan mencari ketenangan untuk mendinginkan kepala. Seringkali juga terlintas di kepala saya, apa cara yang kami pilih untuk mengasuh anak - anak ini sudah tepat? Bagaimana kalau kami ternyata melakukan hal yang buruk, lalu anak - anak jadi punya trauma, kemudian jadi benci orang tuanya, dan berbagai pikiran absurd lainnya. 

Tapi ya sudahlah, untuk semua teori parenting kan hanya waktu yang bisa membuktikan keberhasilannya, jadi untuk sementara kami coba konsisten saja dengan hal yang kami yakini. 

Semoga kedepan anak - anak akan memahami, kalau orang tuanya hanya berusaha mengarahkan mereka. Agar paling tidak, seminimal mungkin jadi orang yang decent, tidak merepotkan orang lain, atau jadi beban masyarakat. Syukur - syukur punya sumbangsih lebih pada negara dan dunia. Peraih nobel gitu misalnya.

Lha keluar ambisiusnya :))

Impulsif is My Middle Name

Sebagai orang yang selalu membanggakan kemampuan untuk berpikir secara rasional dan semenjak SMA sudah dididik untuk berlogika (hallo jurusan IPA), sepertinya saya terlalu sering membiarkan insting saya berkuasa. Saya ini adalah orang paling impulsif yang saya tahu. Sering bertindak tanpa pikir panjang kemudian pusing sendiri.

Rumah tetiba didatangi banyak Kang Paket? Kemungkinan saya yang sedang impulsif ganti semua baju anak - anak yang sudah kesempitan. Banyak peralatan baru di rumah? biasanya saya sedang impulsif mencoba menjalankan hobi baru, yang biasanya hanya bertahan seminggu :')

Masih agak lumayan sekarang hanya Kang Paket yang datang, jaman belum menikah, saya bisa ujug - ujug impulsif ambil kerjaan yang mengharuskan saya pergi ke suatu tempat antah berantah. Sampai orang tua sudah tidak bisa tracking anaknya dimana. Dipikir sedang makan ayam geprek di Bandung, ternyata sedang makan ayam tangkap di Banda Aceh. Dipikir sedang ketik - ketik di Jakarta ternyata sedang ngapung - ngapung di kapal mau ambil data di Talaud. 

Episode kehidupan paling absurd dan impulsif. Serba mendadak. Mendadak Ende, mendadak Bukit Tinggi, mendadak Mamuju, mendadak Sorong, dan mendadak - mendadak lainnya

Begitulah romansa masa muda. Sekarang sih impulsif hanya sebatas di ujung jempol saja. Boro - boro mau impulsif berpergian, pergi yang terencana saja belum berangkat sudah lelah duluan. Faktor U nih :))

Menunda is My Best Frenemy

Ini adalah penyakit saya sejak lama. Menunda - nunda mengerjakan sesuatu. Sampai deadline lalu kemudian rungsing sendiri. Sungguh sangat iri pada orang yang bisa produktif dan sebetulnya ingin begitu juga. Tapi mindset masih mentok di "sudahlah, masih ada hari esok". Padahal hari esok tidak dijamin akan bisa ditemui ya. Heuheu.

Sifat menunda nunda ini kalau dipikir - pikir sebetulnya agak kontradiktif dengan sifat impulsif yang saya punya. Eh atau malah saling menguatkan ya. Karena menunda sampai titik penghabisan, lalu jadi impulsif nggak karuan buat menyelesaikan hal yang tertunda sebelum deadline. 

Apapun itu, sebetulnya sudah banyak kejadian yang disesali karena saya menunda - nunda. Paling tidak saya pikir hasilnya bisa lebih memuaskan kalau tidak ditunda - tunda. Ya seperti tulisan inilah. Ditunda hingga detik penghabisan, karena berbagai alasan. Lalu setelahnya menyesali diri karena tidak bisa menulis dengan lebih menarik lagi. Seperti mamah - mamah lainnya. 

Beginilah kalau punya sedikit jiwa perfeksionis tapi suka menunda - nunda. Sering sekali menyesal tiada guna. Haha.  

Tapi in my defense, menunda juga tidak selalu jelek sih. Melihat situasi dulu baru bergerak, supaya kalau ada perubahan tidak kerja dua kali, juga suatu bentuk efisiensi. Mungkin inilah setitik jiwa jawa saya yang masih tersisa walaupun sudah belasan tahun tinggal di tanah sunda. Alon - alon waton kelakon. Maka dari itu saya sebut sifat suka menunda - nunda saya sebagai friend enemy. Karena bisa merugikan atau menguntungkan tergantung situasi. 

Penutup

Alhamdulillah tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang pertama ini berhasil diselesaikan. Tepat 6 jam sebelum deadline. Ternyata susah juga menulis tentang diri sendiri. Batasannya tipis untuk tidak terkesan antara too much information, humble brag, atau sok - sok misterius. Haha.
 
Begitulah sedikit cerita tentang retakan di gading versi mamah gajah yang ini. Semoga bisa menjadi benchmark buat mamah lain yang sering merana karena merasa banyak kekurangan. Percayalah you are so much better than what you think you are. Mungkin seiring berjalannya waktu dan semakin banyak uban, retakan gading tersebut makin banyak. Bisa menjadi intropeksi seumur hidup atau malah menjadi semakin halus kemudian menyatu membentuk lekukan - lekukan gading yang indah. Apapun itu semoga ada yang pembaca bisa ambil hikmahnya dari tulisan ini walaupun hanya sebesar geram sisa permesinan.

Kemudian Bapak Frederick W. Taylor pun tersenyum karena paling tidak saya masih bisa ingat istilah Proses Manufaktur (walaupun sempat nanya suami yang hanya dibalas dengan alis yang mengerenyit). 

Sungguh niat pasang foto Mister - Mister Amerika daripada Oppa - Oppa Korea yang telah terbukti menarik minat pembaca. Tapi namanya juga usaha untuk menjadi sedikit ilmiah biar tidak dibilang engineer palsu terus sama suami tercinta. Silahkan diperhatikan baik - baik. Siapa tau di suatu masa mendatang anak Mamah bertanya siapakah bapak - bapak ini dan apa jasa - jasanya bagi umat manusia. Mamah sudah tau jawabannya.   
Read more ...

Saturday, January 8, 2022

Tentang Priviledges dan Kesempatan untuk Gives Back

Latar Belakang

Almamater saya, Teknik Industri ITB, merayakan hari jadinya yang ke - 50 pada tahun 2021 lalu. Karena pandemi, perayaannya baru dilaksanakan bulan Januari 2022. Berbagai program diluncurkan untuk merayakan berdirinya salah satu Program Studi terfavorit di ITB ini. Salah satunya adalah penggalangan dana Endowment Fund atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan dana lestari.

Endowment fund Program Studi dikelola oleh suatu badan pengelola investasi. Keuntungannya biasanya digunakan untuk pengembangan institusi yang tidak dicover oleh anggaran negara. Tahun 2021 dicanangkan inisiatif terbaru penggunaan keuntungan Endowment Fund TI, yaitu untuk memberikan bantuan finansial bagi mahasiswa yang kesulitan ekonomi.

Lho memangnya mahasiswa ITB ada yang kesulitan ekonomi? Biaya masuknya saja mahal. Sepertinya cuma orang mampu yang bisa kuliah disana. Eits, jangan salah, ada banyak cerita dibalik menara gading ITB. Ini salah satu penjelasannya. 

Tentang Keistimewaan Saat Kuliah

Dulu saya pikir, keberhasilan saya menyelesaikan kuliah S1 dan S2 adalah hal yang biasa saja. Berjuta orang berhasil melakukannya. Bahkan saya sedikit malu, karena tidak berhasil menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang memuaskan. Membuat saya sempat minder untuk melamar pekerjaan. Sungguh minder yang tak berguna :))

Tapi setelah saya bekerja di balik layar, mengetahui data, informasi, dan kisah yang tidak diketahui oleh orang luar, baru saya sadar. Keberhasilan saya menyelesaikan pendidikan tinggi secara tepat waktu, dengan relatif lancar, tanpa kurang suatu apapun adalah sebuah keistimewaan. Hal yang mungkin tidak mudah didapatkan orang lain.

Katanya, untuk bisa menyelesaikan kuliah, seseorang perlu 3 hal : 1. Keinginan untuk selesai dan kemauan untuk berusaha, 2. Sumber daya, dan 3. Supporting System. Menilik dari pengalaman pribadi, walaupun hasilnya pas - pasan, saya cukup beruntung karena tidak menghadapi masalah terkait hal - hal diatas.

Saya cukup menyukai jurusan kuliah yang saya pilih. Walaupun agak terseok mengikutinya, karena kemampuan otak yang terbatas, saya tak pernah merasa terpaksa atau putus asa. Dari sisi sumberdaya, latar belakang keluarga saya memang cukup sederhana. Orang tua saya harus berhemat untuk bisa menyekolahkan saya ke ITB. Tapi kami tidak sampai kekurangan dan masih bisa hidup dengan nyaman. Meskipun saya tentu tidak bisa seenaknya menghabiskan uang, atau punya barang dan fasilitas tersier seperti teman yang berasal dari keluarga lebih berada.

Untuk masalah supporting system, saya juga cukup beruntung karena tidak mengalami masalah. Keluarga inti saya mendukung penuh saya kuliah. Hubungan saya dengan orang tua dan adik, serta kami dan kerabat lain baik - baik saja. Walaupun mungkin tidak Instagram worthy tapi saya tidak pernah mengalami konflik keluarga yang mengganggu pikiran.

Intinya waktu zaman saya kuliah, selain perkara akademik, saya tidak perlu merisaukan hal - hal lain. Kuliah ya kuliah saja, tidak perlu mikir yang lain. Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa hal tersebut adalah priviledge. Keistimewaan. Saya pikir priviledge selalu berhubungan dengan kekuasaan dan materi. Tapi ternyata setelah saya dewasa, baru saya paham bahwa bisa kuliah tanpa diganggu berbagai masalah juga merupakan bentuk priviledge tersendiri. Hidup tenang tanpa beban adalah rezeki yang tidak didapat oleh semua orang.

Masalah Mahasiswa Zaman Now

Setelah saya bekerja sebagai staf tata usaha, saya jadi tau berbagai macam permasalahan mahasiswa. Saya tidak tau data pastinya, tapi selama 5 tahun saya bekerja, rasanya mahasiswa yang mengalami masalah, baik mental maupun ekonomi, semakin banyak. Meningkat secara signifikan karena pandemi. Dari seluruh masalah, yang berdampak langsung pada kelancaran kuliah, memang masalah ekonomi. Bukan berarti masalah mental tidak berpengaruh, tapi kalau tidak ada kesulitan keuangan biasanya masih ada banyak alternatif penyelesaiannya. Sedangkan masalah ekonomi yang berlarut larut sering berkembang menjadi masalah mental juga. 

Terkait ekonomi, sebelum pandemipun saya sudah sering mendengar masalah mahasiswa yang kesulitan keuangan. Cerita mereka seperti yang sering dimuat di koran atau majalah. Anak dari keluarga pra sejahtera yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dibilang tak punya uang ya memang tak punya uang. Dukungan materi dari orang tua otomatis tak ada. Bahkan kadang mereka yang harus mengirimkan uang beasiswa yang tak seberapa untuk membantu hidup keluarga.

Ada yang adik - adiknya harus putus sekolah demi kakaknya bisa kuliah. Ada yang cuma bisa makan dua hari sekali. Puasa Daud saat jatah hari tak makan. Ada yang beasiswanya diputus karena dianggap tidak perform, sehingga harus nyambi kerja kasar demi mengumpulkan uang untuk membayar SPP. Dan lain sebagainya.

Tapi, masalah ekonomi tak jarang juga dialami oleh mahasiswa yang berasal dari keluarga yang di atas kertas mampu. Perseteruan keluarga, perebutan warisan, terlilit hutang, mengalami kebangkrutan, orang tua di-phk, orang tua sakit, orang tua meninggal, adalah beberapa penyebabnya. Sedikit lebih rumit daripada masalah yang dihadapi oleh mahasiswa yang dari awalnya memang tak mampu. Bukan meremehkan masalah yang sebelumnya, tapi paling tidak yang tidak mampu dari awal sudah paham kondisi dan konsekuensinya. Sementara mahasiswa yang tiba - tiba kesulitan ekonomi seringkali lebih stress karena ada faktor shock yang bisa sangat mempengaruhi mental.

Bukan Melulu Karena Manja

Mahasiswa dengan masalah ekonomi umumnya mengalami dilema besar. Di satu sisi mereka pasti paham bahwa menyelesaikan kuliah secepat mungkin adalah salah satu gerbang kesempatan keluar dari kesulitan ekonomi. Sementara di sisi yang lain, perjuangan untuk bisa survive mungkin menghabiskan seluruh energi mereka untuk dapat memberikan performansi yang baik untuk dapat lulus tepat waktu. Belum lagi sekarang lama waktu lulus juga dibatasi. Jika lewat tak ada kompromi, langsung tak dapat ijazah. Jadi situasinya bagai makan buah simalakama.

Untuk mencari tambahan uang juga tidak sesederhana itu situasinya. Kuliah sekarang perlu konsentrasi lebih. Karena tuntutan standar kelulusannya memang lebih tinggi. Yes, you can argue on that matter. Tapi kuliah di ITB tidak didesain untuk bisa sambil disambi. Buat yang sudah punya anak kuliah, apalagi di ITB, pasti terbayang kan mental load-nya.

Betul ada banyak yang berhasil kuliah sambil nyambi cari uang. Tapi kapasitas orang beda - beda dan saya rasa kebanyakan tidak akan pernah sanggup. Kuliah sambil cari uang. Yah, tidak ada yang salah juga dengan tidak bisa cari uang saat kuliah, karena tugas utama mahasiswa adalah belajar. 

Cari beasiswa juga tidak mudah, kebanyakan dari mereka yang tidak punya uang, tidak eligible untuk dapat beasiswa prestasi, atau beasiswa ekonomi, atau bahkan tidak bisa mencari beasiswa lain karena sudah terikat kontrak dengan beasiswa ekonomi lain. Padahal besaran beasiswa sebelumnya juga sudah minim.

Maka hal yang bisa dipikirkan oleh para mahasiswa yang terhimpit kesulitan ekonomi ini, salah satunya adalah minta bantuan uang tunai atau keringanan pembayaran SPP. Karena memang itu yang terpikir sebagai solusi agar kuliah tak terabaikan.

Mendengar hal ini mungkin ada yang langsung komentar, mahasiswa sekarang manja, tidak mau usaha, maunya instan dikasih uang. Karena toh, mahasiswa kesulitan ekonomi sudah bukan cerita baru. Dari zaman kolonial juga sudah ada. Tapi sudah tak terhitung juga yang berakhir bahagia. Lulus dengan baik dan jadi orang sukses. 

Sayangnya tak jarang orang tak paham, bahwa kondisi sekarang berbeda dengan zaman dulu. Bahkan literally ada yang saat dengar cerita mahasiswa kesulitan ekonomi ini malah menyuruh mahasiswa untuk nyambi ngojek saja.

Oh well, sejujurnya mahasiswa yang kurang paham tentang arti sebenarnya dari "kesulitan ekonomi" juga tak sedikit jumlahnya. Banyak yang keliru mengartikan minta batuan keuangan supaya bisa hidup dan kuliah sebagai minta bantuan agar tidak merepotkan orang tua. Padahal orang tuanya tidak kenapa - kenapa. Mahasiswa yang seperti ini biasanya diberikan bantuan bukan berupa materi tapi berupa pemahaman hidup yang lebih luas. 

Menghadapi yang begini, kalau sedang berminat, ya saya coba kasih pengertian. Kalau sedang lelah ya sudah dibiarkan saja. Kita kan tidak mungkin mengubah pikiran setiap orang atau bikin orang lain paham.

Beda Generasi Beda Masalah

Kata seorang kenalan saya yang berprofesi sebagai psikolog, kita tidak boleh serta merta menyamakan apa yang dihadapi anak zaman sekarang dengan apa yang kita alami di masa lalu. Karena tantangannya memang beda. Generasinya saja sudah beda. Anak kuliah S1 zaman now sekarang rata - rata dari generasi Z. Sementara kita dari generasi Millenial atau generasi X.

Jadi kalau ada mahasiswa menulis kalimat "di era sekarang ini" pada pendahuluan tugas kuliahnya, "era" yang dimaksud berbeda dengan "era" yang kita maksud dulu.

Terkait kesulitan ekonomi, tantangan yang dihadapi anak sekarang lebih berat karena memang ada faktor inflasi yang menyebabkan kenaikan hampir semua harga dan biaya. Sementara peningkatan pendapatan tidak mengikuti kurva yang sama. 

Uang kuliah sekarang 10 kali lipat dari 20 tahun lalu, sementara rata - rata pendapatan orang tua ya segitu - segitu saja. Tidak lantas harga - harga mahal orang - orang jadi otomatis ikut kaya juga. Itu baru biaya kuliah, belum biaya kos, makan, dan biaya tambahan lainnya. Kuliah itu memang mahal. Dulu dan sekarang. Dengan biaya pribadi, mungkin saat ini betul - betul hanya keluarga menengah ke atas saja yang menyekolahkan anaknya ke sekolah bergengsi semacam ITB.

Selain itu gaya hidup juga sudah berubah. Di zaman yang serba cepat ini berbagai fasilitas memang diperlukan, yang tidak punya otomatis ketinggalan. Plus pergaulan mau tidak mau juga sudah beda. Dulu zaman saya kuliah, mengerjakan tugas cukup di kosan teman, sekarang di cafรจ atau co-working space. Tidak punya laptop 15 tahun lalu bukan masalah berarti. Sekarang ya tidak bisa mengejar. Apalagi untuk jurusan - jurusan yang semua kegiatannya memang perlu komputer untuk poci - poci mengerjakan tugas. 

Gaya hidup diatas, bukan melulu maksudnya pemborosan atau pencitraan. Ya memang new normal saja gitu. Orang yang baca tulisan ini juga sekarang tidak bisa lepas dari smartphone kan? Padahal ibu - ibu kita dulu cukup baca tabloid Nova atau majalah Femina, dan ketemu tetangga di tukang sayur buat cari hiburan.

Apa - apa yang dulu tersier sekarang memang mulai bergeser jadi kebutuhan sekunder atau bahkan primer. Kuliah S1 juga dulunya tersier, sekarang mungkin sudah jadi kebutuhan primer. Memang tidak ada yang bilang orang harus kuliah supaya bisa sukses. Ataupun menjamin setelah kuliah langsung tidak kesulitan ekonomi. Tapi harus diakui, kuliah merupakan salah satu jalan pembuka peluang hidup yang lebih baik. Paling tidak membuka lebih banyak pilihan untuk hidup.

Peluang Gives Back

Tidak bisa dipungkiri kelakuan anak zaman sekarang juga banyak yang bikin geleng - geleng kepala. Terutama masalah perilaku. Kadang kalau menghadapi mahasiswa dan orang tuanya, saya pengen jambak - jambak rambut sendiri menahan diri untuk teriak "who are you people?!" saking frustasinya. Walaupun cuma bisa istighfar saja pada akhirnya atau ketawa pahit mencoba mengambil sisi lucunya. Habis mau gimana lagi? :))

Tapi sebagai orang yang dulu punya priviledge dan mungkin sadar atau tidak sadar dapat bantuan dari orang lain, entah dalam bentuk support moral maupun materi, saya merasa ini adalah peluang yang bagus untuk gives back. Bantu para mahasiswa yang kesulitan ini. Bisa dalam bentuk materi maupun moral. Biar mereka yang sulit ekonomi ini juga bisa lulus tepat waktu. Bisa segera cari kerja atau peluang lainnya, lalu terbebas dari kesulitan ekonominya. Syukur - syukir jadi orang sukses dan bisa gives back juga. Lebih banyak lagi. Eh tapi tentu tak ada yang memaksa. Wong amal kok terpaksa :D

Hidup saya sekarang ini memang tidak bergelimang harta, tapi tidak kesusahan juga. Saya mungkin tidak bisa membantu langsung dalam bentuk materi, tapi saya bisa coba bantu dengan cara lain. Menghubungkan mahasiswa - mahasiswa yang punya masalah ke orang yang bisa membantu adalah salah satunya. Siapa tau yang baca tulisan ini juga ada yang tergerak hatinya.

Katanya menyingkirkan ranting, batu, duri yang menghalangi jalan orang saja pahalanya besar, apalagi membantu orang bisa lancar kuliah sampai lulus ye kan?

"we can always find another thousands or even millions. But they don't. So what's the deal with giving them hundreds or even just dozens?". 

Semoga bisa jadi kenyataan, bukan hanya jadi kata - kata cantik penghias kaca lemari eh blog saja.
Read more ...

Tuesday, December 21, 2021

Setitik Liburan di Yogyakarta

Awal pandemi tahun 2020, kami iseng membeli voucher hotel Eastparc Yogyakarta. Saat itu memang banyak hotel mencoba mencari pemasukan dengan menjual voucher staycation berharga murah dengan periode masa berlaku lama. 

Tahun 2021 pun tiba. Berjuta kabar dan kejadian kemudian, walaupun belum terlihat tanda - tanda pandemi akan berakhir, tapi awal bulan Juni 2021 situasi nampak cukup kondusif. Kami memutuskan untuk memanfaatkan voucher hotel yang kami punya untuk plesir ke Yogyakarta. Niatnya sekaligus mengurus beberapa hal yang tertunda di Semarang.

Day 1 - Prambanan

Dan Mall Hartono.

Saya selalu suka candi Prambanan. Mungkin karena kisahnya menarik dan arsitekturnya cantik. Secara ambisius saya ingin mengajak anak - anak saya kesini agar mereka bisa melihat kejayaan Nusantara di masa lampau. Dalam bayangan saya mereka akan melontarkan pertanyaan - pertanyaan jenius mengenai kebudayaan, yang bisa saya jadikan caption untuk status WA (soalnya saya tidak punya Instagram).

Naik kereta mini dan main VR Dinosaurus. Upaya yang dilakukan untuk menghibur bocah yang cranky.

Tentu saja itu hanya harapan semu belaka, karena balita adalah balita. Apalagi balita yang seumur hidup tinggal di Bandung utara dan tetiba menemukan dirinya ada di bawah matahari Yogyakarta yang sengit. Seperti ngajak berantem panas dan silaunya.

Maka 5 menit sampai di pelataran candi, keluhan - keluhan pun mulai muncul. Si sulung, yang punya masalah sensori, ribut dengan pasir yang masuk ke sandalnya dan akhirnya minta digendong saja. Si bungsu, yang tidak pernah nyaman dengan udara panas, menolak sedikitpun beranjak dari sudut pelataran candi yang tertutup bayangan.

Saya yakin Roro Jonggrang pasti senyum - senyum sendiri melihat semua hal ini. Karena kerja keras Badung Bondowoso sangat tidak diapresiasi.

Setelah sejuta rengekan diselingi tangisan, yang tidak mempan dilawan dengan bujukan, rayuan, janji manis, dan nasihat kesabaran, kami menyerah juga untuk menghayati kompleks seribu candi yang konon dibangun dalam semalam ini, dan memutuskan secepatnya pergi ke tempat ber AC saja sambil cari makan. Pilihan jatuh ke mall paling hip di Yogya. Mall Hartono. 

Lupakan gudeg, sate klathak, dan semua sajian khas Yogya. Hari pertama kami makan di  Ta-Wan saja.

Day 2 - Eastparc Swimming Pool, Abhayagiri Restaurant, dan Tempo Gelato

Puas Berenang di Eastparc

Anak - anak saya, seperti ayahnya, hobi berenang. Karena itu, pagi di hari kedua, sengaja kami dedikasikan untuk menikmati kolam renang hotel. Kolam renang Eastparc memang menarik. Si sulung puas main perosotan, sementara si bungsu puas ngapung. Karena dia baru bisa ngapung. Setelahnya bungsu menghabiskan waktu dengan berjemur di pinggir kolam, sementara masnya sibuk belajar menyelam dengan ayahnya.

Ada kolam kecil dengan banyak seluncuran. Ada kolam besar yang cukup  untuk berenang serius. Paling asyik penjaganya super attentive dan helpful

Menikmati Mendung nan Syahdu di Abhayagiri Restaurant

Siangnya kami memutuskan untuk mencoba salah satu tempat yang instagramable. Sebetulnya niat awal kami ingin ke Ulan Sentalu, tapi ternyata masih tutup karena pandemi, jadi kami ubah haluan ke Abhayagiri Restaurant di daerah Sleman. 

Restoran yang terletak di komplek Sumberwatu Heritage Resort ini berkonsep fine family dining. Saat masuk kami disambut oleh petugas resepsionis di ruangan yang lebih mirip lobby boutique hotel ketimbang restoran. Disana kami diminta untuk langsung memilih menu makanan dengan total harga sejumlah minimum pembelian. Mungkin menghindari pengunjung yang beramai datang hanya ingin berswafoto dan cuma beli es teh. 

Area restoran ini cukup luas dan terbagi menjadi beberapa tempat untuk makan. Kami memilih tempat di joglo yang ada di bagian belakang. 


Saat kami kesana, restorannya kosong. Hanya ada kami sekeluarga. Berasa milik sendiri deh. Anak - anak bebas berlarian di halaman yang lapang. Ada perosotan kecil juga, jadi lumayan mereka bisa sejenak anteng main sementara kami menikmati pemandangan.

Restoran ini memang pantas untuk jadi tempat makan populer di Yogyakarta. Terletak di lereng bukit dengan pemandangan lepas ke arah gunung Merapi. Siluet Candi Prambanan terlihat juga di kejauhan. Suasananya hening dan syahdu. Mungkin karena sepi dan saat saya di sana sedang mendung. 

Pilihan makanannya sedikit tapi cukup beragam. Ada menu lokal dan western. Makanannya tidak terlalu aneh - aneh. Mungkin karena yang dicari memang  suasana bukan gourmet. Kami pilih menu tradisional karena ingin tahu seperti apa makanan yang bakal muncul. Surprisingly makanan yang disajikan cukup otentik bukan fusion.

Rasa semua makanannya light. Termasuk empal gentong yang kami pesan untuk anak - anak. Tidak sekental dan seberminyak empal gentong asli yang pernah kami makan di Cirebon. Bumbunya on point, terasa jelas dipikirkan baik - baik agar tetap bercita rasa asli namun tidak overwhelming. Porsinya pas. Tidak sesedikit fine dining tapi tidak sebanyak restoran biasa. Harganya tergolong mahal untuk ukuran Yogya.Tapi tetap masih jauh lebih murah daripada Jakarta dan sekitarnya.

Tempo Gelato Bikin Iri

Pulang dari Abhayagiri hujan deras mengguyur daerah Yogyakarta. Kami memutuskan untuk putar - putar kota saja melewati berbagai landmark seperti Monumen Jogja Kembali, Monumen Tugu Yogya, Keraton, Maliboro, Istana Taman Sari,  Alun - Alun, dan Benteng Vredeburg. Lewat saja tidak mampir. Karena mampir ke banyak tempat wisata sambil bawa anak - anak adalah sebuah kenircayaan buat saya.

Setelah puas putar - putar, kami mampir ke salah satu tempat jajan kekinian : Tempo Gelato. Saya lupa tapi kami mampir yang di cabang mana. Kemampuan geo spasial saya agak kurang memang.  

Tempo Gelato berhasil membuat saya iri dengan orang yang tinggal di Yogyakarta. Karena di Bandung tidak ada gelato yang seenak, sevariatif, dan semurah itu. Rasanya tidak kalah dengan Gelato Giolitti di Roma sana. Oke mungkin berlebihan. Tapi serius enak banget. Tempatnya nyaman. Porsinya juga melimpah untuk harga yang terjangkau. Pantas saat kami kesana tempat ini penuh dan antrian mengular. Kalau penjual gelato ini ada di Bandung, saya juga mungkin bakal mampir setiap saat. 

Kiri Tempo Gelato Yogya, Kanan Giolitti Di Roma. Sama antrinya. Sama enaknya. 

Day 3 - Eastparc Mini Theme Park, Borobudur, dan Stupa Restaurant 

Puas Main di Eastparc Mini Theme Park

Kami mengawali hari ketiga dengan menemani anak - anak bermain di wahana bermain yang ada di Eastparc. Hotel ini memang menawarkan taman bermain dengan berbagai fasilitas yang sangat mengasyikkan untuk anak - anak, seperti ATV, stasiun berkuda, stasiun outbond, waterpark,  kebun binatang mini, serta stasiun sepeda dan scooter. Semua dapat dinikmati oleh tamu yang menginap secara gratis.

Anak sulung saya yang kala itu masih umur 4 tahun, belum cukup umur untuk menaiki beberapa wahana di taman bermain. Tapi dia cukup menikmati wahana yang bisa dia naiki. Terutama water park. Karena dia pecinta air. Sampai hampir 3 jam dia main disana.

Hari terakhir sempat menemani sulung main ATV. Ternyata memang aku sudah tak bisa hidup tanpa power steering.

Sementara itu, anak bungsu saya, belum bisa menikmati taman bermain tersebut, karena belum mengerti. Plus disana ada banyak orang. Hal menakutkan untuk bayi pandemi. Alih - alih gembira dia jadi cranky. Akhirnya kami melipir ke playground yang lebih sepi. Puas dia main perosotan dan ayunan. Overall happy. Apalagi bisa ditemani ibunya, sendiri saja tanpa harus bagi - bagi sama masnya. 

Sekilas Candi Borobudur

Siangnya kami pergi ke Magelang untuk menyambangi candi Borobudur. Saya menyewa mobil dengan supir via Traveloka supaya kami tidak perlu menyetir sendiri. Jompo habis menemani anak main berjam - jam. 

Pengunjung Borobudur ternyata tidak diperkenankan lagi menaiki candi. Ada yang bilang karena pandemi, tapi ada rumor juga yang menyebutkan kalau larangan tersebut untuk menjaga kondisi candi agar tidak semakin rusak. Konon ornamen relief yang ada di candi Budha terbesar di dunia ini banyak yang sudah semakin memudar dan menipis karena sering dipegang pegang oleh pengunjung. 


Tak masalah tidak bisa ke atas candi. Kami sudah cukup puas mengitari pinggirannya saja. Lagian pegel juga kayaknya naik Borobudur sambil gendong anak.

Hal yang membuat saya kagum, kawasan wisata Borobudur sekarang ternyata sudah tertata dengan sangat baik. Taman - tamannya bersih, luas, dengan rumput hijau yang terpotong rapi. Tak kalah dengan taman - taman yang ada di luar negeri. Sungguh mengundang sekali untuk dijadikan lokasi piknik. Sayangnya kami tidak tahu tentang hal ini, jadi sampai sana hari sudah beranjak sore dan mendekati jam tutup kawasan Borobudur. Jam operasional tempat wisata memang masih terbatas saat itu. 

Menikmati Senja di Stupa Restaurant

Dari Borobudur, kami menuju ke Stupa Restaurant yang ada di kawasan Resort Plataran Heritage Borobudur. Letak restoran ini agak terpencil, dikelilingi oleh area persawahan. Kecil saja tempat makannya. Tapi lagi - lagi kami cukup beruntung karena saat kami disana tidak ada pengunjung lainnya.

Stupa Restaurant ini hanya menjual menu masakan Indonesia. Harganya sepadan dengan makanannya. Penyajiannya fancy, rasanya juga. Eskalasi dari masakan tradisional biasa. Berada di tengah - tengah daerah pedesaan, suasana restoran ini mendukung sekali untuk makan santai, sejenak melipir dari kesibukan perkotaan.


Kalau saja tidak sibuk mengejar bocah kesana kemari,  saya pasti betah duduk lama disana. Perlahan menikmati ikan bakar pesanan, menyesap dagingnya sampai ke tulang - tulang, lalu mengakhiri santapan dengan menyeruput teh nasgitel yang disajikan. Semua sambil menikmati pemandangan sawah yang sederhana tapi sekarang terasa sangat mewah.

Penutup

Liburan dengan combo balita sudah tentu sangat berbeda dengan liburan - liburan yang saya jalani berdua saja dengan suami. Dimana kami bisa menghabiskan hari berjalan kaki berkilo kilo meter dan masuk semua tempat serta atraksi yang ada. Dengan balita, ekspektasi harus sangat diturunkan.

Walaupun begitu kami merasa sangat bersyukur karena di tengah segala keterbatasan karena pandemi masih sempat liburan dengan cukup nyaman. Tentu protokol kesehatan sangat kami jaga. Demi diri sendiri dan orang lain.

Semoga tahun depan situasi semakin membaik dan kita bisa geret koper entah kemana lagi. Amin. 

Read more ...

Tuesday, November 30, 2021

Things I'll Remember About 2021

Tahun yang Cepat Berlalu

Sepertinya hampir semua orang sepakat, 2021 terasa cepat sekali berlalu. Tetiba kita sudah ada di penghujung tahun. Mungkin pandemi berkontribusi membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Kesibukan di rumah saja memang terkadang membuat orang sampai lupa hari. Dari Senin, yang biasanya chaos, eh kok ujug - ujug sudah Jumat lagi.

Rasanya baru kemarin meninggalkan 2020, sekarang sudah mau masuk ke 2022 lagi (sumber : unsplash.com)

Di akhir tahun Mamah Gajah Ngeblog mengajak melakukan kilas balik 2021, melalui Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan Tema Pelajaran Hidup di Tahun 2021. Sesungguhnya saya mengaku bukan orang yang hobi melakukan kilas balik. Karena prinsip saya adalah : yang lalu biarlah berlalu, jangan kau ungkit masa lalu. Tapi demi sertifikat tahunan memenuhi komitmen pada diri sendiri untuk memenuhi tantangan setahun ini, akhirnya saya menelusuri kembali tahun 2021. Mengingat hal - hal yang terjadi dan hikmah yang saya dapatkan darinya.


Ternyata tantangan ini, buat saya menjadi tantangan paling sulit dari seluruh tantangan MGN yang pernah saya ikuti. Saya tidak punya ide sama sekali untuk menulis tema kali ini. Blank. Boro - boro melucu, mau curcol saja tidak kepikiran. Mungkin karena berlangsungnya di bulan November. Bulan yang identik dengan kegalauan. Entah ada apa dengan bulan November tahun ini. Mungkin bumi memang sudah berubah. Hujan di November kali ini rasanya berbeda.Tak lagi menenangkan.

Sebetulnya dulu saya cukup menikmati suasana syahdu karena mendung dan hujan. Tapi akhir - akhir ini cuaca yang muram sangat berpengaruh pada suasana hati saya. Seberapapun romantisnya dan seberapapun tinggi eskalasi kenikmatan makan Indomie karenanya, hujan, yang sekarang lebih sering ditemani dengan petir dan angin kencang, membuat kekhawatiran saya meningkat tajam. Di benak saya hujan sekarang lebih galak dan membawa lebih banyak ancaman.

Mungkin karena iklim bumi sudah berubah, hujan sekarang jadi terasa lebih mengancam. Padahal hujan adalah berkah, saat - saat dikabulkannya doa (Sumber : unsplash.com)

Otak saya tidak terbendung untuk berpikir dan menganalisa secara berlebihan. And I hate that. Mungkin prospek munculnya gelombang covid keempat dengan varian baru yang lebih ganas dan gambaran harus menghabiskan tahun berikutnya kembali dalam kondisi ketidak pastian di rumah saja membuat saya tidak bersemangat. Sisi pesimis saya seperti memberikan bayangan pekat pada sisi optimis saya. Membuat tidak bergairah melakukan apapun. Terutama saat cuaca tidak mendukung.

Mungkin ini yang namanya efek pandemi berkepanjangan pada kesehatan mental.

Things I'll Remember About 2021

Awalnya saya mau menulis 10 things I hate about 2021. Tentu saja inspired by that 10 Things I Hate About You movie. Film 90 an legendaris favorit saya. Sampai 3 kali saya menulis draft kemudian saya hapus sendiri. Karena setelah dibaca kok curcol-nya keterlaluan. Haha. Akhirnya, karena waktu sudah semakin mepet, saya putuskan saja untuk membuat daftar hal - hal yang ingin saya ingat dari tahun ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Tentu bakalan ada selipan curcol-nya juga. Karena curcol is lyfe.

1 - Rezeki Sudah Diatur

Suatu sore, menjelang Magrib, hujan turun dengan derasnya di sekitar rumah. Ditengah badai yang sedang mengamuk, ada WA masuk ke HP saya. Admin tempat saya beli bahan makanan siap masak mengabari kalau kurir baru mengambil pesanan saya untuk diantarkan ke rumah. Saya memang sempat langganan layanan yang menyediakan bahan makanan siap masak untuk mempermudah logistik masak di rumah. 

Membalas WA si Admin, saya bilang di rumah saya hujan deras sekali, apa tidak bisa agak nanti dikirimnya. Toh sudah terlanjur kesorean. Karena untuk ambil kiriman saya harus jalan ke portal. Sebetulnya jaraknya dekat saja, tapi kalau sedang badai cukup repot. Si admin cuma minta maaf karena pesanan sudah terlanjur dikirimkan. Agak dongkol saya, tapi ya sudahlah. Mungkin si Admin juga ingin cepat pulang. 

Sekitar setengah jam kemudian Bapak kurir menelepon mengabarkan sudah sampai tujuan. Saat Bapak itu menelepon, Adzan Magrib berkumandang. Tetiba anak saya nangis - nangis dan tidak mau lepas dari gendongan. Suami tetiba sakit perut, jadi harus bergegas ke kamar mandi. Saya, yang tadinya sudah bertekad akan menerobos badai menemui si Bapak, jadi kehilangan minat untuk nekad.

Akhirnya daripada pusing saya bilang ke Bapak itu untuk membawa pulang saja semua bahan makanan yang saya pesan. Bahan makanan untuk seminggu. Lha iya, gimana lagi, masa saya minta Bapaknya menunggu hujan hujanan sampai suasana kondusif.

Ilustrasi pemotor saat hujan (sumber : https://www.rideapart.com/).
Sebagai mantan anak motor saat SMA, saya tahu betapa tidak enaknya naik motor saat hujan. Panas dan pengap di dalam jas hujan, pandangan kurang maksimal karena kaca helm tertutup air, berbahaya karena lubang - lubang jalan tidak terlihat dan jalanan licin. Pokoknya kurang nyaman deh.

Sejam setelah Bapak itu pergi, beliau menelepon saya. Mengucapkan terimakasih atas bahan makanan yang saya berikan. Katanya sebetulnya dia sudah kebingungan karena seminggu hujan deras terus. Pendapatan dia, yang saat PPKM sudah sedikit, semakin turun. Belum lagi badannya mulai terasa tidak enak. Karena bahan makanan yang ia dapat, sekarang keluarganya bisa makan untuk 1 minggu dan dia bisa sejenak istirahat.

Saya sih tidak menganggap cerita si Bapak suatu kebetulan. Bahan makanan itu pasti memang sudah punya Bapak itu dari awal. Allah yang mengirimkan. Cuma jalan dikasihnya saja lewat saya.

Setelah kejadian dengan Bapak ini, masih beberapa kali saya mengalami kejadian yang mirip dengan layanan pesan antar ojeg online. Beli madu tapi salah pencet alamat kirim di ujung kota yang lain. Beli oleh - oleh donat untuk dibawa tapi tukang ojeg-nya terjebak macet karena pohon tumbang, sementara saya harus segera pergi. Beli rice box aplikasi nya error jadi double pesan, dan masih ada beberapa kejadian lain yang saya tidak ingat detailnya. Semuanya berakhir dengan saya meminta tukang ojeg untuk membawa pulang saja pesanan saya, karena saya tidak bisa menerimanya.

Setiap kali kejadian, saya merasa diiingatkan bahwa itulah salah satu cara Allah memberi rezeki. Sungguh sudah diatur dan tidak akan tertukar.

2 - Semua Hal yang Terjadi Ada Maksudnya

Akhir tahun 2020, mobil tua kami rusak. Transmisi matic-nya yang rusak. Mobil matic transmisinya rusak ya wassalam. Kalau dibetulkan harganya konon bisa seperti ganti mobil baru. Mobil baru yang sama tuanya maksudnya. Sebetulnya menurut orang bengkel, kerusakan si mobil tidak begitu  urgent. Kalau tidak langsung bertindak juga tidak masalah. Hanya risikonya kenyamanan berkendara berkurang dan risiko mobil mati total secara tiba - tiba meningkat.

Setelah berpikir panjang, alias 12 jam, alias semalaman (buat orang impulsif itu lama) dan menghitung IRR akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ganti transmisi saja daripada mencoba menjual si mobil dan beli mobil tua lainnya atau menunggu sampai si mobil totally break down. Alhamdulillahnya kami bisa dapat transmisi baru dengan harga super miring karena lelang gudang suku cadang. Walaupun tetap saja biaya yang mesti dikeluarkan cukup menguras tabungan kami yang sangat berharga di masa pandemi ini.

Ternyata walaupun menguras tenaga dan tabungan, keputusan nekad kami terbukti bermanfaat. Karena 3 bulan setelahnya kami harus bolak balik 500 km dari Bandung ke Semarang. Mengurus Bapak yang sakit sampai meninggal. Berpergian saat PPKM begitu lebih praktis pakai mobil pribadi. Apalagi kami bolak baliknya harus selalu sekeluarga. Alhamdulillah kami ditunjukkan jalan untuk nekad ganti transmisi. Coba kami memutuskan menunggu dan transmisinya rusak total bersamaan waktunya dengan Bapak sakit. Pasti bakal chaos.

Rangkaian kejadian seperti ini selalu mengingatkan saya bahwa semua hal terjadi memang ada maksudnya. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Suatu hal yang kita pikir adalah masalah bisa jadi di kemudian hari akan menjadi berkah. Jadi yang bisa dilakukan adalah berprasangka baik bahwa semua hal yang terjadi akan berakhir baik.

3 - Semua Ada Waktunya

Tepat sebelum pandemi kami berniat membeli rumah. Proses pembangunannya berjalan lancar, uang muka juga sudah kami berikan. Tetapi saat rumah sudah jadi dan siap dibeli, kami diberitahu ada masalah dengan sertifikat tanah tempat rumah tersebut berada. Dari puluhan rumah yang sudah dibangun, hanya ada tiga yang tanahnya bermasalah. Termasuk rumah yang akan kami beli.

Rumah yang ingin kami beli tapi belum bisa. Belum jodoh.
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Pihak pengembang shock. Kami juga kecewa, karena belum jadi punya rumah sendiri. Tapi lalu pandemi datang. Entah untung atau buntung, yang pasti karena belum bisa pindah, pandemi masih kami habiskan di rumah orang tua suami yang luasnya 5 kali rumah yang akan kami beli. Anak - anak masih bisa lari - lari dengan leluasa. Plus saat pandemi kondisi keuangan mau tidak mau agak terimbas. Sehingga alhamdulillah karena belum jadi punya KPR atau kredit lainnya, kami masih bisa jajan dan liburan tipis - tipis hidup dengan cukup tenang.

Memang semua ada waktunya.

4 - Ilmu Legowo Itu Penting

Tahun ini saya dan beberapa teman seangkatan sempat diminta untuk membuat acara coaching mengenai karir, untuk mahasiswa tingkat akhir. Salah satu pertanyaan yang muncul saat acara adalah : "Apa hal paling menantang selama berkarir yang pernah dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya?"

Sambil bercanda, di belakang layar, salah satu teman saya nyeletuk "Saat tidak ada yang jaga anak". Teman - teman yang lain sambil tertawa langsung mengiyakan. Bahkan ada yang bilang, hari gini sudah jadi direktur juga bisa resign kalau ART tetiba minta pulang kampung. Nasib keberlangsungan karir orang tua pekerja memang 60 persennya ada di masalah penjagaan anak. Apalagi saat pandemi begini, pilihan sangat terbatas.

Walaupun pekerjaan saya dan suami sangat fleksibel dan saat pandemi kami bisa full wfh, tapi tetap saja masalah jaga anak adalah salah satu yang paling buat deg - degan. Karena sekarang kami bergantung sepenuhnya pada orang lain.Tidak bisa mengandalkan institusi seperti daycare yang lebih stabil dan terkontrol.

Jadwal kerja rutin jadi terasa overrated. Terkadang kami sudah membuat perencanaan untuk menyelesaikan pekerjaan tapi buyar dalam sekejap saat dapat kabar yang menjaga anak kami izin tidak masuk karena sesuatu hal. Diantara saya dan suami seringkali saya yang harus mengalah karena saya lebih bisa menunda pekerjaan atau mendelegasikan tugas ke orang lain. Sementara suami tidak selalu bisa. 

Kalau sudah begini rasa jengkel tidak bisa dihindari, apalagi jika sudah bercampur dengan perasaan bersalah karena tidak bisa memberikan kinerja yang maksimal. Pekerjaan buyar, jaga anak juga bubar.  Tidak ada yang beres kesana kemari. Karena semua harus disambi - sambi. Apalagi saya memang tidak ahli multitasking. Tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga cobaan ya.

Anak saya mau tak mau berteman dengan gadget. Karena pandemi begini, mau ngapain lagi mereka? Lalu jamaah bilang "Baca Buku Dong!" Tapi anaknya belum bisa baca buku sendiri :')
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Akhirnya saya mencoba sedikit demi sedikit berhenti memaksakan diri. Mengurangi sisi perfeksionis yang tanpa sadar saya miliki dan menurunkan ekspektasi. Saat - saat begini ilmu legowo memang penting agar kepala tak pening dan saya tidak berubah jadi momzilla. Kalau sedang tidak bisa kerja ya sudah legowo saja kalau diprotes dan dikejar - kejar orang - orang. Kalau anak terpaksa dibiarkan ditenangkan dijaga gadget karena saya betul - betul harus kerja dan tidak ada lagi yang jaga, ya sudah legowo kalau anaknya kebanyakan screen time.  Biasanya saat saya sudah menurunkan ekspektasi dan legowo semua malah jadi dimudahkan daripada saat saya ngoyo ingin semuanya dan jadi stress sendiri.

Semoga tahun depan kondisi terus membaik dan daycare serta sekolah bisa normal lagi. Senormal yang dimungkinkan. Jadi kepusingan mamak bisa cukup berkurang. Amin. 

5 - Mom's Guilt

Sekitar tiga bulan lalu ketika kondisi pandemi mulai mereda, saya memasukkan anak saya yang sulung ke kelas robotik. Judul kerennya sih kelas robotik, tapi isinya sebetulnya main lego bersama saja. 

Bocah sulung di kelas robotik a.k.a main Lego bareng.
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Suatu hari saya mengantar anak saya ikut kelas. Biasanya Bapaknya yang antar, tapi hari itu Bapaknya sedang ada acara. Kelas robotik yang anak saya ikuti dilaksanakan di ruang setengah terbuka. Di tempat tersebut disediakan meja besar dengan beberapa kursi. Orang tua yang menunggu anaknya kelas bisa duduk - duduk disana. Hari itu selain saya ada dua orang ibu yang menunggu anaknya. Mereka terdengar  mengobrol dengan asyik. Sebagai introvert sejati tentu saya tidak ikut nimbrung. Tapi tetap nguping. In my defence nggak usah nguping pun juga kedengeran sih. Heuheu. 

Pembicaraan keduanya tentu saja berkutat soal anak. Salah seorang dari ibu - ibu ini sepertinya penganut hardcore metode parenting tertentu. Anaknya yang berusia 5 tahun, tidak beda jauh umurnya dengan anak sulung saya, punya jadwal kegiatan yang sangat teratur dan selalu bermakna. Kalaupun menonton televisi nontonnya Discovery Channel

Ibu lainnya ber "ooh ahh" mendengar penjelasan Ibu pertama. Kemungkinan terkagum - kagum dengan ceritanya. Saya juga ikutan ber "ooh aah" sih, tapi dalam hati saja. Namanya juga nguping. Sungguh saya  kagum pada energi yang dimiliki si Ibu untuk konsisten membuat anaknya punya keseharian yang sangat rutin dan sangat berfaedah setiap detiknya.

Cerita - cerita seperti ini bukan sekali dua kali saya temui. Anak berprestasi nan hebat atau wise beyond their years sepertinya sekarang semakin banyak. Acap kali mendengar kisah - kisah tersebut saya selalu merasa bersalah.  Karena saya sering merasa kurang perform jadi seorang Ibu. Kurang dalam mendidik, memberi perhatian, dan contoh yang baik. Apalagi saya juga ibu yang bekerja diluar rumah, sehingga tidak bisa selalu fokus pada anak.

Di masa pandemi ini rasa bersalah saya sebagai seorang ibu rasanya semakin berlipat ganda. Entah karena memang efek pandemi yang membuat orang semakin gampang galau, atau karena saya tidak punya hal lain untuk dipikirkan, atau justru saya terlalu banyak membanding - bandingkan dan memikirkan pendapat orang. 
Salah satu prinsip kami dalam membesarkan anak : bebaskeun, yang penting sopan. 
Iya itu yang di belakang minum air hujan dari lantai (sumber : dokumentasi pribadi)

Padahal kalau dipikir - pikir, kenapa saya harus merasa bersalah ya. Toh anak - anak saya sebenarnya semua baik - baik saja dan saya tidak melakukan hal yang salah. Belum lagi kenapa saya harus pusing - pusing memikirkan pencapaian orang lain, ketika kondisi mereka belum tentu sama. Begitupun dengan besarnya pengorbanan yang dikeluarkan. Setelah saya renungkan dengan lebih dalam, mom's guilt sebetulnya lebih kepada perasaan tidak ikhlas karena belum mencapai "standar yang dianggap ideal" sebagai konsekuensi yang harus dihadapi karena pilihan kita sendiri. Keren banget kan definisinya. Mungkin saya berbakat jadi filsuf. 

Kesimpulannya selama kita ikhlas dan bersyukur dengan kondisi yang ada sekarang, seharusnya tidak akan ada lagi mom's guilt di hidup kita.Sepertinya menarik kalau hal ini saya jadikan resolusi pribadi di tahun depan. Membebaskan diri dari mom's guilt dan fokus pada hal yang lebih penting agar kepala tidak pusing. 

6 - Konsisten Menulis

Awal tahun 2021 saya bergabung dengan Mamah Gajah Ngeblog. Setelahnya setiap bulan saya alhamdulillah konsisten mengikuti tantangan blogging yang diberikan. Blog saya yang sudah mati suri selama 4 tahun kembali terisi.Senang sekali akhirnya ada yang kembali membaca lawakan pikiran - pikiran saya yang tertuang dalam bentuk tulisan. 

Selain mengikuti tantangan, saya juga menjadi kontributor tidak tetap dari Blog Mamah Gajah Ngeblog. Blog bersama ini diisi secara gotong royong oleh anggota MGN. Walaupun tulisan saya suka kesana kemari dan masih jauh dari harapan, tapi saya mencoba untuk konsisten menyumbang artikel disana setiap bulan. 

Konsisten tidak pernah menjadi kata - kata penting di kamus hidup saya. Karena saya menganggap diri sendiri cepat bosan terhadap hal - hal yang rutin. Saya lebih menyukai kehidupan dinamis yang teratur. Halah. Setelah bergabung dengan MGN saya merasa terpacu untuk konsisten menulis.Walaupun masih satu bulan dua kali tapi lumayan lah. Kemajuan dari tahun sebelumnya yang hanya menulis di dalam kepala saja. Tidak dituangkan hingga menguap hilang.

Semangat semakin membara ketika tulisan saya ternyata cukup bisa menarik minat pembaca juri. Hahaha. Beberapa kali masuk 5 besar sampai akhirnya jadi master tantangan. Gelar impian banget karena disandingkan dengan teteh - teteh blogger yang sudah profesional. 

Beberapa kali masuk 5 besar. Pemanen sertifikat. Haha. 

Semoga bukan hanya jadi pencapaian tahun ini saja. Semoga di tahun depan semangat untuk terus konsisten menulis juga masih terus ada. Amin.

7 - Kreativitas Tanpa Batas

Saya biasanya menghindari melabeli anak dengan istilah - istilah kekinian. Tapi anak saya yang kedua memang sangat berkemauan kuat, keras kepala dan intense. Tidak sampai jadi wild child atau strong willed child yang biasanya diperkirakan di masa mendatang akan jadi orang besar juga sih. Hanya tipikal anak 2 tahun yang terlalu menghayati makna terrible two. Tapi itupun sudah bikin saya ingin mencium telapak kaki ibu saya untuk minta maaf atas kesusahan yang beliau alami dalam membesarkan saya.

Karena waktu kecil sampai cukup besar saya juga sering menyulitkan. Tapi bukan karena keras kepala. Justru karena super cuek bebek. Nasehat masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sekarang sih sudah tidak begitu lagi. Sudah tobat. Kayaknya.

Salah satu fase yang dialami oleh sebagian besar anak adalah fase baju favorit. Saya tidak pernah ingat punya baju favorit, tapi saya ingat adik saya dulu sempat cuma mau pakai kaos bergambar si Komo dan teman - temannya. Kaosnya cuma ada dua, jadi cuci kering pakai. Untung kami tinggal di Semarang yang mataharinya garang. Jadi setelah dicuci dalam waktu sejam juga bajunya bisa kering. 

Anak saya yang pertama melewati fase tersebut dengan pakaian bergambar alat berat. Tidak begitu masalah karena tersedia banyak di market place. Saya pernah menemukan satu toko yang menjual kaos bergambar alat berat dan langsung saya beli selusin. Selesai perkara. 

Lain ladang lain belalang, lain anak lain maunya. Si bungsu melewati fase baju favorit di tahun 2021. Bukan hanya baju. Celana, topi, kaos kaki, dan semua yang ia pakai harus bergambar kucing. Gambar kucingnya tidak bisa sembarang kucing. Melainkan harus mengikuti mood dia hari itu. Maunya kucing yang mana. Sayangnya baju bergambar kucing, agak sulit ditemukan di market place. Boro - boro menemukan karakter kucing tertentu, yang biasa saja sulit. Entah saya yang kurang pintar mencari, atau kucing tidak begitu digemari sebagai karakter di baju anak - anak. Pokoknya susah lah carinya.

Setiap kali baju bergambar kucing yang dia punya belum ada yang kering, saya harus memutar otak membujuknya agar mau pakai baju yang ada. Biasanya saya karang cerita. Kucing ngumpet-lah, makanan kucing lah, temannya kucing lah, mobil kucing lah, apalah, yang penting si anak wedhok mau pakai baju. Sampai suatu masa tetiba dia menolak semua cerita yang saya karang dan kekeuh mau pakai baju basah dari jemuran. 

Salah satu kaos hasil bajakan sablonan. Besok maunya yang lain lagi. (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Karena pusing setiap hari menghabiskan waktu 30 menit hanya karena perkara kucing, akhirnya saya melakukan pembajakan demi kemaslahatan kewarasan saya. Saya beli kaos polos 1 lusin dan cari 12 gambar kucing yang mungkin dia suka di internet. Kemudian kaos polos tersebut dan semua baju yang si bungsu punya, saya bawa ke tukang sablon. Saya minta semuanya disablon dengan gambar kucing yang sudah saya pilih. 

Tentu saja setelah punya 2 lusin baju bergambar kucing berbeda - beda, si bungsu memutuskan tidak ada gambar yang dia suka, dan kami tetap menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membujuknya menggunakan baju. 

Ya salaam. Gusti paringono sabar. 

8 - Ingin Jadi Kurus

Sebetulnya kalau hidup di zaman Renaissance mungkin saya bisa jadi model. Lukisan - lukisan era tersebut yang pernah saya lihat di museum Italia biasanya menampilkan gambar wanita dengan badan yang berisi dan pipi chubby

Titian, Women in a Mirror, 1512-1515 Image Courtesy of the Louvre.
"Masyarakat zaman renaissance menganggap wanita dengan badan berisi sebagai kuat dan cantik. Wanita - wanita ini lebih dihargai karena melambangkan kesejahteraan dan kesuburan" (1)

Setelah melahirkan anak kedua, berat badan saya yang sudah lama overweight menjadi obese. Diperparah dengan situasi pandemi yang membuat saya tidak pernah bergerak. Hanya duduk diam bekerja di depan komputer. Plus stress eating. Mencari kenyamanan dari makanan. Badan sudah tidak karu karuan baik dari sisi estetika maupun kesehatan. Tapi mau usaha supaya bisa turun berat badan kok ya ada saja alasan yang bisa dikemukakan. Intinya sih malas. Padahal teorinya sudah hapal diluar kepala. Kurangi kalori. Olahraga. Tapi ya itu tadi kemalasan selalu melanda plus alasan tidak punya waktu.

Akhirnya setiap kali hanya bisa mengeluh, badan cepat capek dan pegal. Belum ngos - ngosan kalau harus ngejar anak - anak. Padahal ngejarnya juga cuma pakai mata saja lho ya. Tapi kok ya lelah. Ya iyalah kalau kelebihan lemak yang ada di badan bisa ditukar daging sapi, bisa buat kasih makan 15 keluarga saat qurban haha.

Tapi karena umur sudah masuk ke akhir 30-an sepertinya sudah waktunya untuk berniat betulan mengecilkan badan. Supaya bisa beli baju dimana saja bergerak dengan leluasa, tidak cepat capek, dan tetap sehat. Mari kita buang jauh - jauh dulu slogan diet mulai besok. Agar bisa diet mulai...
.
.
tahun depan. 

Amin.  

9 - Covid 19 dan Rasa Kehilangan

Ternyata hal terberat dari meninggalnya Bapak, selain sudah tidak lagi bisa dapat doa orang tua, adalah tidak tau harus mengirimkan foto dan video lucu anak - anak kemana. Karena WA grup keluarga kami yang tadinya hanya berisi 4 orang otomatis bubar. Oleh karena itu bagi yang masih punya orang tua, jangan lupa kirimkan foto dan video cucu setiap hari. Karena jika orang tua sudah tidak ada. Bingung juga loh mau bragging share kemana. Haha.

Tahun ini, kami bukan satu - satunya orang yang berduka. Ada banyak orang yang juga kehilangan orang terkasih karena covid-19. Mereka bukan hanya sekedar angka statistik yang disampaikan dalam berita, melainkan orang - orang yang mungkin sangat berarti di kehidupan keluarganya. Bapak saya salah satu korban keganasan virus ini. Memang hanya 2% dari seluruh orang yang terkena virus ini yang meninggal. Tapi ketika orang - orang tercinta masuk ke dalam angka 2% ini, rasa sesak pasti tak terhindarkan. Karena kematian akibat wabah penyakit itu adalah kematian yang sepi.

Semoga wabah ini cepat berakhir. Paling tidak terkendali, sehingga tidak akan adalagi korban yang berjatuhan. Aminn. 

10 - Tentang Bertahan

Waktu SD sampai SMP saya ikut les berenang. Setiap hari Sabtu, siang hari bolong, saya harus menyelesaikan 8 - 10 kali berenang bolak balik panjang kolam. Sekali bolak balik 100 meter. Karena saya tidak jagoan, buat saya cukup sulit menyelesaikan tugas tersebut. Setiap kali saya harus mendorong diri atau malah memaksakan diri untuk menyelesaikan satu kali putaran. Semakin lama tambah berat karena tangan dan kaki makin sulit diajak bekerjasama.

Apalagi kalau guru saya meminta menggunakan gaya bebas atau kupu - kupu yang buat saya lebih berat dari gaya dada (gaya katak) atau gaya punggung. Makin saya misuh - misuh memaksakan diri untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan.

Tahun 2021 ini rasanya mirip seperti itu. Memaksakan diri untuk terus berenang menyelesaikan satu putaran walaupun tangan dan kaki sudah pegal luar biasa. Putaran yang didapatkan tidak sebanyak biasanya karena kali ini berenangnya wajib pakai gaya kupu - kupu dan dilakukan melawan arus di kolam ombak. Semua di tahun ini adalah tentang bertahan.

Bertahan untuk menahan diri agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, bertahan untuk terus melakukan yang terbaik dalam kondisi yang kurang ideal dan tidak menentu, serta bertahan untuk tetap sabar dan tenang menghadapi segala situasi. Semoga kita bisa bertahan sampai kondisi aman ya. 

Alhamdulillah bisa sampai di penghujung tahun tanpa kurang suatu apa.

Penutup

Baru kali ini rasanya saya menyelesaikan tantangan mepet dengan jam deadline. Rasanya wow sekali ternyata ya. Walaupun belum puas karena tidak sempat memasukkan gambar sebagai pelengkap, tapi tidak apa. Paling  penting sudah berhasil memenuhi komitmen untuk menyelesaikan tantangan satu tahun. Akhirnya ada juga pencapaian di tahun ini yang cukup bisa dibanggakan. 

Alhamdulillah. Selamat tahun baru semuanya.  

Referensi :






Read more ...

Monday, November 1, 2021

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Bagian 1)



Saya dan suami akhirnya tidak bisa mengelak lagi. Tahun depan anak sulung kami mau tidak mau harus masuk sekolah formal. Karena di usianya yang 4 tahun saat ini, kami merasa dia belum sanggup duduk diam di depan layar mengikuti sekolah online, selama pandemi dia belajar bermain dengan guru secara privat di rumah. Istilah britishnya Governess ๐Ÿ˜†. Biar nggak kalah dengan George, Charlotte, dan Louis.

Berbekal kisah yang saya baca di buku - buku Enid Blyton tentang anak - anak di Inggris jaman dulu kala. Saya punya ide untuk mempekerjakan lulusan PAUD untuk menjadi guru privat anak saya seharian selama saya kerja. Sebetulnya jobdesk-nya lebih banyak ke menemani main sih daripada belajar. 

Tapi tahun ajaran yang akan datang insyaallah usianya sudah 5 tahun lebih. Kami lihat dia sudah cukup siap untuk masuk sekolah formal. Baik daring maupun luring. Well, tidak ada yang mengharuskan anak kami sekolah secara formal sih, tapi karena kami berdua tidak ada yang merasa sanggup homeschooling anak, jadi kami putuskan anak - anak kami akan masuk sekolah konvensional saja.

Masalahnya adalah, mau masuk sekolah mana?

Ternyata memilih sekolah pelik juga ya saudara - saudara. Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan. Padahal kami cuma baru akan memilih TK. Kata suami yang repot memang milih TK dan SD. Kalau milih universitas justru gampang. Suruh saja anaknya pilih sendiri. Nggak usah pusing.

Suami menyarankan kami buat analisis SWOT ala ala atas sekolah - sekolah yang kami incar. Biar agak ilmiah pemilihannya tidak hanya berdasarkan hati atau impulsif atau ikut trend belaka. 

Sekolah yang kami incar sebetulnya bukan istilah yang tepat sih, sekolah yang feasible lebih masuk akal dalam konteks ini. Karena pilihan kami terbatas biaya dan lokasi. Intinya dari awal kami sudah sepakat tidak akan memaksakan diri menyekolahkan anak di tempat yang tidak terjangkau oleh kami baik dari sisi biaya maupun lokasi. Sekolah yang bayarnya pakai dollar misalnya, walaupun ada yang dekat sekali dengan rumah, jelas tak akan kami lirik. Malu sama slip gaji XD Sekolah yang ada di seberang kota juga tidak akan kami pertimbangkan. Sebagus dan semenarik apapun sekolah tersebut.

Ku gentar dengan drama berangkat pagi ๐Ÿ˜…

Sebelum memutuskan sekolah yang mana yang akan kami masuki, saya dan suami memutuskan untuk survey langsung. Karena kami sama sekali buta tentang per TK -an jaman now. Saya diingatkan oleh adik saya bahwa cari TK sekarang tidak mudah. Pendaftaran kebanyakan dibuka bulan Oktober. Jadi kalau masih ingin banyak pilihan, cari TK dari sekarang. Suami awalnya tidak percaya masuk TK sekompetitif itu. Tapi setelah datang ke sekolah pertama, baru dia percaya kalau memang se-riweuh itu kalau ingin dapat sekolah yang betul - betul cocok. Akhirnya malah dia yang semangat survey.

Suatu minggu di awal Oktober dengan impulsif saya tanya ke grup ITB Motherhood, TK apa saja yang ada di Bandung bagian barat. Buat bagian timur sudah ada bahasan yang cukup ramai. Grup emak - emak alumni ITB ini memang bisa diandalkan untuk bertanya. Sebetulnya ada pilihan juga sekolah di Bandung kota karena kebetulan kantor kami di kota. Tapi diutamakan yang dekat rumah dulu. Karena belum tentu juga saya masih kerja nanti.

Ada beberapa TK yang disebutkan di grup. Setelah menimbang - nimbang kami putuskan untuk sambangi beberapa. Dari beberapa ini kami merasa pilihan kami sudah cukup. Tinggal nanti dipertimbangkan pro dan kontranya serta kecocokan dengan anaknya untuk memutuskan pilihan yang diambil. Walaupun untuk soal kecocokan, prinsip kami anak TK masih bisa dibentuk dan dilatih untuk menyesuaikan diri, jadi tidak terlalu jadi concern.

Ini saya ceritakan hasil survey yang saya dan suami lakukan. Saya coba buat review sejujurnya. Tapi mohon diingat ini subjektif berdasarkan pengamatan saya dan suami saja ya. Pro dan kontranya tentu disesuaikan dengan kondisi keluarga kami. Jadi kalau ada yang tidak sesuai tidak dimaksudkan untuk berdebat ya atau berantem. Hanya pendapat kami saja ๐Ÿ˜

Sekolah Bianglala (PG, TK, dan SD)

Katanya milih sekolah juga soal chemistry dan jodoh - jodohan. Survey yang kami lakukan singkat jadi kesan pertama begitu penting. Kesan pertama agak kurang menyenangkan di sekolah yang kami sambangi pertama kali ini. Mungkin timing yang tidak tepat atau situasi yang kurang mendukung. Sayang sekali padahal lokasinya paling dekat dengan rumah. Bisa jalan kaki.

Saat datang, saya sempat kebingungan di depan pintu kantor administrasi. Bingung mau tanya siapa. Padahal ada ibu - ibu yang sedang mengobrol di ruang tamu, persis di balik pintu. Tapi tidak ada yang berminat menggubris saya. Setelah mengulang mengucapkan salam, akhirnya ada petugas yang menghampiri saya. Sikapnya juga sama kebingungannya ketika saya sampaikan ingin tanya - tanya tentang penerimaan murid baru. Setelah berkonsultasi sejenak dengan salah seorang ibu - ibu yang duduk di ruang tamu, dia masuk lagi ke dalam kantor.

Sementara saya dibiarkan tetap menunggu di depan pintu. Tanpa dipersilahkan masuk. Padahal di depan pintu ada tulisan harus lepas alas kaki untuk masuk. Jadi saya yang berasumsi akan diajak masuk sudah lepas alas kaki dari awal. Sungguh awkward berdiri tanpa alas kaki di depan pintu kantor orang ๐Ÿ˜‚ Memang hanya beberapa menit tapi cukup membuat saya mengerutkan kening. Karena merasa seperti tidak diperkenankan datang. Mungkin seharusnya memang janjian kali ya. Tapi kan bisa bilang ๐Ÿ˜…

Setelah menunggu beberapa menit, petugas datang lagi dan meminta saya menunggu di salah satu gazebo di depan kantor. "Di dalam sedang ada tamu, jadi mom tunggu disana saja". "Lha gw kan juga tamu", batin saya, sambil kembali menggunakan sepatu dan berjalan menuju gazebo. So much for the first impression. Apalagi untuk calon "customer". Kalau suudzon saya merasa agak diremehkan.

Setelahnya untung biasa saja, petugas yang sama datang kembali membawa buku tamu. Sambil meminta maaf karena saat itu sedang ada pelatihan guru SD. Sedang pada riweuh mungkin maksudnya. Karena riweuh jadi tidak welcome gitu? Entahlah.

Setelahnya ada petugas/guru lain yang menghampiri, mengajak kami berkeliling gedung TK. Penjelasan yang diberikan standar. Baru buat saya mengenai cara belajarnya, tapi selebihnya nothing special. Model pembelajaran yang digunakan adalah metode sentra. Bergilir setiap hari 2 sentra untuk masing-masing kelas. Untuk yang awam seperti saya mengenai metode sentra, dalam metode ini siswa berkeliling setiap hari ke sentra - sentra untuk mendalami satu keahlian tertentu. Halah bahasanya ๐Ÿ˜‚ Jadi murid yang mendatangi guru untuk belajar sesuatu bukan guru yang mendatangi murid untuk mengajari sesuatu.

Anyway, curiculum aside, Fasilitas yang ditawarkan di sekolah ini memang premium. Dalam artian ruang kelas dan bermain bagus, bersih, dan tertata rapi. Mainan banyak. Baik indoor maupun outdoor. Desain dan interior ruangan mengingatkan saya dengan ruang kids club di hotel berbintang. Biaya masuk agak lebih mahal dari sekolah laim yang kami survey. Sekitar 18 juta untuk TK. Sebetulnya biaya tidak jadi masalah kalau sekolahnya mampu menarik hati. Paling tidak uang bisa dicari :D Tapi karena first impression agak kurang buat kami, biaya yang lebih mahal malah jadi satu kekurangan sekolah ini.

Pro
- Dekat rumah. Tidak usah keluar biaya antar jemput.
- Fasilitas premium. Jumlah anak tidak banyak.
- Program PG bisa untuk anak usia mulai dari 2 tahun. Jadi si bungsu bisa ikut sekolah kalau mau.
- Ada SDnya juga jadi relatif gampang kalau mau lanjut.
- Bisa masuk di semester genap. Jadi tidak perlu tunggu tahun ajaran baru.

Kontra
- Lebih Mahal.
- Program standar.
- First impression kurang baik.
- Logonya telor ceplok ๐Ÿ˜

Keterangan
Alamat : Jl. Sari Endah No. 19 Sukarasa, Kec. Sukasari, Kota Bandung 40152.
Website : https://bianglala.sch.id/
Instagram : @sekolahbianglalabandung

Darul Hikam Kindergarten


Sebetulnya sekolah ini lokasinya tidak di sekitar rumah, tapi dulu anak saya daycare di Dehakidz milik Darul Hikam, jadi kami putuskan untuk pertimbangkan juga. Ada banyak teman - teman daycare-nya yang sekolah disini. Lokasinya juga relatif dekat dengan kantor kami di ITB.

Saat kami datang untuk survey, sekolahnya sudah kosong. Hanya ada dua orang guru yang sudah bersiap pulang. Tapi dengan ramah mereka menyambut kami dan mempersilahkan kami masuk. Di ruang kepala sekolah kami diberikan penjelasan mengenai program dan kegiatan sekolah. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, penjelasan yang diberikan di Darul Hikam lebih komprehensif. Mungkin pengalaman puluhan tahun memang sangat berpengaruh. Program yang ditawarkan konvensional. Sistem ruang kelas biasa. Jumlah muridnya banyak. Di kondisi normal masing - masing level terdiri atas 3 kelas paralel. Tidak masalah buat kami. Membiasakan anak juga untuk ramai - ramai.

Jalan Cisitu tempat sekolah ini berada relatif sempit lebarnya, tapi surprisingly sekolah ini ternyata besar. Sempit diluar, lebar di dalam. Fasilitasnya cukup lengkap. Halaman luas dengan lapangan olahraga diujungnya. Tempat bermain outdoor dan indoor, kebun, kandang binatang, dsb. Dapur juga ada. Makan siang anak biasanya dimasak sendiri di sini.

Walaupun terletak di wilayah padat penduduk, lokasi sekolah ini tertutup jadi insyaallah aman, karena semua yang masuk pasti ketahuan Satpam. Biaya sekitar 13 juta untuk TK. Ada diskon untuk alumni Dehakidz. Jam pelajaran di situasi normal 5 jam dari jam 8 - 13 setiap hari. Anak dibiasakan makan dan sholat dzuhur dulu di sekolah sebelum pulang. Berangkat bisa bareng kami. Untuk pulang harus arrange lagi.Tapi jam 13.00 tidak terlalu jauh dengan jam pulang kantor. Sesekali masih tidak masalah kalau ikut ke kantor. 

Sekolah ini salah satu yang terkenal dan menjadi favorit, sehingga saat kami datang slot untuk open house dan trial nya sudah penuh. Apalagi tahun depan mereka hanya akan terima lebih sedikit anak. Menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Tapi karena anak kami alumni Dehakidz katanya akan diberikan kesempatan untuk ikut trial dan open house. Let's see.

Pro
- Situasi familiar. Mirip dengan di daycare.Walaupun mungkin anaknya sudah lupa karena sudah 2 tahun terakhir dia di daycare.
- Jam belajar panjang. Anak bisa main dengan teratur lebih lama. Cocok untuk anak yang perlu rutinitas tapi gampang bosan sendirian.
- Sudah ada jenjang TK - SMA. Kalau sudah cocok dengan pendidikannya tidak perlu pusing - pusing mikir sekolah lanjutan.
- Yayasan besar. Pengalaman kami saat pandemi hal ini berpengaruh pada keberlangsungan dan kestabilan kondisi sekolah. Dananya banyak maksudnya :D
- Terintegrasi dengan Dehakidz.

Kontra
- Persaingan masuk sengit karena banyak peminat XD
- Lokasi jauh dari rumah, harus arrange jemputan.
- PG diutamakan untuk anak 3 tahun. Ada umur minimal jadi si adek tidak bisa ikutan sekolah sampai 2 tahun kedepan. Kecuali dia mau masuk Dehakidz. Dimana persaingan pasti lebih sengit lagi :D

Keterangan
Alamat : Jl. Cisitu Indah No. 16 Bandung
Website : https://darulhikam.sch.id
Instagram : @darulhikam_kindergarten

TK & SD Islam Al Azhar 30 Sarijadi

Ternyata dekat rumah ada Al Azhar. Lokasinya agak tersembunyi, jadi kami tidak pernah tau. Mungkin tidak akan pernah ngeh kalau tidak disebut oleh salah seorang teteh di ITBMH. Saat kami datang untuk survey sedang ada persiapan penyambutan siswa Pertemuan Tatap Muka. Tiga orang satpam berdiri berjajar sambil membawa walkie talkie. Pertama saya pikir kami akan diminta putar balik dan disuruh janjian dulu saking ketatnya penjagaan XD Tapi ternyata tidak, kami langsung diarahkan untuk parkir dan menemui petugas resepsionis.

Kesan pertama sekolah ini, armada jemputan sekolahnya banyak banget ๐Ÿ˜‚ halaman depan penuh minibus. Mungkin ada kali 20. Di halaman dalam sekolah juga ada yang terparkir. Kalau tidak diperhatikan baik - baik, bisa dikira pool travel bukan sekolah ๐Ÿ˜… Suasana sekolah ini mengingatkan saya pada SD TK saya jaman dulu. Seperti sekolah yang saya bayangkan. Ramai. Banyak anak - anak. Ya iyalah, kalau banyak Bapak Ibu itu kantor Pemda. Baik.

Program belajar di sekolah ini standar saja. Tradisional seperti TK dan SD pada umumnya. Jumlah anak per kelas cukup banyak. Setiap kelas diampu 1 guru. Waktu kami diajak keliling dan sempat mengintip di kelas TK, salah seorang Guru sedang menerangkan ke salah satu murid. Murid yang lain sepertinya menunggu giliran. Hebatnya anak - anaknya bisa duduk diam menunggu.

Wondering apakah anakku bisa seperti itu. Kalau masuk sekolah ini pasti akan jadi perubahan suasana yang sangat drastis buat dia. Dari cuma sendiri, dapat perhatian penuh dari gurunya, hingga harus berbagi dengan banyak anak lain. Tapi tidak terlalu jadi masalah, karena kami juga awalnya ingin dia masuk sekolah negeri saja. Jadi suasananya sudah mendukung. Fasilitas sekolah standar. Ada lapangan olahraga indoor dan kantin yang cukup luas. Biayanya ternyata standar. Tidak terlalu mahal. Sekitar 12 juta untuk TK.

Masalahnya, seperti sekolah negeri, jam masuk sekolahnya 07.15. Pagi banget :')

Appreciate dengan ibu petugas yang menanyakan nomor telepon saya dan langsung WA sejam setelah saya meninggalkan sekolah tersebut.

Pro
- Yayasan besar. Kalau memang 1 yayasan dengan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar.
- Sudah ada sampai jenjang SD. Lokasinya juga sama, jadi anak - anak lebih terbiasa, dengan teman dari berbagai kelompok umur.
- Antar jemput tersedia.

Kontra
- Jam masuk sekolahnya pagi banget.
- Sekolahnya ramai. Kalau anaknya perlu perhatian khusus mungkin bakal pusing di sini.
- Tidak ada PG. Si bungsu tidak bisa ikut sekolah disini.

Keterangan
Alamat : Jl. Tirta Sari III No. 1 Sarijad, Kec. Sukasari, Kota Bandung 40151
Website : https://www.alazhar30bandung.sch.id/
Instagram : @alazhar30bdg

KB & TKIT At-Taqwa


Secara mengejutkan TK ini menjadi top contender dalam ajang pencarian TK yang kami lakukan. Saya tau namanya dari ITBMH. Ada beberapa teteh yang menyatakan sangat puas menyekolahkan anaknya disana. Setelah saya berkunjung kesana saya jadi mengerti kenapa.

Lokasi TK ini ada dalam komplek perumahan Angkatan Darat. Sekolahnya punya halaman yang luas dan desainnya terbuka jadi kesannya lega. Saat di sekolah ini, kami merasa tidak sedang ada di tengah kota Bandung yang hiruk pikuk. Mungkin karena daerahnya sepi ya. Kami bertemu dengan salah seorang guru/petugas administrasi. Pada awalnya jujur kami tidak berharap banyak dengan sekolah ini. Kami pikir sama dengan TK pada umumnya. Tapi ternyata penjelasan yang diberikan mengenai program di sekolah ini sangat menarik.

Ibu yang menjelaskan kepada kami mengenai program sekolah nampak sangat paham mengenai kurikulum dan pedagogi. Kami sangat mengapresiasi saat beliau terlebih dahulu menginfokan mengenai metode belajar, baru setelahnya program tambahan, fasilitas, dan biaya. Dari penjelasan yang diberikan kami berani berkesimpulan bahwa program di sekolah ini seperti yang ditawarkan di sekolah yang lebih mahal tapi memanfaatkan kearifan lokal sehingga biayanya lebih murah. Tidak sampai 10 juta untuk total biaya masuk.

Metode belajar yang dipakai di TK At-Taqwa adalah metode sentra. Masing - masing sentra dipegang oleh 2 orang guru bersamaan. Jadi walaupun ukuran kelasnya cukup besar, perbandingan guru dan muridnya kecil.

Selain pembelajaran sehari - hari, guru - gurunya sepertinya mengeluarkan effort lebih untuk bisa memberikan program pembelajaran inovatif yang menarik untuk anak usia TK. Seperti kemping saat bulan puasa, virtual tour saat pandemi, belajar luring bersama di rumah teman, program persiapan masuk SD, dsb. Sebetulnya mungkin agak berlebihan kalau disebut inovatif ya. Banyak sekolah lain yang melakukan hal yang sama. Tapi karena biaya yang harus dikeluarkan hanya setengah dari sekolah lain, jadi menurut kami worth it sekali. Hehe.

Pro
- Value for money. Paling murah tapi program tidak kalah ciamik. Penting banget ini.

Kontra 
- Tidak ada SD. Mungkin bakal sedikit pusing saat harus cari SD.
- Tidak ada jemputan jadi harus arrange jemputan lagi. 
- PG saklek untuk anak 3.5 tahun. Bungsu tidak bisa ikut sekolah.
- Jam masuk saat normal lumayan pagi. Jam 07.30 :')

Keterangan
Alamat : Jl. Intendans No. 77, Gegerkalong, Kec. Sukasari, Kota Bandung, 40153
Website : - 
Instagram : @tk_attaqwa

Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman


Sekolah yang merupakan bagian dari yayasan Percikan Iman milik ustad Aam Amiruddin ini sangat direkomendasikan oleh beberapa ibu - ibu di ITBMH. Kebetulan anak sepupu saya, yang tinggalnya satu gang dengan kami juga sekolah disini. Jadi kami sudah cukup lama dengar namanya.

Banyak yang bilang suasana sekolah ini enakeun. Memang begitu adanya. Sekolah ini terletak di bukit jadi udaranya cukup adem. Kalau dari arah Gegerkalong sedikit berkelok - kelok jalannya sehingga harus punya kendaraan pribadi untuk bisa sampai ke sekolah ini. Sekolahnya rimbun banyak pepohonan. Bentuk bangunan TK tradisional dengan elemen utama kayu. Di taman depannya ada gazebo - gazebo. Sungguh mengingatkan saya pada restoran sunda ๐Ÿ˜ 

Pastinya suasana sekolah ini asyik untuk ngariung. Pantas nuansanya kekeluargaan sekali. Saat kami berkunjung ada beberapa ibu - ibu yang sepertinya menunggu anaknya PTM  duduk - duduk di gazebo sambil mengobrol akrab. Ada juga ibu - ibu lainnya yang mengambil foto anak - anak yang sedang main di playground.

Program belajar di sekolah ini konvensional. Hal yang unik mungkin untuk TK belajarnya pindah - pindah tempat, tidak melulu di ruang kelas. Bisa di taman, gazebo, aula serba guna, dan sebagainya. Menarik sepertinya untuk bocah yang gampang bosan. Selain itu sekolah ini juga mengembangkan aplikasi belajar sendiri. Cukup inovatif. Biaya yang diperlukan sekitar 12 juta untuk TK. 

Sekolah ini sepertinya menjunjung prinsip kebersamaan. Paling tidak yang saya lihat ibu - ibunya saling akrab. Banyak kegiatan bersama juga seperti belajar tilawati, diskusi parenting, bakti sosial dan sebagainya. Problem ist, banyak kegiatan untuk orang tua bakal jadi tantangan besar buat saya yang mengaku introvert dan socially awkward. Karena saya tidak pintar kumpul - kumpul :') Tapi suami mengingatkan, namanya juga jadi orang tua. Orang dewasa. Jadi orang dewasa ya harus bisa mengatasi masalah begini. Apalagi kalau anaknya suka sekolahnya. Kan yang sekolah anaknya bukan ibunya. Ya iya juga sih haha.

Trial untuk sekolah ini akan dilakukan secara luring. Pasti lebih menarik buat bocah. Kita tunggu saja tanggal mainnya. 

Pro
- Suasana sekolah nyaman dan kekeluargaannya terasa.
- KB bisa untuk anak usia 2 tahun. Tidak masuk setiap hari. Bungsu bisa ikut sekolah kalau mau. 
- Sudah ada SD jadi tidak perlu pusing kalau mau lanjut. 

Kontra
- Lokasinya agak tersembunyi jadi harus ada kendaraan pribadi. Antar jemput tersedia dengan armada yang masih terbatas.
- Salah satu sekolah favorit dengan banyak peminat jadi persaingan akan cukup sengit nampaknya XD 

Keterangan
Alamat : Kompleks Gegerkalong Permai Jl. Bukit Firdaus No. 9, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat 40559
Website : https://firdauspercikaniman.sch.id/
Instagram : @tamanfirdauspercikaniman


Penutup

Kita akhiri dulu cerita bagian 1, karena sudah terlalu panjang. Insyaallah akan segera disambung ke bagian 2. Masih ada 1 sekolah lagi yang survey-nya belum diceritakan karena harus janjian terlebih dahulu plus cerita tentang sekolah yang tidak jadi kami survey karena mungkin kurang berjodoh. Sayang sekali padahal sekolah ini termasuk yang kami incar dari awal. Memang cari sekolah juga rejeki rejekian.

Anyway, sampai bertemu di bagian - bagian selanjutnya ya. Semoga bermanfaat.
Read more ...