Tuesday, October 20, 2026
Bukan Peristiwa Viral Tapi Jelas Menyedot Perhatian
Sunday, August 23, 2026
Menguji Kedewasaan Dengan Aplikasi-Aplikasi Favorit Penghambat Produktivitas
Tapi ternyata saya belum cukup dewasa untuk menyikapi konten-konten yang ada di sosial media. Masih sering ter-trigger dan jadi overthinking. Apalagi saat itu pandemi dimana tingkat stress saya tinggi. Alhasil saya memilih untuk lebih sering uninstall sosial media dan youtube. Tidak permanen, karena kadang-kadang masih perlu.
Berbeda dengan masa menyusui sebelumnya, sesi menyusui sekarang nggak ada bosan-bosannya. Hiburan beraneka macam tersaji di ponsel. Bak lagu Enno Lerian di tahun 90an. Mau apa, bingung sendiri.
Malam-malam panjang bisa dihabiskan dengan nonton serial sampai habis. Kalau bukan karena faktor U yang bikin recovery jadi lama, betah juga saya begadang.
Gara-gara bebas nonton saya jadi semakin menyadari hal yang sudah saya curigai dari lama. Saya ini makin sulit fokus. Bahkan untuk menonton acara yang seharusnya jadi hiburan. Nonton film 2 jam bisa 5 hari baru selesai. Bahkan nonton konten Youtube 20 menit saja nggak bisa. Nggak tahan.
Stage 1: Konsentrasi Nonton Tanpa Jeda
Untuk melatih otak supaya kembali bisa fokus, saya mencoba menghabiskan konten-konten panjang tanpa selingan. Selingan buka aplikasi lain ya. Kalau selingan kehidupan sih banyak.Saya memilih OTT untuk sumber tontonan panjang tanpa jeda. Utamanya Netflix. Dari sekian banyak aplikasi OTT yang saya langgan, saya memang paling suka Netflix. Isi tayangannya beragam dan tampilannya smooth. Navigasinya juga enak. Apalagi sekarang makin banyak serial dan film lama yang ditambahkan kesana. Jadi bisa sekalian nostalgia.
Stage 2: Mengalahkan Doom Scroling
Setelah bisa agak fokus nonton tanpa gangguan, waktunya saya masuk ke challenge sesungguhnya. Dengan berani saya install salah 3 aplikasi penjebak waktu: Instagram, Youtube, dan Thread (saya sampai sekarang menolak masuk dunia TikTok).Stage 3: Memahami Kalau Konten Hanyalah Konten.
Salah satu alasan kenapa saya membatasi sosial media adalah saya merasa tidak cukup dewasa untuk tidak terpengaruh dengan konten yang ada disana. Merasa tidak cukup (impostor syndrome) atau, malah lebih parah, merasa sombong atau lebih baik dari orang lain adalah penyakit-penyakit hati yang sering kumat kalau saya sedang tenggelam di sosial media.Dah ah banyak amat ngecomnya. Jadi apa kesimpulan tulisan ini? Nggak ada. Cuma membuktikan diri masih bisa nulis 1500 kata buat nggak skip Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan ini.
Mohon maaf nggak nyambung juga sama temanya.
Hau hau.
Thursday, July 16, 2026
Kesalahan-Kesalahan Dalam Menemui Harta Karun Perak (No. 5 Membagongkan)
1- Salah Perhitungan
2- Salah Kaprah
3- Salah Sangka
4- Salah Harapan
Ternyata kenyataan yang saya dapati melebih harapan. Caregiver yang saya sewa perhatiannya luar biasa. Sampai hal-hal yang tidak saya minta juga dikerjakan. Seperti memanggilkan suster saat saya mengeluh kurang nyaman atau infus habis, membelikan saya minuman kesukaan dari mini market, menunggu gojek yang mengantar barang ketinggalan dsb.
Selain itu dia juga menemani bayi tidur sambil memastikan saya bisa istirahat total diantara waktu bayi menyusu. Biayanya memang lumayan. Tapi worth it banget lah.
5- Salah Waktu
Perbedaan sesar secara cito dan elektif tentu saja ada di persiapannya. Sesar cito selalu dimulai dengan kunjungan ke UGD.Sementara waktu Ragil, saya ke UGD di usia kandungan 41 minggu. Masih tidak ada kontraksi tapi pergerakan bayi sudah berhenti selama lebih dari 8 jam. Alhasil di kedua operasi itu isinya lari-lari.
Kehamilan kali ini saya sudah dapat tanggal operasi 2 minggu sebelumnya. Bisa siap-siap dengan lebih santai. Saking santainya sampai hari H masuk RS (hari kedua cuti) masih mengerjakan pekerjaan kantor.
Masuk RS kamar sudah ready. Jadwal puasa, obat, dan persiapan lainnya juga sudah tertata rapi. Janin dipantau berkala tanpa degdegan. Santai banget lah.
Masalah muncul justru di hari H operasi.
Jam 7.30 saya mandi keramas, karena berdasarkan pengalaman lampau baru bisa keramas lagi beberapa hari setelah operasi. Dalam hitungan saya, setelah mandi bisa mengeringkan rambut dulu, sisiran atau apalah biar tampang agak mbejaji.
Dokter obgyn saya sendiri yang datang mengabari kalau operasi saya dimajukan jadi jam 08.00.
Terpaksa mandi bebek. Masih untung ingat sikat gigi. Alhasil saya didorong ke ruang operasi dengan kondisi rambut masih basah dan acak-acakan. Disini saya bersyukur bukan artis dan nggak nyewa fotografer momen lahiran.
Untung dokter dan perawat nggak ada yang masalah saya mandi nggak bersih-bersih amat. Jadi operasi juga berjalan tanpa kendala.
Cuma saya kena goda suster-suster di ruang persiapan dan ruang operasi. Nggak selesai nyalon katanya.
6- Salah Perkiraan
Dari dua operasi sesar yang saya jalani sebelumnya, saya tidak merasakan sakit yang cukup berarti. Toleransi rasa sakit saya memang agak diatas rata-rata, jadi nyeri-nyeri sedikit tidak masalah.Di sesar pertama, dalam 18 jam saya sudah bisa jalan biasa kesana kemari. Saat sesar kedua saya pakai metode ERACS yang waktu itu masih tergolong baru. Karena manajemen rasa sakit yang lebih efisien, 6 jam setelah operasi saya sudah bisa duduk sendiri.
Ternyata, tak diduga tak dinyana, yang bikin saya nggak bisa tidur semalaman justru masalah goyoken. Alias pegal punggung dan pinggang. Terutama pinggang bagian bawah yang terdampak kontraksi.
Aseli. Saya baru berasa faktor U disini. Sampai tensi saya naik ke angka 150. Tanda tubuh saya menahan sakit. Jompo abis.
Untuk pertama kalinya saya sampai minta obat pereda sakit tambahan dan sampai 24 jam pasca operasi saya masih kesulitan tidur miring dan berdiri. Hingga saya (dengan agak merasa bersalah tentu saja) sedikit lega waktu bayi harus disinar akibat hyper billirubin. Nggak sanggup kayaknya langsung pulang dan menyusui seperti biasa. Ngilu banget.
Kayaknya ini memang masalah core tubuh yang tidak terbangun dengan baik. Jadi saat ada trauma langsung roboh pertahanannya. Luka operasinya sendiri malah sakitnya gitu-gitu saja. Nggak sakit malah, kecuali di bagian simpul jahitan yang agak nyut-nyutan kalau saya gerak terlalu heboh.
Sisanya mati rasa sampai lama karena anestesi Tap Block bagian dari ERACS.
Sampai sekarang juga masih suka ngilu-ngilu tulang dan sendi. Kalau sudah begitu parasetamol dan koyo to the rescue. Gimana lagi. Jompo.
7- Salah Dugaan
Memang takdir nggak ada yang tau ya.Sebelum kehamilan anak ketiga ini, saya merasa sudah masuk ke fase kehidupan yang berbeda. Mbarep dan Ragil sama-sama sudah sekolah di jenjang SD. Dua-duanya sudah masuk fase 7 tahun kedua pendidikan menurut teori parenting islami. Sudah bisa dikasih tau dan diajak ngobrol. Lebih challenging mengurusnya tapi paling nggak kami bisa cari tau maunya apa.
Kehidupan mulai berjalan teratur. Ritme pekerjaan tak semrawut dulu karena saya dan suami sudah sama-sama cukup senior di kantor dan sudah punya privilese buat mengatur ritme sendiri.
Kelahiran si Bungsu ini memang mengubah semua perspektif kehidupan. Kalau ada rezekinya, saya masih bakal melewati fase-fase yang dipikir sudah lama ditinggalkan.
Lucu memang bagaimana dalam setahun saja rencana kami berubah total. Dari mau mulai hunting tiket murah sampai sekarang jadi hunting popok murah. Dari nggak khawatir kalau anak-anak batuk pilek doang jadi kembali siaga kalau bayi ingusan. Dari mulai bisa nonton film bareng-bareng jadi kembali harus nyetel
Bayi ini tak dinyana juga jadi jawaban yang tak terduga dari pertanyaan yang tersembunyi di hati kecil saya. Beberapa waktu kemarin, sebelum hamil, saya mulai mempertanyakan tujuan dari semua yang saya lakukan terutama 10 tahun kebelakang.
Kehamilan ini juga jadi pengingat di usia tak muda lagi. Bahwa pasrah diyakini jadi kunci. Hal yang diminta dengan sungguh-sungguh hanyalah ketenangan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
Bismillah semoga ada jalannya. Termasuk kalau jalan-jalan harus kembali bawa stroller dan sejuta kerempongan lainnya 😂
8- Salah yang Membahagiakan
Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog sekaligus catatan kelahiran si Bungsu.
Welcome, Baby G!
Our Silver Treasure.
The biggest surprise at the dawn of Ayah and Ibu's thirties (and the very beginning of Ibu's forties).
The one that made Ibu halt all the plans (and ambitiousness) to rethink the purpose of her life.
May Allah bless you with the best taqdeer, as prosperous and grandiose as your name.
And may Allah also grant us all the sabr and calmness to "Mulai dari 0 lagi ya, Pak Bu 🤣"
We love you to the moon and back, for all eternity
- Ayah, Ibu, Mas, Kakak -
Saturday, June 20, 2026
Orang Tua Zaman Dulu Ngapain Sih?
Rasa bersalah kalau nyuekin anak dan
Wednesday, May 20, 2026
Hari Biasa Cuma Ada Tapinya
Mungkin Tuhan tau kalau kami ketemu isinya cuma "menganalisis orang", jadi tidak dibiarkan sering-sering.
Makanya sampai menghadapi esok haripun saya tidak berani berencana terlalu detail. Que sera-sera kalau kata lagu lama.
Berusaha mengesampingkan perasaan galau, saya mengambil wudhu dan membangunkan suami yang harus pergi pukul 5 pagi.
Di hari itu saya harus mengikuti workshop seharian di kantor. Sementara suami harus pergi mengajar ke Cirebon. Sebetulnya tidak ada hal khusus yang harus saya siapkan untuk menghadapi hari itu.
Selesai sholat subuh saya beranjak menyiapkan bekal anak-anak dan sarapan. Berkutat di dapur kemudian dilanjutkan mandi dan sarapan, saya baru lihat HP lagi sekitar pukul 06.15.
Hari yang biasa pun dalam sekejap berubah jadi tak biasa.
Adalah suatu konsesus di kalangan ibu-ibu, dimana semakin ibu rungsing maka semakin ajaib pula tingkah anak-anak. Hari itu Ragil memutuskan bangun sebagai kucing. Kucing lucu yang perlu dibujuk untuk mandi dan bersiap.
Alhamdulillah keduanya utuh sampai sekolah. Walaupun muka Ragil belepotan bekas air mata karena di mobil berantem sama kakaknya.
Gelut sih lebih tepatnya.
Untung sekolahnya dekat. Cuma 10 menit dari rumah. Kalau di seberang kota kayaknya saya sudah menyerah di jalan. Mending melipir makan seblak dan goyobod sambil bikin thread tentang pertempuran Pandawa dan Kurawa.
Berhasil ikut workshop dari awal saya anggap prestasi istimewa. Apalagi masih bisa absen di nomor 5 teratas. Untung saya tinggal di Indonesia dimana jam dinding di setiap ruangan menunjukkan waktu yang berbeda. Tidak ada yang tau waktu yang sebenarnya.
Keikutsertaan saya di workshop sesi pagi berjalan lancar. Anak-anak juga sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan aman.
Mana sore itu jalan ke arah rumah merah membara, kombinasi hujan yang awet dan lampu lalu lintas yang entah kenapa nampaknya memihak satu jalur saja. Perjalanan 30 menit jadi molor 90 menit.
Sampai di rumah yang gelap gulita, akhirnya secara impulsif memutuskan buat bawa anak-anak ngungsi ke mall saja sampai Bapaknya datang.
Suami menyusul ke mall. Kami langsung pulang begitu dia datang.
***
Dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei degan Topik Hari Biasa yang Tak Biasa.
Monday, April 20, 2026
Kita Semua Kenal Tante Yuli
*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.
Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.
Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan.
Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.
Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.
Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.
Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (💣). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.
Rangking berapa? (💣)
Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga.Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.
Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Kalau kata statistik populasinya beda. Seperti membandingkan ikan air tawar dan ikan air laut. Lagian saingan rangking ini buat apa sih?
Tapi ibu anak ini tentu saja tak sependapat soal populasi. Bahkan sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".
Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah dan jadi super ramah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.
Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa.
Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.
"Rangking berapa?", tanyanya.
"Tiga...", jawab saya.
"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.
"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante...dari 14 kelas. Kalau kelas aku doang sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku menyuruh diam.
Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.
Gembrot (💣💣💣💣)
Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.
Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.
Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.
Saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".
Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.
Suruh Siapa Punya Anak?! (💣💣💣💣💣)
Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".
Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF.
Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.
Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.
Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak.
Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Sekali towel pada hamil. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.
Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.
Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.
Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.
Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu. Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.
Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:
“Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".
Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.
Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.
Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab:
"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"
Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.
Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.
Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.
Antivaks ya? (💣💣💣)
Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.
Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi saya dan suami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini dan suaminya sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.
Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".
Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.
“Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.”, katanya dengan khusyuk.
Setelah mendengar ceramah 5 menit yang bagaikan mendengarkan orang membacakan reels dokter di instagram, saya jadi penasaran sebab dan musabab ceramah ini apa.
“Memang siapa sih yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan. Saudara saya ini menatap saya.
“Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.
“Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.
“Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.
"Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.
“Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.
“Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga...”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.
“Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks? Terus harus posting dimana emang sebagai tanda pro vaksin?!!”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.
Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!
D1 kan? (💣💣)
Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.
Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.
Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.
Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.
Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.
Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.
Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.
Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.
“Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.
“Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.
“Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.
“Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.
Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.
Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami.
Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B:
“Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Di luar negeri lagi. Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.
Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.
***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri?

.jpg)


.jpg)



