Sunday, May 15, 2022

Kejutan

September

Mungkinkah orang bisa berubah dalam sekejap? Pertanyaan itu kembali muncul di benak Nimma. Rasanya kemarin dalam dirinya masih membara api keinginan untuk menikmati semua kejutan yang ditawarkan dunia. Tapi tiba-tiba sekarang api itu berganti menjadi bara yang lebih sederhana. Seperti api lilin yang tenang. Tak lagi meledak-ledak ingin melahap semua kesempatan. Hanya ingin sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih bisa diprediksi.


Pemandangan di luar jendela kamar hotel tempatnya menginap, menarik perhatiannya. Kelap-kelip lampu kota di saat mendung terlihat seperti kunang-kunang. Cerah menyembunyikan semua rasa dibalik pekatnya malam.


Inikah yang disebut quarter life crisis? Nimma tertawa kecil. Merasa menjadi bagian dari 25 tahun kebanyakan. Sudah empat tahun berlalu semenjak dia memulai pekerjaan ini. Pekerjaan yang mengharuskan dia untuk bepergian terus menerus kesana kemari. Tiada minggu berlalu tanpa dia harus menyeret koper di Bandara dan terbang ke suatu tempat. 


Jangan salah sangka, sampai kemarin dia masih sangat menikmatinya. Bepergian ke kota-kota asing, bertemu dengan berbagai macam orang. Belum lagi road trip menempuh jalan panjang berliku, yang membuatnya bisa memperhatikan kehidupan di tempat lain, walaupun hanya sekelebat. Hobinya sejak lama. 


Tapi entah kenapa akhir-akhir ini ketika harus bepergian, perasaan hampa seringkali menyergap dadanya. Semua jadi terasa melelahkan. Langkahnya tak seringan dulu saat harus bangun tengah malam untuk mengejar pesawat dini hari. Perjalanan panjang berjam-jam di jalan jadi kurang mengundang. Kota-kota yang didatangi juga tak lagi membuat penasaran. 


Mungkin dia hanya bosan? ataukah perlu perubahan.


Setelah merenung, Nimma memutuskan, sepertinya yang dia perlukan adalah pekerjaan baru. Gadis itu membuka laptop, memutuskan memperbarui halaman Linkedin-nya


***

November


“Gue mau ke Jerman tengah tahun depan”, Sani, pacar Nimma, berkata sambil menyeka keningnya yang bercucuran keringat. Mereka sedang ada di restoran Bakmie Akung Bandung.

“Asyik! Gue bisa nitip-nitip lagi dong”, Nimma berjuang menghabiskan mie pesanannya. Merasa salah karena memesan satu porsi daripada setengah seperti biasa.
“Tapi gue pulangnya lama”, lanjut Sani.

“Berapa lama?”

“Dua tahun…minimal”

“Hah? ngapain?”, pandangan Nimma teralih ke laki-laki di hadapannya.

Sani mengangkat bahu, “Penempatan, di Daimler”

“Wow! Kenapa tiba-tiba?”

“Nggak tiba-tiba, cuma belum bilang Lo saja”, jawab Sani hati-hati.

“Oh”, komentar Nimma sambil mengangguk-angguk.


***


“Nggak marah?”, tanya Sani.

“Kenapa mesti marah?”, Nimma menjawab.

“Biasanya marah kalau nggak dikasih tahu”, Sani menatap Nimma lekat-lekat.

“Ini kan dikasih tahu”, sahut Nimma.

“Oh iya”, Sani tersenyum kecil, seperti menyimpan rahasia.


Nimma melanjutkan menyantap bakso di mangkoknya. Sesungguhnya berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Hanya saja dia pandai menyembunyikannya.


***


Sebuah pesan masuk ke ponsel Nimma. Undangan pernikahan dari teman seangkatan saat  kuliah. Akhir-akhir ini sering sekali undangan pernikahan datang. Tak mengherankan, memang sedang masanya.


Ah, pernikahan. 


Terkait topik ini, Nimma selalu merasa dilema antara bertanya atau menunggu ditanya. Di satu sisi sepertinya itu langkah yang wajar diambil, apalagi sudah ada calon potensial di depan matanya. Tapi di sisi lain dia belum yakin telah siap. Merasa masih kurang bekal. Takut malah merepotkan.


Ah sudahlah, kita pikirkan nanti.


Toh Sani juga akan pergi jauh untuk beberapa saat. Nimma menganggapnya sebagai pertanda.  Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masa depan bersama. Justru waktu untuk mencari pengalaman lain. Mungkin di tempat kerja baru seperti rencananya. Mumpung masih sendiri.


***

Desember


Nimma sumringah setelah menyampaikan surat pengunduran dirinya. Keputusan ini tidak datang tiba-tiba. Dia sudah bertekad memulai tahun baru dengan hal baru. Walaupun dia belum tahu apa. Terkait karir, dengan empat tahun pengalaman di belakangnya Nimma sudah mencapai level experienced. Jadi dia tak setakut saat dulu pertama kali mencari kerja. Gadis itu siap menghadapi tantangan apa saja yang dihadapkan kepadanya.


***

"Gue mau minta pendapat lo", kata Nimma ketika suatu sore dia bertemu Sani di pinggir pantai Losari Makassar. Pekerjaan keduanya memang terkadang membuat langkah mereka bertaut secara random di berbagai tempat.

"Apa?", kata Sani sambil memicingkan mata, memperhatikan orang-orang yang berfoto di depan monumen nama pantai yang menjadi salah satu landmark ibukota Sulawesi Selatan ini.

"Gue dapet dua offering kerja. Dua-duanya di Jakarta. Dua-duanya beda banget sama kerjaan gue sekarang. Dua-duanya juga menarik banget dari sisi jobdesc dan offering. Pilihnya gimana?", lanjut Nimma.


***


"Pilih offering ketiga aja", jawab Sani santai. Matanya masih fokus pada orang-orang yang lalu lalang.

"Hah? Gimana?", Nimma menoleh ke arah Sani. Bingung dengan komentarnya yang tidak nyambung.

"Jangan pilih dua-duanya, pilih offering ketiga", lanjut Sani. Masih santai.

"Maksudnya? Offering ketiga apa?", Nimma mengerutkan kening. Mencoba mencari petunjuk. 

"Ke Jerman. Sama gue", kata Sani, sambil mengalihkan pandangannya ke Nimma.


***


"...gue serius nih…", Nimma masih tak paham apa yang disampaikan Sani.

"Gue juga serius", timpal Sani.

"Buat apa gue ke Jerman sama lo?", Nimma sudah maksimal mengerutkan keningnya, sampai dia khawatir jidatnya akan berkerut selamanya.

"Ya nemenin gue lah", tukas Sani.

"Agar supaya?", kata Nimma.

"Agar gue bisa sama lo terus dong", Sani menjawab. Senyumnya mengembang.

"...", Nimma tidak tahu harus berkomentar apa.


***


"Bapak lo sudah setuju. Gue ke Malang minggu lalu", lanjut Sani.

Nimma membelalakan mata, "...setuju untuk…?"

"Bawa lo ke Jerman", jawab Sani.

"...kenapa…", Nimma memotong.

"Yah, menurut dia isteri harus ikut kemanapun suaminya pergi"

"...", Nimma terdiam.


***


"Gue jadi suami lo, gimana?", kata Sani.

"...", lagi-lagi Nimma tak bisa berkata-kata.

Sani kembali mengedarkan pandangan. Mencoba mengalihkan perhatian dari jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Menunggu komentar Nimma.


***


"Sungguh…", kata Nimma akhirnya, setelah diam cukup lama.

"Apa?", Sani menoleh.

"...lamaran yang aneh…", Nimma melanjutkan.

Sani tertawa.


***


"Tapi jawabannya 'iya' kan?", tanya Sani.

"Wani piro?"

"Hummm…All of me?", kata Sani sambil tersenyum lebar.


Nimma tak menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangan dari laki-laki di sampingnya, ke ombak yang berdebur tenang memecah pantai di hadapannya. Membiarkan hatinya yang memutuskan apa yang paling dia inginkan. 


***

April


Nimma tau sekarang. Orang tak bisa sekejap berubah kecuali Tuhan membolak balikkan hatinya. Begitupun dengan yang terjadi pada dirinya. Perubahan hatinya yang tiba-tiba mendambakan hal yang lebih bisa diprediksi sepertinya adalah salah satu cara Tuhan agar dia bersiap memasuki lembaran baru kehidupannya. Mungkin supaya lebih legowo. Supaya lebih sabar. Karena tak disangka, lembaran baru yang tersaji di hadapannya tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Lebih besar dari itu. Lembaran baru ini adalah awal perjalanan yang jauh jauh jauh lebih menantang dari perjalanan manapun yang pernah ia lalui. Perjalanan sebagai seorang isteri.


***


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nimma Putri Laksamana binti Laksamana Soetomo dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”, ucap Sani mantap dalam satu nafas. Matanya bersinar.


"Sah!!", penghulu meneriakkan keputusannya bak wasit pertandingan. Tepuk tangan hadirin membahana. Nimma tersenyum sambil mengusap air matanya. 

Read more ...

Saturday, May 14, 2022

Sekarang Aku Tahu

Tentang Makanan yang Paling Dikangenin

Kalau ada yang bertanya pada saya, makanan apa yang saya kangenin dari Semarang, saya akan menjawab Tahu Petis. Makanan ini tidak bisa saya temukan di kota lain, sekeras apapun saya berusaha. Entah apa yang menyebabkan kepopulerannya hanya berhenti di ibu kota provinsi Jawa Tengah tersebut. Padahal menurut saya rasa makanan ini seharusnya cukup bisa diterima oleh lidah banyak orang.

Kenyal tahu yang digoreng hingga berkulit, berpadu dengan legit rasa petis. Tahunya sengaja tidak dibumbui atau dibumbui ringan saja. Supaya rasanya tidak balapan. Petisnya bertekstur seperti paste karena dicampur dengan gula. Makanan yang saling melengkapi karena kurang menarik kalau sendiri.

Ah mungkin yang menyebabkan makanan ini kurang populer adalah statusnya yang sedikit nanggung. Bukan tipe makanan yang gampang dinikmati kalau sedang acara formal. Lebih enak dikunyah sambil dasteran di rumah.

Kurang pas juga jadi lauk karena rasanya cenderung manis. Tapi jadi cemilan teman minum teh juga tidak cocok. Karena rasa manis petis yang tajam membuat teh nasgitel berkurang faktor legi-nya. Sungguh tipe makanan independen yang sulit dipadukan dengan makanan lain. Terlalu overpowering.

Sebetulnya ini ngomongin makanan atau sifat alumni ITB kebanyakan? :')

Kenangan Tahu Petis Pak Bagong

Penjual tahu petis langganan keluarga saya dulu ada di daerah Krapyak. Pak Bagong nama pemilik gerobak gorengan tersebut. Tahun 90-an dagangannya selalu laris manis. Terutama ketika bulan puasa. Antriannya tak kalah dengan antrian restoran-restoran ternama di Jakarta. Kalau misalnya ada Michelin Star untuk penjual gorengan saya yakin Pak Bagong bisa mendapatkan bintangnya. 

Saking larisnya, pada awal 2000-an Pak Bagong sudah punya modal yang cukup untuk membuat usaha catering kawinan yang akhirnya berkembang menjadi salah satu catering kawinan terlaris di Semarang. Gerobak gorengannya mulai sering tidak digelar. Sampai akhirnya saat saya menikah tahun 2012, gerobak gorengan Pak Bagong sudah berhenti beroperasi selamanya.

Tahu petis Pak Bagong pun akhirnya hanya jadi kenangan. Walaupun saya beberapa kali hadir di undangan pernikahan dengan catering Kang Bagong, tapi tak sekalipun saya lihat tahu petis andalan disajikan. Yah, tentu saja karena ini makanan berisiko tinggi.

Bayangkan kalau salah makan, petisnya keluar jalur dan mengenai baju. Datang dengan cantik, pulang baju seperti jamuran :') Belum lagi kalau desak-desakan atau cipika cipiki dengan mulut dan tangan belepotan. Bisa terjadi kericuhan berbau udang.

Setelah Pak Bagong tak lagi menggelar gerobak gorengannya, kami mencoba beberapa tahu petis lain. Tak ada yang senikmat tahu petis dari ingatan masa kecil saya. Tapi lumayanlah buat tombo kangen. Daripada nggak ada.

Tahun lalu waktu ke Semarang, saya menemukan tahu petis dalam kemasan vakum. Malahan ada dua varian. Crispy dan original. Memang segala makanan sekarang ini ingin jadi seperti ayam KFC. Tahu yang crispy dibalur tepung, jadi kulitnya kriuk. Enak juga.

Eksperimen Tahu Petis dari Bandung

Latar Belakang

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei ini membuat saya berpikir. Bagaimana kalau tahu bandung  bersanding dengan pasta petis? 

Buat saya tak ada yang mengalahkan rasa tahu Bandung. Mungkin karena air yang bagus atau pembuat yang ahli. Tahu Bandung yang bagus lembut sekali. Teksturnya juga khas. Padat sekaligus menul-menul. Sukar dijumpai di daerah lain. Jadi kenapa belum ada yang beride memadu madankan tahu Bandung dengan petis? Jangan bilang ini adalah persoalan turunan Perang Bubat. Apalagi akibat kandasnya cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka. Masa sampai tahu dari sunda dan petis dari jawa juga tidak bisa bersatu?

Kita tambahkan referensi sejarah supaya postingannya lebih dramatis.
Ilustrasi Perang Bubat (Sumber: kompas.com)

Karena saya orangnya suka sok tahu makanya saya coba satukan keduanya. Mana tau ketemu formula yang cocok, lalu saya bisa buka gerobak gorengan juga kayak Pak Bagong. Mungkin kemudian tahu petis Semarang bisa jadi fenomenal juga seperti kue Bandung di Semarang.

Metodologi

Saya beli petis khusus tahu petis di marketplace. Sungguh suatu bentuk keniatan yang hakiki. Tahunya saya beli tahu Talaga. Tahu favorit anak mbarep saya. Bisa sehari habis sebungkus sendiri. Saking sukanya, waktu saya mau goreng tahu untuk eksperimen, saya harus meyakinkan dia dulu kalau ibunya ini beli tahu baru. Tidak mengurangi jatah tahu dia.   

Saya goreng tahu talaga sampai berkulit. Lalu saya iris tengahnya.Waktu mengiris jangan sampai terbelah dua. Agar tidak hilang harapan. Petisnya tetap bertahan dalam tahu. Tidak keluar dari berbagai sisi.

Petis yang saya beli ternyata bau udangnya cukup menyengat. Jadi saya tambah bubuk bawang putih, kaldu jamur, dan gula. Selain menutupi bau udangnya juga supaya rasanya lebih legit.

Setelahnya saya sisipkan petis ke tengah tahu. Dipikir-pikir orang jawa tengah ini hobi sekali menyisipkan macam-macam bahan lain di tengah tahu. Petis, Bakso, Aci. Mungkinkah ini sebabnya mereka gampang blending di situasi apapun?

Hasil Eksperimen

Anyway. Bagaimana rasa tahu petis dengan tahu Bandung?

Enak kok. Cuma perpaduan rasa keduanya agak terlalu "mewah". 

Tahu semarang yang biasa dipakai untuk tahu petis rasanya lebih anyep dan kulitnya liat. Dalamnya juga tidak penuh alias "kopong" karena teksturnya berongga. Mungkin secara kekerabatan tahu Semarang ini lebih dekat dengan tahu sumedang. Ketika diiris, tahunya bisa berfungsi seperti "kantung" yang mewadahi petis. Karena kulitnya liat, tahu semarang juga tidak gampang pecah saat digigit.

Sementara tahu Bandung punya rasa yang gurih dan "milky", jadi walaupun tidak dibumbui tetap berasa. Lalu tekstur tahu Bandung, terutama Talaga, sangat lembut. Menjurus ke arah tekstur tofu. Gampang pecah, walaupun sudah digoreng sampai berkulit. Jadi agak susah "diemplok" langsung pakai tangan.

Cuma tahu petis Bandung ini lebih bisa dimakan cantik. Pakai sendok dan garpu. Kayak makan desert perancis tapi versi super lokal. Soalnya pas ditekan pakai garpu yang keluar petis bukan cream :')

Atau mungkin saya salah pilih tahu ya. Mungkin harusnya cari tahu yang lebih liat. Atau sekalian yang lebih berkulit, seperti tahu coklat yang sering dipakai untuk tahu hot jeletot.

Kesimpulan

Walaupun tahu Bandung dan Petis kalau disatukan lumayan enak, tapi lebih baik kita biarkan mereka sendiri-sendiri saja. Bukan karena tidak berjodoh seperti Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, tapi memang kurang cocok saja. Seperti hubungan yang terpaksa. Karena ambisi semata.

Lagian ternyata impor tahu petis dari Semarang nggak mahal juga. Kalau kangen banget bisalah diusahakan.



Read more ...

Monday, April 18, 2022

Hobi yang Bukan Hobi

Hobi yang Aneh

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema aktivitas favorit ini cukup sulit ternyata. Karena aktivitas favorit saya ini bisa disalah artikan sebagai suatu bentuk kemalasan. Plus nggak gaya banget dipamer-pamerin. Haha. Tapi ya sudahlah. Memang aktivitas yang satu ini adalah yang paling saya nikmati juga paling luxurious, karena jarang-jarang bisa melakukannya dengan tenang. 

Aktivitas itu adalah:

Menggeletak siang-siang tanpa ngapa-ngapain

Awalnya saya ragu-ragu menuliskannya sebagai aktivitas favorit saya. Karena duh, apa sih yang bisa ditulis dari "menggeletak siang-siang tanpa ngapa-ngapain"? Mana seringnya saya merasa bersalah kalau sedang "menggeletak siang-siang tanpa ngapa-ngapain". Karena itu tandanya saya sedang memblokir dunia luar dari pikiran saya. Terutama yang menyangkut pekerjaan dan urusan rumah. Lalu membiarkan pikiran saya mengembara. Memikirkan hal-hal lain. Hal-hal apa saja yang menarik buat saya.

Eh tapi terus karena pembenaran penasaran, saya jadi baca-baca, ternyata aktivitas favorit saya ini, walaupun aroma pemalesannya sangat kuat, ada manfaatnya buat kesehatan mental loh. Ini saya share beberapa informasi ilmiah. Biar agak keren sedikit gitu kelihatannya hobi saya ini 😝

Melamun Itu Natural

Nama ilmiah dari hobi saya ini menurut ilmu psikologi adalah mind wandering. Mungkin banyak yang lebih familiar dengan istilah day dreamingspacing out, atau istilah lokal melamun. Katanya, katanya loh ya. Mind wandering adalah kondisi dimana bagian otak yang bernama default mode network bekerja. Bagian otak ini aktif saat orang melakukan aktivitas berpikir tanpa tujuan spesifik. Bahasa kerennya mikir ngalor-ngidul. Entah mengingat memori masa lalu, memimpikan masa depan, atau melalukan mental analisis mengenai berbagai macam hal. 

Pernah nggak sih sedang membaca buku, menonton film, atau mendengarkan orang bicara, lalu tiba-tiba sadar kita tidak ingat apa yang barusan kita baca, tonton, atau dengarkan? Padahal kita mengerjakannya tidak sambil nyambi? Nah itu katanya saat default mode network otak bekerja.

Semua otak manusia punya bagian default mode network. Sehingga bisa dipastikan semua orang pernah melamun. Melamun ternyata kegiatan yang sangat natural. Bahkan disebutkan 50% waktu kita bangun dihabiskan untuk melamun. Konon desain otak kita memang seperti itu. Tidak bisa dipaksa terus menerus untuk fokus pada satu hal. Ada saatnya default mode network mengambil alih kendali. Membuat otak bekerja secara autopilot. Tentu tujuannya agar tidak lelah. Lelah hayati.

Sayangnya kegiatan mind wandering sering dianggap sebagai kegiatan yang kurang bermanfaat, sehingga banyak orang melatih diri agar terus mindful. Fokus dan aware dengan apa yang sedang dikerjakan dan dengan lingkungan sekitar. Kalau tidak fokus, tidak produktif, kalau tidak produktif, tidak bahagia.

Itulah mengapa saya merasa bersalah kalau membiarkan pikiran saya berkelana. Merasa membuang-buang waktu. Padahal saya genuinely happy saat melakukannya. Lebih happy dari waktu nonton Drama Korea.

Eh, ngomong-ngomong selama ini saya berpikir kalau nonton Drama Korea itu termasuk kegiatan yang tidak mikir. Tapi ternyata dari sisi neuroscience mengkonsumsi hiburan itu termasuk kegiatan yang memerlukan kerja otak yang banyak lho. Pantas kalau sedang banyak pikiran, nonton Drakor kadang malah jadi tambah lelah 😅

Video menarik tentang mindfulness vs. mindlesness
(Sumber: Youtube Channel The New York Magazine)

Manfaat Melamun

Walaupun terlihat seperti suatu kegiatan yang tidak ada faedahnya, tapi berdasarkan penelitian ilmiah, hobi melamun ternyata cukup bermanfaat. Ini saya bagikan berapa manfaat dari melamun.

Problem Solving

Konon, saat pikiran kita berkelana, kita akan lebih bisa menemukan alternatif jawaban dari permasalahan yang kita miliki. Alternatif tersebut jarang kita sadari saat terlalu fokus. Memang kalau fokus kita biasanya tidak lihat kiri kanan sih ya. 

"Aha moment" saya biasanya memang muncul saat sejenak melupakan permasalahan yang dihadapi. Bahkan pernah waktu ikutan workshop menulis cerita, mentor di sana bilang, "Kalau mentok, lupakan dulu. Endapkan. Kerjakan hal lain. Nanti biasanya muncul jalan keluar".

Kreativitas

Sepertinya saya pernah baca tulisan dimana disampaikan bahwa hampir semua penemuan atau karya penting di peradaban manusia ditemukan saat penemunya sedang melamun. Cuma lupa tulisan apa. 

Tapi setelah dipikir pikir, ada betulnya juga sih. Coba kalau Sir Isaac Newton terus menerus fokus di tempat belajarnya dan tidak leyeh-leyeh di bawah pohon apel, mungkin dia tidak akan menemukan teori gravitasi. Begitupun dengan Mozart yang menciptakan mahakarya musiknya hanya dalam kepala.

Hanya sedikit memang orang-orang exceptional seperti tokoh yang saya sebutkan diatas. Tapi saya yakin ada banyak sekali orang yang dapat ide saat melakukan hal-hal rutin seperti mandi, memasak, jalan-jalan, dan sebagainya. Lebih banyak daripada yang khususon melakukan suatu hal untuk mendapatkan ide.

Performansi Kerja

Pernah nggak sih saking banyak yang harus dikerjakan atau dipikirkan, otak rasanya penuh sekali. Ibarat teko, air di dalamnya sudah mendidih dan ngebul. Kalau sudah begitu, rasanya otak mampet. Tidak bisa berpikir yang lain. Jadi lelet mengerjakan apapun. 

Kalau kata anak jaman now, saat mengalami situasi di atas, orang perlu healing. Dimana sekarang sering diartikan sebagai melakukan aktivitas relaksasi seperti berlibur. Tapi sebetulnya menurut para ahli, yang diperlukan sesederhana  mengalihkan fokus sejenak. Melakukan mental break sedikit-sedikit.

Soalnya repot juga kan ya, kalau buntu sedikit mesti ke Bali. Memangnya kita Nikita Willy?

Otak kita memang tidak didesain untuk terus menerus fokus dan terus menerus menerima informasi. Perlu waktu untuk mencerna dan menyerap informasi yang masuk agar tidak overload.

Mungkin itulah mengapa dalam agama Islam diwajibkan sholat 5 kali sehari. Karena manusia tanpa sadar memang perlu mental break. Biasanya memang setelah sholat pikiran jadi lebih fresh sih.

Dalam kaitannya dengan melamun, kalau kerjaan kantor sedang super demanding. Saya suka ambil break barang 5 menit diantara hal-hal yang harus dikerjakan. Diam sejenak melihat pemandangan di luar jendela. Biasanya mengamati pepohonan atau orang yang lalu lalang. Membiarkan default mode network otak sejenak bekerja sebelum kembali bekerja full force.

Penutup

Begitulah yang sedikit bisa saya bagikan mengenai hobi saya "menggeletak tanpa ngapa-ngapain". Sebagai perwakilan kaum penggemar rebahan, saya cukup bahagia karena ternyata hobi tersebut ada gunanya. Walaupun tentu saya harus terus mengingatkan diri untuk melakukan hobi ini secukupnya saja. Karena melamun juga ada risiko bahaya membuat terjebak di masa lalu atau mimpi semu. Plus kerjaan jadi numpuk tidak selesai-selesai.

Saya akhiri tulisan ini dengan quote dari Tere Liye berikut:
Melamun sambil ngupil jauh lebih berfaedah daripada bergosip
Minal aidzin wal faidzin semuanya 😆




Read more ...

Monday, April 4, 2022

Perihal Tahu Susur

Saya heran, di Bandung ini kok nggak ada yang bisa bikin tahu susur yang betul. Betul versi saya tentunya. Tahu isi yang ada disini, atau biasa disebut gehu biasanya terbuat dari tahu sumedang yang diisi tauge. 

Sungguh berbeda dengan tahu isi yang ada di Semarang. Tempat saya tumbuh besar. Padahal tahu Bandung jauh lebih enak. Sekali-sekalinya ada tahu isi yang tidak pakai tahu sumedang, isiannya hampir pasti pakai sambal. Harus hot gitu tahunya. Nggak bisa biasa-biasa saja.

Padahal saya cuma perlu tahu isi yang biasa saja. Pakai tahu kuning biasa, isinya kol dan wortel, dan nggak hot. Biasa saja gitu. Dimakan panas-panas pakai saos tomat. Nikmat. Apalagi saat buka puasa.

Oh ya tahu susur, begitu saya menyebutnya, memang makanan nostalgia untuk saya. Terutama saat bulan puasa. Dulu waktu saya kecil, makanan ini tak pernah absen tersedia di meja, bersanding dengan mendoan dan tahu petis. Dua hal yang juga jarang saya temui di Bandung. Karena tempe goreng yang sering dijual di sini lebih mirip keripik tempe daripada mendoan. Sementara petis tidak dikenal di jawa bagian barat.

Teori saya perbedaan bentuk gorengan ini ada pengaruh unsur budayanya juga. Gorengan di Semarang sering jadi lauk. Jadi ukurannya besar-besar. Sementara di Bandung memang murni cemilan. Buat teman minum teh atau kopi. Jadi ukurannya kecil-kecil.

Sesungguhnya saya masih terbiasa dengan gorengan model Semarang yang berukuran besar dengan adonan tepung yang generous. Sampai selalu ada remah tepung gorengan yang rasanya sungguh nikmat.

Jadi ingat waktu kecil pernah dimarahin penjual pecel di ujung gang karena sambil menunggu pesanan saya jadi, saya santai nitilin remah gorengan. Memang kurang santai nih simbok pecel. Padahal pecelnya mantap. 

Semenjak diomelin, saya jadi beli pecel di pasar. Padahal kadang kangen juga sama tape goreng simbok. Kalau kangen terpaksa saya harus menyuap adek buat beliin saya gorengan ke simbok pecel. Adek saya anak kesayangan mbok pecel entah kenapa. 

Balik lagi ke teori gorengan di atas, apakah teori tersebut benar? Nggak ada yang tau. Hal yang pasti akhir-akhir ini saya sering kangen tahu susur. Untung teteh yang kerja di rumah cukup paham maksud saya, saat bilang ingin tahu isi yang pakai tahu kuning dan nggak hot.

Tapi itu saja saya mesti wanti-wanti sedemikian rupa supaya tahunya nggak ditambah bihun. Kenapa harus ditambah bihun sungguh misteri. Entah kenapa susah banget memenuhi keinginan akan tahu susur yang baik dan benar di sini.

Akhirnya sore ini kesampaian juga makan tahu susur yang mirip tahu isi di Semarang. Cuma ini versi mewah. Karena pakai tahu Talaga. Dimana harganya 6000-an sebijinya. Terus karena minyak goreng sawit mahal, jadi terpaksa goreng pakai minyak kelapa. Untung kol dan wortelnya biasa saja bukan organik. Kalau nggak, bisa malu kita sama combro di piring sebelah. Terlalu berlagak padahal cuma gorengan.

Tahu susur yang saya makan sore ini bagai siswa elite dari sekolah internasional. Sementara combro bagai siswa elite dari sekolah negeri. 

Kemenangan gerobak gorengan di Bandung buat saya memang ada pada combronya. Tidak bisa ditemui di sudut manapun di Semarang. You bisa bikin combro enak? You win my heart

Sayangnya si teteh sudah pulang jam 15.00. Jadi gorengannya sudah dingin saat jam buka puasa. Tapi nggak apa-apa. Tetap nikmat. 




Read more ...

Saturday, March 12, 2022

Dongeng Menara Gading

Seorang pangeran tinggal di sebuah menara gading di pinggir samudera. Semua orang menganggapnya istimewa karena tinggal di tempat yang begitu kokoh dan tinggi. Setiap hari sang pangeran memandang langit bertabur bintang dari balik jendelanya. Selalu mengagumi keindahannya. Tak pernah ia tau tentang ombak yang bergulung di dasar menara. Juga angin kencang yang setiap hari menerpa. Karena dirinya aman dibalik lindungan menara gadingnya.

Suatu hari sang Raja, ayah pangeran tersebut, memintanya untuk mengarungi samudera. Mencari kitab ilmu yang tersimpan di suatu pulau nun jauh disana. Raja memberinya kapal yang tangguh. Perbekalan yang cukup. Juga berbagai senjata untuk melindungi diri dari musuh. Kemudian menyerahkan kemudi kapal untuk sang pangeran kendalikan sendiri.

Sang pangeran berangkat dengan percaya diri. Yakin dengan pengetahuan akan rasi bintang yang Ia miliki, Ia bisa menavigasi kapal dengan baik. Sampai ketujuan

Terkejutlah Ia di malam pertama ketika ombak pasang menerpa. Angin kencang meniup kapalnya tanpa terkendali. Langit mendung menutupi rasi bintang yang Ia andalkan, hingga tak tahu lagi kemana Ia harus mengarahkan kapalnya. Belum lagi  bayangan monster laut yang mengintai dari kedalaman. Membuatnya sedikit demi sedikit kehilangan keberanian.

Tak pernah Ia merasa setakut ini, saat seumur hidupnya selalu merasa terlindungi. Dibalik menara gading yang tinggi. Oleh ayahnya yang gagah berani dan ibunya yang baik hati.

Terombang ambing sang pangeran kehilangan arah. Terseret arus dan tertiup angin tanpa bisa mempertahankan diri. Sekian lama berlayar tanpa tujuan, bekalnya pun habis. Begitupun dengan senjata yang semestinya digunakan untuk melindungi diri.  Padahal monster laut terus mengancam.

Tahu senjata sang pangeran habis, monster laut muncul ke permukaan. Menarik kapal tersebut pelan - pelan ke dalam kegelapan. Sang Pangeran yang sudah sangat kebingungan tidak melawan, hingga akhirnya kapalnya karam. Di dasar samudera terdalam, dengan segala muatannya.

Raja mengira putranya telah sampai dengan selamat ketujuannya. Tak pernah terlintas di benaknya, putranya tak sanggup menghadapi dunia diluar sana. Dunia yang hanya pernah Ia lihat dari balik jendela.

Read more ...

Thursday, March 10, 2022

Susahnya Jadi Orang Dewasa

Nimma memandangi booth perusahaan yang bertebaran. Menimbang - nimbang mana yang akan dia datangi lebih dulu. Job fair di kampusnya kali ini adalah yang terbesar yang pernah diadakan. Hampir 150 perusahaan dari berbagai industri dalam dan luar negeri menawarkan berbagai posisi.

Sebagai lulusan ITB, seharusnya Nimma tak perlu khawatir kesulitan mendapatkan kerja. Statistik mengatakan paling tidak dalam tiga bulan akan ada tempat kerja yang menerimanya. Tapi tetap ada sebersit rasa khawatir dihatinya. Bagaimana kalau ternyata Ia adalah anomali, yang dianggap tak cukup baik untuk diterima oleh perusahaan manapun.

Menggelengkan kepala untuk menepis pikiran buruk itu, Nimma membulatkan tekadnya. Dengan mantap Ia melangkah ke salah satu booth terdekat. Mencoba mengadu peruntungan dengan menyerahkan CV.

***

Sani pacar Nimma punya pengalaman yang berbeda. Dengan IPK yang nyaris sempurna dan segudang prestasi, malah perusahaan yang mengantri untuk menawarinya pekerjaan. Semenjak kemarin sudah sibuk memenuhi undangan untuk langsung masuk tahap interview dengan user. Padahal tahapan ini biasanya adalah tahapan paling akhir dari proses penerimaan kerja.

***

Tak berapa lama Sani memutuskan untuk menerima tawaran dari suatu perusahaan konsultan multinasional ternama. Setelah diterima, pemuda itu langsung sibuk mengikuti berbagai tahap persiapan kerja di Jakarta. 

Sementara Nimma, setelah berjuang sedikit lebih lama, akhirnya diterima bekerja di sebuah start up kecil yang berlokasi di pinggiran kota Bandung. Tadinya dia asal saja menaruh CV disana, ternyata perusahaan tersebut yang jadi jodohnya sebagai pekerjaan pertama.

Kedua sejoli itupun akhirnya berpisah kota. Pertama kalinya dalam empat tahun untuk kurun waktu lama.

***

Semenjak bekerja, Sani jarang punya waktu untuk mengobrol dengan Nimma. Pesan yang ia kirimkan semakin pendek, sementara intervalnya semakin panjang. Telepon juga hanya sebentar - sebentar.

Nimma paham jenis pekerjaan yang dijalani oleh Sani, memang punya tuntutan kesibukan yang tinggi. Wajar jika Sani tak punya waktu untuknya. Apalagi sebagai pegawai baru pasti banyak yang harus Ia pelajari dan kerjakan. 

Namun Nimma tetap tidak bisa menepis perasaan bahwa sekarang ada jarak yang membentang antara dia dan Sani. Seakan Sani ada di dunia yang berbeda. Jauh dari jangkauan Nimma.

Setiap kali teringat hal tersebut, dadanya terasa sedikit nyeri.

***

"Nimma, gue di Bandung nih, nanti sore gue jemput di kantor ya", pesan dari Sani muncul siang itu, setelah tiga minggu menghilang tanpa kabar.

Tiga bulan sudah berlalu semenjak Nimma dan Sani mulai bekerja. Menghilangnya Sani kala itu, seakan mengonfirmasi seluruh kekhawatiran Nimma, bahwa Sani sudah tak terjangkau olehnya. 

Nimma sampai sedikit terkejut, bahwa ternyata Sani masih ingat padanya.

"OK", balas Nimma singkat.

Hantaman emosi seketika membuat Nimma pusing. Rasa jengkel dan rindu menyatu menjadi satu. Di satu sisi dia ingin pergi menghilang saja membalas kelakuan Sani, sementara di sisi yang lain Ia tak sabar segera berlari menemui pemuda itu. Kangen sekali Nimma padanya.

***

"Gimana kerjaan?", tanya Sani. Mereka berdua ada di sebuah cafe kecil dekat kantor Nimma.

"Uhmmm...cukup menarik...", jawab Nimma singkat sambil terus mengaduk es teh yang dipesannya. Tak sanggup Ia memandang Sani. Takut perasaannya meluap tak terbendung.

Nimma tahu Sani menatapnya, mencoba membaca pikirannya seperti biasa. Tapi Ia tetap pura - pura sibuk dengan es tehnya.

***
Sani segera paham kalau Nimma marah. Tanpa perlu kata - kata perasaan gadis itu telah sampai padanya.

"Gue sibuknya kebangetan ya?", Sani mencoba bicara. 

"It's...okay", kata Nimma sambil mengangkat bahu.

"No..it's not, gue.."

"Beneran... nggak papa, gue paham", potong Nimma sebelum Sani sempat menyelesaikan kalimatnya

Menggigit bibirnya, Nimma setengah mati menahan diri agar tak menangis. 

Adukan di es tehnya semakin kencang. Mungkin sebentar lagi isi didalamnya berubah jadi teh panas.

Oh sulitnya dunia orang dewasa.

***

"Gue kangen lo Nimma. Setiap hari. Cuma...", Sani berhenti, ragu - ragu dengan apa yang akan diucapkannya.

Nimma mendongak sedikit, melihat ke arah Sani. Matanya berkilat.

"...nggak jadi. Gue salah. That's it. Maafin gue ya", katanya pada akhirnya setelah melihat ekspresi Nimma.

Sani takut salah bicara dan malah memperkeruh keadaan. Kangen ya kangen saja. Salah juga salah saja. Tak perlu cari pembenaran.

Nimma tak berkomentar, air mata membanjiri pipinya.

***

"Tau nggak sih lo, gue tuh sampai berharap lo bisa gue bawa - bawa di kantong. Biar tiap gue kangen, lo tinggal gue keluarin", lanjut Sani setelah terdiam cukup lama.

Di tengah tangisnya, Nimma tiba - tiba mendengus mendengar perkataan Sani. Entah kenapa bayangan dirinya mengecil dan dibawa - bawa oleh Sani, terlihat lucu sekali.

"Lo pikir gue Tamagochi!", ujar Nimma akhirnya. Setengah sedih, setengah geli.

Sani meringis, "Ya bukan Tamagochi juga sih...ribet ngurusnya..."

"Tuyul?", potong Nimma lagi.

"Tuyul lebih repot. Gimana kalau  Jenglot aja sekalian?"

Tawa Nimma tersembur. Masih bercampur dengan lelehan air mata.

Tertular Nimma, Sani juga ikut tertawa. Awalnya pelan, lama - lama jadi terbahak - bahak. Pengunjung lain menatap keduanya dengan curiga. Mungkin takut ada tuyul yang diam - diam mengambil dompet mereka.

***

Selepas tertawa, Nimma akhirnya berani menatap Sani kembali. Setelah membersihkan semua air mata dan ingus yang memenuhi mukanya tentu saja. 

***

"Gue sebetulnya nggak peduli, lo mau menghubungi gue atau nggak", kata Nimma setelah berhasil mengendalikan diri. 

"Gue percaya lo nggak akan ninggalin gue begitu saja".

"Walaupun tiga minggu... kayaknya agak berlebihan ya", tambah Nimma cepat.

Sani kembali meringis. Harus diakui kali itu dia memang keterlaluan. Masa menyempatkan waktu kirim pesan saja tak bisa.

"But I can't help it. Gue kadang takut, lo akan keasyikan dengan dunia baru lo disana dan melupakan gue di sini", ungkap Nimma dengan jujur.

"Lalu ketika ketakutan itu muncul, it feels like I'm already loosing both of my best friend and...", Nimma menunjuk Sani,"boyfriend...at the same time, and it hurts, Sani", Nimma tercekat. Merasa mukanya kembali menghangat, tanda banjir air mata kedua akan segera datang.

***
Memejamkan matanya, Sani berusaha mencari kata - kata untuk disampaikan.

Sebetulnya Sani bukan ingin menghilang, bukan juga tidak kangen Nimma. Dia hanya bertindak mengikuti logikanya. Sani dapat jatah istirahat dari perusahaan tempatnya bekerja setiap 3 bulan sekali. Menurut logikanya, dia harus memenuhi kewajibannya dulu sampai serampung-rampungnya, agar bisa dengan tenang menikmati liburannya. Termasuk menuntaskan rindunya kepada Nimma.

Jadi tiga minggu kemarin dia berkonsentrasi penuh menyelesaikan pekerjaan. Bak pelari marathon yang pandangannya hanya terpaku pada garis finish. Tak lihat kiri kanan.

Ternyata saking fokusnya, Sani malah tanpa sadar mengabaikan Nimma dan membuatnya terluka.

Oh sulitnya dunia orang dewasa. Atau jangan - jangan ini justru pertanda kalau mereka masih kekanakan? Setetes air mata lolos ke mukanya. Cepat Sani menghapusnya.

"Sebetulnya lo salah...", Sani mencoba menjelaskan secara perlahan. Memastikan Nimma mendengar semua kata - katanya. 

"Lo itu bukan dunia yang gue tinggalkan. Justru lo adalah dunia yang gue tuju...", lanjut Sani.

"...jadi jelas gue nggak bakal lupa sama lo".

"Gue nggak menghilang...tapi salah perhitungan...", Sani mengakhiri penjelasannya. Berharap Nimma bisa menerima.

Mendengar kata - kata Sani, Nimma tak bisa menahan senyumnya. Ia lantas memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Nimma lega telah berkata jujur dan karena Sani bisa paham perasaannya. Dia juga senang karena Sani mau mengakui kesalahannya tanpa basa basi.

Memang wanita hanya perlu dimengerti.

***

"Keterlaluan memang gue ini, membiarkan lo dilanda kangen berat sama gue", menyengirkan mukanya, Sani mencoba berkelakar.

Nimma memutar bola matanya.

"This too shall pass. I promise you, I can make it right again", kata Sani kembali serius.

Nimma mengangguk, "Oke...seperti biasa gue percaya sama lo".

Kemarahannya telah sirna sepenuhnya.

***

"By the way sejak kapan sih, lo jadi pintar ngomong berbunga - bunga gini?", kata Nimma tersenyum - senyum sendiri mengingat perkataan Sani tadi. Pantas lagu dangdut banyak disukai, ternyata memang asyik rasanya digombali.

"Lha masa lo nggak tau? It's in my blood all the way long. Jangan lupa, nilai bahasa Indonesia gue dulu yang paling tinggi seantero ITB", kata Sani asal. Apapun asal Nimma kembali tersenyum.

Nimma tergelak, mengingat legenda tentang kertas ujian Bahasa Indonesia Sani yang konon sampai bertahun - tahun terpajang di dinding kantor dosen Bahasa Indonesia. Saking senangnya dosen itu karena ada mahasiswa yang berhasil mendapat nilai sempurna.

***

"Jadi kita mau tangis - tangisan sepanjang malam, atau melakukan hal yang lebih menarik nih?", tanya Sani.

"Nonton aja yuk. Tapi lo yang bayarin ya. Gaji lo kan 4 kali lipat gaji gue", jawab Nimma.

"Beres, Nyonya!", kata Sani sambil tertawa.

Ah, mungkin sebenarnya, dunia orang dewasa tak serumit yang mereka bayangkan. Mereka saja yang suka berprasangka.
Read more ...