Thursday, July 16, 2026

Kesalahan-Kesalahan Dalam Menemui Harta Karun Perak (No. 5 Bikin Merinding)

Tahun 2025 saya dan suami mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan perjalanan jarak jauh yang bisa dilakukan dengan anak-anak. Mengingat usia mereka sudah 8 tahun dan 6 tahun, sudah enak diajak jalan-jalan. A.k.a nggak sedikit-sedikit minta gendong.

Saya memang malas rempong orangnya. Plus kami berdua sudah lumayan puas bepergian waktu usia 20an. Jadi jalan-jalan saat anak-anak masih kecil tidak jadi prioritas.

Beberapa perjalanan dibayangkan. Dari yang sesederhana road trip ke Semarang, sampai yang ultimate mengunjungi rumah Paman dan Bude di ujung bumi bagian utara.

Diputuskan sebagai perjalanan permulaan, kami akan mengunjungi negeri sebelah. Yang ada singanya. Saya dan suami sudah pernah kesana beberapa kali jadi lumayan hafal tempatnya. Diperkirakan tidak akan overwhelmed lah intinya.

Kami pilih awal tahun 2026 sebagai waktu keberangkatan. Anak-anak masih libur, masa peak season nataru sudah terlewati, dan pekerjaan biasanya masih agak lengang.

Tiket dibeli, akomodasi disiapkan, itinerary dipikirkan. Perginya juga cuma 5 hari. Nggak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan yang pernah kami lakukan dulu. Easy peasy menurut kami.

Sampai 1 bulan sebelum keberangkatan, urusannya ternyata jadi lumayan complicated.

1- Salah Perhitungan

Menjelang tutup tahun 2025 saya dan suami sama-sama mengambil pekerjaan diluar pekerjaan utama. Pekerjaan tersebut ternyata cukup demanding. Membuat kami sangat sibuk selama 3 minggu berturut turut.

Sangat sibuk disini betul-betul rapat dan diskusi sampai tengah malam. Sudah kayak balik lagi ke zaman jadi panitia acara himpunan.

Bedanya karena sekarang sudah di penghujung usia 30an jam 10 malam sudah nggak bisa mikir. Jadi lelah lahir batin.

Di tengah-tengah kesibukan tersebut, saya menyadari kalau saya terlambat datang bulan. 

Periode datang bulan saya memang jadi teratur, semenjak 3 tahun belakangan mulai memperbaiki pola makan dan cukup rutin olahraga.

Keterlambatan tersebut saya pikir adalah tanda-tanda perimenopause. Menjelang 40 tahun, saya yang mantan pengidap pcos ini sudah bersiap kalau ternyata memasuki masa perimenopause lebih awal. Plus beberapa bulan terakhir periode datang bulan saya memendek jadi cuma 3 hari dengan output yang jauh lebih sedikit dari biasanya.

Hal itu yang membuat saya percaya diri (tepatnya menunda nunda) tidak pasang IUD lagi setelah dicopot di akhir tahun 2024. Sudah mau expired gitulah pikir saya.

Tapi karena penasaran, waktu terlambat lebih dari seminggu, akhirnya memutuskan test pack juga. Mana tau ya kan?

Secara statistik perempuan usia 39 tahun hanya punya 10% kesempatan untuk hamil secara natural selama 1 siklus menstruasi. Saya termasuk yang beruntung (?) mendapatkan kesempatan tersebut.

Hamil untuk ketiga kalinya, 8 bulan menuju usia 40 tahun.

Setelah tau hamil, bukan berarti semua komitmen bisa langsung dibatalkan. Walaupun kaget karena tetiba jadi golongan prioritas, besoknya masih harus ke Jakarta sendirian buat ikut rapat final pekerjaan. Mana rapatnya di bagian antah berantah Jakarta. Tengah malam baru bisa kembali ke Bandung.

Minggu berikutnya harus terbang ke pulau seberang karena sudah setuju jadi EO kunjungan rombongan dosen. Setelahnya janji ke anak-anak buat pergi ke negeri singa yang tentu saja tak mungkin dibatalkan.

Dengan segala kesibukan yang silih berganti, cuma bisa pasrah saja. Semoga diberi kekuatan dan nggak jadi dzolim sama jabang bayi dalam kandungan.

Karena bahkan untuk pertama kalinya saya nggak langsung lari ke dokter kandungan setelah test pack positif. Baru 3 hari setelahnya ke dokter untuk memastikan kalau betul hamil. 

Namanya mendadak hamil, tentu saja tidak ada persiapan bepergian dengan kondisi hamil muda. Mendadak jadi nggak bisa lari-lari. Mendadak nggak bisa angkat barang berat. Mendadak nggak bisa tahan laper. Mendadak emosian. Mendadak harus jadi kalem dan nggak segan minta bantuan.

Untungnya selama bepergian tidak sampai jadi drama berarti. Anak-anak dan suami cukup kooperatif. Ada sih satu dua insiden. Tapi masih bisa dimaklumi lah.

2- Salah Kaprah

Saya pikir hamil di usia tak muda lagi ini bakalan jompo banget.

Ya gimana, nggak hamil saja badan lebih sering bermasalah, apalagi hamil.

Tapi setelah dijalani, ternyata hamil di usia begini ya gitu-gitu saja rasanya haha. Jompo sih tapi tak lebih jompo dari biasanya.

Mungkin ada gunanya saya membiasakan diri minum air putih 3 liter perhari dan makan banyak protein.

Selama tiga tahun terakhir juga hasil medical check up saya bebas bintang. Jauh lebih bagus dari waktu hamil anak pertama kedua di awal 30 an.

Jadi mungkin tubuh saya jadi lebih mudah adaptasi.

Sempat sih sekali pergi ke dokter syaraf karena kumat sakit punggung. Dulu sekali pernah sakit yang mirip dan ternyata ada otot yang bengkak. Ini mirip-mirip lah diagnosanya. Tapi untung terapi 2 kali sembuh.

Sempat juga drama batpil ganti-gantian sama anak-anak. Sampai akhirnya minum antibiotik karena tenggorokan sampai meradang.

Tapi selain itu happy go lucky saja hamil yang ini.

Alhamdulillah.

3- Salah Sangka

Mendekati usia kehamilan 32 minggu, dokter saya menyarankan untuk melahirkan dengan BPJS.

Kehamilan kali ini dari awal sudah diputuskan akan diakhiri dengan operasi sesar secara elektif.

Karena sebelumnya saya dua kali melahirkan dengan sesar cito. Ditambah umur yang tak lagi muda.

Saya dan suami sempat ragu-ragu untuk mengikuti saran tersebut. Mendengar berbagai selentingan tentang pelayanan BPJS, saya takut tidak akan dapat perawatan yang optimal. Plus saya malas ribet antri-antri.

Karena di kehamilan ketiga ini kenyamanan buat saya adalah yang utama.

Sebetulnya kami dapat asuransi dari kantor juga jadi nggak begitu masalah untuk lahiran tanpa BPJS.

Nah cuma, si anak ketiga ini tidak masuk coverage asuransi kantor yang cuma menanggung 2 anak. Jadi untuk perawatan tambahan bayi (jika ada) kemungkinan kami harus merogoh kocek sendiri.

Sementara asuransi kantor ternyata bisa digunakan untuk menambah kekurangan biaya BPJS kalau kami memilih fasilitas perawatan yang tidak dicover BPJS seperti naik kelas dan tambahan prosedur ERACS.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh pihak RS kalau pelayanan BPJS dan umum tidak ada bedanya, plus tanya sana sini untuk meyakinkan diri akhirnya kami memutuskan lahiran dengan BPJS.

Ternyata nggak ribet kok mengurus BPJS. Mungkin karena RS tempat saya lahiran pro BPJS ya, jadi prosesnya lancar.

Dari faskes 1 saya langsung dapat rujukan ke faskes 2. Dimana saya bisa langsung memilih dokter kandungan saya yang adalah dokter tetap di RS tersebut. Di RS langganan saya itu, penggunaan aplikasi JKN sudah sangat dipermudah dengan mesin self check in dsb. Jadi saya tidak perlu menunggu lama saat kontrol.

Jatah kontrol kehamilan BPJS di faskes 2 cuma 3 kali termasuk lahiran. Tapi karena saya dont't mind bayar sendiri untuk kontrol diluar jatah (yang harganya juga nggak mahal) jadi nggak ada masalah berarti juga.

Proses perawatan dan administrasi dengan BPJS juga tidak ada kendala berarti. Perawat tidak membedakan saya bayar pakai jalur apa. RS dengan sigap koordinasi pembayaran dengan pihak asuransi kantor untuk selisih tagihan.

Bayi juga langsung didaftarkan jadi peserta BPJS. Jadi saat dia belum bisa pulang karena perlu fototerapi akibat bilirubin tinggi, otomatis biaya perawatannya sudah ditanggung. Kami nggak keluar uang sama sekali. Asyik juga.

Baru kali ini saya berterimakasih ke pemerintah. Setelah sekian lama kecewa. Plus hikmahnya saya janji cuma manyun 2 cm lah di masa-masa bayar pajak. Biasanya manyun 10 cm juga masih kurang rela. Membayangkan uang hasil kerja keras dipakai buat yang nggak-nggak.

4- Salah Harapan

Seperti sudah saya tulis diatas, di kehamilan ketiga ini prioritas saya adalah kenyamanan. Kalau dulu di kelahiran anak pertama saya ditungguin suami, kelahiran anak kedua ditungguin saudara dekat, kelahiran anak ketiga ini saya pilih ditungguin oleh caregiver profesional.

Bukan apa-apa, suami sudah sama jomponya dengan saya. Kalau kami sama-sama begadang terus besoknya sama-sama cranky kan gawat. Haha. Sementara itu di umur segini (yang makin introvert) saudara dekat yang saya nyaman mintai tolong paling cuma adik saya.

Hanya saja setelah didiskusikan, dia mending bantu ngasuh anak-anak di rumah bareng anak-anak dia yang sama-sama sedang liburan. Soalnya adik saya ini lebih ngantukan dari saya. Nanti cuma pindah tidur doang kalau nungguin di RS 😆

Harapan saya dengan caregiver profesional ada yang siaga sepanjang malam saat bayi sudah room in. Minimal angkat junjung bayi dan ganti popok. Karena dari pengalaman saya paling repot adalah malam setelah operasi dimana saya belum bisa gerak banyak sementara bayi sudah ditaruh di kamar.

Ternyata kenyataan yang saya dapati melebih harapan. Caregiver yang saya sewa perhatiannya luar biasa. Sampai hal-hal yang tidak saya minta juga dikerjakan. Seperti memanggilkan suster saat saya mengeluh kesakitan atau infus habis, membelikan saya minuman kesukaan dari mini market, menunggu gojek yang mengantar barang ketinggalan dsb.

Selain itu dia juga menemani bayi tidur sambil memastikan saya bisa istirahat total diantara waktu bayi menyusu. Biayanya memang lumayan. Tapi worth it banget lah.

5- Salah Waktu

Perbedaan sesar secara cito dan elektif tentu saja ada di persiapannya. Sesar cito selalu dimulai dengan kunjungan ke UGD.

Waktu lahiran mbarep saya ke UGD karena pendarahan. Sebelum akhirnya sesar, saya diinduksi dua kali selama dua hari berturut-turut dimana dua duanya nggak mempan.

Sementara waktu Ragil, saya ke UGD di usia kandungan 41 minggu. Masih tidak ada kontraksi tapi pergerakan bayi sudah berhenti selama lebih dari 8 jam. Alhasil di kedua operasi itu isinya lari-lari. Pali-pali kalau kata orang Korea.

Di kedua operasi itu juga saya sama sekali nggak tenang karena merasa belum siap. Walaupun saat Ragil masih mendingan, koper RS sudah siap, sementara waktu Mbarep bahkan baju-bajunya baru selesai dicuci. Nasib lahir jauh lebih awal dari perkiraan.

Kehamilan kali ini saya sudah dapat tanggal operasi 2 minggu sebelumnya. Bisa siap-siap dengan lebih santai. Saking santainya sampai hari H masuk RS (hari kedua cuti) masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Masuk RS kamar sudah ready. Jadwal puasa, obat, dan persiapan lainnya juga sudah tertata rapi. Janin dipantau berkala tanpa degdegan. Santai banget lah.

Masalah muncul justru di hari H operasi.

Saya sudah dijadwalkan masuk ruang operasi pukul 10 pagi. Sebelum jam 10 ada jadwal suntik obat dan mandi pakai cairan antiseptik.

Jam 7.30 saya mandi keramas, karena berdasarkan pengalaman lampau baru bisa keramas lagi beberapa hari setelah operasi. Dalam hitungan saya, setelah mandi bisa mengeringkan rambut dulu, sisiran atau apalah biar tampang agak mbejaji.

Eh baru setengah jalan keramas pintu kamar mandi digedor.

Dokter obgyn saya sendiri yang datang mengabari kalau operasi saya dimajukan jadi jam 08.00.

Terpaksa mandi bebek. Masih untung ingat sikat gigi. Alhasil saya didorong ke ruang operasi dengan kondisi rambut masih basah dan acak-acakan. Disini saya bersyukur bukan artis dan nggak nyewa fotografer momen lahiran.

Untung dokter dan perawat nggak ada yang masalah saya mandi nggak bersih-bersih amat. Jadi operasi juga berjalan tanpa kendala.

Cuma saya kena goda suster-suster di ruang persiapan dan ruang operasi. Nggak selesai nyalon katanya.

6- Salah Perkiraan

Dari dua operasi sesar yang saya jalani sebelumnya, saya tidak merasakan sakit yang cukup berarti. Toleransi rasa sakit saya memang agak diatas rata-rata, jadi nyeri-nyeri sedikit tidak masalah.

Di sesar pertama, dalam 18 jam saya sudah bisa jalan biasa kesana kemari. Saat sesar kedua saya pakai metode ERACS yang waktu itu masih tergolong baru. Karena manajemen rasa sakit yan g lebih efisien,  6 jam setelah operasi saya sudah bisa duduk sendiri.

Untuk sesar ketiga dokter saya sudah memperingatkan kalau rasanya akan jauh lebih sakit dari yang sebelumnya. Walaupun saya pakai ERACS lagi.

Saya pikir, sakitnya bakalan lebih banyak bersumber di luka operasi yang lebih nyeri. Secara buat ketiga kalinya dibedah di tempat yang sama.

Ternyata, tak diduga tak dinyana, yang bikin saya nggak bisa tidur semalaman justru masalah goyoken. Alias pegal punggung dan pinggang. Terutama pinggang bagian bawah yang terdampak kontraksi.

Aseli. Saya baru berasa faktor U disini. Sampai tensi saya naik ke angka 150. Tanda tubuh saya menahan sakit. Jompo abis.

Untuk pertama kalinya saya sampai minta obat pereda sakit tambahan dan sampai 24 jam pasca operasi saya masih kesulitan tidur miring dan berdiri. Hingga saya (dengan agak merasa bersalah tentu saja) sedikit lega waktu bayi harus disinar. Nggak sanggup kayaknya langsung pulang dan menyusui seperti biasa. Ngilu banget.

Kayaknya ini memang masalah core tubuh yang tidak terbangun dengan baik. Jadi saat ada trauma langsung roboh pertahanannya. Luka operasinya sendiri malah sakitnya gitu-gitu saja. Nggak sakit malah kecuali di bagian simpul jahitan yang agak nyut-nyutan kalau saya gerak terlalu heboh.

Sisanya mati rasa sampai lama karena anestesi Tap Block bagian dari ERACS.

Sampai sekarang juga masih suka ngilu-ngilu tulang. Kalau sudah begitu parasetamol dan koyo to the rescue. Gimana lagi. Jompo.

7- Salah Dugaan

Memang takdir nggak ada yang tau ya.

Sebelum kehamilan anak ketiga ini, saya merasa sudah masuk ke fase kehidupan yang berbeda. Mbarep dan Ragil sama-sama sudah sekolah di jenjang SD. Dua-duanya sudah masuk fase 7 tahun kedua pendidikan menurut teori parenting islami. Sudah bisa dikasih tau dan diajak ngobrol. Lebih challenging mengurusnya tapi paling nggak kami bisa cari tau maunya apa.

Kehidupan mulai berjalan teratur. Ritme pekerjaan tak semrawut dulu karena saya dan suami sudah sama-sama cukup senior di kantor dan sudah punya privilese buat mengatur ritme sendiri.

Kelahiran si Bungsu ini memang mengubah semua perspektif kehidupan. Kalau ada rezekinya, saya masih bakal melewati fase-fase yang dipikir sudah lama ditinggalkan.

Lucu memang bagaimana dalam setahun saja rencana kami berubah total. Dari mau mulai hunting tiket murah sampai sekarang jadi hunting popok murah. Dari nggak khawatir kalau anak-anak batuk pilek doang jadi kembali siaga kalau bayi ingusan. Dari mulai bisa nonton film bareng-bareng jadi kembali harus nyetel Discovery Channel Cocomelon. Dari cuma manggil Mas dan Adek jadi harus membiasakan diri manggil Mas, Kakak, Adek.

Bayi ini tak dinyana juga jadi jawaban yang tak terduga dari pertanyaan hati kecil saya. Beberapa waktu kemarin, sebelum hamil, saya mulai mempertanyakan tujuan dari semua yang saya lakukan terutama 10 tahun kebelakang.

Tentang pekerjaan yang tak ada habisnya. To do list yang tak ada selesainya. Tentang waktu yang terus berlalu tanpa saya tau apa yang sudah saya lakukan dan manfaatnya.

Saya ingin berhenti sejenak untuk bisa berpikir, tapi tak bisa menemukan momen yang tepat. Ternyata jawaban dari Tuhan dikasih bayi, jadi tetiba dapat jatah 3 bulan mikir tanpa diganggu siapapun ðŸĪĢ

Kehamilan ini juga jadi pengingat di usia tak muda lagi. Bahwa pasrah diyakini jadi kunci. Hal yang diminta dengan sungguh-sungguh hanyalah ketenangan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.

Bismillah semoga ada jalannya. Termasuk kalau jalan-jalan harus kembali bawa stroller dan sejuta kerempongan lainnya 😂

8- Salah yang Membahagiakan

Ini yang salah orang lain sih. Walaupun jadi bikin geer juga.

Entah karena tampang saya dan suami yang culun atau kami terlihat clueless. Dari kemarin bolak balik ke RS suster dan pegawai selalu mengira Bungsu anak pertama kami.

Waktu dibilang anak ketiga pasti dikira jaraknya nggak jauh-jauh sama kakak-kakaknya. Bahkan ada yang mengira kami nikah muda banget 😅

Hampir semua kaget waktu saya bilang umur saya sudah 40 tahun. APAKAH SAYA SEIMUT IMUT ITU? Kayaknya enggak deh ðŸĪĢ

Ini kerutan muka apakah terlihat bagai coretan pinsil alis yang salah sasaran? Yoweslah, nggak apa dinikmati saja ya kan...dikira masih bocah 😂

Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog sekaligus catatan kelahiran si Bungsu.

Welcome, Baby G! 
Our Silver Treasure. 
The biggest surprise at the dawn of Ayah and Ibu's thirties (and the very beginning of Ibu's forties). 
The one that made Ibu halt all the plans (and ambitiousness) to rethink the purpose of her life. 
May Allah bless you with the best taqdeer, as prosperous and grandiose as your name. 
And may Allah also grant us all the sabr and calmness to "Mulai dari 0 lagi ya, Pak Bu ðŸĪĢ" 
We love you to the moon and back, for all eternity 
- Ayah, Ibu, Mas, Kakak -



 

Read more ...

Saturday, June 20, 2026

Orang Tua Zaman Dulu Ngapain Sih?

Sejujurnya saya nggak ingat, waktu saya kecil Bapak Ibu saya ngapain kalau di rumah.

Saya ingat sih kadang-kadang Bapak kerja di depan komputer yang layarnya hijau, yang untuk menyalakannya masih harus ganti-ganti disket dan ketik perintah.

Ingat juga kadang-kadang Ibu memeriksa hasil ujian. Soalnya saya sering disuruh bantu koreksi kalau soalnya pilihan ganda. Pakai plastik transparan yang ditandai bulat-bulat pakai spidol.

Tapi saya nggak ingat waktu tidak ada kegiatan khusus mereka ngapain. Waktu saya main tenda-tendaan pakai semua kursi dan sprei di rumah. Atau waktu saya nonton MTV Asia Hitlist berjam jam di Sabtu siang. Atau waktu saya keasyikan baca buku-buku cerita. Atau bikin prakarya dari kardus dan berbagai bahan bekas di rumah berharap suatu saat bisa kirim ke acara Klab Disney Indonesia di Indosiar. 

Beberapa hal saya ingat tentang kegiatan orang tua saya di lingkungan rumah. 

Seperti kalau sore Ibu saya suka pergi arisan RT atau RW. Pakai baju seragam hijau dan pin PKK. Waktu dulu arisan di daerah rumah saya memang masih formal. Pakai nyanyi hymne PKK dan Indonesia Raya. Walaupun sampai sekarang saya nggak tau apa yang didiskusikan. Cuma tau kalau pulang Ibu bawa kudapan enak.

Bapak juga saya ingat suka pergi main tenis atau berenang. Kadang juga kumpul-kumpul sama tetangga buat tirakatan. Kayaknya ada saja hari yang harus diperingati dengan tirakatan. Sampai kesaktian pancasila saja harus ada kumpul-kumpulnya.

Anyway selain kegiatan-kegiatan khusus diatas, saya tetap nggak ingat Bapak Ibu saya ngapain kalau sedang lowong di rumah.

Jelas mereka nggak cuma nggletak sambil scroll tiktok seperti yang saya dan jutaan orang lainnya sekarang lakukan. Tidak juga menulis blog seperti saya kalau lagi waras. Walaupun Ibu saya menulis diary setiap hari sampai ada puluhan bukunya.

Saya juga yakin mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena dua-duanya bekerja dan ada Bibi yang membantu di rumah.

Walaupun kadang saya lihat Bapak mencuci baju karena hobinya main air, atau Ibu ngutak atik tanaman karena hobinya main tanah.

Ada sih masanya saya liat Ibu nonton Meteor Garden hampir setiap hari. Pakai VCD bajakan (tentu saja),yang disetel pakai pemutar VCD canggih pemberian Pakde saya yang bisa muat 20 disc sekaligus. Tapi itu cuma terjadi sebulan sebelum Ibu akhirnya bosan.

Mereka jelas juga tidak menghabiskan waktu mengurusi atau menemani saya dan adik saya setiap saat. Keduanya juga tidak pernah menghabiskan waktu meributkan hal-hal yang kami lakukan di rumah. Selama masih sesuai dengan norma-norma sepertinya dulu kami dibiarkan mau ngapain saja.

Seperti halnya mereka juga tidak ambil pusing kalau saya pergi keluar bermain bersama tetangga sampai magrib menjelang. Bahkan kalau malam minggu saya main bentengan di depan rumah sampai lewat jam tidur juga saya tidak pernah dtegur.

Tidak juga saya ingat pernah disuruh-suruh untuk makan, mandi, belajar. Karena saya makan, mandi, belajar sendiri.

Eh disclaimer dulu supaya tidak pada salah sangka. Walaupun sepertinya saya dibiarkan,  tapi saya tidak pernah merasa kurang perhatian.

Saya dan adik saya jelas bukan anak fatherless. Bapak saya selalu ada di semua aspek kehidupan kami paling tidak sampai dia menyerahkan tanggung jawab ke suami kami masing-masing.

Ibu saya juga bukan orang yang tidak tau apa-apa soal anak-anaknya. Anak-anaknya adalah hal penting di hidupnya, tapi hidupnya memang tidak berputar di sekeliling kami. 

Dalam artian, sampai akhir hayatnya dia tidak pernah melupakan dirinya sendiri. Jadi kegiatannya masih banyak selain mengurus kami saja.

Saya cuma nggak ingat hal sehari hari yang mereka lakukan.

Hal-hal remeh seperti nonton televisi, ngingetin anak-anak ini itu, main-main, dll.

Saya juga tidak pernah ingat orang tua saya panik karena kami main sepeda agak jauh dari jalan rumah, deg-degan karena kami masuk WC umum sendirian, atau khawatir karena kami bergaul dengan anak-anak kampung sebelah.

Di masa itu berita seram seperti Sumanto memang terasa jauh sekali, sementara sekarang sepertinya penjahat di berita ada di rumah sebelah, walaupun kejadiannya bahkan ada di pulau lain.

Memang gara-gara terbuka lebarnya kanal informasi. Membuat orang tua lebih melek tentang kewajibannya. Walaupun dengan sisi gelap, jadi jauh lebih gampang overthinking.

Gara-gara hal ini, kehidupan anak-anak saya terasa jauh dari organik. Main diatur via playdate di playground megah dalam gedung ber AC. Hobi disalurkan via les berkurikulum. Sekolah dikurasi dengan seksama yang terkontrol lingkungannya. 

Apalagi lingkungan tempat tinggal kami kebanyakan isinya lansia pensiunan. Dimana kalaupun ada anak kecil di rumah lain, masing-masing sibuk dengan urusan akademiknya. Ya sekolah full day, ikut kegiatan klub ini itu. Sudah tak ada energi untuk main bersama.

Rasa bersalah kalau nyuekin anak dan FOMO rasa takut akan masa depan sepertinya jadi pemicu orang tua sekarang lebih tidak bisa membiarkan anak-anaknya "bebas" seperti orang tua saya "membiarkan" saya tumbuh apa adanya seperti dulu.  

Karena kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama, anak-anak saya kemungkinan besar akan lebih punya ingatan apa yang ayah ibunya lakukan di rumah: nonton tayangan OTT, main game bersama, kerja di laptop, mengingatkan makan, sholat, mandi, makan, minum vitamin seperti alarm, briefing setiap pagi tentang kegiatan mereka hari itu, dll.

Hal-hal tersebut diatas konsisten kami lakukan setiap harinya. Apalagi hidup di masa sekarang ini rasanya memang seperti berputar diantara checklist dan to do list. Saking rutinnya, justru aneh kalau nggak jadi core memory.

Kasihan sih sebenarnya. Buat anak-anak zaman now, dunia nyata mereka terasa semakin sempit dengan berbagai batasan yang menghimpit. Padahal pandangannya bisa lebih luas lewat berbagai teknologi yang tersedia.

Tidak ingin jadi helicopter parent, tapi kok banyak mikirnya kalau mau jadi free range parent seperti orang tua saya dulu. 

Hal positifnya,sekarang ini komunikasi memang terasa semakin terbuka. Karena tidak seperti dulu dimana, walaupun bebas, tapi anak-anak harus nurut saja sama orang tua, sekarang anak-anak lebih bisa mengutarakan maunya apa. Debat dan kompromi adalah hal biasa.

Kalau dulu saya "dicuekin" baik-baik saja, coba kita lihat anak-anak dengan full perhatian ini jadinya bagaimana.

Jadi, orang tua zaman dulu ngapain sih kalau di rumah? Masih misteri buat saya sampai sekarang😅



Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juni dengan tema Perbedaan/Gap.
Read more ...

Wednesday, May 20, 2026

Hari Biasa Cuma Ada Tapinya

Saya dan dua orang teman anggota geng WA 3 orang sudah menyerah membuat rencana untuk bertemu langsung. Pasalnya kami, yang masing-masing bekerja dan punya anak dua, setiap punya rencana hampir pasti berakhir dengan batal.

Sementara itu rencana yang impulsif lebih ada kemungkinan jadi. Impulsifnya harus dalam hitungan menit sebelum pelaksanaan. Biasanya karena kebetulan ketemu lalu tetiba muncul agenda yang harus langsung dieksekusi tanpa ditunda.

Mungkin Tuhan tau kalau kami ketemu isinya cuma "menganalisis orang", jadi tidak dibiarkan sering-sering. 

Permasalahan ini nampaknya jadi hal umum di kalangan emak-emak. Kalau punya rencana pasti ada saja yang terjadi. Bukan hanya yang menyangkut orang lain, rencana pribadipun suka banyak penghalang.

Makanya sampai menghadapi esok haripun saya tidak berani berencana terlalu detail. Que sera-sera kalau kata lagu lama.

Walaupun tak disangkal kadang ekspektasi saya terlalu tinggi. Seperti yang terjadi di suatu hari di Bulan April 2026. Saat hujan turun seharian di kota Bandung yang kala itu sudah seperti London. 

Cuacanya sendu terus.

Pagi itu saya bangun sebelum alarm subuh berbunyi. Tumben. Sambil menunggu, saya cek HP.

Bangun pagi itu ada perasaan kurang enak melipir di hati. Tidak nampak notifikasi apa-apa di HP saya. Kecuali notifikasi kalau baterai HP tinggal 15 persen. Harusnya aman dong ya? kata saya meyakinkan diri.

Berusaha mengesampingkan perasaan galau, saya mengambil wudhu dan membangunkan suami yang harus pergi pukul 5 pagi.

Di hari itu saya harus mengikuti workshop seharian di kantor. Sementara suami harus pergi mengajar ke Cirebon. Sebetulnya tidak ada hal khusus yang harus saya siapkan untuk menghadapi hari itu.

Anak-anak punya pengaturannya sendiri untuk penjemputan di sekolah dan penjagaan saat pulang. Ada bibi pocokan (pulang pergi) juga yang membantu pekerjaan di rumah. Tugas saya tinggal antar anak-anak sekolah setelah itu menjalani hari sampai kembali lagi ke rumah.

Sebetulnya saya sudah belajar untuk tidak terlalu optimis menghadapi hari, tapi hari itu saya cukup yakin semua agenda akan berjalan tanpa suatu kendala berarti. Optimisme yang sangat tidak pada tempatnya.

Selesai sholat subuh saya beranjak menyiapkan bekal anak-anak dan sarapan. Berkutat di dapur kemudian dilanjutkan mandi dan sarapan, saya baru lihat HP lagi sekitar pukul 06.15. 

Ada 3 notifikasi pesan: penjemput anak-anak tidak bisa menjemput karena asam lambungnya kumat, Bibi izin tidak masuk karena kemarin malam jatuh terpeleset, dan pengasuh anak-anak izin baru bisa datang jam 14 karena ada acara mendadak.

Memang feeling emak tak pernah salah. Alhamdulillah perkaranya ringan. Cuma harus berpikir ekstra.

Hari yang biasa pun dalam sekejap berubah jadi tak biasa.

Dengan absennya salah 3 pilar utama keseharian saya, artinya harus ada rutin yang saya sesuaikan supaya hari itu bisa tetap berjalan. Sebetulnya kalau sudah banyak kendala dari pagi, ingin rasanya hati berbohong bilang sakit dan tinggal di rumah saja. Lelah duluan.

Tapi selain takut dosa, saya juga takut jadi sakit beneran, jadi saya beranikan diri menghadapi hari itu dengan segala kerusuhannya.

Otak saya berputar cepat, menyusun prioritas, menimbang opsi, lalu mencari dan mengkalkulasi solusi. Nah loh, kata siapa emak-emak nggak bisa berpikir teknis?

Emak adalah engineer yang sesungguhnya. Berpikir analitis, memecahkan masalah secara kreatif, dan menaruh perhatian pada detail adalah karakteristik engineer yang secara otomatis sudah terpasang di kepala seorang Emak.

Tinggal bagaimana melatih dan menggunakannya.

Karena kondisi darurat hari itu bukan yang pertama kali terjadi, otak saya secara otomatis menyusun urutan masalah untuk diselesaikan. Seperti bertanding bulu tangkis dimana setiap smash lawan yang datang harus bisa saya kembalikan.

Mencari solusi untuk anak-anak adalah yang utama. Selanjutnya menemukan cara agar tetap bisa bertanggung jawab terhadap tugas kantor yang sudah disanggupi.

Tapi karena kondisi yang tidak ideal tentu saja harus ada kompromi. Terutama dengan diri sendiri. Menerima kalau ada hal-hal diluar dua urusan di atas yang harus menunggu atau mungkin tidak akan dikerjakan sama sekali.

Menemukan serta mengejawantahkan solusi untuk anak-anak dan urusan pekerjaan menghabiskan waktu 20 menit. Pergerakan jam tentu tidak menunggu. Terlambat sudah pasti terjadi. Tapi tentu tak bisa berlama-lama kecewa, karena ada perkara pelik lain yang menunggu: menyiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah.

Membangunkan dan menyuruh Mbarep untuk bersiap sekolah tidak begitu susah. Paling banter habis tiga rengekan dan dua ancaman. Sepuluh menit cukuplah untuk dia mandi dan bersiap. 

Tapi lain lubuk lain belalang, walaupun ini lubuknya sama tapi belalang bisa bermacam-macam.

Mengurus Ragil di pagi hari adalah cobaan yang sebenarnya. Seratus ancaman tak cukup untuk menaklukannya. Bahkan tak jarang malah saya yang jadi merengek dan dia yang mengancam.

Adalah suatu konsesus di kalangan ibu-ibu, dimana semakin ibu rungsing maka semakin ajaib pula tingkah anak-anak. Hari itu Ragil memutuskan bangun sebagai kucing. Kucing lucu yang perlu dibujuk untuk mandi dan bersiap.

Saya sudah pasang setelan Pangeran Diponegoro yang tegas memimpin perang, sementara Ragil menuntut saya bicara selembut permen kapas di setiap kesempatan. Kalau nggak dia akan mogok berkegiatan.

Semua perintah harus dimulai dengan kata kunci “Kucing lucu…” yang diucapkan secara perlahan dan selembut sutera. Seperti Puteri Salju bicara dengan teman-teman kurcacinya. Sungguh ujian kesabaran untuk saya yang pagi itu maunya ngegas saja.

Setelah berjibaku dengan Ragil, baterai semangat saya tinggal setengahnya. Berkali kali memaksa diri mengelola nafas supaya tetap tenang dan nggak muntab. Tutup mata kalau persiapan anak-anak hari itu tidak paripurna. Seperti rambut Ragil yang tidak tersisir dan kaos kaki mbarep yang tidak sama warna.

Alhamdulillah keduanya utuh sampai sekolah. Walaupun muka Ragil belepotan bekas air mata karena di mobil berantem sama kakaknya.

Gelut sih lebih tepatnya.

Untung sekolahnya dekat. Cuma 10 menit dari rumah. Kalau di seberang kota kayaknya saya sudah menyerah di jalan. Mending melipir makan seblak dan goyobod sambil bikin thread tentang pertempuran Pandawa dan Kurawa.

Berhasil ikut workshop dari awal saya anggap prestasi istimewa. Apalagi masih bisa absen di nomor 5 teratas. Untung saya tinggal di Indonesia dimana jam dinding di setiap ruangan menunjukkan waktu yang berbeda. Tidak ada yang tau waktu yang sebenarnya.

Di ruangan yang dipakai workshop jamnya 15 menit lebih lambat dari jam di HP saya. Bisa memang sengaja disetel telat atau malah mungkin HP saya yang terlalu future forward.

Tak taulah, yang penting saya tak terlambat.

Keikutsertaan saya di workshop sesi pagi berjalan lancar. Anak-anak juga sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan aman.

Baru mau menyelamati diri sendiri karena berhasil melewati setengah hari dengan selamat, ada telepon dari rumah. Mbarep dan Ragil minta makan ayam goreng tepung. Saking fokusnya cuma sama jemputan doang, Emak sampai lupa soal makan siang bocah.

Dengan penuh percaya diri pesan di aplikasi pesan antar online. Sudah ditambah catatan potongannya harus paha atas dan paha bawah. Karena itu bocah berdua cuma mau makan ayam kalau potongannya paha. Potongan lainnya pasti ditolak.

Semesta bicara, yang datang dada dan sayap.

Pesan lagi di cabang yang berbeda. Lagi-lagi dada dan sayap yang datang. Begitupun dengan pesanan berikutnya. Sudah pengen ngamuk pada dunia. Bocah bolak balik telepon karena lapar, dibujuk makan yg ada juga nggak mempan.

Sampai pesan 4 kali baru dapat potongan yang betul. Gara-gara itu di rumah jadi ada 12 potong dada dan sayap tak termakan. Bisa kalau berminat mendadak bikin Rabu berkah.

Urusan makan bocah ternyata menghabiskan waktu istirahat. Nggak bisa disambi, soalnya menu makan siangnya sambal lalap yang makannya harus pakai tangan. Belum rela HP bau sambal terasi, soalnya cicilannya belum dilunasi #lah. Alhasil pilih menyelesaikan urusan perut bocah dulu sebelum perut sendiri.

Waktu istirahat yang tersisa dipakai buat sholat. Mau makan sudah nggak sempat. Akhirnya cuma mengganjal perut dengan risol sisa snack pagi. Untung sarapan telur sampai 3 butir. Cukuplah buat energi sampai sore nanti.

Alhamdulillah setelah itu tak ada kejadian berarti sampai waktunya pulang ke rumah. Kecuali lapar akut sampai perut menggeram geram. Tau gitu dari pagi sekalian qodho puasa.

Malas balik ke kantor cuma buat makan, akhirnya mojok dulu di sudut gedung buat menyantap isi nasi kotak yang sudah dingin. 

Nikmatnya nggak ketulungan.

Nggak pakai merem melek sih, cuma kayaknya khusyuk banget sampai dilirik sama mahasiswa-mahasiswa yang lewat habis kelas.

Mohon maaf suka kurang kontrol memang.

Selesai makan langsung beranjak pulang. Di jalan ditelepon-telepon lagi sama bocil, katanya rumah mati lampu.

Alamak.

Cek WAG RT ternyata betul ada pohon tumbang kena gardu listrik dekat daerah rumah.

Mana sore itu jalan ke arah rumah merah membara, kombinasi hujan yang awet dan lampu lalu lintas yang entah kenapa nampaknya memihak satu jalur saja. Perjalanan 30 menit jadi molor 90 menit.

Sampai di rumah yang gelap gulita, akhirnya secara impulsif memutuskan buat bawa anak-anak ngungsi ke mall saja sampai Bapaknya datang.

Naik Taxi karena kaki sudah terasa bak jelly setelah dipakai menyetir menembus kemacetan.

Sepanjang perjalanan, jadi wasit perdebatan sengit “Mau makan apa di Mall?”, antara Mbarep dan Ragil. Kepala sudah mulai cekot - cekot, telinga pengang. Mumet rek

Kondisi akhirnya cukup tenang setelah sampai mall lalu Mbarep dan Ragil disumpal gadget di restoran yang saya pilih. Bodo amat sama screen time. Mamak lebih perlu kewarasan.

Suami menyusul ke mall. Kami langsung pulang begitu dia datang.

Sampai di rumah, lampu sudah menyala benderang. Kontras dengan kesabaran saya yang sudah hilang bagai tertelan lubang hitam. Apalagi liat tumpukan ayam di meja makan yang masih harus dibereskan.

Setelah menyuruh anak-anak bebersih dan tidur (dengan metode VOC), akhirnya giliran saya bisa bebersih dan menggeletak di kasur (nggak jadi beberes ayam). 

Tanpa tedeng aling-aling memutuskan untuk mengambil cuti keesokan hari dengan alasan lelah hayati.

***
Dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei degan Topik Hari Biasa yang Tak Biasa. 



Read more ...

Monday, April 20, 2026

Kita Semua Kenal Tante Yuli

*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.


Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.

Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan. 

Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.
Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.

Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.

Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.

Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (ðŸ’Ģ). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.

Rangking berapa? (ðŸ’Ģ)

Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga.

Keluarga yang anaknya masuk sekolah top dan punya ranking dianggap lebih terhormat daripada keluarga yang akademiknya biasa-biasa saja.

Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.

Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Kalau kata statistik populasinya beda. Seperti membandingkan ikan air tawar dan ikan air laut. Lagian saingan rangking ini buat apa sih?

Tapi ibu anak ini tentu saja tak sependapat soal populasi. Bahkan sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".

Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah dan jadi super ramah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.

Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa. Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.

"Rangking berapa?", tanyanya.

"Tiga...", jawab saya.

"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.

"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante...dari 14 kelas. Kalau kelas aku doang sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku menyuruh diam.

Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.

Gembrot (ðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’Ģ)

Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.

Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.

Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.

Saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".

Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.

Suruh Siapa Punya Anak?! (ðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’Ģ)

Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".

Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF.

Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.

Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.

Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak.

Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Sekali towel pada hamil. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.

Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.

Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.

Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.

Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu. Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.

Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:

Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".

Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.

Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.

Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab: 

"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"

Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.

Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.

Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.

Antivaks ya? (ðŸ’ĢðŸ’ĢðŸ’Ģ)

Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.

Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi saya dan suami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini dan suaminya sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.

Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".

Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.

Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.”, katanya dengan khusyuk.

Setelah mendengar ceramah 5 menit yang bagaikan mendengarkan orang membacakan reels dokter di instagram, saya jadi penasaran sebab dan musabab ceramah ini apa.

Memang siapa sih yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan. Saudara saya ini menatap saya.

Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.

Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.

Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.

"Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.

Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.

Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga...”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.

Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks? Terus harus posting dimana emang sebagai tanda pro vaksin?!!”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.

Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!

D1 kan? (ðŸ’ĢðŸ’Ģ)

Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.

Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.

Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.

Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.

Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.

Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.

Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.

Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.

Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.

Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.

Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.

Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.

Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.

Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami. Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B: 

Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Di luar negeri lagi. Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.

Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.

***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri? 


Read more ...

Monday, March 16, 2026

Humor yang Berevolusi

Dulu saya lucu. 
Paling nggak kalau lihat tulisan blog saya dulu, saya lucu. Bahkan tulisan reflektif pun lumayan lucu.

Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.

Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya sudah mencapai financial freedom juga.

Menyesal karena tidak serius untuk lucu.

Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.

Misalnya nih waktu saya naik pesawat yang gagal take off. Apa coba yang lucu dari pesawat yang batal terbang padahal separuh badannya sudah naik? Kalau pilotnya nggak eling dan ngotot terbang mungkin saya hanya tinggal potongan berita di surat kabar.

Cuma waktu itu saya mikir kejadian tersebut lucu karena di sebelah saya ada bule yang kakinya bau. Jenis bau yang saking semerbaknya membuat kita mempertanyakan kewarasan kita sendiri.

Karena pesawat batal take off dan harus diganti, saya batal sebelahan sama dia selama 4 jam penerbangan. Lucu kan?

Pesawat baling-baling yang gagal terbang. Rute Ujung Pandang - Jayapura.


Ada lagi pengalaman saya 14 jam naik kapal ke Talaud di tengah purnama Ramadan. Gravitasi bulan membuat gelombang laut nggak ada santai santainya. Sepanjang perjalanan perahu bagai dibanting-banting. Airnya memercik membanjiri seluruh lantai kapal yang terbuka.

Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.

Tangkapan kamera laut Sulawesi malam itu

Malam itu, semua penumpang muntah. Kecuali saya dan 2 teman saya. Padahal kami orang daratan. Dimana satu-satunya pengalaman naik kapal pontang panting hanya di Kora-Kora Dufan. Ada untungnya sih pergi saat puasa. Perut hampir kosong, karena waktu buka juga nggak selera.

Plus nahan minum biar nggak buang air kecil. Males ke kamar mandinya.

Jadi mau muntah juga nggak bisa.

Ngenesnya, waktu mau sahur, ternyata burger Mc Donalds dan kentang yang kami beli basi. Seumur umur baru sekali saya ngalamin makanan cepat saji basi padahal belum ada 12 jam dibeli. Jadi burger Mc Donalds itu asli sodara-sodara, tidak seperti klaim yang bilang kalau saking banyak pengawetnya sampe bertahun-tahun juga nggak basi.

Atau udara laut Sulawesi sedemikian dahsyatnya sampai pengawet pun kalah? Atau burgernya ikut mabok laut? Entahlah.

Pokoknya gara-gara itu saya dan teman-teman nggak makan minum sama sekali lebih dari 24 jam. Hanya nelen obat anti mabok saja dengan harapan sisa perjalanan berjalan lancar.

Nekad tetap puasa.

Dulu waktu kejadian rasanya entah kenapa lucu sekali.

Saya dan teman seperjalanan tertawa sampai berlinang air mata membahasnya. Menertawakan kondisi yang ada dan pengalaman yang baru saja terlewati tanpa kurang suatu apa. Tentu saja tertawanya setelah kami semua sudah aman di daratan. Sudah makan kenyang dan bisa kembali berpikir jernih. 

Tapi setelah saya pikir-pikir sekarang, apa yang lucu coba dari pengalaman itu? Apalagi saat itu untuk pertama kalinya saya merasakan dehidrasi sampai beneran nggak bisa mikir. Temen saya bahkan sampai nggak bisa buka kunci pintu kamar di penginapan saking linglungnya. Untung nggak ada yang sampai masuk IGD.

Dulu saya nggak menuliskan pengalaman ngenesnya di blog sih, takut Ibu saya baca lalu prihatin dan sedih dengan kenekadan dan kebodohan anaknya. 

Soalnya saya sendiri sudah kebayang kalau yang cerita anak saya mungkin saya sudah ngomel panjang kali lebar kali tinggi: NGGAK USAH ANEH ANEH! KENAPA NGGAK BATALIN AJA PUASANYA?!! MAU MATI KAU?!!

Nah terlepas dari tingkat kelucuan hal yang terjadi, dulu tuh rasanya selalu ada sisi lucu dari setiap hal yang saya alami. Sekarang, walaupun hidup saya lebih lucu, tapi saya malah jadi jarang menemukan sisi lucunya.

Pertanyaannya kenapa? Kenapa sekarang kalau menghadapi kejadian lucu saya malah seringnya merasa miris?

Misalnya waktu ada mahasiswa datang ke Tata Usaha mencari helmnya yang hilang. Saat ditanya merk helmnya apa, dia bilang harus nanya Ibunya dulu karena yang beli ibunya di Shopee. 

Lawak nggak sih, anak cowok umur 20 tahun, badan tinggi besar, pakai kalung gelang rantai, sangar (not to mention so called salah satu putra putri terbaik bangsa) tapi nggak tau merk helmnya karena ibunya yang beliin di Shopee?

Tapi boro-boro menuliskan kelucuan kejadian itu, yang ada malah mengelus dada sambil bertanya-tanya "Kok bisa?" (padahal emang males nulis aja ðŸĪŠ)

Kecurigaan saya, humor saya memang berkurang seiring umur karena memang begitulah wajarnya. Ya kalau lihat sekeliling, orang makin tua memang cenderung makin nggak lucu nggak sih?

Kecuali Tukul mungkin.

Tapi kan beliau juga sakit sekarang, jadi kayaknya sudah nggak sering ngelucu juga.

Atau mungkin saya sudah nggak bisa mikir lucu karena saya sudah jadi lebih bijaksana? #Ngarep 

Menilik tulisan-tulisan blog saya akhir-akhir ini serius-serius banget dah. Lebih serius dari Menteri Keuangan Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil. Padahal kan harusnya mereka yang lebih serius menghadapi ancaman kondisi geopolitik global. Kenapa malah saya yang jadi serius sementara mereka masih suka ngelawak? 

Gojeg-gojeg istilah Jawanya.

Lalu saya tanya AI (kan saya orang modern jadi nanya AI bukan rumput yang bergoyang): “Kenapa humor cenderung menurun seiring bertambahnya usia?”: Ini ringkasan jawabannya:

Ternyata ada penjelasannya saudara-saudara! Intinya orang semakin tua kebanyakan semakin nggak lucu lagi karena memang hidup membuat kita jadi lebih serius.

Evolusi humor seiring bertambahnya usia juga hal yang menarik.

Jadi sisi lucu saya tidak hilang, hanya berevolusi menjadi sesuatu yang lebih…
tidak relatable garing…

Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.

Tipe yang kalau melontarkan candaan, gen Z di sekitar ikut tertawa untuk kesopanan belaka. Sementara gen Alpha langsung bilang seadanya: “Apaan sih? Nggak lucu!”.

Dah lah..masih mending garing dari girang kan ðŸŦ 

Seperti peribahasa : Semakin berisi semakin merunduk.

Nggak nyambung ya? Biarin aja, biar lucu.

Permisi! Mau merayakan keberhasilan nggak jadi deadliners tengah malam untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini.

Minal aidzin wal faidzin!



Read more ...

Wednesday, February 25, 2026

Regulo 70

Rumah Biasa Hanya Ada Tapinya

Sungguh aneh ketika suatu tempat yang tidak pernah saya tinggali secara permanen ternyata menyimpan cukup banyak porsi ingatan inti di kepala saya.

Kalau ini film Inside Out, maka salah satu pulau ingatan masih berdiri kokoh ditopang dengan berbagai kenangan akan tempat tersebut. Bahkan ketika sudah lewat dari 20 tahun, saya tak lagi merasakan kehangatannya.

Regulo 70 Boyolali itulah alamatnya. Rumah sederhana di daerah permukiman yang berada di tengah Kota Boyolali.

Berada di posisi hook, kedua jalan yang mengapitnya mengarah ke alun-alun dan pasar. Jantung dari kabupaten yang semenjak dulu terkenal sebagai penghasil susu sapi murni.

30 tahun lalu saya memaknai rumah itu sebagai tempat berkumpul. Keluarga besar ayah saya yang terdiri atas 8 orang kakak-beradik tidak pernah melewatkan kesempatan untuk anjang sana, terutama saat hari raya.

Baru sekarang setelah dewasa saya paham. Kehebatan Eyang yang tak perlu susah payah menyuruh anak-anaknya pulang. Tanpa diminta, tanpa drama, mereka pulang sendiri. Suatu berkah yang konon sulit didapatkan orang tua lain di masa sekarang.

Padahal Eyang saya bukan orang yang keibuan. Galak dan tegas lebih tepat. Punya prinsip yang setegak deretan pohon kelapa di halaman rumahnya.

Tipe yang menunjukkan kasih sayang dengan memasak selama 7 hari 7 malam demi mempersiapkan jamuan untuk anak cucu dan handai taulan. Daripada memberikan peluk cium dan bermain dengan cucu-cucunya.

Momen berkumpul tentu saja tidak selalu menjadi momen bahagia. Kadang diselingi perselisihan antarsaudara atau konflik antarsepupu. Tapi semua kebersamaan tersebut membuat standar kumpul keluarga saya menjadi sangat tinggi.

Main kembang api bersama di halaman yang luas, tidur di satu ruangan panjang dengan kasur berjejer yang kami sebut asrama haji, rebutan saweran yang makin lama makin banyak donaturnya dan makin sedikit penerimanya karena satu per satu cucu juga mulai bekerja.

Makan di pemancingan Pengging, berenang di sungai Tlatar, beli susu sapi langsung di Koperasi Susu Pusat Boyolali, dan makan sambel tumpang yang sampai sekarang dijadikan tes untuk penerimaan cucu mantu 😆

Ada juga momen menemani eyang belanja ke pasar Sunggingan. Karena rumah keluarga kami paling dekat dari Boyolali, maka seringkali kami datang duluan. Belanjaan Eyang menjelang lebaran bisa mencapai puluhan kilo. Maklum anak mantu cucu kala itu jumlahnya saja bisa sampai 30.

Tak heran kalau saat Lebaran, dapur Eyang, yang letaknya terpisah dari rumah utama, dan luasnya dua kali rumah subsidi, sudah seperti dapur hajatan. Dengan Eyang memimpin barisan mbok-mbok memasak.   

Berbagai hal yang menjadi ingatan inti yang masih sering saya bicarakan dengan sepupu-sepupu saya hingga sekarang. 25 tahun setelah Eyang meninggal, acara kumpul-kumpul di Boyolali memang hanya tinggal kenangan. 

Ketika dewasa, saya sadar ada beberapa hal dari pengalaman masa kecil saya yang memengaruhi hidup saya hingga saat ini. Ini saya ceritakan beberapa: 

Wawasan yang Luas

Sebagai cucu dari anak ke-6, secara usia posisi saya ada di tengah-tengah. Saya punya sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih tua dan sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih muda.

Sepupu-sepupu saya yang lebih tua tentu saja sudah lebih dulu menjalani kehidupan nyata daripada saya. Untungnya, mereka tidak pelit berbagi cerita tentang pengalaman mereka.

Dari sanalah saya jadi banyak tahu tentang kehidupan “orang besar” sebelum saya benar-benar harus memasukinya. Tentang cerita kerja di korporasi, tinggal di luar negeri, kuliah di universitas yang bergengsi, dan banyak anekdot-anekdot lainnya.

Dari sepupu-sepupu saya ini jugalah saya tahu tentang kehidupan “anak kota besar”. Tentang berbagai permainan dan bacaan yang sudah terkenal di Jakarta dan Bandung, tapi waktu itu belum umum di Semarang, seperti UNO dan Harry Potter.

Ada masanya di suatu Lebaran kami menghabiskan waktu berhari-hari seharian main UNO. Juga saya yang menenggelamkan diri membaca Harry Potter bahasa Inggris walaupun dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas.

Dari pengalaman ini saya jadi tahu ada dunia lain di luar sana dan jadi terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Walaupun pada akhirnya takdir kehidupan membawa kami ke arah yang berbeda-beda dan tentu saja kehidupan tak pernah benar-benar persis seperti yang diceritakan sepupu-sepupu saya.

Sekarang kalau ketemu, obrolannya jelas sudah jauh berbeda dari zaman dulu kala. Terakhir kumpul, obrolannya tentang berbagai keluhan kesehatan yang mulai diderita: encok, goyoken, darah tinggi dan sebagainya.

Makin hari memang semuanya semakin menua.

Hubungan Antar Saudara

Membaca berbagai utas di media sosial tentang hubungan antarsaudara, kadang membuat saya bersyukur. Saudara-saudara saya, baik yang inti maupun sepupu, semuanya baik-baik saja. Nggak ada yang neko-neko. Semuanya hidup masing-masing tanpa saling mengganggu.

Low maintenance kalau kata anak sekarang.

Karena hubungannya juga baik, saya bisa sewaktu-waktu kontak tanpa harus merasa sungkan.

Setelah jadi orang tua, saya baru sadar kalau semua ini mungkin terjadi karena didikan eyang yang tidak pernah membeda-bedakan anak cucunya. Semuanya diperlakukan sama. Alias digalakin kalau perlu digalakin ðŸ˜Đ

Saya masih ingat almarhum Pakde saya yang waktu itu sudah menjadi kolonel polisi diomelin eyang karena makan paha ayam kesukaan adiknya. Padahal Pakde saya, menurut Eyang, sukanya bagian dada.

Pakde hanya cengengesan saja waktu itu. Sepertinya saudara-saudari itu juga sudah lupa mereka suka potongan ayam apa, yang penting makan masakan ibunya.

Prinsip tidak membedakan anak ini sepertinya ditiru oleh Bapak saya dalam membesarkan anak-anaknya. Bapak pernah bilang kalau salah satu ketakutan terbesarnya adalah anaknya merasa dibedakan.

Sampai waktu adik saya SMA dan perekonomian keluarga saya lebih baik dari sebelumnya, Bapak pernah minta maaf karena adik saya dibelikan motor baru dan laptop, sementara sebelumnya, waktu SMA saya pakai motor butut dan sampai tingkat 3 kuliah pakai PC.

Karena saya don’t mind pakai motor butut dan PC, saya malah nggak pernah kepikiran kalau itu bisa bikin anak merasa dibedakan 😅

Karena melihat hasil dari prinsip yang baik ini (dan saya sudah melihat contoh keluarga lain yang tidak menerapkannya), sampai sekarang saya (dan suami) juga berusaha agar imbang kepada anak-anak kami. Sesuai porsinya dan sewajarnya saja.

Tidak Putus Silaturahmi

Saya punya kenangan yang kuat (mungkin bahkan terlalu kuat) tentang Lebaran karena keluarga Bapak saya. Bahkan saya ingat pernah ngambek sengambek ngambeknya kepada orang tua karena tahun itu kami Lebaran di Bandung, tempat keluarga Ibu saya, dan bukan di Boyolali.

Bukan keluarga Ibu yang salah, Lebaran di rumah Eyang memang terlalu menyenangkan sehingga bahkan kue-kue Lebaran lezat yang dimasak Embah, nenek dari ibu saya, tidak bisa menggantikannya.

Apalagi semenjak Eyang meninggal dan kami jadi tidak punya pilihan selain mudik ke Bandung, Lebaran jadi terasa “anyep”.

Sungguh betapa kangennya saya dengan suasana Lebaran di Boyolali saat Eyang masih ada. Alhasil, semenjak Eyang meninggal, saya tidak terlalu bersemangat untuk berkumpul dengan keluarga saat Lebaran. Padahal keluarga yang saya temui tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan orak uwis-uwis yang bikin males kumpul-kumpul.

Sampai akhirnya saya menikah dengan suami yang keluarganya masih punya tradisi kuat untuk kumpul-kumpul. Bukan hanya Lebaran. Berbagai alasan dan acara membuat mereka berkumpul. Tidak hanya keluarga inti, sampai cucu, buyut, saudara 2 lapis juga masih rajin ikut serta.

Saking banyaknya orang kalau keluarga suami saya kumpul, sampai 14 tahun menikah juga saya masih nggak semua hafal hubungan kekerabatannya gimana.

Saking bingungnya pernah saya cium tangan seseorang padahal itu sebenarnya ponakan. Haha. Salah orang juga sering soalnya mukanya mirip-mirip.

Sampai pernah kaget waktu melihat orang yang katanya sudah meninggal masih menyendok soto dengan santai di antrian depan saya saat ada acara. Ternyata yang meninggal orang lain. Cuma saya yang selama ini salah memadankan nama dengan muka.

Anyway, melihat keluarga suami, jelas saya jadi punya keinginan untuk kumpul-kumpul keluarga saya juga. Supaya anak-anak saya tahu keluarga ibunya, apalagi kedua eyang mereka, orang tua saya, semua sudah tidak ada.

Walaupun jelas saya tak akan bisa menghapus masa lalu, tapi dengan mudah saya bisa menghilangkan dan melupakan jejak asal usul saya. Apalagi kalau menuruti jiwa milenial introvert saya yang jelas tidak terlalu suka bertemu orang kalau tidak perlu-perlu amat.

Karena dorongan suami dan keinginan yang sama dari beberapa sepupu untuk berkumpul, akhirnya semenjak beberapa tahun lalu, saya dan beberapa sepupu tersebut menyempatkan diri untuk silaturahmi ke rumah Bude saya yang paling tua di setiap hari Lebaran kedua atau ketiga.

Tentu saja suasananya tidak sama seperti yang dulu, tapi lumayanlah tombo kangen dan memperpanjang silaturahim. Makin tahun makin ramai karena semakin banyak yang bergabung.  Alhamdulillah. Memang deep down inside prinsip orang Indonesia “mangan orak mangan sing penting kumpul” sudah mendarah daging di nadi saya. Hanya sejenak saya melupakannya.

Penutup

Rumah di Regulo 70 masih berdiri tegak sampai sekarang. Masih sedia menyambut para penghuni lamanya kalau ada yang kangen untuk pulang. Walaupun rasanya sudah tak lagi sama, bahkan aromanya juga sudah berbeda, tapi rumah itu tetap menjadi monumen sejarah yang akan selalu saya ceritakan ke anak cucu saya kelak.

Hanya 15 tahun saya menikmati keseruannya, itupun mungkin hanya 5 tahun yang benar-benar saya ingat. Tapi sebagai sebuah tempat, ingatan tentang Regulo 70 tak lekang sepanjang masa. 


Read more ...