Sunday, July 31, 2022

Tradisi Siap Saji

Tradisi Lama: Siap Saji untuk Kenaikan Kelas

Waktu kecil dan masih tinggal di Semarang. Ayam goreng tepung adalah hal istimewa. Hanya bisa saya nikmati setelah pembagian raport. Itupun jika saya atau adik saya dapat rangking. Tradisi merayakan kenaikan kelas yang masih saya ingat sampai sekarang. Walaupun sudah 20 tahun berlalu.

Ayam goreng tepung. Salah satu makanan kenangan waktu kecil (sumber: myrecipes.com)

Untung adik saya selama sekolah selalu juara kelas. Jadi saya yang dari SMP tidak pernah lagi dapat ranking bisa tetap makan ayam goreng tepung tiap semester. Atau caturwulan. Ketauan tuanya XD

Kami sekeluarga selalu pergi ke Texas Chicken. Dulu satu satunya restoran ayam goreng tepung di Semarang. Sebetulnya setelahnya muncul merk lain. Tapi ibu saya tidak suka. Cuma suka Texas Chicken, karena disana penyajiannya pakai piring beling. Menurut dia lebih
ngajeni. Terhormat. Haha.

Restoran siap saji
 jaman dulu memang masih pakai piring beling. Sejak kapan ya berubah jadi pakai packaging kertas?

Texas Chicken jaman saya masih sekolah adanya di
basement mall Matahari. Mall tertua di Semarang. Saya samar - samar ingat disana selalu sepi. Mungkin orang Semarang jaman dulu tidak suka ayam goreng tepung. Tapi kadang kami bertemu tetangga saat makan. Mungkin mereka juga merayakan raport anaknya. Entahlah saya juga tak ingat.

Setiap pergi makan di Texas kami masing - masing dapat dua potong ayam. Potongannya selalu paha atas dan paha bawah. Kebiasaan yang masih saya ikuti sampai sekarang. Menurut saya bagian paha memang lebih nikmat. Lebih
juicy dan gurih daripada dada yang anyep. Tapi suami paling suka bagian dada karena tidak repot makannya. Dia memang tidak suka ayam bertulang karena malas mengkrikiti dagingnya sampai habis. Alhasil dia selalu merasa rugi makan ayam selain potongan dada.

Ibu saya selalu beli nasi dan kentang goreng untuk dimakan bersama. Karena konsep kentang sebagai karbo yang bisa menggantikan nasi sepertinya masih awam untuknya. Jadilah kami makan nasi, kentang, dan ayam.

Ini rahasia yang tidak pernah saya ceritakan ke suami sampai sekarang. Takut diungkit ungkit terus. Haha.

Tradisi Baru: Siap Saji Malam-Malam


Hobi duo bocah makan makanan siap saji. Wajar, wong kedua orang tuanya juga hobi. Kentang goreng, ayam goreng, burger, nugget. Mereka akrab dengan makanan - makanan tersebut. Tak segan minta kalau lagi ingin.


Hobi baru karena pandemi: menyambangi drive thru malam-malam (sumber: suara.com)

Saat pandemi, keluarga kami memulai kebiasaan baru jalan-jalan menyusuri kota Bandung di malam hari. Intinya sebetulnya biar anak-anak tidur. Tapi kadang sekalian mereka makan malam.

Memanfaatkan layanan drive thru yang ditawarkan oleh berbagai gerai penjual makanan siap saji, kami bisa membeli kentang goreng favorit anak-anak tanpa perlu turun dari mobil. Praktis. Saking seringnya beli via drive thru, saya sampai tidak ngeh kalau pesan makanan di mc donalds sekarang self service. Pakai mesin seperti di luar negeri. Haha.

Sebetulnya tidak bermaksud menjadikan acara jalan-jalan sambil mampir ke drive thru ini sebagai kebiasaan. Tapi setelah dua tahun berulang, mau tidak mau ya jadi kebiasaan juga. 

Kadang saat melihat anak-anak saya menyantap berbagai makanan siap saji itu, saya cerita ke mereka kalau dulu seumur mereka saya dibelikan ayam goreng tepung hanya di waktu-waktu istimewa. Tentu mereka tidak bisa paham, kenapanya. Karena seperti kata anak ragil, kan bisa dibeli sama Bapak Gojek saja :')

Seperti saya yang kadang tidak bisa relate dengan cerita orang tua atau kakek nenek saya. Karena ya memang sudah beda zaman ya. 



Ditulis untuk ikut Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli dengan tema Tradisi. 





Read more ...

Wednesday, July 20, 2022

Belajar Pangkal Pandai

Abstrak Dalam Ketekunan

Dalam salah satu podcastnya, saya pernah mendengar Pandji Pragiwaksono mengatakan kalau ketekunan itu membebaskan. Pandji memang selalu mengatakan kalau kekuatan dirinya adalah ketekunan dan etos kerja yang tinggi. Baginya ketekunan tidak pernah merugikan dan mengekang. Tapi malah membuatnya bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.

Sayangnya saya bukan orang yang tekun. Tidak merasa punya bakat dan kurang punya keinginan untuk kerja keras. Makanya ada banyak momen dalam hidup saya dimana saya menyesal karena tidak pernah menekuni sesuatu. Akhirnya semua kebisaan saya hanya di level mediocre saja. Mengandalkan bakat yang seadanya.

Seringkali saya berandai-andai. Coba kalau saya tekun belajar dan latihan menulis, mungkin sekarang sudah punya buku sendiri. Coba kalau saya tekun belajar bahasa Jerman, mungkin sekarang bisa nonton Dark tanpa subtitle (loh). Coba kalau dari dulu saya tekun menabung, mungkin rumah impian sudah bisa didapatkan. Coba kalau dari dulu saya tekun olahraga, mungkin tidak akan obesitas, dan sebagainya dan sebagainya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Padahal waktu SD saya tekun menatap kata-kata mutiara di bagian bawah buku tulis Sinar Dunia. "Ketekunan membawa kesuksesan". Tapi sepertinya ketekunan menatap saja tidak membawa kepada kesuksesan.

Makanya ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli topiknya adalah tentang hal-hal yang masih ingin dipelajari, lubuk hati saya yang terdalam sebetulnya bilang kalau jawabannya ingin belajar jadi tekun, jadi konsisten. Tapi hal-hal tersebut sungguh merupakan suatu keabstrakan yang hakiki. Karena abstrak, maka tentang ketekunan kita kesampingkan dululah. Supaya sesuai tema dan tidak njelimet. Sekarang saya ceritakan saja hal-hal yang ingin saya pelajari suatu saat nanti, kalau semesta mendukung dan saya sudah jadi lebih tekun.

Menulis Cerita

Ambisi saya adalah menjadi penulis buku cerita. Buku cerita anak yang seru yang bisa membuat pembacanya ingat terus sampai lama. Cuma masalahnya sampai sekarang saya belum pernah mencoba menulis cerita. Membayangkan di kepala sih sudah pernah, tapi belum pernah sampai menuliskannya. Sekalinya saya menulis cerita fiksi utuh adalah ketika ikut workshop penulisan buku anak yang diadakan oleh Litara Foundation saya. Itu pertama kalinya saya menulis cerita fiksi. Ingin sekali ikut pelatihan seperti itu lagi. Langsung praktek tidak hanya teori. Dikritik di tempat jadi bisa langsung memperbaiki.

Kalau untuk teori saya sudah cukup puas ikut pelatihan menulis cerita oleh Raditya Dika. Cukup efektif dan jelas. Karena sistemnya beli tayangan jadi bisa diulang-ulang. Sayangnya sepertinya pelatihan yang mirip bootcamp Litara jarang-jarang. Lagipula kompetisinya agak fierce. Belum tentu lain kali saya beruntung. Atau saya saja yang malas mencari ya.

Belajar Sesuatu Sampai Paham Konsepnya

Salah satu penyesalan terbesar saya adalah banyak belajar tapi tidak paham konsep. Terutama terkait eksakta. Padahal saya lulus dari jurusan teknik 2 kali. Bukan dari perguruan tinggi abal-abal pula. Saya menyadari, inilah akibat lulus ujian masuk perguruan tinggi karena tekun menghapal trik menyelesaikan soal. Bukan karena paham konsep. Jadi ketemu pemodelan angka dan statistika langsung bertekuk lutut. Untung nggak pernah sampai ngulang.

Hal membanggakan nomor 16 di hidup saya setelah tidak pernah punya gigi bolong adalah tidak pernah mengulang mata kuliah waktu kuliah.

Karena tidak tahu konsep, saya seperti bangunan tinggi yang goyang. Atau donat yang tengahnya bolong. Sepertinya tahu banyak, tapi kalau ditanya konsepnya tidak paham. Untung saya cukup berbakat ngeles. Jadi nggak malu-maluin amat. Terutama kalau ditanya sama anak-anak.

Sekarang keinginan terpendam saya adalah belajar suatu hal dari dasar sampai paham konsepnya. Apa saja. Mungkin matematika. Mungkin bahasa. Mungkin memasak. Belum saya tentukan. Karena dibalik semua omongan tentang konsep, sejujurnya saya juga belum paham konsep menentukan pilihan.

Mungkin kalau ada rejeki nanti saya ikutan saja belajar sama anak. Mengulang pelajaran dari SD sampai SMA. Siapa tau di tengah jalan saya menemukan kalau saya berbakat di bidang yang tak pernah dikira. Misalnya sebagai dokter gigi hewan. Siapa tau saya ternyata sangat jago mendeteksi masalah di gigi hewan. Cuma saya tidak pernah tau tentang bakat saya ini, karena dulu saya sudah menyerah duluan belajar soal segala macam binatang karena merasa tidak suka biologi. Hingga tak pernah belajar yang benar. Boro-boro soal anatomi gigi hewan, tentang hal basic seperti bertelur dan beranak saja saya kurang paham :')

Belajar Sejarah

Salah satu ambisi terpendam saya yang lain adalah membuat cerita fiksi berdasarkan sejarah Indonesia. Karena saya suka cerita sejarah dan hobi baca fiksi dengan latar belakang sejarah. Masalahnya pengetahuan sejarah saya minim sekali. Karena modalnya hanya yang didapat saat sekolah dulu. Itu juga kok seingat saya pelajarannya kurang seru. Hanya menghapal prasasti dan tanggal-tanggal saja. Tidak pernah ada cerita-cerita seru tentang kehidupan atau mungkin malah perseteruan masa lampau yang bisa dikembangkan jadi cerita yang seru. Seringkali yang seru malah cerita mistis atau legenda. Makanya sinetron sejarah yang terkenal di Indonesia hanya seputar elang terbang. Padahal saya sih yakinnya sejarah negeri ini sama atau mungkin lebih seru dan menarik dari cerita sejarah dari negeri-negeri lain yang sering dibuat film. Seperti Cina dan Korea Selatan.

Saya sering wondering, kenapa cerita-cerita yang sepertinya menarik, malah tidak disampaikan. Misalnya tentang pembangunan candi Borobudur. Candi terbesar di dunia. Kok malah tidak pernah dibahas. Paling tidak di tahun 90an belum dibahas, hanya disuruh menghapal wangsa yang membangunnya. Padahal kan dari banyak sisi bisa dibahas. Kalau ada niat. Sejarah, sosiologi, ekonomi, atau integral sekalian. Menghitung volume stupa. 

Jadi kalau ada kesempatan saya ingin belajar sejarah Indonesia secara runut. Siapa tau bisa tau sejarah Prambanan yang sebenarnya, karena pasti ada penjelasan kenapa muncul legenda candi tersebut dibangun hanya dalam semalam. Mungkin bisa sekalian praktik pakai integral lipat 3 buat hitung volumenya Daripada tidak pernah terpakai ilmunya padahal sudah lulus kuliahnya.

Penutup

Sekian sesi ngecapruk untuk ikut tantangan kali ini. Sedikit terburu-buru jadi kurang rapi. Semoga cukup berfaedah. Amin.


Read more ...

Thursday, June 30, 2022

Waktu Indonesia Menurut Ibu Restu

Preambule

Padahal Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog kali ini saya yang jadi adminnya. Eh kok malah sendirinya menunda-nunda mengerjakannya. Haha. Mohon maaf pembaca sekalian yang budiman, darah procrastination dan deadliner memang mengalir di tubuh saya. Si penganut alon-alon asal kelakon yang hobi grusa-grusu. Karena dengan menunda-nunda berkedok alon-alon sering tidak sadar kalau deadline sudah dekat. Persis seperti kelinci di dongeng Kelinci dan Kura-Kura.

Jenis-Jenis Waktu

Baiklah, kita sudahi saja penyesalan ini, mari kita simak rutinitas harian saya yang bisa dibagi menjadi beberapa zona waktu. Melebihi benua Amerika yang dibagi jadi empat:

1. Waktu Indonesia Bagian Me Time Emak

Mulai subuh sampai anak-anak bangun pagi. Waktu ini adalah waktu favorit saya. Ada banya kegiatan yang bisa saya lakukan setelah menunaikan kewajiban sholat subuh, olah raga (kalau sedang niat), menulis (kalau sedang mood), atau baca-baca (kalau sedang ingin rajin). Saat pikiran masih jernih dan rumah sepi, adalah waktu yang tepat untuk Emak memanjakan diri. Kadang waktu berharga ini juga dipakai untuk tidur lagi. Biasanya kalau habis begadang karena mengerjakan sesuatu atau anak-anak rewel.

Selain subuh, waktu me time emak lainnya adalah setelah anak-anak tidur malam. Cuma kalau yang itu, seperti jutaan ibu-ibu lain di muka bumi, biasanya digunakan untuk screen time. Kegiatan nirmikir yang sebetulnya mikir. Nonton drakor, nonton konten BTS, scroll timeline sosmed, scroll marketplace atau berbagai kegiatan screen time lainnya yang dilakukan dengan dalih mendinginkan kepala. Kadang screen time Emak memang lebih daripada anaknya. Haha.

2. Waktu Indonesia Bagian Uyel-Uyel dan Sebangsanya (Weekdays)

Sebagai ibu bekerja, saya sadar sepenuhnya kalau akan menitipkan anak-anak seharian ke orang lain. Satu yang bisa saya lakukan untuk mempermudah hidup para pengasuh adalah, memastikan tangki cinta bocah-bocah lucu ini terisi penuh agar tidak cranky saat ditinggal pergi kerja orang tuanya. Jadi setelah anak-anak bangun biasanya saya uyel-uyel dulu, cium-cium dulu, atau peluk-peluk dulu. Biasanya saya kasih tau rencana saya dan ayah mereka hari tersebut dan mengingatkan mengenai kewajiban mereka. Bermain dan belajar. Karena waktu kerja saya dan suami cukup fleksibel jadi biasanya saya pastikan dulu mereka sudah sarapan dan siap main sebelum saya dan suami berangkat ke kantor (kantor kami sama).

Mulai tahun ajaran baru ini anak-anak mulai masuk sekolah, jadi sepertinya rutinitas pagi akan sedikit bergeser. Uyel-uyel, peluk-peluk dan cium-cium lebih pagi. Supaya semangat pergi sekolah doang ah.

3. Waktu Indonesia Bagian Jawab Pertanyaan

Pekerjaan saya sebagai ibu-ibu TU bisa dibilang seperti ikutan kuis, tapi seharian. Adaaaa saja pertanyaan yang harus saya jawab. Baik dari mahasiswa, dosen, teman-teman sesama staf administrasi, orang luar, bahkan sampai OB, tukang kebun, dan satpam juga suka tanya sama saya. Sepertinya tampang saya memang menimbulkan pertanyaan. Biasanya pagi-pagi pertanyaan ini melimpah. Sudah berderet di WA kantor. Apalagi kalau Senin pagi. BEUH! Seperti semua orang menunggu dari weekend untuk kasih pertanyaan ke saya. Pantes setiap pulang kerja capeknya kayak ikut ujian atau cerdas cermat P4. Baiklah referensi yang 80an sekali.

4. Waktu Indonesia Bagian Menerapkan Istilah yang Didapat di Kuliah

Dulu waktu kuliah saya mengenal dan belajar tentang penjadwalan dan manajemen proyek. Tak pernah saya sangka dan kira bahwa di dunia kerja istilah-istilah tersebut akan benar-benar melekat pada keseharian saya walaupun untuk hal yang sama sekali berbeda. Mengatur jadwal kuliah, jadwal sidang, jadwal rapat, jadwal ini jadwal itu. Organize acara wisuda, acara alumni, workshop, kuliah tamu, habladi, hablada. Jangan lupa kegiatan-kegiatan ini juga erat kaitannya dengan estimasi dan optimasi. Karena di dunia ini tidak ada satu halpun yang pasti.

5. Waktu Indonesia Bagian Pacaran (Biasanya habis gajian)

Untungnya punya suami satu kantor adalah, kalau siang bisa kabur ngedate. Haha. Biasanya kami makan siang mencoba tempat-tempat yang riweuh kalau bawa bocah. Kadang, kalau ada urusan yang harus dilakukan, kami juga izin dulu pergi siang-siang. Misalnya survey sekolah bocah, ngurus STNK, atau ganti ban. Iyes ganti ban lebih asyik kalau berdua lho. Ngeliatin mamang-mamang bengkel memastikan poros ban lurus dan semua sekrup terpasang sempurna. Sambil main game di HP dan nonton Netflix tanpa suara karena takut berisik. BEUH! Romantis sekali! Silahkan ditiru sebagai alternatif kentjan berikutnya.  

6. Waktu Indonesia bagian Macet di Jalan Pulang (Rutinitas Lama Mulai Lagi Pasca Pandemi)

Bandung kembali macet pasca semua kegiatan kembali diadakan offline. Tak jarang 45 menit kami habiskan untuk kembali ke rumah (Mohon maaf jika yang rumahnya di jabodetabek ada yang merasa tersinggung. Tapi 45 menit di Bandung itu lama. Apalagi buat jarak 7 km saja. Hehe). Untuk menghabiskan waktu biasanya suami mendengarkan podcast. Hobinya kebanyakan podcast stand up comedian, seperti Pandji Pragiwaksono, Cing Abdel dan Ghilbas, Esrnest Prakarsa, atau geng podcast lainnya yang saya kurang hapal namanya. Kalau saya sedang bosan dengar podcast kami dengar lagu shuffle di spotify (bukan iklan). Kadang sengaja pasang lagu 90an supaya bisa nyanyi-nyanyi loba gaya berdua di mobil. Alhamdulillah nggak pernah diberhentikan polisi. 

7. Waktu Indonesia Bagian Main dengan Anak-Anak.

Kami sampai rumah biasanya paling lambat jam setengah 6. Seringnya jam 5 juga sudah di rumah. Kadang malah setengah 5 kalau jalanan kosong. Pulang kerja tentu tidak bisa leha-leha, karena anak-anak sudah menunggu. Ini saatnya mereka main dengan kami. Suami sih yang biasanya main sama anak-anak. Saya termasuk ibu-ibu yang kurang hobi main sama anak-anak. HAHAHA. Pengakuan dosa. Kan tidak semua orang harus hobi main sama anak-anak dong ya :')

Anak yang besar biasanya minta main berantem sama bapaknya, main catur, atau main kartu. Anak yang kecil hobinya playrole. Paling asik playrole dokter dan pasien. Soalnya kalau saya jadi pasiennya bisa sambil ngaso. Paling nggak asik playrole dengan adegan ibu-ibu dan bayi. Saya jadi ibunya dan anak-anak jadi bayinya. Lha apa bedanya sama dunia nyata :)) 

8. Waktu Indonesia Bagian Krisis Tidur

Setelah Magrib biasanya kami makan, istirahat, dan main-main yang santai dengan anak-anak sampai waktu mereka tidur. Persiapan anak-anak tidur sudah dimulai dari jam delapan malam. Atau jam tujuh malam kalau mandi dihitung persiapan. Anak-anak saya memang biasa mandi malam. Lebih nyenyak tidurnya daripada kalau tidak mandi atau mandi sore-sore. Rutinitas anak-anak untuk tidur sebetulnya sederhana. Mereka cuma harus beres-beres, sikat gigi, sholat, lalu ke tempat tidur mendengarkan saya atau ayahnya cerita. Masalahnya semakin mendekati waktu tidur semakin keras penolakan anak-anak untuk menyerah pada kantuk. Jadi banyak berantemnya juga kami di waktu-waktu itu. Kericuhannya mirip krisis Ukraina Rusia lah. Bedanya kalau disana lempar nuklir disini lempar rengekan, jeritan, tangisan, dan hal-hal memekakkan telinga lainnya.  Andai mereka paham kalau tidur itu adalah kemewahan saat mereka sudah dewasa, pasti mereka akan segera berlari meletakkan bantal di kepala ketika saatnya tiba. 

Karena kerumitan menjelang waktu tidur ini maka muncul waktu bagian Indonesia setelah ini....

9. Waktu Indonesia bagian Jalan-Jalan Malam

Ini kebiasaan saya, suami, dan anak-anak yang dimulai saat pandemi. Dimana saya dan suami jadi 24 jam bareng sama bocah terus tanpa jeda. Malam hari bocah tetap menolak tidur. Sementara saya dan suami biasanya sudah hampir KO karena capek ngasuh sambil kerja. Akhirnya setiap malam kami jalan-jalan putar-putar Bandung naik mobil. Karena kalau naik mobil anak-anak tidur. Sampai rumah bisa diangkat dan tidur sampai pagi. Satu trik yang sungguh mujarab, yang patut dipatenkan. Walaupun pernah beberapa kali jackpot, anak bungsu diangkat dari mobil malah bangun sebelum sampai kasur dan melek sampai lewat tengah malam. Haha. 

Sekarang, saat pandemi sudah mulai mereda, trik ini kadang masih kami lakukan. Apalagi kalau si sulung sibuk berkegiatan seharian dan menolak tidur siang sehingga malamnya uring-uringan. Karena bocah ngantuk adalah hal paling sulit nomor 8 di dunia setelah soal olimpiade Fisika. 

10. Waktu Indonesia Bagian Akhir Minggu

Weekend atau akhir minggu adalah waktunya acara keluarga. Biasanya hari Sabtu anak-anak ikut kelas. Kelas-kelas lucu untuk sosialisasi, karena belum sekolah formal. Anak besar ikut kelas lego, sementara yang kecil ikut kelas playdate. Iyes di masa modern ini playdate saja ada kelasnya. Kalau tidak ikut kelas Sabtu mereka berenang di hari Minggu. Minggu sore biasanya kami manfaatkan untuk belanja grocerries di swalayan besar. Waktunya jajan buat anak-anak dan suami dan waktunya saya menerima kenyataan kalau semua harga naik lagi. 

Eh tapi, walaupun seringnya pergi, tapi tak jarang juga weekend kami habiskan di rumah saja. Biasanya kalau suami ada acara atau kerjaan, atau Bandung sedang menggila macetnya. Orang Bandung ngalah sama orang luar Bandung yang kangen Bandung :')

Penutup

Sebetulnya masih ada beberapa waktu Indonesia bagian Bu Restu yang masih bisa diceritakan atau di breakdown. Mungkin ada 37 seperti Provinsi di Indonesia. Tapi sudahlah kita berhenti saja di angka 10. Supaya tetap nampak hemat, bersahaja, dan sama dengan jumlah Program Pokok PKK.             
Read more ...

Monday, June 20, 2022

A Little Thing Called Parenting

Mengenai Parenting 

parenting, the process of raising children and providing them with protection and care in order to ensure their healthy development into adulthood

- britannica.com -

Kalau lihat definisinya, parenting sebetulnya sederhana. Tapi buat saya definisi parenting adalah peperangan. Parenting for us is an everyday battle. Lebih susah daripada apapun yang pernah kami hadapi.

Saya dan suami dianugerahi dua orang anak yang saat ini masih menginjak usia dini. Si Mbarep berusia 5 tahun sementara adiknya si Ragil berusia 3 tahun. Sungguh sebuah ujian dengan dua bocah kecil di rumah. 

Setiap hari, layaknya orang berperang, yang kami lakukan adalah berstrategi, bernegosiasi, menahan diri, dan bertahan. Semua untuk menghadapi tingkah laku dua bocah lucu tersebut. Dua bocah hasil campuran DNA kami berdua. 

Spitting images of us dengan segala kelakuannya. Maka sesungguhnya setiap hari yang kami lakukan adalah bertempur dengan cerminan diri sendiri. Jika tidak ingin percaya pada karma. Kelakuan kami yang sama, merepotkan orang tua kami dulu juga.

Ceritanya sedang jadi Ninja Kolor dan Ninja Pampers. Iya itu pakai kolor dan pampers di kepala. Seabsurd ini memang bocah-bocah di rumah.

Tapi tentu saja, walaupun namanya pertempuran, kami tidak bisa bertempur di setiap kesempatan. Karena energi kami jelas terbatas. Lagipula kalau ingin membesarkan orang yang waras, kami sendiri harus tetap waras. Mengikuti salah satu prinsip utama keselamatan penerbangan: Oxygen mask rule

Should the cabin lose pressure, oxygen masks will drop from the overhead area. Please place the mask over your own mouth and nose before assisting others.”

Makanya kami harus pandai-pandai memilih pertempuran yang akan dijalani. Biar tidak lelah sendiri. Harus pilih-pilih mana yang harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Mana yang kami relakan untuk menghemat energi. Sambil terus berdoa semoga pilihan kami benar adanya. 

Peraturan Dasar

Untuk menyederhanakan situasi, hanya ada tiga peraturan yang kami tegakkan: 

1. Tidak boleh bohong. Apapun yang terjadi tidak boleh berkata bohong.
2. Marah-marah tidak dilarang, tapi tidak boleh melakukan hal yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.
3. Harus mendengarkan dulu kata ayah dan ibu. Baru setelahnya boleh berargumen.

Cukup tiga hal itu saja yang kami tekankan di setiap kesempatan. Kalau tidak patuh tentu ada hukuman. Karena peraturan ini sifatnya perjanjian. Seringnya hukuman yang diberikan berupa mainan diliburkan. Di atas lemari yang tak terjangkau. Bahkan setelah memanjat dua kursi yang ditumpuk.

Tapi ternyata menegakkan tiga peraturan saja sudah menghabiskan seluruh energi, jiwa dan raga. Gimana kalau peraturannya ada lima seperti Pancasila? 

Paling seru saat berhadapan dengan terrific two dan fantastic four secara bersamaan akhir tahun hingga awal tahun kemarin. Tak jarang saya dan suami mengakhiri hari dengan super kelelahan karena menghadapi keras kepalanya bocah-bocah. 

Kehebohan dari jam 7 pagi sampai 9 malam

Pantas saja saya baru diberi kepercayaan punya anak setelah masuk usia 30. Setelah mulai agak sabaran dan ambisi sudah mereda. Tuhan memang tahu yang terbaik. Kalau dari awal kami menikah, di usia 25, langsung punya anak, kayaknya kalau anak tantrum kemungkinan besar saya bakal ikutan tantrum juga. 

The Ugly Truth

Tujuan dari kami menekankan tiga peraturan diatas agar semakin besar mereka semakin paham hal-hal berikut:

1. Dunia Tidak Berputar Mengelilingi Mereka. Bahkan dunia ayah ibunya juga tidak berputar mengelilingi mereka. Orang tua punya kewajiban, tanggung jawab, dan prioritas lain yang terkadang harus diutamakan lebih dari anak-anak. Bukan mengabaikan tentu saja, tapi memang begitulah kehidupan. Secara realistis tidak mungkin mereka selalu jadi yang utama.

Tidak selalu keinginan mereka dipenuhi, tidak selamanya mereka akan dituruti, dan tidak semua hal bisa berjalan sesuai harapan mereka. Jadi sebelum nyeri hate sama orang lain atau kecewa dengan kondisi lebih baik belajar menerima penolakan semenjak dini. Biasa saja gitu kalau ditolak. Coba lagi nanti.

2. Hidup itu pilihan dan selalu ada konsekuensinya. Kami usahakan selalu berusaha memberikan pilihan ke anak-anak. Dijelaskan lengkap dengan segala konsekuensinya. Natural maupun tidak. Tidak mau makan malam, kalau tengah malam lapar, makanan sudah dibereskan. Tidak mau bergegas bersiap, terlambat ikut les lego kesayangan. Tidak mau pakai baju habis mandi, waktu nonton kartun semakin pendek, dan sebagainya.

Kadang pilihan anak-anak tidak sesuai harapan kami. Bagaimanapun sebagai manusia ngarep tetap ada ya. Kadang sedikit berusaha memanipulasi juga. Tapi ya itu konsekuensinya. Konsekuensi di dalam konsekuensi. Konsekuensiception. Halah.

3. Harus jadi orang yang tahu maunya apa. Supaya tidak terombang ambing kehidupan. Ini sebetulnya prinsip suami sih. Kalau saya, seperti wanita pada umumnya sampai sekarang masih suka nggak jelas maunya apa. Tapi dengan didikan suami jadi terbiasa juga memutuskan dengan lebih cepat. 

Anak-anak kami biasakan untuk tahu maunya apa. Merengek-rengek termasuk kegiatan terlarang. Semenjak bisa bicara mereka harus bisa bilang maunya apa. Walaupun seperti layaknya bocah-bocah lainnya keinginan mereka bisa berubah dalam hitungan detik, tapi paling tidak mereka sudah bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya. 

Harapannya kedepan mereka tidak akan merepotkan diri sendiri dan orang lain dengan galau berlebihan atau hanya asal ikut-ikutan. Bisa tahu maunya apa dan tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Pertempuran yang Kami Relakan

Seperti sudah kami sebutkan diatas, energi kami terbatas, sehingga kami memilih untuk tidak memerangi semua pertempuran dalam kehidupan menjadi orang tua. Paling tidak saat ini ada beberapa pertempuran yang kami hold. Biarkan saja dulu. Ini beberapa diantaranya yang tidak terlalu kontroversial 😆:  

1. Segala Urusan Perbajuan
Mau pakai kostum polisi ke kawinan. Boleh. Mau pakai baju belel yang itu-itu saja setiap hari. Monggo. Mau pakai baju pesta buat tidur. Nggak ada yang melarang. Bebas. Intinya sak karepmu, yang penting pakai baju.

Si Ragil paling anti diatur-atur soal baju. Kemana-mana maunya pakai baju kucing es krim warna hijau neon dan celana kuning gonjreng. Agak salah kaprah tapi ya sudahlah. Untung masih bocah. Kita terima saja. Haha.

2. Screen Time
Kami termasuk generous soal screen time. Anak-anak saya bisa nonton sehari 3 jam. Our standard is low. We are lenient towards gadget. Bagaimanapun kami sadar, gadget tak terelakkan di hidup mereka dan terkadang kami yang lebih perlu break time daripada anak-anak. 

Tapi screen time buat anak-anak kami bukan hak yang wajib diberikan setiap hari. Screen time adalah hadiah. Mereka harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu untuk mendapatkan poin "nonton". Kalau nggak mengerjakan ya tidak bisa nonton. 

Anak-anak sudah sangat paham mengenai hal ini jadi. Jadi seringnya tidak marah kalau poin nontonnya habis atau sampai seharian tidak boleh nonton. Namanya juga konsekuensi dari pilihan. 

Screen time bukan hak tapi hadiah
Harga nonton di rumah. Agak kontroversial but it works. Seringnya anak-anak malah nggak nonton seharian, karena mereka menolak belajar, tidur siang, dan beres-beres. Benar-benar anti sama tiga kegiatan itu. Entah kenapa. Cuma mereka nggak protes juga nggak boleh nonton. To be fair saja. Kan memang nggak dapat poinnya.

Kadang-kadang kami yang lebih perlu screen time. Seperti saat nunggu dokter atau nunggu-nunggu yang lain. Jadi saat-saat seperti ini gadget to the rescue. Daripada menimbulkan kehebohan di tempat umum yang bukan tempat untuk anak-anak lari-lari, mending mereka anteng. Mungkin sampai anak-anaknya bisa pada baca ya.

3. Membaca Buku
Saya punya koleksi buku cerita anak yang cukup banyak di rumah. Tapi entah orang tuanya yang kurang rajin atau anak-anaknya yang kurang minat, mereka tidak begitu tertarik pada cerita dalam buku-buku tersebut. 

Anak-anak malah lebih hobi diceritai dongeng secara lisan sebelum tidur. Dongengnya apa saja yang saya ingat. Kadang potongan cerita dari buku-buku yang pernah saya baca, atau kisah nyata tentang masa kecil saya dan ayahnya, tak jarang juga cerita ngarang-ngarang saja. 

Seringkali ceritanya nggak nyambung atau ngelantur karena yang cerita ngantuk. Apapun itu ternyata anak-anak cukup ingat cerita-cerita yang saya dan suami sampaikan. Jadi sudahlah kita relakan usaha literasi semenjak dini. Kita coba lagi nanti.

Hal Lain yang Saya Kompromikan

Cuma saya yang kompromi, karena suami saya yang super logis, tidak bisa mengerti perasaan ini. Haha.

1. Perasaan Fear of Missing Out. Kadang saya terlalu berambisi ingin anak-anak punya pengalaman sekaya mungkin. Belajar sebanyak-banyaknya. Takut mereka ketinggalan dari anak lainnya atau tidak mendapatkan manfaat dari kegiatannya. Padahal yah, buat anak semua hal juga baru. Bahkan untuk pengalaman yang diulang-ulang pasti tetap ada hal yang mereka pelajari. Repetition justru jadi kunci.

2. Ambisi Punya Anak yang Lebih dari Anak Lainnya. Seberapapun inginnya saya punya anak jenius yang bisa dibanggakan, statistik mengatakan 98% kemungkinan anak-anak saya punya kapasitas otak yang sama dengan sebagian besar anak lainnya.  Kemungkinan besar mereka akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Tidak lebih dan tidak kurang. Jadi tidak usah banding-bandingkan kemampuan mereka dengan anak lain. Lebih banyak mudharatnya. Hanya bikin capek hati saja. 

Penutup

Sekian tulisan saya tentang parenting yang dibuat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni. Setornya 5 menit sebelum deadline.Super sekali ya. 





Read more ...

ARMY Level Kadet Ngomongin BTS

Semua akan 'ARMY' pada Waktunya

Saya penggemar konten hiburan Korea dari tahun 2010an. Tapi lebih ke variety show dan drama. Itu juga sempat vakum beberapa lama setelah lahir anak pertama. Karena repot kalau mau nonton. Cari bajakan kan tidak praktis. Sampai akhirnya aplikasi streaming berbayar mulai menjamur. Baru saya mulai mengikuti drama dan variety lagi.

Untuk KPop sendiri saya sebetulnya tidak begitu mengikuti, karena memang tidak begitu hobi mendengarkan lagu. Paling tau satu dua grup dan satu dua lagu. Tidak pernah ngefans artis tertentu.

Sampai akhir tahun 2020 saya baru tahu tentang BTS. Awalnya hanya karena sering dengar lagu - lagunya, yang merajai tangga lagu dunia. Setelahnya mulai lihat - lihat kontennya di Youtube. Hingga sekarang juga gabung di Weverse walaupun hanya jadi silent reader dan intip - intip social medianya.

BTS terdiri atas: Kim Nam Joon (RM), Min Yoon Gi (Suga), Kim Taehyung (V), Park Ji Min (Jimin), Jeon Jung Kook (Jungkook), Jung Ho Seok (J-Hope), dan Kim Seok Jin (Jin)

Suatu hari, saya cukup terkejut mendapati salah seorang teman saya jadi penggemar septet supergrup ini. Pasalnya dia cukup selektif soal hiburan, dan dari dulu tidak nampak berminat pada kultur pop Korea. Tapi lalu dia bilang suka BTS. Sampai mengutip kata - kata : "Semua akan Army pada Waktunya".

Memang fenomenal BTS ini. Penggemarinya mencakup berbagai kelompok demografi, sosial, dan geografi. Sudah seperti pelajaran sosiologi saja.Sebagai orang yang suka menganalisis berbagai hal, saya penasaran kenapa BTS ini bisa populer sekali, melebihi grup KPop atau bahkan grup musik manapun yang ada sekarang ini. 

Kalau tentang bakat dan kerja keras tak usahlah dibahas lagi. Buat saya orang yang bisa menyanyi sambil menari ala aerobik selama 5 menit penuh dengan merdu tanpa ngos ngosan pastilah sangat berbakat dan pasti sudah berlatih sangat keras. Semua grup KPop begitu. Baik yang populer maupun tidak.

Saya juga curiga ini bukan tentang keberuntungan semata. Walaupun berada di waktu dan tempat yang tepat juga pasti ada pengaruhnya. Jadi apa dong yang membuat mereka berbeda? Hingga ibu - ibu juga suka. Termasuk saya sendiri mak - mak berbuntut 2. Padahal saya juga cuma tau segelintir lagunya, dan sama sekali buta tentang karir mereka sebelum 2020. Tapi saya yakin sudah bisa mengaku sebagai ARMY walaupun cuma level kadet belaka.

Jelas saya tidak melakukan riset ilmiah seperti para penulis artikel Harvard Business Review. Pun tidak melakukan observasi mendalam seperti penulis di majalah populer. Saya menuliskan hal - hal dibawah berdasarkan pengamatan pribadi saja. Pendapat setelah memperhatikan potongan video, interaksi di Social Media dan berbagai artikel. Tentang kenapa kesuksesan BTS bisa begitu mendunia.

1. Independent Artist dengan Kemampuan dan Insting Bermusik diatas Rata - Rata.

Hampir semua anggota grup KPop papan atas punya kemampuan yang mumpuni. Terutama dalam hal performance. Tapi harus diakui tidak semuanya punya kemampuan dan kreativitas bermusik yang tinggi atau kebebasan untuk berkreasi. Sebagian hanya menampilkan apa yang sudah dikonsep dan didesain oleh orang lain. Entah sukarela atau terpaksa.

BTS disebut memiliki musikalitas dan artisty diatas rata - rata grup KPop lainnya. Mereka juga dibebaskan untuk berpartisipasi aktif di setiap karya yang dihasilkan. Entah melalui musik, lirik, adlib, koreografi, atau malah hal - hal lain di belakang layar. Makanya setiap lagu BTS pasti punya cerita, pesan, atau latar belakang personal. Karena lagu mereka memang media untuk menyampaikan hal tersebut. Mungkin bisa dibilang mereka adalah pendongeng yang bernada. Jadi temanya tidak melulu soal cinta-cintaan. Bisa macam-macam. 

Salah satu lagu klasik paling populer dari BTS adalah Spring Day. Lagu ini adalah salah satu contoh bahwa lagu-lagu BTS personal bagi para anggotanya. Kisah yang disampaikan dalam lagu ini dilatarbelakangi peristiwa tenggelamnya kapal ferry Sewol. Lebih dari 300 penumpang yang kebanyakan adalah siswa SMA meninggal dalam tragedi ini. Buruknya penanganan bencana membuat peristiwa ini menjadi salah satu skandal politik terbesar di Korea Selatan pada tahun 2014. 

Dengan talenta diatas rata - rata, kebebasan yang dimiliki, insting musik yang tajam, dan cerita personal, tak heran karya mereka jadi terasa genuine dan istimewa. Merekapun terlihat sangat menikmati saat tampil. Pesan dalam lagu juga tidak berhenti sampai di lagu saja. Seringkali jadi suatu tema untuk konten lainnya. 

Makanya waktu mereka mengeluarkan Dynamite, Butter, dan Permission to Dance, saya agak mengerutkan kening, karena ketiga lagu tersebut, walaupun mengantarkan mereka ke puncak kesuksesan, tapi tidak seperti lagu mereka yang biasa. Ketiga lagu tersebut hanya soal performance saja. Soalnya tidak ada pesannya 🙈

Perkiraan saya tidak salah ternyata, Kim Nam Joon (RM) leader BTS juga menyebutkan hal yang sama saat FESTA 2022.  Dia tidak tahu lagi arah tujuan grupnya saat mereka perform Butter dan Permission to Dance. 

2. Back to Basic. Creating the new definition of coolness.

Harus diakui, BTS baru mencapai puncak global stardom setelah berhasil mendobrak pasar Amerika di sekitar tahun 2018/2019. Walaupun sebelumnya mereka sudah sangat fenomenal, terutama di Asia. Tapi setelah berhasil menarik perhatian publik Amerika, baru semua bola mata memandang mereka. Bahkan dari tempat - tempat yang tak terbayangkan sebelumnya.

Sebelum BTS, sebetulnya sudah ada banyak grup KPop lain yang mencoba menembus pasar Amerika. Ada yang cukup sukses, tapi belum ada yang sesukses boyband pertama Big Hit Entertainment ini. Menurut saya pribadi hal ini dikarenakan grup lainnya agak salah kaprah atau salah membaca selera musik publik Amerika. Kebanyakan mengikuti apa yang mereka pikir dianggap keren dan laku di sana. Hip hop, electronic music, lagu berlirik seksi, dan genre "ajep - ajep" lainnya yang saya tak tahu namanya.

Ditengah gempuran musik yang mulai terasa stagnan mengikuti trend yang makin membosankan, BTS menggebrak dengan musik yang berbeda. "Boy With Luv" diluncurkan berkolaborasi dengan penyanyi Halsey. Dengan lagu itu BTS mencoba memainkan strategi lain untuk menembus pasar mainstream Amerika. Daripada terus berusaha menemukan formula baru untuk memikat penggemar di negara adidaya itu, mereka memilih kembali ke formula dasar. Boy with Luv ticks every checklist to become a popular pop song. Iramanya fun, catchy, dan memorable. Liriknya boyish dan flirty. Dengan vocal yang powerful, visual yang stunning, dan koreografi yang slick. Tak masalah dianggap tidak sebaik lagu mereka yang lain, asal bisa membuat bola mata pendengar mainstream Amerika mengarah ke mereka.

BTS saat promosi lagu Boy With Luv

Jika "Boy With Luv" berhasil membuat Amerika menoleh, single selanjutnya "Dynamite", berhasil membuat Amerika akhirnya membuka lebar tangan untuk menyambut megastar yang debut tahun 2013 ini. Lagu ini konon dibuat berdasarkan riset tentang selera musik orang Amerika. Dengan rendah hati BTS melonggarkan standar mereka, mengikuti keinginan masyarakat disana. Walaupun bakat tentu tak akan pernah bisa ditutupi. Dynamite adalah lagu yang stand out. Sangat menyenangkan untuk didengar.

Lagu ini keluar di waktu yang tepat. Saat dunia melambat dan dilanda kebosanan. Semesta mendukung. "Dynamite" berhasil menjadi salah satu megahit sepanjang masa. Mengejawantahkan keberhasilan BTS menguasai panggung dunia. Setelahnya bergulirlah bola ketenaran tersebut. Kian hari kian besar dan semakin bersinar. Hingga akhirnya BTS menjadi icon global yang keberadaannya sangat diperhitungkan. 

Kepopuleran BTS sudah mencapai status sebagai icon global. Perwakilan anak muda, perwakilan masyarakat asia, perwakilan orang keren, perwakilan hal yang ngetrend.
 Joe Biden saja merasa harus mengundang BTS untuk bicara mewakili masyarakat Asia.

 
United Nations juga merasa BTS adalah orang yang tepat untuk bicara mewakili anak muda. 

Boyband Korea pertama yang manggung di panggung utama Grammy Awards

3. Personil dengan persona unik dan beragam. 

Semua orang pasti punya preferensi mengenai sosok idola. Ada yang suka wajah rupawan, otak yang cerdas, karakter yang unik, atau kemampuan yang memukau. Ketujuh personil BTS punya sifat, kepribadian, dan gaya yang berbeda satu sama lainnya. Mereka bahkan mengakui bahwa jika tidak disatukan dalam BTS mungkin mereka tidak akan pernah mau saling terlibat. Saya rasa keberagaman ini yang membuat BTS bisa punya fans dari berbagai kalangan. Karena ada berbagai macam karakter yang bisa dipilih untuk disukai atau dirasa relatable mewakili diri sendiri.

Bicara soal preferensi karakter, saya pribadi merasa paling relate dengan Jin yang easy going. Mungkin karena MBTI kami sama. Tapi kadang ingin juga jadi seperti RM. Composed, witty, dan smart atau Suga yang cuek dan tahu maunya apa. Teman saya paling suka J-Hope sang peace keeper. Fans lain mungkin terinspirasi kerja keras Jimin, terpesona bakat Jungkook, atau terhibur kerandoman V. Pokoknya there's always a BTS member you can relate to.

Magnet dengan kutub yang berbeda, akan saling tarik menarik dan sulit dipisahkan. Begitu juga BTS dengan berbagai karakter membernya. Perbedaan itu ternyata malah menjadi kekuatan yang membuat mereka jadi tim yang solid dengan kerjasama mengagumkan. 

MBTI  anggota BTS. MBTI adalah test kepribadian yang sedang populer. Disinyalir tidak akurat tapi cukup menyenangkan  untuk dilakukan. Kalau MBTI-nya sama dengan idola bisa merasa akrab kan. Haha. 

Saat berkumpul, ketujuh anggotanya terlihat genuinely akrab. Saling melengkapi, menghargai, menyukai, dan peduli. Chemistry yang kuat ini membuat interaksi antar mereka effortlesly menyenangkan untuk dilihat oleh orang lain.

Banyak yang bilang member BTS tidak berubah. Sebelum terkenal dan sekarang setelah jadi megastar. Despite being one of the biggest boyband on the planet ever, mereka seperti kompak bersikap tak peduli dengan ketenaran dan kejayaan yang menyertai. Tetap baik hati, sopan, ramah, tidak sombong, dan nampak bersyukur. Sikap ini yang sepertinya membuat khalayak luas terpikat. Bahkan bagi para penggemar, BTS terasa seperti kawan lama yang tetap akrab walau saat ini sudah jadi populer.

4. Agency yang lebih mirip perusahaan start up IT dan content creator

Kesuksesan BTS tentu tak lepas dari kiprah agensinya, HYBE ENTERTAINMENT (dulu Big Hit Entertainment). Walaupun konon agensi ini tidak begitu disukai oleh para penggemar BTS karena dianggap sangat kapitalis. Sebetulnya wajar, karena yang mereka kerjakan bukan amal. Melainkan bisnis penjualan 'produk'. BTS adalah sebuah produk. Sebuah brand. Dengan valuasi tinggi.

Hybe entertainment berbeda dengan agensi lainnya dari sisi inovasi dan pemanfaatan IT serta media social. Mereka sepertinya sudah sadar lebih dulu bahwa untuk memasarkan BTS, tidak bisa hanya melalui media klasik seperti televisi dan panggung off air. Ibarat kolam, sudah terlalu banyak pemancing disana. Harus mau buat kolam sendiri untuk memancing dengan lebih leluasa.

Prinsip marketing yang dipakai HYBE agaknya mengambil inspirasi dari orang yang naksir seseorang karena lihat orang itu terus. Mereka tau BTS sangat menjual, tapi orang harus bisa lihat dulu baru tertarik dan kemudian jadi penggemar. Maka dari itu BTS punya banyak sekali konten diluar musik. Mereka punya variety show sendiri, social media yang terorganisir (social media pribadinya juga tidak dibuka bebas), termasuk kanal Youtube yang kebanyakan berisi video behind the scene, serta berbagai proyek kolaborasi dengan content creator lain. Disodori terus menerus pasti akan ada yang tertarik. Berapa banyak orang jadi fans BTS karena tak sengaja menemukan konten mereka di Youtube atau hastag di Twitter? Pasti banyak sekali. Dari satu konten ke konten lain. Hingga jadi fans karena menemukan betapa berbakat dan charming anak - anak muda ini.

Tapi paling menonjol dari HYBE adalah kemampuan mereka untuk menciptakan trend baru dan mengelola marketing dengan sangat rapi. Tak ada satupun pergerakan BTS yang tidak dikalkulasi dengan baik. Semua terorganisir, terencana, dan tentunya menghasilkan keuntungan yang besar. Tak heran BTS bisa menjadi salah satu penyumbang ekonomi Korea Selatan yang diperhitungkan.

Salah satu inovasi HYBE paling brilliant menurut saya adalah aplikasi Weverse. Ide dasarnya sendiri sebetulnya mencomot dari fan cafe yang populer di negeri gingseng. Inti proses bisnisnya adalah memusatkan kegiatan fans di satu tempat. Corong pengumuman, media komunikasi dan interaksi dengan artis, pengelolaan keanggotaan fans club, streaming media/content, majalah, pembelian tiket (online), hingga pemesanan merchandise.

Chatting dengan penggemar di Weverse menjadi salah satu cara komunkasi yang efektif. Walaupun yang bisa chatting aktif biasanya yang bisa bahasa Korea saja ya. Penggemar lain mah cuma kirim love you love you doang biasanya. 

Aplikasi ini langsung menjadi hit karena memang sangat memudahkan. Baik untuk artis di bawah naungan HYBE sendiri atau artis lain yang "menyewa tempat" di Weverse. Tak perlu set up berbagai kanal informasi. Semua sudah ada di Weverse.

Hubungan HYBE dengan artisnya, terutama BTS, juga terlihat tidak sama seperti agency lainnya. Disaat banyak agensi dikecam karena terlalu mengatur dan mengeksploitasi artis dibawah naungannya, HYBE bersikap seperti partner. Mereka membebaskan artisnya beride dan berkreasi, lalu mengolah dan membuka jalan ide tersebut menjadi produk yang bisa dipasarkan. Simbiosis Mutualisme.

5. Menciptakan Komunitas

Satu hal lagi yang menurut saya sangat berkontribusi pada kepopuleran BTS adalah hubungan mereka dengan para penggemarnya, yang disebut ARMY. Setelah saya perhatikan, hubungannya agak unik daripada artis dan penggemar lain. The group treats their fans as best friends. Mereka membangun fanbase dengan prinsip komunitas. Menyatu karena kesamaan pesan dan tujuan.

Komunikasi jadi kata kuncinya. Yes I know penggemar kalau sudah jatuh cinta mah semua kata idolanya diiyain saja. Tapi ARMY nampaknya punya hubungan yang lebih sehat, sejalan, dan terpadu dengan idolanya. Terorganisir seperti Army sungguhan. 

Mungkin yang toxic juga ada ya. Secara statistik harusnya ada. Tapi saya jarang mendengar kasusnya.

Hubungan yang sehat hanya dimungkinkan jika artis tersebut bersikap "jujur" pada penggemarnya dan meng-encourage mereka untuk bersikap "baik". BTS selalu memastikan komunikasi mereka dengan ARMY terjaga. Rajin menyapa, rajin memberi kabar, terbuka soal perasaan dan pikiran mereka, meminta pendapat, dan selalu memastikan ARMY disebut dalam berbagai kesempatan, baik saat sedih maupun senang. 

Paling outstanding menurut saya adalah BTS selalu memastikan penggemar mereka adalah yang pertama mendapatkan kabar mengenai hal apapun secara langsung. 
BTS hampir selalu mengadakan sesi VLive, baik individu atau kelompok, saat momen-momen tertentu. Sepertinya melaksanakan sesi VLive menjadi salah satu tugas mereka. Tapi nampaknya mereka sangat menyukainya. Jadi ya win win lah ya. 

Instead of press conference yang lebih kaku, BTS hampir selalu mengadakan sesi live broadcast via aplikasi VLive segera setelah momen atau pencapaian tertentu. Seperti mengeluarkan lagu baru, mendapatkan penghargaan besar seperti American Music Awards, atau tampil di Grammy. 

Jadi jauh sebelum para reporter bisa menggali apa yang terjadi dan melaporkannya dengan interpretasi mereka, ARMY, terutama yang bisa bahasa Korea, sudah tahu duluan. Hal ini tentu saja cukup efektif dalam menghalau rumor-rumor tak berdasar dan membuat penggemar merasa sangat istimewa.

Kan pasti sangat senang dong jadi orang pertama yang dikabari mengenai apapun oleh orang yang sangat digemari.    

Mengakuisisi aplikasi VLive menurut saya juga salah satu bentuk kejeniusan HYBE Corporation. Aplikasi ini sangat efektif dari sisi engagement dan efisien dari sisi cost. Walaupun tentu saja risikonya juga besar ya membiarkan artis berkomunikasi sendiri dengan penggemar. Haha. Makanya saya yakin semua humas perusahaan hiburan pasti tegang kalau artisnya sedang pakai VLive. 

Kesimpulan

Demikian paparan saya (((paparan))) atas alasan kenapa BTS bisa sangat terkenal. Kesimpulannya kombinasi dari pondasi yang rapi dan kuat, pemasaran yang ciamik, serta timing yang tepat membuat mereka berada di posisi saat ini. Sekarang saat BTS menyatakan diri hiatus dari aktivitas grup untuk fokus pada aktivitas pribadi anggotanya, saya yakin mereka akan tetap berjaya. 

Di hari jadi mereka yang ke-9, BTS menyatakan akan hiatus dari aktivitas grup untuk fokus ke aktivitas personal anggotanya sampai waktu yang belum ditentukan. Pernyataan ini sempat membuat kehebohan, karena hiatus biasanya identik dengan bubar. Tapi saya rasa sih di rate ini BTS belum akan bubar. Karena seperti sudah saya bilang pondasi mereka cukup kuat. They love each other tapi lelah saja nampaknya bareng-bareng terus. Ya sudah biarin sajalah, sudah besar sudah tau maunya apa. Kita penggemar mah kebagian nunggu saja. Nunggu lagu-lagu baru yang menarik atu mungkin juga drama dan reality show. Nggak ada ruginya sama sekali. 

Read more ...