Monday, November 20, 2023

Ngukur Jalan

Semuanya dimulai di awal pandemi. Situasi baru yang cukup memusingkan, membuat satu rumah kelelahan sepanjang hari. Anak-anak rungsing, orang tua pusing. Kondisi semakin memburuk kala matahari sudah tenggelam. Emosi sudah di ubun-ubun. Badan sudah remuk redam. Otak sudah tak bisa berpikir.

Ingin hati menggeletak di atas kasur, tapi mata makhluk-makhluk kecil itu malah semakin terang. Sekuat tenaga menolak untuk tidur. Padahal badan dan otaknya sepertinya sudah minta diistirahatkan. Alhasil pecah perang setiap malam. Tentu diwarnai tangisan dan teriakan. Tak jarang sampai jauh hingga pekatnya malam. Sungguh menguji kesabaran.

Suatu malam, si Ragil, yang kala itu usianya masih sekitar 7 bulan, menangis tak henti-henti. Dari Magrib sampai lewat jam 1 malam. Segala usaha sudah dilakukan. Mulai dari yang duniawi seperti eyong-eyong hingga yang spiritual seperti baca quran. Tidak ada yang bisa membuatnya berhenti menjerit. Ingin hati lari ke UGD. Mana tau dia kesakitan dan dokter disana bisa memberikan jawaban. Tapi kondisi tidak memungkinkan. UGD kala itu tak ubahnya medan perang. Lagian kalau masih bisa jerit sampai lampu gantung bergoyang sih kayaknya sehat-sehat saja badannya.

Mbarep, yang cuma bisa tidur di kelek emaknya, tentu saja tidak berkenan mengalah untuk tidur dengan bapaknya. Apalagi semua perhatian tercurah ke adeknya, tentu saja tak afdol kalau tak ikut berulah. Merengek-rengeklah dia. Andaikan itu musik mungkin kombinasinya bisa jadi backsound film thriller. Tapi berhubung ini rengekan, tangisan, dan jeritan secara live, jadinya seperti konser Queen dengan nada klimaks yang sumbang. Sungguh bikin puyeng. Saya sampai dengan serius mempertimbangkan untuk memanggil ustad karena takut Ragil kesurupan. 

Di suatu titik, karena merasa sangat kepanasan dan sumpek, saya bilang ke suami supaya kami pergi saja naik mobil. Paling tidak di mobil ada AC-nya jadi saya bisa sedikit ngadem. Akhirnya kami gotong dua bocah itu ke mobil, kami kunci di carseat. Lalu kami berkendara keliling-keliling Bandung. Sambil jalan, kami berdua diam, memandang kelebat lampu kota di tengah pekat malam. Tanpa sadar, lama kelamaan suara jeritan berubah jadi tangisan, lalu isakan, dan terakhir hanya sesenggukan. Dua jam di dalam mobil. Putar-putar tanpa tujuan, akhirnya kedua bocah lucu itupun tertidur. Setelahnya saya dan suami sibuk toyor-toyoran, kenapa nggak dari tadi saja jalan-jalan. 

***


Semenjak itu, jalan-jalan malam menjadi ritual kami. Apalagi setelah melalui hari yang terlalu melelahkan. Supaya anak-anak cepat tidur dan Emak Bapak bisa me time dengan tenang. Alias melakukan kegiatan favorit keluarga yang sebenarnya: Bapak dengerin podcast/nonton film, Emak nonton Drama Korea. Atau youtube short kalau lagi nggak mau mikir. Walaupun nonton tetap mikir sih ya.

Saking seringnya dilakukan, jalan-jalan malam akhirnya jadi ajang saya dan suami ngobrolin berbagai hal. Terutama hal-hal yang serius atau ribet. Karena kalau di rumah terlalu riweuh dengan bocah-bocah yang berlompatan kesana kemari dengan teriakan “Ibu Ibu Ibu Ibu” setiap 10 detik. Boro-boro mau serius, baru mau sampai salam pembuka saja, pasti sudah diinterupsi bocah 30 kali. Kalau di mobil entah kenapa ini bocah-bocah bisa anteng. Kadang disogok tontonan/game sih, tapi tak jarang mereka berdiam dengan sendirinya. Melihat-lihat dengan asyik ke kanan dan kiri. Tapi tidak naik becak dan tidak sambil tumpang kaki.  

Waktu pandemi, jalan-jalan malam juga menjadi sedikit hiburan melepas kepenatan setelah terkurung terus di dalam rumah. Walaupun sering sedih juga melihat daerah-daerah yang sepi seperti kota mati. Kala itu, kalau jalan-jalan malam seringnya saya cuma pakai daster yang ditutup kaos lengan panjang plus bergo. Kadang-kadang kalau apes, Mbarep kebelet pipis dan terpaksa mampir buat ke toilet di SPBU. Anggap saja fashion statement malam-malam. Perpaduan daster kembang-kembang dan kaos garis-garis atau polkadot. Tergantung dari sudut pandang mana dilihatnya. Bisa merusak mata. Bisa juga menyegarkan mata. Sayang karena tidak boleh ada kerumunan, tidak jadi viral seperti Citayam.

Setelah keadaan kembali normal, jalan-jalan malam sering diselingi dengan kegiatan lain seperti beli keperluan mendadak ke minimarket, ambil uang di ATM drive thru, beli es krim juga via drive thru atau iseng saja cari lokasi suatu tempat yang ingin didatangi. Biasanya restoran. Sengaja pergi ke seberang kota supaya waktunya cukup untuk anak-anak tidur. Karena ini adalah esensi dari jalan-jalan malam. Bikin anak-anak terlelap. Tentu saja, karena tak jarang mampir-mampir, sekarang saya sudah tak pakai daster lagi. Rada niat sedikitlah. Walaupun tak sampai pakai gincu.

Kadang kalau sedang tidak mampir-mampir dan sedang malas ngobrol, kami menghabiskan waktu dengan mendengarkan podcast favorit suami atau lagu-lagu random di situs musik. Tapi kadang juga hanya diam saja, menikmati suasana hening. Karena keheningan itu langka di kota.

Satu hal yang mengusik hati dari kegiatan ini. Karena belum ada mobil yang ramah lingkungan (mobil listrik kalau di Indonesia jadi nggak ramah juga), plus kalaupun ada, kemungkinan besar belum akan sanggup belinya, sebetulnya jalan-jalan malam ini menambah emisi karbon tak perlu sih. Heuheu. Cuma gimana ya, demi kewarasan, maafkan aku bumi. Anggap saja investasi (loh salah tema tantangan nih). Siapa tau kalau sudah besar salah satu core memory anak-anak adalah jalan-jalan malam menyusuri gemerlap dan heningnya kota sambil mengobrol ngalor ngidul tentang segala hal. Siapa tau kelak, mereka juga akan mengajak keluarganya jalan-jalan keliling-keliling di saat malam. Di manapun takdir mereka nantinya. Mungkin pakai mobil terbang.  ***

Hampir tidak jadi menulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini. Tapi sayanglah ya tinggal 1 bulan lagi. Memenuhi janji kepada diri sendiri untuk tamat tantangan sampai akhir tahun ini.



Read more ...

Friday, October 20, 2023

Investasi Sesuai Indonesia Raya

Semua berawal saat sofa di rumah patah kakinya dan jebol dudukannya karena dijadikan trampolin oleh Mbarep. Pamannya yang prihatin melihat kondisi sofa tersebut, menyarankan Mbarep ikut parkour. Olahraga yang intinya adalah melompat dari satu titik ke titik lainnya. Setelah mencari-cari di sosial media, saya menemukan kalau di Bandung ternyata ada komunitas parkour. Beberapa anggotanya berminat melatih anak-anak. Sudah setahun ini Mbarep ikut parkour. Sampai sekarang masih happy ikut latihannya. Jadi atlit sih nggak akan kayaknya, tapi paling nggak sekarang lompatnya nggak di sofa yang itu-itu saja. Merambah ke sofa-sofa lain. Jadi mereka bisa berbagi penderitaan satu sama lainnya. 

Mbarep ikut parkour

***

Kegiatan fisik yang terarah untuk anak-anak memang jadi perhatian saya dan suami. Belajar dari pengalaman diri saya sendiri yang sekarang tidak menguasai olahraga apapun, saya ingin anak-anak saya punya dasar olahraga. Tidak perlu jago sampai jadi atlit, tapi supaya mereka punya suatu hal untuk ditekuni dalam waktu lama. Syukur-syukur sampai tua. 


Hal ini rupanya sejalan dengan arahan dari sekolah Mbarep (dan calon sekolah Ragil) yang amat sangat concern pada kesiapan fisik anak sebagai bekal untuk belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Fisik yang baik, terbukti mendukung daya tahan tubuh dan konsentrasi. Biar bisa duduk tenang dan fokus menghadapi majelis ilmu gaes. Jangan kayak Ibunya yang duduk diem 15 menit aja pegel-pegel. Terus jam 2 siang sudah nguap-nguap di kantor. Jompo sebelum waktunya. 

Ragil gymnastic di rumah

Karena pentingnya kegiatan fisik ini buat kami, semenjak awal tahun ini, kesibukan saya, suami, Ibu mertua, dan bibi yang mengasuh anak-anak, bertambah dengan antar jemput bocah les. Mbarep les parkour, renang, sementara Ragil les gymnastic dan "pramuka". 

Ragil ikut "pramuka"

Sebetulnya buat kami merupakan keputusan agak heroik mengikutsertakan anak-anak pada segala kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Sudahlah biayanya besar, waktu dan tenaga untuk antar jemputnya juga tidak sedikit. Tapi mari kita anggap saja ini investasi untuk bangsa dan negara, seperti diamanatkan dalam lagu Indonesia raya:

Bangunlah Jiwanya Bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Kalau lihat deretan kegiatan anak-anak can’t be helped merasa seperti Ibu-Ibu Korea di Crash Course Romance. Tapi tenang saja, saya nggak seambisius itu kok. Ada prinsip-prinsip yang saya dan suami pegang ketika memutuskan mengikutsertakan anak-anak di kegiatan ekstrakurikuler. Ini saya bagikan ya: 


  1. Jangan Memaksa

Kami dengan sadar menyadari, tidak ada hal baik yang akan dihasilkan dari pemaksaan. Seberbakat apapun anak di suatu kegiatan, kami tidak akan memaksakan dia mengikuti kegiatan tersebut, kalau dia tidak menikmatinya. 

  1. Jangan Hitung-Hitungan

Namanya anak-anak, apalagi balita, moodnya masih naik turun. Kalau sesekali Mbarep atau Ragil ngambek, nggak mau ikut latihan, saya dan suami tidak pernah membujuk dia mati-matian untuk tetap mengikuti kegiatan. Kalau mereka sedang tidak mau latihan, ya kami biarkan saja. Paling dibawa pulang kalau tidak kondusif dan mengganggu peserta lainnya. Tak usah hitung-hitung kerugian biaya les yang sudah dibayarkan. Hanya menambah kepusingan saja.

  1. Konsisten adalah yang Utama

Buat kami ikut ekstrakurikuler itu bukan buat jadi jagoan. Tapi cari kegiatan rutin yang bisa konsisten dilakukan. Sampai jauh ke masa mendatang. Konsisten datang. Konsisten ikut latihan. Seperti kata pepatah: alah bisa karena biasa. Alon-alon asal kelakon. Lama-lama juga bisa kok. Biar yang jadi jagoan, Sadam dan Sherina sajalah (kemudian nyanyi)

  1. Bukan untuk Saingan

Sejalan dengan prinsip nomor 3, ikut ekstrakurikuler juga bukan karena ingin mencari prestasi. Kalau ternyata berbakat dan bisa berprestasi ya syukur. Tapi kalau tidak, ya tidak ada masalah. Paling penting adalah bisa menikmati. Enjoy aja kalau kata iklan. Tantangan sesulit apapun asal senang dan tekun menjalaninya pasti akan bisa terlewati. Tidak perlu dibebani dengan harus jadi juara atau yang terhebat. Ingat kelinci saja kalah lomba lari dengan kura-kura. Walaupun dalam dongeng tentunya.


Ragil ikut gymnastic di gym

Penutup

Doa saya untuk anak-anak yang utama adalah mereka bisa tumbuh besar jadi orang yang tidak merepotkan. Tidak merepotkan diri sendiri, tidak merepotkan keluarganya sekarang dan nanti, juga tidak merepotkan umat agama dan masyarakat. Repotnya tidak sesederhana bikin riweuh orang disekitarnya ya. Kalau itu sih tergantung konteksnya. Kerepotan yang saya maksud adalah kerepotan yang merugikan. Melanggar dan menghalangi hak diri sendiri dan orang lain. Apalagi sambil mengambil yang bukan hak-nya. Kecanduan narkoba itu merepotkan diri sendiri, jadi koruptor itu merepotkan masyarakat, jadi orang tua/pasangan tidak bertanggung jawab itu merepotkan keluarga.


Tapi doa saja tentu tidak cukup, harus ada ikhtiar dari kami supaya anak-anak bisa tumbuh jadi orang yang tidak merepotkan. Memilih ekstrakurikuler yang sesuai adalah salah satu hal yang kami lakukan. Karena kami percaya, jika orang terbiasa memiliki fokus kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat, maka kedepan tidak akan mudah mengalihkan fokus tersebut pada hal-hal yang merugikan. Demi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. (Kejauhan ya? haha) Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober: Investasi yang Ingin atau Sudah Dilakukan.


Mbarep dan ragil hobinya manjat-manja tapi nggak/belum ada yang minat ikut panjat dinding




Read more ...

Wednesday, September 20, 2023

Ribet!

1996

Tepukan membahana mengiringi langkah gadis kecil itu. Dengan sumringah dia menerima piala pemenang lomba dari kepala sekolah. Sudah tak terhitung berapa kali namanya disebut di upacara bendera senin pagi. Karena hidupnya penuh prestasi. Tatapan kagum terlontar dari berbagai. Termasuk dariku yang memandanginya dari salah satu barisan. Oh sungguh ingin ku ada di tempatnya sekali saja. Sayangnya menjuarai lomba menghapal undang-undang dasar tahun 1945 tingkat RW, tak cukup membuat pihak sekolah memanggil namaku di Senin pagi. 


2003

Aku menutup muka dengan bantal untuk meredam tangisanku. Hari itu, aku seharusnya datang ke sebuah pesta ulang tahun ke 17. Acara paling hits saat itu. Lokasinya di sebuah hotel mewah di tengah kota. Pengisi acaranya artis dari ibu kota. Kebanyakan undangannya adalah anak paling populer di sekolah. Aku, yang sama sekali tak populer, diundang karena empunya pesta adalah adik kelasku di grup paduan suara dan anehnya kami cukup akrab. Sungguh kuingin hadir dan menjadi bagian dari dunia itu sekali saja. Sayangnya rumahku ada di pinggiran kota. Kala malam, untuk ke pusat kota harus melewati seruas jalan pantura penuh dengan bis antar kota dan truk-truk raksasa. Naik motor sendiri adalah sebuah keniscayaan. Bapak sedang dinas keluar kota. Beruntung teman sebangkuku dan pacarnya, yang adalah pasangan ultra populer, berjanji akan menjemputku. Tapi namanya janji anak SMA, sampai lewat waktu pesta dimulai mereka tak kunjung datang. Sampai tengah malam tak ada kabar berita. Malam itu aku tertidur dengan muka bengkak penuh air mata dan baju pesta yang terlupa untuk dilepaskan.


2005

Pita kecil disematkan di dada mereka. Tanda mahasiswa elite dengan indeks prestasi jauh diatas rata-rata. Pada masa itu punya IPK diatas 3.5 adalah pencapaian yang cukup luar biasa. Peraihnya diundang untuk menghadiri pertemuan awal semester dengan para dosen dan petinggi fakultas. Makan besar dengan masakan catering bukan warung pinggir jalan. Sementara aku dan para mahasiswa lainnya, dengan indeks prestasi rata-rata, jangan harap bisa ikut-ikutan. Mahasiswa seperti kami, jatahnya hanya makan mie bakso di himpunan sambil main kartu remi. Itu juga harus bayar sendiri.  

 

2010

Aku memandang wajah-wajah di sekelilingku. Masih familiar seperti dua tahun sebelumnya. Saat kami diarak keliling kampus setelah diwisuda di Sabuga. Hanya saja kali ini aku tidak tau harus ikut bicara apa. Mereka semua bicara tentang hal yang sama sekali tak kuketahui. Orang-orang yang tak kukenal. Dunia korporasi yang asing dan tak pernah berani aku masuki. Utamanya karena aku tak percaya diri. Terdikte oleh indeks di transkrip nilai yang tak mumpuni. Membuatku malu mengakui diri sebagai lulusan dari Institut terbaik di negeri ini.


2012

"Manten wedhok kok sterek nemen", perias pengantin itu bergumam sambil mendadani aku di jam 4 pagi. Gerakannya dramatis saat melilitkan jarik ke sekeliling tubuhku. "Kudu disambung iki, orak muat. Sampeyan abote piro sih Mbak, gedi nemen", katanya lagi dengan serius. Aku hanya diam tidak membalas. Karena yang dikatakan juru rias itu benar. Ketika menikah, aku sudah ada di posisi overweight. Berat badanku naik drastis 4 tahun setelah lulus kuliah. Mungkin terlalu banyak makan yang enak-enak. Satu hal yang aku sesali, adalah aku tidak tahu cara merawat badan. Badanku memang cenderung bongsor, hubunganku dengan makanan kurang baik, sementara aku tidak tidak berminat olahraga. Body image adalah momok terbesarku hingga kini.


2014

"Eh mbak, mau kerja?", sapa seorang kenalan saat bertemu di S-Bahn. Aku mengangguk. "Kuliah?", aku balik bertanya. Giliran dia yang mengangguk. Kami berpisah saat dia turun di stasiun Universit├Ąt sementara aku melanjutkan perjalanan ke Flughafen (bandara). Tempat aku bekerja sebagai tukang cuci piring. Kadang aku membayangkan, bagaimana rasanya kuliah di luar negeri. Masalahnya setelah dua gelar strata yang berturut-turut kudapat dengan susah payah di negeri sendiri, rasanya malas untuk mencoba lagi. Padahal waktuku masih sangat longgar karena belum punya anak. Suatu keputusan yang kadang sedikit aku sesali. Membuang kesempatan mencicipi pendidikan luar negeri.

2018

"Gue lagi pusing mau pilih US atau UK. Data analytic kayaknya lebih bagus di US, tapi gw lebih nyaman di UK…"

Udara membawa sekelumit kegalauan tersebut ke balik konter Tata Usaha tempatku bekerja. Aku melirik ke arah sumber suara. Tiga orang mahasiswa tingkat 3 terlihat sedang duduk sambil mengobrol dengan semangat. Aku kembali menghadap pekerjaanku. Deretan draft surat yang kini terasa remeh dan membosankan. Otakku teralih tak bisa berkonsentrasi. Mendengar percakapan penuh mimpi, kantor yang luas ini terasa sumpek sekali.

2022
"Apakah saudara bersedia ditempatkan di unit kerja manapun?". Pewawancara tersebut melontarkan pertanyaan terakhirnya. Aku menjawab mantap, "Bersedia, tapi hanya jika unit tersebut berada di Bandung". "Kenapa?". "Karena saya masih harus antar jemput anak sekolah". Pewawancara itu nyengir. Saya juga nyengir. Kami berdua tau, jawaban saya tadi telah menutup peluang saya menjadi pegawai tetap di tempat saya bekerja 5 tahun ini. Institusi yang sama yang telah meluluskan saya dua kali. Dua bulan berikutnya saya kena PHK. Di PHK almamater sendiri. Sudah mirip judul clickbait. Sepertinya di institusi ini, selain jadi dosen, lulusan sendiri tak ada gunanya, sebaik apapun kinerjanya, jika masih harus antar jemput anak setiap hari.

Juni 2023

Aku menyebutnya keluhan musiman. Keluhan yang muncul saat sedang terjebak dengan pekerjaan yang monoton dan menyita waktu. Sampai sering aku bertanya-tanya kenapa ada orang yang mau membayarku cukup besar untuk mengerjakan hal yang mungkin bisa dikerjakan orang lain dengan harga separuhnya. Terdengar sombong tapi kenyataannya ada pertanyaan yang selalu menghantui: apakah yang kukerjakan cukup berarti? Apakah aku gaji buta?


September 2023

Jumbotron dihadapanku menampilkan foto dua orang perempuan yang diundang sebagai pembicara di acara kampus hari itu. Pose mereka di foto tersebut terlihat sangat profesional. Tangan bersidekap di depan tulang rusuk. Senyum simpul dengan mata tajam ke arah kamera. Wajar saja, karena mereka telah mencapai posisi puncak di tempat kerja masing-masing. Sesungguhnya aku ingin mencoba, sekali saja berada di posisi mereka. Tapi tentu saja itu hanya impian semu, karena ku tau perlu waktu belasan taun buat mereka mendaki posisi itu. Sementara aku menghabiskan belasan tahun yang sama untuk melakukan hal-hal kurang berguna. Scrolling marketplace dan menonton Youtube Shorts salah satunya.


Kesimpulan

Mendaftar permasalahan hidup saya diatas membuat saya berkesimpulan, tantangan terbesar dalam hidup saya adalah diri saya sendiri, yang sering overthinking, tidak percaya diri dan kontradiktif. Memilih untuk sebisa mungkin menghindari risiko untuk mempertahankan status quo. Padahal mudah bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja, tapi tak mau berusaha lebih dari seharusnya. Tak bersedia menunjukkan diri, karena takut penilaian orang lain. Sementara di satu sisi masih perlu pengakuan.


Intinya sih Ribet!



Dua jam lagi deadline tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September ini. Seperti biasa aku  merutuki diri karena hobi menunda-nunda.Tapi sampai bulan kesembilan tetap tak kapok juga.



Read more ...

Sunday, August 20, 2023

Cita-Cita Mencapai Cita-Cita

Keinginan yang Berubah

Waktu kecil, saya punya tiga keinginan besar. Pertama masuk ITB. Kedua tinggal di luar negeri. Ketiga traveling. Masa remaja saya penuh usaha untuk mewujudkan mimpi yang pertama. Menjadi mahasiswa di Kampus Gajah paling ternama di Indonesia. Alhamdulillah kesampaian. 

Usia 20-an saya habiskan untuk menjalani impian kedua dan ketiga. Menjelajah pelosok negeri hingga khatam 32 provinsi (dulu baru ada 34 Provinsi), lalu tinggal di negara asing, dan mengunjungi berbagai tempat di benua nun jauh disana.

Masuk usia 30-an saya bingung kalau ditanya impian saya apa. Soalnya yang selalu dipanjatkan dalam doa, alhamdulillah sudah tercapai semua. Haha. 

Yah sebetulnya keinginan sih ada banyak. Namanya juga manusia. Buktinya wishlist di marketplace selalu penuh. Berharap punya rezeki untuk bisa terkabul beli setiap tanggal kembar. Supaya hemat ongkir.

Hanya saja keinginan buat dapat lippen dengan diskon 75% kok rasanya terlalu cetek untuk dituliskan. Apalagi untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog. Mana saya sudah 2 bulan nggak masuk 5 besar *Lha

Akhirnya saya teringat, sesungguhnya saya punya keinginan (bukan impian) yang sudah lama saya punya:
“Menemukan passion atau minat saya yang sesungguhnya untuk bisa mewujudkan cita-cita saya" 

Panjang ya. Sudah kayak pernyataan misi sekolah. 

Minat bukan Bakat

Dulu zaman masih baca majalah Bobo, saya selalu terkagum-kagum pada kisah tentang anak-anak berprestasi atau bertalenta. Paling teringat adalah cerita tentang anak yang memenangkan lomba gambar yang diadakan oleh suatu maskapai penerbangan, lalu gambarnya dicetak di badan pesawat.  Konon menurut para ahli, setiap manusia pasti punya bakat utama. Hal yang bisa dilakukan lebih baik daripada rata-rata orang-orang lain. Sayangnya hanya sedikit sekali yang beruntung bisa menemukan bakat utamanya. Dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang bisa memanfaatkannya secara maksimal. Wajar, karena yang namanya bakat bisa sesepele mampu memasukkan benang ke jarum tanpa dijilat.  

Saya termasuk orang yang tidak menemukan bakat saya yang utama sampai sekarang. Mungkin karena tidak ada kesempatan mencoba berbagai hal (Bapak Ibu saya, seperti kebanyakan orang tua di eranya, punya prinsip: apapun bakatmu, belajarlah yang rajin, supaya besar bisa jadi pegawai negeri), mungkin karena bakat utama saya sedemikian randomnya, atau saya tidak sadar yang saya lakukan adalah bakat. 

Menurut orang-orang, saya berbakat di pekerjaan saya yang sekarang, yang isinya mengorganisir orang dan kegiatan. Tapi buat saya, yang saya lakukan, biasa-biasa saja, dalam artian tidak ada yang terlalu istimewa. Semua orang juga bisa, kalau ada di posisi saya. 

Untungnya, sampai sekarang saya tidak pernah menyesal tidak menemukan bakat saya yang utama. Karena bakat, yang saya pahami, tidak selalu berbanding lurus dengan passion (minat), kesuksesan, apalagi kebahagiaan.

Albert Einstein juga kan bilang, jenius itu 1% bakat dan 99% kerja keras. Walaupun punya IQ 185 jelas membantu sih. Soalnya, kalau orang biasa macam saya ini, mau sekeras apapun saya bekerja, sampai guling-guling sekalipun, kemungkinan besar saya tidak akan pernah menemukan teori yang layak dipahat di batu atau dipajang di dinding kota. Salah-salah yang keluar malah teori konspirasi yang memicu gosip tetangga. 

Quote lain dari Albert Einstein. Dia berhasil karena punya passion. Bukan karena bakatnya. 

(Sumber: twitter wonderof science)

Intinya sih, di usia segini, saya sudah tidak mencari-cari bakat utama saya. Karena menurut saya nggak ada gunanya. Haha. Misalnya ternyata bakat utama saya adalah jadi pawang Gajah di savana Tanzania atau punya kemampuan adu jempol yang mumpuni sampai bisa jadi juara dunia, terus kenapa? Kan bukan berarti saya harus pindah ke belahan dunia lain atau berlatih adu jempol sepanjang hari hanya agar bakat saya tersalurkan.

Makanya buat saya sekarang lebih penting menemukan minat saya daripada bakat saya yang utama. Karena di usia yang hampir 40 tahun ini, buat saya, melakukan hal yang saya senangi lebih penting daripada yang saya kuasai.


Cita-Cita Tanpa Usaha

Ada beberapa hal yang sering saya pikirkan untuk fokus dilakukan. Salah satunya, yang paling sering saya angankan, adalah jadi kolumnis seperti Umar Kayam, yang esainya dulu setiap hari dimuat di surat kabar. Karena salah satu hobi saya adalah mengamati dan menganalisi orang atau situasi, saya ingin membuat kolom opini seperti ScaryMommy, Vox, The Atlantic, dan sebagainya, tapi dengan sentuhan cerita sehari-hari seperti gaya Umar Kayam agar lebih mudah dipahami. Bagaimanapun masyarakat Indonesia masih "belum ramah" terhadap opini.

Buku karrya Umar Kayam: Mangan ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Bondho, dan Madhep Ngalor Sugih,-Madhep Ngidul Sugih, yang berisi kumpulan esainya yang diterbitkan di Harian Kedaulatan Rakyat, merupakan tiga buku favorit saya waktu kecil (Sumber: kagama.co)

Sayangnya cita-cita tersebut (dan beberapa cita-cita lainnya), tidak diikuti dengan usaha untuk mewujudkannya. Berputar-putar saja di kepala. Terngiang-ngiang di telinga. Tidak dimulai karena  terhempas lebih dulu oleh berbagai alasan.

Makanya saya berpikir jangan-jangan minat saya bukan kesana. Jangan-jangan cita-cita yang saya angankan itu bukan yang saya inginkan. ATAU cita-citanya sudah sesuai, tapi cara yang saya tau untuk mencapai cita-cita tersebut tidak sesuai minat saya.

minat/mi·nat/ n kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan.

Saya punya keinginan, tapi saya tidak punya kecenderungan hati yang tinggi terhadap keinginan tersebut. Makanya saya tidak berusaha. Tidak seperti waktu saya berusaha mewujudkan impian masa kecil saya. Dimana secara sadar maupun tidak, saya bela-belain usahakan agar terwujud. Karena memang ingin. Karena memang minat. 

Hal ini yang menjadi alasan saya untuk menemukan minat saya, supaya bisa mencari tahu cita-cita saya, dan atau cara untuk mewujudkan cita-cita saya.
Jangan-jangan sebetulnya minat saya adalah memikirkan segala hal. Bukan mewujudkannya.
Harusnya saya masuk jurusan filsafat kayak Dian Sastro. Biar jadi filsuf sekalian.

Perlu Pemikiran

Di internet bertebaran berbagai cara untuk menemukan passion. Semuanya, kalau saya simpulkan, berputar pada mengenali diri sendiri. Orang yang mengenali dirinya lebih mudah menemukan minatnya. Jadi sepertinya saya belum menemukan minat saya, karena saya belum memahami diri sendiri. Literasi diri saya masih kurang. Padahal literasi diri, kalau menurut Kepala Sekolah anak saya, seharusnya sudah harus dikuasai di usia 21 tahun. Supaya ketika masuk ke dunia luar, sudah paham dengan dirinya. Supaya bisa menavigasi diri dengan lebih percaya diri di dunia luar. Tidak terombang-ambing. Seperti saya.
Sudah hampir selesai masa 30 tahun saya. Periode saya terombang ambing tanpa tahu tujuan setelah menggapai impian masa kecil di usia 20-an. Mungkin sudah saatnya saya mulai lebih serius mencari cita-cita yang bisa diwujudkan. Sebelum penyesalan datang.

Memenuhi keinginan untuk mewujudkan cita-cita. Cita-cita-ception.

Sungguh bakat saya, yang sudah saya sadari sejak lama, adalah cocokologi.




Read more ...

Thursday, July 20, 2023

Berdamai Dengan Semarang

Beberapa tahun terakhir, berbagai kejadian membuat saya trauma dengan Semarang. Saking traumanya, memikirkan untuk mengunjunginya saja membuat saya stress. Hingga akhirnya pada bulan kemarin, saya tidak punya alasan lagi untuk menghindar. Mau tak mau harus menghadapinya. Saya pun mencoba berdamai dengan kota tempat saya dibesarkan, dalam 18 tahun pertama kehidupan saya di dunia. Kota yang setelah saya tinggalkan, selalu saya sebutkan sebagai daerah asal saya. Jika ada yang bertanya. 

Saya pikir kalau saya menelusuri kembali sudut-sudut kota Semarang, mungkin saya bisa menghapus trauma. Karena toh kota-nya sendiri baik-baik saja. Melalui Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juli, yuk temani saya menelusuri Semarang.

Stasiun Tawang

Mari kita mulai penelusuran kita dari Stasiun Tawang. Ketika pergi ke Bandung pertama kalinya 19 tahun lalu, kereta yang saya naiki berangkat dari sini. Diiringi lagu Gambang Semarang, yang diputar berulang dari speaker peron. Bangunan Stasiun Tawang tidak banyak mengalami perubahan. Mungkin karena bergaya kolonial, jadi sudah masuk kategori untuk tidak boleh dipugar sembarangan. Stasiun Tawang memang berlokasi di kawasan Kota Tua Semarang. Kawasan yang saat ini paling sering dibicarakan orang.

Kota Tua

Sungguh ide yang brilian bagi pemerintah Kota Semarang untuk menyediakan tempat parkir bagi pengunjung Kota Tua Semarang. Jalan utamanya bisa lebih khusyuk disusuri tanpa harus terganggu mobil yang lalu lalang. Satu-satunya masalah berjalan-jalan disini adalah udara panas yang menyengat. Terasa berat karena kelembapan yang tinggi. Ah, rasanya dulu Semarang tak sepanas ini. Atau saya yang sombong karena sudah lama tinggal di tempat yang lebih dingin?

Dua puluh tahun lalu, siapa yang mengira bahwa kawasan kota tua Semarang akan menjadi tempat yang hits dan instagramable. Tidak ada yang berminat jalan-jalan kesana, kecuali untuk mencari masalah. Kumuh, suram, shaddy. Cocok dijadikan latar belakang film gangster. Di berbagai sudut ada genangan rob. Banjir karena pasang air laut. Kalau sedang parah, seluruh kawasan tergenang. 

Kata Didi Kempot sih: "Semarang kaline banjir..Ja sumelang ra dipikir"

Revitalisasi kota tua Semarang menurut saya, adalah salah satu yang terniat. Kota tua yang dihindari, sekarang disulap menjadi kawasan yang sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Pembangunan polder untuk mengatasi rob di tahun 2010 merupakan faktor utama kesuksesan revitalisasi kawasan ini. Semenjak tak ada banjir, renovasi dan restorasi bisa dilakukan dengan lebih mudah. Hampir semua gedung direnovasi, paling tidak bagian luarnya. Bata-bata merah kembali menghiasi fasad gedung. Mengingatkan pada gedung-gedung berbata merah di Eropa.

Kawasan di dekat gereja blenduk jadi daya tarik utama. Setiap hari puluhan orang berlalu lalang di kawasan ini. Ada yang sekedar nongkrong di kafe-kafe yang bertebaran di kota tua, ada yang berfoto-foto, atau sekedar jalan-jalan mencari hiburan. Public space yang sangat beruntung dimiliki oleh masyarakat kota Semarang.

Lucunya kalau makan ke Kota Tua Semarang dulu keluarga saya malah selalu memilih restoran Ikan Bakar Cianjur yang letaknya di depan Gereja Blenduk. Suami sampai pusing. Jauh-jauh ke Semarang makannya khas Cianjur.

Jalan Pemuda

Keluar dari wilayah kota tua, menuju pusat kota, salah satu jalan yang bisa dipilih adalah Jalan Pemuda. Sekolah saya, SMA 3 Semarang, berada di sini. Dulu tak ada yang istimewa dari jalan ini, tapi sekarang jadi salah satu jalan paling trendy. Sudah jadi rute umum buat pelancong. Maklum, Mall Paragon ada di salah satu ujungnya, sementara di ujung lainnya ada Tugu Muda dan Lawang Sewu. Di tengah-tengah ada DP Mall. Saat ini adalah mall paling laris di Semarang. Mungkin ACnya paling dingin.

Lawang Sewu

Di ujung Jalan Pemuda adalah lokasi Lawang Sewu. Ikon Kota Semarang yang dulu mangkrak tapi lalu menemukan jati dirinya kembali. Sewaktu saya masih sekolah, tak ada yang berani dekat-dekat gedung peninggalan Belanda itu. Bangunannya memang intimidating karena besar dan konon katanya penuh penunggu. Paling terkenal tentu hantu Noni Belanda yang kabarnya sering muncul di ujung tangga di depan mozaik kaca. Sayangnya pamornya kalah dengan genderuwo penghuni penjara bawah tanah yang debut live di acara Uji Nyali Trans TV. Acara TV yang membuat semua mata menoleh ke bekas kantor Kereta Api hindia belanda tersebut. Sebuah kesempatan yang akhirnya membuat Lawang Sewu direnovasi hingga menjadi ikon wisata paling terkenal di Semarang.

Mozaik yang katanya sudah sering jadi panggung kemunculan Noni Belanda (Sumber: detik travel)

Terakhir kali saya ke Lawang Sewu adalah saat mengantar keluarga besar suami. Sekitar 12 tahun yang lalu. Waktu itu saya tak berminat mengikuti rombongan yang dengan semangat masuk ke bawah tanah. Takut jadi saksi comeback si Genderuwo. 

Jalan Pandanaran

Jalan yang wajib dikunjungi turis Semarang adalah Jalan Pandanaran. Menghubungkan Tugu Muda dan Simpang Lima, jalan ini penuh toko penjual oleh-oleh. Bandeng Presto merk Presto, Lumpia Djoe, dan Mochi Gemini, adalah buah tangan yang selalu saya beli saat ke Semarang. Sayangnya harga ketiganya cukup fantastis. Contohnya 1 buah lumpia Djoe harganya sampai Rp.25.000.  Mungkin saking pede dengan rasanya yang memang premium.

Tapi no worries, kalau kantong pas-pasan atau yang dikasih oleh-oleh harus satu RT, di Pandanaran banyak pilihan yang lebih ekonomis. Contohnya jambu air, wingko babat, dan Tahu Baxo. Tahu bakso hits dari Ungaran yang sudah merambah Semarang. Namanya memang pakai "X". Bukan saya salah ketik.

Simpang Lima

Di ujung Pandanaran ada Simpang Lima. Alun-alun kota Semarang yang letaknya memang di tengah-tengah kota. Bukan gimmick belaka seperti banyak alun-alun kota lainnya. Kelima jalan yang terhubung dengan Simpang Lima, bisa ditebak adalah jalanan utama kota Semarang. Ya iyalah masa jalanan utama kota Kudus.

Simpang lima adalah pusat hiburan rakyat bagi warga kota Semarang. Setiap malam ada sepeda berhias lampu berbagai bentuk yang bisa disewa untuk berkeliling. Di pinggir jalan berjejer warung tenda kaki lima yang menjajakan berbagai makanan. Tenang saja, harganya masih wajar. Tidak mencekik leher seperti umumnya di pusat keramaian. Konon paling terkenal adalah nasi ayam, nasi kucing, nasi gandul yang kedainya buka sampai jam 3 pagi. Kala akhir pekan ada mobil-mobilan aki berbagai bentuk yang bisa jadi hiburan asyik buat anak-anak. Anak-anak senang orang tua gosong. Mataharinya nggak kira-kira soalnya kalau di Semarang.

Gombel

Dari Simpang Lima, lewat jalan Pahlawan, mari naik ke daerah perbukitan. Salah satu hal yang menarik dari Semarang adalah adanya bukit-bukit yang menawarkan pemandangan kota dan laut. Paling terkenal adalah kawasan Candi dan Gombel. Asal muasal legenda Wewe Gombel., kawasan elite semenjak dulu, daerah ini dipenuhi rumah-rumah megah milik Crazy Rich Semarang (Konon saking pada kayanya sampai ada yang punya pohon Baobab di pekarangan rumahnya). Di bukit ini juga terdapat berbagai restoran. Dari yang klasik sampai kekinian.

Sempat viral karena untuk ngangkutnya sajaharus pakai truk trailer. Memang nggak bisa biasa-biasa saja kalau crazy sih. (Sumber: Tribun Solo)

Paling hits zaman dulu adalah restoran Alam Indah. Makan ditemani pemandangan lepas gemerlap lampu kota Semarang dan laut jawa yang membentang sampai horison langit. Restoran yang hanya keluarga kami datangi kalau ada saudara dari Jakarta yang datang.

Kemahsyuran restoran ini sekarang sudah terkalahkan oleh berbagai restoran yang lebih modern. Saya bahkan tak tau apakah restoran ini masih beroperasi atau tidak.

Ngaliyan

Dari Gombel, melalui jalan tol, kita bisa mendatangi Ngaliyan. Daerah rumah masa kecil saya. Daerah ini terletak di salah satu bukit paling barat di Semarang.  Zaman dulu lokasi Ngaliyan ada di pinggir kota. Tak jauh dari rumah saya ada perkebunan karet. Pohon-pohon karet berjejer rapi. Membentuk lorong-lorong panjang yang tak terlihat ujungnya. 

Sekarang, 20 tahun setelah saya tinggalkan, tiba-tiba Ngaliyan tak lagi ada di pinggiran kota. Perkebunan karet digusur digantikan perumahan-perumahan merk ternama yang ada kudanya. Dalam waktu 10 tahun, Ngaliyan sudah bukan daerah Semarang coret. Walaupun nggak jadi elite juga kayak gombel. Sedang-sedang sajalah. Lumayan sudah lengkap gerai fast food: KFC, Mc Donalds, Burger King plus tempat les Kumon. Bisalah pamornya menyaingi BSD.

Suasana perkebunan karet yang hijau. Hanya tinggal kenangan
(Sumber: gurusiana.id)

Penutup

Semarang. Kota ini untuk selamanya akan menempati bagian yang istimewa di hati saya. Walaupun bukan lagi tempat untuk pulang, tapi serpihan kenangannya akan terus saya bawa sampai akhir hayat. 


Read more ...

Tuesday, June 20, 2023

Tentang Rumah Masa Kecil

Tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah tentang hal berkesan di masa kecil. Kok ya bisa pas banget. Soalnya pertengahan bulan ini, saya dan adik saya, harus pulang ke Semarang untuk mengurus penjualan rumah orang tua kami. Sejak akhir tahun 2021, kami memang sepakat menjual rumah masa kecil kami, yang telah kosong sejak kedua orang tua kami meninggal.


Kemarin kami mengosongkan isi rumah. Meninggalkan beberapa furnitur besar saja. Saat dikosongkan, rumah itu masih penuh barang-barang. Karena sampai saat ini kami masih membayar orang untuk bersih-bersih mingguan, jadi penampakan rumah itu masih seperti ditinggali. Bahkan laptop kerja Bapak dan Ibu saja masih ada di tempatnya.


Ini saya ceritakan beberapa barang-barang yang kami temukan saat mengosongkan rumah. Sekalian dijadikan jejak kenang-kenangan, karena kebanyakan barang tersebut tidak kami simpan.


Radio Tape

Dari 3 radio tape yang ada di rumah kami, radio tape Sony double deck adalah yang paling sering saya pakai. Punya fungsi utama untuk karaoke yang dimanfaatkan dengan baik oleh Ibu saya untuk latihan, hingga beberapa kali jadi juara lomba karaoke tujuh belasan di RW. 

SONY Double Deck ini sepertinya salah satu produk yang cukup sukses. Soalnya selain di rumah, di rumah mertua saya juga ada. Cuma yang disana nggak pernah dipakai latihan karaoke jadi nggak punya piala.

Dengan radio tape ini saya juga melakukan pembajakan kecil-kecilan. Membuat mixtape dari kaset-kaset yang dipinjam dari teman-teman dan juga lagu-lagu yang diputar di radio. Radio tape ini juga yang menemani saya belajar di 2/3 malam saat menghadapi SPMB. hiburan kala itu adalah kirim-kiriman salam tapi dengan nama samaran. Lalu besoknya menerka nerka siapa kirim salam ke siapa.


Kulkas dengan Freezer Jebol

Waktu kecil saya ini sering sekali tidak sengaja merusak barang. Selain terminal listrik yang tercerabut sampai ke ujung kabelnya, dan pintu yang jebol berkali-kali karena saya terkunci dibaliknya, korban energi penghancur saya yang paling epic adalah freezer kulkas. Saya ingat waktu itu kulkas tersebut masih baru. Ibu gembira karena akhirnya punya freezer yang cukup besar. Kemudian datanglah saya. Dengan sekuat tenaga menarik pintu freezer. Tanpa tau ada tombol yang harus ditekan. Alhasil pintu freezer tersebut jebol. Patah bingkainya. Bolong sampai akhir masa pengabdiannya.

Piala Penghargaan

Di rumah ada beberapa piala penghargaan. Paling bergengsi punya adik saya yang pernah dikukuhkan sebagai murid teladan tingkat kotamadya. Paling random punya saya. Juara LCT P4 tingkat kecamatan. Alias orang yang paling cepat menjawab pertanyaan seputar pengamalan pancasila sekecamatan. Lumayan dipanggil saat upacara hari Senin dan dikeplokin satu sekolah. Sayang perjuangan saya kala itu mandek di Kotamadya. Padahal kalau sampai Provinsi bisa diliput TVRI.


Satu lagi piala random saya adalah hadiah juara I lomba karaoke islami antar TPA se-Kecamatan. Saya ingat lombanya saat bulan puasa. Lokasinya di TPA yang ada di kampung seberang. Judul lagunya "Jilbab Putih". Disuruh bolos tadarus saat ramadan, buat ikut lomba karaoke. Agak absurd memang. Untung menang.


Fresco di teras belakang

Kalau Sistine Chapel punya fresco yang dibuat Michelangelo, teras belakang rumah saya punya fresco hasil karya teman Ibu yang guru seni rupa. Gambarnya cukup random: hutan belantara dengan 4 monyet dan binatang lain yang sepertinya tidak nyambung habitatnya. Entah apa filosofi dibalik gambar tersebut. Mungkin ibu saya punya obsesi terpendam menjelajah hutan-hutan ala Dora The Explorer.




Kursi Kayu di Teras

Bapak saya dulu membangun teras yang besar tujuannya buat jadi tempat akad nikah anak-anaknya. Alhamdulillah kesampaian. Saya dan adik disahkan jadi isteri orang di teras tersebut


Di teras itu ada 1 set kursi kayu. Saksi bisu perjalanan cinta monyet kala SMA. Orang tua saya tidak pernah melarang saya pacaran. CUMA, pacarannya harus di teras rumah. Jadi seluruh RT bisa melihat. Ikut mengawasi dalam diam. Tak jarang langsung memberikan laporan pada orang tua saya yang mungkin juga mengintip dari dalam.


Suami nggak pernah ngapelin di kursi kayu, soalnya dia mah langsung masuk ke ruang tamu. Bukannya apa-apa, rumahnya jauh sama nggak tahan nyamuk.

Magnum Opus

Ada dua hasil pelajaran seni zaman SD yang masih tersimpan di rumah hingga puluhan tahun lamanya: Ukiran sapi dari gips dan prototipe durian. Mungkin buat orang tua saya, dua benda itu adalah magnum opus. Masterpiece yang patut dirawat dan dilestarikan. Dipamerkan dan diperlihatkan pada dunia. Barangkali bagi mereka, anak-anaknya adalah Raphael dan Leonardo Da Vinci. Tentu saja yang seniman bukan yang Teenage Mutant Ninja Turtles.


Diskon Prestasi


Toko serba ada di Semarang yang populer namanya toko ADA. Seperti YOGYA-nya Semarang. Walaupun outletnya tidak sebanyak GRIYA dan YOGYA. Zaman dulu kala, toko ADA selalu memberikan diskon pada anak yang dapat rangking 1-5 setelah pembagian raport. Karena waktu SD saya cukup sering dapat rangking, maka saya selalu dapat diskon anak pintar. Sayangnya setelah SMP, saya tidak pernah dapat rangking 1-5 lagi, jadi diskonnya terpaksa nebeng adik saya, yang sampai SMA juga masih berprestasi. Suatu kebanggaan tersendiri bisa mempersembahkan diskon pada orang tua untuk beli belanjaan bulanan. Walaupun cuma 5%. Lumayan bisa buat jajan cakwe dan odading di parkiran.


Cermin Berpikir Positif


Seingat saya tulisan ini sudah ada semenjak saya bisa membaca, sekitar 33 tahun yang lalu. Saya kurang tahu kejadian apa yang membuat Ibu menuliskan kata-kata tersebut di cermin dengan spidol permanen (warna spidolnya memang perak). Mungkin memang ingin saja atau ada makna lebih dalam dibaliknya. Suatu misteri yang sampai sekarang tak pernah bisa saya pecahkan. Mungkin kalau dibuat drakor bisa jadi 1 serial sendiri.


Tulisan di cermin ini juga konon adalah salah satu yang mendorong orang yang membeli rumah kami untuk memilih rumah tersebut. Jadi kacanya tetap kami biarkan tergantung di kamar. Walaupun tetangga sudah banyak yang mengincar untuk dijadikan kenang-kenangan.


Penutup

Wall of fame yang diinisasi oleh saya yang kurang kerjaan saat liburan masuk SMP dan rak buku tempat semua buku favorit berada Salah dua yang paling berat untuk dibereskan kemarin. Karena rasanya benar-benar seperti menutup kenangan.

Tulisan ini dibuat sekaligus untuk penanda penutup bab hidup saya di Semarang.Walaupun kota ini akan tetap saya sebutkan sebagai kampung halaman setiap ada orang yang bertanya. Tapi untuk pertama kalinya dalam 37 tahun saya tidak lagi punya rumah disini. Sedih sekaligus lega. Karena satu beban terangkar. Semoga mempermudah hisab orang tua nanti di akhirat dan amal jariyah mengalir dari barang-barang yang dibagikan dengan cuma-cuma.






Read more ...