Sunday, August 23, 2026

Menguji Kedewasaan Dengan Aplikasi-Aplikasi Favorit Penghambat Produktivitas

Saya masih ingat betapa merananya saya 9 tahun lalu waktu menyusui si Mbarep. Hanya bengong di kamar sama bayi tanpa bisa ngapa-ngapain.

Masa itu kamar kami ada di bagian belakang rumah mertua yang kurang terjangkau sinyal, baik WIFI maupun data seluler. Jadi susah kalau mau sambil surfing di internet.

Di masa itu juga masih ada ayah mertua dan adik ipar laki-laki di rumah. Jadi saya nggak bisa semena-mena pindah menyusui ke ruangan lain. Soalnya saya kalau menyusui sukanya buka bukaan 😆 karena memang tak ada yang perlu ditutup tutupi. Kan bukan korupsi #Lah.

Tapi kalaupun bisa main internet, tetap tidak banyak hal juga yang bisa saya lakukan. Di zaman itu mau nonton drama atau variety show Korea kesukaan saya juga masih harus pakai cara jahiliyah.

Nonton gratisan di situs-situs semacam Dailymotion. Pakai ponsel tentu susah. Enaknya pakai laptop. Tapi nyusuin kan nggak mungkin sambil pegang laptop.

Alhasil kala itu saya akrab dengan bengong. Apalagi kalau Mbarep menolak disusui sambil tiduran. Lengkaplah penderitaan.

Waktu menyusui Ragil, kondisinya agak lebih lumayan. Kami pindah ke kamar di bagian depan rumah yang lebih terjangkau sinyal. Sudah mulai muncul OTT seperti Viu dan Viki yang bikin nonton konten Korea jadi gampang. Walaupun pilihannya masih sangat terbatas.

Instagram dan Youtube juga sudah lebih ramai dengan munculnya berbagai instagramer dan youtuber.

Tapi ternyata saya belum cukup dewasa untuk menyikapi konten-konten yang ada di sosial media. Masih sering ter-trigger dan jadi overthinking. Apalagi saat itu pandemi dimana tingkat stress saya tinggi. Alhasil saya memilih untuk lebih sering uninstall sosial media dan youtube. Tidak permanen, karena kadang-kadang masih perlu.

Selain itu saya juga nggak punya waktu buat surfing di internet. Ragil termasuk bayi yang cukup rewel karena sering kembung dan punya alergi kulit cukup parah. Sibuk jadi ratu ular kalau istilah mamak sekarang. Sssttt sssttt menenangkan di setiap kesempatan.

Tahun ini saya diamanahi lagi untuk menyusui bayi. Mengingat 2 bocah sebelumnya berhasil sampai 2 tahun lebih, saya pun cukup pede. Alhamdulillah menyusuinya sendiri sampai sekarang nggak ada masalah. Si bayi Bungsu ini juga alhamdulillah nggak rewel.

Berbeda dengan masa menyusui sebelumnya, sesi menyusui sekarang nggak ada bosan-bosannya. Hiburan beraneka macam tersaji di ponsel. Bak lagu Enno Lerian di tahun 90an. Mau apa, bingung sendiri.

Malam-malam panjang bisa dihabiskan dengan nonton serial sampai habis. Kalau bukan karena faktor U yang bikin recovery jadi lama, betah juga saya begadang.

Gara-gara bebas nonton saya jadi semakin menyadari hal yang sudah saya curigai dari lama. Saya ini  makin sulit fokus. Bahkan untuk menonton acara yang seharusnya jadi hiburan. Nonton film 2 jam bisa 5 hari baru selesai. Bahkan nonton konten Youtube 20 menit saja nggak bisa. Nggak tahan.

Bukan karena saya banyak kerjaan, tapi saat nonton pikiran saya malah melayang kemana-mana memikirkan hal lainnya.

Nonton tayangan renovasi rumah malah jadi kepikiran lemari bocah yang udah nggak cukup (scrolling market place). Nonton film detektif malah kepikiran kasus-kasus kriminal di kehidupan nyata (scrolling google). Nonton stand up comedy malah kepikiran anekdot-anekdot hidup sendiri (scrolling google photo). Nonton podcast malah kepikiran status perkawinan orang lain (scrolling situs gosip) #Lah.

Pantesan pakar pakar parenting itu melarang anak-anak kebanyakan screen. Kan gawat kalau lagi belajar tentang perang Diponegoro terus yang diingat malah pertempuran antara Skibidi Toilet dan Kameramen. 

Memahami fenomena yang ada dalam diri saya tersebut, saya merasa memerlukan suatu latihan untuk setidaknya kembali fokus saat menikmati hiburan. Karena hiburan tidak terasa menghibur saat otak kabur-kaburan.

Akhirnya di masa cuti ini saya bikin proyek pribadi untuk menghadapi aplikasi-aplikasi penghambat produktivitas yang saya bagi ke dalam 3 tahapan.

Stage 1: Konsentrasi Nonton Tanpa Jeda

Untuk melatih otak supaya kembali bisa fokus, saya mencoba menghabiskan konten-konten panjang tanpa selingan. Selingan buka aplikasi lain ya. Kalau selingan kehidupan sih banyak.

Memaksa diri menghabiskan satu konten panjang tanpa selingan ternyata cukup menantang. Otak seperti melawan. Tapi saya kan bukan bocah. Masa nggak bisa mengalahkan algoritma-algoritma bikinan bangsa barat ini (tetiba berlebihan).

Jadi saya memaksakan diri. Nonton dan harus bisa cerita apa yang saya tonton. Soalnya kadang saya berhasil nonton sampai habis tapi nggak bisa cerita apa yang baru saja saya tonton.

Saya memilih OTT untuk sumber tontonan panjang tanpa jeda. Utamanya Netflix. Dari sekian banyak aplikasi OTT yang saya langgan, saya memang paling suka Netflix. Isi tayangannya beragam dan tampilannya smooth. Navigasinya juga enak. Apalagi sekarang makin banyak serial dan film lama yang ditambahkan kesana. Jadi bisa sekalian nostalgia.

Sebenarnya saya berlangganan Netflix untuk nonton drama Korea. Tapi habis lahiran kemarin kok inginnya nonton yang lain. Bosen sama kekoreaan.

Dengan penuh konsentrasi, di malam-malam panjang bersama bayi yang menolak tidur, saya berhasil menyelesaikan 1 season serial Lidia Poët, 6 special stand up show Trevor Noah, 3 film Enola Holmes, 1 film nominasi Emmy Award: The Remarkable Creatures, 2 reality show renovasi rumah: Hack My Home dan Instant Dream Home. Dalam waktu 2 minggu saja. Sungguh suatu pencapaian bukan?

Dari pengalaman dua minggu itu saya menyadari bisa lebih fokus kalau menyimak dengan lebih serius hal-hal yang disampaikan di tayangan yang saya tonton. Seperti Hack My Home dan Instant Dream Home yang menggelitik jiwa engineer saya yang sudah setipis jembatan sirotol mustaqim. Atau Enola Holmes yang membuat saya bernostalgia zaman remaja ngefans dengan artis barat yang cantik dan ganteng.

Cukup membantu juuga untuk fokus pada isi tontonan dengan mencoba memikirkan tulisan review yang ingin dituliskan (walaupun tidak dituliskan beneran ahaha). Atau membayangkan cerita yang ingin disampaikan kalau punya kesempatan bikin film (yang tentu saja tak akan kejadian).

Setelah bisa menghabiskan tontonan ringan, sekarang saya men-challenge diri untuk nonton yang agak berat. Pilihan jatuh ke Dark yang sudah pernah saya tonton 2 episode dan belum pernah saya teruskan. Sekalian ingat-ingat bahasa Jerman yang sama sekali sudah saya lupakan.

Stage 2: Mengalahkan Doom Scroling

Setelah bisa agak fokus nonton tanpa gangguan, waktunya saya masuk ke challenge sesungguhnya. Dengan berani saya install salah 3 aplikasi penjebak waktu: Instagram, Youtube, dan Thread (saya sampai sekarang menolak masuk dunia TikTok).

Lalu secara sengaja saya nyemplung kedalamnya beberapa kali dalam sehari. Scroll-scroll tanpa arah. Membiarkan jempol saya memimpin.

Eh tapi diluar dugaan, lama-lama kok rasanya bosen ya scroling dengan bebas. Saya malah balik-balik lagi ke Netflix buat nonton serial.

Apakah otak saya ujug ujug membaik? Kayaknya nggak sih ya. Buktinya waktu nonton tayangan panjang masih tergoda scroll Google dan Marketplace buat cari ini itu.

Saya pikir-pikir, kayaknya ini gara gara saya punya banyak waktu buat dihabiskan deh. Jadi scrolling juga malah jadi bosan. Biasanya kan scrolling buat menunda nunda pekerjaan. Lha sekarang kan saya memang lagi nggak ada kerjaan. Haha.

Alasan lain lagi saya terjebak doom scrolling adalah untuk winding down setelah segala kepenatan seharian. Merasa rugi kalau langsung tidur. Karena merasa nggak punya waktu me time.

Nah sekarang saya punya banyak waktu sendirian. Ya ada bayi sih, tapi dia masih banyak tidurnya. Mau ikutan bayi tidur, baru bangun jam 10 pagi terus leha leha sampai tengah hari nggak ada yang akan ribut.

Jadi saya nggak merasa rugi tidur jam 9 malam tanpa scrolling. Sebulan ini saya malah cukup jarang scrolling tanpa tujuan. Lucu juga. Saat punya banyak waktu malah nggak nafsu menghabiskan waktu.

Stage 3: Memahami Kalau Konten Hanyalah Konten.

Salah satu alasan kenapa saya membatasi sosial media adalah saya merasa tidak cukup dewasa untuk tidak terpengaruh dengan konten yang ada disana. Merasa tidak cukup (impostor syndrome) atau, malah lebih parah, merasa sombong atau lebih baik dari orang lain adalah penyakit-penyakit hati yang sering kumat kalau saya sedang tenggelam di sosial media.

Tapi kan saya sudah 40 tahun ya. Kurang dewasa apa coba? Di berbagai kesempatan juga sudah didapuk jadi salah satu yang senior. Mau nunggu sampai kapan untuk bisa membedakan konten dan realita?

Lagian saya kerjaannya menasihati duo bocah di rumah yang suka ketakutan sendiri habis nonton Youtube. Sampai berbusa busa saya kasih tau kalau yang ditonton di Youtube nggak selalu benar. Kebanyakan sudah diolah untuk memancing ketertarikan penonton.

Tapi hobi menasehati kan belum tentu jago mengikuti nasihat sendiri ya. Walaupun busa omongan saya sudah lebih banyak dari buih di lautan 😆

Mencoba memahami konten-konten dengan pemahaman dewasa ternyata tidak mudah. Lagian apa itu pemahaman dewasa? Dimana banyak orang-orang lebih tua juga tidak punya kebijaksanaan untuk melihat berbagai hal sesuai porsinya.

Tapi ya kan tidak ada salahnya dicoba dengan pemahaman yang ada. Setelah berpikir panjang saya mencoba menggunakan metode non-attachment (udah kayak Siddhartha Gautama 😅). 

Saya menenggelamkan diri ke youtube short, instagram, dan threads membawa pov orang yang sedang membaca/menonton cerita. Tidak berusaha merasa relate. Tidak berusaha memikirkan lebih jauh. 

Segera memencet tombol not interested untuk konten-konten yang triggering ternyata cukup membantu. Alhasil feed saya isinya hanya konten-konten ringan yang menyenangkan. Komedi, bayi-bayi lucu, cocokologi, dan guyonan-guyonan lain yang super ringan.

Mungkin itu juga yang bikin saya cepat bosan. Karena tidak lagi penasaran.

Dari 3 aplikasi tersebut, yang menurut saya paling susah ditaklukan adalah Thread. Orang kok pinter-pinter banget nulis di situ. Selalu bikin ingin tau lebih jauh. Haha.

Makanya untuk Thread saya menyerah dan uninstall di hari ketiga. Nggak kuat 🤣

Bukan karena triggering tapi karena seperti membius untuk terus scrolling. Menurut testimoni teman-teman saya, Thread cuma bisa dikalahkan oleh microdrama Korea dan dracin AI (jangan Googling kalau nggak mau terjebak).

Youtube masih bertahan beberapa minggu setelah saya install lagi. Sekarang mulai belajar nonton konten agak panjang (5-10 menit) sekali duduk tanpa skip dan membatasi short. Untuk IG masih terinstall tapi nggak dibuka kecuali sedang cari info dan diarahkan kesana. Walaupun kadang-kadang membiarkan diri terlena juga sih. Haha.

Dah ah banyak amat ngecomnya. Jadi apa kesimpulan tulisan ini? Nggak ada. Cuma membuktikan diri masih bisa nulis 1500 kata buat nggak skip Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan ini.

Mohon maaf nggak nyambung juga sama temanya.

Hau hau.







Read more ...

Thursday, July 16, 2026

Kesalahan-Kesalahan Dalam Menemui Harta Karun Perak (No. 5 Membagongkan)

Tahun 2025 saya dan suami mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan perjalanan jarak jauh yang bisa dilakukan dengan anak-anak. Mengingat usia mereka sudah 8 tahun dan 6 tahun, sudah enak diajak jalan-jalan. A.k.a nggak sedikit-sedikit minta gendong.

Saya memang malas rempong orangnya. Plus kami berdua sudah lumayan puas bepergian waktu usia 20an. Jadi jalan-jalan saat anak-anak masih kecil tidak jadi prioritas.

Beberapa perjalanan dibayangkan. Dari yang sesederhana road trip ke Semarang, sampai yang ultimate mengunjungi rumah Paman dan Bude di ujung bumi bagian utara.

Diputuskan sebagai perjalanan permulaan, kami akan mengunjungi negeri sebelah. Yang ada singanya. Saya dan suami sudah pernah kesana beberapa kali jadi lumayan hafal tempatnya. Diperkirakan tidak akan overwhelmed lah intinya.

Kami pilih awal tahun 2026 sebagai waktu keberangkatan. Anak-anak masih libur, masa peak season nataru sudah terlewati, dan pekerjaan biasanya masih agak lengang.

Tiket dibeli, akomodasi disiapkan, itinerary dipikirkan. Perginya juga cuma 5 hari. Nggak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan yang pernah kami lakukan dulu. Easy peasy menurut kami.

Sampai 1 bulan sebelum keberangkatan, urusannya ternyata jadi lumayan complicated.

1- Salah Perhitungan

Menjelang tutup tahun 2025 saya dan suami sama-sama mengambil pekerjaan diluar pekerjaan utama. Pekerjaan tersebut ternyata cukup demanding. Membuat kami sangat sibuk selama 3 minggu berturut turut.

Sangat sibuk disini betul-betul rapat dan diskusi sampai tengah malam. Sudah kayak balik lagi ke zaman jadi panitia acara himpunan.

Bedanya karena sekarang sudah di penghujung usia 30an jam 10 malam sudah nggak bisa mikir. Jadi lelah lahir batin.

Di tengah-tengah kesibukan tersebut, saya menyadari kalau saya terlambat datang bulan. 

Periode datang bulan saya memang jadi teratur, semenjak 3 tahun belakangan mulai memperbaiki pola makan dan cukup rutin olahraga.

Keterlambatan tersebut saya pikir adalah tanda-tanda perimenopause. Menjelang 40 tahun, saya yang mantan pengidap pcos ini sudah bersiap kalau ternyata memasuki masa perimenopause lebih awal. Plus beberapa bulan terakhir periode datang bulan saya memendek jadi cuma 3 hari dengan output yang jauh lebih sedikit dari biasanya.

Hal itu yang membuat saya percaya diri (tepatnya menunda nunda) tidak pasang IUD lagi setelah dicopot di akhir tahun 2024. Ya sudah sih, sudah mau expired gitulah pikir saya.

Tapi karena penasaran, waktu terlambat lebih dari seminggu, akhirnya memutuskan test pack juga. Mana tau ya kan?

Secara statistik perempuan usia 39 tahun hanya punya 10% kesempatan untuk hamil secara natural selama 1 siklus menstruasi. Saya termasuk yang beruntung (?) mendapatkan kesempatan tersebut.

Hamil untuk ketiga kalinya, 8 bulan menuju usia 40 tahun.

Setelah tau hamil, bukan berarti semua komitmen bisa langsung dibatalkan. Walaupun kaget karena tetiba jadi golongan prioritas, besoknya masih harus ke Jakarta sendirian buat ikut rapat final pekerjaan. Mana rapatnya di bagian antah berantah Jakarta. Tengah malam baru bisa kembali ke Bandung.

Minggu berikutnya harus terbang ke pulau seberang karena sudah setuju jadi EO kunjungan rombongan dosen. Setelahnya janji ke anak-anak buat pergi ke negeri singa yang tentu saja tak mungkin dibatalkan.

Dengan segala kesibukan yang silih berganti, cuma bisa pasrah saja. Semoga diberi kekuatan dan nggak jadi dzolim sama jabang bayi dalam kandungan.

Karena bahkan untuk pertama kalinya, saya nggak langsung lari ke dokter kandungan setelah test pack positif. Baru 3 hari setelahnya ke dokter untuk memastikan kalau betul hamil. 

Namanya mendadak hamil, tentu saja tidak ada persiapan bepergian dengan kondisi hamil muda. Mendadak jadi nggak bisa lari-lari. Mendadak nggak bisa angkat barang berat. Mendadak nggak bisa tahan laper. Mendadak emosian. Mendadak harus jadi kalem dan nggak segan minta bantuan.

Untungnya selama bepergian tidak sampai jadi drama berarti. Anak-anak dan suami cukup kooperatif. Ada sih satu dua insiden. Tapi masih bisa dimaklumi lah.

2- Salah Kaprah

Saya pikir hamil di usia tak muda lagi ini bakalan jompo banget.

Ya gimana, nggak hamil saja badan lebih sering bermasalah, apalagi hamil.

Tapi setelah dijalani, ternyata hamil di usia begini ya gitu-gitu saja rasanya haha. Jompo sih tapi tak lebih jompo dari biasanya.

Mungkin ada gunanya saya membiasakan diri minum air putih 3 liter perhari dan makan banyak protein.

Selama tiga tahun terakhir juga hasil medical check up saya bebas bintang. Jauh lebih bagus dari waktu hamil anak pertama kedua di awal 30 an.

Jadi mungkin tubuh saya jadi lebih mudah adaptasi.

Sempat sih sekali pergi ke dokter syaraf karena kumat sakit punggung. Dulu sekali pernah sakit yang mirip dan ternyata ada otot yang bengkak. Ini mirip-mirip lah diagnosanya. Tapi untung terapi 2 kali sembuh.

Sempat juga drama batpil ganti-gantian sama anak-anak. Sampai akhirnya minum antibiotik karena tenggorokan sampai meradang.

Tapi selain itu happy go lucky saja hamil yang ini.

Alhamdulillah.

3- Salah Sangka

Mendekati usia kehamilan 32 minggu, dokter saya menyarankan untuk melahirkan dengan BPJS.

Kehamilan kali ini dari awal sudah diputuskan akan diakhiri dengan operasi sesar secara elektif.

Karena sebelumnya saya dua kali melahirkan dengan sesar cito. Ditambah umur yang tak lagi muda.

Saya dan suami sempat ragu-ragu untuk mengikuti saran tersebut. Mendengar berbagai selentingan tentang pelayanan BPJS, saya takut tidak akan dapat perawatan yang optimal. Plus saya malas ribet antri-antri.

Karena di kehamilan ketiga ini kenyamanan buat saya adalah yang utama.

Sebetulnya kami dapat asuransi dari kantor juga jadi nggak begitu masalah untuk lahiran tanpa BPJS.

Nah cuma, si anak ketiga ini tidak masuk coverage asuransi kantor yang cuma menanggung 2 anak. Jadi untuk perawatan tambahan bayi (jika ada) kemungkinan kami harus merogoh kocek sendiri.

Sementara asuransi kantor ternyata bisa digunakan untuk menambah kekurangan biaya BPJS kalau kami memilih menambahkan fasilitas perawatan yang tidak dicover BPJS.  Seperti naik kelas ke VIP dan tambahan prosedur ERACS.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh pihak RS kalau pelayanan BPJS dan umum tidak ada bedanya, plus tanya sana sini untuk meyakinkan diri, akhirnya kami memutuskan lahiran dengan BPJS.

Ternyata nggak ribet kok mengurus BPJS. Mungkin karena RS tempat saya lahiran pro BPJS ya, jadi prosesnya lancar.

Dari faskes 1 saya langsung dapat rujukan ke faskes 2. Dimana saya bisa langsung memilih dokter kandungan saya yang adalah dokter tetap di RS tersebut. Di RS langganan saya itu, penggunaan aplikasi JKN sudah sangat dipermudah dengan mesin self check in dsb. Jadi saya tidak perlu menunggu lama saat kontrol.

Jatah kontrol kehamilan BPJS di faskes 2 cuma 3 kali termasuk lahiran. Tapi karena saya dont't mind bayar sendiri untuk kontrol diluar jatah (yang biayanya relatif masih murah), hal ini nggak jadi masalah berarti juga.

Proses perawatan dan administrasi dengan BPJS juga tidak ada kendala berarti. Perawat tidak membedakan saya bayar pakai jalur apa. RS dengan sigap koordinasi pembayaran dengan pihak asuransi kantor untuk selisih tagihan.

Bayi juga langsung didaftarkan jadi peserta BPJS. Jadi saat dia belum bisa pulang karena perlu fototerapi akibat bilirubin tinggi, otomatis biaya perawatannya sudah ditanggung. Kami nggak keluar uang sama sekali. Asyik juga.

Baru kali ini saya berterimakasih ke pemerintah. Setelah sekian lama kecewa. Plus hikmahnya saya janji cuma manyun 2 cm lah di masa-masa bayar pajak. Biasanya manyun 10 cm juga masih kurang rela. Membayangkan uang hasil kerja keras dipakai buat yang nggak-nggak.

4- Salah Harapan

Seperti sudah saya tulis diatas, di kehamilan ketiga ini prioritas saya adalah kenyamanan. Kalau dulu di kelahiran anak pertama saya ditungguin suami, kelahiran anak kedua ditungguin saudara dekat, kelahiran anak ketiga ini saya pilih ditungguin oleh caregiver profesional.

Bukan apa-apa, suami sudah sama jomponya dengan saya. Kalau kami sama-sama begadang terus besoknya sama-sama cranky kan gawat. Haha. Sementara itu di umur segini (yang makin introvert) saudara dekat yang saya nyaman mintai tolong paling cuma adik saya.

Hanya saja setelah didiskusikan, dia mending bantu ngasuh anak-anak di rumah bareng anak-anak dia yang sama-sama sedang liburan. Soalnya adik saya ini lebih ngantukan dari saya. Nanti cuma pindah tidur doang kalau nungguin di RS 😆

Harapan saya dengan caregiver profesional ada yang siaga sepanjang malam saat bayi sudah room in. Minimal angkat junjung bayi dari crib ke tempat tidur saya dan ganti popok. Karena dari pengalaman, masa paling repot adalah malam setelah operasi dimana saya belum bisa gerak banyak sementara bayi sudah ditaruh di kamar.

Ternyata kenyataan yang saya dapati melebih harapan. Caregiver yang saya sewa perhatiannya luar biasa. Sampai hal-hal yang tidak saya minta juga dikerjakan. Seperti memanggilkan suster saat saya mengeluh kurang nyaman atau infus habis, membelikan saya minuman kesukaan dari mini market, menunggu gojek yang mengantar barang ketinggalan dsb.

Selain itu dia juga menemani bayi tidur sambil memastikan saya bisa istirahat total diantara waktu bayi menyusu. Biayanya memang lumayan. Tapi worth it banget lah.

5- Salah Waktu

Perbedaan sesar secara cito dan elektif tentu saja ada di persiapannya. Sesar cito selalu dimulai dengan kunjungan ke UGD.

Waktu lahiran Mbarep saya ke UGD karena pendarahan akibat kondisi oligohydromion (air ketuban sangat sedikit). Sebelum akhirnya sesar, saya diinduksi dua kali selama dua hari berturut-turut dimana dua duanya nggak mempan.

Sementara waktu Ragil, saya ke UGD di usia kandungan 41 minggu. Masih tidak ada kontraksi tapi pergerakan bayi sudah berhenti selama lebih dari 8 jam. Alhasil di kedua operasi itu isinya lari-lari.

Pali-pali kalau kata orang Korea.

Di kedua operasi itu juga, saya sama sekali nggak tenang karena merasa belum siap. Walaupun saat Ragil masih mendingan, koper RS sudah siap, sementara waktu Mbarep bahkan baju-bajunya baru selesai dicuci. Nasib ibu amatir dan lahir jauh lebih awal dari perkiraan.

Kehamilan kali ini saya sudah dapat tanggal operasi 2 minggu sebelumnya. Bisa siap-siap dengan lebih santai. Saking santainya sampai hari H masuk RS (hari kedua cuti) masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Masuk RS kamar sudah ready. Jadwal puasa, obat, dan persiapan lainnya juga sudah tertata rapi. Janin dipantau berkala tanpa degdegan. Santai banget lah.

Masalah muncul justru di hari H operasi.

Saya sudah dijadwalkan masuk ruang operasi pukul 10 pagi. Sebelum jam 10 ada jadwal suntik obat dan mandi pakai cairan antiseptik.

Jam 7.30 saya mandi keramas, karena berdasarkan pengalaman lampau baru bisa keramas lagi beberapa hari setelah operasi. Dalam hitungan saya, setelah mandi bisa mengeringkan rambut dulu, sisiran atau apalah biar tampang agak mbejaji.

Eh baru setengah jalan keramas pintu kamar mandi digedor.

Dokter obgyn saya sendiri yang datang mengabari kalau operasi saya dimajukan jadi jam 08.00.

Terpaksa mandi bebek. Masih untung ingat sikat gigi. Alhasil saya didorong ke ruang operasi dengan kondisi rambut masih basah dan acak-acakan. Disini saya bersyukur bukan artis dan nggak nyewa fotografer momen lahiran.

Untung dokter dan perawat nggak ada yang masalah saya mandi nggak bersih-bersih amat. Jadi operasi juga berjalan tanpa kendala.

Cuma saya kena goda suster-suster di ruang persiapan dan ruang operasi. Nggak selesai nyalon katanya.

6- Salah Perkiraan

Dari dua operasi sesar yang saya jalani sebelumnya, saya tidak merasakan sakit yang cukup berarti. Toleransi rasa sakit saya memang agak diatas rata-rata, jadi nyeri-nyeri sedikit tidak masalah.

Di sesar pertama, dalam 18 jam saya sudah bisa jalan biasa kesana kemari. Saat sesar kedua saya pakai metode ERACS yang waktu itu masih tergolong baru. Karena manajemen rasa sakit yang lebih efisien,  6 jam setelah operasi saya sudah bisa duduk sendiri.

Untuk sesar ketiga dokter saya sudah memperingatkan kalau rasanya akan jauh lebih sakit dari yang sebelumnya. Walaupun saya pakai ERACS lagi.

Saya pikir, sakitnya bakalan lebih banyak bersumber di luka operasi yang lebih nyeri. Secara buat ketiga kalinya dibedah di tempat yang sama.

Ternyata, tak diduga tak dinyana, yang bikin saya nggak bisa tidur semalaman justru masalah goyoken. Alias pegal punggung dan pinggang. Terutama pinggang bagian bawah yang terdampak kontraksi.

Aseli. Saya baru berasa faktor U disini. Sampai tensi saya naik ke angka 150. Tanda tubuh saya menahan sakit. Jompo abis.

Untuk pertama kalinya saya sampai minta obat pereda sakit tambahan dan sampai 24 jam pasca operasi saya masih kesulitan tidur miring dan berdiri. Hingga saya (dengan agak merasa bersalah tentu saja) sedikit lega waktu bayi harus disinar akibat hyper billirubin. Nggak sanggup kayaknya langsung pulang dan menyusui seperti biasa. Ngilu banget.

Kayaknya ini memang masalah core tubuh yang tidak terbangun dengan baik. Jadi saat ada trauma langsung roboh pertahanannya. Luka operasinya sendiri malah sakitnya gitu-gitu saja. Nggak sakit malah, kecuali di bagian simpul jahitan yang agak nyut-nyutan kalau saya gerak terlalu heboh.

Sisanya mati rasa sampai lama karena anestesi Tap Block bagian dari ERACS.

Sampai sekarang juga masih suka ngilu-ngilu tulang dan sendi. Kalau sudah begitu parasetamol dan koyo to the rescue. Gimana lagi. Jompo.

7- Salah Dugaan

Memang takdir nggak ada yang tau ya.

Sebelum kehamilan anak ketiga ini, saya merasa sudah masuk ke fase kehidupan yang berbeda. Mbarep dan Ragil sama-sama sudah sekolah di jenjang SD. Dua-duanya sudah masuk fase 7 tahun kedua pendidikan menurut teori parenting islami. Sudah bisa dikasih tau dan diajak ngobrol. Lebih challenging mengurusnya tapi paling nggak kami bisa cari tau maunya apa.

Kehidupan mulai berjalan teratur. Ritme pekerjaan tak semrawut dulu karena saya dan suami sudah sama-sama cukup senior di kantor dan sudah punya privilese buat mengatur ritme sendiri.

Kelahiran si Bungsu ini memang mengubah semua perspektif kehidupan. Kalau ada rezekinya, saya masih bakal melewati fase-fase yang dipikir sudah lama ditinggalkan.

Lucu memang bagaimana dalam setahun saja rencana kami berubah total. Dari mau mulai hunting tiket murah sampai sekarang jadi hunting popok murah. Dari nggak khawatir kalau anak-anak batuk pilek doang jadi kembali siaga kalau bayi ingusan. Dari mulai bisa nonton film bareng-bareng jadi kembali harus nyetel Discovery Channel Cocomelon. Dari cuma manggil Mas dan Adek jadi harus membiasakan diri manggil Mas, Kakak, Adek.

Bayi ini tak dinyana juga jadi jawaban yang tak terduga dari pertanyaan yang tersembunyi di hati kecil saya. Beberapa waktu kemarin, sebelum hamil, saya mulai mempertanyakan tujuan dari semua yang saya lakukan terutama 10 tahun kebelakang.

Tentang pekerjaan yang tak ada habisnya. To do list yang tak ada selesainya. Tentang waktu yang terus berlalu tanpa saya tau apa yang sudah saya lakukan dan manfaatnya.

Saya ingin berhenti sejenak untuk bisa berpikir, tapi tak bisa menemukan momen yang tepat. Ternyata jawaban dari Tuhan dikasih bayi, jadi tetiba dapat jatah 3 bulan mikir tanpa diganggu siapapun 🤣

Kehamilan ini juga jadi pengingat di usia tak muda lagi. Bahwa pasrah diyakini jadi kunci. Hal yang diminta dengan sungguh-sungguh hanyalah ketenangan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.

Bismillah semoga ada jalannya. Termasuk kalau jalan-jalan harus kembali bawa stroller dan sejuta kerempongan lainnya 😂

8- Salah yang Membahagiakan

Ini yang salah orang lain sih. Walaupun jadi bikin geer juga.

Entah karena tampang saya dan suami yang culun atau kami terlihat clueless. Dari kemarin bolak balik ke RS, suster dan pegawai selalu mengira Bungsu adalah anak pertama kami.

Waktu dibilang anak ketiga pasti dikira jaraknya nggak jauh-jauh sama kakak-kakaknya. Bahkan ada yang mengira kami nikah muda banget 😅

Hampir semua kaget waktu saya bilang umur saya sudah 40 tahun. APAKAH SAYA SEIMUT IMUT ITU? Kayaknya enggak deh 🤣

Ini kerutan muka apakah terlihat bagai coretan pinsil alis yang salah sasaran? Yoweslah, nggak apa dinikmati saja ya kan...dikira masih bocah 😂

Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog sekaligus catatan kelahiran si Bungsu.

Welcome, Baby G! 
Our Silver Treasure. 
The biggest surprise at the dawn of Ayah and Ibu's thirties (and the very beginning of Ibu's forties). 
The one that made Ibu halt all the plans (and ambitiousness) to rethink the purpose of her life. 
May Allah bless you with the best taqdeer, as prosperous and grandiose as your name. 
And may Allah also grant us all the sabr and calmness to "Mulai dari 0 lagi ya, Pak Bu 🤣" 
We love you to the moon and back, for all eternity 
- Ayah, Ibu, Mas, Kakak -



 

Read more ...

Saturday, June 20, 2026

Orang Tua Zaman Dulu Ngapain Sih?

Sejujurnya saya nggak ingat, waktu saya kecil Bapak Ibu saya ngapain kalau di rumah.

Saya ingat sih kadang-kadang Bapak kerja di depan komputer yang layarnya hijau, yang untuk menyalakannya masih harus ganti-ganti disket dan ketik perintah.

Ingat juga kadang-kadang Ibu memeriksa hasil ujian. Soalnya saya sering disuruh bantu koreksi kalau soalnya pilihan ganda. Pakai plastik transparan yang ditandai bulat-bulat pakai spidol.

Tapi saya nggak ingat waktu tidak ada kegiatan khusus mereka ngapain. Waktu saya main tenda-tendaan pakai semua kursi dan sprei di rumah. Atau waktu saya nonton MTV Asia Hitlist berjam jam di Sabtu siang. Atau waktu saya keasyikan baca buku-buku cerita. Atau bikin prakarya dari kardus dan berbagai bahan bekas di rumah berharap suatu saat bisa kirim ke acara Klab Disney Indonesia di Indosiar. 

Beberapa hal saya ingat tentang kegiatan orang tua saya di lingkungan rumah. 

Seperti kalau sore Ibu saya suka pergi arisan RT atau RW. Pakai baju seragam hijau dan pin PKK. Waktu dulu arisan di daerah rumah saya memang masih formal. Pakai nyanyi hymne PKK dan Indonesia Raya. Walaupun sampai sekarang saya nggak tau apa yang didiskusikan. Cuma tau kalau pulang Ibu bawa kudapan enak.

Bapak juga saya ingat suka pergi main tenis atau berenang. Kadang juga kumpul-kumpul sama tetangga buat tirakatan. Kayaknya ada saja hari yang harus diperingati dengan tirakatan. Sampai kesaktian pancasila saja harus ada kumpul-kumpulnya.

Anyway selain kegiatan-kegiatan khusus diatas, saya tetap nggak ingat Bapak Ibu saya ngapain kalau sedang lowong di rumah.

Jelas mereka nggak cuma nggletak sambil scroll tiktok seperti yang saya dan jutaan orang lainnya sekarang lakukan. Tidak juga menulis blog seperti saya kalau lagi waras. Walaupun Ibu saya menulis diary setiap hari sampai ada puluhan bukunya.

Saya juga yakin mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena dua-duanya bekerja dan ada Bibi yang membantu di rumah.

Walaupun kadang saya lihat Bapak mencuci baju karena hobinya main air, atau Ibu ngutak atik tanaman karena hobinya main tanah.

Ada sih masanya saya liat Ibu nonton Meteor Garden hampir setiap hari. Pakai VCD bajakan (tentu saja),yang disetel pakai pemutar VCD canggih pemberian Pakde saya yang bisa muat 20 disc sekaligus. Tapi itu cuma terjadi sebulan sebelum Ibu akhirnya bosan.

Mereka jelas juga tidak menghabiskan waktu mengurusi atau menemani saya dan adik saya setiap saat. Keduanya juga tidak pernah menghabiskan waktu meributkan hal-hal yang kami lakukan di rumah. Selama masih sesuai dengan norma-norma sepertinya dulu kami dibiarkan mau ngapain saja.

Seperti halnya mereka juga tidak ambil pusing kalau saya pergi keluar bermain bersama tetangga sampai magrib menjelang. Bahkan kalau malam minggu saya main bentengan di depan rumah sampai lewat jam tidur juga saya tidak pernah dtegur.

Tidak juga saya ingat pernah disuruh-suruh untuk makan, mandi, belajar. Karena saya makan, mandi, belajar sendiri.

Eh disclaimer dulu supaya tidak pada salah sangka. Walaupun sepertinya saya dibiarkan,  tapi saya tidak pernah merasa kurang perhatian.

Saya dan adik saya jelas bukan anak fatherless. Bapak saya selalu ada di semua aspek kehidupan kami paling tidak sampai dia menyerahkan tanggung jawab ke suami kami masing-masing.

Ibu saya juga bukan orang yang tidak tau apa-apa soal anak-anaknya. Anak-anaknya adalah hal penting di hidupnya, tapi hidupnya memang tidak berputar di sekeliling kami. 

Dalam artian, sampai akhir hayatnya dia tidak pernah melupakan dirinya sendiri. Jadi kegiatannya masih banyak selain mengurus kami saja.

Saya cuma nggak ingat hal sehari hari yang mereka lakukan.

Hal-hal remeh seperti nonton televisi, ngingetin anak-anak ini itu, main-main, dll.

Saya juga tidak pernah ingat orang tua saya panik karena kami main sepeda agak jauh dari jalan rumah, deg-degan karena kami masuk WC umum sendirian, atau khawatir karena kami bergaul dengan anak-anak kampung sebelah.

Di masa itu berita seram seperti Sumanto memang terasa jauh sekali, sementara sekarang sepertinya penjahat di berita ada di rumah sebelah, walaupun kejadiannya bahkan ada di pulau lain.

Memang gara-gara terbuka lebarnya kanal informasi. Membuat orang tua lebih melek tentang kewajibannya. Walaupun dengan sisi gelap, jadi jauh lebih gampang overthinking.

Gara-gara hal ini, kehidupan anak-anak saya terasa jauh dari organik. Main diatur via playdate di playground megah dalam gedung ber AC. Hobi disalurkan via les berkurikulum. Sekolah dikurasi dengan seksama yang terkontrol lingkungannya. 

Apalagi lingkungan tempat tinggal kami kebanyakan isinya lansia pensiunan. Dimana kalaupun ada anak kecil di rumah lain, masing-masing sibuk dengan urusan akademiknya. Ya sekolah full day, ikut kegiatan klub ini itu. Sudah tak ada energi untuk main bersama.

Rasa bersalah kalau nyuekin anak dan FOMO rasa takut akan masa depan sepertinya jadi pemicu orang tua sekarang lebih tidak bisa membiarkan anak-anaknya "bebas" seperti orang tua saya "membiarkan" saya tumbuh apa adanya seperti dulu.  

Karena kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama, anak-anak saya kemungkinan besar akan lebih punya ingatan apa yang ayah ibunya lakukan di rumah: nonton tayangan OTT, main game bersama, kerja di laptop, mengingatkan makan, sholat, mandi, makan, minum vitamin seperti alarm, briefing setiap pagi tentang kegiatan mereka hari itu, dll.

Hal-hal tersebut diatas konsisten kami lakukan setiap harinya. Apalagi hidup di masa sekarang ini rasanya memang seperti berputar diantara checklist dan to do list. Saking rutinnya, justru aneh kalau nggak jadi core memory.

Kasihan sih sebenarnya. Buat anak-anak zaman now, dunia nyata mereka terasa semakin sempit dengan berbagai batasan yang menghimpit. Padahal pandangannya bisa lebih luas lewat berbagai teknologi yang tersedia.

Tidak ingin jadi helicopter parent, tapi kok banyak mikirnya kalau mau jadi free range parent seperti orang tua saya dulu. 

Hal positifnya,sekarang ini komunikasi memang terasa semakin terbuka. Karena tidak seperti dulu dimana, walaupun bebas, tapi anak-anak harus nurut saja sama orang tua, sekarang anak-anak lebih bisa mengutarakan maunya apa. Debat dan kompromi adalah hal biasa.

Kalau dulu saya "dicuekin" baik-baik saja, coba kita lihat anak-anak dengan full perhatian ini jadinya bagaimana.

Jadi, orang tua zaman dulu ngapain sih kalau di rumah? Masih misteri buat saya sampai sekarang😅



Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juni dengan tema Perbedaan/Gap.
Read more ...

Wednesday, May 20, 2026

Hari Biasa Cuma Ada Tapinya

Saya dan dua orang teman anggota geng WA 3 orang sudah menyerah membuat rencana untuk bertemu langsung. Pasalnya kami, yang masing-masing bekerja dan punya anak dua, setiap punya rencana hampir pasti berakhir dengan batal.

Sementara itu rencana yang impulsif lebih ada kemungkinan jadi. Impulsifnya harus dalam hitungan menit sebelum pelaksanaan. Biasanya karena kebetulan ketemu lalu tetiba muncul agenda yang harus langsung dieksekusi tanpa ditunda.

Mungkin Tuhan tau kalau kami ketemu isinya cuma "menganalisis orang", jadi tidak dibiarkan sering-sering. 

Permasalahan ini nampaknya jadi hal umum di kalangan emak-emak. Kalau punya rencana pasti ada saja yang terjadi. Bukan hanya yang menyangkut orang lain, rencana pribadipun suka banyak penghalang.

Makanya sampai menghadapi esok haripun saya tidak berani berencana terlalu detail. Que sera-sera kalau kata lagu lama.

Walaupun tak disangkal kadang ekspektasi saya terlalu tinggi. Seperti yang terjadi di suatu hari di Bulan April 2026. Saat hujan turun seharian di kota Bandung yang kala itu sudah seperti London. 

Cuacanya sendu terus.

Pagi itu saya bangun sebelum alarm subuh berbunyi. Tumben. Sambil menunggu, saya cek HP.

Bangun pagi itu ada perasaan kurang enak melipir di hati. Tidak nampak notifikasi apa-apa di HP saya. Kecuali notifikasi kalau baterai HP tinggal 15 persen. Harusnya aman dong ya? kata saya meyakinkan diri.

Berusaha mengesampingkan perasaan galau, saya mengambil wudhu dan membangunkan suami yang harus pergi pukul 5 pagi.

Di hari itu saya harus mengikuti workshop seharian di kantor. Sementara suami harus pergi mengajar ke Cirebon. Sebetulnya tidak ada hal khusus yang harus saya siapkan untuk menghadapi hari itu.

Anak-anak punya pengaturannya sendiri untuk penjemputan di sekolah dan penjagaan saat pulang. Ada bibi pocokan (pulang pergi) juga yang membantu pekerjaan di rumah. Tugas saya tinggal antar anak-anak sekolah setelah itu menjalani hari sampai kembali lagi ke rumah.

Sebetulnya saya sudah belajar untuk tidak terlalu optimis menghadapi hari, tapi hari itu saya cukup yakin semua agenda akan berjalan tanpa suatu kendala berarti. Optimisme yang sangat tidak pada tempatnya.

Selesai sholat subuh saya beranjak menyiapkan bekal anak-anak dan sarapan. Berkutat di dapur kemudian dilanjutkan mandi dan sarapan, saya baru lihat HP lagi sekitar pukul 06.15. 

Ada 3 notifikasi pesan: penjemput anak-anak tidak bisa menjemput karena asam lambungnya kumat, Bibi izin tidak masuk karena kemarin malam jatuh terpeleset, dan pengasuh anak-anak izin baru bisa datang jam 14 karena ada acara mendadak.

Memang feeling emak tak pernah salah. Alhamdulillah perkaranya ringan. Cuma harus berpikir ekstra.

Hari yang biasa pun dalam sekejap berubah jadi tak biasa.

Dengan absennya salah 3 pilar utama keseharian saya, artinya harus ada rutin yang saya sesuaikan supaya hari itu bisa tetap berjalan. Sebetulnya kalau sudah banyak kendala dari pagi, ingin rasanya hati berbohong bilang sakit dan tinggal di rumah saja. Lelah duluan.

Tapi selain takut dosa, saya juga takut jadi sakit beneran, jadi saya beranikan diri menghadapi hari itu dengan segala kerusuhannya.

Otak saya berputar cepat, menyusun prioritas, menimbang opsi, lalu mencari dan mengkalkulasi solusi. Nah loh, kata siapa emak-emak nggak bisa berpikir teknis?

Emak adalah engineer yang sesungguhnya. Berpikir analitis, memecahkan masalah secara kreatif, dan menaruh perhatian pada detail adalah karakteristik engineer yang secara otomatis sudah terpasang di kepala seorang Emak.

Tinggal bagaimana melatih dan menggunakannya.

Karena kondisi darurat hari itu bukan yang pertama kali terjadi, otak saya secara otomatis menyusun urutan masalah untuk diselesaikan. Seperti bertanding bulu tangkis dimana setiap smash lawan yang datang harus bisa saya kembalikan.

Mencari solusi untuk anak-anak adalah yang utama. Selanjutnya menemukan cara agar tetap bisa bertanggung jawab terhadap tugas kantor yang sudah disanggupi.

Tapi karena kondisi yang tidak ideal tentu saja harus ada kompromi. Terutama dengan diri sendiri. Menerima kalau ada hal-hal diluar dua urusan di atas yang harus menunggu atau mungkin tidak akan dikerjakan sama sekali.

Menemukan serta mengejawantahkan solusi untuk anak-anak dan urusan pekerjaan menghabiskan waktu 20 menit. Pergerakan jam tentu tidak menunggu. Terlambat sudah pasti terjadi. Tapi tentu tak bisa berlama-lama kecewa, karena ada perkara pelik lain yang menunggu: menyiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah.

Membangunkan dan menyuruh Mbarep untuk bersiap sekolah tidak begitu susah. Paling banter habis tiga rengekan dan dua ancaman. Sepuluh menit cukuplah untuk dia mandi dan bersiap. 

Tapi lain lubuk lain belalang, walaupun ini lubuknya sama tapi belalang bisa bermacam-macam.

Mengurus Ragil di pagi hari adalah cobaan yang sebenarnya. Seratus ancaman tak cukup untuk menaklukannya. Bahkan tak jarang malah saya yang jadi merengek dan dia yang mengancam.

Adalah suatu konsesus di kalangan ibu-ibu, dimana semakin ibu rungsing maka semakin ajaib pula tingkah anak-anak. Hari itu Ragil memutuskan bangun sebagai kucing. Kucing lucu yang perlu dibujuk untuk mandi dan bersiap.

Saya sudah pasang setelan Pangeran Diponegoro yang tegas memimpin perang, sementara Ragil menuntut saya bicara selembut permen kapas di setiap kesempatan. Kalau nggak dia akan mogok berkegiatan.

Semua perintah harus dimulai dengan kata kunci “Kucing lucu…” yang diucapkan secara perlahan dan selembut sutera. Seperti Puteri Salju bicara dengan teman-teman kurcacinya. Sungguh ujian kesabaran untuk saya yang pagi itu maunya ngegas saja.

Setelah berjibaku dengan Ragil, baterai semangat saya tinggal setengahnya. Berkali kali memaksa diri mengelola nafas supaya tetap tenang dan nggak muntab. Tutup mata kalau persiapan anak-anak hari itu tidak paripurna. Seperti rambut Ragil yang tidak tersisir dan kaos kaki mbarep yang tidak sama warna.

Alhamdulillah keduanya utuh sampai sekolah. Walaupun muka Ragil belepotan bekas air mata karena di mobil berantem sama kakaknya.

Gelut sih lebih tepatnya.

Untung sekolahnya dekat. Cuma 10 menit dari rumah. Kalau di seberang kota kayaknya saya sudah menyerah di jalan. Mending melipir makan seblak dan goyobod sambil bikin thread tentang pertempuran Pandawa dan Kurawa.

Berhasil ikut workshop dari awal saya anggap prestasi istimewa. Apalagi masih bisa absen di nomor 5 teratas. Untung saya tinggal di Indonesia dimana jam dinding di setiap ruangan menunjukkan waktu yang berbeda. Tidak ada yang tau waktu yang sebenarnya.

Di ruangan yang dipakai workshop jamnya 15 menit lebih lambat dari jam di HP saya. Bisa memang sengaja disetel telat atau malah mungkin HP saya yang terlalu future forward.

Tak taulah, yang penting saya tak terlambat.

Keikutsertaan saya di workshop sesi pagi berjalan lancar. Anak-anak juga sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan aman.

Baru mau menyelamati diri sendiri karena berhasil melewati setengah hari dengan selamat, ada telepon dari rumah. Mbarep dan Ragil minta makan ayam goreng tepung. Saking fokusnya cuma sama jemputan doang, Emak sampai lupa soal makan siang bocah.

Dengan penuh percaya diri pesan di aplikasi pesan antar online. Sudah ditambah catatan potongannya harus paha atas dan paha bawah. Karena itu bocah berdua cuma mau makan ayam kalau potongannya paha. Potongan lainnya pasti ditolak.

Semesta bicara, yang datang dada dan sayap.

Pesan lagi di cabang yang berbeda. Lagi-lagi dada dan sayap yang datang. Begitupun dengan pesanan berikutnya. Sudah pengen ngamuk pada dunia. Bocah bolak balik telepon karena lapar, dibujuk makan yg ada juga nggak mempan.

Sampai pesan 4 kali baru dapat potongan yang betul. Gara-gara itu di rumah jadi ada 12 potong dada dan sayap tak termakan. Bisa kalau berminat mendadak bikin Rabu berkah.

Urusan makan bocah ternyata menghabiskan waktu istirahat. Nggak bisa disambi, soalnya menu makan siangnya sambal lalap yang makannya harus pakai tangan. Belum rela HP bau sambal terasi, soalnya cicilannya belum dilunasi #lah. Alhasil pilih menyelesaikan urusan perut bocah dulu sebelum perut sendiri.

Waktu istirahat yang tersisa dipakai buat sholat. Mau makan sudah nggak sempat. Akhirnya cuma mengganjal perut dengan risol sisa snack pagi. Untung sarapan telur sampai 3 butir. Cukuplah buat energi sampai sore nanti.

Alhamdulillah setelah itu tak ada kejadian berarti sampai waktunya pulang ke rumah. Kecuali lapar akut sampai perut menggeram geram. Tau gitu dari pagi sekalian qodho puasa.

Malas balik ke kantor cuma buat makan, akhirnya mojok dulu di sudut gedung buat menyantap isi nasi kotak yang sudah dingin. 

Nikmatnya nggak ketulungan.

Nggak pakai merem melek sih, cuma kayaknya khusyuk banget sampai dilirik sama mahasiswa-mahasiswa yang lewat habis kelas.

Mohon maaf suka kurang kontrol memang.

Selesai makan langsung beranjak pulang. Di jalan ditelepon-telepon lagi sama bocil, katanya rumah mati lampu.

Alamak.

Cek WAG RT ternyata betul ada pohon tumbang kena gardu listrik dekat daerah rumah.

Mana sore itu jalan ke arah rumah merah membara, kombinasi hujan yang awet dan lampu lalu lintas yang entah kenapa nampaknya memihak satu jalur saja. Perjalanan 30 menit jadi molor 90 menit.

Sampai di rumah yang gelap gulita, akhirnya secara impulsif memutuskan buat bawa anak-anak ngungsi ke mall saja sampai Bapaknya datang.

Naik Taxi karena kaki sudah terasa bak jelly setelah dipakai menyetir menembus kemacetan.

Sepanjang perjalanan, jadi wasit perdebatan sengit “Mau makan apa di Mall?”, antara Mbarep dan Ragil. Kepala sudah mulai cekot - cekot, telinga pengang. Mumet rek

Kondisi akhirnya cukup tenang setelah sampai mall lalu Mbarep dan Ragil disumpal gadget di restoran yang saya pilih. Bodo amat sama screen time. Mamak lebih perlu kewarasan.

Suami menyusul ke mall. Kami langsung pulang begitu dia datang.

Sampai di rumah, lampu sudah menyala benderang. Kontras dengan kesabaran saya yang sudah hilang bagai tertelan lubang hitam. Apalagi liat tumpukan ayam di meja makan yang masih harus dibereskan.

Setelah menyuruh anak-anak bebersih dan tidur (dengan metode VOC), akhirnya giliran saya bisa bebersih dan menggeletak di kasur (nggak jadi beberes ayam). 

Tanpa tedeng aling-aling memutuskan untuk mengambil cuti keesokan hari dengan alasan lelah hayati.

***
Dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei degan Topik Hari Biasa yang Tak Biasa. 



Read more ...

Monday, April 20, 2026

Kita Semua Kenal Tante Yuli

*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.


Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.

Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan. 

Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.
Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.

Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.

Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.

Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (💣). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.

Rangking berapa? (💣)

Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga.

Keluarga yang anaknya masuk sekolah top dan punya ranking dianggap lebih terhormat daripada keluarga yang akademiknya biasa-biasa saja.

Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.

Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Kalau kata statistik populasinya beda. Seperti membandingkan ikan air tawar dan ikan air laut. Lagian saingan rangking ini buat apa sih?

Tapi ibu anak ini tentu saja tak sependapat soal populasi. Bahkan sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".

Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah dan jadi super ramah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.

Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa. Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.

"Rangking berapa?", tanyanya.

"Tiga...", jawab saya.

"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.

"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante...dari 14 kelas. Kalau kelas aku doang sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku menyuruh diam.

Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.

Gembrot (💣💣💣💣)

Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.

Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.

Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.

Saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".

Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.

Suruh Siapa Punya Anak?! (💣💣💣💣💣)

Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".

Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF.

Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.

Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.

Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak.

Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Sekali towel pada hamil. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.

Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.

Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.

Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.

Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu. Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.

Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:

Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".

Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.

Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.

Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab: 

"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"

Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.

Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.

Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.

Antivaks ya? (💣💣💣)

Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.

Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi saya dan suami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini dan suaminya sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.

Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".

Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.

Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.”, katanya dengan khusyuk.

Setelah mendengar ceramah 5 menit yang bagaikan mendengarkan orang membacakan reels dokter di instagram, saya jadi penasaran sebab dan musabab ceramah ini apa.

Memang siapa sih yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan. Saudara saya ini menatap saya.

Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.

Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.

Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.

"Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.

Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.

Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga...”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.

Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks? Terus harus posting dimana emang sebagai tanda pro vaksin?!!”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.

Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!

D1 kan? (💣💣)

Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.

Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.

Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.

Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.

Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.

Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.

Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.

Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.

Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.

Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.

Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.

Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.

Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.

Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami. Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B: 

Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Di luar negeri lagi. Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.

Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.

***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri? 


Read more ...

Monday, March 16, 2026

Humor yang Berevolusi

Dulu saya lucu. 
Paling nggak kalau lihat tulisan blog saya dulu, saya lucu. Bahkan tulisan reflektif pun lumayan lucu.

Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.

Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya sudah mencapai financial freedom juga.

Menyesal karena tidak serius untuk lucu.

Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.

Misalnya nih waktu saya naik pesawat yang gagal take off. Apa coba yang lucu dari pesawat yang batal terbang padahal separuh badannya sudah naik? Kalau pilotnya nggak eling dan ngotot terbang mungkin saya hanya tinggal potongan berita di surat kabar.

Cuma waktu itu saya mikir kejadian tersebut lucu karena di sebelah saya ada bule yang kakinya bau. Jenis bau yang saking semerbaknya membuat kita mempertanyakan kewarasan kita sendiri.

Karena pesawat batal take off dan harus diganti, saya batal sebelahan sama dia selama 4 jam penerbangan. Lucu kan?

Pesawat baling-baling yang gagal terbang. Rute Ujung Pandang - Jayapura.


Ada lagi pengalaman saya 14 jam naik kapal ke Talaud di tengah purnama Ramadan. Gravitasi bulan membuat gelombang laut nggak ada santai santainya. Sepanjang perjalanan perahu bagai dibanting-banting. Airnya memercik membanjiri seluruh lantai kapal yang terbuka.

Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.

Tangkapan kamera laut Sulawesi malam itu

Malam itu, semua penumpang muntah. Kecuali saya dan 2 teman saya. Padahal kami orang daratan. Dimana satu-satunya pengalaman naik kapal pontang panting hanya di Kora-Kora Dufan. Ada untungnya sih pergi saat puasa. Perut hampir kosong, karena waktu buka juga nggak selera.

Plus nahan minum biar nggak buang air kecil. Males ke kamar mandinya.

Jadi mau muntah juga nggak bisa.

Ngenesnya, waktu mau sahur, ternyata burger Mc Donalds dan kentang yang kami beli basi. Seumur umur baru sekali saya ngalamin makanan cepat saji basi padahal belum ada 12 jam dibeli. Jadi burger Mc Donalds itu asli sodara-sodara, tidak seperti klaim yang bilang kalau saking banyak pengawetnya sampe bertahun-tahun juga nggak basi.

Atau udara laut Sulawesi sedemikian dahsyatnya sampai pengawet pun kalah? Atau burgernya ikut mabok laut? Entahlah.

Pokoknya gara-gara itu saya dan teman-teman nggak makan minum sama sekali lebih dari 24 jam. Hanya nelen obat anti mabok saja dengan harapan sisa perjalanan berjalan lancar.

Nekad tetap puasa.

Dulu waktu kejadian rasanya entah kenapa lucu sekali.

Saya dan teman seperjalanan tertawa sampai berlinang air mata membahasnya. Menertawakan kondisi yang ada dan pengalaman yang baru saja terlewati tanpa kurang suatu apa. Tentu saja tertawanya setelah kami semua sudah aman di daratan. Sudah makan kenyang dan bisa kembali berpikir jernih. 

Tapi setelah saya pikir-pikir sekarang, apa yang lucu coba dari pengalaman itu? Apalagi saat itu untuk pertama kalinya saya merasakan dehidrasi sampai beneran nggak bisa mikir. Temen saya bahkan sampai nggak bisa buka kunci pintu kamar di penginapan saking linglungnya. Untung nggak ada yang sampai masuk IGD.

Dulu saya nggak menuliskan pengalaman ngenesnya di blog sih, takut Ibu saya baca lalu prihatin dan sedih dengan kenekadan dan kebodohan anaknya. 

Soalnya saya sendiri sudah kebayang kalau yang cerita anak saya mungkin saya sudah ngomel panjang kali lebar kali tinggi: NGGAK USAH ANEH ANEH! KENAPA NGGAK BATALIN AJA PUASANYA?!! MAU MATI KAU?!!

Nah terlepas dari tingkat kelucuan hal yang terjadi, dulu tuh rasanya selalu ada sisi lucu dari setiap hal yang saya alami. Sekarang, walaupun hidup saya lebih lucu, tapi saya malah jadi jarang menemukan sisi lucunya.

Pertanyaannya kenapa? Kenapa sekarang kalau menghadapi kejadian lucu saya malah seringnya merasa miris?

Misalnya waktu ada mahasiswa datang ke Tata Usaha mencari helmnya yang hilang. Saat ditanya merk helmnya apa, dia bilang harus nanya Ibunya dulu karena yang beli ibunya di Shopee. 

Lawak nggak sih, anak cowok umur 20 tahun, badan tinggi besar, pakai kalung gelang rantai, sangar (not to mention so called salah satu putra putri terbaik bangsa) tapi nggak tau merk helmnya karena ibunya yang beliin di Shopee?

Tapi boro-boro menuliskan kelucuan kejadian itu, yang ada malah mengelus dada sambil bertanya-tanya "Kok bisa?" (padahal emang males nulis aja 🤪)

Kecurigaan saya, humor saya memang berkurang seiring umur karena memang begitulah wajarnya. Ya kalau lihat sekeliling, orang makin tua memang cenderung makin nggak lucu nggak sih?

Kecuali Tukul mungkin.

Tapi kan beliau juga sakit sekarang, jadi kayaknya sudah nggak sering ngelucu juga.

Atau mungkin saya sudah nggak bisa mikir lucu karena saya sudah jadi lebih bijaksana? #Ngarep 

Menilik tulisan-tulisan blog saya akhir-akhir ini serius-serius banget dah. Lebih serius dari Menteri Keuangan Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil. Padahal kan harusnya mereka yang lebih serius menghadapi ancaman kondisi geopolitik global. Kenapa malah saya yang jadi serius sementara mereka masih suka ngelawak? 

Gojeg-gojeg istilah Jawanya.

Lalu saya tanya AI (kan saya orang modern jadi nanya AI bukan rumput yang bergoyang): “Kenapa humor cenderung menurun seiring bertambahnya usia?”: Ini ringkasan jawabannya:

Ternyata ada penjelasannya saudara-saudara! Intinya orang semakin tua kebanyakan semakin nggak lucu lagi karena memang hidup membuat kita jadi lebih serius.

Evolusi humor seiring bertambahnya usia juga hal yang menarik.

Jadi sisi lucu saya tidak hilang, hanya berevolusi menjadi sesuatu yang lebih…
tidak relatable garing…

Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.

Tipe yang kalau melontarkan candaan, gen Z di sekitar ikut tertawa untuk kesopanan belaka. Sementara gen Alpha langsung bilang seadanya: “Apaan sih? Nggak lucu!”.

Dah lah..masih mending garing dari girang kan 🫠

Seperti peribahasa : Semakin berisi semakin merunduk.

Nggak nyambung ya? Biarin aja, biar lucu.

Permisi! Mau merayakan keberhasilan nggak jadi deadliners tengah malam untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini.

Minal aidzin wal faidzin!



Read more ...