Thursday, July 16, 2026

Kesalahan-Kesalahan Dalam Menemui Harta Karun Perak (No. 5 Bikin Merinding)

Tahun 2025 saya dan suami mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan perjalanan jarak jauh yang bisa dilakukan dengan anak-anak. Mengingat usia mereka sudah 8 tahun dan 6 tahun, sudah enak diajak jalan-jalan. A.k.a nggak sedikit-sedikit minta gendong.

Saya memang malas rempong orangnya. Plus kami berdua sudah lumayan puas bepergian waktu usia 20an. Jadi jalan-jalan saat anak-anak masih kecil tidak jadi prioritas.

Beberapa perjalanan dibayangkan. Dari yang sesederhana road trip ke Semarang, sampai yang ultimate mengunjungi rumah Paman dan Bude di ujung bumi bagian utara.

Diputuskan sebagai perjalanan permulaan, kami akan mengunjungi negeri sebelah. Yang ada singanya. Saya dan suami sudah pernah kesana beberapa kali jadi lumayan hafal tempatnya. Diperkirakan tidak akan overwhelmed lah intinya.

Kami pilih awal tahun 2026 sebagai waktu keberangkatan. Anak-anak masih libur, masa peak season nataru sudah terlewati, dan pekerjaan biasanya masih agak lengang.

Tiket dibeli, akomodasi disiapkan, itinerary dipikirkan. Perginya juga cuma 5 hari. Nggak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan yang pernah kami lakukan dulu. Easy peasy menurut kami.

Sampai 1 bulan sebelum keberangkatan, urusannya ternyata jadi lumayan complicated.

1- Salah Perhitungan

Menjelang tutup tahun 2025 saya dan suami sama-sama mengambil pekerjaan diluar pekerjaan utama. Pekerjaan tersebut ternyata cukup demanding. Membuat kami sangat sibuk selama 3 minggu berturut turut.

Sangat sibuk disini betul-betul rapat dan diskusi sampai tengah malam. Sudah kayak balik lagi ke zaman jadi panitia acara himpunan.

Bedanya karena sekarang sudah di penghujung usia 30an jam 10 malam sudah nggak bisa mikir. Jadi lelah lahir batin.

Di tengah-tengah kesibukan tersebut, saya menyadari kalau saya terlambat datang bulan. 

Periode datang bulan saya memang jadi teratur, semenjak 3 tahun belakangan mulai memperbaiki pola makan dan cukup rutin olahraga.

Keterlambatan tersebut saya pikir adalah tanda-tanda perimenopause. Menjelang 40 tahun, saya yang mantan pengidap pcos ini sudah bersiap kalau ternyata memasuki masa perimenopause lebih awal. Plus beberapa bulan terakhir periode datang bulan saya memendek jadi cuma 3 hari dengan output yang jauh lebih sedikit dari biasanya.

Hal itu yang membuat saya percaya diri (tepatnya menunda nunda) tidak pasang IUD lagi setelah dicopot di akhir tahun 2024. Sudah mau expired gitulah pikir saya.

Tapi karena penasaran, waktu terlambat lebih dari seminggu, akhirnya memutuskan test pack juga. Mana tau ya kan?

Secara statistik perempuan usia 39 tahun hanya punya 10% kesempatan untuk hamil secara natural selama 1 siklus menstruasi. Saya termasuk yang beruntung (?) mendapatkan kesempatan tersebut.

Hamil untuk ketiga kalinya, 8 bulan menuju usia 40 tahun.

Setelah tau hamil, bukan berarti semua komitmen bisa langsung dibatalkan. Walaupun kaget karena tetiba jadi golongan prioritas, besoknya masih harus ke Jakarta sendirian buat ikut rapat final pekerjaan. Mana rapatnya di bagian antah berantah Jakarta. Tengah malam baru bisa kembali ke Bandung.

Minggu berikutnya harus terbang ke pulau seberang karena sudah setuju jadi EO kunjungan rombongan dosen. Setelahnya janji ke anak-anak buat pergi ke negeri singa yang tentu saja tak mungkin dibatalkan.

Dengan segala kesibukan yang silih berganti, cuma bisa pasrah saja. Semoga diberi kekuatan dan nggak jadi dzolim sama jabang bayi dalam kandungan.

Karena bahkan untuk pertama kalinya saya nggak langsung lari ke dokter kandungan setelah test pack positif. Baru 3 hari setelahnya ke dokter untuk memastikan kalau betul hamil. 

Namanya mendadak hamil, tentu saja tidak ada persiapan bepergian dengan kondisi hamil muda. Mendadak jadi nggak bisa lari-lari. Mendadak nggak bisa angkat barang berat. Mendadak nggak bisa tahan laper. Mendadak emosian. Mendadak harus jadi kalem dan nggak segan minta bantuan.

Untungnya selama bepergian tidak sampai jadi drama berarti. Anak-anak dan suami cukup kooperatif. Ada sih satu dua insiden. Tapi masih bisa dimaklumi lah.

2- Salah Kaprah

Saya pikir hamil di usia tak muda lagi ini bakalan jompo banget.

Ya gimana, nggak hamil saja badan lebih sering bermasalah, apalagi hamil.

Tapi setelah dijalani, ternyata hamil di usia begini ya gitu-gitu saja rasanya haha. Jompo sih tapi tak lebih jompo dari biasanya.

Mungkin ada gunanya saya membiasakan diri minum air putih 3 liter perhari dan makan banyak protein.

Selama tiga tahun terakhir juga hasil medical check up saya bebas bintang. Jauh lebih bagus dari waktu hamil anak pertama kedua di awal 30 an.

Jadi mungkin tubuh saya jadi lebih mudah adaptasi.

Sempat sih sekali pergi ke dokter syaraf karena kumat sakit punggung. Dulu sekali pernah sakit yang mirip dan ternyata ada otot yang bengkak. Ini mirip-mirip lah diagnosanya. Tapi untung terapi 2 kali sembuh.

Sempat juga drama batpil ganti-gantian sama anak-anak. Sampai akhirnya minum antibiotik karena tenggorokan sampai meradang.

Tapi selain itu happy go lucky saja hamil yang ini.

Alhamdulillah.

3- Salah Sangka

Mendekati usia kehamilan 32 minggu, dokter saya menyarankan untuk melahirkan dengan BPJS.

Kehamilan kali ini dari awal sudah diputuskan akan diakhiri dengan operasi sesar secara elektif.

Karena sebelumnya saya dua kali melahirkan dengan sesar cito. Ditambah umur yang tak lagi muda.

Saya dan suami sempat ragu-ragu untuk mengikuti saran tersebut. Mendengar berbagai selentingan tentang pelayanan BPJS, saya takut tidak akan dapat perawatan yang optimal. Plus saya malas ribet antri-antri.

Karena di kehamilan ketiga ini kenyamanan buat saya adalah yang utama.

Sebetulnya kami dapat asuransi dari kantor juga jadi nggak begitu masalah untuk lahiran tanpa BPJS.

Nah cuma, si anak ketiga ini tidak masuk coverage asuransi kantor yang cuma menanggung 2 anak. Jadi untuk perawatan tambahan bayi (jika ada) kemungkinan kami harus merogoh kocek sendiri.

Sementara asuransi kantor ternyata bisa digunakan untuk menambah kekurangan biaya BPJS kalau kami memilih fasilitas perawatan yang tidak dicover BPJS seperti naik kelas dan tambahan prosedur ERACS.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh pihak RS kalau pelayanan BPJS dan umum tidak ada bedanya, plus tanya sana sini untuk meyakinkan diri akhirnya kami memutuskan lahiran dengan BPJS.

Ternyata nggak ribet kok mengurus BPJS. Mungkin karena RS tempat saya lahiran pro BPJS ya, jadi prosesnya lancar.

Dari faskes 1 saya langsung dapat rujukan ke faskes 2. Dimana saya bisa langsung memilih dokter kandungan saya yang adalah dokter tetap di RS tersebut. Di RS langganan saya itu, penggunaan aplikasi JKN sudah sangat dipermudah dengan mesin self check in dsb. Jadi saya tidak perlu menunggu lama saat kontrol.

Jatah kontrol kehamilan BPJS di faskes 2 cuma 3 kali termasuk lahiran. Tapi karena saya dont't mind bayar sendiri untuk kontrol diluar jatah (yang harganya juga nggak mahal) jadi nggak ada masalah berarti juga.

Proses perawatan dan administrasi dengan BPJS juga tidak ada kendala berarti. Perawat tidak membedakan saya bayar pakai jalur apa. RS dengan sigap koordinasi pembayaran dengan pihak asuransi kantor untuk selisih tagihan.

Bayi juga langsung didaftarkan jadi peserta BPJS. Jadi saat dia belum bisa pulang karena perlu fototerapi akibat bilirubin tinggi, otomatis biaya perawatannya sudah ditanggung. Kami nggak keluar uang sama sekali. Asyik juga.

Baru kali ini saya berterimakasih ke pemerintah. Setelah sekian lama kecewa. Plus hikmahnya saya janji cuma manyun 2 cm lah di masa-masa bayar pajak. Biasanya manyun 10 cm juga masih kurang rela. Membayangkan uang hasil kerja keras dipakai buat yang nggak-nggak.

4- Salah Harapan

Seperti sudah saya tulis diatas, di kehamilan ketiga ini prioritas saya adalah kenyamanan. Kalau dulu di kelahiran anak pertama saya ditungguin suami, kelahiran anak kedua ditungguin saudara dekat, kelahiran anak ketiga ini saya pilih ditungguin oleh caregiver profesional.

Bukan apa-apa, suami sudah sama jomponya dengan saya. Kalau kami sama-sama begadang terus besoknya sama-sama cranky kan gawat. Haha. Sementara itu di umur segini (yang makin introvert) saudara dekat yang saya nyaman mintai tolong paling cuma adik saya.

Hanya saja setelah didiskusikan, dia mending bantu ngasuh anak-anak di rumah bareng anak-anak dia yang sama-sama sedang liburan. Soalnya adik saya ini lebih ngantukan dari saya. Nanti cuma pindah tidur doang kalau nungguin di RS 😆

Harapan saya dengan caregiver profesional ada yang siaga sepanjang malam saat bayi sudah room in. Minimal angkat junjung bayi dan ganti popok. Karena dari pengalaman saya paling repot adalah malam setelah operasi dimana saya belum bisa gerak banyak sementara bayi sudah ditaruh di kamar.

Ternyata kenyataan yang saya dapati melebih harapan. Caregiver yang saya sewa perhatiannya luar biasa. Sampai hal-hal yang tidak saya minta juga dikerjakan. Seperti memanggilkan suster saat saya mengeluh kesakitan atau infus habis, membelikan saya minuman kesukaan dari mini market, menunggu gojek yang mengantar barang ketinggalan dsb.

Selain itu dia juga menemani bayi tidur sambil memastikan saya bisa istirahat total diantara waktu bayi menyusu. Biayanya memang lumayan. Tapi worth it banget lah.

5- Salah Waktu

Perbedaan sesar secara cito dan elektif tentu saja ada di persiapannya. Sesar cito selalu dimulai dengan kunjungan ke UGD.

Waktu lahiran mbarep saya ke UGD karena pendarahan. Sebelum akhirnya sesar, saya diinduksi dua kali selama dua hari berturut-turut dimana dua duanya nggak mempan.

Sementara waktu Ragil, saya ke UGD di usia kandungan 41 minggu. Masih tidak ada kontraksi tapi pergerakan bayi sudah berhenti selama lebih dari 8 jam. Alhasil di kedua operasi itu isinya lari-lari. Pali-pali kalau kata orang Korea.

Di kedua operasi itu juga saya sama sekali nggak tenang karena merasa belum siap. Walaupun saat Ragil masih mendingan, koper RS sudah siap, sementara waktu Mbarep bahkan baju-bajunya baru selesai dicuci. Nasib lahir jauh lebih awal dari perkiraan.

Kehamilan kali ini saya sudah dapat tanggal operasi 2 minggu sebelumnya. Bisa siap-siap dengan lebih santai. Saking santainya sampai hari H masuk RS (hari kedua cuti) masih mengerjakan pekerjaan kantor.

Masuk RS kamar sudah ready. Jadwal puasa, obat, dan persiapan lainnya juga sudah tertata rapi. Janin dipantau berkala tanpa degdegan. Santai banget lah.

Masalah muncul justru di hari H operasi.

Saya sudah dijadwalkan masuk ruang operasi pukul 10 pagi. Sebelum jam 10 ada jadwal suntik obat dan mandi pakai cairan antiseptik.

Jam 7.30 saya mandi keramas, karena berdasarkan pengalaman lampau baru bisa keramas lagi beberapa hari setelah operasi. Dalam hitungan saya, setelah mandi bisa mengeringkan rambut dulu, sisiran atau apalah biar tampang agak mbejaji.

Eh baru setengah jalan keramas pintu kamar mandi digedor.

Dokter obgyn saya sendiri yang datang mengabari kalau operasi saya dimajukan jadi jam 08.00.

Terpaksa mandi bebek. Masih untung ingat sikat gigi. Alhasil saya didorong ke ruang operasi dengan kondisi rambut masih basah dan acak-acakan. Disini saya bersyukur bukan artis dan nggak nyewa fotografer momen lahiran.

Untung dokter dan perawat nggak ada yang masalah saya mandi nggak bersih-bersih amat. Jadi operasi juga berjalan tanpa kendala.

Cuma saya kena goda suster-suster di ruang persiapan dan ruang operasi. Nggak selesai nyalon katanya.

6- Salah Perkiraan

Dari dua operasi sesar yang saya jalani sebelumnya, saya tidak merasakan sakit yang cukup berarti. Toleransi rasa sakit saya memang agak diatas rata-rata, jadi nyeri-nyeri sedikit tidak masalah.

Di sesar pertama, dalam 18 jam saya sudah bisa jalan biasa kesana kemari. Saat sesar kedua saya pakai metode ERACS yang waktu itu masih tergolong baru. Karena manajemen rasa sakit yan g lebih efisien,  6 jam setelah operasi saya sudah bisa duduk sendiri.

Untuk sesar ketiga dokter saya sudah memperingatkan kalau rasanya akan jauh lebih sakit dari yang sebelumnya. Walaupun saya pakai ERACS lagi.

Saya pikir, sakitnya bakalan lebih banyak bersumber di luka operasi yang lebih nyeri. Secara buat ketiga kalinya dibedah di tempat yang sama.

Ternyata, tak diduga tak dinyana, yang bikin saya nggak bisa tidur semalaman justru masalah goyoken. Alias pegal punggung dan pinggang. Terutama pinggang bagian bawah yang terdampak kontraksi.

Aseli. Saya baru berasa faktor U disini. Sampai tensi saya naik ke angka 150. Tanda tubuh saya menahan sakit. Jompo abis.

Untuk pertama kalinya saya sampai minta obat pereda sakit tambahan dan sampai 24 jam pasca operasi saya masih kesulitan tidur miring dan berdiri. Hingga saya (dengan agak merasa bersalah tentu saja) sedikit lega waktu bayi harus disinar. Nggak sanggup kayaknya langsung pulang dan menyusui seperti biasa. Ngilu banget.

Kayaknya ini memang masalah core tubuh yang tidak terbangun dengan baik. Jadi saat ada trauma langsung roboh pertahanannya. Luka operasinya sendiri malah sakitnya gitu-gitu saja. Nggak sakit malah kecuali di bagian simpul jahitan yang agak nyut-nyutan kalau saya gerak terlalu heboh.

Sisanya mati rasa sampai lama karena anestesi Tap Block bagian dari ERACS.

Sampai sekarang juga masih suka ngilu-ngilu tulang. Kalau sudah begitu parasetamol dan koyo to the rescue. Gimana lagi. Jompo.

7- Salah Dugaan

Memang takdir nggak ada yang tau ya.

Sebelum kehamilan anak ketiga ini, saya merasa sudah masuk ke fase kehidupan yang berbeda. Mbarep dan Ragil sama-sama sudah sekolah di jenjang SD. Dua-duanya sudah masuk fase 7 tahun kedua pendidikan menurut teori parenting islami. Sudah bisa dikasih tau dan diajak ngobrol. Lebih challenging mengurusnya tapi paling nggak kami bisa cari tau maunya apa.

Kehidupan mulai berjalan teratur. Ritme pekerjaan tak semrawut dulu karena saya dan suami sudah sama-sama cukup senior di kantor dan sudah punya privilese buat mengatur ritme sendiri.

Kelahiran si Bungsu ini memang mengubah semua perspektif kehidupan. Kalau ada rezekinya, saya masih bakal melewati fase-fase yang dipikir sudah lama ditinggalkan.

Lucu memang bagaimana dalam setahun saja rencana kami berubah total. Dari mau mulai hunting tiket murah sampai sekarang jadi hunting popok murah. Dari nggak khawatir kalau anak-anak batuk pilek doang jadi kembali siaga kalau bayi ingusan. Dari mulai bisa nonton film bareng-bareng jadi kembali harus nyetel Discovery Channel Cocomelon. Dari cuma manggil Mas dan Adek jadi harus membiasakan diri manggil Mas, Kakak, Adek.

Bayi ini tak dinyana juga jadi jawaban yang tak terduga dari pertanyaan hati kecil saya. Beberapa waktu kemarin, sebelum hamil, saya mulai mempertanyakan tujuan dari semua yang saya lakukan terutama 10 tahun kebelakang.

Tentang pekerjaan yang tak ada habisnya. To do list yang tak ada selesainya. Tentang waktu yang terus berlalu tanpa saya tau apa yang sudah saya lakukan dan manfaatnya.

Saya ingin berhenti sejenak untuk bisa berpikir, tapi tak bisa menemukan momen yang tepat. Ternyata jawaban dari Tuhan dikasih bayi, jadi tetiba dapat jatah 3 bulan mikir tanpa diganggu siapapun 🤣

Kehamilan ini juga jadi pengingat di usia tak muda lagi. Bahwa pasrah diyakini jadi kunci. Hal yang diminta dengan sungguh-sungguh hanyalah ketenangan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.

Bismillah semoga ada jalannya. Termasuk kalau jalan-jalan harus kembali bawa stroller dan sejuta kerempongan lainnya 😂

8- Salah yang Membahagiakan

Ini yang salah orang lain sih. Walaupun jadi bikin geer juga.

Entah karena tampang saya dan suami yang culun atau kami terlihat clueless. Dari kemarin bolak balik ke RS suster dan pegawai selalu mengira Bungsu anak pertama kami.

Waktu dibilang anak ketiga pasti dikira jaraknya nggak jauh-jauh sama kakak-kakaknya. Bahkan ada yang mengira kami nikah muda banget 😅

Hampir semua kaget waktu saya bilang umur saya sudah 40 tahun. APAKAH SAYA SEIMUT IMUT ITU? Kayaknya enggak deh 🤣

Ini kerutan muka apakah terlihat bagai coretan pinsil alis yang salah sasaran? Yoweslah, nggak apa dinikmati saja ya kan...dikira masih bocah 😂

Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog sekaligus catatan kelahiran si Bungsu.

Welcome, Baby G! 
Our Silver Treasure. 
The biggest surprise at the dawn of Ayah and Ibu's thirties (and the very beginning of Ibu's forties). 
The one that made Ibu halt all the plans (and ambitiousness) to rethink the purpose of her life. 
May Allah bless you with the best taqdeer, as prosperous and grandiose as your name. 
And may Allah also grant us all the sabr and calmness to "Mulai dari 0 lagi ya, Pak Bu 🤣" 
We love you to the moon and back, for all eternity 
- Ayah, Ibu, Mas, Kakak -



 

No comments:

Post a Comment