Saturday, June 20, 2026

Orang Tua Zaman Dulu Ngapain Sih?

Sejujurnya saya nggak ingat, waktu saya kecil Bapak Ibu saya ngapain kalau di rumah.

Saya ingat sih kadang-kadang Bapak kerja di depan komputer yang layarnya hijau, yang untuk menyalakannya masih harus ganti-ganti disket dan ketik perintah.

Ingat juga kadang-kadang bu memeriksa hasil ujian. Soalnya saya sering disuruh bantu koreksi kalau soalnya pilihan ganda. Pakai plastik transparan yang ditandai bulat-bulat pakai spidol.

Tapi saya nggak ingat waktu tidak ada kegiatan khusus mereka ngapain. Waktu saya main tenda-tendaan pakai semua kursi dan sprei di rumah. Atau waktu saya nonton MTV Asia Hitlist berjam jam di Sabtu siang. Atau waktu saya keasyikan baca buku-buku cerita. Atau bikin prakarya dari kardus dan berbagai bahan bekas di rumah berharap suatu saat bisa kirim ke acara Klab Disney Indonesia di Indosiar. 

Saya nggak ingat orang tua saya ngapain di waktu luangnya. Kalau sore sih Ibu saya suka pergi arisan RT atau RW. Pakai baju seragam hijau dan pin PKK. Waktu dulu arisan di daerah rumah saya memang masih formal. Pakai nyanyi hymne PKK dan Indonesia Raya. Walaupun sampai sekarang saya nggak tau apa yang didiskusikan. Cuma tau kalau pulang Ibu bawa kue kue enak.

Bapak sih saya ingat suka pergi main tenis atau berenang. Kadang juga kumpul-kumpul sama tetangga buat tirakatan. Kayaknya ada saja hari yang harus diperingati dengan tirakatan. Sampai kesaktian pancasila saja harus ada kumpul-kumpulnya.

Anyway selain kegiatan-kegiatan khusus diatas saya tetap nggak ingat Bapak Ibu saya ngapain kalau di rumah.

Jelas mereka nggak cuma nggletak sambil scroll tiktok seperti yang saya dan jutaan orang lainnya lakukan. Tidak juga menulis blog seperti saya kalau lagi waras. Walaupun Ibu saya menulis diary setiap hari sampai ada puluhan bukunya.

Saya juga yakin mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena dua-duanya bekerja dan ada Bibi yang membantu di rumah.

Walaupun kadang saya lihat Bapak mencuci baju karena hobinya main air, atau Ibu ngutak atik tanaman karena hobinya main tanah.

Ada sih masanya saya liat Ibu nonton Meteor Garden hampir setiap hari. Pakai VCD bajakan (tentu saja) yang disetel pakai pemutar VCD canggih pemberian Pakde saya yang bisa muat 20 disc sekaligus. Tapi itu cuma terjadi sebulan sebelum Ibu akhirnya bosan.

Mereka jelas juga tidak menghabiskan waktu mengurusi atau menemani saya dan adik saya setiap saat. Keduanya juga tidak pernah meributkan hal-hal yang kami lakukan di rumah. Selama masih sesuai norma-norma tentu saja.

Mereka juga tidak ambil pusing kalau saya pergi keluar bermain bersama tetangga sampai magrib menjelang. Bahkan kalau malam minggu saya main bentengan di depan rumah sampai lewat jam tidur juga saya tidak pernah dtegur.

Saya juga tidak ingat pernah disuruh-suruh untuk makan, mandi, belajar. Karena saya makan, mandi, belajar sendiri.

Eh disclaimer dulu supaya tidak pada salah sangka. Walaupun sepertinya saya dibiarkan,  tapi saya tidak pernah merasa kurang perhatian.

Saya dan adik saya jelas bukan anak fatherless. Bapak saya selalu ada di semua aspek kehidupan kami paling tidak sampai dia menyerahkan tanggung jawab ke suami kami masing-masing.

Ibu saya juga bukan orang yang tidak tau apa-apa soal anak-anaknya. Anak-anaknya adalah hal penting di hidupnya, tapi hidupnya memang tidak berputar di sekeliling kami. 

Dalam artian, sampai akhir hayatnya dia tidak pernah melupakan dirinya sendiri. Jadi kegiatannya masih banyak selain mengurus kami saja.

Saya cuma nggak ingat hal sehari hari yang mereka lakukan.

Hal-hal remeh seperti nonton televisi, ngingetin anak-anak ini itu, main-main, dll.

Saya juga tidak pernah ingat orang tua saya panik karena kami main sepeda agak jauh dari jalan rumah, deg-degan karena kami masuk WC umum sendirian, atau khawatir karena kami bergaul dengan anak-anak kampung sebelah.

Di masa itu berita seram seperti Sumanto memang terasa jauh sekali, sementara sekarang  sepertinya penjahat di berita ada di rumah sebelah,  walaupun kejadiannya bahkan ada di pulau lain.

Memang gara-gara terbuka lebarnya kanal informasi. Membuat orang tua lebih melek tentang kewajibannya. Walaupun dengan sisi gelap, jadi jauh lebih gampang overthinking.

Gara-gara hal ini, kehidupan anak-anak saya terasa jauh dari organik. Main diatur via playdate di playground megah dalam gedung ber AC. Hobi disalurkan via les dengan kurikulum. Sekolah dipilih dengan seksama yang terkontrol lingkungannya.

Anak-anak saya kemungkinan besar akan lebih punya ingatan apa yang ayah ibunya lakukan di rumah: nonton drakor sambil nggletak, main game, kerja di laptop, mengingatkan makan, sholat, mandi, makan, minum vitamin, briefing setiap pagi tentang kegiatan mereka hari itu, dll.

Karena hal-hal tersebut yang konsisten kami lakukan setiap hari. Justru aneh kalau nggak jadi core memory.

Kasihan sih sebenarnya. Buat anak-anak zaman now, dunia nyata mereka rasanya memang semakin sempit dengan berbagai batasan yang menghimpit.

Tidak ingin jadi helicopter parent, tapi kok nggak sampai hati jadi free range parent. Seperti kebanyakan millenials berorang tuakan boomers.

Hal positifnya komunikasi memang terasa semakin terbuka. Karena tidak seperti dulu dimana anak-anak harus nurut saja sama orang tua. Sekarang anak-anak lebih bisa mengutarakan maunya apa. Debat adalah hal biasa.

Kalau dulu saya "dicuekin" baik-baik saja, coba kita lihat ini anak-anak jadinya gimana.

Jadi, orang tua zaman dulu ngapain sih kalau di rumah? 😅




Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juni dengan tema Perbedaan/Gap.

No comments:

Post a Comment