Kisah Bapak-Bapak Supir

Pekerjaan saya, terkadang mengharuskan kan saya berpergian ke luar kota, tidak hanya di pulau Jawa, bahkan sampai ke seluruh penjuru Indonesia. Selama perjalanan-perjalanan itu, saya banyak bertemu bermacam orang yang menjadi supir saya. Ada yang aneh, ada yang nyebelin, ada yang lucu, ada yang sampai sekarang saya gak ngerti maunya apa. Saya sudah pernah bercerita mengenai Pak Aam dari Banjarmasin yang senang mendengarkan ST 12 dan ridho rhoma disini, dan Wayan dari Bali yang berbakat jadi sejarawan dan filsuf disini. Selain mereka berdua, masih banyak lagi cerita-cerita menarik mengenai supir-supir saya yang lain. Kayaknya bentar lagi saya bisa bikin buku kumpulan kisah supir-supir deh. Hahah. Ini saya kasih tahu deh beberapa ceritanya: 

Pak Khaidir dari Aceh: Pertama kali saya harus ke NAD, bapak Khaidir bertugas menjadi supir saya. Perawakannya tinggi besar, seperti orang arab. Kalau di film film bule dia cocok jadi mafia. Dengan kumis tebal dan tampang garang. Dia supir sekaligus body guard bapak miliarder yang pernah saya ceritakan. Bercerita bahwa dia selamat dari tsunami karena waktu itu sedang mengantar barang ke pesisir timur Aceh. Untuk pertama kalinya saya banyak diam dalam perjalanan. Karena ngeri. Sungguh, belum pernah disupirin mafia kan? Pasti bikin terdiam seketika. Ampuh.Ampuh. 

Pak Nasrudin dari Riau Kalau saya ke Pekanbaru pasti saya disupirin bapak nasrudin, orangnya tambun, tidak banyak bicara maupun bergerak. Dia baik hati, tapi ada satu yang bikin saya tidak tahan, bapak ini bau badan (maaf loh). Bukannya saya tidak berperikebaubadanan yah. Tapi untuk berada seharian di mobil ber Ac dengan orang yang bau badan, cukup bikin saya pengen minum bodrek satu kaplet sekaligus karena pusing. Triknya, kalau ke Riau sekarang saya bawa pengharum mobil. Kalau beruntung bau mobil jadi agak netral, kalau tidak beruntung si bau mobil jadi campuran bau wangi dan bau badan. Bikin saya pengen minum bodrek plus antimo sekaligus. Yadayadayada. 

Bapak Iton dari Palangkaraya Wajahnya mirip Arnold Schwarzenegger di film terminator, lengkap dengan codet di pipi. Untung badannya gak segede si bapak Arnold, kalau engga saya udah kabur duluan mungkin. Orangnya tidak banyak bicara, tidak bicara malah. Cuma mengangguk dan menggeleng, dan memberikan isyarat tangan. Kadang-kadang kalau saya bicara dengannya saya jadi terlihat seperti sedang maen tebak film. Tapi tanpa ketawa-ketawa. Karena ngeri. Kedua tangannya penuh dengan Tatto, mungkin badannya juga. Kalau pak Khaidir seperti mafia, bapak ini seperti pemeran ninja penjahat di last samurai. Mengerikan. Untuk kedua kalinya saya diam di perjalanan, memegang erat Handphone, dan memperhatikan peta dengan seksama, siapa tahu saya dijebak, terus diculik, walaupun saya sangsi ada yang berminat menculik saya. Ya pokoknya Hiiiiii....

Bapak Masrun dari Surabaya Bapak ini medok, khas orang Jawa timur. Kesukaannya? Ikut nimbrung percakapan yang sedang saya dan teman saya lakukan. Menyumbangkan komentar polos walaupun sering gak nyambung. Contohnya:
Teman Saya : "Nyebelin banget sih tadi si Lion, masa delay ampe empat jam ampun – ampunan deh, ntar baliknya naek Garuda ajalah.." Pak Masrun : "Iya mbak, sampeyan pulangnya mendingan naek Garuda, kantornya deket lo mbak sama hotel,tempat mbak nginep, jadi naeknya gampang..." Saya dan teman saya (batuk - batuk, menyamarkan ketawa tak tertahankan)
Emang ente pikir bis kota, bisa naek di agen. Hahah. 

Pak Ali dari Lombok Kata teman saya, dia genteng kayak Dustin Hoffman, menurut saya dia biasa-biasa aja gak ada dustin hoffman – dustin hoffmannya. Bapak ini seluruh hidupnya sepertinya didedikasikan untuk isterinya, yang olehnya disebut nyai. Berbagai kisah mengenai bagaimana dia mendapatkan nyai, bagaimana mereka berjuang untuk menikah dengan tetangan dari seluruh keluarga nyai, bagaimana dia sekarang berjuang untuk membahagiakan nyainya, di ceritakan sepanjang perjalanan saya di Lombok. Lengkap dengan soundtracknya (Album Tracy Chapmann). Kalau saya catat kisahnya, kayaknya saya bisa bikin cerita bersambung di koran selama setahun penuh.Lengkap dengan soundtracknya. 

Pak Mustofa dari Makassar Berkumis tebal, berperawakan tinggi kurus, Pak Mustofa tipikal pria sederhana.Mengaku tidak suka makan-makanan yang dia anggap mewah, jadi sering protes-protes kalau saya dan teman saya pergi makan di temat yang agak mahal dan mengajaknya ikut makan. Bisa dimengerti sih, mungkin uang Rp. 100.000 yang kami keluarkan untuk sekali makan bertiga, cukup untuk makan bapak Mustofa sekeluarga selama seminggu. Selain sederhana, pak Mustofa juga orangnya gak enakan : kami telat makan gara-gara macet dia merasa gak enak, kami gak kebagian hotel dia merasa gak enak, saya manyun karena berantem ama pacar saya dia merasa gak enak, klien yang saya temui nyebelin dia merasa gak enak. Kayaknya kalau saya cerita genteng rumah tetangga saya bocor ampe rumahnya kebanjiran, pasti pak Mustofa juga merasa tidak enak sama saya. Yadayadayada. Saya sampai repot sendiri menjelaskan bahwa yang terjadi ya emang sudah takdir, bukan salah dia. Bener – bener.

Pak Daud dari Berau Bapak supir ini perawakannya juga mengerikan. Kalau Pak Iton punya codet di pipi, Bapak Daud ini punya codet di seluruh mukanya. Lagian badannya tinggi besar bukan kepalang. Tapi eh tetapi berbeda dengan bapak Iton yang pendiam, Pak Daud ini cerewetnya minta ampun. Kesukaannya curhat. Curhat mengenai bapaknya yang kawin lagi, kemudian meninggal karena tabrakan saat mabuk, perebutan harta keluarganya, kisah pelariannya dari sulawesi ke kalimantan, sampai kisah dia mengganti ban truk yang bocor ditengah jalan, sendirian. Dia mulai curhat dari menit ke 14 saya mengenalnya. Saya disetirin Pak Daud selama kurang lebih enam jam. Dan selama enam jam saya mungkin sudah bisa mebuat script sinetron untuk 257 episode. Kalau dibandingkan dengan kisah Pak Daud, cerita di sinetron - sinetron indonesia, terdengar amat sangat kekanak-kanakan. Walaupun mungkin genrenya sama. Melodrama. Geleng-geleng.

4 comments

  1. Denzel Washington, tu.. bukan Dustin Hoffman.. hehehe..

    ReplyDelete
  2. Gila, Tu!
    Kenalan supir lo taraf Nusantara. Wedyan~

    ReplyDelete
  3. Wakakakaka.. as always gw selalu ngakak setiap baca postingan lo tu :))

    ReplyDelete
  4. @ Mona: hoh... betul juga pantesan ada yang aneh pas nulis dustin hoffman... hehehe...
    @ Ika : Hooh...coba gue beni and mice...bisa bikin komik supir hihihi
    @ Ayu : Kayaknya emang gue bisa jadi pelawak...hehe...ntarlah kalo menemui jalan buntu *ceilaaaahhhhh...

    ReplyDelete