Sunday, November 30, 2025

Firasat atau Indera Keenam

Waktu saya kecil, saya memperhatikan Ibu saya seperti punya indera keenam. Dia bisa tau apa yang terjadi bahkan sebelum kejadian itu terjadi. Misalnya saat pusing tidak punya uang untuk suatu keperluan, dia akan tetiba sumringah sambil berkata : “Tunggu ya, sebentar lagi uangnya ada”. Kemudian besok atau lusa keperluan mendadak tersebut sudah bisa dipenuhi.

Kalau hal itu terjadi di zaman sekarang mungkin saya akan curiga Ibu saya pinjam ke tukang kredit online. Tapi karena sampai Ibu saya meninggal tidak pernah ada yang menagih hutang baik ke Bapak, saya, maupun adik saya, maka mari kita simpulkan saja bahwa Ibu saya punya memang punya firasat yang kuat.

Ada lagi kejadian ketika suatu hari, Ibu saya, dengan berseri-berseri berkata bahwa saya sudah diterima di ITB, padahal saat itu kalau tidak salah pengumuman masih sekitar 3 hari lagi. Semua orang masih deg-degan tapi Ibu saya sudah merasa lega. Ketika pengumuman sesungguhnya muncul, dan saya benar-benar dinyatakan diterima di ITB, Ibu saya bilang: “ya kan, Ibu sudah tau”.

Ibu saya juga selalu tau apa yang akan terjadi kepada orang, padahal baru kenal. Misalnya ada guru baru di sekolah tempatnya mengajar. Ibu saya bilang guru baru ini nampaknya menyimpan sesuatu cuma dia tidak tau apa. Beberapa bulan kemudian ketauan kalau guru ini ternyata sudah bercerai tapi dia tak melaporkan ke dinas agar masih bisa dapat tunjangan suami.

Sampai sekarang saya tidak pernah tau kenapa Ibu saya bisa tau. Mungkin dia sebetulnya ahli probabilitas dan sudah menghitung semua kemungkinan berdasarkan fakta dan data yang ada. Masalahnya kan itu tahun 2000-an awal, fakta dan data yang bisa dapat hanya dari koran Kompas dan Suara Merdeka yang kami langgan. Ada sih internet yang modemnya masih bunyi bip-bip-bip dan selalu bikin Bapak rungsing kalau digunakan karena ngefek ke tagihan telepon.

Cuma kayaknya Ibu saya nggak secanggih itu. Apa saja yang nggak tau? jangan-jangan dulu dia adalah agen BIN yang menyamar jadi Ibu-Ibu dan guru?

Anyhow, ketika saya sudah jadi Ibu-Ibu, sepertinya saya juga menuruni bakat Ibu. Entah bakat atau keberuntungan ya. Pokoknya masih di luar nalar. Ini saya ceritakan beberapa diantaranya.

Seringkali saya tau akan berurusan dengan suatu hal, padahal belum terjadi.

Misalnya saat macet di jalan, mata saya terpaku pada tempat service AC mobil, yang baru saya sadari lokasinya dekat dengan sekolah bocah. Tempat service AC itu tidak mencolok, tulisannya pun kecil sekali. Cuma entah kenapa saya memperhatikannya.

Waktu jemput bocah, tetiba ada Ibu murid yang kebingungan karena AC mobilnya rusak. Cuma kalau dia mau ke tempat langganannya jauh dari sekolah, mana harus lewat tol pula. Nggak sanggup dia harus kesana tanpa AC soalnya bawa bayi.

Seperti ada bola lampu menyala di kepala. Saya bilang ada tukang service AC di dekat sekolah. Tadi saya lihat papannya. Ibu itupun langsung menuju kesana. Sorenya dia mengirimkan WA mengucapkan terima kasih atas info yang saya berikan.

Kejadian-kejadian seperti itu jamak terjadi. Seperti saat saya tanpa sengaja memperhatikan papan warung penjual sambal tumpang di jalan yang saya lewati, lalu besoknya ada bude yang bilang ngidam sambal tumpang.

Atau ketika saya memperhatikan papan sebuah perusahaan produsen sepatu lalu beberapa hari kemudian ada dosen yang cerita kalau dia sedang cari perusahaan sepatu untuk objek penelitiannya. 

Kadang tidak hanya papan penunjuk bisnis. Iklan di internet atau bahkan acara televisi lokal juga bisa jadi kebetulan. Saking canggihnya teknologi saat ini, algoritma memang bisa muncul ketika kita membicarakan atau bahkan sesederhana memikirkan suatu hal. Jadi saya tidak begitu heran untuk iklan internet. Cuma acara televisi kan tidak bisa kita atur ya.

Maka ketika saya bisa memberitahu tante saya tentang pembuat taman vertikal yang entah kenapa saya tonton wawancaranya saat muncul di televisi, atau ketika saya klik info lebih lanjut tentang Corfu yang muncul di wallpaper live komputer kantor saya, kemudian beberapa hari kemudian tanpa sengaja bertemu kenalan baru yang baru pulang dari Corfu, saya merasa hal-hal tersebut sudah di luar nalar.

Seringkali Seperti Semesta Membantu Saya Memahami Sesuatu

Sebagai sampingan, kadang saya membantu dosen untuk melakukan kajian. Karena basic bidang kami di Teknik Industri, kajian yang dilaksanakan topiknya bisa bermacam-macam. Dari yang nyambung hingga tak nyambung. Dari yang familiar hingga yang awam.

Kalau saya sedang disuruh belajar sesuatu, seringkali seperti semesta memberikan informasi dari lokasi tak terduga.

Seperti misalnya saat saya tetiba harus belajar mengenai struktur rangka baja tahan gempa. Setelah mencoba membaca berbagai materi di internet lalu sedang bingung mau bertanya pada siapa, tetiba ada permintaan dari dosen untuk mengundang dosen tamu yang ternyata peneliti struktur bangunan untuk gempa. Saya bisa sit in di kelasnya.

Kemudian beberapa hari setelahnya ndilalah saya diundang ke orasi guru besar yang salah satunya ternyata mengenai inovasi struktur baja tahan gempa. Di salah satu slide yang ditampilkan ada penjelasan mengenai hal-hal yang jadi pertanyaan saya.

Lebih kebetulan lagi saat saya menyelamati salah seorang saudara jauh yang baru saja punya cucu, tetiba dari obrolan saya dapat info kalau menantunya sedang S3 dengan bidang struktur bangunan baja dan saya tentu saja diperbolehkan kontak dia untuk tanya-tanya.

Paling ultimate adalah beberapa saat kemudian saya diajak untuk ikut kunjungan lapangan ke perusahaan yang sedang mengembangkan produk baja tahan gempa. Padahal saya tidak pernah diajak kunjungan lapangan. Plus yang mengajak ini tidak punya kaitan dengan kajian yang saya sedang terlibat di dalamnya.

Hal seperti ini tidak sekali dua kali terjadi di hidup saya. Dari pertama saya bekerja sampai sekarang. Kalau bukan diluar nalar, apa dong namanya?

Tau cerita lengkap padahal nggak nyari-nyari.

Entah kenapa orang banyak yang suka tiba-tiba cerita apapun sama saya. Padahal saya nggak nanya. Mungkin tampang saya memang curhatable. Atau saya memang enak diajak ngobrol. Entahlah.

Jadi bisa nih saya lagi asyik membuat surat permohonan penebangan pohon, tetiba ada si A yang datang lalu curhat tentang kambing yang dia pelihara susah melahirkan. Hal-hal nggak nyambung gitu lah.

Tapi seperti pepatah ada hikmah di setiap kejadian, biasanya nanti saya akan mendapatkan perspektif lain mengenai cerita yang disampaikan ke saya.

Misal soal kambing melahirkan itu, biasanya nanti ada yang curhat lagi ke saya, kenapa si A keliatan murung sekali, jadi suasananya nggak enak setiap ketemu. Nah saya jadi bisa bilang kalau si A kambingnya lagi susah melahirkan makanya dia jadi nggak mood ngobrol.

Akhirnya orang yang nanya dapat pencerahan. Karena hal-hal ini di kantor saya malah jadi semacam hub gosip. Sampai-sampai tiap saya ketemu orang-orang yang ditanya pertama kali: “ada gosip apa?”. Harus haha atau huhu ini sodara-sodara?.

Cuma karena saya dapat ceritanya langsung dari asalnya, nggak gosip gosip amatlah (pembenaran).

Cukup bisa membaca orang

Tapi seperti Ibu saya, ternyata saya juga cukup mahir membaca “orang”. Saya bisa tau mana orang yang tulus, mana yang manipulatif, mana yang beneran baik, mana yang cuma pura-pura. Apakah pengetahuan itu berguna bagi saya? Nggak juga sih, soalnya ke semua orang (kecuali beberapa orang terdekat), saya biasa saja.

Nggak pernah terlalu dimasukkan ke hati.

Saya bahkan pernah menggagalkan percobaan penipuan oleh orang yang berusaha menjual rumah mertua saya dengan harga sangat murah dibawah harga pasar. Hanya karena saya lihat orangnya "berperilaku aneh". Berbagai kejadian sebelumnya, seperti mengurus penjualan rumah waris orang tua saya dan mengobrol dengan teman yang punya start up jual beli rumah, membuat saya yakin bahwa saya memang "dipersiapkan" untuk menggagalkan penipuan tersebut.

Terkait hal ini suami saya sering mengingatkan supaya saya nggak terlalu sering suudzon sama orang. Kadang memang beda-beda tipis sih antara curiga berlebihan dan memang benar-benar punya feeling mengenai seseorang. Haha.

Lalu seperti ibu saya, feeling saya ternyata juga kuat soal persoalan hidup. Jadi misalnya saya sedang mengalami kesusahan apapun. Kalau hati saya rasanya nggak enak banget dan suasana di sekitar saya jadi terasa remang-remang, biasanya masalah itu cukup berat dan perlu kesabaran extra. Tapi kalau hati saya plong dan pikiran saya masih tetap jernih, dalam waktu dekat selalu ada jalan keluar untuk masalah yang saya hadapi seberapapun rumitnya.

Kadang saya jadi takut sendiri. Jangan-jangan ada hal-hal ghaib yang berpengaruh tanpa saya sadari. Tapi ya sudah karena saya menganggap semuanya kebetulan dan keberuntungan saja, semoga memang begitu adanya.

Dari semua hal diatas adakah yang pernah mengalami hal yang sama? Kalau banyak, berarti sebenarnya memang ada tanda-tanda di sekeliling yang bisa dibaca. Hanya sensitif atau tidaknya tergantung masing-masing orang.

Wallahualam.

Ditulis untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gakah Ngeblog Bulan November 2025 dengan Tema Diluar Logika.



No comments:

Post a Comment