Rumah Biasa Hanya Ada Tapinya
Sungguh aneh ketika suatu tempat yang tidak pernah saya tinggali secara permanen ternyata menyimpan cukup banyak porsi ingatan inti di kepala saya.Kalau ini film Inside Out, maka salah satu pulau ingatan masih berdiri kokoh ditopang dengan berbagai kenangan akan tempat tersebut. Bahkan ketika sudah lewat dari 20 tahun, saya tak lagi merasakan kehangatannya.
Regulo 70 Boyolali itulah alamatnya.
Rumah sederhana di daerah permukiman yang berada di tengah Kota Boyolali.
Berada di posisi hook, kedua jalan yang mengapitnya mengarah ke alun-alun dan pasar. Jantung dari kabupaten yang semenjak dulu terkenal sebagai penghasil susu sapi murni.
30 tahun lalu saya memaknai rumah itu sebagai tempat berkumpul. Keluarga besar ayah saya yang terdiri atas 8 orang kakak-beradik tidak pernah melewatkan kesempatan untuk anjang sana, terutama saat hari raya.
Baru sekarang setelah dewasa saya paham. Kehebatan Eyang yang tak perlu susah payah menyuruh anak-anaknya pulang. Tanpa diminta, tanpa drama, mereka pulang sendiri. Suatu berkah yang konon sulit didapatkan orang tua lain di masa sekarang.
Padahal Eyang saya bukan orang yang keibuan. Galak dan tegas lebih tepat. Punya prinsip yang setegak deretan pohon kelapa di halaman rumahnya.
Tipe yang menunjukkan kasih sayang dengan memasak selama 7 hari 7 malam demi
mempersiapkan jamuan untuk anak cucu dan handai taulan. Daripada memberikan peluk cium dan bermain dengan cucu-cucunya.
Momen berkumpul tentu saja tidak selalu menjadi momen bahagia. Kadang diselingi perselisihan antarsaudara atau konflik antarsepupu. Tapi semua kebersamaan tersebut membuat standar kumpul keluarga saya menjadi sangat tinggi.
Main kembang api bersama di halaman yang luas, tidur di satu ruangan panjang dengan kasur berjejer yang kami sebut asrama haji, rebutan saweran yang makin lama makin banyak donaturnya dan makin sedikit penerimanya karena satu per satu cucu juga mulai bekerja.
Makan di pemancingan Pengging, berenang di sungai Tlatar, beli susu sapi langsung di Koperasi Susu Pusat Boyolali, dan makan sambel tumpang yang sampai sekarang dijadikan tes untuk penerimaan cucu mantu 😆
Ada juga momen menemani eyang belanja ke pasar Sunggingan. Karena rumah keluarga kami paling dekat dari Boyolali, maka seringkali kami datang duluan. Belanjaan Eyang menjelang lebaran bisa mencapai puluhan kilo. Maklum anak mantu cucu kala itu jumlahnya saja bisa sampai 30.
Tak heran kalau saat Lebaran, dapur Eyang, yang letaknya terpisah dari rumah utama, dan luasnya dua kali rumah subsidi, sudah seperti dapur hajatan. Dengan Eyang memimpin barisan mbok-mbok memasak.
Berbagai hal yang menjadi ingatan inti yang masih sering saya bicarakan dengan sepupu-sepupu saya hingga sekarang. 25 tahun setelah Eyang meninggal, acara kumpul-kumpul di Boyolali memang hanya tinggal kenangan.
Ketika dewasa, saya sadar ada beberapa hal dari pengalaman masa kecil saya yang memengaruhi hidup saya hingga saat ini. Ini saya ceritakan beberapa:
Wawasan yang Luas
Sebagai cucu dari anak ke-6, secara usia posisi saya ada di tengah-tengah. Saya punya sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih tua dan sepupu-sepupu yang 10 tahun lebih muda.
Sepupu-sepupu saya yang lebih tua tentu saja sudah lebih dulu menjalani kehidupan nyata daripada saya. Untungnya, mereka tidak pelit berbagi cerita tentang pengalaman mereka.
Dari sanalah saya jadi banyak tahu tentang kehidupan “orang besar” sebelum saya benar-benar harus memasukinya. Tentang cerita kerja di korporasi, tinggal di luar negeri, kuliah di universitas yang bergengsi, dan banyak anekdot-anekdot lainnya.
Dari sepupu-sepupu saya ini jugalah saya tahu tentang kehidupan “anak kota besar”. Tentang berbagai permainan dan bacaan yang sudah terkenal di Jakarta dan Bandung, tapi waktu itu belum umum di Semarang, seperti UNO dan Harry Potter.
Ada masanya di suatu Lebaran kami menghabiskan waktu berhari-hari seharian main UNO. Juga saya yang menenggelamkan diri membaca Harry Potter bahasa Inggris walaupun dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas.
Dari pengalaman ini saya jadi tahu ada dunia lain di luar sana dan jadi terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Walaupun pada akhirnya takdir kehidupan membawa kami ke arah yang berbeda-beda dan tentu saja kehidupan tak pernah benar-benar persis seperti yang diceritakan sepupu-sepupu saya.
Sekarang kalau ketemu, obrolannya jelas sudah jauh berbeda dari zaman dulu kala. Terakhir kumpul, obrolannya tentang berbagai keluhan kesehatan yang mulai diderita: encok, goyoken, darah tinggi dan sebagainya.
Makin hari memang semuanya semakin menua.
Hubungan Antar Saudara
Membaca berbagai utas di media sosial tentang hubungan antarsaudara, kadang membuat saya bersyukur. Saudara-saudara saya, baik yang inti maupun sepupu, semuanya baik-baik saja. Nggak ada yang neko-neko. Semuanya hidup masing-masing tanpa saling mengganggu.Low maintenance kalau kata anak sekarang.
Karena hubungannya juga baik, saya bisa sewaktu-waktu kontak tanpa harus merasa sungkan.
Karena hubungannya juga baik, saya bisa sewaktu-waktu kontak tanpa harus merasa sungkan.
Setelah jadi orang tua, saya baru sadar kalau semua ini mungkin terjadi karena didikan eyang yang tidak pernah membeda-bedakan anak cucunya. Semuanya diperlakukan sama. Alias digalakin kalau perlu digalakin 😩
Saya masih ingat almarhum Pakde saya yang waktu itu sudah menjadi kolonel polisi diomelin eyang karena makan paha ayam kesukaan adiknya. Padahal Pakde saya, menurut Eyang, sukanya bagian dada.
Pakde hanya cengengesan saja waktu itu. Sepertinya saudara-saudari itu juga sudah lupa mereka suka potongan ayam apa, yang penting makan masakan ibunya.
Prinsip tidak membedakan anak ini sepertinya ditiru oleh Bapak saya dalam membesarkan anak-anaknya. Bapak pernah bilang kalau salah satu ketakutan terbesarnya adalah anaknya merasa dibedakan.
Sampai waktu adik saya SMA dan perekonomian keluarga saya lebih baik dari sebelumnya, Bapak pernah minta maaf karena adik saya dibelikan motor baru dan laptop, sementara sebelumnya, waktu SMA saya pakai motor butut dan sampai tingkat 3 kuliah pakai PC.
Karena saya don’t mind pakai motor butut dan PC, saya malah nggak pernah kepikiran kalau itu bisa bikin anak merasa dibedakan 😅
Karena melihat hasil dari prinsip yang baik ini (dan saya sudah melihat contoh keluarga lain yang tidak menerapkannya), sampai sekarang saya (dan suami) juga berusaha agar imbang kepada anak-anak kami. Sesuai porsinya dan sewajarnya saja.
Tidak Putus Silaturahmi
Saya punya kenangan yang kuat (mungkin bahkan terlalu kuat) tentang Lebaran karena keluarga Bapak saya. Bahkan saya ingat pernah ngambek sengambek ngambeknya kepada orang tua karena tahun itu kami Lebaran di Bandung, tempat keluarga Ibu saya, dan bukan di Boyolali.Bukan keluarga Ibu yang salah, Lebaran di rumah Eyang memang terlalu menyenangkan sehingga bahkan kue-kue Lebaran lezat yang dimasak Embah, nenek dari ibu saya, tidak bisa menggantikannya.
Apalagi semenjak Eyang meninggal dan kami jadi tidak punya pilihan selain mudik ke Bandung, Lebaran jadi terasa “anyep”.
Sungguh betapa kangennya saya dengan suasana Lebaran di Boyolali saat Eyang masih ada.
Alhasil, semenjak Eyang meninggal, saya tidak terlalu bersemangat untuk berkumpul dengan keluarga saat Lebaran. Padahal keluarga yang saya temui tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan orak uwis-uwis yang bikin males kumpul-kumpul.
Sampai akhirnya saya menikah dengan suami yang keluarganya masih punya tradisi kuat untuk kumpul-kumpul.
Bukan hanya Lebaran. Berbagai alasan dan acara membuat mereka berkumpul. Tidak hanya keluarga inti, sampai cucu, buyut, saudara 2 lapis juga masih rajin ikut serta.
Saking banyaknya orang kalau keluarga suami saya kumpul, sampai 14 tahun menikah juga saya masih nggak semua hafal hubungan kekerabatannya gimana.
Saking bingungnya pernah saya cium tangan seseorang padahal itu sebenarnya ponakan. Haha. Salah orang juga sering soalnya mukanya mirip-mirip.
Sampai pernah kaget waktu melihat orang yang katanya sudah meninggal masih menyendok soto dengan santai di antrian depan saya saat ada acara. Ternyata yang meninggal orang lain. Cuma saya yang selama ini salah memadankan nama dengan muka.
Anyway, melihat keluarga suami, jelas saya jadi punya keinginan untuk kumpul-kumpul keluarga saya juga. Supaya anak-anak saya tahu keluarga ibunya, apalagi kedua eyang mereka, orang tua saya, semua sudah tidak ada.
Anyway, melihat keluarga suami, jelas saya jadi punya keinginan untuk kumpul-kumpul keluarga saya juga. Supaya anak-anak saya tahu keluarga ibunya, apalagi kedua eyang mereka, orang tua saya, semua sudah tidak ada.
Walaupun jelas saya tak akan bisa menghapus masa lalu, tapi dengan mudah saya bisa menghilangkan dan melupakan jejak asal usul saya.
Apalagi kalau menuruti jiwa milenial introvert saya yang jelas tidak terlalu suka bertemu orang kalau tidak perlu-perlu amat.
Karena dorongan suami dan keinginan yang sama dari beberapa sepupu untuk berkumpul, akhirnya semenjak beberapa tahun lalu, saya dan beberapa sepupu tersebut menyempatkan diri untuk silaturahmi ke rumah Bude saya yang paling tua di setiap hari Lebaran kedua atau ketiga.
Tentu saja suasananya tidak sama seperti yang dulu, tapi lumayanlah tombo kangen dan memperpanjang silaturahim.
Makin tahun makin ramai karena semakin banyak yang bergabung. Alhamdulillah.
Memang deep down inside prinsip orang Indonesia “mangan orak mangan sing penting kumpul” sudah mendarah daging di nadi saya. Hanya sejenak saya melupakannya.
Hanya 15 tahun saya menikmati keseruannya, itupun mungkin hanya 5 tahun yang benar-benar saya ingat. Tapi sebagai sebuah tempat, ingatan tentang Regulo 70 tak lekang sepanjang masa.
Penutup
Rumah di Regulo 70 masih berdiri tegak sampai sekarang. Masih sedia menyambut para penghuni lamanya kalau ada yang kangen untuk pulang. Walaupun rasanya sudah tak lagi sama, bahkan aromanya juga sudah berbeda, tapi rumah itu tetap menjadi monumen sejarah yang akan selalu saya ceritakan ke anak cucu saya kelak.Hanya 15 tahun saya menikmati keseruannya, itupun mungkin hanya 5 tahun yang benar-benar saya ingat. Tapi sebagai sebuah tempat, ingatan tentang Regulo 70 tak lekang sepanjang masa.
Ditulis untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Februari 2026 dengan Tema Tempat/Lokasi yang Membentukku


Ah, manisnyaaa ... Bikin kangen masa2 lebaran, kumpul2 sama keluarga besar di rumah eyang2 juga nih!
ReplyDeleteBtw ternyata kita sebenernya pernah dekat: Boyolali-Kartasura. Jangan -jangan pernah ketemu ya!? Hehehe.
Ah seru banget ya. Menurutku setiap keluarga berhak deh punya keluarga besar yang seru buat ngumpul-ngumpul kaya gini. Nggak selalu ya ngumpul keluarga itu jadi momen yang menakutkan karena khawatir ditanya hal aneh-aneh. Cerita Restu jadi bikin kangen ngumpul keluarga besar.
ReplyDeleteRestu, terimakasih sudah berbagi cerita yang sangat hangat. Aku sendiri ga punya pengalaman mudik ke kampung halaman saat Lebaran, jadi kadang suka iri denger cerita teman-teman yang punya kampung. Aku bacanya sambil bayangin minum susu si Jack dan mendoan. Cerita keluarga yang sakinah banget, statement pulang tanpa diminta dan disuruh itu bener banget. I miss my mom :). Selamat berpuasa Restu.
ReplyDeletelupa ini May hahaha
DeleteAku ngga mudik sih tapi bisa relate, karena rumah ortu juga sempat merangkap rumah nenek. jadi pas lebaran sodara2 suka dateng yg jauh2 pun. pas nenek meninggal memang udah lebih sepi dan beda
ReplyDeleteSilaturahmi dengan famili menjadi semakin jarang karena kesibukan masing-masing dan tempat tinggal yang berjauhan. Tapi begitu ada salah satu famili yg meninggal, kita baru bisa ngumpul. Sedih-sedihannya sebentar, lalu disusul dengan celetukan iseng yang selalu bikin ketawa dan akrab. Sampai salah satu sepupu nyeletuk: biar kita bisa ngumpul lagi, siapa lagi nih yg akan meninggal..? Waakakakak. Lucu , sarkas atau apa ini...??
ReplyDeleteJadi ingat rumah Eni (ibunya Mamah) di Sawahwaru Kuningan. Teh Restu valid banget punya rasa kangen dan memori yang mengakar hingga sekarang, aku pun demikian. Entahlah apa aku juga akan jadi Eyang yang dikangenin hahaha ...
ReplyDeleteSeru banget iih.. seneng punya keluarga besar yang akrab, hangat dan tulus. Ah Restu mah saya jadi tambah kangen mudik dan lebaran di Indonesia ini, hiks hiks..
ReplyDelete