Paling nggak kalau lihat tulisan blog saya dulu, saya lucu. Bahkan tulisan reflektif pun jadi lumayan lucu.
Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.
Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya juga sudah mencapai financial freedom juga.
Menyesal karena tidak serius untuk lucu.
Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.
Malah sempat ada masanya saya punya beberapa pembaca setia yang hobi baca blog saya karena mereka menganggap tulisan saya menghibur.
Itulah mengapa salah satu penyesalan saya adalah kenapa dulu nggak diseriusin nulis yang lucu. Padahal mungkin ada kesempatan jadi kayak Raditya Dika. Ya kan mana tau kalau dulu serius dan sukses sekarang saya juga sudah mencapai financial freedom juga.
Menyesal karena tidak serius untuk lucu.
Eh tapi beneran loh, 20 tahun lalu saya bisa melihat kelucuan dari berbagai kejadian. Padahal kejadiannya sendiri nggak lucu.
Misalnya nih waktu saya naik pesawat yang gagal take off. Apa coba yang lucu dari pesawat yang batal terbang padahal separuh badannya sudah naik? Kalau pilotnya nggak eling dan ngotot terbang mungkin saya hanya tinggal potongan berita di surat kabar.
Cuma waktu itu saya mikir kejadian tersebut lucu karena di sebelah saya ada bule yang kakinya bau. Jenis bau yang saking semerbaknya membuat kita mempertanyakan kewarasan kita sendiri.
Karena pesawat batal take off dan harus diganti, saya batal sebelahan sama dia selama 4 jam penerbangan. Lucu kan?
Pesawat yang gagal terbang. Rute Ujung Pandang - Jayapura.
Ada lagi pengalaman saya 14 jam naik kapal ke Talaud di tengah purnama Ramadan. Gravitasi bulan membuat gelombang laut nggak ada santai santainya. Sepanjang perjalanan perahu bagai dibanting-banting. Airnya memercik membanjiri seluruh lantai kapal yang terbuka.
Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.
Nggak ada tuh romantis-romantisnya naik kapal malam itu, padahal purnama benderang di atasnya dan dunia di bawah permukaan lautnya adalah salah satu yang tercantik di dunia.
Tangkapan kamera laut sulawesi malam itu
Malam itu, semua penumpang muntah. Kecuali saya dan 2 teman saya. Padahal kami orang daratan dengan satu-satunya pengalaman naik kapal pontang panting juga cuma di Kora-Kora Dufan.Untung juga sih pergi saat puasa. Perut hampir kosong, karena waktu buka juga nggak selera.
Plus nahan minum biar nggak buang air kecil. Males ke kamar mandinya.
Jadi mau muntah juga nggak bisa.
Ngenesnya, waktu mau sahur, ternyata burger Mc Donalds dan kentang yang kami beli basi. Seumur umur baru sekali saya ngalamin makanan cepat saji basi padahal belum ada 12 jam dibeli. Jadi burger Mc Donalds itu asli sodara-sodara, tidak seperti klaim yang bilang kalau saking banyak pengawetnya sampe bertahun-tahun juga nggak basi.
Atau udara laut Sulawesi sedemikian dahsyatnya sampai pengawet pun kalah? Atau burgernya ikut mabok laut?
Entahlah.
Pokoknya gara-gara itu saya dan teman-teman nggak makan minum sama sekali lebih dari 24 jam. Hanya nelen obat anti mabok aja dengan harapan sisa perjalanan berjalan lancar.
Nekad tetap puasa.
Dulu waktu kejadian rasanya entah kenapa lucu sekali.
Saya dan teman seperjalanan tertawa sampai berlinang air mata membahasnya. Menertawakan kondisi yang ada dan pengalaman yang baru saja terlewati tanpa kurang suatu apa. Tentu saja tertawanya setelah kami semua sudah aman di daratan. Sudah makan kenyang dan bisa kembali berpikir jernih.
Tapi setelah saya pikir pikir sekarang, apa yang lucu coba dari pengalaman itu coba? Apalagi saat itu untuk pertama kalinya saya merasakan dehidrasi sampai beneran nggak bisa mikir. Temen saya bahkan sampai nggak bisa buka kunci pintu kamar di penginapan saking linglungnya. Untung nggak ada yang sampai masuk IGD.
Dulu saya nggak menuliskan pengalaman ngenesnya di blog sih, takut Ibu saya prihatin dan sedih dengan kenekadan dan kebodohan anaknya.
Soalnya saya sendiri sudah kebayang kalau yang cerita anak saya mungkin saya sudah ngomel panjang kali lebar kali tinggi: NGGAK USAH ANEH ANEH! KENAPA NGGAK BATALIN AJA PUASANYA?!! MAU MATI KAU?!!
Nah terlepas dari tingkat kelucuan hal yang terjadi, dulu tuh rasanya selalu ada sisi lucu dari setiap hal yang saya alami. Sekarang, walaupun hidup saya lebih lucu, tapi saya malah jadi jarang menemukan sisi lucunya.
Pertanyaannya kenapa?
Kenapa sekarang kalau menghadapi kejadian lucu saya malah seringnya merasa miris?
Misalnya waktu ada mahasiswa datang ke Tata Usaha mencari helmnya yang hilang. Waktu ditanya merk helmnya apa, dia bilang harus nanya Ibunya dulu karena yang beli ibunya di Shopee.
Lawak nggak sih, anak cowok umur 20 tahun, badan tinggi besar, pakai kalung gelang rantai, sangar tapi nggak tau merk helmnya karena ibunya yang beliin di Shopee?
Tapi boro-boro menuliskan kelucuan kejadian itu, yang ada malah mengelus dada sambil bertanya-tanya "Kok bisa?"
(padahal emang males nulis aja 🤪)
Kecurigaan saya, humor saya memang berkurang seiring umur karena memang begitulah wajarnya. Ya kalau lihat sekeliling, orang makin tua memang cenderung makin nggak lucu nggak sih?
Kecuali Tukul mungkin.
Tapi kan beliau juga sakit sekarang, jadi kayaknya sudah nggak sering ngelucu juga.
Atau mungkin saya sudah nggak bisa mikir lucu karena saya sudah jadi lebih bijaksana? #Ngarep
Menilik tulisan-tulisan blog saya akhir-akhir ini serius-serius banget dah. Lebih serius dari Menteri Keuangan Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil. Padahal kan harusnya mereka yang lebih serius menghadapi ancaman kondisi geopolitik global. Kenapa malah saya yang jadi serius sementara mereka masih suka ngelawak?
Gojeg-gojeg istilah Jawanya.
Lalu saya tanya AI (kan saya orang modern jadi nanya AI bukan rumput yang bergoyang): “Kenapa humor cenderung menurun seiring bertambahnya usia?”:
Ini ringkasan jawabannya:
Ternyata ada penjelasannya saudara-saudara! Intinya orang semakin tua kebanyakan semakin nggak lucu lagi karena memang hidup membuat kita jadi lebih serius.
Evolusi humor seiring bertambahnya usia juga hal yang menarik.
Jadi sisi lucu saya tidak hilang, hanya berevolusi menjadi sesuatu yang lebih…
tidak relatable garing…
Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.
Ya layaknya om-om tante-tante paruh baya pada umumnya gitu.
Tipe yang kalau melontarkan candaan, gen Z di sekitar ikut tertawa untuk kesopanan belaka. Sementara gen Alpha langsung bilang seadanya: “Apaan sih? Nggak lucu!”.
Dah lah..masih mending garing dari girang kan ðŸ«
Seperti peribahasa : Semakin berisi semakin merunduk.
Nggak nyambung ya? Biarin aja, biar lucu.
Permisi! Mau merayakan keberhasilan nggak jadi deadliners tengah malam untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini.
Minal aidzin wal faidzin!



No comments:
Post a Comment