Monday, April 20, 2026

Kita Semua Kenal Tante Yuli

*Disclaimer! tulisan ini dibuat tentu saja bukan dengan maksud menyudutkan siapa pun yang bernama Yuli. Kesamaan nama dan peristiwa adalah ketidaksengajaan. Kecuali yang baca adalah Tante Yuli yang saya maksudkan.


Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu sleeper hits di Indonesia dengan jalan cerita dan karakter yang sangat relatable. Dari sekian banyak tokohnya, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tokoh Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli ini sosok yang sangat membumi. Alias ada di segala penjuru bumi. Seperti Karen di USA. Mau tahu dan tak segan ikut campur urusan hidup orang lain.

Saya yakin, dalam hidup kita kebanyakan pasti pernah bertemu minimal satu orang Tante Yuli. Bahkan semisal kita sendiri sadar atau tidak sadar mengambil peran Tante Yuli di kehidupan ini, pasti pernah ketemu Tante Yuli lain yang kelakuannya setara atau lebih menyebalkan. 

Ingat magnet dengan kutub yang sama biasanya saling tolak menolak.
Jadi kalau kita sebal sama seseorang siapa tau kita juga semenyebalkan itu.

Tidak seperti tokoh Arga (Ardit Erwandha), di film Tunggu Aku Sukses Nanti, saya sendiri sebetulnya bukan gambaran yang tepat sebagai target Tante Yuli. Hidup saya, sampai sekarang, alhamdulillah selalu sesuai dengan milestone standar masyarakat. Urusan jodoh, akademik, dan karir berjalan lurus dan biasa-biasa saja. Jadi saya sebetulnya tidak terlalu sering ketemu sosok Tante Yuli di kehidupan.

Hanya saja gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Cerita Random, saya jadi ingat beberapa pertemuan saya dengan tante Yuli yang masih saya ingat sampai sekarang.

Saya kasih rating berdasarkan level damage-nya (💣). Karena momen dengan Tante Yuli, seperti level pedas Ma Icih, tak selalu bisa disamaratakan.

Rangking berapa? (💣)

Sebagai anak 90-an, rangking masih menjadi bagian kehidupan saya. Sesungguhnya saya seringkali menganggap, untuk orang zaman dulu (dan di Drama Korea) ranking menentukan kasta dan persepsi orang terhadap keluarga. Keluarga yang anaknya masuk sekolah top dan punya ranking dianggap lebih terhormat daripada keluarga yang akademiknya biasa-biasa saja.

Bahkan ketika di SMA saya dapat ranking 5.6, dimana sebenarnya saya ada di urutan 30 dari 50 orang karena masing-masing ranking ada 6 orang, saya tetap dianggap lebih baik dari anak-anak lainnya yang di rapotnya tidak ada tulisan ranking.

Seorang tante jauh menganggap ranking adalah segalanya. Anaknya kebetulan satu usia dengan saya. Saya dan anaknya sih tentu saja tidak saingan. Orang satu kota juga nggak. Sesungguhnya kami bahkan tidak peduli siapa yang lebih pintar. Toh kalau ketemu kami main bersama (yang tidak ada hubungannya dengan kecerdasan), bukan cepat tepat atau berlomba mengerjakan soal TKA.

Tapi ibu anak ini sepertinya menentukan mood-nya saat bertemu kami berdasarkan ranking yang anaknya dan saya peroleh semester itu. Saking seriusnya ini tante soal ranking, kalau kami ketemu hal pertama yang ditanyakan pada saya adalah: "Ranking berapa?".

Kalau ranking saya lebih rendah dari anaknya, dia akan sumringah. Sementara kalau lebih tinggi, dia akan menjelaskan panjang lebar prestasi-prestasi anaknya yang lain serta kenapa rankingnya tidak tinggi.

Suatu hari, kami sekeluarga bertandang ke rumah keluarga ini yang lokasinya di selatan pulau jawa. Baru juga mobil kami selesai parkir dan saya membuka pintu, tante ini sudah langsung melontarkan pertanyaan andalannya.

"Rangking berapa?", tanyanya.
"Tiga...", jawab saya .
"Oh kalau A ranking 1", ujarnya bangga dengan senyum merekah.
"Satu sekolah apa kelas? aku ranking tiga satu sekolah sih tante, tau kan dari 14 kelas. Kalau kelas sih ya biasalah...ranking 1", timpalku manis tanpa memedulikan Ibu yang menyikut pinggangku.

Satelahnya saya sempat mendengar tante itu menelepon guru di sekolah anaknya untuk tau rangking anaknya di satu sekolah. Tapi mengingat selama dua hari menginap di rumahnya, si tante tidak mau bicara dengan saya, sepertinya ranking anaknya di sekolah tak sementereng harapannya.

Gembrot (💣💣💣💣)

Salah satu jenis pertemuan dengan Tante Yuli yang paling saya tidak suka adalah yang mengomentari fisik dari detik pertama berjumpa. Seperti tidak ada obrolan lain saja. Parahnya tak jarang Tante Yuli tipe begini wujudnya pria.

Paling saya ingat adalah perjumpaan saya dengan seorang Om kenalan keluarga. Kala itu saya baru menikah dan menemani suami dinas ke pulau seberang. Dengan itikad baik kami berkunjung ke rumahnya.

Hal pertama yang Om itu katakan ke saya adalah betapa gembrotnya saya. Yes, pakai istilah gembrot. Selama 1 jam di rumahnya, itu saja yang diulang-ulang. Nggak ada cerita lain. Semua obrolan mengarah ke istilah gembrot. Bahkan yang basa basi seperti "Sudah makan apa disini?", berlanjut ke "Kamu sukanya makan apa sib kok bisa gembrot". Semacam itulah.

Walaupun saya memang gembrot, tapi diingatkan kalau saya gembrot saat sedang namu itu bikin ngamuk sih. Walaupun tentu saja demi kesopanan, tidak saya lakukan. Saya kan juga nggak mau sampai ada headline "Seorang Wanita Melakukan Penganiayaan Terhadap Kerabatnya Karena Disebut Gembrot".

Omongan si Om sampai terngiang-ngiang di telinga. Bahkan lama setelah saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Seperti gema di tebing yang pantul memantul. Terdengar sampai ke negeri cina. Saya yakin bahkan Chu Pat Kai pun akan tersinggung mendengarnya.

Suruh Siapa Punya Anak?! (💣💣💣💣💣)

Di usia 5 tahun pernikahan, kami baru dikaruniai anak. Cuma untungnya selama 5 tahun itu sebagian besarnya kami habiskan dengan tinggal jauh dari tanah air. Plus saat itu saya dan suami masih tidak begitu concern dengan masalah anak. Masih asyik sendiri berdua. Jadi kami tidak begitu dipusingkan dengan pertanyaan-pertayaan "Kapan mau punya anak?".

Meskipun demikian selentingan-selentingan yang membuat jengah tetaplah ada. Lewat ucapan-ucapan doa di berbagai kesempatan, atau berbagai kiriman ramuan-ramuan yang dianggap manjur untuk program kehamilan, juga kasak kusuk Ibu dan Mertua membicarakan biaya IVF. Intinya saat itu orang lain lebih semangat untuk kami punya anak daripada kami sendiri.

Suatu hari, beberapa tahun kemudian, saat sudah ada Mbarep dan Ragil, seorang sesepuh perempuan dengan hubungan kekerabatan yang cukup dekat, menginap di rumah mertua yang kami tinggali. Sesepuh ini adalah salah satu orang yang sebelumnya suka meributkan kami yang belum punya anak.

Dia juga yang sering memberikan nasihat-nasihat tanpa diminta ke mertua tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh saya dan suami supaya cepat dapat anak. Anak-anaknya sendiri sangat diberkati perkara punya anak. Subur-subur banget. Jadi sepertinya dia merasa berpengalaman untuk memberikan masukan.

Kala si tamu menginap saat itu, Mbarep masih usia 3 tahun dan Ragil 6 bulan. Kombo balita dan bayi dengan segala gebrakannya.

Apalagi saat itu masih awal pandemi dimana tingkat stress saya tinggi sekali. Disenggol dikit ngamuk. Mungkin campuran hormon post partum yang masih bergejolak dan tekanan untuk beradaptasi dengan kehidupan yang berubah 180 derajat.

Di hari kedua si tamu menginap, Ragil rewel luar biasa. Segala macam hal yang kami lakukan tidak bisa menenangkannya. Mbarep ikutan rewel karena ingin juga mendapatkan perhatian dari saya. Dengan dua anak menjerit jerit tanpa juntrungan, saya merasa seperti ada di titik terbawah kehidupan.

Si tamu kebetulan sempat pergi dengan kedua mertua saya dan ketika mereka pulang situasi di rumah sedang panas-panasnya. Melihat kekacauan itu sepertinya si Tamu tergerak untuk membantu:  Bagaimanapun dia sendiri sudah punya 6 cucu. Pengalaman lah ya.

Si tamu meminta Ragil dari saya lalu menggendong berusaha menenangkannya. Masalahnya sambil gendong-gendong tiba-tiba dia nyeletuk:

Suruh siapa punya anak ya…?!!Emang enak punya anak ya…?? Repot kan…repot yaa".

Pakai nada ning nang ning gung. Cobain deh, ngeselin abis. Haha.

Mungkin maksudnya sedikit menceriakan suasana karena kedua mertua saya tertawa mendengarnya. Tapi dengan segala kelelahan yang saya rasakan, saya tidak melihat dimana lucunya.

Suami, yang sedang menenangkan Mbarep, tidak cukup cepat bereaksi dan hanya menatap ngeri melihat saya murka. Seperti kesetanan saya menjawab:
"Siapa yang nyuruh punya anak?! KALIAN SEMUA YANG NYURUH PUNYA ANAK! Emang enak punya anak?! NGGAK ENAK!!MAKANYA NGGAK USAH RIBUT NYURUH ORANG PUNYA ANAK, KALAU CUMA BISA KOMENTAR DOANG!!!"

Keheningan yang mencekam mengikuti teriakan saya. Bahkan Mbarep pun menghentikan tangisannya karena kaget.

Adegan selanjutnya lebih dramatis. Saya rebut Ragil dari tamu itu lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Menjatuhkan kami berdua ke tempat tidur dan menangis sejadi jadinya. Ibu dan anak jerit jerit berdua. Untungnya setelah itu saya dari Ragil kelelahan dan malah bisa tidur berjam-jam.

Wes edan kalau kata saya. Untung saya nggak berubah jadi batu setelahnya. Karena durhaka sama orang yang jauh lebih tua.

Antivaks ya? (💣💣💣)

Ini pengalaman paling absurd selama saya berinteraksi dengan spesies Tante Yuli. Jadi ceritanya ada saudara jauh seorang gen Z yang sering bertemu saat acara-acara keluarga. Anak saya yang kedua kebetulan seumuran dengan anaknya yang pertama.

Perbedaan generasi diantara kami memang terlihat mencolok dalam hal membesarkan anak, terutama terkait referensi parenting. Referensi kami lebih banyak dari pengalaman pribadi dengan trial and error. Sementara referensi saudara saya ini sepertinya lebih banyak dari sosial media dengan segala check list-nya.

Bukan hal yang buruk tentu saja. Karena saya penganut mazhab "cara membesarkan anak adalah pilihan masing-masing orang tua".

Suatu hari, waktu anak-anak kami masih kecil, saya pernah mengobrol dengan saudara saya ini. Ngobrol ngalor ngidul, sampailah pada bahasan mengenai vaksin. Tanpa tedeng aling-aling, tiba-tiba dia menceramahi saya soal vaksin.

Emang nggak kasihan nanti anaknya kena penyakit berat? Percayalah, lebih banyak benefitnya daripada mudaratnya.
Memang siapa yang nggak mau vaksin?”, kata saya kebingungan.
Kakak lahh. Kakak kan antivaks”, katanya dengan prihatin.
Aku? Lah, kenapa aku antivaks? Anak aku vaksin lengkap kali, yang nggak mandatory juga aku kasih.”, kata saya.
Emang iya? Sesuai IDAI?”, kata saudara saya ini skeptis.
Ya iyalah, mau sesuai apalagi? Primbon jawa?”, kata saya mulai kesal. Saudara saya ini masih memandang saya dengan curiga. Seakan-akan saya bohong.
Kenapa bisa menyimpulkan aku antivaks?”, tanya saya masih heran.
Oh…eng anu…soalnya kakak nggak pernah cerita-cerita kalau anaknya vaksin. Nggak pernah posting juga.”. kata saudara saya ini dengan ragu-ragu.
Gimana??! Kalau nggak pernah cerita artinya antivaks?”, kata saya mulai pusing sambil menahan keinginan untuk salto kedepan kebelakang.

Untung saya lahir Jumat Wage. Masih bisa sabar. Gusti!

D1 kan? (💣💣)

Di atas langit masih ada langit sepertinya tidak berlaku untuk Tante Yuli di cerita saya kali ini.

Seorang tetangga di kampung halaman saya, sangat bangga pada anaknya yang bekerja di sebuah instansi pemerintahan pusat Jakarta. Maklum, untuk bisa bekerja di dalamnya seseorang harus terlebih dulu lulus dari sekolah kedinasan khusus yang terkenal dengan persaingan masuk yang ketat.

Saya tentu saja tidak mempermasalahkan kebanggaan tetangga tersebut terhadap anaknya. Namanya orang tua, wajar dong bangga sama buah hatinya.

Masalahnya si tetangga ini menganggap orang lain tidak bisa menyamai prestasi anaknya. Kalaupun ada yang bekerja di instansi yang sama, si tetangga selalu merasa anaknya lebih tinggi jabatannya, lebih pintar, lebih hebat.

Padahal secara logika, kecuali si anak ini adalah pimpinan tertinggi, ada ratusan skenario seseorang punya posisi diatas anaknya.

Suatu hari, ketika pulang kampung, saya bertemu dengan tetangga saya ini. Pertemuan semenjana tersebut tentu saja jadi ajang basa basi.

Sepupu suami saya kebetulan kerja di instansi yang sama dengan anak si ibu tetangga. Kalau saya tidak salah ingat, unitnya bahkan sama.

Karena sedang basa basi, saya tentu saja menyampaikan topik yang bisa menyambung obrolan. Termasuk tentang sepupu suami.

Sepupu suami aku juga kerja di X. Kalau nggak salah unitnya Y deh. B kenal nggak ya kira-kira?”, tanya saya.
Hmmm, B juga di Y sih, mungkin sepupunya D1. Nggak kenal kayaknya.”, kata tetangga saya sok tau.
Ooh dia lagi dikirim S2 sih malah tante, lagi di Edinburg sekarang. Nggak kenal kali ya..”, kata saya lagi sambil bingung kenapa ngejudge-nya jauh banget ke D1.
Salah kayaknya, lagi D3 kali. Soalnya setahu tante yang dikirim sekolah lagi cuma B yang ambil S1”, jawab si tetangga penuh percaya diri.

Saya terdiam. Jangan-jangan saya memang berhalusinasi.

Saat itu B yang kebetulan juga sedang pulang kampung menghampiri kami. Saya tanyakan dong tentang sepupu suami saya, yang langsung dijawab B:
Mas G? Oh ya aku tau dia sih, tapi mungkin dia nggak kenal aku. Maklum dia sudah eselon 2, aku kan masih kroco. Lagi S2 kan ya? Hebat dia memang pinter orangnya.”, cerocos B menanggapi saya.

Saya pura-pura tidak melihat si tante tetangga yang mukanya berubah pucat. Sepertinya baru tersadar, di atas langit memang masih ada langit lagi. Bahkan ketika anaknya sudah mencapai langit yang tak pernah bisa dia bayangkan.

***
Nah, sekian cerita-cerita tentang Tanta Yuli yang pernah saya temui. Ada yang mau cerita versinya sendiri? 


No comments:

Post a Comment