Monday, January 23, 2023

Awal Perjalanan Menuju Badan Zaman Kuliah

Tahun 2022 saya mendapati diri saya berada di titik terendah dalam urusan kebugaran tubuh. Berat badan saya secara resmi masuk ranah obesitas di tengah pandemi.  Menyebabkan munculnya berbagai keluhan kesehatan yang mengganggu kualitas hidup: kelelahan kronis, lesu berkepanjangan, ngantuk yang sering tak tertahankan, pegal-pegal, dan sebagainya. Bahkan bangun tidurpun rasanya super lelah. Seperti habis begadang semalaman.

Karena kelelahan, bahkan sejak awal hari, biasanya emosi saya jadi naik turun. Otak terasa penuh. Hati sering terasa tak tenang. Pikiran tak sabaran. Bahkan tak jarang diliputi kecemasan berlebihan. Pekerjaan banyak tertunda karena badan tidak mau diajak bekerja sama. Berat. Sementara otak terus berpacu. Kadang sampai tak terkendali. Seperti kerepotan mengejar suatu tenggat yang entah apa dan bikin hidup terasa ruwet. Padahal aktifitas sehari-hari ya begitu-begitu saja.

Walaupun begitu, berbagai alasan menghalangi, saat hati kecil berkata harus ada yang diubah. Biasalah. Trifecta alasan: nggak sempat, repot, dan mahal. 

Sampai akhirnya, di pertengahan bulan Desember 2022, sisi samping kiri kepala saya saya terasa sakit sekali. Bukan pusing. Tapi sakit. Nyeri. Seperti ada yang mencengkeram kepala saya erat-erat lalu menariknya keatas, berusaha melepaskan tengkorak saya dari organ-organ yang dilindunginya.

Seminggu saya bertahan, menganggap hal tersebut bukan masalah besar. Karena beberapa minggu sebelumnya hidup saya sedang hectic sekali, sampai kurang tidur. Wajar sepertinya kalau pusing.

Toleransi saya terhadap rasa sakit kebetulan memang tinggi, bahkan saat sakit kepala tersebut, saya masih sempat pergi ke Jakarta. Berkunjung ke sana kemari. Bermodal menenggak parasetamol di setiap kesempatan. Agar bisa berfungsi agak normal.

Tapi ketika sakit kepala semakin menghebat, sementara obat pereda nyeri yang ada sudah tak mempan lagi, akhirnya saya menyerah dan segera memutuskan pergi ke dokter.

"Darah tinggi", kata Dokter umum yang saya temui, sambil menuliskan surat pengantar cek darah untuk memeriksa kadar kolesterol, asam urat, kadar gula dalam darah, dan berbagai indukator lainnya. Tekanan darah saya saat pemeriksaan itu mencapai 160/90. 

Hasil tes lab menunjukkan badan saya mulai nggak beres. Semua indikator ada bintangnya. Walaupun tidak jauh-jauh amat dari batas atas. Cuma yang paling bikin ngeri adalah diagnosa pra diabetes melitus. Apa jadinya kalau beneran jadi diabetes?

Dokter umum meresepkan berbagai macam obat. Seumur hidup baru kali itu saya harus minum obat sebanyak itu. Tapi ternyata terdiam selama 2 jam di rumah sakit, menunggu hasil lab dan dokter, dengan sakit kepala yang semakin menghebat dan menahan keinginan yang memuncak untuk kabur ke IGD, adalah titik balik saya untuk melakukan perubahan. 

Atas dukungan suami, malamnya saya langsung pergi untuk konsultasi ke dokter gizi. Karena akar masalah kesehatan saya sepertinya adalah gaya hidup yang kacau dan obesitas. Maka itu yang pertama kali harus diatasi.

Dari Google saya pilih satu dokter gizi klinis yang ada di Bandung. Dr. Gaga Irawan namanya. Praktik di Kimia Farma Sulanjana. Sepertinya cukup viral, walaupun nggak seviral Dr. Joko di Jakarta yang sudah melangsingkan banyak artis. Haha. Dari hasil pemeriksaan pertama umur biologis saya 1.5 kali lipat umur saya yang sebenarnya. Ya ampun, memang jompo ternyata πŸ˜‚  Sayapun didiagnosis dengan obesitas stadium 2.

Sekarang sudah 1 bulan saya ikut program diet. Setiap hari makan hampir 1 kg sayur, 1/2 kg buah, dan minum 3 liter air. Nggak minum manis dan nggak makan tepung apapun sekalipun. Seumur-umur belum pernah saya makan sesehat itu. 

Lalu apakah setelah diet langsung jadi kurus? ya nggak juga. Kemajuannya lambat kalau tujuannya langsing saja. Sebulan ini saya cuma turun 2.5 kg. Masih ada di cengkeraman status obesitas. Cumaaa...dari sisi mental kok ya jauh banget ya. Karena badan saya rasanya jauh enakan: nggak gampang pegal dan bloating yang bikin saya kesal dan cepat capek. Saya merasa jadi lebih kalem.

Nggak gampang emosian. Nggak serudak seruduk. Nggak gedubrakan. Bahkan sepulang kerja, bisa dengan sabar menghadapi anak-anak, bak Ibu-Ibu di instagram πŸ˜‚Teman-teman saya bahkan sampai kagum, karena saya jadi jarang mengeluh. Biasanya baru bangun saja langsung ngeluh 😴 Payah ya? Bukannya bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Saya sampai heran sendiri. Di kantor juga lebih produktif, padahal biasanya setelah makan siang hawanya sudah ingin rebahan saja. Sekarang sampai jam pulang masih strong. Padahal nggak minum multivitamin apapun. 

Memang benar kata orang: you are what you eat.

Tapi saya nggak mengira efeknya secepat itu. Setelah saya pikir-pikir, mungkin nggak makan daging merah juga sangat berpengaruh. Saya ini bisa dibilang karnivora. Makan daging setengah kilo sekali makan ya biasa saja. Makanya badan saya biasanya hawanya panas. Sekarang karena lebih memilih makan ikan untuk mengejar target protein dan banyak sayur untuk target serat, badan saya rasanya jadi lebih adem. 

Mungkin tadinya dalam tubuh saya bak medan perburuan di padang rumput yang gersang, sekarang bagai telaga dengan banyak ikan berenang, dikelilingi rimbun pepohonan. Analogi macam apa itu? haha. 

Makanya sekarang kalau di kantor ada orang kerjaannya ngomel-ngomel saja, saya langsung bilang: cobain berhenti makan daging merah terus makan sayur sehari sekilo deh. Pasti jadi kalem. 

Di balik badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ternyata efek ke mental karena hidup sehat jauh lebih bermanfaat daripada sekedar langsing saja. Doakan semoga istiqomah ya. Sampai badan saya normal kembali. Syukur-syukur balik lagi ke badan zaman suami saya naksir saya pertama kali. Hahaha. Amini sajalah ya. 

Read more ...

Sunday, January 8, 2023

Catatan Semester I Mbarep di Sekolah

Tentang Pilihan Sekolah

Setahun yang lalu kami mencari sekolah untuk Mbarep. Karena kami tau karakternya, kami cukup hati-hati dalam memilih sekolah untuknya (dan adiknya nanti). Bagaimanapun perjalanan akademik yang sangat panjang bagi Mbarep baru akan dimulai. Kami tentu ingin dia menikmatinya. Sebagai orang-orang yang juga berkecimpung di dunia akademik, dan cukup punya pengalaman memperhatikan mahasiswa-mahasiswa zaman now dengan berbagai permasalahannya, kami ingin Mbarep punya dasar yang kokoh dan baik sebelum dia masuk ke dunia akademik yang sebenarnya. 

Seperti dikatakan selalu dalam nasihat-nasihat agama: adab dulu sebelum ilmu. Agar kedepannya dia punya kesadaran bahwa belajar adalah untuk dirinya sendiri dan dia tau apa yang dia mau. Tidak terjebak melekatkan jati diri pada hal-hal trivial, seperti title pintar, juara kelas, atau like di social media. Supaya tidak terombang ambing dalam kehidupan yang semakin lama mungkin akan semakin penuh godaan yang menyesatkan. Selain itu kami harap dia juga bisa membawa dan menempatkan diri di setiap kesempatan. Sadar sepenuhnya bahwa dunia tidak berputar mengelilingi dia. 

Ketika kami memilih sekolah Mbarep yang sekarang, ada beberapa orang dekat yang bertanya-tanya. Kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu. Kami termasuk yang beruntung punya cukup privildge untuk memilih sekolah bagi anak-anak. Makanya saat kami memilih sekolah yang "tidak biasa", kami sempat mendapatkan tantangan dari orang-orang terdekat. Utamanya karena sekolah yang kami pilih tidak berdasar pada agama kami, agama Islam. 

Tentu bukan kami tidak mempertimbangkan aspek tersebut. Bagaimanapun kami juga ingin Mbarep nantinya punya dasar agama yang kuat. Karena hal itu juga penting dalam untuk kehidupannya kelak. Tapi buat kami, membuat Mbarep tertarik pada belajar, jauh lebih penting sekarang. Karena sesungguhnya dengan watak Mbarep yang acuh tak acuh, membuat dia tertarik saja sudah sebuah effort ekstra tersendiri. Kami sudah pernah sedikit mencoba mengajak Mbarep belajar saat pandemi, tapi usaha kami malah berhasil membuat dia alergi dengan kata "belajar". Sampai setiap kali kata itu muncul reaksi yang timbul adalah linangan air mata dan penolakan keras. Entah kenapa trauma sekali. Hingga kamipun sadar perlu bantuan orang lain yang lebih punya kepakaran. Maka dengan segala pertimbangan tersebut kami mantap menyekolahkan Mbarep (dan adiknya nanti) di sekolah Mbarep yang sekarang.

Supaya Tidak Drama

Sebetulnya di setiap pilihan orang tua pasti ada sisi egoisnya. Walaupun dibalut dengan demi kebaikan si anak. Pilihan egois di balik pilihan kami akan sekolah Mbarep, adalah kami malas membujuk dia agar mau berangkat sekolah setiap hari. Kami ingin dia setiap hari bangun dan memilih sendiri untuk berangkat sekolah. Bukan kenapa-kenapa sih. Lelah saja berantem apalagi pagi-pagi. Bisa rusak mood semua orang seharian. Alhamdulillah selama satu semester dia selalu bersedia pergi. Walaupun tentu tidak selalu dengan riang gembira dan semangat membara. Paling tidak, bebas dari drama pagi hari. 

Setiap hari kami memberikan pilihan ke anak-anak apakah akan berangkat sekolah atau tidak. Tentu dengan penjelasan berbagai konsekuensinya. Bukan hukuman tentu saja, melainkan konsekuensi natural seperti kebosanan dan tidak dapat jatah screen time. Karena di sekolah pasti lebih ada yang bisa dikerjakan daripada berdiam di rumah. Screen time di rumah juga hadiah untuk anak-anak yang sudah melakukan sesuatu (belajar, beres-beres, tidur siang, dll). Makin lama mereka makin paham konsekuensi tersebut. Jadi walaupun kadang-kadang ada juga ngambek-ngambek sedikit, Mbarep selalu mau masuk sekolah. Daripada tidak dapat hadiah nonton Youtube 😁

Bukan Belajar Tapi Bermain

Terlepas dari motivasi yang dimiliki Mbarep untuk sekolah, minimnya drama tentu tidak lepas dari peran sekolah memberikan kegiatan yang menarik dan lingkungan yang nyaman. Kalau kata keset jadul, welcome. Mbarep nampak happy ada di sekolahnya. Walaupun tentu saja tidak selalu dengan riang gembira. Sekali dua kali pastilah ada drama. Namanya juga hidup bersosialisasi. Tapi semakin kesini kami merasakan emosinya menjadi lebih stabil. Walaupun rengekan masih sering muncul tapi paling tidak dia sudah tidak terlalu sering tantrum. Kalaupun marah-marah durasinya lebih sebentar, nampak lebih mudah meregulasi emosi, dan semakin paham negosiasi. Mungkin sudah besar juga ya. 

Kalau sudah begini, kami bersyukur tidak memaksakan Mbarep untuk masuk sekolah di umur yang lebih muda, seperti saya dan ayahnya yang memulai pendidikan formal masing-masing di usia 3 tahun. Karena di usia 5 tahun dia memang sudah lebih siap "belajar" daripada sebelumnya. Walaupun tentu saja, karena prinsip pendidikannya di sekolahnya, kegiatan belajar sehari hari betul-betul adalah bermain. Memang masih umurnya. Memang sudah kodratnya. 

Setiap pulang sekolah, kami selalu bertanya kepada Mbarep, "main apa di sekolah"? . Kadang dia mau menjawab dengan semangat, kadang sekenanya saja. Tapi ada masanya juga dia cerita dulu tanpa diminta. Masih di parkiran juga sudah nyerocos. Meskipun seringnya tercampur-campur antara fiksi dan fakta. Karena kalau semuanya nyata, maka sekolahnya betul-betul adalah markas alien dengan berbagai ruangan rahasia. Alhasil seringnya kegiatan dia di sekolah masih jadi misteri bagi kami. Untungnya guru-gurunya gercep kalau ditanya apa yang terjadi sebenarnya. Haha. 

Mbarep dan Teman-Teman

Mungkin mewarisi sifat Ibunya yang susah menghapal nama, ditambah sifat ayahnya yang cuek bebek, Mbarep juga tak hapal nama teman-teman sekelasnyanya sampai sebulan setelah dia masuk sekolah. Saat pulang, anak-anak di kelasnya punya kebiasaan dadah-dadah sambil menyebutkan nama teman yang didadahi. Sampai sekitar sebulan di awal sekolah, Mbarep tidak pernah membalas dadah-dadah, atau mau dadah-dadah tapi tanpa suara. Sebetulnya saya sempat khawatir dia nggak hapal-hapal nama temannya karena dia tidak bisa berteman. Seperti saya yang tidak begitu pintar mencari kawan πŸ˜…. 

Tapi ternyata kata gurunya dia baik-baik saja. Mau main dengan semua orang. Walaupun tidak selalu bisa memanggil nama dan kadang lebih memilih untuk asyik sendiri seperti yang sering dia lakukan di rumah. Hal yang tidak disangka, Mbarep bahkan punya bestie! Sampai dia sudah berencana mengundang teman akrabnya itu ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya nanti. Sungguh suatu kemajuan kalau dibandingkan dengan saya yang sampai kuliah tidak punya teman akrab. Haha. Mungkin di tubuh dia campuran sifat neneknya yang pintar bergaul dan almarhum eyang kakungnya yang punya banyak teman, cukup dominan.

Sekali waktu kami pernah ikut kegiatan di sekolahnya. Acaranya bermain bersama orang tua dan pertunjukan kelas. Mbarep mau mengikuti kegiatan bersama, tapi memang nampak sering lebih menikmati penjelajahannya sendiri. Manjat sana sini. Lari sana sini. Memisahkan diri dari kelompok teman-temannya. Sesaat saya khawatir dia akan kabur saat giliran kelasnya untuk tampil. Karena saat yang lain sudah berbaris, Mbarep masih entah ada dimana. Tapi ternyata saat barisan masuk panggung dia sudah ada di dalamnya. 

Saya perhatikan sih guru-gurunya tidak ada yang harus memanggil-manggil dan menggiring dia ke dalam barisan. Dia juga bisa dengan baik menuntaskan perannya untuk tetap tinggal di panggung dan tampil sampai selesai tanpa ada yang mesti membujuk-bujuk. Melihat hal tersebut, saya cukup berharap artinya Mbarep sedikit demi sedikit mulai paham kapan saatnya dia boleh kabur dan kapan harus memenuhi "tugas"nya untuk ikut kegiatan berkelompok. Semoga, dengan bertumbuhnya kesadaran tersebut, lama kelamaan kesadaran Mbarep untuk bisa menempatkan diri juga bisa semakin berkembang. Karena menurut kami kemampuan ini salah satu yang akan sangat penting untuk dia kuasasi. 

Mbarep dan Rasa Bersalah

Entah apa sebabnya, atau nurun darimana, anak sulung kami ini takut sekali akan kesalahan. Kesalahan di sini bukan berbuat salah seperti melawan perintah terus takut dimarahi, tapi lebih ke menyampaikan hal yang salah atau keliru dalam menjalankan instruksi lalu sedih amat sangat saat dikoreksi. Seperti kepercayaan dirinya langsung hancur karena salah. Padahal dari kecil kalau dia menyampaikan hal yang salah, atau salah memahami instruksi, ya kami kasih tahu yang betulnya saja. Dikoreksi pelan-pelan tidak pernah dimarahi. Lha gimana manusia kan memang tempatnya khilaf dan salah πŸ˜‚ 

Saking dramanya kalau dikoreksi, Mbarep seperti punya mental block kalau diminta belajar. Padahal ya belajarnya juga sambil main-main saja. Kejadian yang paling sering, dia nangis-nangis kalau ditanya huruf dan angka. Karena sudah waktunya dia mulai tahu juga kan. Padahal nanyanya juga di kondisi santai, bukan seirus disuruh mengeja atau baca. Kalau tidak ditanya dia juga sudah hapal semuanya. Tapi nangis-nangisnya kayak disuruh mengerjakan soal Kalkulus III. Sampai kami bingung, ini bocah sebetulnya kenapa. Apa dia punya OCD atau mungkin sifat perfeksionis, atau jangan-jangan dulu waktu bayi pernah traumaπŸ˜… Misalnya usia 6 bulan di daycare-nya disuruh mengeja.

Dari cerita-cerita gurunya, di sekolah yang sering muncul sebagai manifestasi rasa takut pada kesalahan ini ada pada sikapnya menghadapi konflik dengan teman-teman. Memilih untuk kabur daripada menghadapi perasaannya sendiri. Seringkali dia kewalahan sampai harus khusus ditenangkan. Apa dia punya anxiety? atau salah satu dari kami tanpa sadar juga menampilkan sikap takut salah? Tak tahulah, semoga kedepannya kami bisa lebih paham mengenai hal ini.

Mbarep dan rasa bersalah ini masih jadi PR yang penting buat kami orang tuanya. Karena kami khawatir mental block yang ditunjukannya saat takut salah akan menghambat dia belajar mengenai hal apapun. Bukan hanya akademik. Tapi pada semua hal yang dia anggap tidak/belum dia kuasai. Padahal bagaimana bisa menguasai sesuatu kalau tidak pernah salah kan ya?

Jadi fokus kami sekarang adalah menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk belajar hal-hal baru. Mungkin kalau dia tahu bahwa salah itu tidak masalah, perlahan-lahan dia bisa melepaskan ketakutannya pada hal tersebut.  

Gara-Gara Mr. Comprang Campreng

Satu hal yang menonjol, semenjak masuk sekolahnya, kemampuan imajinasi Mbarep semakin berkembang. Mungkin karena di sekolahnya pembelajaran juga banyak dilakukan melalui dongeng dan ajakan untuk berimajinasi. Masalah muncul karena Mbarep hobi sekali dengan semua hal berbau perang. Senjata, kendaraan perang, prajurit, dan sebagainya. Mainan kesukaannya adalah figur tentara-tentara plastik jadul. Hobinya membuat kastil dan benteng dengan mainan block. Channel yang dia tonton di Youtube biasanya juga tentang hal-hal tersebut (termasuk channel Mr. Comprang Campreng), walaupun tidak selalu. Permainan offline yang paling dia sukai adalah catur dan kartu Pokemon. Tentu saja karena ada strategi "perang"nya. Mbarep bahkan betah bermain sendiri selama berjam-jam hanya menggunakan kedua tangannya,  menciptakan skenario pertempuran. 

Karena saya tidak paham betul hobi anak laki-laki, saya menyerahkan pengawasan mengenai urusan perang ini kepada suami. Ayahnya Mbarep, yang juga hobi perang-perangan waktu kecil, menganggap kelakuan Mbarep masih wajar. Tak heran, karena saat zaman ayahnya kecil, hobinya juga berjam-jam berkutat dengan koleksi mainan GI Joe miliknya. Sehingga menurutnya, dia cukup paham tentang apa  yang membuat Mbarep tertarik pada topik perang dan pertempuran. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi selama masih dinilai age appropriate, ayahnya membiarkan Mbarep melakukan apa yang dia suka. 

Masalahnya, Mbarep dan ayahnya ternyata berbeda. Ayahnya, yang tidak punya imajinasi sekuat Mbarep dan cenderung penyendiri, tidak kepikiran untuk mengungkapkan hobinya soal perang di depan umum. Sementara Mbarep, yang suka tenggelam dalam pikirannya sendiri, sering tanpa sadar bermain perang-perangan di sekolah dan menunjukkan tindakan-tindakan yang bisa dianggap menjurus kepada kekerasan. Seperti memukul, mencekik, mencubit, dsb. Walaupun tidak parah tapi sempat menimbulkan beberapa konflik. Paling gawat ketika kelakuannya jadi ditiru anak-anak lain. Anak-anak lain yang tadinya tidak tahu sama sekali tentang perang, mulai ikut-ikutan tembak-tembakan πŸ™ˆ Bisa digeruduk emak-babe lain nih kita.

Saat sesi obrolan dengan gurunya dan psikolog, kami orang tuanya diminta untuk bekerja sama mengalihkan minat Mbarep ke hal lain. Hal yang wajar menurut kami ternyata tidak sesuai dengan nilai-nilai di sekolahnya. Mbarep dinilai terpapar hal yang tidak sesuai dengan umurnya. Utamanya kekerasan. Karena kami, tentu saja, tidak mau Mbarep jadi biang kerok kekacauan di kelas, apalagi kalau sampai kelakuannya mempengaruhi, mengganggu, atau menyakiti orang lain, kami putar otak mencoba menyelesaikan masalah ini. Berbagai hal kami lakukan. Mulai dari menyaring tontonan yang dianggap memantik ide berbau kekerasan, hingga mencoba mengarahkan konteks ketertarikannya terhadap perang ke hal-hal yang lebih positif seperti sejarah. Karena kalau sama sekali dilarang sepertinya tidak realistis juga. 

Hal utama yang kami mau lagi-lagi adalah Mbarep tahu menempatkan diri. Jadi fokus kami ada pada  memberikan pemahaman kepada Mbarep untuk memisahkan urusan main di sekolah dengan main di rumah. Tapi tentu saja dimanapun saat bermain, tidak boleh melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain dan diri sendiri. Boleh main perang-perangan di rumah. Sementara itu, dengan teman-teman di sekolah, kami sampaikan sama sekali tidak boleh. Pilih mainan yang lain saja yang sesuai dengan aturan sekolah. Karena Mbarep juga harus tahu, dia harus mengikuti peraturan yang ada. Kami berharap dengan pemahaman ini, kalaupun memang minat dia terhadap perang tidak bisa dialihkan ke hal lain, dia mengerti kalau minat tersebut tidak boleh disalurkan sembarangan sesuka hati dia. Semoga kedepannya perlahan-lahan Mbarep bisa belajar mengendalikan diri di berbagai situasi dan hobinya mengenai perang bisa tersalur menjadi hal yang positif. 

Mbarep dan Kegiatan Ekstrakulikuler

Seperti kebanyakan orang tua lainnya, terkadang saya juga suka terkena sindrom FOMO kalau soal anak-anak. Inginnya mereka dapat pengalaman dan pengetahuan terbaik dan menyenangkan sebanyak mungkin. Dimanapun kapanpun. Semua kegiatan kalau bisa berbobot dan menambah wawasan. TAkan tetapi, karena sadar diri dengan faktor umur yang tak bisa menipuπŸ˜‚, berbagai kesibukan lain yang menyita perhatian, dan sisi introvert yang rasanya kok semakin lama semakin dominan, seringkali saya batal FOMO. Akhirnya mencoba berpegang pada prinsip nggak usah ngoyo. Semampunya saja. Termasuk soal kegiatan ekstrakulikuler Mbarep.

Mbarep ikut les robotik dari usia 4 tahun. Les robotik untuk anak segitu isinya tentu saja bukan coding, melainkan latihan menyusun lego. Menghitung lego yang diperlukan, memasang di posisi yang tepat, hingga terbangun bentuk sesuai contoh. Mbarep suka les tersebut dan betah menjalaninya. Saat pertama kali mengikutkan Mbarep di les ini, kami tentu sama sekali tidak berharap dia jadi jagoan menyusun lego. Kami cuma ingin dia punya suatu hal yang bersedia dia ikuti dengan tekun. Tidak perlu selalu jadi jago, tekun saja juga sudah susah. 

Buktinya, selama dia ikut les robotik, tidak terhitung teman sekelasnya berganti-ganti. Kebanyakan hanya bertahan beberapa kali pertemuan. Mungkin dianggap isinya kurang berbobot, karena yang dilakukan ya benar-benar menyusun lego ke dalam bentuk basic saja. Habis apa sih yang diharapkan dari anak 5 tahun yang ikut les lego? dalam satu pertemuan tiba-tiba bisa bikin figur kapal Titanic dari 0, gitukah?  Heuheu.

Semakin Mbarep besar, kami mulai memikirkan kegiatan ekstrakulikuler lain buat dia. Masukan dari sekolah adalah Mbarep kelebihan energi, jadi masih sulit fokus dan konsentrasi. Disarankan untuk ikut kegiatan ekstrakulikuler yang bisa melatih dia untuk mengendalikan energinya. Sesungguhnya mendengar hal ini yang langsung terpikir oleh saya sinetron China zaman baheula, semacam To Liong To dan Siluman Ular Putih, yang suka ada adegan mengumpulkan energi di telapak tangan lalu mentransfer energi tersebut ke orang lain via punggung (nah ketauan kan tuanya). Setelah berdiskusi dengan suami, kami putuskan Mbarep ikut olah raga. Ya iyalah, karena kalau ikut Kumon kan pasti bubar πŸ˜‚ 

Kalau soal olahraga, kami sepakat Mbarep harus bisa berenang. Kami berdua masing-masing les berenang cukup intens waktu kecil dan rasanya kemampuan tersebut berguna sekarang. Berguna buat berenang mengarungi samudera kehidupan. Halah. Mbarep sempat ikut les berenang beberapa kali di akhir tahun kemarin. Dia sepertinya cukup punya bakat berenang, jadi dalam beberapa pertemuan sudah bisa. Sayangnya karena jadwal berenang bentrok dengan jadwal robotik, dan karena banyak kejadian juga kegiatan lain di hari Sabtu, jadi sampai akhir tahun kemarin latihannya belum rutin. Di awal tahun ini, kami masih mencari jadwal dan kompromi yang pas agar Mbarep bisa les berenang dengan rutin. 

Pilihan kami untuk olah raga selain renang adalah gymnastic. Karena gymnastic, sama seperti renang, adalah olahraga yang kalem. Tidak meledak-ledak. Mungkin bisa membantu Mbarep mengendalikan energinya. Sayangnya tempat latihan yang bisa rutin ada di tengah kota. Sebenarnya tidak seberapa jauh dari rumah kami. Cuma sering macet. Apalagi jadwal latihannya di hari Minggu. Haha. Sungguh malespun

Kebetulan setelah mencari-cari saya menemukan ada tempat tempat les gymnastic yang menawarkan sesi latihan privat dengan pelatih datang ke rumah. Saya mencoba daftar untuk Mbarep. Pelatihnya masih muda. Statusnya selain mahasiswa tingkat akhir juga atlit daerah yang masih aktif bertanding. Sebetulnya Mbarep dan Ragil suka ikut latihannya. Sayangnya tidak bisa rutin karena pelatihnya sering berhalangan. Entah karena mengerjakan skripsi atau karantina persiapan lomba. Tapi tidak mengapa, karena Mbarep dan Ragil cukup enjoy, kami putuskan agar tetap ikut lesnya saja. Sekali sekali tidak masalah, untuk gerak badan.

Alternatif olah raga lain yang kami lirik adalah kung fu. Kebetulan ada 2 tempat latihan kung fu dekat rumah. Kami memang ingin Mbarep ikut bela diri. Selain ingin dia punya dasar-dasar bela diri yang baik dan benar, kami juga ingin gaya-gaya yang sering dia keluarkan saat main berantem bisa lebih terarah πŸ˜… Hobi main berantem-beranteman, sekalian sajalah. Haha. Sayangnya jadwal Kung Fu adanya di waktu jam kerja kami berdua, jadi masih jadi peer perihal antar jemputnya. Semoga tak lama ketemu jalannya supaya Mbarep bisa mencoba kung fu.

Opsi terbaru adalah ikut parkour. Apalagi kalau bukan karena Mbarep hobi lompat kesana kemari. Sampai sofa di rumah juga jadi korban. Jebol. Kebetulan pamannya menemukan tempat latihan parkour untuk anak-anak. Walaupun jadwalnya juga bentrok dengan robotik tapi sepertinya lebih simple daripada berenang. Jadi mungkin dalam waktu dekat akan kami coba ikutkan Mbarep ke sana. Semoga dia suka dan bisa membantu tumbuh kembangnya jadi lebih baik lagi. 

Bukan Anak Jenius

Tulisan ini niatnya dibuat selain untuk catatan sendiri juga untuk respon rapor sekolah Mbarep. Rapor sekolahnya berbeda dengan rapor sekolah lain. Bentuknya mirip makalah. Haha. Ditulis dengan mendetail dan disajikan sepenuh hati. Kami sadar ada banyak hal yang memang tidak kami pahami karena bukan ahli. Rapor yang terperinci sangat membantu dalam melengkapi pengetahuan kami mengenai anak kami sendiri. Begitu membaca rapor-nya, langsung muncul keinginan untuk membalas dengan tulisan yang sepenuh hati juga. Sayangnya berbagai kejadian membuat draft tulisan ini hampir terlupakan. Baru bisa diberikan sekarang. Semoga bisa jadi bahan bacaan juga untuk kakak-kakak guru. 

Membaca tulisan di rapor tersebut, kami semakin yakin bahwa Mbarep bukan anak jenius πŸ˜‚ Dia anak biasa-biasa saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kadang bikin pusing tujuh keliling, tak jarang juga bikin ingin mengibarkan bendera putih. Tapi setelah dipikir-pikir, adanya Mbarep dan adiknya lebih banyak membuat kami bersyukur. Selain makin rajin istigfar. Haha. They're more than everything that we've could ever hope for. Apapun itu, anak-anak adalah hadiah istimewa bagi kami dari Allah SWT. Jadi kami berharap semoga kami bisa menyampaikan rasa terima kasih kami pada pemiliknya, dengan jalan membantu sebaik baiknya kemampuan, walaupun dalam segala keterbatasan, agar mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi versi terbaik dan paling bersinar dari diri mereka sendiri. Amin.
Read more ...

Sunday, November 20, 2022

Kok Bisa?

Enam jam sebelum deadline Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog terakhir di tahun ini saya memutuskan untuk ganti topik. Tadinya saya mau review film dokumenter tapi menjelang Magrib tadi sambil main-main dengan bocah saya jadi terpikir menulis tentang hal di luar nalar. Soalnya dipikir-pikir saya lebih cocok nulis yang di luar nalar daripada yang serius-serius. 

Anyway, yang akan saya tuliskan dibawah ini adalah pengalaman masa kecil saya. Beberapa yang saya ingat karena dulu berkali-kali diceritakan oleh orang tua saya. Tenang saja cerita yang saya tuliskan tidak ada seram-seramnya. Lebih tepatnya saya sekarang wondering sendiri kok bisa?

Berkelana "Sendiri" Umur 4 Tahun

Anak sulung saya, Mbarep, usianya sekarang 5.5 tahun. Belum pernah sekalipun dia pergi sendiri apalagi menginap di luar tanpa orang tuanya. Sebagai individu yang termasuk orang tua panikan dan overthinking, saya belum berani melepaskan dia sendiri. Bahkan sampai sekarang saya masih suka deg-degan kalau dia hilang dari pandangan saya saat ada di tempat umum yang relatif aman seperti playground atau supermarket. 

Sampai suami harus berkali-kali mengingatkan kalau Mbarep sekarang sudah besar. Sudah cukup punya nalar untuk tidak pergi jauh-jauh dan punya kemampuan yang cukup untuk bisa mencari jalan untuk menemukan kami kembali. Tapi tetap saja  karena kebanyakan dicekoki berita kriminal, pikiran saya langsung jadi macam-macam kalau anak-anak saya tidak ada dekat saya.

Maka dari itu saya tidak habis pikir apa yang dipikirkan orang tua saya. Sejak umur 4 tahun saya sudah biasa ikut keluarga Bude saya plesir kemana-mana. Road trip blusukan ke desa-desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ke Jakarta yang besarnya tak terbayang oleh saya, bahkan yang ultimate ikut menyeberang ke Lampung dan Bali. Sendirian saja tanpa orang tua. 

Sudah sejak TK saya juga biasa liburan di Bandung sendirian. Orang tua saya ya tetap di Semarang. Wong mereka kerja. Saya berangkat dan pulang biasanya naik bis malam. Dititipkan saudara siapa saja yang pergi ke Bandung dan pulang ke Semarang. Sekarang setelah saya pikir-pikir, bude saya dan keluarganya sabar banget menghadapi bocah kecil. Kalau misalnya kelakuan saya dulu pecicilan seperti Mbarep sekarang, hati mereka pasti seluas samudera. Ngurus anak sendiri saja pasti sudah repot apalagi ketambahan balita satu lagi. Tapi mungkin itu hebatnya orang zaman dulu. Tidak masalah jalan-jalan dengan banyak anak.

Paling hebat waktu kelas 6 SD saya diizinkan pergi ke Jakarta sendirian naik kereta buat ikutan nonton Grand Prix Marching Band. Tim sepupu saya dari SMA Santa Ursula Jakarta saat itu bertanding dan saya diajak jadi suporter. Badan saya memang bongsor, jadi waktu SD saya sudah seperti anak SMA, walaupun kelakuan tentu masih seperti anak SD pada umumnya. Tapi tetap saja sekarang saya tak habis pikir. Kok bisa orang tua saya melepaskan saya begitu saja? Mana dulu kan belum zaman handphone. Kalau saya hilang di Gambir gimana? 

Sepertinya orang tua saya mulai berpikir dua kali untuk anak kedua. Karena seingat saya, adik saya tidak pernah dibiarkan ikut pergi-pergi sama orang lain sampai besar. Bahkan waktu akhirnya dia pergi sendiri ke Bandung buat kuliah ibu saya konon nangis-nangis sampai sebulan. Haha.

Masuk TK Umur 3 Tahun

Anak bungsu saya, Ragil, sekarang usianya 3 tahun. Tahun ini dia kami masukkan Play Group dengan pertimbangan masnya mulai masuk TK. Kami pikir kasihan kalau dia sendirian di rumah, walaupun sekolah Mbarep juga cuma 2 jam.

Karena belum bisa masuk sekolah yang sama dengan Mbarep, Ragil masuk sekolah yang lebih dekat dengan rumah. Tapi walaupun judulnya sekolah, kegiatan Ragil ya hanya main-main saja. Tidak ada target akademik tertentu. Hanya lebih terstruktur main-mainnya daripada di rumah karena ada program pembelajaran. Plus ada teman-temannya. Seringkali Ragil tidak ikut kegiatan yang sudah ditentukan di sekolah, malah sibuk main pasir atau perosotan dari datang sampai pulang. Tapi ya memang di usia dia belum waktunya belajar terstruktur jadi kami tak ambil pusing.

33 tahun yang lalu, di usia tepat 3 tahun, saya juga dimasukkan ke TK oleh orang tua saya. Entah apa pertimbangannya. Saya tidak pernah sempat bertanya. Mungkin saya terlihat bosan di rumah, atau bisa jadi saya memang minta sekolah, atau orang tua saya menganggap saya bisa. Bukannya bagi generasi baby boomers, semakin cepat semakin baik, semakin dini semakin hebat?

Pokoknya, sama seperti Ragil, saya memulai perjalanan pendidikan formal saya di usia 3 tahun. Bedanya TK yang saya masuki adalah TK negeri konvensional di pinggir kota. Duduk di kursi menghadap guru adalah keharusan. Calistung adalah kewajiban. Tidak peduli usia murid. Semua harus belajar baca, tulis, hitung. Kalau kelakuan saya dulu seperti Ragil sekarang, saya heran kenapa dulu tidak dikeluarkan dari sekolah. 

Ragil masih tidak berminat belajar angka dan huruf, lagipula kalau ada yang memaksa dia melakukan sesuatu, orang itu harus siap menghadapi ledakan emosi ala threenager yang luar biasa. Jadi kalau dia masuk TK konvensional saya bisa pastikan setiap hari akan penuh jeritan dan tangisan. Drama ala film-film India minus angin topan dan sari yang berkibaran. Mungkin guru zaman dulu jauh lebih sabar atau saya lebih pintar menyesuaikan diri. Satu hal yang pasti, orang tua saya berani sekali. 

Anekdot yang sering diceritakan oleh orang tua saya mengenai masa TK saya adalah tentang raport pertama dimana saya dapat C untuk semua aspek yang dinilai. Waktu itu, Bapak saya, yang adalah dosen di Fakultas Pendidikan IKIP Semarang, katanya langsung menemui kepala sekolah sekolah saya dan menceramahi beliau tentang pedagogi. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana kepala sekolah tersebut menanggapi Bapak saya.

Tahun berikutnya, di usia 4 tahun, saya dipindahkan ke TK swasta yang ada di tengah kota. Mungkin program pendidikannya lebih ramah atau usia saya sudah mencukupi, yang pasti di TK tersebut nilai saya konon tak pernah kurang dari A. Dulu nilai memang segalanya.

Modal "Ndilalah" Masuk Sekolah Favorit

Pengalaman yang ini mungkin sebetulnya tidak masuk kategori diluar nalar, lebih tepatnya "ndilalah". Keberuntungan. Tapi ya sudahlah, nanggung  kita tuliskan saja.

SMP, SMA, dan tempat kuliah saya masing-masing termasuk kategori sekolah favorit. Persaingan masuknya cukup sengit. Biayanya, walaupun sekolah negeri, juga termasuk tinggi dibanding sekolah lain di daerah yang sama. Tapi alhamdulillah saya bisa masuk ketiganya dengan cukup mudah dan murah.

Saya masuk SMP saat krisis moneter tahun 1998. Saat itu harga-harga melambung tinggi. Perusahaan-perusahaan bangkrut. PHK terjadi dimana-mana. Semua hal jadi mahal sekali. Saya samar-samar ingat baru saja selesai mengikuti EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) ketika Presiden Soeharto lengser. Kerusuhan terjadi di berbagai kota besar. Di Semarang tidak terjadi kerusuhan, padahal etnis tionghoa ada banyak jumlahnya. Orang Semarang memang happy go lucky

Ketika masa pendaftaran sekolah tahun itu, ndilalah muncul peraturan dari pemerintah kota Semarang. Seluruh sekolah negeri hanya boleh menarik uang pembangunan maksimal Rp. 50.000. Padahal biasanya sudah Rp.300 ribuan. Mungkin untuk mencegah banyak anak yang putus sekolah. Lalu anak guru dapat poin tambahan NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebesar 0.5. Saya pun, yang punya ibu seorang guru SMA, melenggang masuk ke SMP 1 Semarang tanpa halangan. Murah lagi.

Tiga tahun kemudian, ketika saya masuk SMA, tidak ada kebijakan mengenai potongan biaya. Tapi di tahun itu juga ndilalah lagi-lagi muncul aturan anak guru dapat poin tambahan NEM sebesar 2.00 poin. Saya yang tadinya mencoba peruntungan untuk masuk ke SMA 3 Semarang dengan nilai yang mepet passing grade, seketika langsung naik ke posisi aman. Kembali saya melenggang masuk sekolah favorit karena jadi anak guru. Di tahun-tahun berikutnya aturan poin tambahan ini ditiadakan karena banyak yang protes fairness-nya. Ya iyalah. Aneh-aneh saja.

Saat masuk kuliah, sebetulnya saya sudah merasa cukup beruntung karena diterima. Bapak saya yang cermat soal keuangan sudah menyiapkan dana yang cukup sehingga saya sebetulnya tidak khawatir soal biaya. Tapi saat mengisi bagian besaran uang pembangunan di formulir kesanggupan membayar biaya pendidikan, ndilalah saya iseng contreng pilihan Rp. 0. Petugas yang memeriksa formulir itu tidak berkomentar apa-apa, padahal ada juga yang ditegur karena dianggap "aji mumpung". Mungkin petugas melihat kalau saya anak dosen dan guru yang penghasilannya pas-pasan. Alhasil saya masuk ke ITB tanpa bayar biaya gedung sama sekali. Lumayan hemat Rp.2.500.000. Hehe. 

Penutup

Begitulah cerita yang saya anggap diluar nalar. Mohon maaf kalau kurang nyambung. 2.5 jam sebelum deadline. Alhamdulillah bisa kesampaian juga.





Read more ...

Thursday, October 20, 2022

Duduk Tenang dan Pilih Kopimu

Kopi saat ini sudah menjadi bagian gaya hidup. Hampir semua orang yang saya kenal menyukainya. Ada yang cukup puas dengan kopi sachet yang diseduh setiap kali perlu, atau kopi kekinian di kedai-kedai kopi populer, ada juga yang menggemari kopi artisan, dari berbagai varietas biji kopi yang diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan rasa yang mungkin dianggap sebagai surga dunia.

Saya sendiri tidak menyukai kopi. Makanya saya cukup kebingungan ketika tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah Mamah dan Kopi. Karena saya tidak tahu menahu soal kopi. Kalaupun terpaksa harus pergi ke kedai kopi, biasanya saya memesan minuman cokelat. Saya pun tidak pernah tahu bedanya antara frappucinno, cappucinno, latte, apalagi perkara robusta, arabica, atau liberica. Tidak tahu dan tidak berminat tahu juga. Hanya saja karena saya sudah melewatkan tantangan bulan lalu, jadi saya tuliskan juga cerita tentang kopi (paling tidak disebutkan secara eksplisit walaupun mungkin nggak nyambung). Karena segala sesuatu yang penting niatnya bukan? haha.

Sekarang duduk manis dulu ya...kita dengarkan cerita saya. Semua cerita yang dituliskan dibawah 90%-nya adah fiksi. Sisa 10%-nya adalah kejadian yang memang pernah saya alami tapi digoreng agar lebih renyah dan dibumbui agar lebih sedap.

Prolog

(sumber: freepik.com)

Bau kopi selalu mengingatkanku pada Eyang. Semerbak kopi hitam pekat yang selalu beliau seduh setiap pagi. Dilengkapi sepotong dua potong pisang goreng atau singkong rebus sebagai sarapan. Perlahan dinikmati sambil memperhatikan tontonan gosip pagi di televisi.

Aku ingat kadang ada pagi dimana Eyang tidak bisa langsung ngopi sesaat setelah jam berdentang pukul 6 pagi. Entah karena ada tamu, ada hal mendadak yang harus dikerjakan, atau Mbok Darmi, pembantunya yang setia, lupa membeli persediaan kopi hitam di warung sehari sebelumnya. Gelisah pasti akan menyelimuti paras Ibu dari ayahku itu hingga akhirnya dia bisa mereguk minuman penuh kafein tersebut.

***

Bau kopi jugalah yang menghantuiku selama berbulan-bulan setelah Eyang berpulang. Saat itu aku masih kelas satu SMP. Eyang tak bisa segera dimakamkan segera setelah menutup mata selamanya. Harus menunggu anak cucunya pulang dari berbagai penjuru Indonesia dan juga dunia. Aku ingat betul berbungkus bungkus bubuk kopi ditaburkan di sekitar kerandanya, untuk mengurangi aroma tak sedap yang mungkin menguar dari jasadnya yang telah kaku.

Bahkan setelah seluruh pelayat dan keluarga pulang, rumah Eyang masih berbau kopi. Sampai seminggu lamanya. Kemudian dengan anehnya hingga beberapa saat aku masih merasa mencium bau kopi yang sama di tempat-tempat random. Ruang tempat latihan paduan suara di sekolahku, pojok halaman rumah, ruang ganti kolam renang dekat rumah, dan bahkan lorong di perpustakaan daerah tempatku meminjam buku cerita.

"Mungkin Eyang mampir mengunjungimu", kata kakakku sok bijak. Perkataan yang sukses membuatku tak tidur semalaman. Merapal doa karena ketakutan setiap habis mencium aroma kopi di suatu tempat. Karena sekangennya-kangennya aku dengan Eyang, sesungguhnya aku tak berminat bertemu dengannya dalam wujud selain yang kukenal.

***

Nampaknya pengalaman tersebut cukup traumatis untukku. Sehingga sekarang, hampir 15 tahun setelah Eyang tiada, aku masih saja merasa sangat pusing jika mencium bau kopi. Bahkan aroma yang pekat bisa membuatku hampir pingsan. Seperti saat aku mengikuti kuliah kerja ke salah satu pabrik produsen kopi bubuk ternama. Tersergap aroma kopi dari berbagai sisi, tubuhku bereaksi cukup brutal. Kepalaku berdetam bagai dipukul godam. Jantungku berdebar kencang. Bulir keringat dingin membanjiri badanku. Kakiku menjadi lemas hingga akhirnya tubuhku oleng menubruk tepian bingkai kaca pembatas antara pengunjung dan conveyor kopi. Sukses membuatku mendapatkan 3 jahitan di kepala.

Semenjak itu aku tidak mau berurusan dengan kopi. Walaupun minuman tersebut sudah menjadi sebuah budaya yang diamini hampir seluruh orang yang kukenal, tapi aku tetap dengan pendirianku. Tak pernah sekalipun aku menginjakkan kaki di cafe kekinian apalagi coffee shop. Takut mencium bau kopi lalu pingsan dan membuat kehebohan. Karena seingin-inginnya aku menjadi terkenal, aku tak berminat menjadi objek berita dengan tajuk "Perempuan Pingsan Mencium Aroma Kopi".

***

Kisah Awalnya

Suatu hari di tengah perjalanan menuju tempat meeting di kota sebelah, lampu indikator panas di mobilku berkedip-kedip menunjukkan kondisi overheat. Mengetahui bahayanya, aku tahu harus segera menghentikan mobil. Masalahnya jalan yang sedang aku lalui ada di tengah-tengah hutan jati. Walaupun hari itu masih siang bolong, tapi tetap saja aku takut berhenti sembarangan. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan menjalankan mobilku pelan-pelan hingga menemukan tempat yang ada orangnya. Sambil berdoa semoga mesin mobilku bertahan dan tidak terbakar di tengah jalan.

Sekitar 10 menit aku melihat sebuah warung di pinggir jalan. Setelah memastikan bahwa warung tersebut buka, segera aku menepikan mobilku di sebelahnya. Kemudian setelah menunggu mesin mobil agak dingin, aku turun dan dengan hati-hati membuka kap mesin mobil untuk memeriksa air radiator. Habis sehabis-habisnya. Sepertinya ada kebocoran. Segera kutelepon bengkel. Karena jarak ke tempatku yang cukup jauh, mereka berjanji akan mengirimkan teknisi dan mobil derek dalam waktu minimal 1 jam.

***

Aku memeriksa jam tanganku. Dalam 25 menit meeting seharusnya dimulai. Meeting yang cukup penting karena menentukan goal proyek baru dan apakah aku akan diamanahi menjadi pemimpinnya. Sesungguhnya atasanku sudah mewanti-wanti agar aku lewat jalan tol saja, walaupun harus memutar agak jauh. Tapi aku bersikeras melewati jalan lama, karena aku paling malas menyetir sendiri di jalan tol. Lagian tadinya kupikir, hal buruk apa yang bisa terjadi sebelum jam 9 pagi?

Untungnya setelah aku kabari, atasanku hanya menghela napas panjang lalu mengatakan aku bisa bergabung secara online saja. Seperti memaklumi aku dan kepala batuku. The perks of living in post pendemic era. Bisa meeting online. Masalahnya aku lupa mengisi baterai telepon genggamku. Nampaknya daya 30% tidak akan kuat kalau digunakan untuk meeting. Aku juga tak ingin teleponku mati, karena masih perlu menghubungi orang bengkel. 

Awan mendung yang sedari tadi membayangi langit diatasku, menggelayut semakin berat. Nampaknya sebentar lagi akan segera menumpahkan air yang dikandungnya. 

Aku menoleh ke warung sebelah. Diatas bangunan tersebut terlihat semacam antena televisi, jadi aku berasumsi di dalam seharusnya ada listrik. Mungkin aku bisa numpang mengisi daya telepon genggamku sebentar. Aku membereskan barang-barangku kemudian bergegas menuju ke warung yang terbuat dari bambu dan kayu tersebut. Tetap waspada karena aku tidak tahu siapa atau apa yang akan aku temui di sana. Suara musik terdengar mengalun pelan. Lagu lawas tahun 80an.

Teruskan cerita ini dengan memilih jenis kopi sesuai seleramu.

Pilih Kopimu

(sumber: freepik.com)


Silahkan pilih kopi sesuai selera. Mau tiga-tiganya juga tidak ada yang melarang. Kalau ketagihan tanggung sendiri. 




Read more ...

Tuesday, October 11, 2022

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Trial Bagian 2)

Proses penerimaan di sekolah Semi Palar yang paling meticulous daripada dua sekolah yang kami coba sebelumnya. Wajar karena dari awal mereka bilang cari peserta didik yang cocok. Bukan yang terbaik berdasarkan standar akademik umum. Karena program sekolahnya yang berbeda, memang harus dipastikan bahwa orang tua memiliki visi yang sama tentang arah pendidikan anak - anaknya. Agar kedepan tidak ada yang kecewa. Proses penerimaannya ada 5 tahap : Gelar Griya yang sudah saya jelaskan di tulisan bagian pertama, trial, penjelasan hasil assessment saat trial oleh guru pendamping, penyelarasan sekolah dan rumah oleh Kepala Sekolah, dan terakhir, jika diterima, pendaftaran ulang.

Awal yang Salah Kaprah

Trial di sekolah ini berlangsung selama 3 hari. 2 hari offline di sekolah, 1 hari online dari rumah. Berlangsung di awal bulan Februari. Ada jeda cukup lama dengan Gelar Griya. Jauh lebih lambat dari kebanyakan sekolah yang proses penerimaannya sudah selesai di akhir tahun. Tapi tidak masalah, kan sudah dibilang bahwa sekolah ini memang berbeda.

Mbarep sebetulnya cukup excited untuk trial di sekolah ini. Sudah kami sounding dari jauh - jauh hari. Kamipun tidak sabar menunjukkan sekolah ini ke dia karena merasa dia pasti akan senang disana. Tapi yang sedikit menjadi masalah adalah jadwal trial offline hari pertama jatuh di hari Senin jam 10.30. Senin adalah hari paling sulit dari semua hari di sepanjang minggu, sementara jam 10.30 adalah jam nanggung waktu bagian bosan anak saya di rumah. Kombinasi keduanya benar - benar menguji kesabaran. Haha.

Karena trialnya berlangsung 2 hari, rencananya hari pertama saya yang mengantar sementara suami mengantar di hari kedua. Di hari pertama, saya membuat beberapa kesalahan yang membuat siang itu sangat melelahkan. Kesalahan yang pertama adalah pergi mengantarkan suami ke kampus, meninggalkan Mbarep di rumah, tanpa memberikan briefing yang cukup tentang rencana hari itu pada orang rumah. Anak saya punya jadwal harian yang rutin dan dia cukup resisten pada perubahan. Artinya kalau ada agenda yang membuat jadwal rutinnya berubah, dia tidak bisa disuruh - suruh untuk langsung menyesuaikan diri. Bisa malah ngadat. Seperti yang terjadi siang itu.

Tiga Perempat Jam yang Panjang

Sementara saya pergi mengantar suami, Mbarep ditinggal di rumah dengan kakek, nenek, dan para pengasuh. Sebetulnya mungkin semua orang bermaksud membantu. Tau kalau dia akan ikut trial, mereka meminta Mbarep untuk bersiap - siap. Agar ketika saya datang sudah siap untuk pergi. Tapi ya itu tadi, anaknya punya sifat semakin disuruh - suruh semakin dia melawan. Apalagi kalau semua orang bicara bersamaan. Makin dia pusing dan makin dia tidak mau dengar.

Sepanjang perjalanan feeling saya sudah tidak enak. Betul saja, sesampainya di rumah, saya mendengar teriakan - teriakan, dan ketika masuk menemukan Mbarep sedang histeris di depan kamar mandi.Teriak - teriak menolak untuk mandi. Masuk ke kesalahan saya yang kedua, yaitu tidak menenangkan dia dulu malah setengah memaksa dia untuk langsung mandi. Harapan saya semakin cepat dia mandi dan bersiap semakin cepat kami bisa pergi dan menenangkan diri. Harapan saya tidak terkabul. Mbarep malah semakin histeris. Setelah mandi dia menolak pakai baju. Nangis teriak - teriak. Melempar semua barang di kamar mengeluarkan semua bajunya dari lemari. All hell break loose kalau istilah dramatisnya.

Kesalahan saya yang ketiga adalah tidak bersikap tenang dan malah mengikuti emosi. Bisa dibilang siang itu saya ikutan tantrum juga. Kesal sekali saya karena sudah menunggu lama untuk ikut trial ini tapi terancam gagal karena Mbarep ngadat. Merutuki diri sendiri karena lupa untuk memberitahu orang - orang rumah agar membiarkan saja Mbarep sampai saya datang. Meminimalkan risiko tantrum. Toh saya sudah spare waktu yang cukup untuk membantu dia bersiap dan melakukan perjalanan.

Emak Ikut Tantrum

Tantrum Mbarep hari itu jauh lebih dahsyat daripada tantrum dia sebelum - sebelumnya. Sampai 45 menit kami habiskan untuk saling teriak, dengan saya mengatakan berbagai macam hal, mulai dari bujukan, rayuan, ancaman, hingga vonis hukuman. Sampai suatu saat setelah saya mulai merasa sangat lelah dan sudah pasrah akan menyerah. Tetiba Mbarep jadi tenang sendiri. Entah kenapa. Mungkin janji saya untuk membawanya makan eskrim dan lihat - lihat toko mainan sepulang dari trial baru merasuk ke dalam jiwanya dan cukup jitu untuk menenangkan hatinya.

Dalam waktu 5 menit langsung saya membawanya ke mobil dan kami sampai tepat ketika trial akan dimulai. Mbarep tidak dalam kondisi terbaiknya. Matanya bengkak, mukanya sembab, dan saya tau dia kelelahan setelah menangis lama. Karena kekeuh hanya mau pakai baju dan celana yang dia ambil, dan kayaknya hanya asal sambar saja dari tumpukan pakaian yang dia buang keluar lemari, baju yang dia pakai hari itu adalah baju tidur yang di bagian tengkuknya ternyata bolong. Celananya untungnya tidak bolong, tapi sudah lusuh dan karetnya sudah kendur sehingga sering melorot πŸ™ˆ Dibandingkan anak - anak lain yang datang trial dengan rapi, ceria, dan menggunakan baju bagus. Tampilan Mbarep agak tidak biasa. Nggak papalah pikir saya. Apa adanya haha.

Happy Ending

Selesai trial dia cukup happy. Langsung bilang sendiri "Ibu aku cocok sekolah disini". Saya bilang ya berdoa saja, soalnya belum tentu keterima haha.

Hari keduanya dia jauh lebih semangat untuk pergi. Dari pagi sudah menanyakan kapan berangkat dan dengan happy menuruti semua kata-kata saya untuk bersiap dan pergi. Hari ketiga trial yang dilaksanakan secara online juga berhasil. Dia mau duduk tenang mengikuti instruksi guru. Lumayan. Haha.

Hari pertama diakhiri dengan ngedate berdua di Mall. Makan burger sambil lihat-lihat mainan. Sesungguhnya Ibunya yang lebih perlu hal ini buat menenangkan diri. Hahaha.  Di hari kedua dia diajak menggambar apa saja yang dia mau (dia gambar scene perang Indonesia vs. Jepang), dan di hari ketiga diminta menghias gambarnya. Mungkin karena ini dia mau dengan rela anteng saat sesi online mendengarkan instruksi gurunya.

Paparan Hasil dan Ngobrol dengan Kepala Sekolah

Paparan hasil dilakukan sekitar 3 minggu setelah trial, secara online melalui gmeet privat dengan guru yang bertugas sebagai PJ Trial. Di paparan ini guru-guru tersebut menjelaskan secara detail apa saja yang dilakukan anak saat trial lalu bagaimana sikap dan reaksinya terhadap program trial tersebut. Alhamdulillah diluar ekspektasi kami ternyata si Mbarep bisa menyesuaikan diri. Semua aspek tumbuh kembangnya dinilai sesuai dengan umurnya. Ada yang lebih di bagian imajinasi dan kreativitas. Dari hasil paparan tersebut si Mbarep dinyatakan diterima di Semi Palar.

Setelah dinyatakan diterima, selanjutnya kami langsung diminta ngobrol dengan Kepala Sekolah, yang tidak bersedia dibilang sebagai Kepala Sekolah. Ngobrol disini maksudnya untuk menyelaraskan visi antara apa yang ada di benak orang tua dengan apa yang ditawarkan sekolah. Karena kan memang sekolahnya agak-agak unik. Kurikulumnya tidak standar dan penekanannya bukan pada akademik. Tapi pada perkembangan individu si anak. Utamanya karakter.

Setelah selesai ngobrol dengan kepala sekolah kami berdua merasa paling sreg dengan sekolah ini dan mantap menyekolahkan Mbarep (serta adeknya nanti) disini.

Walaupun setelah itu pusing urusan antar jemput ya. Karena sekolahnya cuma 2 jam. Haha.

Oh iya buat yang mungkin bertanya-tanya, Semi Palar saklek di urusan usia anak yang diterima. Mbarep bulan Juli 2022 usianya baru 5 tahun 3 bulan jadi baru bisa masuk TK A, karena batas masuk TK B 5 tahun 6 bulan.

Sementara Ragil baru bisa masuk tahun depan di jenjang PG karena untuk PG usia anak minimal 3.5 tahun. Nggak apa-apalah biar matang dulu anaknya. Sesuai anjuran Diknas.

Read more ...

Mencari TK di Kota Bandung Bagian Barat (Trial Bagian 1)

Ini adalah lanjutan tulisan bagian pertama tentang survey TK di Bandung Barat yang bisa dilihat di tautan ini. 

Dari 6 sekolah yang kami survey, kami memutuskan untuk mengikutkan anak kami untuk trial di 3 sekolah : Darul Hikam, Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman, dan Semi Palar. Ketiganya memiliki pro dan kontranya masing - masing. Tapi masih dalam range kami terkait feasibility dari sisi lokasi, biaya, dan program pendidikan.

Ketiga sekolah yang kami pilih setara dalam hal value for money, tapi masing - masing punya karakteristik sendiri. Satu sekolah besar yang populer dan sudah familiar bagi kami, satunya sekolah sederhana dengan kekeluargaan yang erat dan terasa hangat, satu lagi sekolah quirky yang tau maunya apa dan berani jadi beda. Lha ini sekolah apa geng SMA :')

Kami percaya ketiganya bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak kami. Apapun pro kontranya. Sekarang masalahnya tinggal kecocokan. Mana yang paling cocok untuk anak sulung kami tersayang. Untuk mengetahui mana yang cocok paling mudah ya dengan ikut trial. Ini ceritanya ya. Semoga bisa bermanfaat untuk yang sedang cari sekolah anak. 

Trial TK Darul Hikam

Rangkaian penerimaan di sekolah ini berlangsung cukup awal. Penerimaan gelombang 1 mulai bulan November, selesai bulan Desember. Padahal masuknya baru Juli tahun depan :') Tapi namanya juga sekolah populer, wajar banyak peminatnya. Sepertinya kebanyakan pendaftar juga sudah sangat yakin memasukkan anaknya kesana.

Ada 4 tahap pendaftaran : open house, trial dan wawancara orang tua, webminar dan pengumuman penerimaan, lalu pendaftaran masuk. Semua dilaksanakan secara online.

Proses pendaftaran di sekolah ini sudah sangat terstruktur dan modern. Website yang mumpuni, sistem yang rapi, petugas yang tanggap. Seperti yang bisa diharapkan dari sekolah besar.

Open House

Open house TK ini dilakukan secara online di suatu hari Sabtu di bulan November. Ada sekitar 60 peserta di acara tersebut. Tema trial hari itu adalah kerajaan binatang. 

Satu kata untuk acara ini : totalitas. Tidak mudah menarik perhatian anak - anak, apalagi secara online. Terlihat konsep acaranya dipikirkan baik - baik agar bisa semenarik mungkin. Guru - guru yang memandu acara ini semua memakai baju dan make up bertema binatang. Ada yang jadi panda, harimau, dan sebagainya. Totalitas kan?

Sebagian besar anak - anak terlihat cukup menikmati acara tersebut. Antusias menanggapi sapaan yang dilontarkan, mengikuti ajakan yang diberikan pembawa acara, hingga mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh pendongeng profesional yang diundang untuk mengisi acara. 

Sayangnya, walaupun acaranya cukup niat, si sulung termasuk sebagian kecil anak yang tidak bisa menikmati suguhan yang diberikan. Dia memang tidak begitu suka kalau diajak gerak badan terstruktur seperti senam, tari, dan sebagainya. Apalagi temanya binatang, tema yang dia tidak begitu tertarik. Semakin dia dibujuk untuk ikut, semakin dia kabur. Akhirnya menghabiskan waktu dengan lompat - lompat dan guling - guling di kasur.

Tapi kami tidak terlalu ambil pusing. Dari testimoni teman - teman yang anaknya sekolah di sana dan pengalaman pribadi saat daycare, sekolahnya cukup nyaman dan menyenangkan. Hanya saja memang pertemuan secara online ini agak menghambat penerimaan anak, terutama anak saya, tentang sekolah yang menyenangkan. Karena buat dia aktivitas online itu kurang menarik dan menyenangkan. Kecuali nonton Youtube dan Netflix πŸ˜…
Drama Mbarep ikut Open House Darul Hikam. Kabur-kaburan sama sambil rusuh berantakin kamar. Terakhir Bapaknya harus menasehati sedemikian rupa sampai dia mau coba bikin-bikin.

Trial  dan Wawancara Orang Tua

Tak berapa lama setelah open house, kami diundang untuk mengikuti trial dan wawancara, yang juga dilakukan secara online. Drama terjadi saat trial, dimana pada awalnyaMbarep menolak dengan sekuat tenaga untuk ikutan. Pakai nangis - nangis segala. Untung saat itu weekend jadi orang tuanya masih bisa waras.

Setelah dibujuk -  bujuk dengan berbagai alasan, mulai dari yang rasional sampai setengah ancaman πŸ˜† , akhirnya mau juga dia duduk di meja belajarnya, menghadap layar tablet, dan mengikuti instruksi guru. Termasuk ikutan nyanyi walaupun cuma mau pelan - pelan seperti bisik - bisik. Sesi gerak badan tetap dia bergeming. Tidak mau ikutan. Nggak papa nggak masalah.

Trial sekolah begini, apalagi online, memang bikin orang tua deg - degan, karena tidak tau kelakuan atau celetukan apa yang akan dibuat anak - anak. Momen awkward terkadang tidak bisa dihindari.  Seperti ketika guru bertanya lagu apa yang disukai dan seorang anak menjawab lagu Blackpink πŸ˜† Gurunya terlihat jelas bingung harus menanggapi seperti apa, tapi dengan profesional hanya berkat "oh Bu Guru  belum tau lagu Blackpink itu seperti apa", lalu mengalihkan topik.

Setelah trial, kegiatan langsung dilanjutkan dengan sesi wawancara orang tua dengan panitia penerimaan. Giliran Bapaknya yang ikutan.Tadinya mau berdua, tapi tidak dimungkinkan dengan 2 anak berkeliaran. Akhirnya bagi tugas. Saya angon bocah, Bapaknya ikutan wawancara. Pertanyaan - pertanyaan yang diajukan cukup standar. Kebiasaan anak di rumah, kesukaannya, tumbuh kembangnya, dan sebagainya.

Wawancara berlangsung cukup lancar. Mbarep bahkan bersedia dipanggil dan menjelaskan mengenai hal - hal  kesukaannya. Robot, perang, game. Saat ditanya apa dia mau sekolah disana dia hanya mengangkat bahu. Artinya dia indifferent. Terserah ayah ibu saja.

Webminar, Pengumuman Kelulusan, dan Pendaftaran Ulang

Sekitar 2 minggu setelah trial dan wawancara, sekitar awal Desember, kami diundang untuk ikut webminar penjelasan mengenai sekolah Darul Hikam. Agak kebalik sebetulnya ya. Kenapa setelah ikut proses seleksi baru dijelaskan tentang program. Tapi nggak papalah, nggak masalah haha. Kan belum tau diterima atau tidak dan apa mau lanjut mendaftar atau tidak. 

Saya ikut webminar tersebut tapi sejujurnya tidak begitu mendengarkan, karena pelaksanaannya berbarengan dengan rapat kerja yang berentetan di akhir tahun. Pokoknya setelahnya di website penerimaan siswa baru, Mbarep dinyatakan diterima di TK B dan dipersilahkan melakukan daftar ulang.

Pendaftaran ulang hanya berlangsung 1 minggu. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk mendaftar saja dulu dengan membayar biaya pendaftaran. Tapi untuk biaya lainnya, terutama uang pangkal, kami mohon izin agar bisa melakukan penundaan sampai awal Maret, karena akan mencoba alternatif sekolah lainnya. 

Trial TK Taman Pendidikan Firdaus Percikan Iman

Mbarep cukup excited mengikuti trial sekolah ini karena dilakukan secara offline. Suatu hari kerja, di bulan Desember, dia diantar ayahnya ke sekolah itu untuk trial. Saya tidak ikut mengantar karena kebetulan kerjaan sedang tidak bisa ditinggal. Akhir tahun memang cenderung rusuh. 

Ayahnya juga tidak bisa menunggui di sekolah karena ada sedikit urusan di kota. Jadi Mbarep langsung ditinggal sendirian. Terlihat agak tega ya πŸ˜† Tapi anaknya santai saja kayaknya. Haha. Trial berlangsung selama 2 jam dan dilakukan bercampur dengan peserta kelas biasa. 

Setelah jam trial selesai saya mendapatkan telepon dari sekolah yang bilang kalau Mbarep belum dijemput dan ayahnya belum datang lagi. Saya telepon - telepon suami tidak diangkat. Setelah 15 menit tidak berhasil menelepon, dan pihak sekolah sudah mengirimkan pesan lagi, saya memutuskan untuk menjemput Mbarep pakai ojek online. Tapi entah kenapa siang itu, tidak ada satupun yang mau menerima pesanan saya.

Sejenak panik, sampai akhirnya muncul pesan dari sekolah. Mengabarkan Mbarep sudah dijemput ayahnya. 20 menit setelah trial berakhir. Setelah mereka berdua sampai rumah, suami cerita kalau ternyata perkiraan dia salah, perjalanan yang dia kira memerlukan waktu 20 menit ternyata molor jadi 40 menit karena jalanan macet. 

Mungkin karena sudah suasana akhir tahun. Orang - orang yang akan liburan sudah mulai berdatangan ke Bandung. Saya tanya Mbarep takut nggak tadi belum dijemput ayahnya? kata dia nggak biasa saja. "Aku main - main saja sama teman". Baiklah. The blessing in disguise dari punya anak cuek bebek πŸ˜‚

Selesai trial langsung diberikan hasil assessment dan dipersilahkan untuk melakukan pendaftaran di TK B. 

Simple kan ya sekolahnya πŸ˜†
Dikirim oleh ibu guru di sekolah setelah trial. 

Read more ...