Friday, September 30, 2022

Nasib si Ragil

Perkara Warisan

Saya cukup beruntung mewarisi gen yang kuat soal urusan kulit. Kulit saya, walaupun tidak mulus-mulus amat, tapi tidak pernah bermasalah serius. Mungkin itu sebabnya saya agak cuek mengenai masalah perawatan kulit. 

Ketika saya menikah, suami saya ternyata punya turunan asma berat dari kedua belah pihak orang tuanya. Penyakit yang inti utamanya alergi ini, jika tidak diturunkan dalam bentuk aslinya, akan bermanifestasi menjadi masalah kulit. 

Anak pertama saya, si Mbarep, walaupun tidak pernah didiagnosa dengan asma, tapi waktu usia batita sering sekali sakit yang berkaitan dengan infeksi pernapasan. Sampai kami lelah. Setiap bulan ada saja sakitnya. IGD sudah mirip rumah kedua. Akibat dari kombinasi orang tua panikan dan anak yang kalau sakit mengkhawatirkan. Karena kalau Mbarep sakit, pasti demam. Kalau demam suhu tubuhnya selalu diatas 40 dan entah kenapa tidak mempan parasetamol biasa.  

Tapi semakin dia besar, penyakitnya semakin berkurang. Alhamdulillah sehat sampai sekarang. Mungkin gen saya, yang sama sekali tidak punya turunan asma, cukup kuat di Mbarep, jadi asmanya tidak jadi parah.

Beda nasib dengan anak kedua saya, si Ragil. Sebetulnya anak saya ini termasuk yang jarang sakit. Apalagi dia melalui masa batitanya saat pandemi. Tapi ternyata dia dapat jackpot turunan asma dalam bentuk gangguan kulit yang tidak nanggung-nanggung. Menguras emosi jiwa, raga, dan juga kantong kami, orang tuanya. 

Awal Mula

Bermula di beberapa minggu setelah dia lahir. Muka Ragil penuh bruntus. Tentu saja dia sering rewel. Karena dia asi eksklusif, jadi hal pertama yang saya curigai adalah alergi makanan. Tapi menurut dokter spesialis anak langganan kami, kalau lihat frekuensi dan bentuknya, kemungkinan si Ragil alergi keringatnya sendiri. Baiklah. Ada juga alergi semacam itu. Kita sih percaya dokter saja ya. Kata dokter untuk anak seperti itu pakai baju satu lapis saja. Jangan sampai kepanasan. Jadi semenjak itu kami mengucapkan selamat tinggal pada singlet bayi. 

Lalu masuklah masa pandemi. Mau ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut kurang memungkinkan. Untungnya saat awal pandemi itu juga, bruntusa si Ragil berangsur hilang. Jadi kami tidak terlalu ambil pusing. 

Karena Digigit Bukan Hanya Sakit

Sampai suatu hari, ketika usia Ragil sekitar setahun, kami menyadari kalau, setiap kali Ragil digigit nyamuk atau semut, bekas gigitan tersebut langsung jadi bengkak. Seperti alergi. Awal pertama muncul alergi ini, bengkaknya hanya disekitar bagian yang digigit saja. Tapi lama-lama makin parah, sampai pernah semuka-muka bengkak karena digigit nyamuk. Sudah begitu setelah bengkaknya kempes, kulitnya jadi kehitaman.  Berdasarkan konsultasi dengan dokter anak, kami berkenalan dengan Dextamine dan kawan-kawannya.

Masalah belum selesai. Tak lama setelah muncul alergi gigitan serangga, pada bagian-bagian kulit tertentu di tubuh Ragil muncul lapisan yang kasar dan menebal. Suami tau itu eksim karena dia dan adiknya, yang tidak kena asma, punya eksim sampai dewasa. Dokter meresepkan salep Apolar Desonide untuk dioleskan ke bagian-bagian yang terkena eksim. Tujuannya melembutkan kulit agar tidak gatal. Kalau kami lupa sehari saja mengoleskan salep, Ragil pasti sudah menggaruk bagian tersebut sampai luka. Jangan tanya penampakannya. Ngeri banget lah. Eksim ini masih ada sampai usia Ragil sekitar 15 bulan, lalu tiba-tiba mereda. Sampai sekarang alhamdulillah tidak muncul lagi. 

Persoalan Kaligata 

Waktu usianya sekitar 18 bulan. Ragil mulai sering mengalami kaligata. Awalnya saya pikir karena dia alergi telur atau seafood. Karena Mbarep dulu juga sempat alergi. Makin hari kaligata Ragil semakin parah. Saat periksa ke dokter, kami disarankan untuk mengoleskan lotion bayi, dan memberikan Dextamine kalau alerginya sudah sangat parah. Soalnya kalau sedang kumat, bisa semalaman saya dan Ragil tidak tidur. Karena dia super rewel dan saya harus mengelus-elus seluruh bagian tubuhnya yang bentol-bentol. 

Puncaknya saat kami harus ke Semarang, yang panasnya luar biasa. Selain kaligata, di telapak kaki Ragil juga muncul bintil-bintil berair. Mirip cacar, tapi bukan. Lotion sudah tidak mempan. Telepon dokternya katanya kasih Dextamine saja. Dextamine setiap hari. Tiga kali sehari. Selama 10 hari. Double dengan cetirizine sekali sehari. Sampai kami pulang ke Bandung.

Kami tidak bisa ke IGD atau dokter, karena saat itu sedang puncak covid. 

Kondisi itu bertahan selama sekitar 3 bulan. Ketika covid sedikit mereda dan kami punya kesempatan untuk ke dokter kulit, tiba-tiba suatu hari kaligatanya hilang sendiri. Tidak muncul lagi. Untuk pertama kalinya dalam 3 bulan saya bisa tidur nyenyak. Sungguh berasa kena prank :)) Akhirnya kami memutuskan menunda ke dokter kulit dan berdoa semoga masalah kulitnya memang sudah pergi.

Kolase yang cukup mengerikan. Berbagai masalah kulit yang dialami Ragil. Bahkan sempat ada episode dimana punggung dan pantat Ragil seperti habis dicakar cakar kucing. Banyak goresan, luka berdarah, dan sebagainya. Semoga sudah dapat penanganan paling cocok dan tidak terjadi lagi di masa depan. Amin. 

Akhir yang Cukup Bahagia (Semoga Selamanya)

Ketika usianya 2.5 tahun, Ragil didiagnosis dengan TBC kelenjar. Bersamaan dengan pengobatannya, kaligatanya kembali muncul. Lebih parah dari sebelumnya. Saat itu, Ragil sudah tau kalau gatal dikasih yang panas-panas rasanya enak. Jadi dia selalu minta diolesi kutus-kutus atau minyak kayu putih kalau gatalnya muncul. Mungkin dia juga terpengaruh ayahnya yang kalau gatal digigit nyamuk, hobinya oles-oles minyak kayu putih.

Setelah sekitar 1 bulan gatalnya semakin parah dan frekuensinya semakin sering, akhirnya kami bawa Ragil ke dokter kulit. 

Sekilas melihat ragil, dokter kulit langsung bilang, "Suka dipakein minyak ya? bedak?". Saya mengangguk. Dokter itu kemudian berceramah. "Anak ibu ini kulitnya menak. Tahu Ibu? artinya kulitnya harus bersih terus. Lembab terus. Nggak bisa kena minyak-minyak dan bedak begitu.".

Saya dan si dokter sama-sama menarik napas. Rupanya sambil mendengarkan ceramah dokter, tanpa sadar saya menahan napas. Lalu sambil menuliskan resep, dokter ini meneruskan.

"Sepanjang saya sekolah, tidak pernah ada ilmu yang bilang kalau minyak dan bedak bisa mengatasi masalah kulit. Jadi jangan dikasih lagi ya Bu. Ini bukan alergi makanan atau alergi yang lain. Kunci kulitnya tidak gatal hanya bersih dan lembab. Olesi lotion ini, tiga hari sekali dan pakai sabun ini untuk mandi. Setiap selesai main yang kotor-kotor harus langsung mandi ya"

Dokter menyerahkan resep ke saya. Tertulis di sana Cetaphil Pro Ad Derma. Lotion dan sabun. Juga Cetirizine setiap hari. 

Sambil tersenyum dokter itu berkata "Ibu Bapaknya ngalah dulu ya, nggak usah skin care-an yang mahal-mahal. Sampai anaknya bisa beli sendiri".

Lalu sayapun menebus resep di apotik. Lumayan yaaa...kosmetik bocil ini. Sebulan habis masing-masing 1 botol karena dipakainya harus sering :')

Yah semoga ada rezekinya. 

Penutup

Setelah pakai Cetaphil Pro Ad Derma, masalah kulit Ragil memang secara signifikan membaik. Masih terus ada beberapa masalah baru yang muncul seperti alergi parasetamol (harus pakai Ibuprofen) dan kalau demam keluar ruam setubuh-tubuh. Tapi sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah. Nasibnya anak Ragil :))

Read more ...

Wednesday, September 21, 2022

Kisah Saya dan Para Driver Ojek Online

Masak adalah salah satu urusan rumah tangga yang keluarga kami outsource ke orang lain. Boros memang, tapi ternyata kami, terutama saya, lebih bahagia tidak usah memikirkan mengenai menu makanan dan kegiatan masak setiap hari. Belum lagi urusan belanja dan manajemen bahan masakan. Jadi mari kita anggap trade off saja. 

Karena pilihan kami ini, mau tak mau saya jadi berteman akrab dengan fitur pesan makanan di aplikasi ojek online. Selain jadi sedikit ahli mengetahui diskon-diskon yang bisa dimanfaatkan, saya juga jadi punya beberapa cerita mengenai para driver yang mengantarkan pesanan saya. Di Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September ini saya akan ceritakan beberapa diantaranya yang saya ingat sampai sekarang.

Baju Ragil

Kalau bel rumah berbunyi, anak-anak saya biasanya akan minta ikut ke siapapun yang beranjak membukakan pintu. Paling gembira kalau yang datang kurir pengantar paket. Karena mereka selalu berharap paket yang datang berisi mainan.

Suatu sore saya menggendong Ragil saat menemui driver yang mengantarkan pesanan saya. Setelah menyerahkan makanan, driver itu langsung pamit. Ketika menutup pagar, saya melihat kalau si driver sejenak menghentikan langkah dan menoleh ke arah kami. Seperti berpikir. Tapi karena dia tidak bilang apa-apa, jadi saya juga tidak berpikir apa-apa.

Setelah magrib saya menerima WA dari nomor tidak dikenal:
"Assalamuallaikum Bu. Bu saya driver yang tadi datang.  Boleh saya minta baju untuk anak perempuan yang sudah tidak dipakai? Untuk anak saya usia 2 tahun". "Waallaikum salaam.Boleh" jawab saya singkat. Saya pun memintanya untuk kembali setelah Isya.

Saya ambil beberapa helai pakaian Ragil yang sudah jarang atau malahan tidak pernah dia gunakan. Anak wedhok saya ini memang agak particular selera fashionnya. Macam Mark Zuckerberg. Bajunya cuma satu jenis saja. Sama model, warna, dan gambar. Jadi ada banyak bajunya yang tidak tersentuh. Apalagi yang modelnya menuruti obsesi emaknya. Semoga besarnya jadi billioner juga ya Nak. Amin. Saya serahkan baju-baju itu ke driver yang datang kembali tepat waktu. Setelahnya saya tentu saja lupa dengannya.

Sampai suatu hari, saya mengambil pesanan lagi di depan rumah. Driver yang mengantar pesanan dengan sumringah menyapa saya. "Bu masih ingat? saya yang pernah minta baju anak sama Ibu. Makasih ya Bu. Anak saya senang sekali. Isteri saya juga senang. Akhirnya anak saya punya baju bagus. Soalnya saya nggak punya uang untuk belikan baju yang bagus-bagus. ". Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengarnya. Alhamdulillah.

Salah Pencet yang Tidak Salah-Salah Amat

Beberapa tahun lalu, waktu aplikasi ojek online baru muncul dan fitur layanan pesan makanan masih versi beta, sistemnya masih lebih mirip jasa titip. Sangat tergantung pada kepercayaan antara pengguna dan driver.

Suatu hari si Mbarep, yang memainkan HP saya yang tergeletak sembarangan, tak sengaja membuka aplikasi ojek online dan memberikan rating 1 bintang untuk driver yang baru saja mengantarkan pesanan bakso saya. Karena dapat bintang 1 otomatis driver tersebut diskors. Padahal dia nggak ada salahnya.

Menyadari hal yang terjadi, saya dengan panik mencoba menelepon customer service aplikasi, tapi sampai berapa lama tidak berhasil. Saat masih sibuk dengan telepon, bel rumah saya berbunyi kembali. Ternyata driver yang dapat bintang 1 itu datang lagi. Saya sudah bersiap memberi penjelasan, minta maaf, dan memberi kompensasi ketika tiba-tiba driver tersebut malah minta maaf lebih dahulu.

"Ibu, minta maaf ya Ibu. Saya khilaf. Tadi itu warung yang Ibu pesan tutup. Tapi kalau cancel, nanti bonus saya dipotong. Terus saya juga perlu cash. Jadi saya inisiatif beliin Ibu dari tempat lain. Hampura ya Ibu kalau tidak berkenan sampai kasih bintang 1".

Saya ingat tidak tahu harus bilang apa. Soalnya saya sama sekali nggak sadar bakso yang saya pesan bukan yang seharusnya. Jadi saya cuma bilang kalau saya juga nggak sengaja kasih dia bintang 1 lalu memberi kompensasi yang memang sudah saya niatkan. Bagaimanapun dia sudah kena skors. Utamanya karena saya. Setelahnya saya meninggalkan si driver yang terbengong-bengong, lalu menyantap bakso salah alamat yang rasanya lumayan juga.

Mendadak Jumat Berkah

Suatu hari, seorang kerabat mengabari mendadak kalau dia dan keluarganya akan mampir ke rumah. Karena waktunya sudah mendekati makan malam, saya berinisiatif pesan makanan untuk menjamu mereka. Saya pun memesan Soto Betawi via aplikasi ojek online.

Entah aplikasinya yang error, hp saya yang bapuk, internet yang labil, atau saya yang kurang konsentrasi. Setiap kali saya mencoba pesan dan menyelesaikan pembayaran, aplikasinya ngehang. Tidak bisa saya pencet-pencet. Bodohnya saya ketika itu, tidak cek bagian aktivitas di aplikasi dan malah berasumsi pesanannya gagal dan mengulangi pemesanan dengan serta merta.

Akhirnya malam itu saya menerima 8 ojek online yang semuanya membawa 5 porsi soto betawi. Karena saya dan yang di rumah tentu tidak bisa menghabiskan semuanya jadi kami minta 6 driver untuk membawa pulang pesanan tersebut. Mereka happy, saya tekor. Budget pesan makanan online dalam sebulan langsung kandas :))

Anggap saja Jumat berkah. Walaupun waktu itu Senin.

Anakmu Tanggung Jawabmu

Suatu hari, ada rapat mendadak di kantor. Karena waktunya mepet, saya pesan konsumsi via ojek online. Saya kasih pesan disana untuk menelepon ke teman saya yang bagian pantry, karena saya suka nggak ngeh sama notifikasi. Sekitar setengah jam kemudian saya dapat telepon dari driver. Begitu telepon saya angkat, si driver langsung nyerocos memburu-buru saya untuk langsung menerima pesanan. Saya minta dia untuk telepon ke nomor yang saya kasih. Karena posisi saya saat itu tidak di dekat lokasi dia menunggu.

Semenit kemudian driver tersebut menelepon kembali, bilang kalau teman saya nggak datang-datang. Saya cek aplikasi baru 2 menit dari driver sampai ke lokasi. Saya kontak teman saya, memastikan dia sudah jalan. Tapi memang jalannya agak memutar karena ada konstruksi. Perlu sekitar 2 menit lah. Dari biasanya 1 menit.

Dalam 30 detik setelah menelepon, si driver sudah mengirim WA lagi. "Hallo, tolong diambil pesanannya. Saya dapat double order". Saya balas "Iya tunggu sedang jalan". Si driver kembali menulis kalau dia dapat double order jadi saya seharusnya lebih cepat ambil pesanan. Malah harusnya saya sudah menunggu dia di lokasi. Setelahnya dia telepon-telepon lagi yang tidak saya angkat.

Menurut saya double order bukan justifikasi kenapa saya harus diburu-buru ambil pesanan. Kan salah dia sendiri. Lagian 5 menit juga belum. Buat saya 5 menit menunggu masih waktu yang sangat wajar. Saya jadi kesal dan masuk mode ngomel.
"Pak, kan Bapak sendiri yang terima double order. Kenapa saya jadi yang diburu-buru begini ya?", tulis saya sedikit emosi.

"Takutnya pembeli yang satu lagi kelamaan nunggu Bu. Terus saya dapat rating jelek", balasnya.

"Pak, saya juga customer lho. Saya juga bisa kasih rating jelek. Memang Bapak pikir dengan sikap Bapak seperti ini saya harus kasih rating apa?", balas saya langsung.

"Maksudnya apa Bu? Ibu bisa kasih saya rating jelek? Anak saya ada 2 Bu. Ibu mau tanggung jawab kalau anak saya nggak bisa makan karena saya diskors?? Mikir dulu Bu kalau mau kasih rating"

"Nggak. Saya nggak mau tanggung jawab. Kan bukan salah saya Bapak dapat rating jelek. Salah Bapak sendiri juga kalau anak-anak Bapak nggak bisa makan. Mikir dulu Pak sebelum bersikap"

Lalu saya block contact.

Buat yang berpikir saya punya entitlement mentality karena bersikap seperti itu pada orang "kecil", coba dipikirkan apakah bukan driver itu yang bersikap "entitled" karena merasa "orang kecil"? Karena merasa ada di posisi yang lebih "tidak berdaya" jadi orang lain harus maklum, paham, dan menuruti maunya.

Bukan begitu cara kerja dunia Pak.

Dan saya tidak kasih rating apa-apa. Jadi kalau diskors jelas bukan salah saya.

Kenapa ini nulisnya masih pakai emosi juga ya :))

Penutup

Demikian kisah saya dengan para driver ojek online. Sayangnya tidak jadi diikutkan tantangan karena saya ketiduran. Sekian.




Read more ...

Wednesday, August 31, 2022

Pengakuan Mamak Introvert (Sebuah Renungan)

Dari pertengahan Juli kemarin si Mbarep dan Ragil mulai masuk sekolah. Sampai sekarang alhamdulillah sekolahnya lancar. Keduanya nampak cukup menikmati sekolah. Mbarep selalu excited karena memang sudah umurnya untuk sekolah a.k.a bosan kalau diam di rumah saja. Sementara Ragil, yang sebetulnya belum masuk usia sekolah, ternyata cukup senang beraktivitas dengan guru dan teman-teman. Sekolah keduanya memang cuma 2 jam sehari dan isinya hanya main-main saja. Santai.

Sebagai gambaran, target di sekolah Mbarep untuk TK A (usia minimal 4.5) hanya mengenali angka 1-8 dan huruf gendut B dan D. Mengenali saja bukan hapal apalagi baca. Santai sekolahnya.

Dari awal mereka mau masuk sekolah, saya yang lebih deg-degan. Bukan takut anak-anak tidak bisa beradaptasi, tapi justru saya yang takut sendiri tentang prospek pergaulan orang tua di sekolah. Sebagai orang yang mengaku-ngaku akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah seorang intovert, masuk ke lingkungan baru cukup membuat saya khawatir. Akankah saya bisa membaur? Bisakah saya menikmati urusan-urusan sosial yang akan muncul. Karena saya sering merasa kikuk jika harus berkegiatan bersama. Kagok jika beramai-ramai. Apalagi dengan orang yang belum akrab.

Setiap hari saya antar jemput anak bergantian dengan suami. Izin sekitar 1.5 jam untuk jemput 2 anak di 2 sekolah berbeda, antar mereka ke rumah, lalu kembali ke kantor. Dari rangkaian kegiatan ini, interaksi dengan orang tua lain saat bertemu di sekolah ternyata cukup mengusik sifat introvert saya. Padahal seringnya tak sampai 10 menit waktu yang saya habiskan di sekolah.

Di sekolah Ragil tidak banyak orang tua yang menunggu di sekolah. Kebanyakan hanya antar dan jemput anak sekejap saja. Jadi urusan ramah tamah bisa diselesaikan dengan sedikit sapaan dan senyuman. "Mari Bu. Duluan!".

Lain halnya dengan sekolah Mbarep.  Di sekolahnya orang tuanya diarahkan juga untuk "berteman". Prinsipnya anak-anak kami dari TK, SD, sampai mungkin nanti SMP kemungkinan akan sekelas terus. Karena kelasnya cuma ada 1 di masing-masing tingkat dan isinya cuma 18 anak, orang tua diharapkan menjadi akrab satu dengan lainnya dan menjadi bagian keluarga sekolah yang harmonis.

Setelah beberapa minggu saya menyadari kalau orang tua-orang tua yang lain sudah terlihat akrab. Saat menunggu anak-anak keluar kelas, banyak yang berkumpul dan bercengkerama. Sementara saya masih belum kenal satupun. Paling tau nama anaknya saja. Tapi itu kan basic banget ya.

Mungkin penyebabnya adalah, kalau jemput anak saya selalu buru-buru. Boro-boro ikutan ngobrol, kadang saya cuma sempat menghentikan mobil sejenak, turun, buka pintu mobil, lalu mendudukan Mbarep di booster seat. Setelah itu segera tancap gas lagi. Orang tua lain sering terlihat tinggal sejenak untuk ngobrol dengan guru dan sesama orang tua, sementara saya selalu sudah kabur duluan. Karena sudah ditunggu pekerjaan. Atau sebetulnya hanya alasan menghindar dari keramaian?

Entahlah.

Ada masanya kalau Mbarep terlambat keluar kelas, saya ikutan duduk menunggu bersama orang tua lainnya. Tapi mau ikutan nimbrung bercakap-cakap kok ya canggung. Nggak ada yang nanya juga, jadi rasanya kurang ada yang welcome. Mau nanya duluan, kok ya kayaknya aneh. Jadi yang saya lakukan biasanya cuma nguping ikut mendengarkan sambil kadang-kadang mengangguk-angguk memberi persetujuan dalam diam. 

Paling sering saya mojok sambil ngeliatin mural yang ada di sekolah. Siapa tau ujug-ujug gambarnya berubah. Kan seru ya kayak Harry Potter. Kalau saya jemput Ragil duluan dan dia ikut turun ke tempat tunggu, paling saya sibuk nanggepin bocah saja. Karena dia memang cerewet. Cukuplah dijadikan alasan tidak ikut ngobrol #Lho.

Sebetulnya saya tidak punya masalah berteman. Saya punya beberapa teman akrab untuk berbagai occasion (kerjaan, ngomongin drakor dan kpop, ngomongin parenting, ngomongin hal nggak penting, dan beberapa hal lain). Jumlah teman akrab saya memang bisa dihitung jari. Itupun suami dan adik saya termasuk di salah satu jari yang saya hitung. 

Saya termasuk low maintenance friend yang tidak harus catch up setiap saat dan harus bareng-bareng di segala kesempatan. Semakin tua juga saya semakin don't mind beraktivitas sendirian. Malah cenderung menikmati. Jadi mungkin saya nampak tak punya teman. Tapi saya juga bukan anti berteman kok. Teman lain yang biasa-biasa saja, saya punya lumayan banyak. Nggak cukup dihitung pakai jari kaki dan tangan. Bisalah mikir lebih dari 30 orang kalau perlu ngundang buat syukuran gitu misalnya. Eh itu sedikit ya? Haha.

Duh gimana kalau nanti ngundang kawinan anak? #Lha.

Hanya saja saya mengakui memang punya masalah saat harus masuk ke lingkungan baru dan kenalan dengan orang lain. Seperti ada barrier yang harus saya dobrak. Perlu waktu dan tempat yang tepat. Termasuk masuk ke lingkungan orang tua teman-teman sekolah anak-anak. Padahal saya nggak pemalu lho orangnya. Malu-maluin sih sering ya 😁

Duh adakah yang merasa relate dengan diriku?

Kalau sudah begini, saya mulai overthinking. Bagaimana kalau nanti saya jadi orang tua outcast yang tidak disukai orang tua lainnya 😆 atau kalau Mbarep jadi tidak diajak-ajak karena orang tuanya nggak bisa gaul. Atau saya dikira sombong atau aneh dan mengganggu harmonisasi kebersamaan orang tua di kelas.

Saya sempat menyampaikan ini ke suami. Tapi dia cuma bilang saya berlebihan. Sebagai orang yang sangat logis dia memang tidak pernah mau ambil pusing untuk hal-hal yang menurut dia tidak penting dan tidak mengganggu hidup.

Lalu saya ketemu komik strip ini : 


Intinya...
Tidak usah dipikirkan. Kayaknya nggak ada yang merhatiin juga saya cuma terlihat sekilas-sekilas. Dari seluruh orang tua di kelas mbarep kayaknya juga bukan saya saja yang nggak pernah lama-lama di sekolah. Nggak ada yang ambil pusing juga saya nggak pernah nimbrung. Asal tetap sopan saja kayaknya. Nggak tiba-tiba salto roll depan roll belakang di depan umum.

Dah lah.

Insyallah masih ada bertahun-tahun kedepan. Siapa tau suatu hari saya bisa memberanikan diri ngobrol dan jadi akrab dengan orang tua-orang tua lainnya. Toh konon kami sama-sama punya visi membantu anak-anak kami menggapai bintangnya masing-masing.

Jadi selama matahari bersinar, masih ada harapan.

Tulisan ini dibuat untuk ikutan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus. 

Read more ...

Saturday, August 20, 2022

Cerita Cinta Favorit di Drama Korea

Drama Korea kini dan dahulu sangat berbeda. Dulu ceritanya hampir selalu seputar perempuan miskin yang terdzholimi lalu bertemu dengan lelaki super kaya dan hidupnya berubah bak Cinderella. Sekarang cerita drama Korea sudah lebih beraneka ragam. Tidak selalu tentang kaya dan miskin atau dari dunia yang berbeda. Tokoh perempuannya malah sekarang banyak yang cool. Punya pekerjaan yang mapan bahkan tak jarang digambarkan lebih dari tokoh laki-lakinya. Jauh lebih menarik untuk ditonton. 

Dari semua hal yang berbeda, ada satu hal yang cenderung tidak berubah di drama Korea. Kisah cinta. Tetap krusial di semua drama apapun genrenya. Tapi buat saya tidak semua kisah cinta di drama Korea menarik untuk dilihat. Kadang maksa. Kadang terlalu sempurna. Kadang saking toxic sampai malas nontonnya. Saya termasuk yang tidak selesai nonton Crash Landing On You karena merasa ceritanya garing di paruh kedua. Mohon maaf para penggemar Bin Jin couple. Saya tetap lebih suka Hyun Bin di My Lovely Kim Sam Soon dan Secret Garden serta Son Ye Jin di 39.

Karena Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini bertema Cerita Cinta sekalian saja saya tuliskan beberapa kisah cinta dalam drama Korea yang menurut saya digambarkan dengan apik baik jalan cerita maupun penokohannya. Hubungannya tidak seseru roller coaster tapi malah dapat porsi emosi yang pas. Kalau cerita pasangan di dalamnya tidak neko-neko menurut saya malah jadi bisa fokus sama inti cerita dramanya sendiri. Tidak hanya disibukkan urusan cinta. 

Pasangan-pasangan di bawah ini saya pilih dari drama-drama yang betul-betul saya suka. Tonton dari awal sampai akhir dan puas dengan ceritanya. Yuk dibaca, siapa tau sama favoritnya.  
  

1-Deok Im dan Yi San di The Red Sleeve (Viu)

Cerita drama ini diangkat dari kisah nyata. Seong Deok Im adalah seorang pelayan istana yang cerdas dan sangat hobi membaca. Yi San adalah putra mahkota kerajaan Joseon yang memiliki trauma masa kecil. Ayahnya, putra mahkota Sado, dibunuh oleh kakeknya, Raja Yeongjo, karena dianggap gila. 

Deok Im dan Yi San dipertemukan di perpustakaan Istana tempat Deok Im bertugas sebagai perawat dan penyalin buku. Yi San yang tidak pernah memiliki orang yang bisa dipercaya di istana, menemukan orang yang membuatnya bisa terbuka sebagai dirinya sendiri untuk pertama kalinya.

Kecerdasan Deok Im dan pengetahuannya yang luas menjadikannya mampu mengimbangi  pemikiran Yi San yang memiliki tingkat pendidikan formal jauh lebih tinggi darinya. Tak lama kenal, dia menjadi teman diskusi yang menyenangkan untuk Yi San. Kecerdikan Deok Im juga membuat mereka berdua berkali-kali selamat dari berbagai permasalahan. 

Hal yang saya suka dari pasangan yang diperankan oleh 2 PM Lee Jun Ho dan Lee Se Young ini adalah mereka selalu berkomunikasi dan berdiskusi secara sehat. Yi San tidak pernah meremehkan pendapat Deok Im. Deok Im juga selalu berusaha berkata jujur pada Yi San. Komunikasi yang sehat ini membuat hubungan keduanya terasa sangat natural. Tak heran kalau Deok Im menjadi isteri dan sahabat kesayangan Yi San sampai akhir hayatnya.  

Akting Lee Jun Ho dan Lee Se Young di drama ini memang TOP. Baru kali ini saya nangis-nangis nonton saeguk. Sampai menunda nonton episode terakhirnya, karena tidak tega lihat akhirnya. 

2-Se Ra dan Gyung Myung di Into The Ring (Netflix)

Gu Se Ra adalah seorang gadis dari keluarga sederhana yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Distrik sebuah kota di Korea Selatan. Seo Gyung Myung adalah pegawai negeri yang baru dimutasi ke distrik tempat Gu Se Ra bertugas. Keduanya pernah menjadi teman masa kecil sebelum Gyung Myung pindah ke luar kota karena tragedi di keluarganya. Gyung Myung yang adalah pegawai yang lurus dan tidak mau terlihat menonjol, terpaksa terseret ke berbagai kekacauan ketika dia ditunjuk sebagai sekretaris Se Ra yang random dan impulsif. 

Hal yang saya suka dari hubungan pasangan yang diperankan oleh After School Nana dan Park Sung Hoon ini adalah keduanya sangat compatible. Bagai potongan-potongan meubel IKEA. Gyung Myung selalu membiarkan Se Ra melakukan hal-hal yang ada di pikirannya serandom apapun itu. Walaupun nantinya dia juga yang selalu kerepotan membereskan kekacauan yang muncul. 

Semakin lama bersama Se Ra dia jadi belajar untuk mengantisipasi akibat yang bisa timbul, daripada melarang boss-nya itu untuk tidak melakukan apa yang direncanakannya. Tak sekalipun dia bilang pada Se Ra I've told you so lalu meninggalkan gadis itu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Se Ra sendiri tidak pernah take it for granted keberadaan Gyung Myung di sisinya. Dia selalu berusaha dengan sepenuh hati menyampaikan rasa terimakasih atas bantuan yang diberikan dan permintaan maaf atas kesulitan yang dia timbulkan kepada Gyun Myung. Bersyukur karena ada orang yang bisa memahami dan mendukung keputusannya. 

Sikap pengertian yang ditunjukkan oleh keduanya yang membuat pasangan ini menjadi pasangan yang kompak. Saking kompaknya sampai seperti bisa membaca pikiran satu sama lain. Couple goals banget deh menurut saya. 

Berkali-kali dibuat ngakak oleh pasangan ini sepanjang 16 episode. Masih heran kenapa drama ini ratingnya jelek banget. Padahal ceritanya apik. Mungkin kurang menarik kali ya lihat kisah cinta anggota DPRD dan Sekretarisnya.

3-Dong Baek dan Yong Sik di When The Camillia Blooms (Netflix)

Sebagai seorang yatim piatu yang punya anak diluar nikah dan sekarang menjanda, hidup Dong Baek tidaklah mudah. Dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil dan membuka bar disana, dimana dia menjadi target gosip para tetangga. Sementara Yong Sik adalah petugas polisi lugu yang baru saja dimutasi kembali ke kota tempat kelahirannya. Disana dia bertemu Dong Baek dan seketika menemukan wanita impiannya.

Hal yang menarik dari pasangan yang diperankan oleh aktor dan aktris favorit saya, Kang Haneul dan Gong Hyo Jin ini adalah ketulusannya. Yong Sik tahu tidak mudah mencintai Dong Baek yang memiliki banyak masalah dalam hidupnya. Sementara Dong Baek juga tahu tidak mudah bagi Yong Sik untuk bersamanya, apalagi Dong Baek sudah menyerah mengenai cinta dan memilih fokus membesarkan anak semata wayangnya.

Tapi Yong Sik tidak berpaling begitu saja. Perlahan dia mengembalikan kepercayaan Dong Baek tentang cinta. Bukan dengan cara memaksa, tapi dengan menunjukkan perasaannya melalui perbuatan. Yong Sik pun selalu menghormati Dong Baek dengan memberikannya ruang untuk mengurus masalah hidupnya sendiiri dan tidak mencampuri urusannya tanpa diminta. 

Dibalik kepolosan sikap Yong Sik dan Dong Baek, mereka adalah orang dewasa yang bisa bersikap dewasa. Daripada mengabaikan gajah dalam ruangan, mereka memilih untuk menghadapinya. Sikap mereka yang jujur, saling menghormati, dan apa adanya membuat mereka pun bisa menyelesaikan berbagai persoalan dan akhirnya bisa bersama. 

Kalau bukan karena Kang Haneul dan Gong Hyo Jin saya rasa kisah Dong Baek dan Yong Sik tidak akan semenarik ini sih. Pantesan ratingnya dulu tinggi banget. Walaupun cerita thriller-nya agak kurang penting, tapi tetap jadi salah satu favorit. 

4-Ryeok dan Ma Ha di Imitation (Netflix)

Drama ini adalah salah satu drama remaja favorit saya. Ryeok adalah bintang K-Pop paling terkenal di Korea Selatan. Sikapnya sedikit arogan dan terkesan sombong karena menyembunyikan luka batin akibat ditinggalkan oleh sahabatnya. Sementara Ma Ha adalah trainee di sebuah agensi hiburan kecil. Debut pertamanya di dunia hiburan gagal secara tidak sengaja akibat ulah Ryeok. 

Seperti drama remaja pada umumnya, kisah cinta antara Ryeok dan Ma Ha tentu penuh bumbu. Tapi yang membuat cerita yang ini sedikit berbeda adalah, jalan cerita yang cukup rasional. Ma Ha punya impiannya sendiri. Ryeok punya masalahnya sendiri. Keduanya tidak selalu saling mencampuri urusan masing-masing. Tapi ada untuk saling menyemangati dan mendukung. Problematika tentu saja ada, namanya juga cerita cinta, tapi sepanjang drama mereka tidak melulu mengurus cinta-cintaan saja. Masih ada usaha-usaha lain untuk menggapai mimpi yang lainnya.

Salah satu drama paling underrated sepanjang sejarah menurut saya. Ceritanya bikin senyum-senyum sendiri seperti komik Serial Cantik di tahun 90an.

Penutup

Sekian pemaparan pasangan-pasangan favorit saya di KDrama universe. Kali-kali ada yang jadi terinspirasi nonton dramanya. Mungkin juga ada penggemar drakor lain yang jadi tergelitik unutk share pasangan favoritnya. Tulis di komentar ya :)


 
   
Read more ...

Sunday, July 31, 2022

Tradisi Siap Saji

Tradisi Lama: Siap Saji untuk Kenaikan Kelas

Waktu kecil dan masih tinggal di Semarang. Ayam goreng tepung adalah hal istimewa. Hanya bisa saya nikmati setelah pembagian raport. Itupun jika saya atau adik saya dapat rangking. Tradisi merayakan kenaikan kelas yang masih saya ingat sampai sekarang. Walaupun sudah 20 tahun berlalu.

Ayam goreng tepung. Salah satu makanan kenangan waktu kecil (sumber: myrecipes.com)

Untung adik saya selama sekolah selalu juara kelas. Jadi saya yang dari SMP tidak pernah lagi dapat ranking bisa tetap makan ayam goreng tepung tiap semester. Atau caturwulan. Ketauan tuanya XD

Kami sekeluarga selalu pergi ke Texas Chicken. Dulu satu satunya restoran ayam goreng tepung di Semarang. Sebetulnya setelahnya muncul merk lain. Tapi ibu saya tidak suka. Cuma suka Texas Chicken, karena disana penyajiannya pakai piring beling. Menurut dia lebih
ngajeni. Terhormat. Haha.

Restoran siap saji
 jaman dulu memang masih pakai piring beling. Sejak kapan ya berubah jadi pakai packaging kertas?

Texas Chicken jaman saya masih sekolah adanya di
basement mall Matahari. Mall tertua di Semarang. Saya samar - samar ingat disana selalu sepi. Mungkin orang Semarang jaman dulu tidak suka ayam goreng tepung. Tapi kadang kami bertemu tetangga saat makan. Mungkin mereka juga merayakan raport anaknya. Entahlah saya juga tak ingat.

Setiap pergi makan di Texas kami masing - masing dapat dua potong ayam. Potongannya selalu paha atas dan paha bawah. Kebiasaan yang masih saya ikuti sampai sekarang. Menurut saya bagian paha memang lebih nikmat. Lebih
juicy dan gurih daripada dada yang anyep. Tapi suami paling suka bagian dada karena tidak repot makannya. Dia memang tidak suka ayam bertulang karena malas mengkrikiti dagingnya sampai habis. Alhasil dia selalu merasa rugi makan ayam selain potongan dada.

Ibu saya selalu beli nasi dan kentang goreng untuk dimakan bersama. Karena konsep kentang sebagai karbo yang bisa menggantikan nasi sepertinya masih awam untuknya. Jadilah kami makan nasi, kentang, dan ayam.

Ini rahasia yang tidak pernah saya ceritakan ke suami sampai sekarang. Takut diungkit ungkit terus. Haha.

Tradisi Baru: Siap Saji Malam-Malam


Hobi duo bocah makan makanan siap saji. Wajar, wong kedua orang tuanya juga hobi. Kentang goreng, ayam goreng, burger, nugget. Mereka akrab dengan makanan - makanan tersebut. Tak segan minta kalau lagi ingin.


Hobi baru karena pandemi: menyambangi drive thru malam-malam (sumber: suara.com)

Saat pandemi, keluarga kami memulai kebiasaan baru jalan-jalan menyusuri kota Bandung di malam hari. Intinya sebetulnya biar anak-anak tidur. Tapi kadang sekalian mereka makan malam.

Memanfaatkan layanan drive thru yang ditawarkan oleh berbagai gerai penjual makanan siap saji, kami bisa membeli kentang goreng favorit anak-anak tanpa perlu turun dari mobil. Praktis. Saking seringnya beli via drive thru, saya sampai tidak ngeh kalau pesan makanan di mc donalds sekarang self service. Pakai mesin seperti di luar negeri. Haha.

Sebetulnya tidak bermaksud menjadikan acara jalan-jalan sambil mampir ke drive thru ini sebagai kebiasaan. Tapi setelah dua tahun berulang, mau tidak mau ya jadi kebiasaan juga. 

Kadang saat melihat anak-anak saya menyantap berbagai makanan siap saji itu, saya cerita ke mereka kalau dulu seumur mereka saya dibelikan ayam goreng tepung hanya di waktu-waktu istimewa. Tentu mereka tidak bisa paham, kenapanya. Karena seperti kata anak ragil, kan bisa dibeli sama Bapak Gojek saja :')

Seperti saya yang kadang tidak bisa relate dengan cerita orang tua atau kakek nenek saya. Karena ya memang sudah beda zaman ya. 



Ditulis untuk ikut Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli dengan tema Tradisi. 





Read more ...

Wednesday, July 20, 2022

Belajar Pangkal Pandai

Abstrak Dalam Ketekunan

Dalam salah satu podcastnya, saya pernah mendengar Pandji Pragiwaksono mengatakan kalau ketekunan itu membebaskan. Pandji memang selalu mengatakan kalau kekuatan dirinya adalah ketekunan dan etos kerja yang tinggi. Baginya ketekunan tidak pernah merugikan dan mengekang. Tapi malah membuatnya bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.

Sayangnya saya bukan orang yang tekun. Tidak merasa punya bakat dan kurang punya keinginan untuk kerja keras. Makanya ada banyak momen dalam hidup saya dimana saya menyesal karena tidak pernah menekuni sesuatu. Akhirnya semua kebisaan saya hanya di level mediocre saja. Mengandalkan bakat yang seadanya.

Seringkali saya berandai-andai. Coba kalau saya tekun belajar dan latihan menulis, mungkin sekarang sudah punya buku sendiri. Coba kalau saya tekun belajar bahasa Jerman, mungkin sekarang bisa nonton Dark tanpa subtitle (loh). Coba kalau dari dulu saya tekun menabung, mungkin rumah impian sudah bisa didapatkan. Coba kalau dari dulu saya tekun olahraga, mungkin tidak akan obesitas, dan sebagainya dan sebagainya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Padahal waktu SD saya tekun menatap kata-kata mutiara di bagian bawah buku tulis Sinar Dunia. "Ketekunan membawa kesuksesan". Tapi sepertinya ketekunan menatap saja tidak membawa kepada kesuksesan.

Makanya ketika Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli topiknya adalah tentang hal-hal yang masih ingin dipelajari, lubuk hati saya yang terdalam sebetulnya bilang kalau jawabannya ingin belajar jadi tekun, jadi konsisten. Tapi hal-hal tersebut sungguh merupakan suatu keabstrakan yang hakiki. Karena abstrak, maka tentang ketekunan kita kesampingkan dululah. Supaya sesuai tema dan tidak njelimet. Sekarang saya ceritakan saja hal-hal yang ingin saya pelajari suatu saat nanti, kalau semesta mendukung dan saya sudah jadi lebih tekun.

Menulis Cerita

Ambisi saya adalah menjadi penulis buku cerita. Buku cerita anak yang seru yang bisa membuat pembacanya ingat terus sampai lama. Cuma masalahnya sampai sekarang saya belum pernah mencoba menulis cerita. Membayangkan di kepala sih sudah pernah, tapi belum pernah sampai menuliskannya. Sekalinya saya menulis cerita fiksi utuh adalah ketika ikut workshop penulisan buku anak yang diadakan oleh Litara Foundation saya. Itu pertama kalinya saya menulis cerita fiksi. Ingin sekali ikut pelatihan seperti itu lagi. Langsung praktek tidak hanya teori. Dikritik di tempat jadi bisa langsung memperbaiki.

Kalau untuk teori saya sudah cukup puas ikut pelatihan menulis cerita oleh Raditya Dika. Cukup efektif dan jelas. Karena sistemnya beli tayangan jadi bisa diulang-ulang. Sayangnya sepertinya pelatihan yang mirip bootcamp Litara jarang-jarang. Lagipula kompetisinya agak fierce. Belum tentu lain kali saya beruntung. Atau saya saja yang malas mencari ya.

Belajar Sesuatu Sampai Paham Konsepnya

Salah satu penyesalan terbesar saya adalah banyak belajar tapi tidak paham konsep. Terutama terkait eksakta. Padahal saya lulus dari jurusan teknik 2 kali. Bukan dari perguruan tinggi abal-abal pula. Saya menyadari, inilah akibat lulus ujian masuk perguruan tinggi karena tekun menghapal trik menyelesaikan soal. Bukan karena paham konsep. Jadi ketemu pemodelan angka dan statistika langsung bertekuk lutut. Untung nggak pernah sampai ngulang.

Hal membanggakan nomor 16 di hidup saya setelah tidak pernah punya gigi bolong adalah tidak pernah mengulang mata kuliah waktu kuliah.

Karena tidak tahu konsep, saya seperti bangunan tinggi yang goyang. Atau donat yang tengahnya bolong. Sepertinya tahu banyak, tapi kalau ditanya konsepnya tidak paham. Untung saya cukup berbakat ngeles. Jadi nggak malu-maluin amat. Terutama kalau ditanya sama anak-anak.

Sekarang keinginan terpendam saya adalah belajar suatu hal dari dasar sampai paham konsepnya. Apa saja. Mungkin matematika. Mungkin bahasa. Mungkin memasak. Belum saya tentukan. Karena dibalik semua omongan tentang konsep, sejujurnya saya juga belum paham konsep menentukan pilihan.

Mungkin kalau ada rejeki nanti saya ikutan saja belajar sama anak. Mengulang pelajaran dari SD sampai SMA. Siapa tau di tengah jalan saya menemukan kalau saya berbakat di bidang yang tak pernah dikira. Misalnya sebagai dokter gigi hewan. Siapa tau saya ternyata sangat jago mendeteksi masalah di gigi hewan. Cuma saya tidak pernah tau tentang bakat saya ini, karena dulu saya sudah menyerah duluan belajar soal segala macam binatang karena merasa tidak suka biologi. Hingga tak pernah belajar yang benar. Boro-boro soal anatomi gigi hewan, tentang hal basic seperti bertelur dan beranak saja saya kurang paham :')

Belajar Sejarah

Salah satu ambisi terpendam saya yang lain adalah membuat cerita fiksi berdasarkan sejarah Indonesia. Karena saya suka cerita sejarah dan hobi baca fiksi dengan latar belakang sejarah. Masalahnya pengetahuan sejarah saya minim sekali. Karena modalnya hanya yang didapat saat sekolah dulu. Itu juga kok seingat saya pelajarannya kurang seru. Hanya menghapal prasasti dan tanggal-tanggal saja. Tidak pernah ada cerita-cerita seru tentang kehidupan atau mungkin malah perseteruan masa lampau yang bisa dikembangkan jadi cerita yang seru. Seringkali yang seru malah cerita mistis atau legenda. Makanya sinetron sejarah yang terkenal di Indonesia hanya seputar elang terbang. Padahal saya sih yakinnya sejarah negeri ini sama atau mungkin lebih seru dan menarik dari cerita sejarah dari negeri-negeri lain yang sering dibuat film. Seperti Cina dan Korea Selatan.

Saya sering wondering, kenapa cerita-cerita yang sepertinya menarik, malah tidak disampaikan. Misalnya tentang pembangunan candi Borobudur. Candi terbesar di dunia. Kok malah tidak pernah dibahas. Paling tidak di tahun 90an belum dibahas, hanya disuruh menghapal wangsa yang membangunnya. Padahal kan dari banyak sisi bisa dibahas. Kalau ada niat. Sejarah, sosiologi, ekonomi, atau integral sekalian. Menghitung volume stupa. 

Jadi kalau ada kesempatan saya ingin belajar sejarah Indonesia secara runut. Siapa tau bisa tau sejarah Prambanan yang sebenarnya, karena pasti ada penjelasan kenapa muncul legenda candi tersebut dibangun hanya dalam semalam. Mungkin bisa sekalian praktik pakai integral lipat 3 buat hitung volumenya Daripada tidak pernah terpakai ilmunya padahal sudah lulus kuliahnya.

Penutup

Sekian sesi ngecapruk untuk ikut tantangan kali ini. Sedikit terburu-buru jadi kurang rapi. Semoga cukup berfaedah. Amin.


Read more ...