Thursday, January 27, 2022

Surat untuk Ibu

Hallo Bu,


Apa kabarnya?

Bu, nggak kerasa 31 Januari 2017 ini genap lima tahun terakhir aku ketemu ibu. Ya kerasa sih sebetulnya. Tapi it gets better. Eits, jangan manyun dulu Bu, bukan berarti aku lupa sama Ibu. Cuma sudah lebih bisa nerimo saja kok. Hihi. 

Eh, aku sudah pernah cerita tentang hari itu belum sih Bu? 31 Januari 2017. Hari  ibu pergi. Kayaknya belum pernah ya. Aku belum pernah cerita kesiapa - siapa sih memang. Sekarang aku cerita ke Ibu deh. Aku udah bisa kok nulisnya nggak pakai nangis lagi.

Ibu masih ingat nggak? Tanggal 30 Januari malam, setelah Isya, Ibu nyuruh aku sama Bapak pulang ke rumah. Ada Bude yang bisa gantiin jagain Ibu, jadi Bapak bisa istirahat. Bapak sudah kecapekan banget karena hampir dua minggu non stop nungguin Ibu sendirian. Aku sama adek nggak bisa gantian ke Semarang jagain Ibu dua minggu itu karena ada kewajiban lain. Andai kami tau ya Bu. Kewajiban apa coba yang lebih penting dari Ibu? 

Aku juga sudah pengen banget rebahan setelah naik kereta api delapan jam dari Bandung. Pegal sekali badan. Jadi menyesali, kenapa di kamar Ibu waktu itu nggak ada sofanya ya. Kalau ada kan aku bisa bobo disana. Waktu kami pamit mau pergi, Ibu ceria sekali. Makan habis banyak. Seharian penuh canda tawa. Mungkinkah sebenarnya pertanda? 

Malam itu di rumah, aku sama Bapak makan enak pakai sop buntut. Kesukaan Ibu ya sebetulnya. Sayang Ibu nggak ikut makan. Bapak makan lahap banget deh Bu. Alhamdulillah nggak salah pilih menu. Setelahnya kami tidur nyenyak sekali. Saking nyenyaknya, mimpi pun enggak. Sudah lama aku nggak tidur nyenyak begitu. Dua bulan lebih tidurku gelisah. Kepikiran tentang Ibu. 

Tapi ternyata mimpi buruk itu datang keesokan harinya setelah Subuh. Bude telepon. Histeris menyuruh aku dan Bapak cepat datang.

Aku masih ingat, aku dan bapak hanya terdiam sepanjang perjalanan, yang rasanya lama sekali. Radio mobil Bapak yang tidak bisa dimatikan karena rusak memainkan lagu yang aneh. Sungguh aku nggak pernah tau lagu apa itu Bu. Aku belum pernah dengar sebelumnya. Tapi liriknya seperti dikirim Ibu untuk Bapak.

Aku pergi dulu, jangan kau tangisi terlalu lama.
Adegan setelahnya malah seperti di sinetron Bu. Sinetron yang sering Ibu tonton malam - malam itu, yang aku bilang konyol ceritanya. Sayangnya ini nyata. Jadi aku nggak bisa ketawa - ketawa seperti biasa. Aku turun duluan dari mobil sementara Bapak parkir. Saat aku lewat, suster - suster yang biasanya ramah menyapa, kali ini hanya diam saja. Malah ada yang pura - pura tak lihat. Sampai depan kamar Ibu, aku disambut oleh Ustad yang mengucapkan belasungkawa. Di samping kamar sudah ada keranda.

Di dalam kamar, bude sedang membereskan barang - barang. Sikapnya tenang. Terlalu tenang malah. Aku tau beliau terguncang. Menyaksikan Ibu pergi pasti bukan pengalaman yang mudah dilupakan.

Ibu terlihat damai sekali saat itu Bu. Wajah Ibu cerah. Seperti tidur saja. Seutas senyum di bibir Ibu. Cantik sekali.

Aku heran waktu itu aku malah nggak nangis Bu. Nggak bisa nangis tepatnya. Rasanya seperti mati rasa. Seperti ada yang menyabut kabel emosiku. Cuma hampa yang terasa.

Bapak datang tak berapa lama. Tegar sekali. Malah masih sempat mengurus administrasi dan menelepon kesana kemari. Entah dapat kekuatan darimana. Sepertinya waktu itu Bapak juga sama denganku deh Bu. Mati rasa.

Aku nggak tau harus ngapain. Jadi aku cuma telepon Abem, minta dia segera datang. Hari itu sebetulnya jadwal dia ngajar di Jatinangor. Untung dia belum berangkat, jadi bisa ngejar pesawat siang untuk ke Semarang. Lalu aku telepon Adek. Dia sudah punya firasat, jadi sudah pesan tiket pesawat untuk ke Semarang siang itu. Baba hari itu juga ndilalah nggak ke pabrik, jadi bisa pergi bareng. Setelah telepon dan mengabari beberapa teman, aku duduk saja diam di pojokan. Menunggu Bapak selesai.

Di mobil saat perjalanan pulang, kembali aku dan Bapak terdiam. Sampai akhirnya di suatu lampu merah, sepertinya tsunami kenyataan menghantam Bapak dan beliau langsung menangis kencang - kencang.

Sampai rumah di pagi hari itu adalah yang terburuk Bu. 

Rasanya hari sudah berjalan lama sekali tapi ketika kami sampai di rumah baru jam setengah delapan pagi. Di rumah sudah ada keramaian menunggu. Tetangga, kerabat, dan handai taulan. Cepat sekali ya kabar menyebar. 

Semua orang sibuk mempersiapkan ini itu untuk mengantarmu pulang ke peristirahatan terakhirmu. Semua orang juga ribut mengerumuniku. Menanyakan kronologis kepulanganmu pagi itu.  Suasana muram. Semua wajah menunjukkan kesedihan, kegetiran, atau penyesalan. Cerita - cerita tentang Ibu bercampur baur di udara. Betapa baiknya. Betapa cepatnya pergi. 

Ibu tau kan aku tak suka keramaian. Semakin ramai, semakin aku ingin sendirian. Kepalaku mulai pusing dan dada rasanya sesak. Jadi aku kabur. Kukunci diriku di kamar. Sampai Abem dan Adek datang. Tak kupedulikan mereka yang ada. Aku nggak sanggup menghadapi orang - orang itu dengan segala pertanyaan, komentar, dan teorinya.

Biasanya Ibu pasti akan menyereweti aku, kalau tau aku kabur seperti itu. Tapi biarlah pikirku. Toh Ibu tak ada lagi disitu. Ku tak peduli kalau orang lain yang ribut.

Kenapa orang yang datang ke rumah yang sedang berduka malah sering bawel ya Bu? Tanya ini itu. Komentar begini begitu. Malah sampai ada tamu yang pengen aku tonjok beneran deh. Tamparlah minimal. Kalau tonjok terlalu brutal. Kesal sekali aku karena komentarnya tentang sakitnya Ibu. Katanya Bapak, Aku, dan Adek nggak peduli sama Ibu, sampai nggak tau Ibu sakit parah.

Wow. Sok tau sekali pikirku. 

Untung saat itu Abem sudah datang. Tau kalau aku emosi dia langsung menggeretku menjauh. Ingat - ingat bayi di perutmu, katanya. Kasihan dia kalau kamu emosi.

Gara - gara itu, sampai sekarang kalau harus pergi mengunjungi orang yang tengah kehilangan orang tersayang, aku cuma mengucapkan kata - kata simpati, lalu aku diam saja. Kecuali orang yang kutemui mau cerita lebih dulu. Tapi itupun tak akan aku tanya - tanya, atau komentari, apalagi berteori. Aku cuma bakal mendengarkan saja. Betul nggak sih sikapku, Bu?

Wah sudahlah

Pokoknya hari saat Ibu pergi dan setelahnya adalah hari - hari terlama dan terberat dalam hidupku Bu. Waktu rasanya lambat sekali berlalu. Rumah masih sama dan rasanya Ibu seperti tidak pergi selamanya. Hanya pergi ke sekolah untuk mengajar saja seperti biasa atau arisan dan pengajian ke rumah tetangga. Berkali - kali kulirik pintu depan, berharap Ibu akan datang dan membuktikan kalau hari - hari itu bukan kenyataan.

Tapi tentu yang terjadi bukan impian. Ibu memang sudah pulang. Bukan ke rumah yang biasa, tapi pergi ke Pemilik Ibu.

Ngomong - ngomong soal bayi. 

Si bayi yang waktu Ibu pergi masih berumur 6 bulan di perutku, sekarang alhamdulillah sudah jadi anak umur 5 tahun lho. Kata orang - orang dia mirip sekali denganku. Dari muka sampai kelakuan.

Sudah tak bisa terelakkan kalau aku memang anak Ibu. Haha. 

Kalau sedang kesal menghadapi dia dan adeknya, aku sering ingat denganmu Bu. Aku tau dulu Ibu juga sering jengkel dengan aku dan adek, karena kami kompak ngeselinnya. Cuma Ibu baik hati saja, jadi kami cuma sesekali kena murka. Haha. Sayang Ibu sudah nggak ada disini buat ngetawain kami. Nyukurin kami karena kena batunya. Punya anak - anak yang kelakuannya persis sama dengan kami dulu.

Ibu, Ibu datang dong ke mimpiku. 

Aku kangen sama Ibu.

In loving memoriam 31 January 2017 - 31 January 2022. Our beloved Mami and Yangmi. 
Sayang cuma cucu pertama yang pernah ketemu Ibu ya. Sekarang cucunya sudah 4 lho.

Semoga nanti kita bisa ketemu lagi

Ya Bu? 

Cerita - cerita sampai cekikikan seperti dulu. Kruntelan bertiga sama adek. Untuk sementara baik - baik disana ya. Semoga tempat Ibu selalu lapang, terang, dan penuh ketenangan.

Salam untuk Bapak ya.


- Restu -



Ditulis untuk ikutan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari dengan Tema Menulis Surat.
Read more ...

Monday, January 24, 2022

Pengakuan Mamah Gajah : Tak Ada Gading yang Tak Retak

Tentang Titel Mamah Gajah

Seperti pernah saya tuliskan tepat setahun lalu, saya juga tidak tau kenapa bisa diterima di perguruan tinggi teknik paling bergengsi di Indonesia dan bisa lulus dengan selamat tanpa drama. Rasanya semua semata hanya karena doa orang tua saya saja. 

Tapi berkat perjuangan saya belajar 6 tahun di sana saya jadi berhak menyandang titel Mamah Gajah. Peduli amat deh kalau sekarang yang tersisa dari perjuangan selama 4 + 2 tahun tersebut hanyalah lembaran ijazah berdebu dan foto salaman dengan rektor, yang tergantung di rumah orang tua yang sekarangpun kosong. Paling penting dengan bermodal NIM tidak ada yang menyanggah kalau saya mengaku sebagai Mamah Gajah.

Tentang Gading yang Retak


Sebetulnya kebanggaan sebagai Mamah Gajah buat saya ya hanya berhenti di titel saja. Selebihnya saya hanya ibu - ibu biasa yang jauh dari kata sempurna. Karena tentu tidak ada bedanya juga Mamah yang Gajah dan non Gajah. Sama - sama ibu - ibu. Cuma mungkin yang ada label gajahnya sedikit lebih ngeyel yakin pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi berbagai tantangan. Mungkin lho ya. Dalam kasus saya sih jelas, suka sok yakin. Hehe.

Seperti peribahasa Tak Ada Gading yang Tak Retak, begitupun dengan gading Mamah Gajah. Tak ada yang tak retak. Bahkan Ganesha yang dijadikan lambang almamater Mamah Gajah pun patah satu gadingnya. Walaupun menurut kisahnya patah karena bertarung tapi bolehlah kita jadikan pengingat bahwa memang tak ada yang sempurna di dunia. 

Bulan Januari ini Mamah Gajah Ngeblog mengajak menulis tentang diri sendiri lewat Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Tentang Dirimu, Mamah Gajah. Untuk menjawab tantangan ini saya mau menulis tentang retakan di gading milik gajah yang ada di pelupuk mata saja. Alias sifat - sifat diri sendiri yang kurang bisa dibanggakan. Daripada nulis tentang semut di seberang lautan, yang bahkan tak punya gading ya kan.


Oh wow, melihat banyaknya peribahasa yang saya pakai, harusnya saya kuliah literatur saja dulu.

Engineer Palsu 

Suami saya selalu bilang saya ini engineer palsu. Saya punya gelar sarjana dan magister. Dua - duanya di bidang teknik, tapi saya masih gelagapan ketika ditanya anak saya, kenapa kapal bisa tidak tenggelam atau kenapa api bisa padam dengan air atau kenapa lampu bisa menyala. 

Coba bocah nanyanya itu siapa saja member BTS? kalau itu kan saya bisa jawab dengan yakin. Sampai ke sifat - sifatnya juga bisa saya kasih tau. Nggak perlu bawa - bawa ijazah segala dan nggak berisiko diteriakin Archimides dengan "Katanya Sarjana Teknik!!", yang tentu akan saya teriakin balik. "Mohon maaf Pak! Dulu saya lulus Fisika modal ngapalin isi buku Gamais aja!" :') apapun soalnya tulis jawabannya pakai solusi yang ada di buku.


Eh lha dhalah...wong saya perkalian buat ngeset timer Youtube Kids saja masih sering salah :')

Tak Sadar Kalau Introvert

Dulu saya selalu berpikir, orang introvert itu adalah orang yang pendiam, penyendiri, dan tertutup. Sementara saya selalu merasa sebagai orang yang terbuka, cerewet, ceplas - ceplos, kalau ngomong suaranya keras, habladi hablada. Intinya sifat saya tidak ada sisi introvert based on textbook sama sekali. Kalau saya mengaku lebih senang menyendiri, seringnya saya ditertawakan atau dikira berhalusinasi.

Ciri - ciri orang introvert menurut www.verywellmind.com

Tapi setelah saya dewasa saya mulai menyadari betapa introvert-nya saya ini sebetulnya. Berinteraksi dengan orang lain membuat saya cepat lelah dan saya makin perlu sendirian beberapa saat untuk dapat menjernihkan pikiran. Or I'll be a mess

Baru - baru ini juga saya menyadari kenapa saya tidak punya teman atau tidak bergabung dengan banyak komunitas. Ternyata memang karena saya takut bergaul. Saya takut tidak bisa fit in atau terlihat aneh sehingga memilih untuk tidak bergabung. Inilah mengapa motto hidup saya bukan witing tresno jalaran saking kulino atau tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang takut mau kenalan duluan. 

Bahkan ketika akan memilih sekolah anak, salah satu pertanyaan pertama saya, seberapa sering dan intense kegiatan kumpul - kumpul orang tuanya. Heuheu. Saya takut harus ketemu orang baru. Takut nggak bisa kontrol muka. Lah ini introvert apa suudzon ya. Namun ada kekhawatiran juga orang lain justru mukanya jadi tak terkontrol gara - gara saya. Karena saya mengakui kelakuan saya kadang agak ajaib :')

Tapi sebenarnya kalau diantara orang - orang yang sudah kenal, dan tidak terlalu menuntut level keakraban tertentu, saya bisa - bisa saja kok bergaul. Nggak aneh - aneh amat. Masih bisa ditolerir orang kebanyakan lah. Haha. 

Mamah Gajah yang ini jago kandang memang. 

Kerja Berlebihan Bikin Cranky

Masih tentang sifat tersembunyi saya sebagai introvert, dulu saya menemukan solitude saat bekerja. Kerja adalah my absolute me time. Lucunya pekerjaan saya sekarang menuntut saya berinteraksi dengan orang hampir setiap saat, dan meskipun saya cukup menikmatinya, sometimes it drained my energy quickly sampai pada poin saya tidak sanggup menghadapi hal lain sepulang kerja. Termasuk menanggapi suami dan anak - anak.

Tapi lalu saya diingatkan bahwa pekerjaan saya, di akhir hari hanyalah pekerjaan. Sementara mengurus suami dan anak - anak adalah kewajiban. Sebelumnya saya pernah mencoba memaksakan diri, mencoba melakukan semua hal dengan mengabaikan kebutuhan saya untuk menyepi dan recharge. Tapi kemudian lelah sendiri dan jadi cranky

Emak - emak cranky adalah hal paling mengesalkan nomor dua di seluruh dunia. Nomor satunya sepertinya masih disepakati, tetap emak - emak naik motor tanpa pengetahuan yang cukup tentang lampu sein. Jadi sekarang, instead of memaksakan diri melakukan semuanya tanpa jeda, I make amends with my self, terutama soal pekerjaan.

Mendelegasikan sebagian pekerjaan yang mengharuskan interaksi dengan orang ke kolega kerja (kerjaan kami cukup fleksibel untuk bertukar peran), set waktu bekerja yang strict dan mencoba mengabaikan notifikasi di ponsel, serta berusaha mengontrol diri untuk tidak impulsif. Langsung berusaha menyelesaikan masalah yang muncul saat itu juga. Karena merasa tertantang. 

Yah, kalau tidak perform kan paling dimarahi pimpinan. Worst case, kalau sudah kelewatan ya dipecat. Haha. Tapi sudahlah. Kan saya Mamah Gajah, I can always find something else to do.

Dengan membagi dan membatasi kapasitas otak untuk urusan pekerjaan, saya jadi punya energi lebih untuk memikirkan dan mengerjakan hal lain. Menulis misalnya atau memikirkan dan mengerjakan hal - hal spritual. Sehingga kebutuhan mental saya untuk recharge terpenuhi dan overall bisa jadi lebih happy.

Ini kenapa nulisnya jadi kayak anak Jaksel begini ya. Padahal seumur - umur nggak pernah gaul disana :')

Bukan Orang Tua Sempurna

Saya yakin setiap orang tua punya cobaannya masing - masing, sekalipun yang terlihat sempurna di Sosial Media. Dadah dadah ke mamah mamah selebgram. Begitupun dengan saya dan suami, yang baru seumur jagung menjalankan peran ini.

Jadi orang tua itu setiap hari bagi kami adalah perjuangan. An everyday battle. Berbeda dengan semua ujian yang pernah kami hadapi di bangku sekolah, yang bisa dikerjakan, seperti kata saya diatas, paling tidak dengan menulis ulang solusi di buku Gamais, we have absolutely no idea bagaimana cara menjalani ujian sebagai orang tua dengan baik dan benar. Walaupun baik dan benar disini relatif ya, karena ujian orang tua berbeda beda satu dengan lainnya. 

Tak ada guidelines untuk jadi orang tua dan manusia terlahir tanpa manual. Jadi seberapapun jagoannya kami dalam hal eksakta dan seberapa banyak teori parenting yang kami baca dan hapalkan, sungguh tidak akan pernah menjadi jaminan bisa jadi orang tua yang baik. 

Duo balita kesayangan ini beda umurnya cuma 2.5 tahun. Satunya sedang di fase fantastic four, satu lagi di terrific two. Setiap hari rumah super ramai. Jadi kalau Cinta ada di rumah sini dia tak perlu lari ke hutan belok ke pantai dan pecahkan gelas serta goyangkan loncengnya sampai gaduh (lagi lagi referensi 2000-an). Haha. 

Apalagi anak - anak kami mewarisi kombinasi sifat ngeselin yang sempurna dari kami berdua. Mungkin ini yang namanya karma karena dulu saat kami kecil katanya sifat - sifat tersebut yang membuat orang tua kami kerepotan juga.

Magnet dengan kutub yang sama pasti akan tolak menolak sampai salah satunya mengalah dan berputar. Begitupun dengan kami dan anak - anak. Setiap hari benturan dan letupan pasti terjadi. Antara saya dengan anak - anak, suami dengan anak - anak, antara anak besar dan anak kecil, pun antara saya dan suami. Hampir selalu dihiasi dengan rengekan, tangisan, teriakan, muka cemberut, dan adegan - adegan a la sinetron lainnya.

Kalau sudah begini biasanya jiwa introvert saya memberontak. Sekuat hati harus menahan keinginan untuk kabur saja, meninggalkan kerusuhan dan mencari ketenangan untuk mendinginkan kepala. Seringkali juga terlintas di kepala saya, apa cara yang kami pilih untuk mengasuh anak - anak ini sudah tepat? Bagaimana kalau kami ternyata melakukan hal yang buruk, lalu anak - anak jadi punya trauma, kemudian jadi benci orang tuanya, dan berbagai pikiran absurd lainnya. 

Tapi ya sudahlah, untuk semua teori parenting kan hanya waktu yang bisa membuktikan keberhasilannya, jadi untuk sementara kami coba konsisten saja dengan hal yang kami yakini. 

Semoga kedepan anak - anak akan memahami, kalau orang tuanya hanya berusaha mengarahkan mereka. Agar paling tidak, seminimal mungkin jadi orang yang decent, tidak merepotkan orang lain, atau jadi beban masyarakat. Syukur - syukur punya sumbangsih lebih pada negara dan dunia. Peraih nobel gitu misalnya.

Lha keluar ambisiusnya :))

Impulsif is My Middle Name

Sebagai orang yang selalu membanggakan kemampuan untuk berpikir secara rasional dan semenjak SMA sudah dididik untuk berlogika (hallo jurusan IPA), sepertinya saya terlalu sering membiarkan insting saya berkuasa. Saya ini adalah orang paling impulsif yang saya tahu. Sering bertindak tanpa pikir panjang kemudian pusing sendiri.

Rumah tetiba didatangi banyak Kang Paket? Kemungkinan saya yang sedang impulsif ganti semua baju anak - anak yang sudah kesempitan. Banyak peralatan baru di rumah? biasanya saya sedang impulsif mencoba menjalankan hobi baru, yang biasanya hanya bertahan seminggu :')

Masih agak lumayan sekarang hanya Kang Paket yang datang, jaman belum menikah, saya bisa ujug - ujug impulsif ambil kerjaan yang mengharuskan saya pergi ke suatu tempat antah berantah. Sampai orang tua sudah tidak bisa tracking anaknya dimana. Dipikir sedang makan ayam geprek di Bandung, ternyata sedang makan ayam tangkap di Banda Aceh. Dipikir sedang ketik - ketik di Jakarta ternyata sedang ngapung - ngapung di kapal mau ambil data di Talaud. 

Episode kehidupan paling absurd dan impulsif. Serba mendadak. Mendadak Ende, mendadak Bukit Tinggi, mendadak Mamuju, mendadak Sorong, dan mendadak - mendadak lainnya

Begitulah romansa masa muda. Sekarang sih impulsif hanya sebatas di ujung jempol saja. Boro - boro mau impulsif berpergian, pergi yang terencana saja belum berangkat sudah lelah duluan. Faktor U nih :))

Menunda is My Best Frenemy

Ini adalah penyakit saya sejak lama. Menunda - nunda mengerjakan sesuatu. Sampai deadline lalu kemudian rungsing sendiri. Sungguh sangat iri pada orang yang bisa produktif dan sebetulnya ingin begitu juga. Tapi mindset masih mentok di "sudahlah, masih ada hari esok". Padahal hari esok tidak dijamin akan bisa ditemui ya. Heuheu.

Sifat menunda nunda ini kalau dipikir - pikir sebetulnya agak kontradiktif dengan sifat impulsif yang saya punya. Eh atau malah saling menguatkan ya. Karena menunda sampai titik penghabisan, lalu jadi impulsif nggak karuan buat menyelesaikan hal yang tertunda sebelum deadline. 

Apapun itu, sebetulnya sudah banyak kejadian yang disesali karena saya menunda - nunda. Paling tidak saya pikir hasilnya bisa lebih memuaskan kalau tidak ditunda - tunda. Ya seperti tulisan inilah. Ditunda hingga detik penghabisan, karena berbagai alasan. Lalu setelahnya menyesali diri karena tidak bisa menulis dengan lebih menarik lagi. Seperti mamah - mamah lainnya. 

Beginilah kalau punya sedikit jiwa perfeksionis tapi suka menunda - nunda. Sering sekali menyesal tiada guna. Haha.  

Tapi in my defense, menunda juga tidak selalu jelek sih. Melihat situasi dulu baru bergerak, supaya kalau ada perubahan tidak kerja dua kali, juga suatu bentuk efisiensi. Mungkin inilah setitik jiwa jawa saya yang masih tersisa walaupun sudah belasan tahun tinggal di tanah sunda. Alon - alon waton kelakon. Maka dari itu saya sebut sifat suka menunda - nunda saya sebagai friend enemy. Karena bisa merugikan atau menguntungkan tergantung situasi. 

Penutup

Alhamdulillah tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang pertama ini berhasil diselesaikan. Tepat 6 jam sebelum deadline. Ternyata susah juga menulis tentang diri sendiri. Batasannya tipis untuk tidak terkesan antara too much information, humble brag, atau sok - sok misterius. Haha.
 
Begitulah sedikit cerita tentang retakan di gading versi mamah gajah yang ini. Semoga bisa menjadi benchmark buat mamah lain yang sering merana karena merasa banyak kekurangan. Percayalah you are so much better than what you think you are. Mungkin seiring berjalannya waktu dan semakin banyak uban, retakan gading tersebut makin banyak. Bisa menjadi intropeksi seumur hidup atau malah menjadi semakin halus kemudian menyatu membentuk lekukan - lekukan gading yang indah. Apapun itu semoga ada yang pembaca bisa ambil hikmahnya dari tulisan ini walaupun hanya sebesar geram sisa permesinan.

Kemudian Bapak Frederick W. Taylor pun tersenyum karena paling tidak saya masih bisa ingat istilah Proses Manufaktur (walaupun sempat nanya suami yang hanya dibalas dengan alis yang mengerenyit). 

Sungguh niat pasang foto Mister - Mister Amerika daripada Oppa - Oppa Korea yang telah terbukti menarik minat pembaca. Tapi namanya juga usaha untuk menjadi sedikit ilmiah biar tidak dibilang engineer palsu terus sama suami tercinta. Silahkan diperhatikan baik - baik. Siapa tau di suatu masa mendatang anak Mamah bertanya siapakah bapak - bapak ini dan apa jasa - jasanya bagi umat manusia. Mamah sudah tau jawabannya.  









Read more ...

Saturday, January 8, 2022

Tentang Priviledges dan Kesempatan untuk Gives Back

Latar Belakang

Almamater saya, Teknik Industri ITB, merayakan hari jadinya yang ke - 50 pada tahun 2021 lalu. Karena pandemi, perayaannya baru dilaksanakan bulan Januari 2022. Berbagai program diluncurkan untuk merayakan berdirinya salah satu Program Studi terfavorit di ITB ini. Salah satunya adalah penggalangan dana Endowment Fund atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan dana lestari.

Endowment fund Program Studi dikelola oleh suatu badan pengelola investasi. Keuntungannya biasanya digunakan untuk pengembangan institusi yang tidak dicover oleh anggaran negara. Tahun 2021 dicanangkan inisiatif terbaru penggunaan keuntungan Endowment Fund TI, yaitu untuk memberikan bantuan finansial bagi mahasiswa yang kesulitan ekonomi.

Lho memangnya mahasiswa ITB ada yang kesulitan ekonomi? Biaya masuknya saja mahal. Sepertinya cuma orang mampu yang bisa kuliah disana. Eits, jangan salah, ada banyak cerita dibalik menara gading ITB. Ini salah satu penjelasannya. 

Tentang Keistimewaan Saat Kuliah

Dulu saya pikir, keberhasilan saya menyelesaikan kuliah S1 dan S2 adalah hal yang biasa saja. Berjuta orang berhasil melakukannya. Bahkan saya sedikit malu, karena tidak berhasil menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang memuaskan. Membuat saya sempat minder untuk melamar pekerjaan. Sungguh minder yang tak berguna :))

Tapi setelah saya bekerja di balik layar, mengetahui data, informasi, dan kisah yang tidak diketahui oleh orang luar, baru saya sadar. Keberhasilan saya menyelesaikan pendidikan tinggi secara tepat waktu, dengan relatif lancar, tanpa kurang suatu apapun adalah sebuah keistimewaan. Hal yang mungkin tidak mudah didapatkan orang lain.

Katanya, untuk bisa menyelesaikan kuliah, seseorang perlu 3 hal : 1. Keinginan untuk selesai dan kemauan untuk berusaha, 2. Sumber daya, dan 3. Supporting System. Menilik dari pengalaman pribadi, walaupun hasilnya pas - pasan, saya cukup beruntung karena tidak menghadapi masalah terkait hal - hal diatas.

Saya cukup menyukai jurusan kuliah yang saya pilih. Walaupun agak terseok mengikutinya, karena kemampuan otak yang terbatas, saya tak pernah merasa terpaksa atau putus asa. Dari sisi sumberdaya, latar belakang keluarga saya memang cukup sederhana. Orang tua saya harus berhemat untuk bisa menyekolahkan saya ke ITB. Tapi kami tidak sampai kekurangan dan masih bisa hidup dengan nyaman. Meskipun saya tentu tidak bisa seenaknya menghabiskan uang, atau punya barang dan fasilitas tersier seperti teman yang berasal dari keluarga lebih berada.

Untuk masalah supporting system, saya juga cukup beruntung karena tidak mengalami masalah. Keluarga inti saya mendukung penuh saya kuliah. Hubungan saya dengan orang tua dan adik, serta kami dan kerabat lain baik - baik saja. Walaupun mungkin tidak Instagram worthy tapi saya tidak pernah mengalami konflik keluarga yang mengganggu pikiran.

Intinya waktu zaman saya kuliah, selain perkara akademik, saya tidak perlu merisaukan hal - hal lain. Kuliah ya kuliah saja, tidak perlu mikir yang lain. Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa hal tersebut adalah priviledge. Keistimewaan. Saya pikir priviledge selalu berhubungan dengan kekuasaan dan materi. Tapi ternyata setelah saya dewasa, baru saya paham bahwa bisa kuliah tanpa diganggu berbagai masalah juga merupakan bentuk priviledge tersendiri. Hidup tenang tanpa beban adalah rezeki yang tidak didapat oleh semua orang.

Masalah Mahasiswa Zaman Now

Setelah saya bekerja sebagai staf tata usaha, saya jadi tau berbagai macam permasalahan mahasiswa. Saya tidak tau data pastinya, tapi selama 5 tahun saya bekerja, rasanya mahasiswa yang mengalami masalah, baik mental maupun ekonomi, semakin banyak. Meningkat secara signifikan karena pandemi. Dari seluruh masalah, yang berdampak langsung pada kelancaran kuliah, memang masalah ekonomi. Bukan berarti masalah mental tidak berpengaruh, tapi kalau tidak ada kesulitan keuangan biasanya masih ada banyak alternatif penyelesaiannya. Sedangkan masalah ekonomi yang berlarut larut sering berkembang menjadi masalah mental juga. 

Terkait ekonomi, sebelum pandemipun saya sudah sering mendengar masalah mahasiswa yang kesulitan keuangan. Cerita mereka seperti yang sering dimuat di koran atau majalah. Anak dari keluarga pra sejahtera yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dibilang tak punya uang ya memang tak punya uang. Dukungan materi dari orang tua otomatis tak ada. Bahkan kadang mereka yang harus mengirimkan uang beasiswa yang tak seberapa untuk membantu hidup keluarga.

Ada yang adik - adiknya harus putus sekolah demi kakaknya bisa kuliah. Ada yang cuma bisa makan dua hari sekali. Puasa Daud saat jatah hari tak makan. Ada yang beasiswanya diputus karena dianggap tidak perform, sehingga harus nyambi kerja kasar demi mengumpulkan uang untuk membayar SPP. Dan lain sebagainya.

Tapi, masalah ekonomi tak jarang juga dialami oleh mahasiswa yang berasal dari keluarga yang di atas kertas mampu. Perseteruan keluarga, perebutan warisan, terlilit hutang, mengalami kebangkrutan, orang tua di-phk, orang tua sakit, orang tua meninggal, adalah beberapa penyebabnya. Sedikit lebih rumit daripada masalah yang dihadapi oleh mahasiswa yang dari awalnya memang tak mampu. Bukan meremehkan masalah yang sebelumnya, tapi paling tidak yang tidak mampu dari awal sudah paham kondisi dan konsekuensinya. Sementara mahasiswa yang tiba - tiba kesulitan ekonomi seringkali lebih stress karena ada faktor shock yang bisa sangat mempengaruhi mental.

Bukan Melulu Karena Manja

Mahasiswa dengan masalah ekonomi umumnya mengalami dilema besar. Di satu sisi mereka pasti paham bahwa menyelesaikan kuliah secepat mungkin adalah salah satu gerbang kesempatan keluar dari kesulitan ekonomi. Sementara di sisi yang lain, perjuangan untuk bisa survive mungkin menghabiskan seluruh energi mereka untuk dapat memberikan performansi yang baik untuk dapat lulus tepat waktu. Belum lagi sekarang lama waktu lulus juga dibatasi. Jika lewat tak ada kompromi, langsung tak dapat ijazah. Jadi situasinya bagai makan buah simalakama.

Untuk mencari tambahan uang juga tidak sesederhana itu situasinya. Kuliah sekarang perlu konsentrasi lebih. Karena tuntutan standar kelulusannya memang lebih tinggi. Yes, you can argue on that matter. Tapi kuliah di ITB tidak didesain untuk bisa sambil disambi. Buat yang sudah punya anak kuliah, apalagi di ITB, pasti terbayang kan mental load-nya.

Betul ada banyak yang berhasil kuliah sambil nyambi cari uang. Tapi kapasitas orang beda - beda dan saya rasa kebanyakan tidak akan pernah sanggup. Kuliah sambil cari uang. Yah, tidak ada yang salah juga dengan tidak bisa cari uang saat kuliah, karena tugas utama mahasiswa adalah belajar. 

Cari beasiswa juga tidak mudah, kebanyakan dari mereka yang tidak punya uang, tidak eligible untuk dapat beasiswa prestasi, atau beasiswa ekonomi, atau bahkan tidak bisa mencari beasiswa lain karena sudah terikat kontrak dengan beasiswa ekonomi lain. Padahal besaran beasiswa sebelumnya juga sudah minim.

Maka hal yang bisa dipikirkan oleh para mahasiswa yang terhimpit kesulitan ekonomi ini, salah satunya adalah minta bantuan uang tunai atau keringanan pembayaran SPP. Karena memang itu yang terpikir sebagai solusi agar kuliah tak terabaikan.

Mendengar hal ini mungkin ada yang langsung komentar, mahasiswa sekarang manja, tidak mau usaha, maunya instan dikasih uang. Karena toh, mahasiswa kesulitan ekonomi sudah bukan cerita baru. Dari zaman kolonial juga sudah ada. Tapi sudah tak terhitung juga yang berakhir bahagia. Lulus dengan baik dan jadi orang sukses. 

Sayangnya tak jarang orang tak paham, bahwa kondisi sekarang berbeda dengan zaman dulu. Bahkan literally ada yang saat dengar cerita mahasiswa kesulitan ekonomi ini malah menyuruh mahasiswa untuk nyambi ngojek saja.

Oh well, sejujurnya mahasiswa yang kurang paham tentang arti sebenarnya dari "kesulitan ekonomi" juga tak sedikit jumlahnya. Banyak yang keliru mengartikan minta batuan keuangan supaya bisa hidup dan kuliah sebagai minta bantuan agar tidak merepotkan orang tua. Padahal orang tuanya tidak kenapa - kenapa. Mahasiswa yang seperti ini biasanya diberikan bantuan bukan berupa materi tapi berupa pemahaman hidup yang lebih luas. 

Menghadapi yang begini, kalau sedang berminat, ya saya coba kasih pengertian. Kalau sedang lelah ya sudah dibiarkan saja. Kita kan tidak mungkin mengubah pikiran setiap orang atau bikin orang lain paham.

Beda Generasi Beda Masalah

Kata seorang kenalan saya yang berprofesi sebagai psikolog, kita tidak boleh serta merta menyamakan apa yang dihadapi anak zaman sekarang dengan apa yang kita alami di masa lalu. Karena tantangannya memang beda. Generasinya saja sudah beda. Anak kuliah S1 zaman now sekarang rata - rata dari generasi Z. Sementara kita dari generasi Millenial atau generasi X.

Jadi kalau ada mahasiswa menulis kalimat "di era sekarang ini" pada pendahuluan tugas kuliahnya, "era" yang dimaksud berbeda dengan "era" yang kita maksud dulu.

Terkait kesulitan ekonomi, tantangan yang dihadapi anak sekarang lebih berat karena memang ada faktor inflasi yang menyebabkan kenaikan hampir semua harga dan biaya. Sementara peningkatan pendapatan tidak mengikuti kurva yang sama. 

Uang kuliah sekarang 10 kali lipat dari 20 tahun lalu, sementara rata - rata pendapatan orang tua ya segitu - segitu saja. Tidak lantas harga - harga mahal orang - orang jadi otomatis ikut kaya juga. Itu baru biaya kuliah, belum biaya kos, makan, dan biaya tambahan lainnya. Kuliah itu memang mahal. Dulu dan sekarang. Dengan biaya pribadi, mungkin saat ini betul - betul hanya keluarga menengah ke atas saja yang menyekolahkan anaknya ke sekolah bergengsi semacam ITB.

Selain itu gaya hidup juga sudah berubah. Di zaman yang serba cepat ini berbagai fasilitas memang diperlukan, yang tidak punya otomatis ketinggalan. Plus pergaulan mau tidak mau juga sudah beda. Dulu zaman saya kuliah, mengerjakan tugas cukup di kosan teman, sekarang di cafè atau co-working space. Tidak punya laptop 15 tahun lalu bukan masalah berarti. Sekarang ya tidak bisa mengejar. Apalagi untuk jurusan - jurusan yang semua kegiatannya memang perlu komputer untuk poci - poci mengerjakan tugas. 

Gaya hidup diatas, bukan melulu maksudnya pemborosan atau pencitraan. Ya memang new normal saja gitu. Orang yang baca tulisan ini juga sekarang tidak bisa lepas dari smartphone kan? Padahal ibu - ibu kita dulu cukup baca tabloid Nova atau majalah Femina, dan ketemu tetangga di tukang sayur buat cari hiburan.

Apa - apa yang dulu tersier sekarang memang mulai bergeser jadi kebutuhan sekunder atau bahkan primer. Kuliah S1 juga dulunya tersier, sekarang mungkin sudah jadi kebutuhan primer. Memang tidak ada yang bilang orang harus kuliah supaya bisa sukses. Ataupun menjamin setelah kuliah langsung tidak kesulitan ekonomi. Tapi harus diakui, kuliah merupakan salah satu jalan pembuka peluang hidup yang lebih baik. Paling tidak membuka lebih banyak pilihan untuk hidup.

Peluang Gives Back

Tidak bisa dipungkiri kelakuan anak zaman sekarang juga banyak yang bikin geleng - geleng kepala. Terutama masalah perilaku. Kadang kalau menghadapi mahasiswa dan orang tuanya, saya pengen jambak - jambak rambut sendiri menahan diri untuk teriak "who are you people?!" saking frustasinya. Walaupun cuma bisa istighfar saja pada akhirnya atau ketawa pahit mencoba mengambil sisi lucunya. Habis mau gimana lagi? :))

Tapi sebagai orang yang dulu punya priviledge dan mungkin sadar atau tidak sadar dapat bantuan dari orang lain, entah dalam bentuk support moral maupun materi, saya merasa ini adalah peluang yang bagus untuk gives back. Bantu para mahasiswa yang kesulitan ini. Bisa dalam bentuk materi maupun moral. Biar mereka yang sulit ekonomi ini juga bisa lulus tepat waktu. Bisa segera cari kerja atau peluang lainnya, lalu terbebas dari kesulitan ekonominya. Syukur - syukir jadi orang sukses dan bisa gives back juga. Lebih banyak lagi. Eh tapi tentu tak ada yang memaksa. Wong amal kok terpaksa :D

Hidup saya sekarang ini memang tidak bergelimang harta, tapi tidak kesusahan juga. Saya mungkin tidak bisa membantu langsung dalam bentuk materi, tapi saya bisa coba bantu dengan cara lain. Menghubungkan mahasiswa - mahasiswa yang punya masalah ke orang yang bisa membantu adalah salah satunya. Siapa tau yang baca tulisan ini juga ada yang tergerak hatinya.

Katanya menyingkirkan ranting, batu, duri yang menghalangi jalan orang saja pahalanya besar, apalagi membantu orang bisa lancar kuliah sampai lulus ye kan?

"we can always find another thousands or even millions. But they don't. So what's the deal with giving them hundreds or even just dozens?". 

Semoga bisa jadi kenyataan, bukan hanya jadi kata - kata cantik penghias kaca lemari eh blog saja.
Read more ...