Saya ingat sih kadang-kadang Bapak kerja di depan komputer yang layarnya hijau, yang untuk menyalakannya masih harus ganti-ganti disket dan ketik perintah.
Ingat juga kadang-kadang Ibu memeriksa hasil ujian. Soalnya saya sering disuruh bantu koreksi kalau soalnya pilihan ganda. Pakai plastik transparan yang ditandai bulat-bulat pakai spidol.
Tapi saya nggak ingat waktu tidak ada kegiatan khusus mereka ngapain. Waktu saya main tenda-tendaan pakai semua kursi dan sprei di rumah. Atau waktu saya nonton MTV Asia Hitlist berjam jam di Sabtu siang. Atau waktu saya keasyikan baca buku-buku cerita. Atau bikin prakarya dari kardus dan berbagai bahan bekas di rumah berharap suatu saat bisa kirim ke acara Klab Disney Indonesia di Indosiar.
Beberapa hal saya ingat tentang kegiatan orang tua saya di lingkungan rumah.
Seperti kalau sore Ibu saya suka pergi arisan RT atau RW. Pakai baju seragam hijau dan pin PKK. Waktu dulu arisan di daerah rumah saya memang masih formal. Pakai nyanyi hymne PKK dan Indonesia Raya. Walaupun sampai sekarang saya nggak tau apa yang didiskusikan. Cuma tau kalau pulang Ibu bawa kudapan enak.
Bapak juga saya ingat suka pergi main tenis atau berenang. Kadang juga kumpul-kumpul sama tetangga buat tirakatan. Kayaknya ada saja hari yang harus diperingati dengan tirakatan. Sampai kesaktian pancasila saja harus ada kumpul-kumpulnya.
Anyway selain kegiatan-kegiatan khusus diatas, saya tetap nggak ingat Bapak Ibu saya ngapain kalau sedang lowong di rumah.
Jelas mereka nggak cuma nggletak sambil scroll tiktok seperti yang saya dan jutaan orang lainnya sekarang lakukan. Tidak juga menulis blog seperti saya kalau lagi waras. Walaupun Ibu saya menulis diary setiap hari sampai ada puluhan bukunya.
Saya juga yakin mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Karena dua-duanya bekerja dan ada Bibi yang membantu di rumah.
Walaupun kadang saya lihat Bapak mencuci baju karena hobinya main air, atau Ibu ngutak atik tanaman karena hobinya main tanah.
Ada sih masanya saya liat Ibu nonton Meteor Garden hampir setiap hari. Pakai VCD bajakan (tentu saja),yang disetel pakai pemutar VCD canggih pemberian Pakde saya yang bisa muat 20 disc sekaligus. Tapi itu cuma terjadi sebulan sebelum Ibu akhirnya bosan.
Mereka jelas juga tidak menghabiskan waktu mengurusi atau menemani saya dan adik saya setiap saat. Keduanya juga tidak pernah menghabiskan waktu meributkan hal-hal yang kami lakukan di rumah. Selama masih sesuai dengan norma-norma sepertinya dulu kami dibiarkan mau ngapain saja.
Seperti halnya mereka juga tidak ambil pusing kalau saya pergi keluar bermain bersama tetangga sampai magrib menjelang. Bahkan kalau malam minggu saya main bentengan di depan rumah sampai lewat jam tidur juga saya tidak pernah dtegur.
Tidak juga saya ingat pernah disuruh-suruh untuk makan, mandi, belajar. Karena saya makan, mandi, belajar sendiri.
Eh disclaimer dulu supaya tidak pada salah sangka. Walaupun sepertinya saya dibiarkan, tapi saya tidak pernah merasa kurang perhatian.
Saya dan adik saya jelas bukan anak fatherless. Bapak saya selalu ada di semua aspek kehidupan kami paling tidak sampai dia menyerahkan tanggung jawab ke suami kami masing-masing.
Ibu saya juga bukan orang yang tidak tau apa-apa soal anak-anaknya. Anak-anaknya adalah hal penting di hidupnya, tapi hidupnya memang tidak berputar di sekeliling kami.
Dalam artian, sampai akhir hayatnya dia tidak pernah melupakan dirinya sendiri. Jadi kegiatannya masih banyak selain mengurus kami saja.
Saya cuma nggak ingat hal sehari hari yang mereka lakukan.
Hal-hal remeh seperti nonton televisi, ngingetin anak-anak ini itu, main-main, dll.
Saya juga tidak pernah ingat orang tua saya panik karena kami main sepeda agak jauh dari jalan rumah, deg-degan karena kami masuk WC umum sendirian, atau khawatir karena kami bergaul dengan anak-anak kampung sebelah.
Di masa itu berita seram seperti Sumanto memang terasa jauh sekali, sementara sekarang sepertinya penjahat di berita ada di rumah sebelah, walaupun kejadiannya bahkan ada di pulau lain.
Memang gara-gara terbuka lebarnya kanal informasi. Membuat orang tua lebih melek tentang kewajibannya. Walaupun dengan sisi gelap, jadi jauh lebih gampang overthinking.
Gara-gara hal ini, kehidupan anak-anak saya terasa jauh dari organik. Main diatur via playdate di playground megah dalam gedung ber AC. Hobi disalurkan via les berkurikulum. Sekolah dikurasi dengan seksama yang terkontrol lingkungannya.
Apalagi lingkungan tempat tinggal kami kebanyakan isinya lansia pensiunan. Dimana kalaupun ada anak kecil di rumah lain, masing-masing sibuk dengan urusan akademiknya. Ya sekolah full day, ikut kegiatan klub ini itu. Sudah tak ada energi untuk main bersama.
Rasa bersalah kalau nyuekin anak danFOMO rasa takut akan masa depan sepertinya jadi pemicu orang tua sekarang lebih tidak bisa membiarkan anak-anaknya "bebas" seperti orang tua saya "membiarkan" saya tumbuh apa adanya seperti dulu.
Rasa bersalah kalau nyuekin anak dan
Karena kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama, anak-anak saya kemungkinan besar akan lebih punya ingatan apa yang ayah ibunya lakukan di rumah: nonton tayangan OTT, main game bersama, kerja di laptop, mengingatkan makan, sholat, mandi, makan, minum vitamin seperti alarm, briefing setiap pagi tentang kegiatan mereka hari itu, dll.
Hal-hal tersebut diatas konsisten kami lakukan setiap harinya. Apalagi hidup di masa sekarang ini rasanya memang seperti berputar diantara checklist dan to do list. Saking rutinnya, justru aneh kalau nggak jadi core memory.
Kasihan sih sebenarnya. Buat anak-anak zaman now, dunia nyata mereka terasa semakin sempit dengan berbagai batasan yang menghimpit. Padahal pandangannya bisa lebih luas lewat berbagai teknologi yang tersedia.
Tidak ingin jadi helicopter parent, tapi kok banyak mikirnya kalau mau jadi free range parent seperti orang tua saya dulu.
Hal positifnya,sekarang ini komunikasi memang terasa semakin terbuka. Karena tidak seperti dulu dimana, walaupun bebas, tapi anak-anak harus nurut saja sama orang tua, sekarang anak-anak lebih bisa mengutarakan maunya apa. Debat dan kompromi adalah hal biasa.
Kalau dulu saya "dicuekin" baik-baik saja, coba kita lihat anak-anak dengan full perhatian ini jadinya bagaimana.
Jadi, orang tua zaman dulu ngapain sih kalau di rumah? Masih misteri buat saya sampai sekarang😅
Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juni dengan tema Perbedaan/Gap.


Wah sama nih ... Gak pernah disuruh suruh belajar dan kerjakan PR
ReplyDeleteJaman itu bahkan rapot ambil sendiri
Jadi ingat orang tuaku sendiri, aku juga nggak tahu apa yang mereka lakukan sewaktu aku kecil hahaha. Tapi iya, aku banyak "diabur", alias dibiarkan kocar kacir sendirian. Bahkan bisa ngacir ke 2-3 kecamatan berbeda naik sepeda sendirian! Wkwkwk
ReplyDeleteSaya ingat sih kegiatan orang tua di rumah, tapi yang ngga diingat adalah nama panggilan saya di rumah sebelum jadi umminya anak-anak. Satupun di rumah ngga ada yang ingat, jadi merasa miris sendiri nih, hehehe..
ReplyDeleteYa ampun... Restu, ehehe, ku bacanya sambil senyum senyum dengan mata yg berkaca-kaca. Kok banyak miripnya ya. Terutama yg bagian kitanya sendiri ehehe. Btw ku kangen masa-masa sekolah yg sampai siang doang, pulang bisa bobo siang, sore maen sama teman-teman deket rumah. Ehehe. Sekarang anak anak sekolaan full day semua, aku lihatnya kasihan ehehe, tak jarang pas anakku pulang sekolah, kupijitin sebentar.
ReplyDeleteBagian main petak umpet sampai magrib, kalau dipanggil main sama temen terus dibilang kitanya lagi bobo siang, keseeel mangkel sampai di jendela mau gedor, "engggaaaaak, enggaaak boboooo,"🤣
ReplyDeleteOh Ibu Bapak jalan dulu baca majalah dan bapak baca koran?