Wednesday, May 20, 2026

Hari Biasa Cuma Ada Tapinya

Saya dan dua orang teman anggota geng WA 3 orang sudah menyerah membuat rencana untuk bertemu langsung. Pasalnya kami, yang masing-masing bekerja dan punya anak dua, setiap punya rencana hampir pasti berakhir dengan batal.

Sementara itu rencana yang impulsif lebih ada kemungkinan jadi. Impulsifnya harus dalam hitungan menit sebelum pelaksanaan. Biasanya karena kebetulan ketemu lalu tetiba muncul agenda yang harus langsung dieksekusi tanpa ditunda.

Mungkin Tuhan tau kalau kami ketemu isinya cuma "menganalisis orang", jadi tidak dibiarkan sering-sering. 

Permasalahan ini nampaknya jadi hal umum di kalangan emak-emak. Kalau punya rencana pasti ada saja yang terjadi. Bukan hanya yang menyangkut orang lain, rencana pribadipun suka banyak penghalang.

Makanya sampai menghadapi esok haripun saya tidak berani berencana terlalu detail. Que sera-sera kalau kata lagu lama.

Walaupun tak disangkal kadang ekspektasi saya terlalu tinggi. Seperti yang terjadi di suatu hari di Bulan April 2026. Saat hujan turun seharian di kota Bandung yang kala itu sudah seperti London. 

Cuacanya sendu terus.

Pagi itu saya bangun sebelum alarm subuh berbunyi. Tumben. Sambil menunggu, saya cek HP.

Bangun pagi itu ada perasaan kurang enak melipir di hati. Tidak nampak notifikasi apa-apa di HP saya. Kecuali notifikasi kalau baterai HP tinggal 15 persen. Harusnya aman dong ya? kata saya meyakinkan diri.

Berusaha mengesampingkan perasaan galau, saya mengambil wudhu dan membangunkan suami yang harus pergi pukul 5 pagi.

Di hari itu saya harus mengikuti workshop seharian di kantor. Sementara suami harus pergi mengajar ke Cirebon. Sebetulnya tidak ada hal khusus yang harus saya siapkan untuk menghadapi hari itu.

Anak-anak punya pengaturannya sendiri untuk penjemputan di sekolah dan penjagaan saat pulang. Ada bibi pocokan (pulang pergi) juga yang membantu pekerjaan di rumah. Tugas saya tinggal antar anak-anak sekolah setelah itu menjalani hari sampai kembali lagi ke rumah.

Sebetulnya saya sudah belajar untuk tidak terlalu optimis menghadapi hari, tapi hari itu saya cukup yakin semua agenda akan berjalan tanpa suatu kendala berarti. Optimisme yang sangat tidak pada tempatnya.

Selesai sholat subuh saya beranjak menyiapkan bekal anak-anak dan sarapan. Berkutat di dapur kemudian dilanjutkan mandi dan sarapan, saya baru lihat HP lagi sekitar pukul 06.15. 

Ada 3 notifikasi pesan: penjemput anak-anak tidak bisa menjemput karena asam lambungnya kumat, Bibi izin tidak masuk karena kemarin malam jatuh terpeleset, dan pengasuh anak-anak izin baru bisa datang jam 14 karena ada acara mendadak.

Memang feeling emak tak pernah salah. Alhamdulillah perkaranya ringan. Cuma harus berpikir ekstra.

Hari yang biasa pun dalam sekejap berubah jadi tak biasa.

Dengan absennya salah 3 pilar utama keseharian saya, artinya harus ada rutin yang saya sesuaikan supaya hari itu bisa tetap berjalan. Sebetulnya kalau sudah banyak kendala dari pagi, ingin rasanya hati berbohong bilang sakit dan tinggal di rumah saja. Lelah duluan.

Tapi selain takut dosa, saya juga takut jadi sakit beneran, jadi saya beranikan diri menghadapi hari itu dengan segala kerusuhannya.

Otak saya berputar cepat, menyusun prioritas, menimbang opsi, lalu mencari dan mengkalkulasi solusi. Nah loh, kata siapa emak-emak nggak bisa berpikir teknis?

Emak adalah engineer yang sesungguhnya. Berpikir analitis, memecahkan masalah secara kreatif, dan menaruh perhatian pada detail adalah karakteristik engineer yang secara otomatis sudah terpasang di kepala seorang Emak.

Tinggal bagaimana melatih dan menggunakannya.

Karena kondisi darurat hari itu bukan yang pertama kali terjadi, otak saya secara otomatis menyusun urutan masalah untuk diselesaikan. Seperti bertanding bulu tangkis dimana setiap smash lawan yang datang harus bisa saya kembalikan.

Mencari solusi untuk anak-anak adalah yang utama. Selanjutnya menemukan cara agar tetap bisa bertanggung jawab terhadap tugas kantor yang sudah disanggupi.

Tapi karena kondisi yang tidak ideal tentu saja harus ada kompromi. Terutama dengan diri sendiri. Menerima kalau ada hal-hal diluar dua urusan di atas yang harus menunggu atau mungkin tidak akan dikerjakan sama sekali.

Menemukan serta mengejawantahkan solusi untuk anak-anak dan urusan pekerjaan menghabiskan waktu 20 menit. Pergerakan jam tentu tidak menunggu. Terlambat sudah pasti terjadi. Tapi tentu tak bisa berlama-lama kecewa, karena ada perkara pelik lain yang menunggu: menyiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah.

Membangunkan dan menyuruh Mbarep untuk bersiap sekolah tidak begitu susah. Paling banter habis tiga rengekan dan dua ancaman. Sepuluh menit cukuplah untuk dia mandi dan bersiap. 

Tapi lain lubuk lain belalang, walaupun ini lubuknya sama tapi belalang bisa bermacam-macam.

Mengurus Ragil di pagi hari adalah cobaan yang sebenarnya. Seratus ancaman tak cukup untuk menaklukannya. Bahkan tak jarang malah saya yang jadi merengek dan dia yang mengancam.

Adalah suatu konsesus di kalangan ibu-ibu, dimana semakin ibu rungsing maka semakin ajaib pula tingkah anak-anak. Hari itu Ragil memutuskan bangun sebagai kucing. Kucing lucu yang perlu dibujuk untuk mandi dan bersiap.

Saya sudah pasang setelan Pangeran Diponegoro yang tegas memimpin perang, sementara Ragil menuntut saya bicara selembut permen kapas di setiap kesempatan. Kalau nggak dia akan mogok berkegiatan.

Semua perintah harus dimulai dengan kata kunci “Kucing lucu…” yang diucapkan secara perlahan dan selembut sutera. Seperti Puteri Salju bicara dengan teman-teman kurcacinya. Sungguh ujian kesabaran untuk saya yang pagi itu maunya ngegas saja.

Setelah berjibaku dengan Ragil, baterai semangat saya tinggal setengahnya. Berkali kali memaksa diri mengelola nafas supaya tetap tenang dan nggak muntab. Tutup mata kalau persiapan anak-anak hari itu tidak paripurna. Seperti rambut Ragil yang tidak tersisir dan kaos kaki mbarep yang tidak sama warna.

Alhamdulillah keduanya utuh sampai sekolah. Walaupun muka Ragil belepotan bekas air mata karena di mobil berantem sama kakaknya.

Gelut sih lebih tepatnya.

Untung sekolahnya dekat. Cuma 10 menit dari rumah. Kalau di seberang kota kayaknya saya sudah menyerah di jalan. Mending melipir makan seblak dan goyobod sambil bikin thread tentang pertempuran Pandawa dan Kurawa.

Berhasil ikut workshop dari awal saya anggap prestasi istimewa. Apalagi masih bisa absen di nomor 5 teratas. Untung saya tinggal di Indonesia dimana jam dinding di setiap ruangan menunjukkan waktu yang berbeda. Tidak ada yang tau waktu yang sebenarnya.

Di ruangan yang dipakai workshop jamnya 15 menit lebih lambat dari jam di HP saya. Bisa memang sengaja disetel telat atau malah mungkin HP saya yang terlalu future forward.

Tak taulah, yang penting saya tak terlambat.

Keikutsertaan saya di workshop sesi pagi berjalan lancar. Anak-anak juga sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan aman.

Baru mau menyelamati diri sendiri karena berhasil melewati setengah hari dengan selamat, ada telepon dari rumah. Mbarep dan Ragil minta makan ayam goreng tepung. Saking fokusnya cuma sama jemputan doang, Emak sampai lupa soal makan siang bocah.

Dengan penuh percaya diri pesan di aplikasi pesan antar online. Sudah ditambah catatan potongannya harus paha atas dan paha bawah. Karena itu bocah berdua cuma mau makan ayam kalau potongannya paha. Potongan lainnya pasti ditolak.

Semesta bicara, yang datang dada dan sayap.

Pesan lagi di cabang yang berbeda. Lagi-lagi dada dan sayap yang datang. Begitupun dengan pesanan berikutnya. Sudah pengen ngamuk pada dunia. Bocah bolak balik telepon karena lapar, dibujuk makan yg ada juga nggak mempan.

Sampai pesan 4 kali baru dapat potongan yang betul. Gara-gara itu di rumah jadi ada 12 potong dada dan sayap tak termakan. Bisa kalau berminat mendadak bikin Rabu berkah.

Urusan makan bocah ternyata menghabiskan waktu istirahat. Nggak bisa disambi, soalnya menu makan siangnya sambal lalap yang makannya harus pakai tangan. Belum rela HP bau sambal terasi, soalnya cicilannya belum dilunasi #lah. Alhasil pilih menyelesaikan urusan perut bocah dulu sebelum perut sendiri.

Waktu istirahat yang tersisa dipakai buat sholat. Mau makan sudah nggak sempat. Akhirnya cuma mengganjal perut dengan risol sisa snack pagi. Untung sarapan telur sampai 3 butir. Cukuplah buat energi sampai sore nanti.

Alhamdulillah setelah itu tak ada kejadian berarti sampai waktunya pulang ke rumah. Kecuali lapar akut sampai perut menggeram geram. Tau gitu dari pagi sekalian qodho puasa.

Malas balik ke kantor cuma buat makan, akhirnya mojok dulu di sudut gedung buat menyantap isi nasi kotak yang sudah dingin. 

Nikmatnya nggak ketulungan.

Nggak pakai merem melek sih, cuma kayaknya khusyuk banget sampai dilirik sama mahasiswa-mahasiswa yang lewat habis kelas.

Mohon maaf suka kurang kontrol memang.

Selesai makan langsung beranjak pulang. Di jalan ditelepon-telepon lagi sama bocil, katanya rumah mati lampu.

Alamak.

Cek WAG RT ternyata betul ada pohon tumbang kena gardu listrik dekat daerah rumah.

Mana sore itu jalan ke arah rumah merah membara, kombinasi hujan yang awet dan lampu lalu lintas yang entah kenapa nampaknya memihak satu jalur saja. Perjalanan 30 menit jadi molor 90 menit.

Sampai di rumah yang gelap gulita, akhirnya secara impulsif memutuskan buat bawa anak-anak ngungsi ke mall saja sampai Bapaknya datang.

Naik Taxi karena kaki sudah terasa bak jelly setelah dipakai menyetir menembus kemacetan.

Sepanjang perjalanan, jadi wasit perdebatan sengit “Mau makan apa di Mall?”, antara Mbarep dan Ragil. Kepala sudah mulai cekot - cekot, telinga pengang. Mumet rek

Kondisi akhirnya cukup tenang setelah sampai mall lalu Mbarep dan Ragil disumpal gadget di restoran yang saya pilih. Bodo amat sama screen time. Mamak lebih perlu kewarasan.

Suami menyusul ke mall. Kami langsung pulang begitu dia datang.

Sampai di rumah, lampu sudah menyala benderang. Kontras dengan kesabaran saya yang sudah hilang bagai tertelan lubang hitam. Apalagi liat tumpukan ayam di meja makan yang masih harus dibereskan.

Setelah menyuruh anak-anak bebersih dan tidur (dengan metode VOC), akhirnya giliran saya bisa bebersih dan menggeletak di kasur (nggak jadi beberes ayam). 

Tanpa tedeng aling-aling memutuskan untuk mengambil cuti keesokan hari dengan alasan lelah hayati.

***
Dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei degan Topik Hari Biasa yang Tak Biasa. 



5 comments:

  1. Gelut mbarep dan ragil bikin teh Restu jadi bisa nulis cerita ini hehehe... Seru ih...

    ReplyDelete
  2. Haha terdengar riweuh yaa. Mudah-mudahan Allah memudahkan hari-hari teteh selalu.

    ReplyDelete
  3. Betapa ibu itu harus memilih 1000 keputusan tiap hari..karena banyak kejadian tak terduga ya

    ReplyDelete
  4. Gedebak gedebuknya terasa sampai ke pembaca, Teh Restu. Salutt 👏🏻🥹 Salut karena besoknya langsung cuti, plot twist yang manusiawi bukan ala ala supermom meskipun ala supermom juga biasanya terpaksa keadaan sih ya :""")

    ReplyDelete
  5. Serunya... hari tak biasa yang ... ya sudahlah. Kebayang lho waktu Ragil lagi pengen jadi kucing lucu, Teh Restu pasang setelan mode kucing garong. Halah... batal sekolah kayaknya. 😅🤣

    ReplyDelete