Wednesday, March 20, 2024

Antara Krisis Nasi dan Isi Piringku

Sebuah analisis suka-suka berbasis cocokologi.

Sego is Lyfe

Pasti banyak yang mengamini, kalau dalam hidupnya kebanyakan orang Indonesia tidak bisa dipisahkan oleh nasi. Bahkan ketika makan karbohidrat lainnya, tetap saja ada nasi yang setia menemani. Nasi berlauk mie goreng, perkedel kentang, bakwan jagung, siomay, dan lain-lain. Karbohidrat kuadrat bahkan pangkat tiga. Nasi is in our blood.

Standar sarapan anak-anak tahun 90-an (atau saya saja ya?). Pantesan dulu jam 9 pagi sudah nguap-nguap di kelas. Kebanyakan karbohidrat.
(Sumber Gambar Nasi Lauk Mie)

Konon nasi sudah lama menjadi bagian sejarah makanan di Indonesia. Bahkan situs purbakala Minanga Sipakko di Pulau Sulawesi menjadi saksi bahwa semenjak 3500 tahun SM pertanian padi sudah ada di bumi nusantara. Akan tetapi, walaupun jejaknya ada sejak zaman purbakala, makanan utama orang indonesia pada zaman kerajaan ternyata bukanlah nasi, melainkan tepung sagu. Setelah hindu masuk ke nusantara, barulah nasi menjadi populer, terutama di daerah Sumatera dan Jawa karena diperkenalkan oleh pedagang dari India. 

Sebetulnya sampai sekarang, di Indonesia timur sagu masih menjadi salah satu makanan pokok, tapi jumlah konsumsinya juga terus menurun. (Sumber Gambar Pepeda)

Tepung Sagu sering digunakan sebagai pengganti tepung aci. Jadi kesukaan kita pada cireng, pempek, bakso dan segala hal yang kenyal-kenyal ini ternyata bawaan nenek moyang! Embrace it folks! (Sumber Gambar Cireng)

Dari sisi kepraktisan, sagu memang lebih mudah tersedia daripada nasi. Pohon sagu sendiri tumbuh dengan mudah di iklim tropis. Tinggal ditebang dan diolah. Sementara nasi memerlukan proses yang jauh lebih panjang. Itupun kemampuan adaptasinya sangat rendah. Hanya saja tekstur dan rasa nasi yang netral memang lebih cocok dimakan oleh apapun, dibandingkan dengan tepung sagu yang lembek dan kenyal. Mungkin itu sebabnya, ketika mulai dikenal, posisi nasi dengan mudah menggeser sagu sebagai makanan pokok. 

Bangsa "Budak" Nasi

Mari kita salahkan pemerintah orde baru. Dimana ambisinya untuk mendapatkan predikat swa sembada pangan diraih dengan “memaksa” seluruh rakyat Indonesia mengkonsumsi nasi putih. Subsidi beras murah diberikan dari sabang sampai merauke. Insentif pertanian terbesar diberikan untuk masyarakat yang bersedia menjadi petani padi. Alhasil puluhan tahun setelahnya bangsa Indonesia menjadi “budak nasi”. 

Tak ada nasi, rungsing. Harga beras naik pusing. 

Tipikal makanan orang Indonesia, 7/8 nya karbohidrat. Asal kenyang!
(Sumber Gambar Ramesan)

Predikat negara agraris dan swa sembada pangan sebetulnya sudah sejak lama tidak layak disandang oleh Indonesia. Sudah kalah dengan negara penghasil beras lainnya. Teknologi yang tertinggal dan manajemen yang buruk menjadi biang keroknya. Beras impor merajalela dengan harga murah, mencekik leher para petani lokal yang tidak punya kemampuan produksi yang sebanding. Tak heran jika para petani memilih untuk menjual sawah-sawah mereka. Lahan pertanian tersebut, sekarang banyak digantikan oleh bangunan-bangunan beton. 

Sudah jadi pemandangan jamak sawah di tengah bangunan pabrik. Mungkin sudah saatnya pengelolaan pertanian berubah model menjadi korporasi. Tapi ini argumen di tulisan lainnya.
(Sumber Gambar Sawah)

Mungkin memang saatnya bangsa ini mengurangi ketergantungan pada nasi. Selain karena harganya semakin mahal, karena suplai terus berkurang dengan kualitas yang menurun, dari sisi kesehatan nasi juga merupakan jenis karbohidrat yang kurang baik bagi tubuh. Indeks glikemik yang tinggi memicu kenaikan gula darah secara drastis (penyebab diabetes). Selain itu rasa kenyang yang ditimbulkan dari mengkonsumsi nasi juga hanya sebentar dibandingkan karbohidrat lain. Makanya setelah makan nasi, setengah jam kemudian kita masih cari seblak.

Mengurangi Nasi, Menyukseskan Program Isi Piringku

Sesuai arahan UNICEF, konsep “Isi Piringku” diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2018 untuk menggantikan konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Perbedaan mendasar dari kedua konsep ini ada pada proporsi makanan yang dikonsumsi. Di 4 sehat 5 sempurna yang penting adalah kelengkapannya. Sementara di Isi piringku selain lengkap juga harus seimbang porsinya. 

Berdasarkan prinsip Isi Piringku, asupan makanan kita harus dibagi menjadi : 1/3 karbohidrat (sumber energi), 1/3 protein (nabati maupun hewani), dan 1/3 sayur dan buah (sumber serat, vitamin, dan mineral), dan . Konsep isi piringku utamanya dijadikan ujung tombak dalam melawan stunting: kasus kekurangan gizi pada anak-anak Indonesia. 

Untuk orang yang tidak punya masalah kekurangan gizi, mengikuti prinsip isi piringku sesungguhnya bermanfaat untuk metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh sendiri adalah hal mendasar dari kesehatan manusia. Hal ini yang seringkali tidak disadari oleh orang, apalagi jika tidak punya masalah kelebihan berat badan. Berbagai hasil penelitian menyimpulkan kalau mengatur asupan makro dan mikro nutrien serta serat berpengaruh pada kemampuan tubuh untuk bekerja dengan baik.

Bukan tanpa sebab orang Jepang berumur panjang. Makanan yang mereka konsumsi seimbang dari sisi gizi. You are what you eat memang benar adanya. (Sumber Gambar Tipikal Makanan Orang Jepang

Prinsip Sehat yang Tidak Mudah

Masalahnya, mengikuti prinsip Isi Piringku bukanlah hal yang mudah. Setelah bertahun-tahun terbiasa makan dengan segunung nasi, kok ya rasanya ada yang kurang melihat nasi yang hanya secimit. Ketakutan akan rasa lapar terus menghantui, membuat banyak orang menyerah dan kembali memenuhi piring dengan nasi. Padahal jika diikuti dengan benar, makan sesuai isi piringku menjamin orang untuk kenyang lebih lama, karena badannya terpuaskan kebutuhannya. 

Godaan nasi memang dahsyat.

Tahun 2023 dalam usaha saya untuk hidup lebih sehat, saya sedikit banyak menerapkan prinsip isi piringku. Makan nasi lebih sedikit dan sayur buah lebih banyak. Tidak ketinggalan sumber protein dalam bentuk utuh dan bukan karbohidrat menyamar sebagai lauk bak udang dibalik bakwan. Walaupun tidak selalu khusyuk menjalankannya, karena masih sering tergoda yang tidak-tidak, ini beberapa prinsip yang saya pegang supaya Isi Piringku jadi lebih doable:
  1. Membiasakan diri menjadikan sayur sebagai makanan pokok sementara nasi sebagai pelengkap. Saya pakai centong nasi untuk menyendok sayur dan pakai sendok makan untuk mengambil nasi.
  2. Memilih sayur dengan kandungan serat tinggi seperti brokoli, terong, wortel, selada, bayam. Serat bikin kenyang lebih lama. 
  3. Memilih makanan dalam bentuk aslinya. Walaupun terdengar snobbish, tapi makanan dalam bentuk asli memang lebih mudah dihitung komposisinya daripada makanan yang sudah diolah sedemikian rupa. Coba deh hitung komposisi protein, karbo, dan sayur di sekantong lumpia basah. Pasti pusing kan?
  4. Fokus pada after effect. Di usia saya yang hampir kepala empat ini, saya menyadari makan nasi banyak-banyak menyebabkan ngantuk dan setelahnya craving  makanan manis. Sebaliknya makan lebih banyak sayur membuat badan lebih enteng dan mood lebih baik.
  5. Tidak terlalu memusingkan cara masak. Paling penting adalah komposisi. Lama-lama sadar sendiri. 
  6. Telen saja. Tidak usah dirasa-rasa. Sudah bukan waktunya hidup untuk makan. Umur segini sudah waktunya makan yang baik untuk hidup sehat sampai lama.
Kalau sedang berniat, begini isi piring saya. Setengahnya sayur, seperempat protein, seperempat nasi. Sambal dianggap sayur lah ya. Untuk mempermudah, saya pakai piring bersekat. Kalau makan diluar atau ke undangan saya juga tetap mengusahakan isi piringku. Sekali lagi kalau sedang niat. Tapi lama-lama, walaupun menjalankannya on off, diri ini secara otomatis mengambil lebih banyak sayur daripada nasi. (Sumber Dokumentasi Pribadi)


Demikian sepenggal kisah antara krisis nasi dan isi piringku. Semoga bisa diambil hikmahnya. Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Maret dengan Tema Cerita Kuliner.



10 comments:

  1. Isi piringku ini memang jalan ninja buat semangat lebih banyak makan sayur dan buah. Secara aku ini anomali, gak terlalu suka nasi. Jadi dari jaman kecil nasi pasti seemprit doang. Lauk dan sayur lebih banyak. Bahkan waktu kuliah, ada temanku bingung karena aku di kantin Salman cuma makan ayam dan sayuran aja gak pake nasi.

    Salam sehat teh Restu.

    ReplyDelete
  2. Wah nasi seiprit...baru kami jalani setahun belakangan. Gara-gara aku ada masalah lutut, kata dokter turunkan berat badan. Caranya intermittent fasting dan stop makan nasi. Yawda, makan pecel deh...Emang bener sih, kurangi nasi, badan lebih seger.
    Tapi paling sulit tuh stop ngemil euy. Jadi aja, BB engga turun-turun...hiks...

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Aku tu susahnya di belum tega liat nasi dan lauk yang tinggal seiprit bersisa. Padahal seiprit demi seiprit kan lama2 jadi banyak juga ya!? 🫣 Yuk, ah, semangat demi kesehatan jangka panjang! 🤗

    ReplyDelete
  5. Semakin berumur semakin sadar kesehatan ya. Jenis dan porsi set makan org Jepang itu juga yg diterapkan di makan siang mereka.
    Mengetahui bgmn sistem pertanian padi kita kok hopeless ya teh.. kayak ga disuport sama negara #eh

    ReplyDelete
  6. Salut sama konsistensi dan niat Restu untuk memanage isi piringnya. Pantesan mukanya glowing ceunah 😍👍

    ReplyDelete
  7. Niat makan dan pola hidup lebih sehat ini beneran ya ternyata, butuh teman dan circle yang sama frekuensinya ya ternyata. Semangat sehat, Teh Restu.

    ReplyDelete
  8. Memang perlu tekad yang kuat untuk mengubah pola makan. Semangat…. (Sari Rochmawati)

    ReplyDelete
  9. Wah sama, aku juga menerapkan Isi Piringku sebagai turunan dari Pedoman Gizi Seimbang Kemenkes yang diadopsi dari WHO. Memang harus dibiasakan dan disosialisasikan ini. Teruslah mengedukasi Teh.

    ReplyDelete
  10. wah lengkap banget pembahasannya Teh. Aku juga mirip kaya Teh Restu, fokus ngurangin nasi dan banyakin sayur, walaupun belum seniat Teteh sih pake piring yg dipartisi. Kalau aku ngakalinnya makan pakai piring kecil (yang biasa bonus deterjen >.<) dan ambil nasi seukuran kepalan tangan.

    ReplyDelete