Catatan Jadi Orang Tua : Setahun Pandemi

Tak terasa sudah 1 tahun pandemi berlangsung di Indonesia. Tak terasa sebetulnya bukan ungkapan yang tepat sih. Overwhelming sampai hanya bisa pasrah sepertinya lebih tepat. Apa ya padanannya yang enak dalam bahasa Indonesia? 😅

Seperti jutaan atau bahkan milyaran orang lainnya di bumi, hidup saya berubah karena pandemi. Saya masih beruntung, karena punya privilege untuk hidup cukup normal ditengah ketidak normalan ini. Saya dan suami punya pekerjaan yang stabil dan sangat mungkin dikerjakan dari rumah. Kami mendapatkan pengasuh pengasuh terpercaya untuk menjaga anak anak kami selama kami bekerja. Anak anak kami belum ada yang masuk usia sekolah sehingga saya tidak perlu pusing urusan PJJ. Kami masih tinggal di rumah mertua yang luas dan ada di daerah yang tidak padat sehingga cukup aman. Setahun pandemi, kondisi kami bisa dibilang sudah cukup nyaman. Senyaman yang dimungkinkan dengan segala keterbatasan.

Menilik kembali masa masa awal pandemi, saya masih ingat betapa stresnya saya. Anak anak saya biasa di daycare sementara saya dan suami bekerja fullday. Di daycare hidup anak anak teratur. Ada guru yang menyediakan kegiatan setiap pagi. Ada pengasuh yang sanggup menemani sepanjang hari. Ada teman-teman sebaya yang bisa diajak bersosialisasi. Bermain, ngobrol, berantem, rebutan. Sementara saya bisa fokus bekerja. Sekali sekali pergi makan siang berdua dengan suami. Tenang tenang tanpa dirusuhi bocah. Kebetulan tempat kerja kami sama. I was happy. My kids were happy

Saat pandemi, daycare terpaksa tutup. Tutup mendadak. Anak sulung saya yang biasa punya kegiatan dan teman-teman setiap hari, tetiba jadi terjebak 24 jam hanya dengan Bapak Ibunya yang juga rusuh karena harus membagi fokus antara pekerjaan dan anak-anak. Dia jadi sering disuruh menunggu karena kami pikir pekerjaan harus diselesaikan secepatnya, agar tenang menemaninya bermain. Tapi gara gara ini, si sulung jadi sempat punya masalah perilaku. Lebih sering tantrum. Susah tidur siang dan malam. Jadi sangat manja, padahal sebelumnya mandiri. Sangat sering melawan. 

Adiknya, si bungsu, awal pandemi masih berusia 4 bulan. Masih sering tidur lama. Masih bisa digendong-gendong sambil saya nyambi mengerjakan apa-apa. Belum punya keinginan aneh aneh selain kebutuhan dasar. Tapi makin lama si bungsu juga semakin besar. Semakin ada maunya dan makin berkurang jam tidurnya. Semakin susah curi-curi waktu mengerjakan hal lain.

Bulan-bulan pertama pandemi adalah saat yang paling melelahkan untuk fisik dan mental saya. Apalagi saat masuk bulan Ramadan. Setiap malam menghabiskan waktu mendebat dan membujuk si sulung yang tidak mau tidur sampai mendekati tengah malam. Setelahnya mencoba mengerjakan urusan pekerjaan yang tidak terkerjakan saat siang. Tidur dua tiga jam, jam setengah empat harus bangun lagi untuk sahur. Si bungsu selalu ikutan bangun karena cuma bisa tidur dekat ketek emaknya. Setelahnya tentu anaknya on sampai pukul 07.00. Dimana kemudian si sulung bangun dan gantian harus ditemani dan diladeni. Siang hari, si sulung selalu menolak tidur siang padahal sebetulnya sudah kelelahan. Alhasil dia selalu jadi  super duper rewel di penghujung hari, yang tentu saja membuatnya jadi lebih whinny dan demanding. Boro boro memperbanyak ibadah dan amalan, Ramadan tahun lalu amalan saya yang makin banyak hanya istigfar dan menyebut Allah Akbar. Lainnya bubar 🙈

Awal pandemi, pekerjaan kantor saya terpaksa harus agak dikesampingkan. Kerja cuma bisa mulai pukul 10.00 setelah terlebih dahulu memastikan, istilah parenting kekiniannya, anak besar sudah terisi gelas kasih sayangnya. Main sepeda keliling kompleks. Berenang di kolam karet. Main bola. Jalan jalan. Apapun yang bisa menyalurkan energi si bocah kami kerjakan, dengan harapan setelahnya dia bisa sedikit capek tenang dan ibunya bisa bekerja. Strategi ini tentu saja hanya bertahan maksimal satu jam, karena si sulung tetap bolak balik minta ditemani main ayah ibunya. Strategi menghabiskan energi agar tenang ternyata lebih berpengaruh pada saya, yang jam 1 siang biasanya sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa terdiam, sementara si bocah masih terus lompat kesana kesini bagai energizer bunny baru ganti baterai. 

Suami sudah berusaha membantu semaksimal mungkin. Kami gantian menjaga anak-anak, tergantung siapa yang tidak lebih urgent urusan kerjanya. Tapi tetap anak-anak kan pasti lebih pilih ibunya. Plus pekerjaan suami, walaupun cukup flexible, tapi lebih tidak bisa ditinggal atau ditunda-tunda. Akhirnya lebih banyak saya yang mengalah curi-curi waktu kerja. Daripada pekerjaan kami  sama - sama jadi kacau 😅

Sementara situasi anak anak belum kondusif, pekerjaan saya dan suami tetap tidak berkurang. Mana awal pandemi entah kenapa waktu kerja jadi 24 jam. Jam kerja sudah jadi blur. Alasan tidak bisa bekerja karena harus ngurusin anak juga tidak bisa digunakan terus-terusan. Karena semua orang juga kerepotan dan pekerjaan kami, yang berhubungan dengan pendidikan, ya tetap harus jalan. The show must go on

Puncaknya beberapa hari menjelang Lebaran saya jatuh sakit. Padahal cuma di rumah ya 😅 Setelah Lebaran akhirnya memutuskan harus pakai bala bantuan, karena situasinya sudah sangat tidak sehat. Anak - anak, terutama si sulung, jadi kurang perhatian, sampai saya takut berpengaruh pada perkembangan mentalnya (kebanyakan ngeliatin quote Bu Elly Risman), saya super tidak tenang yang berakibat bayi juga tidak tenang, suami juga super bingung melihat kami semua miserable 😂

Alhamdulillah kami bisa menemukan orang-orang yang bersedia bekerja membantu kami menjaga anak-anak. Bentuk rejeki tersendiri di tengah pandemi 😅 setelah ada yang siaga menemani, anak anak saya, terutama si sulung perlahan kembali menjadi diri mereka sendiri. Ceria, baik hati, mandiri. Overall lebih happy. Saya juga jadi lebih bisa fokus dalam bekerja. Walaupun harus membatasi sendiri jam kerja dengan strict. Saya sampaikan ke semua pihak kalau saya hanya bekerja pukul 08.30 - 12.00 lanjut 13.00 - 16.00. Selebihnya saya dengan anak-anak, sementara suami seringkali masih harus rapat sampai malam 😅

Tentu saja setelah permasalahan anak-anak dan pekerjaan terselesaikan dengan bantuan, bukan berarti hidup langsung bisa berjalan mulus tanpa masalah. Drama-drama tetap ada. Namanya juga kehidupan. Tapi setelah pandemi berjalan 6 bulan kami sudah jadi terbiasa dengan kondisi yang berbeda. Memang manusia adalah makhluk yang bisa cepat beradaptasi dan kami termasuk yang beruntung karena punya kemudahan.

Pandemi ini memang berbeda beda hikmahnya bagi masing-masing orang. Bagi saya hikmah pandemi ini membuat saya jadi mensyukuri hal-hal kecil yang dulu tidak berarti tapi sekarang jadi sangat berarti. Seperti menggeletak di kasur setelah berhasil menidurkan anak-anak 😂 menggeletak saja dalam hening sampai bisa mendengar pikiran sendiri. Ibu-ibu pasti bisa relate dengan hal ini 🤣 atau bisa punya me time yang sekarang jadi semakin langka kesempatannya.  Kalaupun bisa bebas sekejap dari anak - anak, juga tidak bisa kemana mana. Paling di rumah -rumah juga 😅 

Hikmah yang lain adalah saya jadi tau kenapa dulu saya punya anaknya lama. Soalnya kalau punya anak langsung setelah menikah, anak saya bakalan sudah usia SD sekarang. Cuma ngurusin anak lari lari saja saya sudah mau berubah jadi mamonster, apalagi ngurus anak PJJ. Bisa jadi mamzilla beneran. Godzilla juga monster ya padahal 😅 #dibahas

Hikmah ketiga adalah belajar lebih pintar memilih prioritas dalam mengasuh anak. Anak susah makan? let it go. Kalau lapar nanti minta sendiri. Anak jadi banyak makan ciki? let it go. Bapaknya juga waktu kecil makannya nasi sama Taro. Alhamdulillah sehat sampai sekarang. Anak makin banyak screen time? let it go. Asal masih dalam batas kewajaran anaknya nggak akan kecanduan. Anak nggak mau mandi? let it go. Ibunya juga males mandi #Lho. Anak sering rewel karena bosan? let it go. Asal bukan pembiaran, belajar bosan itu diperlukan. Sekarang yang penting, terutama untuk ibu - ibu adalah jangan lupa untuk bahagia. Karena ibu adalah matahari dalam keluarga. Jika tertutup mendung maka suasana keluarga juga akan kelabu. Let it go. Tidak ideal dan sempurna tidak apa-apa. Karena hidup ideal hanya milik Andien semata. Dan Shandy Aulia 💪

Anyway untuk semua orang tua diluar sana yang sama sama berjuang dalam cobaan global ini, semoga pandemi cepat berlalu dan kita semua serta orang-orang di sekeliling kita  selalu sehat yaa. Amiinn. 

8 comments

  1. Aku sangat sangat suka tulisan ini :) jadi teringat setahun lalu jg kelimpungan ngurus bengkel furniture. dari biasanya ke lokasi jadi apa2 video call. Screen fatigue + kuota internet jebol 🤣 syukurlah udah bisa lebih adaptasi ya

    ReplyDelete
  2. Gak kerasa (kerasa sih, tapi mau diapain? heehe) udah setahun setengah ya teh.. pandemi nya bukan di indonesia aja kok, di sini juga hihihi.. tetap semangat teh semoga badai ini cepat berlalu dan kita bisa balik ke old normal lagi.

    ReplyDelete
  3. hahaha kenapa andien dan shandy aulia ? iya manusia mahluk yg bisa beradaptasi termasuk anak2. manusia juga mahluk yg punya habit. kebayang pasca pandemi harus melatih diri lagi buat anter anak ke sana kemari. memikirkan nya aja udah lelah #loh

    tapi memang yg penting jangan lupa bahagia, karena kita matahari keluarga #silau man hehhee

    ReplyDelete
  4. Ahh so relatable!
    Sebagai stay at home mom yang juga menjalankan bisnis dari rumah aku bisa banget merasakan apa yang teteh rasakan... Dan jadwal adalah kuncinya memang. Kalo gak gitu aduh berantakan rasanya semua, malah stress

    Apalagi harus ada Me-Time. Buatku, me time aku ya ngeblog gini di pagi hari atau urusin bisnis. Setelahnya jadi lebih siap mengurusi keperluan seluruh keluarga. Semangat selalu teh, semoga kita jadi manusia yang lebih resilient dengan adanya pandemi ini. Stay safe ya teh

    ReplyDelete
  5. Sudah setahun ya :" Memang menjaga kewarasan ibu itu wajib banget ya teh. Saya juga lebih memilih tetap memperkerjakan pengasuh+ART di masa pendemi biar saya bisa fokus kerja dan anak-anak ada yang ngajak main. Kalau gak ada yang bantu nyerah dehh hehhe. Stay safe ya tehh :)

    ReplyDelete
  6. Masya Allah, alhamdulillah, saya ikut senang mengetahui Restu, suami, dan kedua anak-anak mampu beradaptasi dengan kondisi yang perubahannya drastis. Walaupun, sudah pasti melalui proses yang berat ya, akhirnya sudah menemukan ritme yang klik di situasi di mana Restu dan suami keduanya bekerja, anak pertama di usia toddler yang sedang aktif-aktifnya, dan anak kedua yang syukurlah waktu itu masiy babyborn, jadi masiy bisa 'di-handle' dengan mudah. ketika rewel, tinggal digendong dan disusui. (aduhh saya menuliskannya seolah ini hal yang mudah, padahal tidak semudah yang terlihat ya tentunya, ehehe, ngopeni bayi pun juga cukup handfull).

    Dan, saya sependapat dengan statements Restu di bagian HIKMAH KETIGA, yang bagian: anak susah makan; anak makan ciki; anak malas mandi; dan anak terekspos screen time. Dengan bereaksi 'let it go' terhadap masalah=masalah tersebut. Yang penting selama tidak dalam kadar berlebihan, 'let it go' adalah senjata yang membuat seorang Ibu tidak stress.

    Aamiin aamiin ya Rabb, semoga kita semua sehat walafiat dan diberi kekuatan dan kemampuan dalam menghadapi pandemi ini. :)

    ReplyDelete
  7. Kebayang rempongnya teh. Yg saya rasakan setelah kerja di rumah itu, kita kudu fleksibel. Ga bs dikakuin kaya jadwal. Namanya sikon anak ga bs ditebak. Krn aku kerja lepas jd bisa gitu.

    Btw imej Andien emg sempurna sbg ibu ya. Suatu saat aku pernah iseng nonton IG live nya, kira2 setengah acara ga konsen dia krn anaknya gelayutan caper (ya jadi sama ajalah ma kita)

    ReplyDelete
  8. kok Nia Ramadhani ga masuk list Teh, karena ga bisa ngupas salak ya hehe

    Setuju banget dengan hikmah pandemi yang berbeda untuk setiap orang, pasti tantangan semua orang berbeda, termasuk cara menyikapinya

    Anak saya udah SMP jadi urusan online school ga masalah, udah independent banget, alhamdulillah.

    Saya tapi banyak stress karena urusan kerjaan yang ga selesai-selesai haha, udah ga ada jam kerja, atau hari bekerja, dan kebetulan sedang berada di posisi ga bisa menolak disuruh kerja :(

    Semoga pandemi cepat berlalu, kita diberi kekuatan dan kemudahan selalu

    ReplyDelete