Wednesday, February 24, 2021

Tentang Si Api Merah

Namanya sudah dipikirkan ayahnya bahkan sebelum saya mengandungnya. Api Merah. Supaya jadi anak yang bersemangat. Memberikan kehangatan. Menjadi Penerang. Mungkin nanti bisa jadi bos perusahaan listrik ya dek. Atau ceo produsen bohlam #lho

Kehamilan kedua kemarin berbeda 180 derajat dengan kehamilan pertama saya. Yang kedua kemarin alhamdulillah stress free worry free. Untung belum pandemi. Masih bisa kesana sini. Saking worry free nya berat janin di usia kehamilan 39 weeks sempat diprediksi sudah mencapai 4.3 Kg 🙈 gara gara ibunya tiap hari minum cadburry campur susu + makan siang di cafe 2 hari sekali. Ibunya oh jangan ditanya. Naik 26 kg 🙈

Si bocah juga aktif banget di perut. Tendang sini tendang sana. Jadi less stresfull buat ibunya. Cuma pas sudah masuk week 38 sudah nggak kuat banget saya karena kepanasan luar biasa. Tubuh juga beratnya minta ampun. Makanya waktu disuruh pulang lagi saat kontrol seminggu sebelum due date karena sudah mulai ada kontraksi, sesungguhnya pengen nangis, karena harapannya bayinya bisa dilahirkan saat itu saja via c-section 🙈 iya iya maap. Saya  bukan pejuang vbac. Bukan cari gampang, tapi ingat lahiran anak pertama, pengen yang terprediksi saja. Mohon yang baca jangan bully saya yes. Bayar operasinya kan juga nggak minta siapa siapa ya kecuali pelaku utama kehamilan saya...jadi komentar soal normal vs cesar mohon maaf tidak diterima 🙈 pulang dari dokter waktu itu lanjut makan Sushi-Tei dan nonton Joker. Karena saya pengen ngadem di mall. Si jabang bayi sepertinya tau ibunya setres. Atau dia kaget nonton Joker. Karena disturbing. Apapun itu dia sempet berhenti gerak di perut selama 8 jam. Akhirnya pergi ke UGD jam 10 malam. Dikasih oksigen baru deh mau gerak lagi. Ya Allah serem banget. Akhirnya diputuskan C-Section keesokan harinya jam 12 siang. 

Berbekal pengalaman melahirkan yang lalu, sekarang sudah lebih siap. 

Tas melahirkan sudah siap. Isinya yang penting penting saja. Sudah dipisah pisah per barang biar yang ngambil nggak kerepotan. Sebelum operasi mandi dulu yang bersih, sempet keramas juga. Penting banget ini mengingat lahiran yang pertama 5 hari baru bisa keramas karena drama induksi. Rambut sudah sampai mirip anak gimbal Dieng atau rasta Jamaica. Karena sudah siap lahir batin, proses operasinya juga santai banget. Waktu didorong ke kamar operasi malah sempet ngobrolin KPR sama petugas anestesi. Sepanjang operasi baik dokter maupun staf lain yang terlibat malah ngomongin hasil lomba paduan suara yang penuh kontroversi. Ya ampun 😅 sejam setelah masuk ruang operasi lahirlah anak perempuan kami. Alhamdulillah 3.98 kg saja beratnya. Bukan 4.3 seperti perkiraan.  

Setelah lahir, sudah bersiap anaknya bakal kuning. Sudah sedia pompa asi dan susu formula 🙈 iya iya maap. Saya bukan pejuang asi eksklusif. Bukan cari gampang. Tapi mengingat lahiran anak pertama yang drama Asi, saya milih rute stress free deh. Mohon yang baca jangan bully saya yes. Beli susu formulanya kan nggak minta siapa siapa kecuali orang yang harus paling tanggung jawab sama kehidupan bayi ini. Jadi mohon maaf komentar tentang Asi vs Formula tidak diterima ya 🙈 Karena nggak setres, asi saya melimpah dari perahan pertama 😅 akhirnya cuma sekali si bayi dikasih formula. Selanjutnya Asi terus. Alhamdulillah. 

Sekarang si bayi sudah berumur hampir 1.5 tahun. Waktu bayi anteng banget. Nggak repot ngurusnya. Digeletakin juga tidur berjam jam. Sekarang sudah besar cerewetnya minta ampun. Banyak tingkah juga. Alhamdulillah sehat. 

Layaknya kebanyakan anak kedua lainnya nasibnya hampir sama. Minim difoto dan divideoin 🙈 karena selain ngejar ngejar dia ibu dan bapaknya juga harus ngejar ngejar masnya. Mana sempat pegang kamera. Selain minim diabadikan dalam bentuk digital, minim juga dicek pencapaian milestonenya. Dibiarkan saja berkembang sesuai usia. Sudah belajar dari pengalaman kalau bayi memang tidak bisa dipaksa. Hanya berat dan tingginya saja yang masih terus dipantau. Sempat ada masalah. Tapi itu lain cerita. 

Dari sisi kelakuan, si nona cilik sesuai sekali dengan statusnya sebagai adek. Hobinya ngikutin dan gangguin masnya. Padahal anak cewek. Tapi kalau rebutan atau berantem sama masnya berani banget 😅 seperti masnya si adek juga teguh pendirian menjurus keras kepala. Kata ayahnya kayak ibunya. Kalau ada hal yang nggak sesuai keinginannya tangisannya bisa terdengar sampai ujung gang. Sudah kayak diapain aja 😅

Cuma satu masalah si adek. Karena bayi pandemi jadi nggak biasa rame rame. Nggak pernah ketemu orang juga. Sekali diajak ke tempat agak banyak orang, langsung jadi tegang. Badannya kaku. Muka waspada. Salah dikit angin bertiup pecahlah tangisnya. Padahal di tempat itu paling cuma ada 10 orang. Itu juga jauh jauhan. Ya sudahlah nasibnya memang tumbuh besar ketika dunia dalam isolasi. Semoga selalu sehat dan bahagia ya api merah kesayangan ayah ibu 😘


No comments:

Post a Comment