Langit Biru : Episode ASI

Untuk kelahiran si bayi saya tidak punya ekspektasi muluk muluk. Waktu lima tahun untuk menunggu kedatangannya membuat saya pasrah. Asal anaknya lahir dengan sehat dan selamat saya sudah sangat bersyukur. Mau normal atau cesar, mau asi atau formula saya serahkan semuanya pada kehendak Tuhan. 

Karena saya tidak punya ekspektasi muluk muluk itulah ketika diputuskan untuk menjalani operasi cesar saya tenang tenang saja. Asal si bayi selamat terserah deh saya mau diapain juga. Begitupun perkara asi. Saya santai santai saja. Hampir dibilang saya rabun perkara asi. Buta sih enggak ya karena saya juga ada baca baca sedikit. Tapi tetap saja sedikit clueless. Alhamdulillah ternyata RS. Advent, tempat saya melahirkan, walaupun bukan rumah sakit khusus ibu dan anak, punya kepedulian tinggi perihal pemberian asi eksklusif. Rejeki si bayi banget itu sih 😅

Berawal dari waktu saya rehat dari induksi pertama yang gagal dimana perawat datang kemudian mengompres dan memijat payudara saya yang katanya masih sangat keras dan belum ideal untuk menyusui, walaupun kolostrum sudah mulai sedikit keluar. Ngomong ngomong pijat payudara ini sakit banget deh 😓

Karena saya tidak merasakan sakit melahirkan, kecuali sakit setelah operasi yang menurut saya juga nggak sakit sakit amat, maka dalam proses kelahiran yang saya jalani kemarin tindakan paling menyakitkan adalah cek bukaan dan pijat payudara 😅

Sesi perawatan payudara ini berkisar selama satu jam dimana saya juga diajari teknik-teknik memijat untuk melancarkan jalur jalur asi yang rentan tersumbat.

Sebelum dioperasi adik saya mewanti wanti agar saya meminta sesi inisiasi menyusu dini dengan bayi saya yang baru lahir. Karena saya kurang wawasan saya tidak menganggap imd ini penting penting amat, jadi saya diam saja. Setelah bayi dikeluarkan dari perut, dari sudut mata, saya melihat dia dipotong tali pusarnya dan dibersihkan. Saya pikir dia akan langsung dibawa ke kamar perawatan bayi dan saya tidak punya masalah juga dengan hal tersebut. Ternyata bayi yang baru dibersihkan sedikit itu dibawa oleh perawat dan diletakkan di dada saya. Secuek cueknya saya, mau tak mau keluar juga tuh air mata, melihat si bayi yang selama 9 bulan ada di perut saya sekarang nyata ada di hadapan. Dengan semangat mencari cari puting susu dengan mata yang masih tertutup. Ketika dapat puting susunya secara insting dia menghisap. Kuat lagi hisapannya. Saya tertawa tawa sendiri melihat hal tersebut. Sudah kayak orang gila deh.

Sesi imd yang mengharu biru itu #halah berlangsung sekitar 45 menit. Baru saya tahu kemudian, saya cukup beruntung sempat mengalami imd yang proper, karena tidak semua ibu mengalami hal tersebut.

Setelahnya perjuangan untuk memberikan asi pada si bayi dimulai. Perjuangan yang rada mendadak sih mengingat ya itu tadi saya tidak punya ekspektasi apa apa perkara asi 😅

Malam hari setelah operasi dan saya sudah boleh bergerak sedikit, bayi diantar ke kamar saya. Oleh suster saya langsung disuruh menyusui. Sekali dua kali mencoba eh kok saya malah jadi penasaran. Lucu aja gitu lihat anak baru mbrojol sambil merem merem berusaha menyusu. Walaupun baru lahir ternyata sedotan bayi lumayan kencang loh. Insting untuk bertahan hidup paling utama memang. Si bayi juga alhamdulillah dari awal pintar pelekatannya (latch on) jadi saya tidak pernah merasa sakit selama menyusui. Yah sakit sedikit sih ada ya tapi tidak sampai banget banget. Mungkin karena waktu di induksi, saya dua hari semalam memandangi poster tentang pelekatan yang ditempel di sebelah tempat tidur kamar bersalin, jadi dia juga ikut belajar 😅

Air susu saya sepertinya cukup untuk memenuhi kebutuhan si bayi. Dari awal, milestone perkara asinya tercapai. Buang air secara teratur baik kecil dan besar, serta bisa melepaskan diri sendiri dari puting dan terlihat kenyang. Plus payudara saya jadi terasa lembut setelah disedot isinya. Enak sekali rasanya apalagi hari hari awal dimana payudara masih mengeras (engorged) untuk menyesuaikan produksi asi 😅

Masalah muncul ketika bilirubin si bayi tinggi dan dia harus menjalani fototerapi. Dimana saya jadi tidak bisa menyusuinya secara langsung. Tidak bisa menyusui langsung saat fototerapi adalah salah satu kekurangan di RS Advent. Padahal bisa saja ibunya ikut disinar sambil menyusui. Pengobatannya bisa lebih efektif dan bayi bisa tetap bisa belajar menyusu. Karena tidak bisa menyusui langsung tapi tetap harus asi eksklusif, pihak rumah sakit meminta saya untuk memberikan asi perah. Di saat itulah kerusuhan terjadi.

Saya tentu saja belum berpengalaman memerah asi. Berbekal pompa manual yang dipinjamkan oleh adik saya dengan percaya dirinya saya memompa. Saya pikir hasilnya akan sama atau paling tidak mendekati saat disusukan langsung. Ternyata asi yang saya hasilkan hanya membasahi pantat botol saja. Panik dong saya 😅

Di saat saat panik, perawat datang menagih asi karena si bayi sudah kehausan. Tapi saya tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kecuali beberapa tetes asi yang menggenang di pojok botol. Makin paniklah saya membayangkan si bayi sudah menjerit jerit kehausan.

Akhirnya perawat menyuruh saya pindah ke ruang laktasi untuk dibantu memerah asi secara manual dengan metode marmet. Sakitnya jangan ditanya. Sakit banget. Padahal tolerasi saya terhadap rasa sakit tinggi tapi saya sampai nyaris menjerit jerit 😅 Pantas banyak yang menyerah memberikan asi. Emang sakit sih 😅

Sudah dipijat sedemikian rupa tetap saja asi yang dihasilkan hanya beberapa tetes saja. Nelangsa banget deh rasanya. Akhirnya karena sudah saking stres dan sakitnya setelah 5 jam berusaha memerah tanpa hasil, saya didampingi suami, yang untungnya masih bisa waras, menanda tangani surat persetujuan pemberian formula karena indikasi medis. 

Apa saya menyesal? Tentu saja tidak. Namanya juga indikasi medis. Daripada anaknya capek jerit jerit, malah pengobatannya jadi tak efektif atau dehidrasi. Apa saya menyerah menyusui? Tentu juga tidak. Setelah tanda tangan surat saya tidur dengan lumayan nyenyak. Esoknya saya meminjam pompa elektrik milik RS. Dengan pikiran yang lebih tenang karena yakin insyaallah si bayi tak akan kehausan, hasil pompa saya bisa sampai 40 ml 😅

Saya tidak stres bayi saya "tercemar" formula. Tapi perawat tetap datang pagi itu untuk membesarkan hati saya. Anggap saja obat bu. Katanya. Iya kata saya sambil cengar cengir. Si perawat akhirnya bercerita, banyak ibu muda yang stres anaknya sementara terpaksa diberi formula. Merasa tercemar 😅 Ada yang menangis histeris ada yang malah langsung menyerah menyusui. Makanya pihak RS berusaha memberikan konseling. Karena kalau ibunya stres asinya semakin tidak keluar.

Memang sih beberapa orang yang mendengar cerita saya saat si bayi kuning tersebut menyesalkan keputusan saya untuk memberikan formula saat itu. As if si bayi sudah tidak pure lagi karena 150 ml formula yang dia minum 😂  Padahal formulanya juga saya yakin sudah keluar bersama mekonium 😒

Sekarang sampai si bayi hampir berusia satu tahun Asi masih terus jalan. Tidak pernah berlebihan tapi Insyaallah juga tidak kekurangan. Secukupnya saja. Alhamdulillah 😀

By the way walaupun saya sendiri memberikan asi ke bayi saya, tapi saya cukup tidak suka dengan hastag hastag mengASIhi yang berseliweran di social media. Kalau seorang ibu tidak bisa memberikan ASI pada bayinya, apa layak ibu tersebut disebut tidak mengASIhi? kan tidak ya. Karena itu marilah ibu ibu. Bijaksanalah dalam menggunakan istilah 😞.

1 comment

  1. HARUSNYA gw baca post lo ini pas lagi stres dibilang "ibu tak akan sanggup menyediakan ASI" pas anak di fototerapi. HAHAHAHA

    bulan-bulan selanjutnya adalah pembuktian pada si perawat bahwa akhirnya bisa juga, meski harus dipijat yang sakitnya bikin histeris. :D

    ReplyDelete