Dikira Pengungsi

Stuttgart kedatangan banyak pengungsi. Karena saya pakai kerudung saya juga sering dikira pengungsi. Karena nampaknya buat kebanyakan orang di sini orang yang pakai kerudung itu asalnya kalau enggak turki ya arab. Kalau Arab berarti pengungsi.

Padahal harusnya orang-orang ini mikir, mana ada pengungsi segendut saya. Mereka kan makan aja susah :|

Sebenernya saya nggak masalah sih dikira pengungsi, karena sampai sekarang saya nggak pernah dapet masalah berarti kayak diskriminasi rasisme etc. Cuma kadang-kadang pengen ketawa aja kalau ketemu orang yang mengira saya pengungsi. Seperti kejadian yang saya alami suatu hari di U-bahn.

Seorang Kakek tiba tiba bertanya pada saya dalam bahasa Inggris "Kamu ke Eropa naek apa?".  Saya jawab naek pesawat. Beliau kaget "Loh, bukan naek perahu?". Saya cuma tertawa sambil menjawab "It will take too much time.  From Indonesia to Germany using boat". "You know since its more than a quarter globe away" tambah saya agak pelan, soalnya percuma jelasin panjang lebar kalau Indonesia ada di benua lain dan nggak ada dekat dekatnya sama Jerman.  Mengangguk angguklah beliau "Saya mengerti. Jadi sekarang mereka bayarin tiket pesawat juga?". "Ha? Siapa yang bayarin?" gantian saya yang kaget. "The Government", jawab si Kakek. "Of course not, I paid my own ticket". "Oh, so you must be very rich then" Tuntas si Kakek sambil terus mengangguk angguk. "Amiiiinn", komentar saya sekenanya. Kemudian saya berdiri untuk turun.

Sepertinya si Kakek tidak bermaksud buruk dan murni cuma ingin tahu, cuma kadang-kadang lucu aja sama orang-orang ini. 



No comments