Apalagi orang-orang yang punya “history”. Seperti mantan yang secara sepihak memutuskan saya karena masuk ITB contohnya 😆. Konon orang berzodiak Gemini memang gampang move on tapi suka mendendam.
Karena gampang lupa, waktu kuliah saya sudah tidak ingat lagi dengan teman-teman SD dan SMP. Teman-teman SMA juga perlahan-lahan saya lupakan. Kecuali beberapa yang masih bareng sampai kuliah.
Bukannya sombong. Selain merasa tidak punya kepentingan, saya memang tidak begitu gaul di masa sekolah. Jadi teman saya juga nggak banyak.
Saat kuliah di awal 2000-an saya merasa dunia saya terbagi dua: dunia sebelum ITB dan dunia setelah ITB. Ingatan tentang dunia sebelum ITB memudar seiring berjalannya waktu tergantikan oleh ingatan setelah ITB. Karena saat itu memang tidak ada caranya buat saya terus mengikuti kabar orang-orang di dunia sebelum ITB selain dengan cara bertanya. Hal yang mana saya sering malas melakukannya.
Tapi di masa itu sangat wajar orang tidak tahu kabar satu sama lain. Makanya momen reuni atau kumpul keluarga jadi ajang yang sangat istimewa. Saat dimana orang update kehidupan masing-masing.
Lalu munculah Facebook di tahun 2008. Sesaat sebelum saya lulus kuliah. Situs pertemanan itu seperti membuka gerbang yang menghubungkan dua dunia.
Tetiba dalam satu hari saya terkoneksi kembali dengan wajah-wajah lama: teman sebangku SMP yang selalu saya contek saat ulangan bahasa jawa, tetangga kawan bolos ngaji waktu SD, guru Bahasa Indonesia SMA yang bercandanya garing tapi populer pada masanya, sampai mbok jamu langganan di pasar yang gelang emasnya berderet dari pergelangan tangan sampai siku.
Sosok-sosok yang sudah saya lupakan tersebut muncul dengan berbagai beritanya. Lalu secara mendadak orang-orang itu tidak lagi menjadi kenangan tapi jadi bagian masa kini.
Aneh rasanya kalau dipikir pikir sekarang.
Mark Zuckerberg rasanya patut disejajarkan dengan James Watt yang penemuan mesin uapnya memicu revolusi industri. Tapi berbeda dengan James Watt yang ciptaannya merevolusi cara hidup manusia, ciptaan Mark Zuckerberg merevolusi relasi antar manusia.
Dari tadinya hanya gaul dengan yang ditemui sehari-hari, sekarang jadi bisa gaul dengan orang-orang dari masa lalu juga. Bahkan kenalan dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia.
Sebelum ada Facebook, sebetulnya ada Friendster. Hybrid antara album foto dan diary perkenalan anak SD tahun 90an. Saya juga turut meramaikan dunia Friendster dengan halaman yang dihiasi kembang-kembang berjatuhan dan lagu soundtrack Since You’ve Been Gone Kelly Clarkson.
Harap dimakluki zaman itu galau = trendy.
Friendster di masa itu lebih seperti galeri foto pribadi dengan profil yang disajikan secara online.
Walaupun bisa saling melihat halaman, tapi tidak ada interaksi secara langsung.
Sementara Facebook seperti ajang silaturahim online dengan fitur interaksi yang beraneka ragam.
Kalau dulunya orang hanya bisa saling tukar kabar dan berbagi nostalgia saat bertemu muka, semenjak ada Facebook jadi bisa terus-terusan update berita plus dapat komen dan reaksi secara real time. Interaksi tersebut sepertinya bikin orang ketagihan. Makanya setelah ada Facebook banyak orang bawaannya update status di setiap langkah kehidupan.
Bahkan sampai yang nggak penting-penting seperti menu makan hari itu juga harus diumumkan.
Saya juga tidak ketinggalan. Saat awal bergabung dengan Facebook update status setiap saat. Bahkan habis nepok nyamuk di kamar saja harus diberitakan. Haha.
Tapi masa kejayaan Facebook sendiripun tak berlangsung lama di Indonesia. Saya rasa Facebook memang adalah tentang nostalgia.
Kalau sudah tidak ada bahan nostalgia karena setiap hari “ketemu” jadi tidak menarik lagi ya kan?
Popularitas Facebook cepat tergantikan oleh Instagram yang populer di Indonesia mulai tahun 2013. Sebetulnya Instagram sudah ada lebih lama, tapi saat awal baru bisa digunakan oleh pengguna iphone.
Awal saya tau Instagram adalah dari seorang teman yang berkunjung saat saya sedang tinggal di Eropa.
Kala itu saya memang tidak update dengan trend di tanah air.
Saat teman itu datang, saya dan suami menemaninya berkunjung ke beberapa kota.
Sepanjang jalan dia sibuk jeprat jepret dan upload foto di akun Instagramnya. Lalu senyum-senyum sendiri melihat hitungan hati yang terus bertambah.
Sementara saya hanya bantu mengambil foto dan ikut senang kalau hasil fotonya dapat banyak like.
Saya pernah baca, tapi lupa dimana, developer Instagram ini memang terinspirasi dari pengguna Facebook yang sering upload foto dan pengguna yang hobi kasih jempol ke foto teman-temannya.
Di Instagram sendiri upload foto jadi fitur utama sementara icon hati pink yang unyu-unyu menggantikan icon jempol. Jempol ini setelah saya pikir-pikir memang bapack bapack sekali.
Walaupun penciptanya tak seterkenal Mark Zuckerberg dan penggunanya tak semasif Facebook, tapi Instagram, menurut saya, adalah aplikasi yang benar-benar merubah tatanan masyarakat.
Kalau Facebook isinya keseharian yang masih cukup apa adanya. Instagram adalah keseharian yang terkurasi.
Foto dijepret dengan seksama, kata-kata dipilih dengan cermat. Diperhitungkan. Ditunggu reaksinya.
Karena memang dapat hati itu senyandu itu.
Di Instagram juga seseorang bisa menjadi sosok yang lain. Membangun citra yang mungkin sulit dilakukan di dunia nyata. Tak jarang saya ketemu orang di dunia nyata yang beda dengan personanya di sosial media.
Kalau waktu kecil kita main role play, dengan Instagram role playnya bisa tersaji nyata.
Lewat Instagram juga trend dengan mudah menyebar. Fenomena viral jadi sering sekali terjadi. Kalau dulu cuma sekali-sekali macam Keong Racun dan Gangnam Style. Sekarang bangun tidur siang juga ada viral terbaru. Seperti Aldi Taher yang berfatwa kalau semua burger milik Allah atau Maudy Ayunda yang kena cancel karena mengajak mindful.
Catch up secara intense di Instagram disinyalir jadi salah satu akar masalah kesehatan mental. Membanding-bandingkan, kekhawatiran berlebihan, FOMO, dan sebagainya.
Bagaimana tidak, dulu sebelum ada social media, untuk lihat hal-hal yang berpotensi mengganggu hati kita mesti agak effort dulu.
Harus pergi ke arisan RT misalnya, buat liat tetangga pakai cincin berlian baru. Atau harus dapat oleh-oleh gantungan kunci dulu buat tau saudara jauh habis pergi ke luar negeri.
Sekarang dari tempat tidur, kita bisa lihat segala kesempurnaan yang ada di Instagram. 24 jam. Iri dengki lebih mudah menyusup ke dalam dada.
Tapi karena rasanya menyenangkan tetap saja dikerjakan.
Jadi berpikir seandainya Mark Zuckerberg dulu nggak iseng-iseng bikin aplikasi directory mahasiswa Harvard yang jadi cikal bakal media sosial, mungkin hidup kita sekarang lebih sederhana.
Mungkin kita masih harus datang ke reuni untuk sekedar iri sama pencapaian teman dan pergi keluar rumah buat julid sama tetangga yang rumputnya jauh lebih hijau.
Bisa juga sekarang kita benar-benar menikmati momen yang ada instead of memikirkan foto mana yang harus diupload dan kata kata apa yang harus disematkan di caption.
***
Ditulis untuk Tantangan Blogging Mamaj Gajah Ngeblog dengan Tema Peristiwa Masa Lampau yang Menyedot Perhatian.


No comments:
Post a Comment