Perjuangan Mendapatkan Vaksin Dosis Dua

Vaksin Covid - 19  Dosis Pertama

Karena saya dan suami bekerja di Perguruan Tinggi, kami sama - sama yang termasuk dapat kesempatan awal untuk mendapatkan vaksin covid - 19. Vaksinasi dosis pertama berlangsung akhir bulan Maret 2021. Vaksin yang tersedia saat itu baru Sinovac dan distribusinya masih terbatas sehingga menjadi semacam barang langka.

Pelaksanaan vaksin dosis pertama berjalan lancar. Suasana di Sabuga hari itu bernuansa nostalgia. Kolega yang sudah lama tidak bersua saling berbagi cerita. Dalam jarak 1.5 meter yang seringkali menjadi semakin rapat. Membuat petugas geregetan dan tak kadang jadi harus menyela pembicaraan.

Foto - foto bersama berseliweran di Whatsapp Group. Alhamdulillah ikhtiar awal mengatasi pandemi terlaksana. Tidak ada efek samping yang mengganggu. Hanya pegal pegal biasa saja.

Hambatan Vaksin Covid - 19 Dosis Kedua

Masalah muncul dengan jadwal vaksinasi dosis dua yang jatuh tanggal 22 April. Empat hari sebelum jadwal vaksin dosis kedua tersebut, Bapak saya qadarullah meninggal dunia. Bapak meninggal di salah satu Rumah Sakit di Semarang setelah berjuang melawan Covid -19 dan komplikasinya selama 1 bulan. Hari itu tanpa babibu kami langsung pergi ke Semarang. Saat itu kondisi memang tidak semengerikan bulan Juni - Juli sekarang, jadi kami masih berani keluar kota. 

Alhamdulillah proses pemakaman berjalan lancar. Karena memang harus dilaksanakan dengan cepat. Setelahnya juga tidak ada pelayat yang datang, pun tidak ada keluarga berkumpul di rumah. Sehingga kami bisa fokus mengurus hal - hal yang harus diurus. Hari kedua kami di Semarang suasana sudah cukup kondusif untuk kami bisa memikirkan hal lain.

Suami mengajak saya untuk mencari info kemungkinan kami vaksin dosis dua di Semarang. Supaya waktu penyuntikannya masih dalam rentang ideal 28 hari dan tidak perlu mengulang kembali. Kami memang masih harus tinggal di Semarang sekitar satu minggu untuk mengurus ini dan itu. Sehingga pasti akan melewatkan jadwal vaksin dosis dua di Bandung.

Terhambat Birokrasi

Untuk bertanya soal vaksin, tempat pertama yang kami datangi tentu saja puskesmas di kelurahan tempat rumah orang tua saya berada. 

Sayangnya petugas puskesmas di sana sungguh tidak membantu. Ketika kami tanya apa bisa vaksin beda kota dengan menjelaskan kondisi yang kami hadapi saat ini, jawaban yang kami dapatkan cuma "lebih baik Bapak dan Ibu kembali ke kota asal saja".

Sungguh jawaban yang mencerahkan sampai menyilaukan mata. Membuat kami tidak bisa melihat jalan keluar.

Suudzon-nya kami dianggap bak orang yang mengiba iba untuk mendapatkan cairan hidup abadi yang sangat berharga padahal bukan haknya. Husnudzon-nya karena saat itu dosis vaksin yang tersedia sangat terbatas jadi petugas juga sangat hati - hati membagikan vaksin yang saat itu memang baru diprioritaskan untuk lansia.

Keesokan harinya, H-1 sebelum jadwal vaksinasi, kami datang ke Dinas Kesehatan Kota Semarang. Disana kami bertemu dengan unit yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan vaksinasi di Kota Semarang. Jawabannya cukup menggembirakan. Intinya tidak ada aturan yang melarang untuk vaksin pertama dan kedua dilakukan di tempat berbeda. Masalahnya hanya pada ketersediaan vaksin yang sudah berpasang - pasangan. Dan setiap hari sudah ditentukan penerimanya. Kami diminta untuk menanyakan ke beberapa puskesmas, termasuk puskesmas rumah orang tua saya, sentra vaksinasi BUMN, dan rumah sakit. Kalau kalau ada vaksin sisa yang bisa dimanfaatkan.

Kami langsung mendatangi sentra vaksinasi BUMN di kompleks PRPP Semarang. Di tenda penerimaan ada sederet meja dengan petugas - petugas berpenampilan profesional. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, kami lalu disarankan untuk mengajukan pembuatan surat keterangan dari instansi kerja tentang permohonan vaksin beda tempat. Surat tersebut katanya akan dikonsultasikan dengan penanggung jawab pelaksanaan program. 

Surat dari Dekanat kami dapatkan dalam waktu 1 jam. The perks of being mak mak Tata Usaha. Tapi ternyata ditolak oleh penanggung jawab pelaksanaan program. Lagi - lagi dengan alasan vaksin dilakukan di beda tempat, sementara vaksin yang tersedia sudah ada pemiliknya. Which is cukup aneh mengingat di sentra vaksinasi bersama BUMN sifatnya kan sukarela untuk masyarakat umum. Jadi apakah yang ada disana semuanya cenayang? Sudah tau siapa yang akan datang? 

Akhirnya kami menghabiskan sore dengan berkeliling ke berbagai rumah sakit baik swasta maupun negeri menanyakan ketersediaan vaksin. Ada yang dengan baik hati menjelaskan bahwa pemberian vaksin di rumah sakit sudah terprogram sedemikian rupa sehingga tidak akan ada vaksin sisa. Tapi ada juga yang hanya menatap kami dengan aneh ketika bertanya. Hari itu kami pulang dengan tangan hampa.

Pertolongan yang Tidak Terduga

Hari H jadwal vaksinasi kami, tanpa banyak berharap kami kembali ke puskesmas dekat rumah. Menyampaikan pesan dari Dinas Kesehatan tentang vaksin sisa. Dijawab dengan ogah ogahan oleh petugasnya bahwa mereka akan mengabari kami jika ada vaksin sisa.

Merasa agak jengkel, suami mengajak kembali ke Dinas Kesehatan untuk meminta pernyataan tertulis mengenai vaksin sisa atau paling tidak ijin kami rekam pernyataannya. Supaya ada bukti kalau kami pergi ke Puskesmas lagi. Toh kami juga sudah punya surat resmi dari instansi. Sampai di Dinas Kesehatan pukul 09.00 kurang, ternyata kantornya kosong karena semua orang dinas lapangan meninjau puskesmas - puskesmas. Hanya tertinggal seorang bapak - bapak resepsionis yang jadi korban, kami bombardir dengan berbagai pertanyaan.

Bapak resepsionis yang kebingungan akhirnya memberikan nomor kontak PIC vaksinasi Kota Semarang, yang sebelumnya sudah kami temui juga di hari pertama kami datang ke Dinas Kesehatan. Langsung kami teleponlah ibu PIC. Untung ibunya bageur. Beliau bilang sekarang sedang meninjau puskesmas - puskesmas di Semarang. Nanti dikabari kalau ada vaksin sisa, boleh kami kesana. Penerimaannya agak sedikit berbeda setelah kami tunjukkan surat resmi dari instansi. Mungkin takut jadi berita viral kalau tidak diladeni. Karena sekarang semua cerita gampang sekali beredar. Sembari menunggu kabar, kami juga berikhtiar menghubungi puskesmas di tempat kami tinggal di Bandung. Tapi sayang, tidak ada kepastian juga.

Siangnya sekitar jam 13.40 kami ditelepon oleh ibu PIC. Dikabari bahwa ada vaksin sisa di suatu puskesmas di pinggiran kota Semarang. Jaraknya 22 km dari tempat kami berada saat itu, di pinggir kota Semarang lainnya. Ditunggu sampai 14.00 harus sudah sampai sana. Kalau tidak, vaksin sisa akan dibuang, karena disana tidak ada kulkas. Cek map perlu waktu 30 menit. Untung bisa via toll dalam kota. Bismillah sajalah. Kami pun bergegas mengejar vaksin kedua.

Sampai disana sudah pukul 14.10. Kami pikir sudah terlambat. Tapi ternyata suasana puskesmas tersebut woles. Sepi tidak ada orang. Hanya ada beberapa petugas yang sepertinya juga sudah bersiap akan pulang.  Kami  menyampaikan kalau kami disuruh Ibu PIC datang untuk vaksin kedua.

Menunggu sebentar untuk menyocokkan data - data, kemudian kami langsung disuntik vaksin dosis dua. Setelahnya menunggu 30 menit untuk berjaga jaga. Kemudian selesai begitu saja.

Ibu petugas menyampaikan kalau setiap harinya ada 4-5 dosis vaksin yang dibuang. Karena mereka tidak punya kulkas untuk penyimpanan vaksin yang layak. Program vaksinasi ke lansia di daerah tersebut juga tidak berjalan lancar karena kebanyakan lansia takut divaksin dengan alasan punya penyakit bawaan dan termakan berita - berita liar. 

Saat kami tanya kenapa tidak disuntikkan saja ke sebarang orang yang mau. Kan pasti banyak warga lain non lansia yang berminat. Kata mereka tidak ada arahan dari Dinas Kesehatan, jadi mereka juga tidak berani sembarang menyuntik orang. Lagian resistensinya juga besar di kalangan muda. Sungguh birokrasi dan literasi. Penghambat kemajuan bangsa sekali.

Pendapat Pribadi 

Saat menerima vaksin kedua, kami sudah sangat yakin bahwa akhir pandemi sudah ada di pelupuk mata. Tapi ternyata hanya dalam waktu kurang dari dua bulan setelahnya, situasi malah menjadi sangat tidak terkendali.

Birokasi dan kurangnya literasi menjadi penyebab utama lambatnya program vaksinasi di Indonesia. Padahal negara kita termasuk yang pertama mendapatkan vaksin, walaupun hanya Sinovac. Apapun itu, vaksin yang ada lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Saat kami memaksa mendapatkan vaksin dosis kedua mungkin ada yang menganggap kami orang yang egois yang ingin menyelamatkan diri sendiri. Padahal kalau dilihat dari kacamata lain, kami hanya merasa sayang karena sudah setengah jalan mendukung herd immunity.

Daripada kami mengulang vaksin kembali dari dosis pertama, yang malah menghabis-habiskan jatah vaksin. Atau malah hanya dapat setengah dosis yang jelas tidak membantu sama sekali, kami berpikir, lebih baik kekeuh untuk bisa mendapatkan vaksin dosis dua di waktu yang tepat. Jadi kenapa tidak ada yang berminat membantu?

Alasan birokrasi juga kurang masuk akal. Kalau ini Bantuan Langsung Tunai, atau bentuk bantuan lain, kami masih paham, kalau harus sesuai tempat tinggal. Kalau sudah menyangkut keselamatan bersama seharusnya birokrasi bisa agak longgar. Toh sebetulnya datanya juga sudah terpusat. Melekat pada NIK. Kecil kemungkinan ada orang mau berkali kali vaksin sampai membohongi petugas. 

Apa untungnya? Tidak lantas jadi kebal juga karena makin banyak miligram vaksin yang masuk ke tubuhnya. Jadi sakit malah mungkin iya. Namanya juga obat. Di Indonesia banyak sekali orang berdomisili tidak sesuai dengan KTP-nya. Jadi seharusnya urusan seperti ini dipermudah. Apalagi banyak yang masih resisten atau tidak paham pentingnya vaksin. Jadi seharusnya yang bersedia vaksin dipersilahkan. Apapun yang mempercepat penyebaran vaksin seharusnya dipermudah. 

Eits tapi itu kan kata saya ya yang remahan rengginang di pinggir kaleng Khong Guan.Walaupun enak, tidak akan jadi hidangan utama di tengah meja. Jadi biarkan saya menulis secuplik cerita ini saja. Hanya untuk berbagi pengalaman saja tentang perjuangan memperoleh vaksin dosis dua bagi yang membaca.

Jangan lupa vaksin yaa begitu ada kesempatan 😉

12 comments

  1. Yampun teh panjang bgt perjuangannyaa sampe bolak balik yah, untung akhirnya dapeet. Korban birokrasi kita nh emg teh, trmasuk si bapak resepsionis yg dibombardir pertanyaan hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya untung Bapaknya masih bisa berpikir jernih ngasih nomer boss nya

      Delete
  2. Turut berduka atas kepulangan bapak ke Rahmatullah. Panjang juga yah prosesnya untuk memperoleh vaksinasi. Saya termasuk yang cukup mudah prosesnya karena kondisinya cukup ideal. Divaksinasi karena merupakan tenaga pendidik, saat vaksinasi pertama dan kedua tinggal datang ke lokasi (yang telah ditentukan sebelumnya). Tapi jadi terpikir, bagaimana dengan teman-teman lain yang kondisinya tidak ideal. Misalnya saat vaksinasi pertama atau kedua tiba-tiba sakit, atau ada halangan lain seperti yang teteh alami? Harusnya ada sistemnya yah agar bisa tetap memperoleh vaksinasi. Setuju aku sama teteh, tujuannya bukan karena egois ingin vaksinasi sendiri, tapi karena memang sudah melakykan proses pertama, sayang kalau gak diselesaikan. Tujuannya juga untuk bersama. Semoga teteh sehat selalu yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, karena vaksinya 2 dosis dan rentangnya sebulan sangat mungkin terjadi apa yang saya alami. Apalagi kondisi sekarang seperti ini. Tapi sekarang saya mau daftarin vaksin yang kerja di rumah juga kesusahan. Karena harus sesuai ktp huhu.

      Delete
  3. Birokrasi awalnya diciptakan untuk menyeragamkan berbagai hal, tapi akhirnya jadi sering kurang praktis ya. Teorinya daripada dibuang, memang lebih baik diberikan ke orang yang bersedia divaksin (dengan catatan memang sudah tau semua resikonya). Semoga lebih banyak yang percaya vaksin itu untuk kebaikan bersama supaya pandemi segera berlalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh. Kalau birokrasinya kayan di Jerman yang memang buat mencatat sih nggak papa. Paperworksnya banyak tapi sekali ada masalah gampang semua ketauan. Kalau disini kayaknya pendataan diulang ulang saja 😅

      Delete
  4. Ya Allah teh, gak tau kalau Bapak sudah dipanggil lebih dulu. Semoga sekeluarga diberi ketabahan dan Bapak khusnul fatimah ya.

    Agak gimana memang dengan bagian administrasi. Semoga ke depannya sistem lebih ramah ke warga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinn...

      Iya teh semoga kedepan jadi bisa lebih santun dan ramah. Paling nggak yang jawab pertanyaan tau penjelasannya jadi jawabannya mencerahkan.

      Delete
  5. Turut berdukacita untuk bapak ya...
    Iya nih, ngeri juga sekarang grafiknya naik, virusnya mutasi.
    Padahal kami dah vaksin sejak April karena lansia. Anak-anak juga krn kerja di kampus.
    Baru sebulan ini gencar untuk semua kalangan dan anak-anak mulai didata. Balapan ini mah antara virus dan vaksin...
    Semoga herd immunity segera terbentuk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya balapan banget Bu.. Telat banget kemarin...yang untuk lansia saja kelamaan menurut saya periodenya. Harusnya langsung turun range usianya biar cepat catch up karena di Indonesia usia 40 tahun keatas juga rawan.

      Delete
  6. Innalillahi wa innaialihi rojiun, semoga almarhum Ayahanda mba Restu husnul khotimah. Trimakasih atas sharing pengalamannya ya mba Restu.

    Saat saya terkejut dengan jawaban petugas puskesmas, saya menjadi lebih terkejut lagi dengan reaksi mba Restu : 'Sungguh jawaban yang mencerahkan sampai menyilaukan mata. Membuat kami tidak bisa melihat jalan keluar'. Wkwkwkwkwk, yang awalnya saya cukup kesal, kok jadi ngakak baca ini.

    ReplyDelete
  7. Turut berdukacita untuk kepergian bapak ya, Restu

    ReplyDelete