Keajaiban Untuk Bu Az

Kabar Duka

Beberapa malam yang lalu, sekitar pukul setengah sepuluh malam, saya mendapat kabar duka. Salah satu mahasiswa program studi doktor di tempat saya bekerja meninggal dunia. Sebulan terakhir beliau agak sering berhubungan dengan saya, karena akan menjalani sidang terbuka. Prosesi terakhir yang perlu dilewati untuk mendapatkan gelar doktor. Gelar yang sudah 7 tahun beliau perjuangkan. 

Sumber : www.freepik.com

Ketika mendapatkan kabar tersebut saya kaget luar biasa. Bu Az, nama mahasiswa itu, memang sempat selama dua minggu  dirawat di Rumah Sakit karena covid - 19. Kabar terakhir beliau sudah pulang ke rumah. Sudah dinyatakan membaik dan bisa rawat jalan walaupun masih positif. Tapi ternyata sehari setelah keluar, beliau kembali dilarikan ke rumah sakit karena saturasinya drop ke angka 80. Qadarullah di perjalanan, beliau sudah menghembuskan nafas terakhir terlebih dahulu. Hari ia berpulang adalah hari dimana sidang terbukanya seharusnya dilaksanakan.

Keinginan Terakhir

Kabar duka tersebut pun menyebar. Selanjutnya telepon saya tidak berhenti berdering. Promotor (pembimbing) Bu Az menelepon, mengabarkan bahwa suami Bu Az kebingungan ingin membawa isterinya kembali ke kampung halamannya di Solo, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Teman kuliah Bu Az juga mengabarkan yang sama, mereka menanyakan apakah bisa menggunakan ambulans ITB untuk mengantarkan jenazah ke Solo. Ketua Program Studi juga menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk membantu.

Saya pun segera konsultasi dengan salah satu anggota tim Satuan Tugas Covid 19 ITB. Hasil konsultasi, ambulans ITB tidak bisa digunakan ke luar kota saat pandemi. Baik kondisi mobil maupun petugas tidak disiapkan untuk protokol covid apalagi berpergian saat dilaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) 🙈

Langsung saya beralih ke Google. Tentu tanpa banyak berharap, karena sudah mendengar kabar bahwa Ambulans swasta pun sekarang penuh. Tapi kan ini membawa jenazah pikir saya, tidak perlu peralatan keselamatan, hanya perlu kesediaan untuk mengantar keluar kota saja. Saya ketikkan kata pencarian "ambulans 24 jam Bandung". Dari daftar yang muncul di Google entah kenapa saya pilih yang ada di urutan ketiga. Mungkin karena mencantumkan "siap melayani luar kota" di profilnya. 

Pertolongan Melebihi Harapan

Bapak yang mengangkat telepon langsung menyanggupi permintaan saya. Tanpa ragu - ragu sedikitpun. Beliau hanya menyebutkan jumlah biaya yang diperlukan dan mengatakan langsung akan segera bersiap di dekat Rumah Sakit. Saya yang terkaget kaget karena tidak menyangka akan segampang itu mendapatkan ambulans, langsung mengabari para pimpinan Program Studi dan Fakultas untuk koordinasi pembayaran biaya kepulangan : pemrosesan jenazah dan ambulans. Alhamdulillah langsung direspon walaupun sudah tengah malam. Tidak ada masalah dengan pembayaran, semua biaya pemulangan ditanggung oleh ITB melalui Fakultas.

Selanjutnya muncul masalah baru. Suami Bu Az sendiri saja di lobby IGD bersama jenazah. Saking penuhnya IGD, sehingga untuk masukpun tidak bisa. Sendirian dalam artian tidak ada yang membantu mengurus administrasi ya, karena nampaknya disana kondisinya sangat sibuk. Terbayang pasti paniknya. Saya tidak mungkin meminta orang untuk datang ke Rumah Sakit di tengah kondisi begini. Datang sendiripun juga mustahil. Kalaupun bisa datang juga saya tidak yakin bisa menolong banyak karena tidak tahu prosedur yang harus dilakukan. Apalagi kondisinya pasti chaos disana. Saat saya kebingungan, saya iseng tanya pada Bapak Ambulans, yang saya telepon untuk booking Ambulansnya, apa memungkinkan beliau juga membantu mengurus administrasi? Bapak ambulans menyerahkan telepon ke anaknya. Saat itu keajaiban dimulai.

Atas Izin Allah 

Anak Bapak Ambulans ini namanya Pak D. Beliau dengan sigap langsung menanyakan dimana Suami Bu Az berada. "Nanti saya samperin kesana Bu", katanya. Saat saya tanyakan prosedur pengeluaran jenazah, beliau dengan sabar menjelaskan. Jujur saya hanya setengah mendengarkan, saking deg - degannya begitu mendengar Pak D berkata kemungkinan paling cepat jenazah baru bisa keluar pagi hari karena antri di bagian forensik dan  pemulasaran. 

Saya sampaikan kalau saya minta tolong saja diuruskan semua yang harus diurus. Dengan baik hati Pak D menyanggupi. Saya yakin hanya kehendak Allah yang bisa menggerakkan hati Pak D untuk membantu Bu Az dan keluarganya malam itu. Ingat, saya tidak kenal yang bersangkutan. Beliau juga tidak kenal saya. Kami hanya dihubungkan oleh Google. Mengurus administrasi juga bukan bagian dari jasa Ambulans. Karena Ambulans ya ambulans saja. Tugasnya mengantarkan. Bahkan beliau juga tidak minta biaya tambahan. Padahal kalau beliau mintapun, akan langsung saya sanggupi. Karena ini seperti meminta orang maju ke medan perang. Tengah malam.  

Setelahnya sejam sekali saya diberikan update oleh Pak D. Termasuk saat hasil PCR jenazah keluar negatif. Dimana artinya jenazah tidak perlu melewati protokol covid sehingga bisa memotong waktu yang diperlukan untuk pemulasaranya. Beliau juga memberi tahu aturan terbaru untuk membawa jenazah lintas provinsi saat PPKM, dimana jenazah harus tetap dimasukkan ke dalam peti. Walaupun kalau hasil PCR negatif bisa menggunakan peti murah dan tidak dipaku. Pak D jugalah yang mengurus semua surat dan kelengkapan yang diperlukan agar Bu Az bisa pulang ke Solo. Mulai dari surat kematian hingga pembayaran peti dan pemulasaran. Alhamdulillah atas izin Allah, jenazah Bu Az selesai diproses dan bisa berangkat ke Solo jam 03.00 pagi. Jauh lebih cepat dari perkiraan. Sungguh sangat dimudahkan.

Hikmah Kejadian 

Saat semua urusan selesai, saya baru tahu kalau Pak D adalah pegawai forensik di Rumah Sakit tempat Bu Az meninggal. Pantas sudah paham betul prosedur disana. Kok bisa ya, kebetulan saya pilih ambulans Bapaknya 😅 Lebih kebetulan lagi, malam itu beliau sedang break dari kerja shift. Setelah membantu Bu Az, paginya beliau kembali bekerja selama 24 jam di Rumah Sakit. Coba kalau malam itu beliau bekerja. Belum tentu semua urusan administrasi malam itu bisa diurus dengan lancar dan mudah.

Kata teman - temannya, Bu Az orang yang sangat baik. Taat beragama dan rajin mengerjakan ibadah sunnah. Pantas malam itu saya merasa seperti ada malaikat yang diturunkan sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk mengantarkan Bu Az kembali ke haribaan-Nya. 

Cerita ini saya tuliskan sebagai pengingat. Buat saya sendiri dan mungkin yang membaca. Di kondisi sekarang yang sangat tidak menentu ini, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Kala dihadapkan pada kondisi dimana sumber daya sangat terbatas, memang hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan. Dan jika Allah sudah berkehendak, pertolongan tersebut bisa datang dari mana saja dan apapun bentuknya. Bahkan lewat Google dan petugas forensik yang kebetulan Bapaknya punya ambulans.

12 comments

  1. aku terharu membacanya. semoga keluarga bu Az merasa terhibur karena Tuhan kirim pertolongan lewat mbak Restu yang tergerak mencari via Google dan pak D dan bapaknya yang sigap membantu urusan administrasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh memang dimudahkan sekali waktu itu alhamdulillah heuheu

      Delete
  2. Sedih ... jadi inget mahasiswa S2 dulu yg wafat di hari sidangnya juga karena kecelakaan. Kudoakan semoga yg tutup usia saat sedang berjuang menyelesaikan sekolahnya mendapat pahala syahid. Terharuu juga sama kemudahan yang diperoleh alm Ibu Az dan suaminya ... masyaAllah. Semoga berkah untuk semua yang bantu turun tangan. Btw aku penasaran deh yg bagian hasil PCR jenazah itu tesnya udah dilakukan sblm meninggal kan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiinn...iya sedih banget kemarin pas syukuran Wisuda juga jadi sedih.

      Pas sudah meninggal teh. Di bagian forensik di pcr apa gimana lah...pokoknya keluar negatif jadi nggak perlu protokol covid heuheu.

      Delete
  3. Hidup gak bisa kita prediksi ya teh.. kapan berakhirnya. Makanya ya yang bisa kita lakukan sebaik2nya menggunakan waktu yang kita punya..

    ReplyDelete
  4. Innalillahi wa Innailahi Rojiun, sedih banget ya Teh. Ngepas banget kenapa pas di hari sidang terbuka :(

    Tapi alhamdulillah banyak yang nolong, dimudahkan pisan , beneran hikmah kejadian untuk kita semua.

    ReplyDelete
  5. Laahawla walaa quwwata illaa billaah

    Pelajaran yang membekas banget ya Teh...

    ReplyDelete
  6. Masya Allah.. Bagi Allah semua mudah ya. Mungkin ini berkat tabungan amal Bu Az, jadi semua dimudahkan hingga dimakamkan. Semoga khusnul khotimah.

    ReplyDelete
  7. Tiba-tiba ingat, "kematian adalah pengingat terbaik".

    Semoga Bu Az husnul khotimah

    ReplyDelete
  8. Innalillahi wa innailaihi rojiun, untuk Bu AZ.
    Jadi ingat kawan saya, kejadiannya mirip. Wafat menjelang sidang tertutup S3-nya di prodi AR. Kawan saya wafat krn punya penyakit jantung. Akhirnya mendapatkan doktor (anumerta) dari ITB (baru pertama kali ada seperti ini).
    Semoga kita dilindungi Allah swt, dilancarkan segala urusan.

    ReplyDelete
  9. Ya Allah... baca ini sedih sekaligus merinding... begitulah pertolongan Allah ya teh, bekerja di luar kuasa manusia. Ada yang bilangnya kebetulan, keberuntungan, namun inilah bukti nyata pertolongan Allah itu ada. Nuhun teh sharingnya, semoga Bu Az husnul khotimah... aamiin

    ReplyDelete