Thursday, February 11, 2021

Bukan Mompetition

Anak bungsu saya kalau pagi sampai sore dipegang oleh Bibi sementara saya kerja. Bibinya bukan sembarang Bibi. Bibi ini sudah kerja di rumah mertua selama 30 tahun dan beliau juga yang dulu ikut mengasuh suami dan saudara saudaranya. Jadi sudah terpercaya istilahnya. Rutinitas si bayi dan bibi kalau pagi adalah sarapan sambil keliling komplek. Yang sarapan tentu saja si bayi saja karena tidak mungkin bibi sambil makan nasi goreng sambil jalan dorong dorong stroller keliling komplek. Bisa tumpah semua nasi gorengnya. Sama keselek. Kan sayang. Mungkin rutinitasnya lebih tepat disebut bibi nyuapin bayi sarapan sambil bawa jalan jalan. 

Di satu jalan depan rumah dan jalan sebelah kebetulan ada beberapa bayi seumuran anak saya. Cuma beda 2-6 bulan. Mungkin dulu sebetulnya ada wabah hamil disini cuma kita nggak sadar saja. Kadang kadang bayi bayi tersebut dan pengasuhnya berkumpul di pojok jalan sama sama sarapan sambil berjemur. 

Kalau saya sedang sempat (dan niat) jalan pagi, saya sering melewati kumpulan para pengasuh dan bayi itu. Bolak balik. Soalnya saya cuma jalan di jalan depan rumah dan jalan sebelah bolak balik. 

Dari interaksi yang sekelebat sekelebat saya perhatikan pengasuh pengasuh ini sangat menaruh kebanggaan pada tumbuh kembang anak asuhnya. Waktu berkumpul adalah waktunya bragging. Memamerkan kebisaan kebisaan baru bayi bayi. Menimbulkan kebanggaan jika anak asuhnya dianggap unggul dan kebaperan jika anak asuhnya tidak berkembang sesuai harapan. 

Dari situ persaingan muncul. Alhasil ajang kumpul pagi pagi itu biasanya jadi seperti kumpulan pelatih lumba lumba. Semua pengasuh bicara dengan volume lebih keras membujuk anak asuhnya untuk menampilkan kebisaan barunya. 

Lihattt ada kucing...ayo bilang KUCING....KUUU....CIIIIING ayo dong... kamu kan sudah bisa mengeja Pithecanthropus Erectus kemarin masa bilang kucing saja nggak bisa.... " kata pengasuh yang anak asuhnya paling cepat bisa bicara. 

Ayo lompat...hap hap...lompat...ayo dong kan kamu sudah bisa tiger sprong ngelewatin lemari kemarin masa lompat lewat polisi tidur aja nggak bisa..." kata pengasuh yang anak asuhnya motoriknya paling maju.

Ayo tendang bolanya...tendang sini sini tendang yuk...yuk...ayoo...masa kemarin kamu sudah bisa sparring sama abang di lapangan besar, sekarang nendang ke arah tiang listrik saja nggak bisa..." kata pengasuh yang anak asuhnya dari keluarga atletis.

Ayo ammmm ammmm baru habis segini nggak mau nambah lagi? Nanti laper lhooo....ini...ammmmm ammmm...kemarin kamu habisin nasi kebuli satu tampah sendiri loohh...masa sekarang 1 mangkok saja nggak habis... nanti sakitt...laperr" kata pengasuh yang anaknya paling jagoan makan.  Nggak pilih pilih.

Memang persaingan kehidupan di dunia ini dimulai sejak dini.

Notes:

Tulisan dibuat dengan bumbu bumbu penyedap. Mengingat bocah bocahnya masih usia 1.5 - 2 tahun, apa mereka mau menuruti keinginan ambisius pengasuhnya? Oh tentu tidak sodara. Tenang saja.

No comments:

Post a Comment