Tentang Bayi : Olshop Dulu. Supaya Bahagia

Seperti sudah saya bilang di postingan sebelumnya, insyaallah sebentar lagi saya bakal punya bayi. Tapi sampai usia kandungan 34 minggu saya masih takut beli beli perlengkapan bayi. Dengan alasan yang sangat tidak rasional: saya takut geer πŸ˜… Gimana kalau setelah beli ini itu saya nggak jadi punya bayi. Naudzubillahimindzalik sih πŸ˜”

Sampai akhirnya di suatu subuh, setelah sholat saya iseng membuka-buka buku Dzikir tulisan Pak Miftah Faridl. Salah seorang ulama terkemuka yang kebetulan juga dosen agama saya waktu kuliah.

Entah kenapa mata saya tertumbuk pada sepenggal tulisan di bagian "Dzikir setelah sholat" : 
Allaahumma laa maani'a limaa a'thayta wa laa mu'thiya limaa mana'ta wa laa raada limaa qadhayta wa laa yan fa'u dzal-jaddi minkal jaddi
artinya 
Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi akan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi akan apa yang Engkau halangi. Tidak ada yang bisa menolak apa-apa yang Engkau putuskan. Dan kekayaan tidak bisa menarik manfaat dari-Mu untuk memilikinya
Jleb banget nggak sih? Jadi malu sama diri sendiri. Kok nggak percaya banget saya sama kuasa Allah. Padahal ya sudah dipercayai amanahnya. Harusnya saya nikmati saja dulu rejeki ini dengan penuh rasa syukur. Perkara hasil akhirnya serahkan ke Allah saja, toh cuma Allah yang berhak dan bisa menentukan semuanya. Seperti kata kalimat dzikir diatas. Mau nantinya ada apa-apa atau tidak kalau sudah takdirnya dari Allah saya punya anak, ya tidak akan ada satupun hal yang bisa menghalanginya 😌  

Akhirnya saya bilang ke suami kalau mau mulai belanja. Hahahaha!

Suami yang jauh lebih khawatir isterinya stres daripada khawatir perkara uang #AsumsiPribadi, langsung mengiyakan saja isi rekeningnya bakal dikuras dipakai (dengan agak lebay) sama isterinya. Moga moga rejekinya tambah banyak ya...ntar habis ini dibantuin cari uang lagi deh hihihihi πŸ˜› 

Setelah memutuskan belanja saya mulai giat mantengin henpon. Loh kok nggak ke toko offline saja? Pengen sih tapi riweuhnya itu loh. Hadeh.

Selama hamil sekarang saya dilarang naik angkot dan nyetir mobil. Bukan karena masalah medis sih lebih ke overprotective aja orang-orang. Lagian SIM A saya juga sudah mati dan belum diurus pun saya sudah agak malas nyetir setelah 3 tahun nggak pernah nyetir. Alhasil pilihan buat saya untuk pergi-pergi sendiri cuma naik taxi atau taxi onlen. Tapi berhubung Bandung akhir-akhir ini hampir setiap hari hujan terus, saya jadi super males pergi sendiri naik taxi. Udah mah basah, becek, repot, yang cerewet juga pasti banyak πŸ˜…

Bisa sih sebenarnya minta anterin suami waktu weekend buat lihat-lihat toko. Tapi tahu sendirilah rasanya pergi ke toko sama cowok yang pasang tampang terpaksa bin bosan ngikutin kita lihat-lihat dari satu rak ke rak lain sambil berkali kali komentar "Ambil yang mana aja, sama aja kan?" atau "Masih lama nggak?". Tapi sekali saya tetap minta anterin suami sih ke toko bayi offline. Tapi ya hasilnya cuma nyamber-nyamber aja, yang penting barangnya ada logo SNI-nya #lah πŸ˜…

Karena pergi ke toko saya anggap kurang praktis akhirnya terpaksa jempol yang beraksi. Online shopping. Kekinian banget!

Saya abuse tuh instagram jualan (@solehgeneration) buat follow akun - akun penjual peralatan bayi. Berbagai situs e-commerce juga jadi punya pelanggan baru yang sangat bersemangat.

Ya Allah baru nyadar lucu lucu banget deh perlengkapan bayi ini. At least fotonya ya. Barang-barangnya sih yang tidak sesuai dengan kenyataan juga banyak. Yah ada harga ada barang sih, yang mahal memang kebanyakan bagus walaupun ada juga yang overpriced. Tapi saya sih nggak kapok - kapok πŸ˜‚

Barang-barang yang saya beli online cuma barang-barang yang faktor teknisnya sedikit atau sama sekali nggak ada macam baju, selimut, bedong dsb. Kalau barangnya punya faktor teknis banyak macam box bayi, stroller, bouncer, sampai thermometer, saya masih memilih untuk belanja offline. Lihat dan pegang barangnya langsung. Maklum gini-gini saya kan lulusan jurusan teknik #Apeu.

Karena tujuannya untuk senang-senang akhirnya kebanyakan barang yang saya beli online dibeli lebih untuk memuaskan keinginan pribadi daripada memenuhi kebutuhan fungsionalnya. Contohnya bedong bayi  berbahan Cotton Muslin ini :

Sumber Google

Nggak ada pentingnya sama sekali untuk bedong bayi harus terbuat dari bahan khusus seperti bedong yang terbuat dari katun dengan campuran serat bamboo ini. Toh bedong bayi yang jauh lebih murah juga banyak. Nyaman dan angetnya juga sama-sama aja. Waktu saya bayi kayaknya dibedong pakai kain biasa juga selamat-selamat aja. Tapi harus diakui bedong yang ini motifnya lucu-lucu banget. Saking bingung milih yang mana sampai-sampai saya minta dibeliin motif yang lain sama teman yang niat ngasih kado. Padahal sendirinya udah beli dua 😚 

Atau selimut berbentuk beruang ini :

Sumber Google
Pentingnya nggak ada. Selimut bertopi lain yang jauh lebih murah dan lebih fungsional ada banyak. Cuma korban kalap mata aja belinya ini. Tapi harus diakui aslinya lucu juga walaupun bahannya nggak se-fluffy seperti yang nampak di foto. Paling enggak ada telinga dan buntutnya (obsesi yang aneh) πŸ˜›

Dan barang hasil belanja online terakhir yang dibeli hanya karena pengen bukan butuh adalah tas ransel Re-KΓ₯nken dari Swedia yang niatnya bakal saya jadikan diapers bag.

Sumber Google

Pentingnya? Ya sama seperti yang lain. Nggak ada. Lagi-lagi hanya memuaskan ambisi pribadi saja, karena dulu di Jerman sempat pengen tapi nggak beli-beli. Saya sebenernya juga sudah punya beberapa ransel lain dan yah diapers dan tetek bengek bayi mah bisa ditaruh di tas mana aja. Kresek juga bisa sebenernya. Tapi mumpung adek ipar lagi mau berangkat ke Swedia buat interview Ph.D dan saya masih punya beberapa lembar tabungan euro hasil nguli di Jerman kemarin, akhirnya saya tetap nitip. Buat hiburan pribadi. Lumayan lagi kan bebas ongkir.

Barang-barang lainnya yang saya beli online standar saja. Baju bayi new born polosan (saya pusing sama sama yang kebanyakan motif), diapers (bertekad pakai diapers dari awal karena merasa nggak seheroik itu pakai popok kain), bra menyusui, beberapa baju bayi untuk berpergian yang lagi-lagi dibeli hanya karena saya nggak kuat lucunya, dan beberapa printilan lain, macam sepatu dan jaket bayi. Sudah itu saja kok. Sedikit tapi ternyata efeknya lumayan membahagiakan memang. Hahaha!

Paling tidak saya jadi sedikit teralihkan dari perkara panik gara-gara gerakan bayi dan sejuta kekhawatiran lain πŸ˜…

Sampai mau tidur saja malah mantengin Instagram dan Line. Siapa tahu ada update barang baru dari akun olshop kesayangan *kekepin token* πŸ˜‚

Orang bijak bilang barang tidak bisa membuat kita bahagia. Tapi yah kalau dengan olshop bisa bikin nggak setres dan itu bisa bikin si jabang bayi jadi lebih bahagia nggak ada salahnya juga toh? #pembenaran. Next kita beli lah itu stroller dan barang-barang lain yang lebih mahal. Siapa tahu makin bahagia #halah

No comments