Aufwiedersehen Deutschland!

Bulan Juli 2016 kami mendapat kabar kalau beasiswa suami diputuskan untuk tidak diperpanjang (programnya sendiri memang cuma tiga tahun). Mengingat Phd suami belum rampung, ada dua opsi yang bisa kami ambil : tetap bertahan di Jerman sampai suami lulus atau pulang ke Indonesia dan suami meneruskan studinya jarak jauh. 

Kami berdua yang cukup absurd perkara masa depan akhirnya menetapkan pilihan hanya berdasarkan hitung hitungan finansial yang cukup sporadis. Bertahan di Jerman akan lebih berat daripada pulang ke Indonesia dengan suami bolak-balik setiap 2 atau 3 bulan ke Jerman untuk seminar, presentasi, dan sebagainya. Karena untuk bertahan tinggal di Jerman yang bisa kami lakukan paling kerja sambilan dan ngutang sambil hidup super irit. Sementara di Indonesia suami bisa kerja rada beneran, saya bisa proyekan, kami bisa numpang, mungkin sedikit ngutang, dan nggak perlu irit-irit amat :))

Banyak teman, baik orang Jerman maupun orang Indonesia, mempertanyakan keputusan kami untuk pergi meninggalkan Jerman. Wajar, karena sebagian besar orang, dengan alasan finasial, kesempatan, kenyamanan dan keteraturan, memilih untuk, bagaimanapun caranya, bertahan sementara kami dengan santainya memutuskan untuk pulang. Tidak ada alasan - alasan gegap gempita seperti nasionalisme, tekad membangun negara dan sebagainya yang melandasi kepulangan kami. Pulang ya karena kami sudah tidak bisa tinggal di Jerman. Sesederhana itu hehe!

Apakah sedih meninggalkan Jerman? Di sinilah kadang saya merasa beruntung karena saya cukup tidak berperasaan cuek. Hidup di Jerman, Indonesia, atau dimana saja bagi saya sama saja. Apalagi bagi saya Eropa sekarang bukan lagi tempat dalam angan-angan. Kalau mau nabung dan berusaha insyaallah bisa kembali lagi, untuk liburan :P

Alasan lain yang mendorong kami untuk lebih memilih pulang adalah suami tidak betah tinggal di luar negeri. Suasana yang sepi, jauh dari keluarga, dan rutinitas yang membosankan membuatnya tidak bahagia dan nampaknya sering berharap diam - diam untuk kembali saja ke Indonesia. Index kebahagiaannya meningkat tajam karena "terpaksa" pulang. Terbukti dengan langsung tidur nyenyak di malam hari setelah kami memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya sempat selama hampir 4 bulan tidur tak nyenyak dan pasang tampang seperti banyak pikiran. Oleh karena itu ketika keputusan mengenai beasiswanya keluar, saya tidak banyak bertanya mengapa, walaupun keputusannya sendiri agak diluar dugaan dan cukup membuat kaget banyak pihak. Hati kecil saya tahu ini doa tak terucap suami yang dikabulkan oleh Allah. Lupakan urusan kualitas hidup yang lebih tinggi, kenyamanan, keteraturan, dan habla-habla. Bagi suami, dia jauh lebih bahagia ada di rumahnya sendiri :) 

Banyak yang bilang, andaikan kami punya anak selama di Jerman pasti akan terasa jauh sekali bedanya, membesarkan anak di luar negeri dan di Indonesia. Mungkin saja sih. Karena kalau hanya berdasarkan standar hidup kami berdua yang notabene sudah dewasa tinggal dimana saja ya sama saja. Tapi yah rejekinya anak-anak kami nanti nampaknya tidak akan dilahirkan dan dibesarkan di luar negeri. Jadi ya sudahlah tidak ada gunanya juga bertanya-tanya. Hehe!

Pada tanggal 15 Oktober 2016 kami pulang ke Indonesia setelah tiga tahun tinggal di negaranya para kanselir. Dan disinilah saya sekarang, duduk manis mengetik blog ini. Bahagia-bahagia saja alhamdulillah. Belum kangen Jerman, belum galau ingin kembali. Sedang ruhezeiten-lah istilahnya. Sampai nantilah sibuk kembali :)))

   

No comments