(Hampir) Kena Batunya

Note : Tulisan ini memuat unsur-unsur rasisme. Kalau nggak kuat sama yang rasis rasis sila sekip :P

Terkadang tanpa sadar saya juga rasis. 
Sama orang Jerman (banyak yang bau badan, tanpa ekspresi, makanannya nggak enak, etc).
Sama orang India (belagu, maunya ngomong Inggris aja tapi Inggrisnya juga aneh, etc).
Sama orang Turki (berisik, kerjanya males males, jorok, etc).
Sama orang Eropa timur (kriminil, mencurigakan, etc)
Sama orang Amerika (dunia milik mereka yang lain numpang, sok, etc).
Dan seterusnya dan seterusnya.

Tentu saja namanya rasis ya saya cuma mengeneralisir. Nyatanya lebih banyak orang yang berperilaku tidak sesuai dengan stereotype yang saya berikan. Cuma ya, terkadang perasaan rasis tetap menyergap jiwa, karena kelakuan orang-orang yang tidak selalu "senormal" yang saya harapkan.

Seperti waktu saya berlibur musim panas kemarin. Entah kenapa saya gampang sekali sebal sama kelakuan orang-orang. Mungkin karena waktu itu Eropa sedang dilanda heatwave dan suhu udara selalu di atas 38 grad. Mungkin juga karena saya sedang PMS. Nggak taulah.

Pokoknya waktu itu saya sebal sekali dengan turis turis asal negara tirai bambu. Masih tirai bambu nggak sih sebutannya? hehehe!

Bukannya tanpa alasan. Turis turis yang saya temui ini hampir semuanya nggak sabaran, apalagi  untuk perkara ambil foto. Nggak bisa ngantri, selalu dorong dorong, selalu desek desek, selalu ribut karena perginya kebanyakan rombongan, dsb dsb. Saya tahu untuk negara dengan penduduk hampir 1.4 milyar saya tidak bisa dengan seenaknya menyatakan bahwa semua orang Cina punya kelakuan "senorak" itu. Tapi karena hampir setiap turis Cina yang saya temui waktu itu punya kelakuan yang hampir serupa, mau tidak mau saya jadi berprasangka jelek. 

Malahan saat sedang mengantri di Accademia Gallery Florence untuk lihat patung David, saya  sempat ngamuk protes sama keluarga turis dari Cina yang seenaknya saja mau motong antrian dengan alasan panas (Helllooo). Padahal orang orang lain juga ngantri berjam-jam di udara yang sama. Kesel.

Sampai suatu saat saya kena batunya.

Saya sedang mengunjungi Acropolis yang terletak di Athena. Suhu udara di ibu kota Yunani tersebut waktu itu termasuk enak walaupun juga terkena heatwave. Mungkin karena Athena ada dekat laut jadi ada angin. Rasanya seperti ada di Jakarta tapi tanpa polusi. Karena udara enak, saya sebenarnya  sedang dalam kondisi tidak gampang kesal.

Acropolis pagi itu sudah dipenuhi banyak turis yang ingin menikmati keindahan peninggalan bangsa Yunani tersebut. Seperti hampir semua turis yang datang, saya juga ingin mengabadikan diri dalam foto. Saya pilih spot di depan salah satu kuil yang agak sepian. Kuil apa namanya saya lupa. 

Sepengetahuan saya ada aturan tidak tertulis dalam hal "mengambil foto" yang berlaku untuk semua turis. Walaupun tidak ada antrian resmi, biasanya para turis dengan pengertian menunggu gilirannya dan tidak berebutan maju kedepan. Hal ini disadari selain demi untuk kenyamanan dan keselamatan bersama juga untuk menghindari foto yang terjepret alih alih berlatar belakang objek yang menjadi target, malah dilatar belakangi hidung seseorang. Atau perut seseorang. 

Nampaknya hampir semua orang tahu hal ini, kecuali turis-turis asal Cina yang saya temui. Saya asumsikan mereka benar dari Cina karena mereka memang terdengar ngomong bahasa Cina. Para turis Cina ini sepengamatan saya kalau mau berfoto kebanyakan selalu nyelonong tanpa lihat kanan kiri. Bahkan ada yang dengan cueknya berpose di antara orang yang akan difoto dan orang yang mengambil foto. Udah gitu biasanya mereka gantian berfoto dengan berbagai pose dan pakai manggil manggil temen atau saudaranya untuk foto juga, sehingga orang lain "dipaksa" menunggu dengan sabar sampai semuanya selesai. Kan sebel ya? hehehe!  

Kembali ke cerita di kuil, berdasarkan pemahaman akan aturan tersebut saya menunggu dengan sabar dan membiarkan turis-turis yang sudah ada sebelumnya untuk mengambil foto dengan bebas. Sampai akhirnya tiba giliran saya untuk mengambil foto. Saat saat saya sudah berpose dan suami saya sudah hampir menekan tombol kamera, tiba tiba ada mbak mbak Cina nyelonong tanpa babibu ke spot di  sebelah saya, yang tentu saja akan menyebabkan background foto saya bukan kuil tapi rambut panjang hitam mbak mbak tersebut. Atau paling tidak kacamata hitam GUCCI yang bertengger manis di atas kepalanya. 

Saking keselnya hampir saja terlontar dari mulut saya kata-kata "Dasar Cina!", yang untungnya tidak jadi terlontar karena tiba-tiba si mbak-mbak Cina berteriak dalam bahasa Indonesia berlogat sunda yang fasih "Ayaaaaannggg, cepet atuh kesini! Fotoin cepet disini!!". 

Lah sih? Doi orang Indonesia toh?. Saking kagetnya, saya cepat menggandeng lengan suami saya dan menyingkir, sambil nyengir nyengir sendiri. Daripada daripada kan. 

Saya tahu rasisme itu jelek. Jelek sekali. Salah satu akar semua permasalahan besar di dunia adalah rasisme. Maka dari itu saya mulai belajar melebarkan toleransi. Toh kelakuan saya juga belum tentu dilihat baik dan nggak norak sama orang lain. Kalau saya ketemu orang yang kelakuannya ngeselin, saya berusaha melupakan fakta atribut yang menyertai orang tersebut seperti rupa, warna kulit, asal, dan sebagainya. Karena menurut saya semua hal tersebut memang tidak ada kaitannya.  Toh kita tidak bisa memilih dilahirkan dalam kondisi seperti apa. Orang berkelakuan jelek sih ada dimana aja. Tidak peduli suku bangsa golongan agama dan sebagainya. 

Seperti contoh si mbak mbak kacamata GUCCI. Dia mungkin memang keturunan bangsa Cina, tapi yang jelas dia juga berasal dari Indonesia. Sama dengan saya. Sehingga atribut yang melekat padanya harusnya lebih mirip dengan saya daripada dengan orang-orang dari negara Cina. Oleh karenanya mengeneralisir kelakuan orang Cina berdasarkan kelakuan mbak-mbak itu sama artinya dengan saya mengeneralisir semua orang Cina termasuk keturunan Cina yang hidup di Indonesia sampai ke nenek moyangnya, yang tentu saja sudah terbukti tidak benar. Karena saya punya banyak teman keturunan Cina yang kelakuannya sangat bertentangan dengan stereotype yang saya berikan ke orang Cina. 

Makanya saya minta maaf kepada semua orang yang sudah saya tempeli stereotype tertentu, terutama turis dari Cina. Apalagi stereotype tersebut saya berikan hanya dengan sample kelakuan beberapa orang saja dan tentu saja dibentuk hanya berdasarkan pada sentimen pribadi bukannya ilmu statistika.

Sebenernya saya biasa aja kok sama turis turis Cina. Sama negara Cinanya sendiri apalagi. Orang saya juga pengen ke Cina liat great wall dan terracota army. Saya juga tahu orang Indonesia juga banyak yang nggak sabaran, susah antri, dan serudak seruduk. Saya juga salah satunya kalau lagi kumat gilanya. Jadi saya harusnya bisa sedikit pengertian. 

Tapi atulah please, siapapun, mau dimanapun, di negara sendiri atau di negara orang, mari  tetap jaga  perilaku yang sopan dan beradab. Jangan sampai orang mengira stereotype buruk yang dilekatkan pada kita memang benar adanya. Sederhana aja, belajar ngantri dan nggak serudak seruduk. Kan nggak susah ya :))) #Tetep

Si Foto Bermasalah
  

3 comments

  1. Ayaaang cepet atuuh (ini gw ngakak :))))

    Tu rajin banget dah update banyak

    ReplyDelete
  2. Iyah, request emak emak di rumah. Baru emak mertua nih yang puas, mak sendiri mintanya posting tempat wisata :)))

    ReplyDelete
  3. wanjir gw kangen kalian dah!

    ReplyDelete