Gara Gara AirAsia

Ketika membaca mengenai kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia berhadiah jalan jalan ke Nepal, sesungguhnya saya ingin menulis suatu kisah yang "wow". Kisah yang bisa menginspirasi atau paling tidak membuat orang yang membaca berkaca-kaca. Motivasi yang aneh saya tahu. Haha! Sayangnya saya tidak punya pengalaman yang luar biasa. Saya, seperti banyak orang lainnya, adalah orang yang kebetulan bisa pergi ke luar negeri pertama kali gara gara adanya AirAsia. Ini cerita saya :D

Salah satu impian pertama yang saya ingat adalah pergi ke luar negeri. Tentu saja bukan karena Indonesia tidak menarik, mengingat saya sudah pernah pergi ke 31 Provinsi di Indonesia dan sangat menikmati perjalanan saya ke semua daerah tersebut. Tapi entah kenapa, gambaran mengenai negeri-negeri asing di belahan bumi lain selalu menarik minat saya.

Keinginan untuk bisa melihat negeri negeri asing begitu besar sehingga waktu masih duduk di bangku sekolah dasar saya sempat memiliki cita-cita menjadi detektif atau wartawan perang. Sesederhana karena detektif dan wartawan perang di buku buku cerita yang saya baca selalu pergi ke tempat tempat seru di luar negeri. Kedua cita cita tersebut kandas bahkan sebelum berlayar karena semakin saya besar saya menyadari saya terlalu sembrono untuk menjadi detektif dan bahwa perang di dunia nyata hanyalah menimbulkan penderitaan sehingga daripada menjadi bagian dari peliput perang, saya lebih ingin semua perang berhenti.

Dalam pikiran saya saat masih kecil, menjejakkan kaki di luar negeri adalah suatu keistimewaan yang hanya bisa saya impikan. Karena saat itu menurut saya, orang yang bisa pergi keluar negeri hanyalah orang-orang kaya, orang-orang pintar, atau orang yang akan naik haji. Maklum gambaran mengenai luar negeri biasanya saya dapatkan dari televisi, buku cerita, kabar saudara yang pergi karena dikirim oleh kantor, cerita anak anak berprestasi yang diundang ke luar negeri karena pintar melukis atau pintar matematika, atau kisah-kisah yang disampaikan para orang-orang tua selepas pulang naik haji.
Karena saya tidak termasuk golongan orang-orang yang saya pikir bisa pergi ke luar negeri, impian untuk melihat negara lain hanya dapat saya genggam erat erat, sampai akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya pada saat saya beranjak dewasa, literally karena kehadiran AirAsia Indonesia.

Tahun 2009. Saat itu saya bekerja di suatu kantor bersama dengan beberapa orang teman sebaya. Semuanya sudah lulus kuliah dan semuanya sedang galau mencari makna kehidupan (halah!). Beban pekerjaan yang cukup berat (baca: membosankan) membuat kami semua memiliki pikiran yang sama untuk melakukan suatu petualangan.

AirAsia Indonesia kala itu merupakan maskapai penerbangan baru di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan promosi. Bagi kami, yang berkantong cekak tapi tentu sudah merasa malu untuk meminta uang orang tua hanya untuk jalan jalan, promosi AirAsia bagai pembuka jalan untuk melakukan petualangan. Sedangkan bagi saya sendiri promosi AirAsia bagaikan angin segar yang menghembuskan harapan saya setinggi mungkin untuk dapat menginjakkan kaki di negara orang.
Saya ingat, hampir setiap saat, ketika kebosanan bekerja semakin melanda, yang kami lakukan adalah membuka website AirAsia dan memperhatikan promo yang tercantum. Sayangnya, tanpa ada keberanian untuk mengajukan cuti, karena masih berstatus karyawan baru dan saldo tabungan yang masih mengkhawatirkan, semua tawaran hanya kami amati tanpa berani membeli.

Sampai akhirnya pada bulan September 2009, teman saya dengan gembira memberi kabar bahwa ada promo AirAsia ke Malaysia, Vietnam, Thailand, yang biaya tiketnya, kalau dihitung-hitung hanya menghabiskan Rp. 800.000 per orang. Murah! Bahkan untuk dompet tipis kami.

Dengan cepat kami mengkalkulasi kemungkinan cuti, rute, dan itinerary. Sebelas orang, termasuk teman-teman dari luar kantor, menyatakan akan ikut serta. Sepuluh hari perjalanan. Dengan rute Indonesia – Malaysia – Vietnam – Kamboja – Thailand – Indonesia.

Bulan Maret 2010, 6 bulan setelah pembelian tiket, perjalanan kami terlaksana. Hanya bersepuluh, karena satu teman, yang sudah diterima kerja di tempat lain, tidak bisa ikut serta.

Sepuluh hari petualangan di empat negara ASEAN tersebut ternyata menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Membawa kelengkapan layaknya para backpacker yang ada di majalah majalah : tas punggung, sepatu gunung, tas pinggang, tas badan tempat menyimpan passport dan uang, topi dan sebagainya (salah satu teman bahkan membawa kompor portable), saya dan teman-teman menyusuri jalan-jalan di Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City, Phnom Penh, Siem Reap, dan Bangkok.

Perjalanan yang sangat menyenangkan! Bahkan saking menyenangkannya hingga berapa lama setelah kami tiba kembali di tanah air, kami masih memantau promosi-promosi AirAsia, mencari kesempatan untuk kembali melakukan perjalanan bersama. Keinginan yang tidak pernah kesampaian karena satu persatu dari kami mengundurkan diri dari kantor dan menampuh jalan hidup masing-masing.

Bagi saya pribadi, momen jalan-jalan bersama teman-teman tersebut merupakan momen awal tercapainya mimpi masa kecil saya.

Saya masih mengingat semua perasaan saat berada dalam penerbangan pertama saya ke luar negeri; saat pesawat tinggal landas, saat berada di dalam pesawat, saat pilot mengumumkan pesawat akan mendarat di Kuala Lumpur, dan saat pesawat benar benar telah mendarat. Akhirnya saya ada di luar Indonesia! Saya yakin, senyum yang saya tampilkan saat itu, selebar senyuman pemenang Olimpiade.

Walaupun sebelumnya sudah berkali kali naik pesawat, dan Kuala Lumpur, sebagai kota pertama di luar negeri yang saya kunjungi, tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, tapi perasaan berada di tanah asing yang menyelusup ke hati membuat saya gembira.

Perasaan gembira yang saya rasakan karena bisa berjalan-jalan di negeri orang membuat saya cukup ketagihan. Setelah perjalanan tersebut, beberapa kali lagi saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Kebanyakan menggunakan AirAsia, termasuk perjalanan bulan madu saya ke Singapura dan Hongkong, yang tentu saja dilakukan hanya berdua dengan suami. Yaaa masa bulan madu ramai ramai. Hehe!

"Impian saya tercapai gara gara AirAsia". Itu jawaban saya atas pertanyaan " Bagaimana AirAsia mengubah hidupmu".

Bagaimana tidak? coba bayangkan jika AirAsia tidak memutuskan untuk menjadi maskapai penerbangan berbiaya rendah, membuka AirAsia Indonesia, dan melakukan promosi besar-besaran, pasti cerita perjalanan saya bersama teman-teman di atas tidak pernah terjadi dan impian saya untuk pergi ke luar negeri pasti lebih lama tercapai.

Oleh karena itu dari hati yang terdalam saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-10 untuk AirAsia Indonesia. Semoga semakin jaya. Terimakasih karena sudah membantu mewujudkan impian saya :D



Catatan : 
Mengunjungi Nepal ada di bucket list saya. Kalau mau membantu sekali lagi mewujudkannya, saya terima dengan senang hati loh. Hehehe!

No comments