Oh...Cuma Kelingking...


Ceritanya hari itu saat mau naik angkot jari kelingking kaki saya kepentok kursi. Kukunya patah dan ada luka sobek. Saya kurang paham seberapa parah pokoknya cukup berdarah darah.

Karena takut kenapa kenapa (yah bisa jadi toh patah?) atau infeksi (eh ada loh orang yang meninggal gara gara jarinya infeksi) saya langsung memutuskan untuk turun di klinik dokter.

Dan saya baru tau kalau ke dokter gara gara luka kelingking itu nggak umum di Indonesia.

Saya datang dengan pincang-pincang ke ruang periksa. Seorang resepsionis menyapa saya, sebelum saya menjelaskan dia sudah berkata kalau semua dokter sedang tidak ada. Sedang keluar. Kemudian dia bertanya saya sakit apa?
Saya bilang kelingking kaki saya luka sambil menunjukkan kelingking saya yang berdarah darah. Si resepsionis melongok melihat kelingking kaki saya. Kemudian  berkomentar “OH. ...CUMA KELINGKING” (yang miring nggak diucapkan, tapi saya tau ekspresinya) sambil kemudian menatap saya bingung. Ini orang pasti nggak pernah denger cerita ada orang meninggal gara gara jarinya infeksi. Akhirnya si mbak mbak resepsionis menyarankan saya untuk pergi ke praktek dokter yang lain. Sedikit lebih jauh. Udah. Gitu doang. Tawarin plester kek, kapas kek, tissue, spirtus, air putih, teh manis anget. Halah. - -“

Karena ditolak saya beralih ke praktek dokter lain. Masih sambil pincang pincang saya mendatangi resepsionis. Resepsionis menanyakan pada saya, sakit apa? Saya jawab kelingking kaki saya luka, sambil menunjukkan si jari yang berdarah darah. Si resepsionis cuma melongo sambil berkata “OH...CUMA KELINGKING” (yang miring lagi lagi tidak diucapkan, tapi saya tau ekspresinya). Sungguh deh harusnya resepsionis praktek dokter dikasih lihat berita orang meninggal gara –gara infeksi jari. Kemudian si resepsionis menjelaskan kalau dokter umum praktek baru 1 jam lagi, yang sekarang adanya dokter gigi. Karena saya yakin bor dan tambalan dokter gigi tidak akan menyelesaikan masalah, maka saya memutuskan untuk pindah ke klinik dokter lain. 

Masih dengan kelingking berdarah darah saya menghampiri resepsionis klinik lain. Lagi lagi saya dapat komentar “OH...CUMA KELINGKING” ketika menjelaskan saya sakit apa. Untung saya sudah kebal. Untung lagi klinik yang ini dokternya ada. Saya masuk ke ruang dokter dengan pasang muka : “IYE IYE INI CUMA KELINGKING, TAPI SAKIT TAUK” ternyata si dokter lebih pengertian dari para resepsionis. Ya iyalah dokter pasti tau kalau ada orang mati gara gara infeksi jari. Yadayadayada.

Yah pokoknya singkat cerita begitulah. Akhirnya kelingking saya mendapat perawatan yang semestinya. Dibersihkan lukanya, dicabut kuku yang rusak, dijahit yang sobek. Diperban, dsb dsb. Sayang teh manis nampaknya khusus buat yang pingsan. Jadi saya nggak dikasih. Yayayaya.

Setelah selesai saya menunggu obat diluar. Seorang ibu duduk disebelah saya. Basa basi dia bertanya : sakit apa neng? Saya menjelaskan kalau kelingking saya luka sambil menunjukkan kelingking yang sudah terbungkus perban. Dan lagi lagi saya mendapat respon “ OH...CUMA KELINGKING” (yang miring lagi lagi tidak diucapkan. Tapi saya sudah hapal benar ekspresinya).

SIGH!!

APA SALAHNYA SIH KELINGKING LUKA TERUS KE DOKTER??? - -“
Pada nggak pernah nonton ER ya? - -“

No comments