Tentang Teman

Tidak ada kejadian khusus yang membuat saya menulis tentang teman. Hanya saja tiba tiba saya ingat cerita ini.

Dulu di Sekolah Dasar saya punya dua teman akrab, satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kami dekat, karena sering ditunjuk guru sebagai perwakilan sekolah di perlombaan-perlombaan mata pelajaran. Waktu SD saya memang masih dianggap pintar. Hehe.

Kami punya banyak kenangan. Beberapa diantaranya yang masih saya ingat sampai sekarang seperti terkunci di ruang kesenian kemudian dengan heboh memukuli gamelan agar menarik perhatian orang di luar, mencampur campur bahan bahan kimia di kit percobaan IPA dan membuat semua tabung reaksi berubah warna menjadi merah muda, menumpahkan merkuri dan berusaha memasukannya kembali ke dalam tabung (ketika berhasil masuk kembali ke tabung, merkurinya sudah berubah warna jadi cokelat karena menggelinding kesana kemari di lantai yang berdebu), menjatuhkan kucing milik penjaga sekolah dari lantai 2, karena ingin membuktikan "kucing punya nyawa sembilan", dan menangis bersama saat kalah lomba cerdas cermat P4. Sayangnya walaupun akrab dan masuk ke SMP dan SMA yang sama, karena minat dan aktivitas yang berbeda, semenjak lulus SD kami tidak berteman dekat lagi, hanya berteman biasa.

Saya ini bukan termasuk teman yang baik, walaupun secara keseluruhan saya ini baik (HAHA). Menjadi teman saya berarti menerima konsekuensi bahwa saya sering tidak menaruh perhatian pada detail seperti tanggal ulang tahun. Sungguh, kalau tidak ada social media saya tidak akan ingat ulang tahun teman.

Itulah yang terjadi dengan kedua teman SD saya tadi, saya tidak pernah ingat ulang tahun mereka. Jangankan memberi kejutan perayaan, mengucapkan selamat pun hanya sekedarnya. Jahat ya saya?. Walaupun saya tidak pernah ingat ulang tahun mereka, tapi kedua teman saya itu selalu ingat ulang tahun saya. Paling tidak sampai kami ada di kelas 2 SMA, mereka selalu memberikan kado, atau kejutan di hari ulang tahun saya.

Ulang tahun saya yang ke-17, bertepatan dengan 1 tahun meninggalnya eyang saya, ibu dari bapak. Eyang saya memang meninggal tepat di hari ulang tahun saya yang ke-16. Masih sedih dengan meninggalnya Eyang, Bapak tidak mau merayakan ulang tahun saya yang ke-17. Saya ingat hari itu saya sebal karena saya merasa bersalah untuk berbahagia, padahal itu ulang tahun saya. Di sekolah banyak yang menanyakan kapan pesta ulang tahun saya diadakan. Jaman SMA memang jamannya pesta ulang tahun ke-17. Malas menjelaskan, saya hanya senyum-senyum jika ada yang bertanya. Sok misterius gitu deh. Hehe. Untuk pertama kalinya saya ingin hari ulang tahun saya cepat berakhir.

Bel sekolah berbunyi, dan teman-teman sekelas mengadakan ritual guyur air untuk saya yang berulang tahun. Menyenangkan dan sangat menghibur. Tapi yang membuat saya tidak jadi menyatakan ulang tahun ke-17 saya sebagai ulang tahun paling menyebalkan adalah kejutan yang diberikan olah dua teman SD saya.

Kejutannya sederhana, hanya guyur guyuran dengan selang air di halaman belakang sekolah dan kado kecil, tapi yang membuat saya tersentuh, saat itu saya dan dua teman saya itu sudah sangat jauh untuk bisa dikatakan teman dekat. Jangankan repot repot memberi kado, mengobrolpun kami jarang. Terharu, senang dan bersalah saya rasakan sekaligus saat itu. Saya bahkan tidak pernah ingat ulang tahun mereka, tapi mereka masih ingat ulang tahun saya, dan mau bersusah payah merayakannya.

Saya ingin mengatakan bahwa semenjak kejadian itu kami kembali berteman akrab dan mereka adalah teman terbaik di seluruh dunia. Tapi tidak, kehidupan terus berlanjut, dan kami kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Kami lulus SMA dan masuk ke Perguruan Tinggi yang berbeda. Saya kehilangan kontak dengan teman-teman saya itu.Terakhir saya dengar, salah satu dari mereka menjadi pegawai di kementerian, dan yang lainnya sudah menikah dan menjadi dosen. Mungkin mereka sudah tidak ingat kejadian itu, dan mungkin saya tidak pernah mengatakannya. Tapi ketulusan mereka di hari itu adalah salah satu hal terbaik yang pernah saya dapatkan dari teman, dan karenanya akan saya ingat sampai akhir hidup saya.

2 comments

  1. "Waktu SD saya memang masih dianggap pintar."

    Sampai sekarang juga masih pinter bangeeet tuuu :)

    ReplyDelete