Iri

Saya sedang di Bandara Yogyakarta. Dengan iri saya memandang serombongan turis yang sedang mengantri untuk menaiki pesawat Garuda Indonesia Airlines yang akan membawa mereka ke Denpasar. Garuda Indonesia Airlines . Maskapai resmi pemerintah Indonesia yang terkenal dengan service bagus dan harga yang aduhai mahalnya sampai pengurus dana perjalanan di kantor saya pasti melotot dan kejang-kejang kalau saya minta naek Garuda. Uh benar-benar saya iri. Sudah ke denpasar naik pesawat mahal pula.

Besoknya saya terdampar di Bandara Manado. Menunggu Pesawat baling-baling yang akan membawa saya ke Ternate. Si Pesawat baling - baling sedang dalam perbaikan setelah gagal tinggal landas karena sesuatu di cockpitnya rusak. Sudah dua jam saya menunggu ketika pesawat Garuda jurusan Ternate mendarat di Bandara Manado. Mendarat dengan anggun dan berwibawa. Mungkin saya berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan. Iri. Saat itu tidak ada yang lebih saya inginkan daripada pergi ke Ternate dengan pesawat Garuda yang besar , bukan pesawat baling-baling yang bahkan tidak bisa mengudara. Ketika akhirnya pesawat Garuda tersebut tinggal landas menuju Ternate saya hanya bisa menahan iri yang memuncak. Ketika penerbangan dengan pesawat baling-baling dinyatakan batal, saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa bagaimanapun juga saya harus naik Garuda ketika pulang dari Ternate. Malamnya saya berdoa kencang.

Sampai saat keberangkatan kembali ke Manado, saya masih terus berdoa semoga pesawat baling-baling yang harusnya membawa saya dinyatakan batal dan semua penumpangnya dialihkan ke pesawat Garuda yang jadwal terbangnya berdekatan. Culas memang. Tapi saya memang betul-betul iri.

Ternyata Doa saya dikabulkan. Pesawat baling - baling dinyatakan batal dan penumpangnya benar-benar dipindahkan ke pesawat Garuda. Dengan bahagia saya memasuki pesawat itu. Kalau bunga-bunga benar-benar bisa bermekaran karena kebahagiaan seseorang, mungkin kebahagian saya bisa membuat bunga-bunga di seluruh penjuru Ternate mekar. Pesawat mahal yang harga tiketnya dua kali harga tiket penerbangan dengan pesawat baling-baling, tempat duduk di kursi samping jendela, bapak-bapak bule gendut di kursi sebelah yang tidak suka mengobrol, kursi tengah kosong yang membuat saya bisa menjulurkan kaki dengan santai, buku cerita yang menarik, cuaca yang cerah dan langit biru yang terang seterang-terangnya. Penerbangan yang sempurna.

Penerbangan siang itu benar benar merupakan penerbangan yang sempurna. Sampai saya mencium BAU KAKI yang amat sangat menyengat sampai saya rasa bisa membuat satu kompi tentara pingsan. Bapak-bapak bule Gendut yang duduk di samping saya, menggunakan kaos kaki tebal dan sepatu gunung adalah tersangka utama penyebar bau kaki tersebut. Sungguh saya belum pernah mabuk darat, udara atau laut. Tapi selama penerbangan itu saya harus menahan keinginan kuat-kuat untuk muntah. Saya ingin menutup hidung saya erat-erat tapi merasa tidak sopan. Akhirnya saya membuat gerakan-gerakan untuk menutupi lubang hidung seperti : menggosok-gosok hidung ala orang yang terkena pilek, menggaruk garuk hidung, bahkan mengupil. Ada juga sandiwara-sandiwara yang saya lakukan untuk mendapatkan udara segar bebas bau kaki, seperti : menjulur-julurkan kan kepala seperti melihat kejadian aneh di bagian depan pesawat, membenamkan muka ke baju, batuk-batuk dan bersin hebat dengan tissue, mengipasi muka dan lain lain, lain lain. Untung saya ini agak-agak kreatif orangnya. Si bapak-bapak bule berkali-kali melirik saya dengan tatapan heran. Sepertinya dia bingung kenapa saya tidak bisa diam. Siapa yang salah coba?.

Untung penerbangan Ternate - Manado hanya 30 menit. Kalau tidak saya benar-benar bisa pingsan. Fiuuhhh. Belum pernah saya merasa sangat lega ketika pesawat mendarat. Lega yang amat sangat. Penerbangan saya yang sempurna telah jatuh ke level penerbangan paling menyiksa di seluruh sejarah penerbangan saya.

Iri memang bukan sifat yang baik. Terlebih jika iri saat sedang menjalankan ibadah puasa. Saya berdoa sekencang-kencangnya agar bisa naik Garuda. Tuhan mengabulkan doa saya. Tapi setelah saya pikir-pikir sepertinya saat itu Tuhan bukan sedang mengabulkan doa saya. Tapi sedang mengingatkan saya bahwa iri hati itu bukan sesuatu yang baik, dan memohon sesuatu karena iri tidak diperkenankan. Tuhan mengingatkan saya dengan bau kaki. Terdengar konyol memang, tapi Tuhan memang Maha Kuasa. Peringatannya efektif. Lain kali, jika saya mendapatkan godaan untuk merasa iri hati. Jelas saya akan mengingat kejadian ini : Garuda, penerbangan yang sempurna dan bau kaki. Semoga dengan begitu saya tidak akan pernah lagi merasa iri hati lagi. Amin.

1 comment

  1. huakhahahahahahahahaha...

    Lesson Learned yang lo inget dari semuanya ya bau kaki ya.. teteup..

    Allah memang Maha Adil..

    ReplyDelete