Sindrom Ridho Rhoma dan ST.12

Saya ditugaskan ke Kalimantan, mengunjungi daerah-daerah terpencil, yang membutuhkan perjalanan dengan mobil seharian. Supir saya Pak Aam, orang Banjar asli, perawakannya kecil dengan tatto melingkar dari pergelangan sampai lengan tangan kanannya. Di mobil, Pak Aam hobi mendengarkan kaset Ridho Rhoma dan ST. 12 yang disetel kencang-kencang.

Rhido Rhoma dan ST.12, dua Idola masa kini. Ridho Rhoma adalah putra dari H. Rhoma Irama, legenda dangdut yang kondang di jamannya. Suara Ridho Rhoma mendayu, dayu lembut dengan tatanan lagu melayu yang rancak dengan sentuhan modern. Sedangkan ST. 12 adalah salah satu band masa kini, dengan aransemen kunci dan kata-kata sederhana, pokoknya mudah diingat. Tidak perlu menghapal lagunya, kalau mendengar sampai berkali-kali juga pasti hapal dengan sendirinya.


Pak Aam, mendengarkan dua kaset ini berkali-kali, berkali kali dan berkali kali. Kalau kami minta ganti kaset, pak Aam menyanggupi akan tetapi laju mobil jadi tidak begitu kencang dan dia terus menguap. Akhirnya demi keselamatan bersama, kami memperbolehkan Pak Aam mendegarkan dua kaset favoritnya, empat hari tiga malam, nonstop sepanjang perjalanan.

Alhasil ketika sudah sampai di rumah, kuping saya masih memperdengarkan lagu Ridho Rhoma dan ST.12 dengan sendirinya. Tak jarang saya menyenandungkan lagu mereka, di kamar mandi, sebelum tidur, ketika pusing. Bahkan kalau sedang jalan-jalan di Mall, dan terdengar lagu mereka berdua, otomatis saya langsung menyanyi. Hahah. Saya menyebut gejala ini sebagai sindrom Ridho Rhoma dan ST. 12. Sindrom ini berlangsung sampai dua minggu, kepulangan saya dari Kalimantan. Memang hebat Ridho Rhoma dan ST. 12 ini. Jenius.

No comments