Bu Endang

Guru ekonomi akuntansi saya di SMA namanya Bu Endang, wanita yang sangat yakin dengan dirinya. Ber make up tebal, dan berparfum luar biasa harum, hingga 3 menit sebelum dia masuk kelas, parfumnya sudah tercium. Dia sebal sama saya. Ekuivalen dengan rasa suka saya padanya. Bukan contoh yang baik anak-anak. Hormati Guru kalian. Karena apa bu Endang sebal sama saya? Banyak kemungkinan. Mungkin weton (hari lahir – red) kami sama, mungkin dia iri karena saya cantik (alasan ini agak mengada ada sih), mungkin dia iri karena saya masih SMA. Masih punya pilihan terbentang. Sementara dia terjerat mengajar anak-anak SMA, yang bahkan tidak menyukainya. Entahlah. Pokoknya dia suka sekali mempermalukan saya. Menyuruh saya maju mengerjakan soal yang jelas tidak bisa jawab. Kemudian menunjukkan ketidak mampuan saya ke seluruh kelas, membuat saya malas belajar akuntansi.

Syahdan, ada ulangan akuntansi mendadak. Saya tidak punya bakat akuntansi, saya tidak suka belajar akuntansi, plus, saya tidak suka gurunya. Lengkaplah alasan dibalik saya hanya terbengong-bengong menghadapi kertas ulangan. Dan akhirnya saya dapat 3. Saya heran kenapa tidak mendapat 0. Ternyata alasannya kalau saya dapat 0, saya menjatuhkan rata-rata kelas. Nilai akhir akuntansi saya 4. Saya terancam tidak naek kelas. Bu Endang memanggil saya untuk Remedial. Saya dapat 6. Cukup untuk meloloskan saya, naik ke kelas 3. Tapi Bu Endang tidak begitu saja membebaskan saya. Di ruang Guru di depan semua guru dia menceramahi saya. Mengatakan keras keras bahwa saya tidak akan pernah diterima di perguruan tinggi manapun, tidak swasta, tidak negeri, tidak di teknik, tidak di ilmu sosial, tidak dimanapun, nol, nil, nada. Saya adalah contoh gagal dari pendidikan SMA. Buram sekali nampaknya masa depan saya.

Sepanjang kelas 3 saya terus ingat perkataan Bu Endang. Saya tidak mau kalah. Belajar dengan rajin dan giat, sampai ibu saya saja heran kenapa tiba tiba anaknya jadi rajin bak murid teladan. Sampai rumah belajar, bahkan tidur juga belajar (kayaknya bisa). Hari minggu belajar, panas terik hujan badai juga terus belajar.Pokoknya itu satu-satunya masa dalam hidup saya dimana saya bisa konsisten belajar dengan giat. Eureka!!


Saya lulus SMA. Tidak dengan gilang gemilang. Tapi prediksi Ibu Endang salah, saya diterima di jurusan teknik salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia, dan saya terlepas dari keharusan belajar akuntansi. Saya jelas berhutang budi pada Bu Endang. Ceramah beliau sangat mujarab. Paling tidak dia jadi salah satu guru SMA yang paling saya ingat. Sampai saat ini saya masih ingat caranya berbicara, caranya berjalan, cara dia menghapus papan tulis, bahkan bau parfumnya juga kadang-kadang masih tercium (Bagian ini serem gak sih ya). Hahah. Mungkin suatu waktu saya akan dapat bertemu beliau, sehingga dapat mengucapkan terimakasih secara langsung. Semoga saja.

No comments