Halo


Saya sedang tidak enak perasaan. Saya baru saja mendapat nilai C di mata Kuliah 4 SKS, artinya Indeks Prestasi saya menurun tajam dan dosen saya mencoret semua hasil tulisan BAB I Tugas Akhir saya. Lengkaplah hari saya. Kalau awan mendung benar-benar bisa menggelanyut di kepala, maka awan di kepala saya adalah awan hitam yang sudah siap mengeluarkan petir dan hujan. Saya berdiam di Laboratorium saya di lantai 4, memasang tampang galak dan earphone rapat-rapat, menghadap dinding dan berpura-pura sibuk dengan laptop. Semua tahu saya kesal, jadi tidak ada yang berani mengganggu saya. Tiba-tiba, ada yang mencolek colek pundak saya. Saya menoleh, siap menyemprot orang itu.

Ternyata anak astronomi, penghuni ruangan yang selantai dengan laboratorium saya.

Anak astronomi (tanpa peduli tampang jutek saya) : “Kak, mau lihat Halo?”

Saya dengan bersungut – sungut, tanpa mengerti maksud anak itu tentang Halo, entah kenapa menuruti ajakannya. Memang apa sih Halo?. Kami naik ke Lantai 5. Disana sudah ada teropong terpasang. Anak astronomi itu menyodorkan teropongnya ke saya. Saya pun mengintip apa yang ada di baliknya. Halo. Lingkaran cahaya putih yang melingkari matahari yang bersinar keemasan. Pemandangan itu mengusir awan mendung yang menggelayut di kepala saya. Sungguh, seketika saya jadi baik-baik saja.

Kalau ada yang mengharapkan kisah berkelanjutan dari cerita ini, seperti saya tiba-tiba jatuh cinta pada anak astronomi itu, atau kami jadi sering janjian di lantai atas untuk melihat fenomena astronomi lain, well, saya bahkan lupa untuk berkenalan dengan anak astronomi itu. Jadi, ya, sudah cerita ini berhenti saja disini. Yadayadayada.

No comments