Sekarang Pilot Juga?!

Dulu waktu masih muda, a.k.a masih dibawah umur 25 tahun, saya suka sekali naik pesawat. Sama seperti kesukaan saya pada wahana permainan seperti roller coaster. Walaupun kalau pesawat jalannya kayak roller coaster jelas ngeri juga sih. Setelah umur 25 tahun saya mulai agak males naek pesawat. Tapi dulu lebih karena prosedurnya yang ribet seperti harus ke airport antri ini itu nunggu delay bosen duduk selama perjalanan dsb. Sekarang setelah makin tua alasan saya lebih memilih  pesawat adalah karena saya lebih males naek transportasi lain seperti kereta. 

Tahun 2014 dan 2015 banyak kecelakaan pesawat terjadi. Well, nggak semuanya murni kecelakaan sih. Macam macam penyebabnya. Mulai dari yang hilang seperti ditelan bumi, ada yang ditembak, ada yang dipasangi bom, ada yang karena salah komunikasi, dan yang terakhir gara gara Co-Pilot yang depresi.

Selama tinggal di Jerman saya lebih sering naik pesawat terutama lowcost airlines macam  Germanwings daripada kereta untuk pergi ke berbagai tempat. Seperti sudah saya katakan, harga tiket pesawat nggak jauh beda dengan moda transportasi lain dan waktu tempuhnya lebih cepat, jadi lebih efisien dalam hal waktu untuk menjelajah eropa. 

Saat mendengar Germanwings celaka karena Co-Pilot jujur hal yang ada dalam pikiran saya adalah, 
Sekarang saya juga harus khawatir dengan orang yang menyetir pesawat yang saya tumpangi?!!

Setelah segala ketakutan akan terorisme, akan kerusakan pesawat, akan kesalahan pemandu lalu lintas karena kelelahan, rudal rudal salah sasaran, belum lagi faktor eksternal seperti burung masuk ke baling baling pesawat, sekarang saya harus khawatir dengan kondisi Pilot juga? :|

Makanya sekarang setiap kali ada pengumuman oleh Pilot atau Co-Pilot saya selalu berusaha menganalisis. Kalau nadanya kurang ceria saya berdoa kencang-kencang supaya pilotnya gembira lagi. Kalau nadanya terlalu gembira saya berdoa kuat-kuat supaya di pilot beneran gembira bukan gila. Kalau nadanya biasa aja saya berdoa supaya semua si pilot beneran bahagia.

Anyway busway kalau saya terlalu takut naek pesawat atau sampai phobia saya nggak pergi kemana mana. Bahkan ekstrimnya nggak akan pulang ke Indonesia. Jadi ya mau gimana lagi dinikmati sajalah segala ketakutan setiap mau naik pesawat sambil berdoa semua bakalan baik baik saja. Anggap aja naek roller coaster. Jangan deh. Anggep aja naek kora-kora. Atau naek angkot Caheum Ledeng #LebihNgeri. Hehe!

Wallahu a'lam.


No comments