Mengejar Mona Lisa

Bisa dibilang Mona Lisa adalah rock star dari Museum Louvre.
Semua orang yang datang kesana, berusaha mengambil fotonya, sebagai bukti kalau mereka sudah benar-benar pernah sampai di Louvre. Atau Paris. Atau Perancis. Atau Eropa.
Menyaksikan sendiri jumlah orang yang berusaha melihatnya, kalau ada yang bilang Mona Lisa adalah lukisan paling terkenal di seluruh dunia, saya bisa mengangguk angguk dengan sepenuh hati. 
Mona Lisa (Sumber : Wikipedia)
Perjuangan  mengambil foto lukisan Mona Lisa sepertinya bisa disamakan dengan perjuangan untuk naek bis Trans Jakarta di hari kerja saat rush hour. Desek desekan, sikut sikutan, dorong-dorongan. Sudah heboh begitupun kita tidak bisa mendekat ke lukisannya. Ada jarak sekitar 1.5 meter memisahkan kerumunan dengan lukisan tersohor tersebut. Belum lagi 5 orang penjaga yang sigap mendorong pengunjung yang terlalu antusias untuk menjauh. Presiden aja kalah deh. Sigh! percayalah, kalau ada yang kesana dengan niat tulus untuk mengamati lukisan Mona Lisa, mendingan amati saja senyum sang nona/nyonya  sepuasnya dari kartu pos atau magnet kulkas. Apalagi kalau punya rabun jauh. Soalnya dijamin nggak akan kelihatan apa-apa :)))
Potret lukisan Mona Lisa yang diambil setelah heboh sikut sikutan. Ada untungnya juga badan saya lumayan tinggi dan besar. Ini diambil pake jinjit dan pake zoom 5x. Hehehehe!

Ketika saya ke sana liburan musim panas kemarin, ada puluhan orang (biasanya bahkan ratusan) berdesakan di depan lukisan tersebut. Bayangkan! luas area Louvre 60.660 meter persegi. Tapi sebagian besar pengunjung berkerumun di ruangan seluas kira kira 50 meter persegi untuk mengambil foto lukisan yang besarnya tidak sampai 1 meter persegi. Sedikit agak sia sia gitu deh 60.610 meter persegi sisanya.
Antrian untuk melihat Mademoiselle Mona Lisa di bagian so called Italian Painting. Kayaknya mending disebut ruang Mona Lisa dan kelengkapannya aja deh.
Soalnya lukisan yang lain nggak ada yang peduliii :)))
Saya tahu kebanyakan orang, terutama turis asal Asia (sayah termasuk), berjuang mengambil foto Mona Lisa dengan tujuan posting di social media. Hahaha! Sudahlah sudah soal ini akui sajalah. Saya sih nggak yakin banyak yang sampai segitunya  menjepret foto Mona Lisa dengan tujuan "cuma" untuk koleksi hari tua.

Padahal dengan titel museum terbesar di dunia, Louvre masih memiliki banyak lukisan atau barang-barang seni lain yang, menurut saya, social media worthy:  instagramable, pathable, twitterable, facebookable, dan able able lainnya. Seperti patung-patung, sphinx, piring-piring dinasti Ming, meja kursi, dan sebagainya dan sebagainya. Walaupun begitu, tetap saja Mona Lisa yang paling banyak diburu. 

Yah, tidak perlu heran heran amat sih kenapa orang lebih memilih berdesakan foto dengan Mona Lisa daripada dengan leluasa bebas sentosa berpose dengan piring Dinasti Ming (sambil koprol juga boleh asal nggak nyenggol :P). Secara piring Dinasti Ming bisa saja dimiliki oleh nenek seseorang sehingga kalau sedang berkunjung ke rumah neneknya orang tersebut bisa foto-foto sepuasnya,  sementara semua orang di dunia tahu Mona Lisa hanya ada di Louvre. Sehingga dengan menjepret Monalisa, tak ada keraguan lagi bahwa kita pernah menginjakkan kaki di sana. 
Dengan begini, sah lah eksistensi saya di Louvre. Please don't mind my "exceptional"  idung. ya gimana dong, cuma bisa segitu fotonya :)))

No comments