Tentang Pilihan

Kemarin di kelas kursus Jerman kami membahas mengenai Nachrichten atau berita. Masing-masing dari kami diminta untuk menuliskan berita yang sedang hangat di negara masing-masing. Tentu saja saya menulis berita mengenai Pemilu Presiden. 

Dalam berita tersebut saya katakan Indonesia akan memilih Presiden baru pada tanggal 9 Juli. Ada dua calon Presiden dalam pemilu tersebut. Rakyat Indonesia bebas sebebas bebasnya memilih calon Presiden yang diinginkan. 

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari berita ini. Ketika saya sampaikan berita tersebut kebanyakan teman-teman saya juga hanya mengangguk angguk tak peduli. Tapi saat saya tambahkan bahwa saat ini para pendukung kedua calon Presiden sedang berdebat sengit, muka teman-teman saya yang berasal dari daerah arab berubah menjadi prihatin. 

Saat istirahat, sambil berjalan ke tempat kami biasa berkumpul saat istirahat, salah satu teman saya yang berasal dari Suriah bertanya pada saya :
"Kamu akan memilih Presiden? Dua duanya calon baru?" 
"Iya", jawab saya "Keduanya calon baru." Kami berdua kemudian terdiam hingga kami sampai ke tempat istirahat. 

Teman saya kemudian duduk sambil sibuk berpikir sementara saya membeli susu cokelat di vending machine yang ada di ruangan tersebut. Membawa gelas plastik berisi susu cokelat panas, saya mengambil tempat duduk di dekat teman saya. Beberapa teman lain yang juga berasal dari Suriah bergabung dengan kami. 
"Pernah ada Diktator di Indonesia?" Tanya teman saya setelah beberapa saat terdiam. 
"Pernah, tapi masa itu sudah lama berlalu. Saya bahkan sudah tidak ingat" Ujar saya sambil tersenyum. 

"Bukannya Indonesia negara Islam?" Tanya seorang teman saya yang lain. 
"Bukan, kami negara demokrasi, hanya saja sebagian besar rakyat beragama Islam"
"Oh" semua teman saya mengangguk angguk.
"Kata kamu tadi kedua pendukung calon Presiden saling bertengkar (kämpfen)?", lanjut teman saya dengan nada prihatin. "Apa kondisi negara kamu tetap aman?"

Saya tahu teman saya ini sedang membayangkan negaranya, dimana dua kubu pendukung dan penolak pemerintah, saat ini sedang bertarung sengit menggunakan senjata api, mengakibatkan ribuan rakyat tewas dan ribuan lainnya harus mengungsi. 
"Kondisi Indonesia insyaallah aman terkendali, kedua pendukung kebanyakan hanya berdebat (streiten sich) lewat tulisan. Membahayakan jiwa, mungkin, tapi tidak fisik." Jelas saya. "Agak konyol sebenarnya" Lanjut saya sambil sedikit tertawa.
"Kenapa?"
"Yaaaa...mereka seperti berdebat mengenai klub sepakbola mana yang akan memenangkan liga. Mengejek dan menjelek jelekan klub sepakbola lawan. Mengelu elukan klub sepakbola yang mereka dukung." Saya coba menjelaskan. 
"Padahal jelas situasinya tidak seperti liga sepakbola. Tidak akan ada gelar juara untuk sang pemenang, tidak akan ada tropi yang harus dipertahankan, tidak akan ada bonus dari sponsor yang berlimpah ruah. Ini kan bukan lomba. Siapapun yang menang nanti, tidak akan ada kubu yang mendapat sesuatu yang lebih istimewa" Saya mengangkat bahu.

"Jadi menurut kamu, sebaiknya para pendukung itu diam saja?" Tanya teman saya lagi.
"Ya menurut saya sih menyatakan dukungan boleh boleh saja. Tapi tak usah berlebihan. Tak usahlah menganggap orang yang mendukung calon presiden lain sebagai lawan atau pihak yang salah. Orang kan bebas menentukan pilihan dan bebas untuk memilih. Makanya ada pemilu toh?" Suara saya mulai agak meninggi, karena merasa sebal sendiri, mengingat segala hal berbau Pemilu Presiden yang saya baca akhir akhir ini. 

Saya menenangkan diri sejenak. Menyeruput susu cokelat yang mulai mendingin, sebelum melanjutkan. 
"Ibarat kapal, kami sudah punya kapal besar yang insyaallah kuat. Kami hanya memilih sang nahkoda bukan penguasa kapal. Nahkoda yang kami percayai akan mewakili kami mengarahkan kapal yang kami tumpangi ke tujuan yang baik. Ketika sudah ada Nahkoda yang terpilih, orang yang mendukung maupun tidak mendukung nahkoda tersebut tetap punya hak dan kewajiban yang sama di atas kapal tersebut toh? Ya iya masa yang tidak mendukung kemudian diberi label dan disuruh lompat ke laut?" Salah satu teman mengarahkan jempolnya ke saya. Kami tertawa. 

"Jadi kamu tidak akan memilih?" Tanya teman saya dari Italia yang entah sejak kapan ikut nimbrung.
"Oh, tentu saja saya akan memilih. Bahkan saya sudah menentukan pilihan saya. Kalau ada yang bertanya akan saya jelaskan alasan pilihan itu. Karena hal tersebut gampang penjelasannya." Sebelum melanjutkan, sedikit saya ubah posisi duduk saya. Berbicara seperti ini ternyata lumayan bikin pegel. hehe! Setelah menemukan posisi yang lebih nyaman saya melanjutkan. 

"Saya menentukan pilihan berdasarkan kata hati saya. Siapa yang menurut kata hati saya lebih layak dipilih akan saya pilih" Perkataan saya disambut tatapan bingung teman-teman saya. 
"Menurut saya kedua calon Presiden yang kami punya sangat layak dipilih. Keduanya saya yakin tulus. Orang baik yang saya percaya akan mampu mengemban tugas dengan baik. Pada awalnya tentu saja saya berusaha menelaah pilihan yang ada menggunakan logika. Tapi pada akhirnya saya memilih calon presiden yang sesuai dengan kata hati saya. Baik itu sejalan atau tidak sejalan dengan logika saya." Kebingungan makin jelas terpancar dari mata teman-teman saya. 

"Begini. Saya selalu percaya kata hati saya. Karena itu hal yang membuat saya tenang. Terdengar naif mungkin betul. Tapi setelah berbagai pertimbangan logis, itu hal paling akhir yang bisa dilakukan toh?" Teman-teman saya mengangguk angguk. Mungkin setuju mungkin juga malah mengantuk. 
"Hmmm...yah ekstrimnya seperti memilih pendamping hidup lah. Tidak ada yang tahu alasan pasti kan, kenapa seseorang bisa memilih seseorang lain sebagai pasangan hidupnya?" Jelas saya lagi sambil tersenyum. 

"Lalu kemudian ketika pilihan saya ternyata berbeda dengan pilihan seseorang yang lain, apa hak orang tersebut menyatakan saya bodoh atau salah? Ini kan bukan Prüfung. Tidak ada benar dan salah di sini." Tawa terdengar dari beberapa teman yang saya tahu sedang stress menghadapi ujian B1. 
"Bagi saya, dalam konteks pemilu jelas tak ada kewajiban bagi orang lain, yang punya pilihan berbeda, untuk "meluruskan" atau "membenarkan" saya, karena saya jelas tidak melakukan hal yang "bengkok" maupun "tidak benar". Mengikuti pemilu, saya jelas tidak melanggar ketentuan apapun. Tidak hukum, tidak agama, tidak juga moral. Saya pun tidak melanggar hak orang lain. Saya hanya memilih satu dari pilihan yang ada. Sesederhana itu." Tandas saya. 

Setelahnya kami terdiam beberapa menit. Pembicaraan beralih ke hal hal yang lebih menarik. Seperti Weltmeisterschaft di Brasil. Susu cokelat saya hanya tertinggal sepertiga gelas. Mengingat saya sudah tidak punya uang receh, saya urungkan niat membeli satu gelas lagi.

Di tengah analisis seru mengenai pertandingan tadi malam, terasa colekan di bahu saya, "Hmmm...dan Restu, kalau ternyata nahkoda pilihan kalian bikin kapal kalian karam bagaimana?" tanya salah satu teman yang kelihatannya masih penasaran. 

Saya tertawa. "Yaaa...risiko kapal karam toh akan selalu ada siapapun Nahkodanya. Jadi tetap tidak ada pilihan benar atau salah. Kan saya bilang juga ini bukan Prüfung. Suka atau tidak suka dengan sang Nahkoda nantinya, kami, rakyat yang ada di atas kapal, harus bersama sama menjaga supaya kapal tidak oleng apalagi tenggelam. Bagaimanapun ini tetap kapal kami bersama. Tak peduli siapa nahkodanya" Tukas saya sambil mengangkat tangan menyatakan saya sudah selesai bicara. 

Waktu di jam tangan saya menunjukkan waktu istirahat telah selesai. Saya menarik napas panjang. Sigh. Memikirkan hal hal begini selalu membuat saya pusing kepala. 

Ketika kami berdiri siap kembali ke kelas, teman saya yang mengawali semua pembicaraan ini tetiba mendesah dan berkata, "Ah, apapun kondisinya, saya iri dengan kamu. Karena kamu bebas memilih." 

Sambil sedikit tercekat ia melanjutkan, "Negara kami kemarin juga melakukan pemilihan Presiden. Tapi hanya ada satu kandidat. Kandidat dari pihak yang sama seperti puluhan tahun lalu. Kandidat yang kami tahu tidak baik." Sambil berbicara, matanya terlihat menerawang.

"Itupun kami dipaksa memilih. Jika melawan, ada risiko peluru bersarang di jantung kami atau bom berjatuhan di atas kepala anak anak kami. Bersyukurlah karena kalian bisa bebas memilih" Teman saya mengakhiri ucapannya sambil tersenyum miris. Saya hanya bisa membalas dengan tatapan simpati.

Saya menghabiskan sisa susu cokelat yang sekarang sudah benar benar dingin, membuang gelas plastik ke tempat sampah, dan mengikuti semua teman saya kembali ke kelas. 

Note: 
Selamat menjalankan ibadah puasa, untuk teman teman yang menjalankan. Semoga di bulan Ramadhan ini Allah memberikan rahmat yang melimpah untuk kita semua : Hati yang bersih serta negara yang selanjutnya aman, sentosa, dan sejahtera. Amin. :D

2 comments

  1. gua suka tulisan lo tuu..

    Salam buat teman Suriah lo yaa..

    ReplyDelete
  2. Thanks Tiek, insyaallah gw sampein salam lo :D
    Cieee Atiek... #Loh

    ReplyDelete