Suatu Pagi di Angkot


Usianya mungkin akhir dua puluhan. Wajahnya sumringah. Bersiul-siul mengikuti lagu dari radio yang disetel kencang-kencang. Bukannya membunyikan klakson keras-keras seperti kebanyakan supir angkot saat memanggil penumpang, dengan ceria dia memanggil-manggil penumpang agar memilh angkotnya. "Caheum neng...pull musik nih... " Caheum a' saya antar dengan selamat sampai tujuan". Cukup efektif. Beberapa penumpang memilih untuk menaiki angkotnya. Akhirnya tak berapa lama angkot itupun ia jalankan.

Penumpang angkot terdiri dari saya sendiri, bapak-bapak (bule? setengah bule?kebule-bulean?) berpakaian necis, ibu-ibu yang dari awal naik sibuk berbicara menggunakan handphone, ibu-ibu dengan keranjang belanjaan super penuh dan memilih duduk di pojok karena ingin tidur, cowok (kuliah? sma?) dengan tindikan kuping selebar 2,5 cm (serius!),dan dua anak SMA yang terus menerus cekikikan.

Di pemberhentian pertama si ibu dengan handphone turun. Sambil terus sibuk dengan handphonenya beliau mengulurkan ongkos pembayaran. "tidak usah" kata si supir angkot, "gratis" lanjutnya sambil menyorong tangan si ibu yang masih mengacungkan uang. Si ibu, tidak bisa berpisah dengan lawan bicara di handphonenya, berujar "nuhun a", kemudian langsung beranjak pergi. Saya dan si bapak bule memperhatikan kejadian ini dengan tertarik.

Di pemberhentian berikutnya, dua anak SMA turun, seperti ibu tadi, mereka juga mengulurkan ongkos dan langsung ditolak oleh si supir angkot, kali ini disertai nyanyian..."tak usahlah kau balas cintakuuuuuu" sambil tersenyum lebar. Dua anak SMA tambah cekikikan (kenapa ya anak-anak cewek SMA ini suka banget cekikikan?). Angkot pun kembali melaju.

Menariknya di pemberhentian-pemberhentian selanjutnya, kejadian penumpang naik dan ditolak uang pembayarannya ketika turun, terus berulang. Reaksi para penumpang yang heran cukup membuat saya tersenyum-senyum sendiri, ada yang hanya bengong, ada yang tetap memaksa memberi uang, ada yang celingukan seperti mencari sesuatu (mungkin mengira ini acara reality show, jadi mencari-cari kamera), ada yang melompat-lompat senang, ada yang menggerutu (yang ini saya sungguh tidak tahu alasannya).

Mungkin tak tahan penasaran, bapak bule yang terus memperhatikan kejadian-kejadian itu dengan tertarik, mendekat ke arah supir, mencolek bahu si supir dan bertanya "kenapa gratis?" (ternyata beliau bukan bule, tapi orang Manado. Hehe!). Si supir menjawab dengan sumringah "Isteri saya habis lahiran tadi pagi pak...anak pertama... jadi buat syukuran yang naik angkot saya sampai jam 12 nanti semuanya gratis". Bapak bule, saya, cowok bertindik, dan beberapa penumpang lain serempak ber- "ooohh" dan mengangguk-angguk, cuma si ibu dengan keranjang belanjaan saja yang tetap tidur pulas di pojok.

Akhirnya giliran bapak-bapak bule turun. Sebelum turun dia kembali mencolek bahu si supir, kemudian menyorongkan amplop cokelat cukup tebal. "Ini hadiah", katanya. "Buat kelahiran anaknya". Si supir menghentikan siulannya dan menerima amplop itu dengan heran,"terimakasih pak" ujarnya spontan. Si bapak bule mengangguk, kemudian turun dan langsung beranjak pergi.

Setelah hilang kagetnya si supir melirik ke arah amplop yang diterimanya. "Subhanallah" ujarnya ketika menyadari isi amplop tersebut. Si supir yang mungkin merasa ucapan terimakasihnya kurang sesuai dengan amplop yang diterimanya kemudian melongokkan kepalanya lewat jendela angkot dan meneriaki si bapak yang sudah berada agak jauh dengan teriakan "TERIMAKASIH PAAAAKKKKK!!!" terkeras sepanjang masa. Saking kerasnya semua orang di jalanan sampai menoleh, dan semua penumpang terlonjak, termasuk si ibu pengantuk dengan keranjang belanjaan. Si bapak bule melambaikan tangannya.

Melihat kejadian ini saya dan cowok bertindik, spontan bertepuk tangan. Maksudnya, kejadian ini cukup heboh untuk ditepuk tangani toh? Haha. Sang supir mengusap-usap matanya yang berkaca-kaca. Sepanjang sisa perjalanan , saya berkali kali mendengar dia mengucap syukur.

Saya turut berbahagia untuk supir angkot tersebut. Untuk kelahiran anak pertamanya dan rejeki yang diterimanya. Pelajaran buat saya. Kalau bersikap baik, tulus, ikhlas tidak akan pernah rugi. Rejeki itu gak kemana kok. Betul deh. Hehe.

4 comments

  1. Waah.. nice one Tu.

    G lihat ini dari sisi yang lebih religius, Tu.
    Tuhan gak buta. Ketika kita melakukan sesuatu tulus hanya sesederhana karena kita bersyukur, Dia akan memberikan apa yang harusnya kita dapat. Berkah.

    Nice post! Keep writing Tu

    ReplyDelete
  2. baguss yaaa.

    aku terharu bacanya :D

    ReplyDelete